Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.
Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.
Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.
Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.
Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?
Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.
Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).
Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).
Ambiguitas Kebahagian
Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.
Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.
Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.
Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.
Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.
Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.
Masalahnya di sini pemaknaan atas "keberhasilan" dan "kebahagian" yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.
Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata "gagal").
Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.
Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha...siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).
Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.
10 January 2008
Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita
23 August 2007
Jalan Gelap Seorang Pencari
“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.
Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.
Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.
Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.
Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.
Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.
Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?
Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.
Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.
Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.
Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.
Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.
Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.
Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.
Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.
Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.
Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.
Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.
Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.
Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.
Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.
****
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.
Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.
Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. Just take it for granted.
Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.
Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.
Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.
Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.
Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.
Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.
Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.
Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.
Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.
Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?
Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya. No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.
Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.
Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.
21 April 2007
Negara Islam yang Meresahkan
Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak seorang temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.
Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah orang yang dimaksud.
"Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar. Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.
Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat di tanah air hingga ke luar negeri.
"Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.
Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim. Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.
Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur'an berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung argumentasinya.
Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah.
"Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan.
"Tiga juta," jawab salah seorang.
"Tujuh juta," jawab lainnya.
Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu.
"Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan Alloh," tanya Wawan lagi.
"Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.
Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema, nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya Wawan lagi.
Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.
"Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
"Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.
"Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.
Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15 menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.
"Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan diri. Hmm....
"Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.
Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.
Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah kemana.
****
Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?
Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran.
"Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema.
"Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.
Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?
Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air. Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.
"Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.
Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang tertulis di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.
****
Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?
Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar belakang pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan ternyata tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari mereka membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.
Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di Jakarta ( (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".
Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.
Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?
Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos pria.
Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?
Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?
Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!
Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.
Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia cuma sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa baru.
Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.
Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah.
"Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap. Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.
Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya, sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini. Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin saja!
Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di sini. ****
Catatan:
1. tulisan ini diposting oleh salah seorang member di milis sastra undip.
2 Beberapa nama (Ema, Fani, Ratih, Fatima) adalah bukan nama sebenarnya. Penggunaan nama samaran ini sengaja ditulis demi keamanan narasumber yang masih berstatus mahasiswa. Selain juga akan adanya intimidasi dari anggota NKA/NII karena telah membocorkan rahasia.
3 Penulis menggunakan istilah "korban" bagi mereka yang diajak bergabung dengan NKA atau NII atas pertimbangan ajaran yang tidak masuk akal yang diajarkan oleh organisasi itu, yang menurut saya menyesatkan.
4 Gambar ilustrasi pendukung diambil dari http://www.allthingsbeautiful.com/yang diberi caption "Jihad Barbie".
Link-link seputar NII:
- http://nii-alzaytun.blogspot.com
- http://www.webgaul.com/forum/showthread.php?t=51370
- http://niikw9.blogs.friendster.com/
- http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/1970.html?pesantren%20alzaytun
- http://www.fti-uii.org/index.php?option=com_content&task=view&id=191&Itemid=215
- http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/02/brk,20050802-64681,id.html
- http://www.eramuslim.com/ust/dll/44d6f709.htm
- http://bangsari.blogspot.com/2007/02/lagi-lagi-nii.html
- http://dirgaa.com/apps/EmailMengenaiNII.txt
- http://walausetitik.blogspot.com/2006/08/az-zaitun-aliran-sesat.html?pesantren%20alzaytun
- http://kaskus.us/showpost.php?p=13675007&postcount=78
- http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=279363
- http://swaramuslim.net/more.php?id=5498_0_1_0_M
05 January 2007
Kesalihan Moral yang Terbelenggu
Belum lama ini sepasang siswa-siswi sebuah SMU ternama di Kendal, Jawa Tengah, membuat rekaman video mesum. Siapapun orangnya akan terkejut setelah mengetahui bahwa salah satu pelakunya adalah anak seorang guru.
Sebelumnya, seorang siswi sebuah SMU swasta di kota yang sama, meninggal dunia karena mengalami pendarahan setelah melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang tak lain teman satu sekolahnya. Kabar terbaru di awal tahun 2007 ini, seorang siswi SMU diperkosa oleh lima orang siswa rekannya di sebuah rumah kosong. Belakangan diketahui, salah satu pelakunya adalah pacar korban.
Kabar anak sekolah membuat video porno memang bukan hal baru. Bahkan, soal perkosa-memerkosa sudah mulai dilakukan oleh murid SD kelas V di Sidoarjo, Jawa Timur.
Tapi dari kejadian di Kendal itu, orang jadi berpikir: kalau di kota kecil semacam Kendal saja, yang orang mengenalnya sebagai daerah yang banyak memiliki pesantren, hal itu bisa terjadi, bagaimana dengan kota-kota besar lainnya. Kalau anak guru saja bisa berbuat seperti itu, bagaimana dengan anak-anak lainnya?
Ketika pulang ke kampung halaman saya di Kendal menjelang lebaran lalu, saya sempat mendengar cerita jika orang tua dari siswa yang pacarnya meninggal itu, shock berat. Ia tak percaya jika anak laki-lakinya yang dirumah rajin beribadah itu berani melakukan hubungan yang begitu jauh dengan pacarnya. Orang-orang di kampungnya pun demikian.
Dari cerita di atas kita bisa melihat betapa tidak berlakunya lagi kontrol sosial dan keluarga terhadap perilaku moral seorang anak. Lingkungan pesantren yang notabene dikenal ketat, ternyata tak mampu mengontrol perilaku anak ketika berada di komunitas lain. Pun keluarga yang dikenal religius, ternyata tak mencerminkan perilaku anak di luar rumah.
Dari cerita itu pula, kita akan menarik kesimpulan jika kesalehan atau kepatuhan moral seseorang berlaku pada ruang dan waktu tertentu. Situasi dan kondisilah yang menentukan perilaku kita. Karena sudah dikondisikan oleh orang tua, maka sang anak mau tak mau harus berperilaku sedemikian rupa ketika berada di rumah. Prinsipnya asal bapak senang!
Selain tak berfungsinya lagi kontrol sosial dan keluarga terhadap moral seorang anak, disadari atau tidak, setiap orang memerankan wajah ganda. Anda mungkin tak menyadari jika di depan muka anda yang tak tampak oleh cermin itu terlapisi oleh bermacam-macam topeng yang setiap helainya memerankan satu tokoh kehidupan. Hari ini menjadi tokoh baik, besok menjadi tokoh yang superjahat. Di sini anda menjadi pembaca yang baik, di lain tempat anda bisa saja menjadi pembrontak.
Wajah seorang anak yang manis ketika berada di rumah dan wajah bajingan ketika sedang berada di luar rumah. Wajah suami yang baik di depan istri dan wajah hidung belang ketika berada di jalan. Wajah seorang kyai ketika berada di depan jamaahnya dan wajah-wajah lainnya ketika tak lagi berada di mimbar-mimbar dakwah. Dalam hal ini manusia seperti bunglon yang setiap saat bisa berubah warna kulitnya menyesuaikan benda yang diinjaknya.
Kenapa satu orang bisa memerankan beberapa tokoh, ini diduga karena tuntutan. Bukan hanya tuntutan dari dirinya, tapi juga tuntutan dari lingkungan dan desakan sistem yang melingkupi kesehariannya. Si A di rumah dikenal keluarganya sebagai anak yang saleh, karena di rumah orang tua sudah mengkondisikannya sejak kecil. Di luar rumah, bebas saja dia tak lagi menjalankan ibadah, toh orang tua juga tak mengetahuinya.
Dalam dunia internet yang setiap orang bisa melakukan apa saja, termasuk "meledek" presiden seperti yang dilakukan oleh seorang blogger asal Yogyakarta pertengahan tahun 2006 lalu, tampak betapa naifnya manusia ketika diberi kesempatan menunjukkan wajah aslinya. Para penghujat, hacker, spammer maupun penyebar virus itu bukan sedang menjadi orang lain. Justru pada saat itulah mereka semua sedang menunjukkan jatidirinya.
Jika di dunia nyata ia tak bisa menjahili orang lain, di dunia maya itulah ia bisa melakukan apa saja yang ia suka, toh hukum yang mengatur cybercrime di Indonesia masih sangat lemah. Di dunia maya itu pula (maaf) orang bisa menyalurkan hasrat birahinya dengan menonton video porno dengan beragam variasi. Pada titik inilah sebenarnya dunia maya menemukan momentumnya menjelma menjadi dunia yang amat nyata, bukan dunia sehari-hari yang penuh kebohongan.
Pernahkah anda mengangankan menjadi orang lain di luar diri anda saat ini, tapi serba tak enak karena keadaan tak mengijinkan anda melakukannya. Andai saja untuk sejenak anda dibebaskan melakukan dan menjadi apa saja tanpa ada larangan peraturan, pranata sosial, agama, orang tua, guru, dosen, pacar, suami, anak, dan tetek bengek lainnya; apa yang anda inginkan, apakah anda ingin selingkuh, korupsi, merampok atau….?
