Saturday, July 05, 2008

Bambang Haryanto: Bali Ndeso Mbangun Blog

Jika Bibit Waluyo "Bali Ndeso Mbangun Deso", maka Bambang Haryanto "Bali Ndeso Mbangun Blog". Dari kota kecil Wonogiri Bambang merekam jejak hidupnya.


Menjelang akhir Desember 2005, Bambang Haryanto (BH) menerima email dari Verdi Amaranto. “Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan blog Anda, 'Buka Buka Beha', dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list wanita-wanita terindah Anda. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.”

BH sangat terpukul menerima kabar itu. Anez—panggilan akrab BH kepada Widhiana Laneza—dan BH pernah menjalin hubungan khusus di masalalu. Selain Anez, ada Riaty (Cresenthya Hartati). Kedua perempuan ini membuat BH begitu terkesan.

Dari pengakuan Anez dan Riaty kepada BH sewaktu masih pacaran, mereka mengidap asma. Ironisnya, baik Anez juga Riaty memelihara anjing di rumahnya. Diperparah lagi, saat itu BH masih menjadi perokok berat. Hingga suatu hari Riaty mengingatkannya: “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat. Juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.

Dalam episode kehidupan selanjutnya, BH terbaring di rumah sakit. Oleh dokter dia disarankan agar berhenti merokok. BH akhirnya benar-benar meninggalkan kebiasaan buruknya, menghisap nikotin yang setiap saat bisa menyerang kesehatan dan juga membahayakan hidupnya.

Untuk mengenang Anez dan juga Riaty, BH meluncurkan sebuah blog yang mengupas seputar topik asma. Blog itu tak membahas kajian asma dari sisi medis, tapi berisi cerita pengalalaman yang dialami pemilik blog dengan sejumlah penderita asma.

Sehari-hari BH sekarang tinggal di kota Wonogiri, sebuah kota kecil terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan dari kota Solo. Sebelumnya mantan mahasiswa Jurusan Arkeologi FSUI, 1982, itu pernah bekerja di ibu kota selama beberapa tahun sebagai konsultan komunikasi.

Sesekali ia menyempatkan berjalan pagi menyusuri sudut-sudut Kota Wonogiri dengan berjalan tanpa alas kaki sambil membawa radio. Cerita hasil jalan-jalan pagi itu dihimpun dalam blog The Morning Walker.

Meski bagi sebagian orang radio sudah ditinggalkan, tapi tidak untuk seorang BH. Baginya radio menjadi “gadget” istimewa karena dari sana ia bisa menikmati siaran BBC yang direlai oleh stasiun radio lokal di sekitar tempat tinggalnya. Ini pula yang membuat saya terkesan, meski ia tinggal di kota kecil, semangatnya untuk tetap mengupdate perkembangan informasi tak padam.

Bahkan internet bukan hal yang asing seperti kebanyakan mereka yang tinggal di daerah. Buktinya ia masih sempat menulis di blog. Beberapa blognya yang masih diupdate antara lain Komedikus Erektus, Esai Epistoholica, Suporter Indonesia dan The Moring Walker. Di luar yang saya sebutkan, masih ada beberapa blog yang dikelola oleh BH. Direktori blog yang ia kelola dihimpun dalam blog “Buka Buka Beha” (http://bukabeha.blogspot.com).

Di dunia offline, BH lebih dikenal sebagai pendiri dan sekaligus promotor komunitas Epistoholik Indonesia, yang maniak mengirim surat pembaca ke berbagai surat kabar hingga akhirnya komunitas ini dicatat oleh Muri.

BH adalah sekian dari sedikit orang yang punya ide besar dan terus memikirkan dunia yang begitu luas ini justru ketika ia pulang ke kampung halamannya, sebuah kota kecil bernama Wonogiri.

Tak banyak orang memilih menempuh jalan hidup seperti itu. Mengutip ucapan Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia: "Anybody can make history. Only a great man can write it" (Semua orang bisa menorehkan sejarah. Hanya orang besar saja yang mampu menuliskannya) maka hanya "orang besar" saja yang mampu melakukannya.

Selengkapnya......

Thursday, June 26, 2008

Zaskia dan Aib Sinetron Religi

Jilbab warna biru yang membalut paras manis Zaskia Adya Mecca tampak kontras dengan sebatang rokok yang menancap dibibirnya. Ini bukan adegan dalam sinetron, tapi justru dilakukan di sela-sela syuting sinetron Munajat Cinta.


Munajat Cinta adalah salah satu judul sinetron yang dibintangi dara manis mantan pacar Syahrul Gunawan yang kini dikabarkan dekat dengan sutradara muda Hanung Bramantyo itu. Selain Munajat Cinta, masih berderet sinetron dan film layar lebar yang telah melibatkan perannya. Menyebut diantaranya "Kun Fayakun", "Ayat-Ayat Cinta", akan menyusul "Ketika Cinta Bertasbih" dan yang pertama kali melejitkan namanya sinetron "Kiamat Sudah Dekat" arahan sutradara Deddy Mizawar.



Berkat perannya di sejumlah tayangan religius itu, para pemirsa dan pengagum mengenal Zaskia sebagai sosok perempuan salehah. Penilaian itu wajar ketika kita menghubungkan dengan perannya di "Kiamat Sudah Dekat" sebagai "Sarah" yang pandai mengaji. Para fans pun tentunya menduga dan berharap bahwa apa yang diperankan idolanya dalam sinetron sejalan dengan perilaku kesehariannya.

Tapi image Zaskia kemudian justru dibantah sendiri oleh infotaiment yang selama ini telah turut serta membesarkan namanya. Dalam Bibir Plus pagi di SCTV dikabarkan Zaskia tengah pesta rokok di lokasi Syuting ditemani kekasihnya Hanung Bramantyo dan teman syutingnya, Baim Wong. Foto-foto Zaskia yang tengah merokok pun kini telah beredar luas di internet.



