“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.
Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.
Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.
Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.
Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.
Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.
Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?
Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.
Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.
Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.
Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.
Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.
Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.
Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.
Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.
Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.
Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.
Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.
Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.
Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.
Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.
****
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.
Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.
Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. Just take it for granted.
Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.
Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.
Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.
Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.
Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.
Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.
Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.
Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.
Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.
Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?
Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya. No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.
Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.
Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.
23 August 2007
Jalan Gelap Seorang Pencari
05 June 2007
Pengorbanan yang Sia-sia
Sebuah pengakuan keluarga korban NII
Tubuh Evi lemas seketika mendengar ucapan Gonggo. Evi tak habis pikir, pengorbanan yang dilakukan selama ini dibalas dengan perlakuan yang tak semestinya dia terima. Perlakuan kasar seorang adik kepada kakak, setelah sang kakak mati-matian mengusahakan uang pinjaman sampai kuliah pun menjadi berantakan.
"Sudah baca SMS-ku," tanya Evi kepada Gonggo yang duduk berhadapan di satu meja di sebuah kantin di salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
Gubraaaaakkk!!!... Tangan Gonggo menggebrak meja. Dia berdiri dari tempat duduknya. Matanya melotot. "Anda salah datang ke Jogja. Kita tertawa pas waktu baca SMS anda," jawabnya lantang dengan mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah muka Evi.
Dari ucapannya itu, menurut Evi sepertinya Gonggo sudah tak menganggap lagi Evi sebagai kakaknya. Dia menyebut "Evi" dengan "Anda". Yang membuat Evi penasaran adalah kata 'Kita',"...Kita Tertawa," kata Gonggo kepada Evi. Siapa Kita itu, dia dan siapa?
"Saat itu, aku hanya diam saja. Mie yang sudah dipesan nggak aku makan. Nggak nafsu lagi," kenang Evi.
****
Drama perseteruan kakak dan adik ini dimulai sejak pertengahan 2006, sekitar satu tahun silam. Suatu hari Gonggo datang ke Semarang untuk menemui Evi. Waktu itu Gonggo masih berstatus sebagai mahasiswa semester III di Fakultas Kehutanan UGM. Gonggo datang dengan muka memelas. Dia mengaku habis menghilangkan kamera milik temannya yang harganya mencapai 5 jutaan. Ia berbicara sambil menitikan air mata. Evi percaya. Dia kasihan melihat adiknya.
Kepada Gonggo Evi bilang akan membantu meminjamkan uang. Jawabannya ini diberikan untuk menyenangkan sang adik. Padahal saat itu Evi tak mempunyai cukup uang sejumlah yang dibutuhkan Gonggo. Evi akan menyanggupinya, entah ke mana dia akan mencari pinjaman, saat itu belum terpikirkan.
Belum lunas Evi membayar cicilan utang, Gonggo datang lagi dengan keinginan yang sama: butuh uang. Kali ini untuk biaya reparasi motor temannya. Ia baru saja kecelakaan dengan mengendarai motor milik teman. Beruntung dia tidak mengalami luka serius. Untuk yang kedua kalinya, Evi tak bisa mengelak. Di matanya Gonggo adalah seorang adik yang baik. Dia juga penurut.
Namun kebiasaan meminjam uang makin kerap dilakukan Gonggo. Dan yang menjadi tumpuan adalah sang Kakak. Barangkali Gonggo sungkan jika harus berurusan dengan bapak-ibunya. Evi mulai menaruh curiga. Ada yang tak beres dengan adiknya. Dia kerap pinjam uang. Dia juga sering bilang sedang ada di Semarang. Untuk apa, bagaimana dengan kuliahnya di Yogya, apa dia nggak kuliah?
Tak selang lama, keluarga Evi di kampungnya di sebuah desa di Kecamatan Juwono, Pati, Jawa Tengah mengeluh karena Gonggo sudah lama tak pulang ke rumah. Padahal saat itu kuliah sedang libur habis ujian semester. Kepada orang tuanya Gonggo mengaku tidak bisa pulang ke rumah karena dia mengikuti semester pendek. Kecemasan orang tua makin menjadi karena belakangan nomor handphone anaknya itu tak bisa dihubungi lagi.
Menurut Evi, adiknya itu sering menggunakan nomor-nomor yang berbeda untuk mengirim SMS kepadanya. Evi juga mulai kesulitan kemana harus menghubungi sang adik.