Pengkhianatan moral oleh siswa sekolah(an) itu belakangan disponsori oleh generasi-generasi yang lebih tua. Sudah puluhan kasus pembuatan VCD porno oleh oknum mahasiswa dan belakangan yang lagi marak, dilakukan oleh oknum PNS dan anggota dewan. Orang tua dan anak ternyata sama saja. Like father, like son.
Dari sekian topeng yang melekat di wajah kita ini, kita sendirilah yang tahu seperti apa wajah kita yang sebenarnya. Apakah kita sudah menjadi diri kita sendiri, atau tengah berpura-pura. Muka bisa dipoles agar tampak manis, mulut bisa berkata tidak di muka pengadilan. Tapi hati, di mana kita menyimpan wajah yang asli, tak bisa berbohong.****
01 January 2007
Saya, Hardy dan Tahun Baru 2007
Tahun Baru 2007! Entahlah, saya pribadi tak bersemangat menyambut tahun baru kali ini. Seakan tak rela meninggalkan tahun 2006. Bukan karena tahun ini banyak meninggalkan kesan, misalnya karena prestasi membanggakan yang telah saya dapatkan. Tapi karena masih banyaknya pekerjaan yang hingga akhir tahun ini belum terselesaikan.
Memasuki tahun baru 2007 ini, saya teringat puisi berjudul "The Darkling Thrush"yang ditulis oleh Thomas Hardy. Puisi yang ditulis oleh Hardy pada 31 Desember 1900 ini melukiskan kebimbangan dirinya dalam menyambut tahun baru. Dia membuka puisi itu dengan kalimat yang sangat menarik.
I leant upon a coppice gate: Saya bersandar diantara pintu. Kaki satu di luar dan kaki yang satunya di dalam. Pintu di sini diibaratkan sebagai gerbang menuju tahun baru. Bukannya melewati pintu itu dengan langkah semangat, tapi Hardy terkesan ogah-ogahan. Apakah ia harus memasuki tahun baru, sementara perasaannya masih berada di tahun lalu?
The Darkling Thrush
I leant upon a coppice gate
When Frost was spectre-grey,
And Winter's dregs made desolate
The weakening eye of day.
The tangled bine-stems scored the sky
Like strings of broken lyres,
And all mankind that haunted nigh
Had sought their household fires.
The land's sharp features seemed to be
The Century's corpse outleant,
His crypt the cloudy canopy,
The wind his death-lament.
The ancient pulse of germ and birth
Was shrunken hard and dry,
And every spirit upon earth
Seemed fervourless as I.
At once a voice arose among
The bleak twigs overhead
In a full-hearted evensong
Of joy illimited;
An agèd thrush, frail, gaunt, and small,
In blast-beruffled plume,
Had chosen thus to fling his soul
Upon the growing gloom.
So little cause for carolings
Of such ecstatic sound
Was written on terrestrial things
Afar or nigh around,
That I could think there trembled through
His happy good-night air
Some blessèd Hope, whereof he knew
And I was unaware.
16 December 2006
Nasionalisme
Sebuah cerita dari negeri penuh mitos
ALANGKAH bahagia seorang siswa sekolah dasar mengetahui kejayaan negerinya di masa lampau. Negeri yang kaya akan rempah-rempah itu dulu dihuni oleh orang-orang yang hebat. Hanya dengan berbekal bambu runcing, kompeni dengan peralatan supercanggih untuk ukuran saat itu, dibuatnya ngacir!
Bukan itu saja. Keperkasaan para pendahulu itu tidak hanya di medan laga, tapi juga kreatif dalam membuat cerita. Tahukah Anda jika gunung yang berbentuk menyerupai perahu terbalik di Jawa Barat itu memiliki legenda. Dari cerita yang beredar di masyarakat, gunung itu dulunya adalah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang karena usahanya untuk mendapatkan cintanya kepada sang bunda gagal. Busyet… hebat betul orang itu!
Jika benar, maka negeri ini beserta orang-orangnya dulu dijaga oleh para dewa. Jadi tak aneh jika ada manusia sakti yang mampu membangun seribu candi dalam waktu semalam, tanpa semen, atau beton pencakar langit.
Bagaimana jika cerita itu ternyata tidak benar?
Namanya juga negeri penuh mitos, teramat sulit untuk membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, mana cerita yang benar dan mana yang cuma mitos. Keduanya kabur. Akibatnya, dimaknailah mitos sebagai sebuah kebenaran, kebenaran tunggal yang seolah wahyu dari tuhan, dari dulu hingga sekarang.
BENEDICT ANDERSON dalam bukunya “Imagined Community”, mengkritik tentang konsep nasionalisme sebagai konsep semu yang dibayangkan orang atas sebuah komunitas yang disebut bangsa, nusantara, negara, maupun istilah lainnya.
Bagaimana mungkin orang-orang yang menghuni di belahan pulau-pulau yang terpencar, dengan beragam budaya, agama, warna kulit, dialek, disatukan dalam sebuah institusi yang disebut negara Indonesia. Benarkah karena kesadaran senasib-sepenanggungan akibat penjajahan, orang-orang itu kemudian bersatu. Meski berbeda, namun tetap satu tujuan!
Mungkin saja karena orang-orang di nusantara ini dilahirkan dari nenek moyang yang sama. Disatukan karena memiliki kebudayaan yang sama, kebudayaan orang timur. Tapi ini juga masih abstrak. Kalau benar, mengapa orang Indonesia cenderung lebih suka meniru produk-produk yang didatangkan dari Barat. Celakanya bukan sekadar meniru, tapi merasa lebih nyaman dengan menjadi konsumen budaya Eropa. Sampai-sampai tak sadar jika pakian Batik yang sering dikenakan oleh Kofi Anan, Sekjen PBB, dalam setiap lawatannya itu berasal dari Indonesia. Sementara kita sendiri bangga memakai jas, celana jeans, yang mulanya dikenalkan oleh penjajah Belanda.
Ah, jangan-jangan wacana penyatuan itu sebenarnya punya tujuan tertentu, kekuasaan, misalnya. Ada pihak yang merasa besar, yang ingin “merangkul” kelompok-kelompok yang lebih kecil. Sebut saja, Jawa yang merupakan etnis terbesar di Indonesia. Jika tidak, mengapa harus bersatu, bersatu untuk apa. Apakah karena pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Ini kan dulu. Rusia, bekas pecahan negara Unisoviet, buktinya sekarang masih kuat.
Apakah tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan adanya penyatuan itu. Bisakah kelompok yang besar itu menampung aspirasi golongan yang lebih kecil. Bukankah dalam proses kompromi harus ada pihak yang mengalah. Tuluskah pihak yang terpaksa harus mengalah itu demi kata yang disebut “mufakat”?
Dari perjalanan lebih dari separoh abad pasca Indonesia merdeka, kampanye penyatuan di bawah bendera nasionalisme itu telah memakan banyak pertumpahan darah. Yang disebut Warga Negara Indonesia adalah orang pribumi, yang merupakan putera asli bangsa Indonesia. Para pendatang, seperti etnis Tiong Hoa tidak punya hak untuk hidup di negeri ini. Maka terjadilah pembatian besar-besaran etnis Tiong Hoa oleh pribumi yang disponsori oleh pemerintah. Padahal kemerdekaan yang dicapai ini juga berkat perjuangan para etnis pendatang itu, yang membantu warga Indonesia melawan penjajah.
Selain pendatang, korban yang jatuh ternyata juga orang pribumi sendiri. Anda tentu pernah mendengar pembantaian besar-besaran orang yang dianggap “kiri” di sekitar tahun 65-66. Periode selanjutnya, komunis dianggap sebagai bahaya laten, sehingga diharamkan hidup di negara Indonesia oleh pemerintah Orde Baru.
Tragedi lain antar penduduk pribumi terjadi pada rentang tahun 1998-2004 di Poso, Sulawesi Tengah. Karena dipicu kecemburuan terhadap warga pendatang, etnis Melayu mengusir warga etnis Madura dari tanah kelahirannya. Lebih dari 2000 orang menjadi korban pertikaian atau pembersihan etnis (ethnic cleansing) itu.
Mengapa orang Melayu mengusir warga etnis Madura yang notabene merupakan sama-sama warga negara Indonesia?
Melayu adalah contoh kekuasaan kecil. Kekuasaan yang lebih besar berada di Jawa, pusatnya di Jakarta. Ya, orang-orang Jakarta itu mengundang kecemburuan orang-orang yang ada di daerah. Jakarta adalah panggung kepura-puraan, di mana orang muncul sebagai pejuang nasionalisme, tapi sebenarnya untuk keperluan perutnya sendiri.
Dari sana, muncullah dugaan bahwa nasionalisme yang dipahami selama ini adalah kedok untuk melanggengkan kekuasaan. Kekuasaan dalam segala aspek kehidupan, sosial, budaya, bahkan agama. Kekuasaan berlaku dimanapun. Maka, masih perlukah kita bersatu di negeri yang penuh mitos ini?