Demam Simbol

Kabar miring Zaskia itu akan mengejutkan siapa saja yang selama ini mengenalnya lewat layar kaca. Anda barangkali akan bilang, Zaskia ternyata tak ubahnya sejumlah selebritis lain yang manis di depan kamera tapi perilakunya liar ketika di luar tuntutan perannya.

Lepas dari kesahihan gosip infotainment dan gambar yang beredar di internet, masyarakat tak perlu memberikan reaksi yang berlebihan. Dalam dunia peran, siapapun bisa menjadi apa yang diinginkan oleh sang sutradara. Dan kebetulan saja Zaskia dianggap lebih pas, atau dalam istilah pasar lebih marketable, untuk memerankan sosok muslimah yang salehah. Di luar itu, Zaskia punya otoritas penuh untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Sikap semacam itu penting untuk menghindarkan sentimen kita terhadap simbol agama dan perilaku --kalau merokok bagi perempuan, apalagi dia berjilbab dianggap-- menyimpang sang penyandang atribut. Saya tidak sedang mempermasalahkan Zaskia yang mengenakan jilbab dan oleh karenanya ia tak boleh merokok. Tapi ingin menunjukkan betapa hebatnya media membangun citra seseorang, dalam hal ini Zaskia Adya Mecca.

Jika karena ulah FPI yang mengenakan pakaian jubah putih dan menggunakan nama Islam, namun dalam aksinya kerap melakukan kekerasan, lantas kita mencurigai setiap orang yang kita jumpai berpenampilan layaknya FPI sebagai ancaman. Jika demikian halnya, maka efek dari Zaskia yang kedapatan merokok itu akan menjadikan kita menanam curiga kepada setiap perempuan yang berjilbab dengan anggapan negatif.

Kondisi yang sama, sikap sejumlah negara barat yang demam terhadap islam sebagai akibat gerakan sejumlah kalangan muslim --yang disebut barat- fundamentalis yang dianggap akan mengancam perdamaian dunia. Meski dalam satu pihak kalangan muslim itu menganjurkan kekerasan dalam perjuangannya, namun kekerasan itu sebenarnya juga sebagai reaksi atas sikap barat sendiri yang banyak mencampuri negara lain, termasuk negara muslim.

Sikap kita yang mencurigai setiap orang yang berjubah, dan juga negara barat yang demam terhadap Islam, sebagai akibat cara pandang yang menempatkan simbol dan atribut di atas perilaku orang perorangnya. Yang kita pandang adalah jubahnya, yang membuat demam adalah orang islam yang melakukan kekerasan. Padahal jubah itu putih, islam itu damai.

Efek Pencitraan

Kembali ke Zaskia, pembangunan citra bagi seorang aktris itu penting. Ia menjadi semacam bumbu penglaris untuk menguatkan image yang diperankan. Sebagian masyarakat kita tampaknya tak menyadari hal itu. Mereka berharap banyak bahwa sang idola yang mereka kenal lewat layar kaca demikian adanya dalam dunia keseharian. Ekspektasi para fans terhadap idolanya akhirnya berujung dengan kekecewaan ketika mereka mengetahui jika sang idola cuma tampil manis di layar kaca, tapi tidak demikian halnya dalam dunia nyata.

Zaskia tak salah. Mau merokok atau menjadi pelacur sekalipun itu adalah haknya. Tapi tentu ia akan menyadari bahwa dengan terkuaknya aib itu akan menjadi batu sandungan bagi karirnya. Bisa saja ia akan dengan sekuat tenaga menutupi, mengelak, tapi tampaknya juga akan percuma.

Ibarat barang dangangan, brand bernama Zaskia telah cacat. Kelalailan atau kecolongan dalam menjaga citra produk yang dijualnya sungguh sebuah kesalahan yang fatal, tentu saja jika dilihat dari sisi pemasaran. Segmen pasar yang telah dibidik selama ini telah keruh.

Jika pun fans akhirnya menghujat dan memilih meninggalkan Zaskia, itu bukan salah mereka. Tidak bijak juga kita menyebut mereka sebagai penonton tidak dewasa. Audiens film dan sinetron di negeri ini sebagain besar tampaknya masih melihat figur di belakang aktor, bukan semata karena kecakapannya dalam berakting. Tapi jangan lupa, mereka juga yang telah turut melariskan sinetron dan film bercorak religius yang booming belakangan ini. Meski ada juga yang menikmati akting Zaskia dan aktor lainnya dalam film tanpa peduli kesehariannya.

Zaskia punya pilihan untuk meraih kembali simpati dan kepercayaan dari para fans dengan membuktikan bahwa gambar itu tidak benar adanya, bahwa gambar itu dalam rangka tuntutan peran, atau mengundang pakar spesialis dalam soal ini Roy Suryo untuk bersaksi bahwa gambar itu palsu.

Tapi jika itu benar, dan Zaskia berbohong untuk menutupi kenyataan itu, maka akan percuma saja. Jika kabar miring itu benar, katakan saja apa adanya. Pengakuan Zaskia meski pahit akan membantu publik penikmat sinetron dan film di negeri ini menempatkan posisinya.

Bagi saya pribadi, apapun yang terjadi dengan Zaskia, selama dia bisa menunjukkan aktingnya dengan baik, tidak sekadar bintang karbitan yang dipoles untuk memenuhi keinginan pasar, Zaskia akan tetap anggun dengan jilbabnya.

Selengkapnya......