Dari hasil informasi yang dilacak oleh paman Evi yang berada di Jogja, diketahui Gonggo tidak mengikuti semester pendek. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Gonggo telah absen satu semester. Bagian akademik menerangkan Gonggo mangkir. Mendapati informasi ini, sang paman langsung pulang menemui orang tua Gonggo di kampungnya di Pati. Keluarga sangat terkejut. Evi yang berada di Semarang dikontak. Saat itu juga Evi pulang. Esoknya mereka kemudian ke Jogja.
Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju ke Fakultas Kehutanan di mana Gonggo kuliah. Bersama orang tuanya, Evi menuju ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiwa) di fakultas itu. Mereka ditemui oleh pengurus BEM. Evi menyampaikan maksud kedatangannya. Dari pengurus BEM itu diketahui jika adik Evi ada kemungkinan terlibat gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Menurut pengurus BEM, sudah ada tiga korban di fakultas itu.
Kemudian mereka menemui bagian akademik, memastikan status Gonggo. Ternyata memang benar, Gonggo sudah mangkir satu semester. Pihak orang tua memohon pengertian pihak kampus agar tidak memberikan skorsing kepada Gonggo. Mereka bahkan sampai menemui pihak rektorat. Mereka menyampaikan jika Gonggo ada kemungkinan menjadi korban NII. Mereka mengusulkan untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Namun usul ini ditolak oleh UGM. Rektorat kuatir dengan dilaporkannya ke kepolisian nanti akan diekspos oleh media, dan nama UGM bisa tercemar. Mereka memilih orang tua Gonggo bisa menyelesaikan secara kekeluargaan. Rektorat akan memberikan kesempatan Gonggo untuk kuliah kembali. Status mangkirnya akan dihitung cuti.
Jawaban pihak rektorat UGM yang memberikan kesempatan kepada Gonggo untuk dapat kuliah kembali memang cukup bijak. Namun penolakan usulan pihak orang tua Gonggo yang ingin melaporkan NII ke kepolisian, jelas sangat egois. Bagaimana tidak, yang dipikirkan adalah nama baik, bukan nasib sivitas akademiknya!
Setelah itu, mereka segera mencari Gonggo dan akhirnya bisa bertemu. Mereka bertemu di kantin kampus. Kepada bapak dan ibunya Gonggo membantah dirinya tidak terlibat dengan NII. Padahal sang bapak mengancam akan melaporkannya ke kepolisian. Tapi dijawab dengan enteng oleh Gonggo. "Kalau nggak percaya, ya sudah!"
Evi mencoba berbicara empat-mata dengan adiknya. Tapi ia mendapati jawaban yang sungguh sangat tidak dia perkirakan sebelumnya.
"Aku nggak habis pikir dia tega banget melakukan itu semua. Aku sudah mati-matian cari hutangan, kuliah kutinggal untuk menutup hutang, itu semuanya demi dia, kok dia membalasnya seperti itu. Ternyata selama ini dia bohong..." tutur Evi kepada saya belum lama ini di kompleks PKM Fakultas Sastra Undip.
Evi adalah mahasiswa D III Inggris angkatan 2003. Saat ini berarti dia sudah semester
ke-10. Padahal batas waktu maksimal untuk mahasiswa D III adalah 10 semester. Beruntung dia masih punya sisa satu semester karena sebelumnya dia pernah cuti kuliah.
"Aku sudah capek mengurusi adiku. Saat ini aku harus menyelesaikan kuliah sambil bekerja untuk membayar hutang," ucapnya. Tampak senyum kecut di wajahnya yang dibalut jilbab.
Apakah orang tua Evi mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk sang adik?
"Aku sengaja tak memberitahu orang tua. Nanti mereka bisa syok," jawabnya.
Ya, mereka akan syok bahwa ternyata Gonggo sudah melakukan sejauh itu. Bukan malah membela Evi yang kini kesusahan, mereka malah bisa menyalahkannya karena meminjami uang untuk adiknya. Dan yang parah, si bapak akan kembali mengungkit-ungkit masalah lama. Si bapak ini rupanya punya dendam dengan Islam. Ia ingin sekali anak-anaknya memeluk kepercayaan yang dia anut, kepercayaan "kejawen".