*Tulisan ini dimuat di Newsletter Hawe Pos, Edisi September 2006. Klik di sini
27 November 2006
Berbagi Kesedihan, Membagi Kebahagiaan
Siapa orang yang pertama anda ingat ketika anda sedang mendapat kebahagiaan? Taruh saja hari ini anda mendapat rezeki kuis 3 miliar, atau undian berhadiah berupa mobil mewah. Siapa orang yang anda traktir, siapa orang yang pertama kali anda ajak serta untuk mencoba mobil baru itu?
Ayah, ibu, suami, istri,adik, kakak, atau ada orang lain di keluarga anda, pembantu misalnya? Mungkin pacar, guru SD atau guru TK, atau malah orang yang pernah meminjami anda uang saat jajan di warung karena dompet anda tertinggal?
Siapapun orang yang menjadi pilihan itu, tentu saja dia adalah orang yang paling berkesan dalam hidup anda. Dia adalah orang yang paling istimewa. Maka wajar, ketika anda sedang mendapatkan rejeki berlimpah, sedang mendapatkan kebahagiaan, dia menjadi orang yang pertama kali anda ingat. Dia adalah orang yang anda pilih untuk membagi kebahagiaan.
Yups, andai saja anda diminta membuat skala prioritas daftar orang istimewa, siapa saja orang yang berada diurutan tiga besar? Atas dasar apa anda menetapkan urutan?
Bagaimana jika sekarang ceritanya dibalik. Siapa saja orang yang pertama kali akan anda ingat ketika anda tengah berada dalam kesulitan, ketika anda sedang bersedih, ketika sedang dililit utang?
Apakah ketiga besar orang di atas juga menjadi orang yang pertama kali hubungi untuk dimintai bantuan.
Orang seringkali merengek datang pada kita ketika yang bersangkutan tengah berada dalam kesulitan. Atau sebaliknya, kita akan dengan mudah datang kepada orang yang sebelumnya kita remehkan, dan dengan mudah juga kemudian melupakannya.
Saya atau mungkin anda tak menyangka jika orang yang selama ini kita anggap tak berguna: bodoh, miskin, jelek; ternyata justru hadir memberikan bantuan ketika kita tengah berada dalam kesulitan. Orang yang selama kita anggap sebagai musuh, selalu anda curigai, ternyata datang di saat yang tepat, menyelamatkan nama baik anda di depan teman-teman anda. Bukankah semua itu sangat mungkin terjadi?
Memang sebagai orang yang pernah menolong, kita tidak mengharapkan orang lain akan mengenang jasa-jasa kita. Tapi sudah menjadi "keharusan" kita yang pernah ditolong untuk balas budi dengan membalasnya jika ada kesempatan.
Bukan cuma datang kepada orang yang pernah menolong kita itu ketika kita sedang dilanda musibah, berbaik-baik kepada aorang lain karena ada tujuan dibaliknya, tapi tak ingat ketika sedang mendapatkan kebahagiaan.
Sekarang, siapa orang yang akan anda ingat ketika anda mendapatkan rizki 3 miliar atau undian mobil mewah?
25 October 2006
Yang Luput di Hari Lebaran
Berkirim SMS di hari Lebaran merupakan media yang paling banyak dipilih orang. Ini memang bukan berdasarkan survei, tapi saya sendiri adalah salah satu korbannya. Selain mengirim SMS lebaran ke beberapa teman, saya juga menerima puluhan SMS lebaran yang jumlahnya sampai tak tertampung di kotak pesan yang disediakan ponsel saya.
Bunyinya macam-macam. Dari SMS lucu, sampai yang berisi kata-kata puitis. Iseng-iseng saya membaca-baca ulang SMS-SMS itu, eh ternyata ada beberapa yang mirip. Saya tak tahu pasti, dari mana mereka mendapatkan inspirasi SMS-SMS itu. Mungkin saja mereka memanfaatkan layanan content SMS.
Saya berpikir, ternyata kebanyakan orang punya bakat menciptakan kata-kata puitis, yang kadang narsis juga. Tapi nggak ada yang salah juga dengan narsis, karena dari situ seseorang jadi bisa berefleksi.
Kalau saya pribadi memilih SMS sebagai media untuk mengucapkan lebaran karena beberapa alasan. Pertama, jelas saja hemat biaya, jika dibanding dengan biaya untuk menelpon apalagi berkunjung ke tempat yang bersangkutan, atau mengirim kartu ucapan Lebaran. Tapi repot juga, operator yang saya pakai bermasalah beberapa pekan ini. Memang tarif yang dipasang lumayan murah, tapi banyak pesan yang tidak sampai ke tujuan.
Kedua, dengan SMS kita bisa menyampaikan pesan secara lebih bebas dan privat. Bebas maksudnya, jika mungkin saja anda tak bisa mengungkapkannya dengan berbicara langsung maupun lewat telepon, maka dengan SMS anda tak perlu malu. Biarlah kata-kata yang berbicara. Eits, tapi menjadi tidak bebas, karena fasilitas SMS untuk beberapa ponsel dibatasi jumlah maksimal karakternya.
Privat, dengan SMS anda bisa menyampaikan langsung ke orang yang dituju. Kecuali kalau anda salah menirim. Coba kalau anda menitipkannya ke orang lain, ada kemungkinan pesan anda akan dibaca dulu, he2. Jadi nggak aman kan.
Nah, bagaimana jika dari sekian SMS yang anda kirim ke teman-teman anda itu, ternyata ada yang kelupaan. Dan ternyata yang tidak dikirimi ini justru seseorang yang spesial buat anda: mantan pacar, teman sebangku waktu sekolah, guru favorit, gebetan atau target baru.....
Kejadian seperti ini seharusnya jangan sampai terulang, karena ini bisa mengurangi rasa respek seseorang itu kepada kita. Ya, kalaupun itu terjadi, namanya juga manusia, apalagi alatnya juga buatan manusia pula, ya berilah alasan yang agak masuk akal.
Anda bisa mengatakan, "I am so sorry, Jaringan lagi error", "HP kemaren lagi rusak, lowbat" atau alasan yang agak masuk akal lainnya. Tapi, jangan bilang "eh sori, aku lupa nomor kamu", atau "maaf, kemarin lagi nggak punya pulsa".
Bagaimana jika alasan yang masuk akal itu tidak sesuai realita. Sekarang pilih mana, anda dianggap nggak masuk akal, atau dicap pelit berkirim SMS?
Saya punya pengalaman menarik dari sekian SMS Lebaran yang saya terima. Salah satu SMS itu ternyata dikirim oleh seseorang yang selama ini sering saya cueki. Dari sini, saya jadi bisa belajar betapa pentingnya arti maaf-memaafkan di hari Lebaran, yang meski cuma dirayakan lewat tradisi berkirim SMS.
Barangkali ada teman yang belum saya sapa, buat siapa saja yang mengenal saya, untuk orang yang tengah membaca tulisan ini, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1427 H bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan bathin, mohon dimaafkan segala kesalahan saya.
*Versi lain bisa disimak di http://embunkehidupan.blogspot.com
27 September 2006
TOPENG
Dibalik orang melakukan ibadah di bulan Ramadhan
SESEORANG memiliki banyak julukan. Ada yang memanggilnya Pak Kyai, ada juga yang menyapanya Pak Haji. Nama yang sebenarnya tidak jelas. Yang diketahui, ia selalu tersenyum tiap kali bertemu orang. Ia banyak bersedekah kepada orang-orang di sekitarnya.
Suatu hari orang tersebut berubah. Mukanya cemberut bila bertemu orang. Ia juga tak lagi mengisi kotak amal untuk pembangunan masjid. Padahal sebelumnya, ia merupakan penyumbang dana terbesar. Rupanya ia kecewa karena orang-orang tak lagi memanggilnya dengan julukan kesayangannya. Ia merasa dilecehkan. Pengorbanannya selama ini tak dihargai.
"Biar koruptor kayak gini, aku banyak menyumbang pembangunan masjid itu, " ungkapnya, kesal.
****
BULAN Ramadhan tiba. Orang muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Masjid dan surau ramai dikunjungi para jemaah. Mereka menjalankan sholat Tarawih. Pada paroh bulan terakhir, atau tepatnya tujuh hari terakhir, rombongan jemaah bertambah. Masjid ramai sepanjang malam hingga pagi hari. Orang-orang menunaikan Qiyamul Lail (ibadah malam). Ada apa gerangan? Lailatul Qodar konon berada di tujuh hari terakhir itu.
Pada saat yang sama, stasiun televisi tampil 'spesial' dalam bulan puasa ini. Acara kerohanian sekarang ditambah porsinya. Ada talkshow menghadirkan da'i kondang yang lagi beken. Sinetron-sinetron tampil lebih religius. Sampai kuis tebak-tebakkan dengan tema islami juga ikut-ikutan menyemarakkan acara sahur dan menjelang buka puasa. Pokoknya, semua disulap menjadi lebih islami.
Para selebriti yang biasa muncul di layar kaca juga tampil beda. Kali ini penampilannya lebih santun. Tak ketinggalan juga para pejabat, ketika muncul di depan publik, ucapan dan perilakunya terjaga. Bisa jadi untuk sementara waktu mereka juga meninggalkan kebiasaan buruk lainnya.
