15 November 2015

Transmigrasi di Era Jokowi


TRANSMIGRASI bertujuan untuk memeratakan pembangunan. Manfaat bagi daerah sasaran, daerah yang semula terpencil dan sulit diakses secara perlahan akan tersentuh oleh pembangunan. Di sana akan bermunculan kampung, terbentuk desa-desa baru, dan singkatnya akan menjadi ramai.

Sementara itu, pertumbuhan penduduk di kota semakin padat. Mendapatkan pekerjaan semakin susah. Transmigrasi membuka harapan baru. Anda akan mendapatkan tanah minimal 2 ha. Juga subsidi dari pemerintah sebesar Rp 3 juta per bulan.Jika berminat bisa mendaftarkan diri ke Dinas Transmigrasi (Disnakertrans) setempat. Yang masih lajang dibolehkan dan malah disarankan. Demikian kata Pak Menteri Desa.

Di sekitar saya tinggal sekarang di Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah, sepengetahuan saya ada 3 titik daerah yang dihuni oleh para transmigran. Sebagian besar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi ada juga dari Flores dan ada pula orang Bugis.

Diantaranya sudah beranak-pinak dan generasi kedua yang lahir di tempat trans sudah seumuran saya. Mereka bikin forum kumpul-kumpul sebagai wadah silaturahmi. Misalnya Pakuwojo (Paguyuban Kulowargo Wong Jowo) adalah wadah orang Jawa di Kalimantan Tengah, yang anggotanya tidak hanya berasal dari peserta program transmigrasi tapi juga perantau Jawa yang bermukim permanen atau juga temporer.

Secara ekonomi para trans tampak berkecukupan. Di Desa Ngurit tak jauh dari saya tinggal sekarang, para trans Jawa dan Bugis nenanam cokelat. Penghasilannya tentu lebih besar dari tanaman karet, sebagaimana kebiasaan penduduk asli setempat, yang selama setahun terakhir terpuruk dan karenanya sebagian dibiarkan tidak dipanen.

Beberapa orang pribumi yang saya temui kerap memuji keuletan para trans. Mereka yang diberi 2 ha tapi bisa mengolah tanah dengan bermacam tanaman, sementara orang pribumi yang punya berhektar-hektar hidupnya tidak lebih baik dari trans. Karena pengetahuan cocok tanam yang kurang dan malas, aku mereka. Timbul rasa iri tapi tetap dengan fair memuji.

Tentang orang pribumi yang malas, dari beberapa orang yang saya jumpai saya membenarkan. Tapi kalau untuk menggeneralisasi, saya menolak. Sebagaimana sering saya dibikin geram oleh obrolan di warung tentang stigmatisasi dari orang sejumlah pribumi terhadap orang Madura, yang dikatakan curang dan tidak tahu balas budi. Saya punya teman orang Dayak dan dia seorang pekerja keras, dan sebaliknya tidak sedikit saya jumpai orang sesuku saya yang malas. Kualitas seseorang tidak diukur dari apa suku dan apa agamanya, melainkan kepribadian seseorang. Dan mereka yang masih membicarakan orang lain dari jenis suku dan agama itu pengetahuannya masih terkekang.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, para trans ikut memberi warna dalam kehidupan setempat. Mendekati Pilkada Provinsi Kalimantan Tengah, salah satu calon Gubernur Kalteng adalah keturunan Jawa. Desa-desa trans tentu saja dijadikan sebagai basis pendukung. Apalagi sempat muncul penolakan warga non pribumi ikut dalam pencalonan, yang tentu saja wacana tersebut muncul untuk kepentingan politis dan tidak serta merta berangkat dari keinginan dari mayoritas warga pribumi. Wacana itu dimunculkan untuk menjegal calon rival yang kebetulan bukan warga pribumi yang punya kans kuat untuk menang. Dalam politik apa saja bisa dijadikan bahan dagangan; apakah itu agama, suku, bahkan sampai ideologi musik dangdut.

Beberapa waktu lalu saya pernah menemukan berita bahwa mahasiswa di Kalimantan Barat menolak program transmigrasi dan meminta pemerintah untuk menghentikannya. Tentu hal ini perlu dicari tahu apa pangkal persoalannya, apakah lagi-lagi ada muatan politis atau memang ada kerugian yang timbul dan diterima oleh pribumi akibat program transmigrasi yang kini sedang digalakkan kembali oleh pemerintah

Tulisan yang masih berkaitan:



No comments:

Post a Comment