Hari sudah sore. Di ruangan tempat kami ngobrol cukup panas. Sepertinya Evi mulai kelelahan setelah bercerita beberapa jam lamanya. Sesekali ia menyeka butiran-butiran keringat yang bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar lelah, lelah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang menimpa adiknya. Saya meminjami sebuah buku berjudul "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!" karya Muhidin M Dahlan, sebuah novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi korban NII. Saya juga menjanjikan akan memberinya beberapa berita yang saya kliping. Saya kira dia perlu banyak informasi tentang NII. Besok, pada jam yang sama, kami akan bertemu lagi.
Silakan baca tulisan terkait:
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/negara-islam-yang-meresahkan.html
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/05/mem-polisi-kan-gerakan-nii-kw9.html
21 May 2007
Blog FPI online: Black Campaign yang Menguntungkan?
Front Pembela Islam (FPI) tampaknya mulai menyadari peran weblog sebagai media yang efektif untuk memuluskan perjuangannya menegakkan syariat Islam di Indonesia. Barangkali, oleh karena itulah mereka membuat blog http://fpi-online.blogspot.com. Blog ini berisi berita seputar kegiatan FPI yang sebelumnya pernah dimuat di media lokal maupun mancanegara.
Tapi sebentar dulu, benarkah blog http://fpi-online.blogspot.com dibuat oleh anggota FPI atau simpatisannya. Bisa jadi malah sebaliknya, blog itu dibuat oleh oknum yang tidak senang terhadap FPI. Siapa tahu blog itu justru diniatkan untuk menyebarkan black campaign, untuk menjatuhkan nama FPI. Who knows?
Untuk mengetahui apakah blog FPI Online dibuat untuk mendukung aktivitas FPI atau malah sebaliknya, dibuat untuk menyebarkan black campaign, misalnya, simak penuturan beberapa sumber berikut ini.
“Saya tidak tahu pasti blog itu benar-benar milik FPI. Kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke sana adalah, blog ini justru dibikin untuk memperolok FPI. Dari kalimat deskripsinya, sidebarnya, foto-fotonya, terlebih lagi footernya (arabia - apa pula itu?!) semuanya terkesan menjelek-jelekkan FPI. Mirip Roy Suryo Watch,” tulis Ikram Putra di milis jurnalisme-sastrawi.
Roy Suryo Watch yang dimaksudkan adalah sebuah situs yang dibuat untuk menyanggah komentar-komentar Roy Suryo, sang pakar telematika, di beberapa media massa.
Situs tersebut saat ini sudah tak bisa diakses lagi. Namun, perjalanan polemik yang berlangsung dua tahun lalu itu bisa disimak diblog Priyadi.
“Dan itu pun tidak perlu diherankan. Tidakkah kita sudah sering dengar black campaign?,” tambah Ikram.
Menurut Ikram, Black campaign adalah kampanye menjelek-jelekkan, memperolok, yang dilakukan orang tanpa identitas jelas. Bisa anonim, atau bisa pula pseudonym. Ia berbeda dengan negative campaign, yakni kegiatan kampanye dengan menunjukkan kekurangan lawan. Dilakukan dengan terbuka atau ada pihak pembuat yang jelas. Dan menurutnya hal ini wajar-wajar saja.
Menurut Ook Nugroho, seperti yang ditulis dalam blognya (http://ruang-samping.blogspot.com), blog FPI online tampaknya sengaja didesain untuk bisa interaktif. Pengelola menyediakan shoutbox yang isinya justru lebih banyak memuat kecaman. Situs itu juga dilengkapi tool sitemeter, terdaftar di technorati, dan juga dilengkapi pernak-pernik yang sekarang sedang popular, yakni mybloglog.
"Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami," tulis Ook di blognya.
Karakteristik blog FPI online yang didesain interaktif, seperti dikemukakan oleh Ook mengundang beberapa pertanyaan. Benarkah jika blog itu dikelola oleh anggota maupun simpatisan FPI, pengelola blog akan membiarkan setiap orang bisa mengirim komentar di setiap tulisan tanpa ada moderasi. Apakah pengelola tidak khawatir akan adanya komentar spam, atau bahkan hujatan dari oknum yang tidak senang terhadap FPI. Apakah benar, jika blog itu dikelola oleh anggota ataupun simpatisan FPI, pengelola blog akan merelakan blognya diisi komentar yang bernada mengejek, bahkan cacian terpampang di kotak pesan dan tidak menghapusnya?