Ada apa dibalik semua itu? Menghormati bulan puasa, mungkin itu jawaban yang akan diberikan. Orang-orang berubah. Sim-salabim, semua disulap menjadi lebih baik.
****
MANUSIA, seperti nelayan dan petani, menggantungkan hidupnya pada musim. Mereka tak berani melawan musim. Kualat, kata orang Jawa. Masak lagi musim rob tetap melaut. Musim rendengan (penghujan) kok malah menanam palawija. Alamat bakal ciloko!
Beberapa tahun terakhir, para petani di daerah tempat saya tinggal, mengeluh. Musim sekarang ini tak menentu. Musim ketigo (kemarau) malah turun hujan. Pada musim rendengan, hujan jarang turun. Akibatnya, mereka sering gagal panen. Harga tembakau anjlog. Kualitasnya memburuk akibat banyak turun hujan. Padi tak sempat panen karena kurang pengairan. Namun demikian, mereka masih tetap setia pada musim. Musim padi tetap menanam padi, tidak menanam palawija, dan begitu juga sebaliknya.
Akan tetapi kesetiaan petani pada musim tersebut tidak berlaku pada orang-orang yang pergi ke masjid, para selebriti yang berpakaian santun, para pejabat dan wakil rakyat di gedung DPR yang tidak melakukan korupsi. Mereka hanya melakukannya di bulan puasa. Selepas itu, kembali seperti sediakala.
Apakah puasa, menjalankan ibadah itu juga mengenal musim? Seperti saat bulan puasa kemudian orang ramai-ramai berbuat kebaikan. Karena, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, semua kebaikan akan dilipatgandakan. Mumpung lagi bulan promosi, maka orang pun berbondong-bondong melakukan kebajikan.
****
FENOMENA tersebut adalah realita. Kita, termasuk saya dan mungkin juga anda, malakukan ibadah atau kebaikan karena ingin dipuji oleh orang lain. Maka bila yang diharapkan tak kesampaian, kita akan kecewa. Merasa pengorbanan yang telah dilakukan.sia-sia.
Kita juga masih menjalankan ibadah karena takut bukan karena kesadaran. Ini tentu beda dengan definisi taqwa sebenarnya.Takut di sini karena perasaan cemas, perasaan khawatir akan ancaman-ancaman dari Tuhan. Di sisi lain, kita mudah tergiur oleh iming-iming. Iming-iming pahala dari tuhan.
Ini seperti yang dikutip dari kalimat bijak Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Basrah, Irak:
Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.
ANDAI saja berbuat baik, taqwa kepada Tuhan dilakukan secara tulus dan tak mengenal musim, dunia ini akan lebih tenteram. Manusia akan lebih konsisten dalam melakukan kebaikan walau dalam kondisi apapun.
Orang melakukan kebaikan karena dorongan dari dalam dirinya. Dia tidak lagi berpura bermanis-manis di depan orang lain, pura-pura khusu' ketika beribadah, sementara rasa itu tak pernah ada dalam hatinya.
Tapi, kehendak tuhan masih menjadi misteri. Tidak bisa ditebak seperti musim akhir-akhir ini. Setan-setan itu juga akan dilepas seusai orang-orang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Manusia akan menanggalkan topengnya dan mengenakan topeng lainnya. Mereka kembali berkawan pada setan. Entahlah, saya juga tak mengerti. Wallohu a'lam bisshowaab.
*dipublikasikan di tablod Hawepos edisi 13/Oktober/2005
** tulisan ini sebelumnya pernah dimuat diblog ini pada 25 October 2005 Selengkapnya......
05 August 2006
The Real Mujahid
Aksi mengutuk serangan militer Israel ke Palestina dan Lebanon merebak di berbagai daerah di tanah air. Amerika Serikat yang menjadi sponsor utama Israel tak luput dari kecaman. Dua negara itu dijuluki sebagai teroris, the real teroris. Seperti yang tampak pada poster yang dibawa oleh anak ini.
Apabila AS dan Israel mendapat julukan "The Real Terorist" maka anak kecil ini layak disebut "The Real Mujahid". Are you the next Mujahid?
Aksi mengutuk serangan militer Israel ke Palestina dan Lebanon merebak di berbagai daerah di tanah air. Amerika Serikat yang menjadi sponsor utama Israel tak luput dari kecaman. Dua negara itu dijuluki sebagai teroris, the real teroris. Seperti yang tampak pada poster yang dibawa oleh anak ini.
Apabila AS dan Israel mendapat julukan "The Real Terorist" maka anak kecil ini layak disebut "The Real Mujahid". Are you the next Mujahid?
03 August 2006
Keramahan sebuah Pelayanan
Siang itu, saya mengunjungi sebuah bank terkemuka. Baru saja saya membuka pintu, dua orang laki-laki bertubuh tegap, menyapa saya, "selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" ucapnya dengan raut muka senyum ramah.
Salah seorang diantaranya kemudian mengantarkan saya menuju customer service, "silakan mengambil nomor antri, dan menunggu di sini," ucapnya lagi, sambil menunjukkan tempat tunggu untuk para nasabah.
Tak lama kemudian, nomor urut saya dipanggil. Setiba di customer service saya kembali disapa dengan senyum ramah perempuan berparas anggun dengan penampilan yang serba rapi. Saya pun kemudian menyampaikan keperluan saya.
Keramahan menjadi daya magis keberhasilan sebuah usaha jasa.
Siang itu, saya mengunjungi sebuah bank terkemuka. Baru saja saya membuka pintu, dua orang laki-laki bertubuh tegap, menyapa saya, "selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" ucapnya dengan raut muka senyum ramah.
Salah seorang diantaranya kemudian mengantarkan saya menuju customer service, "silakan mengambil nomor antri, dan menunggu di sini," ucapnya lagi, sambil menunjukkan tempat tunggu untuk para nasabah.
Tak lama kemudian, nomor urut saya dipanggil. Setiba di customer service saya kembali disapa dengan senyum ramah perempuan berparas anggun dengan penampilan yang serba rapi. Saya pun kemudian menyampaikan keperluan saya.
*****
Bagi sebuah usaha pelayanan jasa, seperti bank, keramahan pelayanan menjadi hal yang sangat penting. Dengan raut muka tersenyum para pegawai menyapa setiap pengunjung. Ini harus dilakukan, tak peduli apakah mereka tengah punya masalah keluarga, apakah sebelum berangkat kerja yang bersangkutan baru saja berantem dengan sang suami, "pokoknya berikan pelayanan semaksimal mungkin".
Untuk apa hal itu dilakukan?
Tak dipungkiri, ketika menjumpai para pegawai bank yang ramah itu, saya merasa nyaman. Setidaknya keramahan para pegawai itu mengurangi depresi saya yang tengah menghadapi banyak masalah. Apalagi agenda kedatangan saya siang itu untuk lapor kehilangan. Tiga hari sebelumnya, saya kehilangan ATM. ATM bersma dompet dan seisinya tertinggal setelah mengambil uang di ATM di dekat kampus.
Saya juga sempat berpikir, jangan-jangan para pegawai itu melakukannya dengan pura-pura. Bisa saja mereka melakukannya dengan terpaksa karena tuntutan profesi. Apakah mereka juga tidak sedang punya masalah, problem keluarga misalnya?
Sesekali saya memerhatikan sorot mata customer service yang tengah berbicara dengan saya siang itu. Saya juga mengamati setiap gerak tubuhnya. Wah, lumayan juga nih, he....
"Kami punya produk baru, apakah anda sudah memanfaatkannya," ucap perempuan itu mengagetkan saya.
Ia menjelaskan kepada saya tentang kelebihan fasilitas baru itu. Saya tak banyak bicara, cuma sesekali menganggukkan kepala. "Oke deh, saya minta brosurnya, biar nanti saya baca-baca lagi," jawab saya.
Saya baru menyadari, dengan memberikan jawaban itu, saya tiba-tiba rela menjadi pelanggan yang baik. Saya pun saat itu tak keberatan menuruti apa yang dikatakan, seolah-olah tak mau mengecewakannya. Sebelum meninggalkan bank, perempuan itu masih mengucapkan terima kasih dan ucapan-ucapan manis lainnya secara apresiatif. Ketika akan keluar dari bank, dua orang pria membukan pintu untuk saya.
Siang itu saya benar-benar menjadi orang istimewa. Andai saja tiap hari saya menjumpai orang-orang seperti di bank itu, alangkah damainya hidup ini,..... :)
Kekejaman Sebuah Perang
Saya, dan mungkin juga anda, pasti geram atas apa yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina dan Lebanon. Atas dasar apapun, tindakan Israel melukai warga sipil jelas tak bisa dibenarkan. Saya sangat mendukung gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan imperialis Israel (di Palestina dan Libanon) dan Amerika Serikat (di Irak dan Afghanistan)
Apakah anda juga berfikir Israel yang dengan alat supercanggihnya salah mengebom pos pasukan perdaiaman PBB, salah mengebom pemukiman, sampai ambulans juga ikut menjadi sasaran bom?