Friday, March 14, 2008

Merayakan Kebebasan Warga

Kehadiran internet telah membuka ruang kebebasan bagi siapapun untuk menyampaikan informasi kepada publik. Dari sinilah sesungguhnya jurnalisme warga dimulai.


Suatu hari, dengan berbekal sebuah laptop dan modem, Mark Drudge membeberkan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan artis Hollywood Monica Lewinsky. Hanya dalam hitungan menit bahkan detik, skandal seks mantan orang nomor satu di Amerika itu menyebar luas ke seluruh penjuru dunia melalui jaringan internet.

Di Indonesia, bukan sekali waktu video mesum anggota dewan beredar di internet. Setelah atau sebelum heboh video YZ dan ME, sudah beberapa kali pejabat publik hingga selebritis yang justru dikenal santun oleh masyarakat dibuat malu karena skandal seks yang dirahasiakannya terkuak.

Diakui atau tidak, internet memberikan ruang kebebesan bagi setiap orang untuk menyampaikan dan mendistribusikan informasi tanpa sensor. Melalui email, forum, media social networking semacam friendster hingga facebook dan weblog, orang bisa memuat informasi apapun, mulai dari masalah personal sampai isu yang menyangkut kepentingan publik.

Sejak itulah, kata Ana Nadya Abror, cikal bakal Jurnalisme Online lahir. Dalam diskusi “Jurnalisme Warga: Ancaman bagi Media Massa?” yang diselenggarakan LPM VISI UNS pada 28 Februari 2008 di kampus UNS Surakarta, dosen Ilmu Komunikasi UGM itu menyebut internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga yang dalam istilah asalnya disebut citizen journalism atau participatory journalism.

Jurnalisme warga adalah bentuk lain dari jurnalisme, di mana setiap orang bisa melaporkan berita seperti yang selama ini dikerjakan oleh wartawan media mainstream.

Dipilihnya internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga, karena internet memungkinkan berita disampaikan oleh siapa saja yang tersambung dengan jaringan internet, dengan cepat dan lebih interaktif.

Berangkat dari kenyataan itu, jurnalisme warga yang diakomodir oleh jurnalisme online seolah-olah bukan sebagai jurnalisme. Muncul pertanyaan, apakah berita yang disampaikan oleh orang yang awam yang tanpa latar belakang jurnalistik itu bisa dicek kebenarannya, apakah benar orang yang bersangkutan tidak sedang menyebarkan fitnah?

Bagi Abror, ketika kita sudah membicarakan jurnalisme warga di mana setiap orang bisa ambil bagian, maka sudah tak perlu lagi mempermasalahkan aspek etika, akurasi seperti yang diterapkan dalam jurnalisme konvensional. Semuanya diserahkan kepada pembaca. Mau percaya atau tidak, terserah pembaca!

Menanggapi pernyataan Abror, Aulia Muhammad Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News yang juga menjadi pembicara dalam diskusi, balik bertanya. Lantas kenapa jika memang tak perlu ada etika, PPWI merasa perlu menerapkan dasasila bagi anggotanya?

PPWI kependekan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia. Seperti yang dijelaskan dalam blognya (http://ppw-indonesia.blogspot.com), organisasi ini menerapkan dasasila yang secara garis besar poin-poinnya mencakup prinsip-prinsip jurnalisme media pada umumnya. Organisasi yang dikelola oleh warga Indonesia ini bermarkas di ibu kota Jakarta dan telah memiliki banyak anggota.

“Pada hakekatnya jurnalisme warga memberikan kebebasan. Ini satu perkara. Persoalan orang mau menanggapinya lain, itu lain perkara. Kebebesan itu bagian tersendiri. Kalau yang bersangkutan menggunakan ruang publik, maka akan ada akuntabilitas publik,” jawab Abror.

Siapa saja pelaku jurnalisme warga?

“Pelaku jurnalisme warga adalah warga. Siapapun boleh ikut,” terang Abror.

Siapa warga itu, menurut Aulia, bukan hanya warga dalam batasan warga dalam sebuah negara. Warga di sini juga mencakup warga dengan kategori profesi dan latar belakang, termasuk jurnalis yang bekerja di media mainstream.

Syaratnya, jika dia seorang wartawan, dalam melaporkan berita itu ia tidak sedang mewakili profesi dan lembaga medianya. Jika ia serorang pejabat publik, entah itu anggota dewan atau bahkan presiden, ia tak sedang mewakili jabatannya. Apa yang disampaikan adalah pandangan pribadinya.

Peran Penulis Surat Pembaca

Mengawali presentasinya, Bambang Haryanto memutar sebuah kaset hasil wawancara sebuah stasiun radio di Solo dengan salah seorang penulis surat pembaca. Narasumber menceritakan kisah awal mulanya ia menulis surat pembaca.

Suatu hari di tahun 1973. Narsumber mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka. Ia menanyakan pohom palem di Alun-alun Utara Solo yang tidak terurus. Setelah suratnya dimuat, pohon palem itu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Kini pohon palem itu tidak jadi mati, ia terus disiram hingga akhirnya tumbuh besar.

Di kemudian hari penulis surat pembaca itu mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia. Sebagai ketuanya adalah si penggagas ide itu sendiri. Dia adalah Bambang Haryanto, penulis surat pembaca yang memasalahkan pohon palem yang tak terurus itu.

Istilah Epistoholik diambil dari Majalah Times. Dipakai untuk menjuluki Anthony Parakal, warga Evershine Nagar, Mumbai, India. Lebih dari 5.000 surat pembaca yang ditulis dalam Bahasa Inggris telah dikirimkannya ke berbagai media internasional. Jumlah yang teramat fantastis, bukan?