Satu hal lagi yang barangkali sulit untuk dipercaya, di blog FPI ini dipasang Google Adsense, sebuah layanan iklan berbayar yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Bukankah FPI yang dikenal oleh masyarakat luas anti terhadap segala produk yang berbau Barat, produk AS dan sekutunya. Apakah FPI hendak menggunakan dana kompensasi yang didapat dari Google Adsense untuk kegiatan jihad mereka?
Selain yang sudah disampaikan, masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari blog FPI itu. Pada halaman sidebar dicantumkan beberapa link yang “haram” dibuka. Bukankah ini hal yang aneh. Logikanya, jika pengelola blog FPI melarang link itu untuk dibuka, mengapa dicantumkan?
Ada juga himbauan untuk tidak mengisi petisi anti FPI, namun linknya dipasang di sidebar. “Berani mengisi, masuk neraka,” bunyi ancamannya. Kedengarannya, kalimat ini lebih mirip “ejekan” ketimbang “larangan”, bukan?
Untuk melacak status kepemilikan blog FPI itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengelola blog via email yang saya dapatkan dari halaman profil. Mulanya saya mengusulkan untuk mewawancarainya via Yahoo Messenger (YM). Namun pengelola mengaku tidak memiliki YM. “Lewat email saja ya? Ana tidak punya ym..” jawabnya singkat.
“Ana bukan anggota FPI, hanya simpatisan sahaja. Blog ini ana dedikasikan untuk FPI yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia seperti halnya ana dan sohib-sohib ana yang tersebar dimana-mana. Jadi semacam 'un-official weblog' FPI.Ana sendiri dengar selentingan kabar kalau FPI akan membuat situs sendiri, dalam bentuk website,” jawabnya menanggapi pertanyaan yang saya kirim ke emailnya, indonebia@yahoo.com.
Soal dugaan adanya black campaign dari blog FPI itu, pengelola tak menolak, pun tak mengiyakannya. Menurutnya ia sekadar mengumpulkan informasi tentang kegiatan FPI. Tujuannya, agar orang yang ingin mencari info tentang FPI di internet lebih mudah.
“Biarkan siapa sahaja bisa berkomentar, karena media sendiri sering menjelek-jelekkan FPI. Pernak-pernik di weblog kami hanya sekadar penghias belaka, tak kurang tak lebih. Sekali lagi, ini sifatnya temporer sahaja,” jawabnya.
PENGELOLA blog FPI mengaku pemilik blog http://indonebia.blogspot.com. Dari perbincangan di beberapa milis, Indonebia dikenal sebagai seorang tokoh parodi FPI di dunia maya yang malang-melintang di berbagai milis. Penulusuran dilanjutkan dengan melacak beberapa link “terlarang” yang justru dicantumkan diblog. Salah satu link itu adalah http://zamanku.blogspot.com. Namun link-link “haram” itu kini sudah dicopot dari blog oleh pengelola.
Saya membuka fasilitas mybloglog yang ada diblog http://zamanku.blogspot.com (http://www.mybloglog.com/buzz/community/mediacare). Dari sini diketahui bahwa pengelola blog Zamanku juga mengelola blog http://mediacare.blogspot.com dan jaringannya yang jumlahnya mencapai 39 buah blog. Sebuah jumlah yang sangat fantantis. Uniknya di anggota komunitas blog Mediacare yang ada di mybloglog itu dicantumkan dicantumkan blog indonebia dan FPI online. Jadi, sebenarnya mereka musuh atau kawan Mediacare?
Saya mulai curiga, jangan-jangan blog FPI Online, yang mengaku pemilik blog Indonebia itu, juga pengelola blog mediacare?
Untuk membuktikannya, saya menyocokkan identitas (id) Google Adsense blog FPI online, Zamanku, dan Mediacare. Hasilnya tidak jauh meleset dari dugaan. Tiga blog itu ternyata memiliki id adsense yang sama. Id ketiga blog itu adalah "5604202362132912".
Mendapati informasi ini, saya mengonfirmasikannya ke pengelola blog FPI Online. Dalam email saya sampaikan bahwa saya menemukan id yang sama pada blog FPI online dan Zamanku, blog yang dilarang dibuka oleh pengelola FPI. Kepadanya saya juga menyampaikan, dari blog Zamanku diketahui pengelola blog ini juga mengelola blog Mediacare.