Aksi mengutuk serangan Israel yang menewaskan ratusan warga sipil di Lebanon dan Palestina. Warga sipil menjadi sasaran dari perseteruan tentara Isarael vs pejuang Hezbulloh.
Mereka bilang, Hizbulloahlah yang memulainya lebih dulu karena menyandera 2 militernya. Simon Perez belakangan bilang, kesalahan dalam peperangan itu lazim terjadi, kemudian dengan entengnya bilang, minta maaf.
Saya mendukung pemerintah Lebanon yang menolak permintaan maaf Israel. Jangan salahkan juga bila akhirnya warga akhirnya bersimpatik terhadap perjuangan Hizbulloh.
Namun hingga saat ini negara-negera internasional seolah tak mampu menghentikan tindakan biadap militer Israel itu. Bahkan PBB, Sebuah lembaga perdaiaman internasional terbukti lemah untuk mengendalikan masalah yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya. Satu-satunya negara yang berani mengecam keras adalah Iran.
Mantan Sekjen PBB, Boutros Boutros-Ghali menegaskan PBB dan komunitas internasional tidak akan mampu menghentikan perang di Lebanon selama AS masih di pihak Israel.
Memang AS telah berkali-kali melanggar kesepakatan dan tidak mengindahkan seruan internasional. Disaat publik internasional mengutuk serangan Israel, AS malah mengirim bantuan senjata "berat". Ketika publik mendesak AS agar sekutunya itu menghentikan serangan ke warga sipil, dan melakukan genjatan senjata, negara adidaya itu malah menolak. Terus apa maunya sih!
Dengan dalih untuk memerangi terorisme, membela demokrasi, negara itu mencampuri kedaulatan negara lain. Dengan serta-merta AS melakukan operasi militernya di Afghanistan, karena pemerintah Taliban dituduh melindungi Teroris.
Militer AS juga telah menewaskan ribuan warga Irak , meski tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal di oleh pemerintah Irak itu tidak terbukti. Bahkan setelah berhasil menggulingkan Saddam Hussein, militer AS juga masih melakukan pendudukan di negera itu dengan alasan untuk proses pemulihan dan pengawalan pemerintahan Irak yang baru.
Belakangan Iran dan Korea Utara bersitegang dengan AS atas tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal. Pemerintah Iran menolak tuduhan AS dan mengatakan bahwa pengayaan uranium itu untuk mengembangkan jaringan tenaga listrik di negaranya. Karena AS masih saja tak percaya, Iran pun mulai manantang. Hal yang sama juga dilakukan Korut. Negara itu menyatakan siap ebrperang dengan AS.
Saya salut dengan dua negera itu. Mereka adalah simbol perlawanan atas dominasi AS yang ingin menguasai dunia. Selain Iran dan Korut, masih ada lagi Kuba dan Venezuela, dua negera pro-sosialis. Tak segan-segan, negera sosialis itu berani mengusir duta besar AS karena melakukan penghinaan atas pemerintahannya.
Bagaimana dengan negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Masak cuma FPI saja yang berani berteriak keras atas serangan militer Isarael?
Bagaimana anda melihat persoalan ini. Apa sebenarnya yang melatarbelaknginya. Apakah benar ada persoalan geopolitik, ataukah ada perang ideologi, antara Zionis-Islam?
Tanggapan Billy Antoro (milis jurnalisme-sastrawi@yahoogroups.com)
Akhir-akhir ini, tiap melihat gambar Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan di layar televisi, saya menjulurkan jari tengah saya ke arahnya. Itu tanda 'penghinaan' saya terhadap komunitas dunia yang masih diam dengan penindasan nilai-nilai kemanusiaan yang telah dan sedang terjadi di Libanon oleh Israel. Seruak kebencian juga terlontar begitu saja dari mulut saya ketika Menlu Amerika Serikat Rice dan aparat George Bush lain tampil. Mereka memasok ribuan ton
amunisi, baik bom maupun rudal, ke Israel untuk membunuhi warga tak berdosa.
Bagaimana dengan dunia internasional? Bangsat! Diam saja. Cuma bisa komat-kamit tanpa aksi. Negara arab? Banci! Bisanya cuma mengecam.
Saya pikir ini bukan soal agama semata. Ini politik! Tepatnya geopolitik--perebutan tanah oleh imperialis Israel. Pelajarilah sejarah keberadaan Israel di tanah Palestina itu. Juga campur tanganInggris dan sejumlah negara Eropa dan Amerika. Sebab kejadian kini adalah kelanjutan peristiwa lampau.
dunia. Hizbullah, Hammas dan organisasi perlawanan lain dibilang teroris. Padahal mereka hanya sekumpulan orang yang melawan penindasan yang kasat mata dilakukan Israel dan Amerika Serikat. Mereka tidak ingin keluarga dan saudara mereka terus dibunuhi dan
harta benda mereka dirampas. Itu saja!
Kesedihan saya makin bertambah ketika kaum ulama Wahhabi Arab Saudi--mayoritas di negara ini--mengatakan bahwa pejuang Hizbullah adalah orang-orang Syi'ah yang tidak layak dibantu. Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Mereka, saya pikir, telah tertutup mata hatinya dengan penindasan kemanusiaan di depan matanya sendiri. Mereka telah mencoreng Islam sebagai agama yang sangat menghormati arti satu nyawa manusia dalam kehidupan.
Namun saya kembali sadar. Seperti waktu-waktu penyerangan Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak, yang menewaskan ribuan penduduk sipil perempuan dan anak-anak, yang menyebabkan jutaan rakyat dunia turun ke jalan-jalan kota di negaranya, saya hanya bisa menyumpah serapahi mereka. Frustasi karena upaya demonstrasi tak bisa menghentikan kebiadaban mereka. Apa yang bisa saya lakukan?
Sebagai orang media, seniman atau apalagi di komunitas milis ini, teman-teman, apa yang bisa kita lakukan? Jangan katakan kita cuma bisa berdo'a!
01 August 2006
Maaf, Numpang Iklan Korupsi
Iklan ini dimuat di Harian Bisnis Indonesia beberapa waktu lalu. Pemasang iklan yang beritikad baik melaporkan adanya dugaan korupsi di PT Bhakti Investama kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya minta ampun karena mendapat intimidasi.

08 June 2006
Mitos Kebahagiaan
Sudahkah anda menikmati hidup yang anda jalani saat ini, dan apa yang menjadi ukuran kebahagian menurut anda?
Ketika menjawab pertanyaan serupa, saya buru-buru mem-blacklist materi atau harta-benda sebagai tolok ukur kebahagian hidup. Saya ingin mengatakan bahwa materi bukan segalanya, kebahagian itu berpusat pada suasana hati, kejiwaan, ruhaniah.
Tapi pada saat yang sama, saya tak dapat memungkiri kalau sebagian persoalan yang saya hadapi, setidaknya untuk saat ini, diakibatkan oleh masalah keuangan. Andai saja aku punya, aku pasti bisa ini, bisa itu.
Tiba-tiba saja slide-slide gambar itu bermunculan. Seorang lelaki hidup berkecukupan. Apapun yang diinginkan terwujud. Ia ingin membawa terbang orang-orang yang dicintainya keliling dunia dengan menggunakan pesawat pribadi. Ke mana-mana mengendarai mobil mewah di dampingin perempuan-perempuan yang supercantik nan seksi. Bahkan ia ingin membeli perempuan yang paling cantik sekalipun dengan uang yang dimilikinya. Ia ingin memiliki apapun seharga harta yang dipunyai.
Ah, apakah dengan begitu bisa menjamin hidup kita bakal bahagia. Buktinya ada saja orang kaya yang hidupnya tak lebih bahagia dari orang yang miskin, ada saja keluarga kaya yang kerjaannya tiap hari berantem. Apakah materi bisa menjamin hidup seseorang menjadi lebih bahagia?
Orang miskin bisa saja bilang sudah cukup dengan makan lauk tempe, ke mana-mana naik sepeda onthel, punya TV juga masih monochrome, rumah tipe RSSS, masih ngontrak lagi. Andaikata sudah punya komputer, paling banter komputer jangkrik yang pra-pentium. Tapi dia bilang bisa hidup bahagia, masih selalu tersenyum dan berucap syukur alhamdulillah.
Romantis sekali hidup orang miskin itu. Kendati fasilitas kehidupan mereka minim, tapi tetap besar hati.
Sekarang, keluarga kaya. Suami-istri jarang di rumah. Tapi tiap kali bertemu selalu bertengkar. Anak-anak sering keluyuran, menjadi malas di rumah. Keluarga berantakan, tak bahagia kendati telah dicukupi oleh materi dan kekayaan.
Kenapa tak mengambil contoh keluarga yang kaya, punya rumah mewah, suami istri dan anaknya rajin sholat berjamaah. Hidupnya tenteram, jarang terdengar pertengkaran. Sering beramal pada orang-orang sekitar. Membantu pembangunan masjid atau tempat umat lainnya. Anak-anaknya juga pintar di sekolah. Kurang apalagi?