Ketika nama Epistoholik itu kali pertama muncul di majalah Times edisi 6 April 1992, Bambang sebenarnya telah lama memulai karirnya menulis surat pembaca. Setelah mengetahui bahwa kegemarannya menulis surat pembaca itu ternyata juga dilakukan oleh orang lain di belahan bumi sana, yang bahkan lebih gila dari yang sudah dikerjakannya, ia merasa perlu mempertegas lagi kegemarannya itu. Sejak itulah ia mulai merintis komunitas Epistoholik Indonesia yang didirikannya sejak tahun 1992.

Meski sudah dirintis sejak kemunculan Epistoholik di majalah Times, namun komunitas pegiat surat pembaca yang digagas Bambang itu baru bisa berjalan secara efektif mulai tahun 2003. Keanggotannya bersifat informal. Mulanya ia menghubungi sejumlah nama yang kerap menulis surat pembaca. Beberapa orang menaruh simpati dan virus menulis surat pembaca di media pun mulai disebarluaskan. Seperti yang kerap anda jumpai, sejumlah penulis surat pembaca mencantumkan embel-embel identitas “Warga Epistoholik Indonesia”.

Perkanalannya dengan blog di tahun 2003, dimanfaatkannya untuk menyebarluaskan gagasannya kepada khalayak yang lebih luas. Ia membuat sebuah blog http://episto.blogspot.com. Blog ini dibuat pada tahun 2003 ketika media ini belum begitu populer di kalangan pengguna internet di negeri ini.

Nama Bambang Haryanto telah dicatat dalam rekor Muri pada 27 Januari 2005 sebagai pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia. Demikian seperti yang tertulis dalam poster berwarna merah yang sengaja dipajang Bambang di samping meja para pembicara. Di sana juga tertulis slogan Epistoholik Indonesia: "Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada".

Keamatiran Justru Kelebihan
Jika wartawan mengerjakan sebuah berita dengan kaidah dan standar kerja jurnalisme, pewarta jurnalisme melaporkan berita dengan pengetahuan dan style mereka yang berangkat dari berbagai latar belakang yang dimilikinya. Maka jangan berharap berita yang ditulis atau dilaporkan oleh “wartawan awam” ini akan memenuhi standar berita jurnalisme seperti yang dilaporkan oleh media mainstream.

Namun demikian, justru keamitran inilah yang menjadikan nilai lebih dari jurnalisme yang dikelola oleh warga. Aulia menyontohkan sebuah rekaman video saat terjadi Tsunami di Aceh beberapa tahun silam yang dibuat oleh Cut Putri.

Pembuat video dikenal sebagai selebritis. Apakah Cut Putri pernah mendapat materi jurnalisme, ini masih perlu ditelusuri, namun yang ingin disampaikan adalah video itu tidak dikejakan dengan metode kerja standar jurnalisme dan tidak sedang dikerjakan dalam rangka untuk dimuat di media.

Video itu dibuat begitu saja, asal-asalan. Sudut pandang gambar yang diambil tidak fokus, di sana-sini gambar goyang-goyang, menampakkan bahwa pengambil gambar memang masih amatir. Pengambil video sepertinya gugup, tak ada persiapan yang cukup dan juga ikut panik, seperti yang dialami orang-orang yang ada di sekelilingnya saat kejeadian.

Dari rekaman Cut Putri itu, terekam bagaimana bumi mendapatkan getaran pertama, wajah yang cemas, orang-orang yang berlarian, gerak air pasang, jeritan doa, tangis, pekikan Allohu Akbar!

“Aneh, ketika sejumlah wartawan memilih untuk menyelematkan diri dan keluarganya sendiri, Cut Tari yang bukan seorang wartawan justru melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh wartawan,” ungkap Aulia dengan tatapan serius ke arah hadirin.

Aulia kemudian menarik beberapa kesimpulan. Dari sudut pandang, jurnalisme warga memiliki watak yang personal. Dalam video Cut Putri, gambar yang diambil murni mewakili sudut pandang si pengambil gambar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh blogger yang menulis dalam diari onlinennya. Seorang blogger akan bercerita dengan sudut pandang saya. Bercerita secara lepas seolah tanpa beban ketika memuji pihak tertentu dan mengejek pihak lainnya, atau bahkan memuji dirinya sendiri.

Sesuatu yang personal ini sebenarnya dibutuhkan oleh pembaca untuk mengetahui situasi secara lebih utuh, secara lebih personal dan jujur. Tapi tampaknya yang seperti ini justru yang tidak terangkut dalam pemberitaan wartawan media mainstream.

Selain watak yang personal, ciri lain dalam jurnalisme warga adalah longgarnya durasi dan diangkatnya aspek lokalitas. Durasi bagi televisi adalah sesuatu yang teramat mahal harganya jika dibanding tarif iklan permenit yang bisa mencampai puluhan hingga ratusan juta. Sementara bagi media cetak, jumlah halaman akan berpengaruh pada harga cetak dan space untuk pengiklan. Dalam jurnalisme warga, semua kepentingan itu gugur. Durasi mendapatkan kelonggaran sepanjang rekaman atau tulisan yang dimaui oleh pewarta jurnalisme warga.

Melengkapi, bukan ancaman

Gegap gempita kemunculan jurnalisme warga di Indonesia tampaknya masih sebatas euforia masyarakat kita yang gemar ikut-ikutan merayakan fenomena global. Selain kurangnya kesadaran masyarakat akan perlunya menyampaikan informasi kepada khalayak, juga masih terbatasnya akses informasi masyarakat terhadap media internet.

“Bayangkan, setiap detik, technorati mencatat blog baru muncul di internet. Setiap menit jumlahnya sudah mencapai angka ratusan. Apakah anda semua sudah menjadi bagian dari masyarakat ini?” tanya Aulia kepada para hadirin.