Lalu, apa motivasi pengelola, adakah skenario untuk menjatuhkan FPI atau mengadu domba Islam. Jika tidak, apakah yang dilakukannya ini sebenarnya untuk bisnis internet, seperti yang dilakukan oleh para blogger yang copy-paste artikel, membuat blog dalam jumlah yang banyak, untuk menjerat pundi-pundi Google Adsense?
Pada email yang ketiga ini, pengelola Blog FPI kembali menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya sekadar mengumpulkan berita-berita tentang aktivitas FPI agar lebih mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.
“Kalo ‘black campaign’ ya tidaklah. Ana kan tidak ngarang-ngarang cerita dengan memutar-balikkan fakta tentang FPI. Ana sekadar mencuplik dari berita-berita di media massa, baik terbitan Indonesia maupun asing. Ana tidak mengurangi juga tidak nambah-nambahi. Mungkin lebih tepat disebut ‘un-official blog’ FPI. Kan di description juga ana cantumkan bahwa ana pendukung tegaknya syariat Islam di Indonesia, tapi ana tidak menyebut sebagai anggota FPI,” jawabnya.
Menurutnya, selama ini belum ada media massa di Indonesia yang berani memberitakan kegiatan FPI secara positif.
“Media bernuansa Islam macam Republika, Hidayatullah, Eramuslim dan lainnya saja jaga jarak kok, malah mereka lebih baik tidak memuatnya. Sedangkan nama FPI kan kebanyakan muncul kalo ada kericuhan dan lain-lainnya,” tambahnya.
Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?
Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black campaign. Apakah diantara anda ada yang punya istilah lebih tepat?
*****
SIAPAKAH sebenarnya pengelola blog FPI online yang memiliki id adsense yang sama dengan blog Zamanku, dan blog-blog jaringan Mediacare itu?
“Soal yang lain-lain, maaf ana tak perlu jawab. Biarkan ana tetap ber-id Indonebia,” jawabnya mengakhiri email yang ketiga kalinya saya kirim itu.
ti sudah disampaikan, Indonebia diduga tokoh parodi FPI yang malangmelintang di berbagai milis. Sekarang, siapa pengelola blog Mediacare?
Dalam posting blog Mediacare berjudul “Duka Cita Chrisye, Badai pasti Berlalu” disampaikan bahwa pengelola atas nama “Radityo Djajoeri” turut berduka cita atas meninggalnya Chrisye. Nama Radityo Djajoeri ini juga masih bisa dilacak di mesin pencari blogger dan technorati dengan tag Mediacare. Saya sudah menanyakan ini dalam email wawancara, benarkah Radityo Djajoeri tokoh Indonebia. Tapi Indonebia tak menjawabnya. Dia minta “biarlah saya ber-id indonebia”.
Dari blog Media-Jakarta (http://media-jakarta.blogspot.com) yang merupakan blog jaringan Mediacare, dicantumkan kontak telpon Radityo Djajoeri: 0817-98022XX atau (021) 790-28XX. Saya menelpon kedua nomor itu. Pertama saya menelpon nomor ponsel, tapi tak ada yang mengangkat. Kemudian saya telpon nomor yang kedua, dijawab oleh suara seorang laki-laki.
Halo, ini mas Radityo?"
“Saya bukan Radityo….”
“Saya dapat nomor ini di blog Media Jakarta, jaringan blog Mediacare. Nomor ini dicantumkan di sana atas nama Radityo Djajoeri. Saya ada perlu sama dia….”
“Wah nggak tahu ya. Tut…tut.……..”
Meski tidak ada pengakuan dari Indonebia bahwa dirinya adalah Radityo Djajoeri, dari hasil penelusuran yang sudah dipaparkan itu, tanpa pengakuan Indonebia pun sebenarnya sudah cukup jelas: Radityo Djajoeri adalah pengelola blog FPI Online yang mengaku Indonebia itu. Jika tidak, kenapa dia tak mengklarifikasi dugaan saya bahwa Indonebia itu adalah Radityo, seperti yang saya kirim dalam wawancara yang ketiga?