Orang sering membandingkan keluarga kaya yang ber-"masalah" untuk men-judge bahwa materi atau kekayaan bukan ukuran kebahagiaan seseorang. Di sisi lain, orang akan mengambil perbandingan keluarga yang secara ekonomi masih kurang, tapi kehidupannya harmonis.
Kalau pertanyaannya, lebih bahagia manakah, orang miskin atau kaya, jika keduanya sama-sama tak punya masalah dengan keluarga, dengan orang-orang di sekitar?
"Dalam kondisi yang sama, orang kaya dan orang miskin tetap akan lebih bahagia orang kaya. Kualitas kebahagian orang kaya lebih," ucap salah seorang dosen saya dikampus suatu saat.
Menurutnya, dalam suasana hati yang sama, orang kaya hidupnya lebih bahagia. Orang kaya yang keluarganya tak ada masalah, suami dengan istri baik, dengan anak juga baik, akan lebih bahagia dari keluarga yang baik dari keluarga yang miskin.
"Sudah miskin, keluarga bermasalah, jelas tambah susah. Masalahnya ganda. Kalau keluarga kaya bermasalah, kan cuma satu masalahnya," tukas dosen itu.
"Romantis itu hanya istilah bagi orang kaya. Bagi orang kaya, sesekali tak punya duit sangat romantis. Tapi bagi orang miskin, jadi masalah," tambahnya.
Benar, orang-orang kaya itu kadang berlaku aneh, mereka sesekali ingin menjadi orang miskin. Tiduran di atas koran di pinggir sungai, atau makan dengan lauk ikan asin yang dimakan langsung dengan jari tangan tanpa sendok yang disajikan di atas daun pisang, naik sepeda onthel, menumpang gerobak yang ditarik oleh sapi dan kerbau, sungguh sangat romantis bagi orang kaya itu merasakan kemelaratan seperti ini. Karena apa, karena mereka jarang menjalani kehidupan seperti itu.
Sementara bagi orang miskin, kemelaratan disikapi sebagai sebuah penderitaan. Mereka tak tau kalau justru kemelaratan seperti ini yang sesekali ingin dinikmati oleh orang kaya, kemeralatan seperti ini yang justru menjadi rekreasi bagi orang kaya. Yang diangankan oleh orang miskin, betapa enaknya menjadi seperti mereka, orang-orang yang secara financial berkecukupan. Romantisme dalam arti lain, yang bukan lagi kenikmatan, tapi penderitaan, karena siang malam, mereka berandai menjadi orang kaya.Oh ya, saat ini saya tengah mencoba-coba keberuntungan dengan melakukan investasi kecil-kecilan. Saya semula tak percaya akan melakukan ini, sebelum ternyata ada ratusan, bahkan ribuan orang yang ternyata telah melakukan lebih dulu. Diantaranya, ada seorang yang sudah cukup saya kenal, dan diam-diam saya mengaguminya.
Cukup mudah, sangat murah, namun kita bisa mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda. Saya berani jamin, anda pasti akan tertarik. Silakan klik di sini
31 March 2006
Dibalik Menulis itu Mudah
Pendapat menulis itu perkerjaan sulit, sekarang terbantahkan. Sejumlah penulis mengatakan menulis itu gampang, semudah orang berbicara.
"Saran saya, kalau Anda mau menulis, menulis saja. Menulis itu gampang. Jadi tak perlu dibuat susah," ucap pria di depan kerumunan massa, siang itu. Ucapannya disambut tepuk-meriah para hadirin. Ah, ternyata menulis itu gampang banget. Kenapa dibuat susah!
"Apalagi menulis karya sastra, apapun di sekitar Anda bisa jadi tema. Sandal, sesuatu yang anda pakai di kaki, itu bisa jadi tema. Di tempat saya tinggal, ada orang yang mau berinfaq sandal, " tambah pria yang tengah memberikan resep menulis kepada para hadirin.
Pria yang ada disebelahnya, berpeci putih dengan warna rambut serupa, mengatakan, kalau orang lain bisa, kenapa saya tak bisa. Kalau orang lain bisa buat puisi, kenapa dirinya tidak. Nah, inilah yang menjadi prinsipnya menulis. Saya harus bisa!
Saya menulis sejak masih remaja. Apapun saya tuliskan. Baru ketika ingin menulis sastra, saya baca-baca buku-buku sastra. Saya baca puisi Sutardji, puisi Rendra, dan lain-lain. Lalu saya buat puisi seperti karya-karya mereka. Oh begini toh namanya puisi. Yang begini tuh sudah puisi. Puisi saya yang pertama diterbitkan berjudul kumpulan "Puisi Balsem", yang ia katakan puisi-puisinan.
Pria yang lainnya lagi, yang ada dideretan ujung kiri di meja pembicara yang di hadapannya ratusan massa berjubel, juga menceritakan pengalamannya menulis. Ia menulis tentang negeri orang lain yang pernah disinggahi. Setelah ia selesai menulis, kemudian dia sodorkan ke penulis ternama untuk dimintakan pendapatnya dan kesediannya untuk memberikan kata pengantar.
"Awalnya saya coba-coba, eh malah laris di pasaran, " kata pria yang juga menulis Novel Ayat-ayat Cinta, sebuah novel yang menceritakan tentang kisah seorang santri asal Indonesia yang belajar di Mesir, yang menjadi novel fenomenal, khususnya di kalangan kaum santri, beberapa waktu terakhir sejak kemunculannya tahun lalu.
Ternyata sambutan orang tersebut sangat baik. "Karya ini harus diterbitkan. Segera cari penerbit," kata pria penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang siang itu juga berada di deretan meja para pria yang dikerubungi massa.
Keempat pria itu, yang disampaikan paling awal dalam tulisan ini adalah Prie GS, selanjutnya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Habiburrahman El Shirazy, dan Ahmad Tohari. Rabu (30/3/2006) siang mereka menjadi pembicara di acara "Heboh Sastra Santri" dengan peluncuran antologi cerpen "Nyanyian Cinta" yang digelar oleh IPPNU Jawa Tengah bersama Pesantren Karya Basmala, penerbit buku-buku islami.
Antologi digarap oleh beberapa penulis yang sudah tak asing lagi, diantaranya Gus Mus dengan judul "Muhasabah Sang Primadona", Habiburahman dengan "Nyanyian Cinta"; yang menjadi judul dari antologi; Abidah El Khailaqi dengan Peri Cinta, dan lain sebagianya.
"Dunia sastra itu kan dunia khayal, bagaimana untuk mencari ide dalam menulis, apa perlu bersemedi dulu, untuk sampai pada tingkat la ilaha illalloh seperti Gus Mus," tanya salah seorang hadirin.
"Inilah kesahalan banyak orang, menganggap sastra adalah dunia khayal, sehingga seseorang sampai perlu bersemedi dulu. Sastra itu ada di sekitar kita. Yang dibutuhkan adalah kepekaan, " ucap Ahmad Tohari.
***
Beberapa hari lalu, saya membeli buku Creative Writing yang diterbitkan oleh Media Kita dan Jakarta School. Penulisnya AS Laksana. Amanat yang disampaikan oleh buku ini tidak jauh beda dari yang disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto dalam bukunya "Menulis itu Mudah". AS Laksana dalam resep penulisan yang dipaparkan dalam beberapa bagian itu juga menyampaikan hal yang sama. Menulis tidak sulit. "Menulislah seperti anda bicara. Anda bisa berbicara lancar, maka anda juga menulis seperti itu, " tulis AS Laksana dalam pengantar bukunya.
Ia kemudian menekankan pada perlunya seseorang menulis. Menulis adalah proses berpikir, menyampaikan sesuatu yang menjadi kegelisahannya. Dengan menulis maka gagasan kita akan bisa dipahami oleh orang lain. Dengan menulis muncul banyak ilmu pengetahuan. Pokoknya apapun bidang Anda, menulis itu penting. Demikian AS Laksana meyakinkan kepada pembacanya tentang pentingnya menulis.
Pendapat para pembicara dan juga kedua penulis buku dalam yang saya sebut tadi, membuat saya dongkol. Menulis itu mudah, tidak sulit, gampang. Itu kan kalian, karena kalian sudah bisa menulis, karena kalian sudah terlalu kebesaran dengan nama yang sekarang kalian sandang, sekarang berani bilang seperti itu, menulis itu mudah.
Menulislah seperti Anda berbicara. Apalagi yang satu ini. Menggampangkan sekali orang ini. Orang nulis kok kayak bicara, ya beda dong. Tinggal ngomong itu gampang. Anak balita saja bisa. Menulis tidak demikian, tidak selancar, cas-cis-cus, seperti saat kita bicara.
Ehhhm.... kalau hanya menulis saja, asal menulis, kayaknya pendapat orang-orang itu tidak terlalu salah. Ya, seperti yang saya tulis ini. Asal nulis. Tapi kan tidak mudah untuk membuat tulisan yang bisa menjadi karya besar,fenomenal, masterpiece....