“Jika tidak, mana mungkin jurnalisme warga akan mengancam media mainstream,” jawab Aulia.

Dari awal, Abror sudah menyatakan bahwa media yang ideal untuk menerapkan jurnalisme warga adalah internet. Jika partisipasi masyarakat dalam mengakses internet saja masih kurang, seperti kata Aulia, jurnalisme warga memang belum akan mengancam eksistensi media mainstream.

Aulia menunjukkan jika kehadiran jurnalisme warga dalam kenyataannya justru ditampung dengan baik oleh media mainstream. Sejumlah media besar di Indonesia kini menyediakan rubrik yang dikhususkan untuk pembacanya. Contohnya Suara Merdeka Cyber News yang sejak awal Februari 2008 membuat rubrik Suara Warga yang memberikan kesempatan kepada pembaca melaporkan beritanya secara lebih leluasa

Bambang sebagai pegiat komunitas Epistoholik Indonesia mengeluhkan kurang seriusnya media cetak dalam mengelola rubrik Surat Pembaca. Ia menyontohkan, sebuah tanggapan surat pembaca atas surat lainnya baru akan dimuat beberapa edisi kemudian. Belum lagi, surat itu kalau dimuat. Dan kalaupun dimuat, beritanya sudah basi. Jika rubrik surat pembaca itu dikelola secara lebih serius, Bambang yakin akan ada hal lebih yang bisa didapatkan dari menulis surat pembaca.

Kelemahan dalam media cetak, sebuah berita tidak mendapatkan timbal balik dari pembaca sehingga bisa terjadi interaksi antara si pembaca, wartawan dan pembaca lainnya. Dalam media internet atau media digital lainnya, sebuah percakapan bisa dengan mudah terjadi. Di internet berita mengalir dengan cepat. Di internet pula, alternatif informasi bisa dengan mudah ditemukan.

Jika masyarakat kita menyadari akan hal ini dan mau mengoptimalkan peran internet dalam membangun jurnalisme yang berbasis warga ini, bukan tidak mungkin peran media mainstream di masa mendatang akan mendapatkan saingan.

Dengan semakin berkembangnya jurnalisme warga, kelak akan semakin banyak orang yang akan berbagi peran dan kuasa dalam pendistribusian informasi kepada publik yang selama ini dimonopoli oleh media mainstream. Meski kehadirannya belum bisa dikatakan mengancam, setidaknya jurnalisme yang dikelola oleh warga ini bisa dijadikan alternatif bagi publik untuk memperoleh informasi.

Pada gilirannya nanti, bukan hanya kebebasan yang akan didapat oleh warga dari penerapan jurnalisme warga ini, tapi juga kemenangan. Ya, kemenangan untuk bisa ikut terlibat dalam menyuarakan suara warga tanpa perantara.

Selengkapnya......

Saturday, February 16, 2008

Cinta yang meminta pemenuhan

Larry (Clive Owen) minta maaf kepada Anna (Julia Roberts) karena telah mengencani seorang PSK selama dirinya berada di New York. Dengan mengakui kesalahannya, Larry berharap Anna akan memaafkannya. Tapi hal yang sama tak dilakukan oleh Larry ketika dirinya mengetahui jika istrinya itu ternyata juga sudah berpaling kepada lelaki lain.

Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat yang sama ia tak menerima ketika pasangannya telah mengkhianatinya.

Sementara itu, Dan (Jude Law), kekasih gelap Anna, akhirnya mengungkapkan isi hatinya kepada Alice (Natalie Portman) bahwa Ia sebenarnya lebih mencintai Anna. Ia bisa mencintai Alice, perempuan yang selama ini dianggapnya sebaga pacar, tapi apa boleh buat hubungan mereka harus berakhir karena Dan lebih mencintai kekasih gelapnya ketimbang perempuan yang sudah menjadi pacarnya sendiri.

Dan berobsesi mewujudkan cintanya kepada Anna, perempuan yang lebih bisa memenuhi hasrat dan selera seksnya. Hal yang sama juga terjadi pada Anna. Meski ia sudah menikah dengan Larry, tapi kenikmatan bercinta ia dapatkan dari Dan.

Memang, sebenarnya Anna lebih dulu mengenal Dan. Ia baru mengenal Larry akibat ulah iseng Dan yang chatting dengan lelaki yang mengaku maniak sek. Dan tak menyadari jika keisengannya ini berakibat fatal. Ia akhirnya kehilangan cinta dari perempuan yang benar-benar dicintainya.

Untuk mewujudkan obsesi cintanya, baik Anna maupun Dan memilih meninggalkan kekasihnya masing-masing. Anna meminta cerai dari Larry. Tapi permintaan cerai tak begitu saja dituruti suaminya. Larry mengajukan syarat. Karena merasa selama ini telah ditipu, ia minta mengulang percintaannya dari awal. Ia ingin memperlakukan Anna seperti PSK yang melayani pelanggannya, dan setelah menikmati tubuh pasangan kencannya, maka Larry akan membayar upah atas servis yang telah diberikan Anna.

Setelah memenuhi persyaratan cerai dari suaminya, Anna kemudian menemui Dan. Alangkah terkejutnya Dan mengetahui jika persyaratan itu adalah dengan ritual penyerahan tubuh. Ia tak bisa menerima kenyataan ketika Anna yang sudah jatuh kepelukanya masih membagi tubuhnya kepada lelaki lain, meski pada saat itu statusnya masih sebagai suami Larry, lelaki yang membayar tubuhnya.

Dan menerima kerugian untuk yang kedua kalinya, karena harus mendapati kenyataan bahwa Alice, sang mantan pacarnya telah dikencani Larry yang sakit hati atas perlakuannya yang telah meniduri istrinya.