****
Dari cerita di beberapa milis, Radityo Djajoeri pernah dikeluarkan dari milis Jurnalisme. Farid Gaban, moderator milis Jurnalisme menyampaikan di milis bahwa Indonebia itu tak lain tokoh yang diperankan oleh Radityo Djajoeri. Selain Indonebia, Radityo juga punya Id lain, yakni Reporter Jalanan (Reja) yang kemudian juga menyusul dikeluarkan di milis yang sama. Siapakah Radityo Djajoeri itu? Adakah nama ini benar adanya, atau ternyata sama saja seperti Indonebia, nama "samaran" petualang dunia maya?
“Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis,” tulis Tomi Satryatomo mengomentari tulisan di multiply saya. Tomi adalah Executive Editor-Current Affairs & Features di ASTRO TV. Sebelumnya dia adalah News Producer di Trans TV.
Dalam posting di blog InsideKompas.blogspot.com, pengelola blog mengaku kedatangan tamu istimewa dan dikagumi. Tamu istimewa itu adalah Radityo Djajoeri, pengelola blog Mediacare, blog yang mengupas isu media dalam dan luar negeri. Ini sebuah gambaran lain akan sosok Radityo Djajoeri alias Indonebia. Di mata pengelola blog “Pecinta Kompas”, Radityo dianggap sebagai tamu terhormat, blogger istimewa, apakah benar demikian, ataukah pengelola blog Inside Kompas itu tidak mengetahui sepak terjangnya di dunia maya?
Belakangan diketahui pengelola blog Inside Kompas itu adalah Pepih Nugraha. Ia bekerja di Harian Kompas sejak 1 Mei 1990. Pepih sekarang menjabat Wakil Kepala Desk Multi Media untuk Kompas Cyber Media (KCM). Dari pengakuannya, blog ini diurusnya sendiri, tak ada orang lain yang membantu.
"Saya memosisikan diri sebagai karyawan Kompas saja, yang tidak rela lembaga tempat saya dideskreditkan, dihina, didemo, dan bahkan mau diserbu oleh pendemo yang dikompori oleh blok Kompasinside yang dikelola AJI. Saya berupaya independen, ketika manajemen berbuat tidak adil, saya juga akan mengeritik mereka pedas (hanya tersiar di milis karyawan Kompas)," ungkapnya. KompasInsode adalah blog tandingan yang dibuat oleh para wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Jurnalis Independen (AJI). Alamat blognya http://kompasinside.blogspot.com.
"Soal Radityo itu, sungguh saya tidak melihat sosoknya, saya tidak kenal dan saya tidak menilai orang dari sosoknya, apalagi saya belum kenal. Saya hanya membacanya dari Mediacare, blog yang konon dia asuh. Saya banyak menimba ilmu dari situ, setidak-tidaknya gosip pers di dunia maya. Kalau saya katakan dia tamu terhormat, tentu saya tidak akan mencabut penyebutan itu," tambahnya.
Namun, ketika saya bilang hendak menampilkan komentarnya dalam tulisan ini, Pepih menambahkan, “Saya menyatakan sikap sanjungan terhadap Radityo dengan Mediacare-nya itu sebelum Mas membongkar kasus Radityo dengan blog FPI-nya itu. Saya apreciate upaya Anda mencari kebenaran. Bravo!”
Untuk mengetahui bagaimana sikap FPI atas blog FPI online, saya menghubungi kantor pusat FPI seperti yang dicantumkan dalam blog FPI Online tersebut. Ternyata nomor itu benar alamat telepon FPI pusat. Oleh seorang perempuan yang menerima telpon, saya disarankan menghubungi Irwan Arsidi.
“Untuk urusan ini, silakan tanya kepada pak Irwan. Dia sekretarisnya Habieb,” jawabnya. Habieb yang dimaksud adalah Habib Rizieq, Ketua Umum FPI.
Dari percakapan telpon dengan Irwan, tampak kesan dia sosok yang ramah. Malam itu dia bilang sedang menemani putra habib Rizieq jalan-jalan.
“Kita sudah mendengar kabar itu. Namun kita nggak mempermasalahkan. Blog itu malah bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan FPI,” jawabnya.
Tidakkah FPI menganggap blog itu sebagai black campaign?
“Selama ini kita masih melihat sisi positifnya. Kita biarkan saja dulu, baru kalau sudah terlalu memojokkan FPI, kita akan bertindak,” jawab sekretaris Badan Investigasi FPI itu.