Kalau sekedar menulis, setidaknya bagi saya tidak terlalu sulit. Anak-anak SMP-SMU yang masih lo-gue itu sudah bisa menghasilkan novel. Orang novel kayak catatan harian. Asal tidak buta huruf saja bisa menulis.
Tapi kan karya mereka tidak besar?
"Meski karya mereka laris dipasaran, kita lihat saja nanti, apa mereka akan dicatat dalam sejarah sastra Indonesia, " ucap seorang pria seusasi acara launching buku itu.
Beberapa menit yang lalu, ia menjadi moderator. Padahal pria ini sudah bergelar sastrawan, tidak kalah besar dari para pembicara yang telah disebutkan tadi. Ia adalah Triyanto Triwikromo. Ditangannya sebuah buku yang baru saja diluncurkan itu, sudah tercorat-coret. "Ah dakwah banget, " komentar pada salah satu coretan.
Pantas saja saat menjadi moderator, ia sempat mengatakan, semoga saja buku ini lekas habis, dan sebelum kembali diterbitkan perlu diedit lagi, karena masih banyak kesalahan, begitu ucapnya. Ucapannya itu menusuk sekali. Seandainya saya penyunting buku itu, saya akan damprat orang kurang ajar ini. Orang hanya moderator kok mengkritik. Ketidakpuasannya itu kemudian menjadi diskusi kecil setelah acara itu selesai dengan beberapa orang, diantaranya adalah saya.
Malam ini, saya baru saja selesai membaca tiga cerpen. Karya Gusmus, Habiburahman, dan Abidah El Khaelaqi, yang dilanuching siang hari sebelumnya. Komentar saya, terlalu sederhana cerita itu ditulis. Bahasa yang digunakan bahasa keseharian. Tak ada pergulatan bahasa, atau permainan kata yang berkedalaman. Ya, colloquial word lah.
Satu cerpen yang menurut saya temanya cukup bagus, yakni karya Gus Mus. Cerpen itu menceritakan Tokoh perempuan yang berasal dari desa yang menjadi selebritis terkenal kemudian berubah menjadi lebih santun, berjilbab, setelah bertemu dengan laki-laki yang kemudian menjadi suaminya, tapi ketika perempuan selebritis itu semakin mendekatkan diri pada agama, perilaku laki-laki itu malah berubah.
Kondisi ini yang membuat perempuan itu tertekan. Sress berat. Kemudian ia minta saran. Apakah ia harus minta cerai dari suaminya. Tapi bagaimana dengan tanggapan orang, terutama para fansnya yang selama ini telah menganggap hubungan keluarganya harmonis, setidaknya bila dibanding dengan selebritis yang lain, yang akhir-akhir ini sering ditempa isu tentang perceraian.
Kendati masih dilukiskan dengan bahasa yang sederhana, saya menikmati bacaan itu, bahkan hingga selesai. Memang dibagian awal, plot berjalan lambat. Cerita dengan tokoh aku yang bermonolog itu baru menggugah emosi pembaca ketika hampir setengah cerita. Setengah cerita awal, deskripsi yang berkepanjangan.
Yang menjadikan cerpen Gus Mus menarik, cerita diakhiri dengan pertanyaan. "Apa yang harus saya lakukan," ucap tokoh perempuan itu mengakhiri monolognya.
Sementara pada cerpen karya Habiburahman, tak beda dengan Novelnya Ayat-Ayat Cinta, dalam cerpen Nyanyian Cinta ini penulis mengambil setting cerita di Mesir. Tokoh utama diambil tokoh yang sempurna.
Ceritanya begini. Seorang mahasiswa Al Azhar asal Indonesia, yang santun, yang amanah, suatu hari menemukan tas di tempat wudlu di masjid. Diketahui dari pemiliknya tas itu ternyata berisi emas berlian, ratusan ribu dollar uang, dan barang-barang berharga lainnya. Tanpa dibuka lebih dulu, tas diserahkan oleh pemuda itu ke takmir masjid. Ketika si empunya berniat memebrikan imbalan sebagai ucapan terima kasih, pemuda yang menemukan tas itu menolak.
"Tolong jangan paksa saya. Saya melakukan karena melaksanakan amanat Alloh," kata pemuda itu. Berulangkali seorang bapak itu menawarkan imbalan, namun masih tetap ditolak.
Suatu saat pemuda itu dikirim ke suatu desa terpencil untuk berdakwah. Seuasai menyelesaikan tugas dakwahnya, ia dijodohkan oleh sang kepala desa kepada keponakannya, yang tak lain adalah putri sang empu tas yang ditemukan pemuda itu di masjid beberapa tahun yang lalu. Cerita berakhir dengan kebahagian sang tokoh. Akhirnya ia mendapatkan imbalan. Tersirat amanat bahwa Tuhan membalas amal baik yang dilakukan hambaNya.
Rupanya cerpen ini yang dicorat-coret oleh Triyanto Triwikromo. Triyanto merasa gusar karena muatan dakwah terasa sekali dalam cerita. "Ah biar saja, toh namanya juga cerpen santri. Dakwah-dakwah ya tak apalah, " kata saya pada seorang teman yang tengah membicarakan aksi corat-coret dan diskusi kecil seusai diskusi peluncuran buku itu.
***
Menulis itu mudah?
Oke, saya terima pendapat orang-orang yang mengatakan menulis itu mudah. Setidaknya hal ini baik untuk membangkitakan semangat para penulis pemula. Mungkin saja mereka bermaksud menghibur orang-orang seperti saya yang baru saja menulis. Toh kalau sekedar menulis saya juga bisa.
Saya sekarang bisa mengerti apa yang diucapakan oleh para pembiacara di depan para santri itu. Mengenalkan dunia tulis menulis, apalagi menulis sastra, memang perlu cara yang sederhana, yang bisa mudah dipahami oleh orang awam.
Baiklah untuk tahapan ini, saya sudahi dulu, menulis itu mudah. Yang penting tuliskan dulu apa yang ada dipikiran kita. Lalu untuk menghasilkan yang lebih bagus, perhalus lagi draft awal itu. Tulisan yang bagus tak sekali jadi, ia harus ditata ulang, kata-kata yang berserakan itu perlu dirapikan, dirampingkan, disesuikan, ditimbang, dirasakan, dan seterusnya, hingga bisa menghasilkan pilihan bahasa yang tepat, yang memiliki kedalaman makna. Ini barangkali yang belum bisa dilakukan oleh para penulis pemula. Baiklah, yang penting sekarang menulislah!
17 March 2006
Insiden Abepura: Bias Ketidakadilan
Insiden berdarah Abepura merupakan titik puncak kemarahan masyarakat Papua atas kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tegas dalam menangani kasus-kasus di bumi Cendrawasih.
Bahkan pemerintah terkesan lemah menghadapi masyarakat luar, khususnya tekanan para investor asing, untuk merealisasikan tuntutan warga setempat menutup PT Freeport Indonesia. Akibatnya, pecahlah tragedi berdarah Abepura, Kamis (14/3), yang menewaskan empat aparat kemanan dan puluhan lainnya luka-luka, baik dari pihak aparat keamanan maupun massa aksi.
Bila sebelumnya, seringkali para demonstran yang mengalami kekerasan dari pihak petugas keamanan, kali ini justru dari pihak petugas keamanan yang menjadi korban kekerasan oknum pengunjukrasa. Aparat yang hanya dilengkapi tameng dan pentungan kewalahan menghadapi amukan massa yang jumlahnya jauh lebih besar.
Sangat disesalkan, diantara para pengunjukrasa itu diterdapat mahasiswa. Namun, adanya keterlibatan mahasiswa dalam insiden berdarah tersebut harus dilihat sebagai oknum, bukan lantas menggeneralisasi bahwa mahasiswa sekarang anarkis dalam melakukan aksi demonstrasi.
Masyarakat diharapkan tidak lantas menjustifikasi bahwa masyarakat Papua brutal. Karena, menyaksikan adegan kekerasan seperti yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi itu sangat mungkin untuk menggiring opini publik pada keputusan mengecam masyarakat Papua. Masyarakat di luar Papua perlu memahami bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Bagaimana kondisi psikologis masyarakat Papua atas kekecewaannya terhadap Freeport dan sikap pemerintah yang lemah.
Tragedi serupa bukan sekali ini saja terjadi di Papua. Sebelumnya insiden Abepura pernah terjadi pada 10 mei 2005. Menurut KP KMP, yang disampaikan dalam siara pers menanggapi insiden Abepura itu, kekerasan yang dialami orang Papua selama ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kekerasan massa lalu, dimana rakyat Papua dipersalahkan dalam setiap tuntutan hak-hak dasar. Kekerasan terus berlanjut di Papua, perjuangan melawan Freeport justru dianggap tak penting bagi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
KP KMP menuduh pihak aparat keamanan yang mulai memicu kekerasan. Insiden Abepura, mencederai 6 penduduk sipil Papua tak berdosa yang dilaukan oleh aparat polisi saat membubarkan secara paksa massa Front PEPERA PB kota Jayapura.