Menyadari tak dapat mewujudkan obsesi cintanya kepada seorang perempuan yang sudah bersuami, dan betapa terpukulnya setelah mengetahui jika mantan pacarnya telah dikencani oleh lelaki yang istrinya pernah dikencaninya, Dan akhirnya memutuskan untuk kembali membina hubungan cintanya dengan Anna.

Meski pernah dikecewakan Dan, toh Anna sebenarnya telah berniat akan menerimanya kembali. Dan sebenarnya juga akan memaafkan atas apa yang dilakukan Alice yang telah menyerahkan tubunnya selama beberapa malam kepada Larry.

Tapi pertemuan kedua pasangan yang telah sama-sama melakukan perselingkuhan dan berniat untuk saling memaafkan itu harus berakhir dengan kekecewaan. Dan yang sebenarnya tahu jika Alice telah berkencan dengan Larry, tapi karena ingin mendengar sendiri dari mulut Alice, berpura-pura seolah tidak tahu dan mencoba menanyakan hal itu kepada Alice.

Alice yang pada akhirnya tahu, jika Larry sebenarnya sudah memberikan pengakuan kepada Dan akan affairnya, merasa Dan datang tak dengan niat yang tulus. Dia tak ingin kesetiannya diuji, karena dia pun tak melakukannya kepada Dan. Alice ingin memulai hubungan dengan mengubur dan tidak membuka aib masa lalu, tapi pada akhirnya keduanya tak bisa bersama karena affair seks yang ingin ditutupnya dibongkar oleh pacarnya. Cinta akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan dan otoritas tubuh.

Kalau memang cinta, apa artinya sebuah tubuh yang telah terjamah?

Oh tidak, tubuh tetap saja penting, bahkan lebih penting dari perasaan dan ungkapan cinta itu sendiri.

****

Dari film drama percintaan "Closer" di atas, dapat diperoleh pesan bahwa cinta tak cukup hanya dengan pemenuhan perasaan. Lebih jauh dari itu, cinta ternyata juga obsesi tubuh dan seks seseorang atas pasangannya. Cinta adalah di mana seseorang akan menyerahkan hati dan juga memasrahkan segenap tubuh kepada pasangannya. Tubuh, seks adalah penyerahan akhir dari sebuah cinta.

Faktanya, kebanyakan dari kita masih sulit untuk menerima ketika pasangan kita telah menyerahkan tubuhnya kepada orang lain. Dalam cinta, setiap pasangan menginkan pasangannya tidak membagi tubuhnya kepada orang lain. Setiap pasangan menuntut keutuhan tubuh pasangannya.

Jadi, apa sebenarnya inti makna dari cinta itu? Perasaan, emosi, tubuh atau seks?

Jika memang anda tahu betapa sakitnya dikhianati oleh pasangan, mengapa anda melakukan hal serupa kepada pasangan anda. Anda sakit dan tak bisa membayangkan ketika pasangan anda menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki atau perempuan lain, tapi pada saat yang sama anda bisa membayangkan dan bahkan melakukan hal yang anda harapkan tidak dilakukan oleh pasangan anda.

Tampaklah, dalam cinta, setiap pasangan menuntut lebih dari pasangannya dan di sisi lain tidak memberikan perlakuan yang setimpal. Cinta adalah di mana ada keinginan untuk menguasai. Maka jangan harapkan ada kesetaraan dan keadilan dalam hubungan percintaan. Menuntut lebih kepada pasangan, tapi di belakang mengurangi dengan membagikan sebagaian perasaan dan tubuh kepada pasangan yang lain.

Cinta berangkat dari obsesi untuk memiliki dan berharap selanjutnya bisa menikmatinya. Melewatkan waktu bersama, membagi kesedihan dan juga kesenangan. Cinta adalah memberi dan menerima, membagi dan juga meminta jatah bagiannya.

Dalam cinta, berlaku hukum alam, bahwa setiap yang didapat pada gilirannya bisa saja akan pergi. Ada kesenangan ada kesedihan. Menyadari hal ini, seharusnya setiap pasangan bersiap diri jika suatu saat akan kehilangan suatu yang menjadi obsesi cintanya.

Jika anda tak siap, maka lebih baik tak usah melibatkan diri dalam hubungan percintaan yang menuntut untuk menguasai semua yang anda miliki. Cukuplah mencari pemenuhan hasrat dan tubuh dari pasangan yang tidak meminta tuntutan lebih dari anda dengan mencari kontrak kencan yang tak ada tanggungan setelah kontrak kencan usai.

****
Closer diangkat dari cerita yang ditulis oleh Patrick Marber. Oleh sang sutradara, Mike Nichols, cerita ini diolah menjadi sebuah tontonan yang berkelas. Plus akting para pemainnya yang cukup matang. Hubungan percintaan di sini sangat kompleks, tak sekadar ditampilkan secara hitam putih. Perselingkuhan tak semata ditempatkan sebagai dorongan seksualitas, tapi juga melibatkan psikologi setiap tokohnya yang akan mengaduk-aduk emosi penonton.

Film ini menjadi nominator Oscar dan pemenang Gloden Globe untuk kategori pemeran pendukung terbaik, yakni Natalie Portman (Alice) dan Clive Owen (Larry).

Akting Portman sebagai Alice, gadis asal Amerika yang menjadi penari striptis di London memang sangat istimewa. Lulusan Univeritas Harvard ini, sebelumnya sempat ragu dirinya akan sanggup memerankan tokoh Alice yang harus setengah bugil di depan Larry (Owen). Tapi ia percaya akan kemampuan Mike sang sutradara yang akan mengarahkannya.