Menurutnya, kasus semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Irwan mengaku tidak mengetahui siapa yang membuat blog FPI itu. Ia menduga hal itu dilakukan oleh orang-orang yang simpati terhadap FPI. Sebelumnya FPI pernah memiliki website, namun dirusak oleh hacker.
“Dalam waktu dekat, Insya Alloh bulan depan kita akan punya website. Rencananya akan pakai domain org,” jawabnya.
Apa yang dilakukan oleh sosok anonim bernama "Indonebia", pengelola blog FPI Online, atau sosok yang sama bernama “Radityo Djajoeri” pengelola blog Mediacare, menarik untuk dicermati. Dua nama yang diduga kuat satu oknum yang sama ini malang melintang di berbagai milis dan dia juga memiliki banyak blog. Siapakah dia sebenarnya, untuk apa dan siapa dia melakukan itu semua, tidakkah semua yang dilakukan itu sebuah pekerjaan yang melelahkan, apakah pekerjaan itu dilaksanakan oleh tim?
Namun demikian, jika benar blog itu diniatkan untuk menyebarkan black campaign, toh oleh FPI justru ditanggapi positif. Blog FPI Online ini dikatakan Irwan dapat membantu mempublikasikan kegiatan FPI yang tak banyak diekspose oleh media. Benarkah kehadiran blog FPI Online itu menguntungkan FPI, atau FPI saja yang ceroboh tak mengetahui siapa sebenarnya pengelola blog yang di beberapa forum justru kerap mendeskriditkan FPI dan rekan-rekan seperjuangannya yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia?
Dari blog FPI Online, kita dapat memetik pelajaran berharga bahwa meski internet memberikan siapapun ruang yang luas untuk menyampaikan informasi, namun sebagai penulis, seorang punya tanggungjawab atas informasi yang disampaikannya. Dan sebagai pembaca, sikap kita harusnya melacak setiap informasi yang ada di internet, baik yang disampaikan diblog maupun di situs berbayar, dan tidak serta-merta menelan mentah-mentah apa yang disampaikan di sana. Salah satunya dengan mencari tahu dari mana informasi itu bersumber. Ini penting, karena tidak semua informasi yang di dapat dari internet benar, sebagian adalah sampah!
[tulisan ini dimuat dalam tiga tulisan di http://gaya.suaramerdeka.com atau http://blog.suaramerdeka.com ]
08 May 2007
Mem-"polisi"-kan Gerakan NII KW9
Topik berjudul "Negara Islam yang Meresahkan" yang diposting di salah satu milis mahasiswa Sastra Undip belum lama ini mendapat tanggapan dari beberapa anggota. Salah satunya mengusulkan agar gerakan yang menamakan dirinya Negara Karunia Alloh (NKA) itu dilaporkan ke pihak kepolisian.
"Memang maresahkan kedengarannya ! Setelah membaca tulisan tersebut tersirat akan solusi apa yang bisa ditawarkan atas masalah tersebut. Bisa gak masalah tersebut dimintakan pendapat pada tokoh yang mempunyai otoritas untuk menanggapinya ? Tidakan apa yang harus dilakukan, pencegahan atau perlawanan. Bisa gak ditinjau dari segi hukum, apakah bisa dipolisikan gerakan /tindakan seperti itu untuk mencegah jatuhnyanya korban lebih banyak," tulis salah seorang anggota milis.
Penulis yang melontarkan diskusi memberikan jawaban yang cukup panjang. Berikut ini jawabannya atas pertanyaan di atas :
Kalau sepengamatanku, kasus itu sudah cukup kuat untuk di-"polisi"-kan. Tanpa memperdebatkan apa itu nama organisasi dan segala macam ideologinya, apa yang dilakukan oleh pelaku (yang diduga kuat sudah menjadi anggota NKI KW9 alias NII Al Zaytun alias NKA (Negara Karunia Alloh) sudah bisa dikatagorikan sebagai bentuk penipuan.
Aku sudah kepikir untuk membawa kasus ini ke pihak fakultas. Tapi kuurungkan. Pasalnya, si pelaku (ada dua) yang kuduga telah menjadi anggota NII itu adalah orang yang pernah dekat denganku. Salah satunya adalah ******. Belakangan memang sudah tak aktif lagi. Aku juga tahu siapa dia, background dia yang dari Demak, dll. Maka, aku mencoba untuk melakukan pendekatan, mengajaknya ngobrol dulu.