Awalnya tarik menarik antara aparat dan Massa, polisi kemudian bersikeras memaksakan massa untuk membubarkan diri. Namun massa Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat wilayah Kota Jayapura tetap bertahan hingga tuntutan terpenuhi. Aparat kemudian beringas, salah seorang intelejen TNI AU yang sekarang tewas, nampak memulai pelemparan batu kearah massa yang dalam posisi tegang. Massa aksi kemudian mengejar dan mengeroyok hingga tewas.
Selanjutnya terjadi tembakan liar kearah massa oleh aparat yang mencederai 6 orang. Melihat rekannya cedera akibat tembakan, pelemparan batu dari massa aksi tak terhindarkan. Akibatnya 3 aparat Polisi dan 1 orang TNI AU tak bernyawa.
Vulgarisme Media
Ada kecenderungan televisi akhir-akhir ini gemar menayangkan tontonan kekerasan yang dikemas dalam bentuk berita. Sajian acara semacam Buser, Sergap, TKP, dan lain-lainnya menjadi bukti betapa kekerasan disajikan secara blak-bakan (life) di layar kaca.
Menjadi permasalahan karena kekerasan itu dikemas dalam bentuk berita, bukan sandiwara. Artinya, kekerasan itu benar-benar terjadi di alam nyata, bukan dalam film atau sinetron. Dan ketika berita itu ditayangkan di televisi, sudah barang tentu akan menjadi konsumsi publik. Apalagi acara semacam itu sekarang tak lagi mengenal waktu. Akibatnya, anak-anak pun menjadi korban tontonan kekerasan.
Patut dipertanyakan aspek edukasi sebuah media menyajikan berita yang menayangkan kekerasan. Alih-alih memberikan pendidikan, acara semacam itu ditengarai menjadi biang keladi perusak masyarakat. Tujuan semula yang diharapkan bisa menghentikan kekerasan di masyarakat, menghadapi dilema karena aksi serupa malah ditiru oleh orang yang menyaksikannya. Kekerasan sudah menjadi tontonan biasa, tak lagi menimbulkan efek kejut dan bukan lagi sesuatu yang mengerikan.
Tak dapat dipungkiri berita semacam itu, baik di televisi maupun di media cetak justru menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Tapi apa hanya berhenti sampai di situ. Bukankah fungsi pers tak hanya untuk menghibur (to entertain) tapi juga untuk mendidik (to educate), dan seterusnya. Nah, apakah kekerasan yang disajikan oleh media itu memenuhi fungsi pers?
Pada penayangan insiden berdarah dalam demosntrasi di Abepura, muncul pertanyaan, apakah redaksi tidak mempertimbangkan kelayakan berita yang akan disampaikan kepada pemirsa? Bagaimana dengan fungsi lembaga sensor, bukankah di Indonesia ada lembaga terkait yang berwenang, semacam KPI?
Rekaman kekerasan itu sempat ditayangkan di beberapa stasiun televisi saat sore dan malam tanpa narasi dan penjeleasan. Setidaknya tercatat Metro TV, ANTV, dan Trans TV yang menayangkan gambar tersebut secara jelas. Bahkan ada yang mengulang sampai tiga kali. Hanya SCTV yang berinisiatif mengaburkan gambar kekerasan itu. Namun dalam kasus lain, SCTV belum sepenuhnya bersih dari penayangan berita kekerasan dengan menayangkan berita kriminal seperti stasiun TV lainnya.
Tidakkah dibayangkan betapa pilunya seandainya istri korban menyaksikan dengan kepala mata sendiri bagaimana sang suami dianiaya oleh orang lain, betapa sulitnya menghibur anak korban yang masih kecil ketika tahu ayahnya mati dengan cara yang tragis itu? Apa dampak yang akan timbul dari penayangan berita kekerasan? Dendam. Ya, dendam dari keluarga, kerabat, teman dekat, dan mungkin juga instansi tempat korban mengabdi, toh bukankah mereka punya bukti jelas siapa-siapa yang melakukan kekerasan itu yang mengakibatkan terbunuhnya korban.
Belajar dari kasus itu, diperlukan kode etik yang mengatur media untuk penerbitan atau penayangan berita yang berkaitan dengan kekerasan, karena aspek mudharat lebih besar dari manfaatnya. Redaksi sudah seharusnya menyediakan ruang diskusi untuk menentukan apakah sebuah berita layak disampaikan ke pemirsa atau pembaca. Tentunya dengan pertimbangan seorang jurnalis, bukan semata mencari sensasi, apalagi untuk menaikan rating media yang bersangkutan. Hal ini jelas telah menggeser orientasi media ke orientasi bisnis.
Akar Ketidakadilan
Sangat ironis bila bumi Papua yang dengan segala kelimpahan sumberdaya alam, masyarakatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data yang disampaikan oleh media membuka mata betapa ketidakadilan itu sangat menyolok di bumi cendrawasih itu. Bagaimana mungkin pulau yang kaya raya itu masyarakatnya menderita busung lapar?
Hal yang sangat dicemaskan oleh pemerintah untuk menutup Freeport adalah akan munculnya kecaman dari masyarakat internasional. Kesepakatan dengan pihak investor sudah diteken-kontrak. Pemerintahan SBY hanya melanjutkan kontrak yang telah disepakati oleh pemerintah sebelumnya. Dalam posisi ini, Indonesia tidak bisa berbuat banyak, karena menutup Freeport berarti membatalkan sepihak. Akibatnya, Indonesia akan dihukum oleh masyarakat internasional.
Pasca lengsernya rezim orde baru hingga sekarang ini, pemerintah Indonesia belum sepenuhnya bisa lepas dari pengaruh kekuasan asing. Ini terbukti dari kebijakan pemerintahan SBY dalam menangani persoalan Freeport. Ketidakberanian pemerintah menutup Freeport diduga karena investor, masyarakat internasional sebenarnya gertakan belaka. Sungguh logika yang terbalik, karena demi investor pemerintah rela menyerahkan Freeport, bukan demi rakyat pemerintah berani meninggalkan investor dan menutup Freeport.
Celakanya, para investor itu tak hanya meminjamkan uang, tapi juga ikut campur tangan dalam kebijakan pemerintah. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena nasib negeri ini ditentukan oleh bangsa lain. Warga Indonesia ibarat menjadi buruh di negerinya sendiri yang kaya raya ini di bawah kendali para majikan investor asing itu.
Masyarakat Papua rupanya tak hanya menyaksikan kekayaan alamnya dikeruk oleh para investor asing, tapi juga sebagian besar dinikmati oleh Jakarta. Otonomi daerah yang diharapkan bisa menjadi solusi dari polemik yang muncul di daerah-daerah karena ketidakadilan pemerintah pusat (Jakarta), belum juga ditaati pemerintah dalam kasus Freeport ini.
Baru-baru ini, bupati setempat menuntut keadilan kepada pemerintah yang mendapat 2 triliun dari hasil pajak Freeport karena sebagian besar kantor Freeport dipusatkan di Jakarta. Padahal andaisaja kantor-kantor itu dibangun di Papua, maka akan sangat mungkin bisa membantu mengatasi persaoalan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain itu, ada dugaan kuat Freepot hanya dinikmati oleh para elit lokal.
Ketimpangan pembagian kekayaan Freeport itu sangat kontras terjadi di bumi Papua sendiri. Para elit lokal itu, seperti dilaporkan media, bisa menghabiskan uang 12 juta dalam waktu sehari hanya untuk “mabuk-mabukan”. Kenyataan ini sudah bukan menjadi rahasia lagi, khususnya bagi para wartawan yang pernah berkunjung ke Papua. Oleh karena itu, musuh yang harus dihadapi oleh masyarakat Papua, tak hanya investor asing dan Jakarta, tapi juga rekan Papua sendiri.
Perlu diingat bahwa persoalan pokok adalah antara masyarakat Papua dengan Freeport dan pemerintah, bukan masyarakat Papua dengan Polisi atau TNI. Maka jangan sampai kasus Abepura kemudian mengalihkan permasalahan yang sebenarnya. Jangan sampai pula masyarakat Papua dihukum oleh kesinisan masyarakat luas setelah menyaksikan adegan sepotong tentang kekejaman yang ditayangkan oleh televisi, kesalahan yang sebenarnya tak dikehendaki.
Kepada para korban, penulis sampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Baik aparat keamanan maupun warga sipil, mereka sebenarnya menjadi korban dari ketidaktegasan kebijakan pemerintah baru dalam menyelesaikan masalah Freeport yang dirasakan tidak adil oleh masyarakat Papua selama ini.
Pemerintah sebaiknya segera menggelar dialog dengan masyarakat setempat. Libatkan tokoh-tokoh yang bisa mewakili aspirasi masyarakat Papua, bukan elit lokal yang hanya mencari kepentingan pribadi. Selanjutnya, usut kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini, termasuk insiden berdarah Abepura dan kejahatan HAM lainnya selama sengketa masyarakat dengan perusahaan penambang emas itu. ****
*Tulisan versi lain diterbitkan oleh Koran Sore Wawasan, Senin, 27 Maret 2006.