Sementara itu, untuk akting aktris senior Julia Roberts dinilai sejumlah pemerhati kurang maksimal. Namun demikian, akting Julia sebagai perempuan dewasa yang dingin, profesional di bidangnya, bagi saya sudah cukup memukau. Begitu juga Jude Law yang memerankan Dan sebagai seorang penulis spesialis catatan kematian (obituari), lelaki yang bimbang, dan terkadang cengeng.

Yang bisa dikatakan berhasil barangkali Clive yang berperan sebagai seorang dokter yang maniak sek, namun tetap menampakkan kewibawannya di depan perempuan yang dicintainya. Kendatipun sebagai lelaki penjaja seks, dia menunjukkan kekukuhan sikapnya untuk memiliki perempuan yang dicintainya.

Saya sendiri sempat dibuat kesal, karena kenapa justru Larrie yang beruntung mendapatkan Anna, bukan Dan. Tapi di sisi lain, saya merasa iba kepada Alice, gadis muda yang mencintai Dan namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Juga Anna yang pada akhirnya harus mempertahankan keutuhan keluarganya bersama lelaki yang sebenarnya tak begitu dicintainya.

Barangkali begitulah hukum dalam hubungan percintaan bahwa cinta tak harus mendapatkan pemenuhan. Hubungan cinta yang terbentuk pada akhirnya adalah sebuah proses kompromi, yang masing-masing pihak tak bisa menuntut kepuasan dari pasangannya, tak bisa mempertahankan obsesi dan egoisme cintanya. Salah satu, atau keduanya harus ada yang mau mengalah demi mempertahankan keutuhan cinta.

Meski Closer sudah cukup lama dirilis, tapi kekuatan cerita dan kematangan penggarapan film ini layak untuk ditonton kapanpun. Film drama percintaan ini masih merepresentasikan wacana hubungan percintaan dewasa ini.


*terima kasih untuk kawan pejalansesat, yang telah mereferensikan film ini untuk membuka wacana percintaan saya yang masih amat konvesional.

Selengkapnya......

Thursday, January 17, 2008

Perseteruan yang Memicu Proses Kreatif

Mulan Kwok kini berganti nama Mulan Jameela. Jamilah dari bahasa Arab yang berarti cantik atau bisa juga seksi. Mulan Jameela=Mulan Seksi. Dalam album barunya yang bertajuk ”Makhluk Tuhan Paling Seksi” janda beranak dua ini memang makin seksi saja.

Saya mengira karir Mulan akan meredup setelah ia keluar dari duo Ratu. Rupanya prediksi saya salah besar. Karir Mulan di dunia musik dan hiburan makin bersinar.

Tapi sebentar dulu. Bukankah di balik nama Mulan Jameela ini ada nama besar sang Dewa? Baiklah. Simak grundelan dan wawancara imajiner dari seorang pengagum perempuan seksi berikut ini:

Mulan, setelah sebelumnya kau jatuh dipelukan Dewi Maia, kini kau terpukau dalam pelukan sang Dewa Dhani. Untuk kedua kalinya, kau dijadikan obyek obral keseksian.

Predikat seksi sepertinya memang menarik sekali. Siapa yang mendengarnya, apalagi dibumbui suaramu yang seksi itu, bikin seisi dada makin berdebar. Mengundang rasa berahi, seperti definisi yang kutemukan dalam kamus KBBI.


Benarkah kau dicipta oleh sang Dewa untuk membangkitkan rasa birahi?


Maaf kalau selera seniku masih rendah sehingga tak bisa menjangkau keindahan spiritual seperti yang diinginkan oleh sang Dewa. Aroma musik timur tengah yang setengah ngerok itu, tak bisa kurasakan seperti yang kutemukan dalam kasidah nasidaria, tapi lebih terasa sebagai musik pengiring penari perut di jazirah padang pasir sana.


Ah sudahlah, Mulan. Kau memang seksi. Lebih seksi dari sang Dewi yang sekarang sepertinya lagi patah hati terus daripada frustasi akhirnya bikin lagu tandingan “Emang Gue Pikiran” yang menyewa vokalis dengan suara yang tak kalah seksi darimu.


Hmm… kok selera sang Dewi serasa dengan selera sang Dewa ya? Keduanya sama-sama menggemari suara-suara seksi. Bedanya, satunya diminta memerankan karakter yang cuek, satunya narsis. Tapi sebenarnya keduanya sama saja: butuh perhatian, satu sama lain sedang mencari perhatian. Mulan dan May Chan jadi senjatanya.


Hush…emang siapa yang sedang mencari perhatian? Jadi bukan mbak Mulan yang seksi itu tho?


Dewi: Ya nggak lah. Mulan, itu kan cuma jadi umpan. Itu akal-akalan Dhani saja untuk mencuri perhatianku. Pujian seksi itu kan dibuat oleh Dhani sendiri yang dibawakan lewat suara seksi Mulan yang sebenarnya ditujukan untuk memuji Dhani yang mengaku bisa membuat perempuan jadi merasa lebih seksi. Kalian pernah dengar kan kalau dia bilang sebenarnya masih sayang sama aku. Bagaimanapun, aku ini di mata dia masih lebih seksi dibanding perempuan mana pun.


Jadi benar apa yang dikatakan mbak Dewi. Gimana tanggapan mas Dewa?


Dewa: Haha… terserah Maia lah mau bilang apa. Emang gua pikirin.
Nah, jadi mana yang benar. Siapa yang lebih seksi, Maia atau Mulan?

cut here----Gerundelan plus wawancara imajiner dipotong sampai di sini----cut here

Bagi sang Dewa, masalah rumah tangganya dengan sang Dewi bisa saja dijalaninya secara ringan-ringan saja seperti tak ada beban. Atau malahan ia justru berusaha menikmatinya karena dari sana masalah justru menjadi berkah untuk melahirkan hits-hits barunya. Ibaratnya begini, ah mumpung lagi ada masalah. Sekalian saja, daripada nunggu datangnya masalah, repot juga kan kalau harus membikin masalah.

Lewat lagu “Munajat Cinta” dan “Kamu adalah surgaku” terasa sekali perasaan Dhani yang lembut, yang perhatian, yang mudah tersentuh, yang semuanya ini jauh dari kesan yang kita peroleh dari pembawaannya dalam sehari-hari di depan publik.

Di sisi lain, sang Dewi, Maia pun tak kalah bersaing. Jatuh untuk kedua kalinya tentu bukan hal yang mudah bagi orang kebanyakan untuk kembali bangkit. Apalagi kini Mulan malah tampak lengket dengan sang Dewa. Tapi Maia mampu menunjukkan kemampuannya sebagai seorang komposer yang sama seperti sang Dewa, mencuri ide dari masalah yang dialaminya lewat hits baru andalannya "Emang Gua Pikiran".

Kita kerap dibuat kalangkabut ketika sedang dirundung masalah. Mestinya, belajar dari kasus Dhani dan Maia, masalah justru bisa melahirkan karya. Karya yang ampuh konon justru lahir dari sebuah kesulitan atau masalah besar yang menimpa penciptanya.

Jika anda penulis, anda punya masalah hingga sampai mau bunuh diri, wah itu investasi yang amat berharga. Masalah anda itu bisa diolah menjadi sebuah cerita yang lebih dahsyat.

Lalu bagaimana jika hidup kita serasa tak ada masalah, everything is okay?

Hah nggak mungkin. Orang hidup itu pasti punya masalah. Kita akan selesai dari masalah hidup kalau nyawa kita dicabut. Sebenarnya bukan mencari-cari masalah itu ada atau tidak, tapi bagaimana kita terbiasa mendekatkan imajinasi dengan bermacam-macam masalah. Jadilah cerita, jadilah karya.

Kembali ke Mulan, Maia dan Dhani. Diluar kesuksesasan Maia dan Dhani, Mulan memang tetap seksi. Tapi entah sampai kapan keseksian itu akan bertahan. Dalam episode selanjutnya kita tak tahu apa yang dimaui sang Dewa dan Dewi.

Selengkapnya......

Thursday, January 10, 2008

Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita

Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.

Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.

Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.

Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.

Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?

Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.

Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).

Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).

Ambiguitas Kebahagian

Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.

Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.

Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.

Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.

Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.

Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.

Masalahnya di sini pemaknaan atas "keberhasilan" dan "kebahagian" yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.

Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata "gagal").

Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.

Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha...siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).

Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.

Selengkapnya......

Wednesday, January 09, 2008

Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita

Begitu mudah bisa kita jumpai buku-buku terjemahan di rak-rak toko buku dewasa ini. Apalagi untuk karya sastra. Banyak sekali karya penulis dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang paling mendominasi adalah karya dalam bentuk novel, cerpen dan esai. Untuk karya sastra jenis puisi memang masih terbilang langka. Barangkali karena penerjemahan puisi bukan pekerjaan yang mudah.

Meski penerjemahan karya sastra belum bisa dibilang sebagai proyek penerbitan yang menguntungkan, namun banyak penerbit dan penulis yang menggarap lahan ini. Bagi mereka yang menggarap proyek ini, sudah barang tentu 90% bukan karena faktor profit, tapi lebih karena kecintaan terhadap karya sastra.

Bagi penikmat karya sastra barat, buku-buku hasil terjemahan akan sangat membantu mereka untuk bisa membacanya dalam bahasa yang lebih familiar. Namun bagi yang ingin menjadikannya sebagai sumber kritik sastra, tampaknya masih akan menghadapi sejumlah kendala. Idealnya memang akan lebih memuaskan jika menggunakan sumber primer karena akan ada banyak bagaian-bagaian yang tereduksi, yang hilang dalam proses pengalihan bahasa itu.

Lalu, akan diposisikan di mana karya-karya sastra terjemahan itu dalam dunia kritik sastra kita?


Menerjemahkan=mencipta ulang

Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi, perlunya satu kajian khusus terhadap karya sastra terjemahan. Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.

Buku-buku hasil terjemahan tentu saja tidak akan dipakai oleh jurusan Sastra Inggris. Mahasiswa yang ingin menyusun skripsi tidak diperbolehkan menggunakan novel hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia. Bukan cuma karena banyaknya karya terjemahan yang sampah, tapi sebagus-bagusnya karya sastra terjemahan tetap tak sama dari karya dalam bahasa sumbernya.

Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.

Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.

Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia. Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?


Penerjemahan yang masih kaku

Jika kita menyadari bahwa setepat-tepatnya menerjemahkan tidak akan memberikan hasil yang sama persis (dan bahkan sama saja tidak cukup, karena menerjemahkan bukan sekadar memindahkan bahasa dan mencari padanan kata, tapi juga kultur), lalu mengapa para penerjemah tidak berani bermain-main dalam menerjemahkan?

Bermain-main, seperti dikatakan oleh Aulia Muhammad, maksudnya begini. Menerjemahkan sama halnya memberikan tafsir. Karena tafsir, maka satu orang dengan yang lain sangat mungkin tak sama. Apa yang dirasakan satu orang ketika membaca sebuah karya besar kemungkinan tidak akan sama dengan yang dirasakan orang lain.

Nah, harusnya menerjamahkan itu bisa dilakukan dengan lebih bebas dan tidak harus terikat lagi dengan bahasa, tapi bagaimana memindahkan impresi-impresi yang dialami penerjemah saat membaca karya yang akan diterjemahkan tersebut.

Baca liputan kegiatan ini:
- Biografi yang ditulis karena kecintaan
- Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan

Selengkapnya......