Setelah mengetahui jatuhnya korban, dan yang terakhir kudengar adalah anak ***** 2006, aku mulai ambil tindakan. Aku temui dia. Mengajaknya ngobrol. Sampai ke permasalahan. Tapi dia tak mau mengakui. Dia berkelit. Oke, aku pakai cara lain, sambil mengumpulkan informasi
lagi. Sementara waktu agar tidak jatuh korban, aku minta teman-teman **** menempel-nempel dan membagi-bagikan selebaran tentang info masuknya NII ini.
Aku mendiskusikan masalah itu bersama teman-teman komunitas PKM belakang. Disepakati skenario "mengadili" pelaku. Si pelaku di bawa ke salah satu ruang PKM, di rencanakan di **** yang sepi, di pojok, jadi nggak mengundang perhatian orang di belakang. Tapi rencana ini belum
sempat dilaksanakan, karena salah seorang teman yang merupakan teman pondok si pelaku sewaktu di Jepara punya cara yang waktu kedengarannya cukup masuk akal. Dia mengaku cukup tahu si pelaku. Dia kemudian mengajak si pelaku ke kontrakannya. Tapi tetap saja, si pelaku tak mau mengaku. Malah pura-pura tak tahu.
Jujur, aku sebenarnya sangat kasian pada si pelaku. Maka aku melakukan pendekatan lagi. Aku menemuinya dan mengatakan bahwa kasusnya sudah diketahui fakultas. Memang benar, kasus ini sudah menjadi pembicaraan luas. Aku juga pernah ditanya salah seorang dosen, tapi kubilang masih aman, dan aku juga tak menyebutkan siapa si pelaku itu.
Aku bilang, terserah kau tak mau mengaku. Tapi percuma saja. Fakultas sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan, atau memang fakultas mencari tahu sendiri. Dan aku yakin, kau tak akan bisa berkelit lagi. Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan didatangkan sebagai saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit lagi?
Kalau kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat. Dan kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini, kau sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan bagaimana ketika orang tuamu di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu itu?
Kalau memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan rekruitmen secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang sekarang sudah zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Kemudian soal iuran anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM berkedok agama. Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal sebelumnya kau tak seperti ini.
Kalau kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah ajaran agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini sudah sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari organisasi sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain. Apa yang hendak kau
cari, kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara Islam itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau membaca sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan untukmu.
Berkali-kali kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang mengetahui aktivitas pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap menganggapmu teman, yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti kau salah. Aku cuma benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai dirimu. Kau kini menjadi suka berbohong, tega memeras teman".
Dia terdiam cukup lama. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia mengangkat mukanya. "Aku minta waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.
Tiga hari sudah berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi usahaku cukup berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang, mereka sudah menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah memberikan pernyataan keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih
memantaunya dari kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani macam-macam, maka aku akan kontak orang tuamu.
Hmmm...dari cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih ada anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk lebih dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak tercium karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya mencari anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota NII yang dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa informasi yang kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus di Semarang. Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua PTN di Semarang ini, juga sudah menjadi target operasi NII.
Kembali ke usulan untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni dengan mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang teman yang terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah seorang temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak dikembalikan. HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga Rp 500 ribu. Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan mengembalikan kepadanya.
Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal karena pelaku sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung, tetangga rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi. Pelaku mengatakan, jika dia meminta HP itu secara baik-baik dan si pemilik mengikhlaskannya.
"Jadi kalau dia tega melakukan itu, kanapa aku tidak tega melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah benar-benar rusak, dicuci otaknya. Teman sendiri tega ditipunya," tuturnya yang ditirukan oleh salah seorang teman yang bercerita kepada saya.
Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi. Saya tahu dia dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita dari beberapa teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin terjerumus dalam aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang melaporkannya. Mungkin langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan memutus jatuhnya korban baru.
[Catatan: Beberapa bagian saya beri tanda ****. Dalam pesan aslinya di milis ditulis jelas. Pertimbangan saya, karena blog ini diperuntukkan untuk umum, maka hal-hal yang sifatnya privat tidak saya publikasikan. Dan ini sesuai permintaan si penulis ketika saya konfirmasi bahwa pesan yang dipostingnya akan saya muat di blog.]
21 April 2007
Negara Islam yang Meresahkan
Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak seorang temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.
Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah orang yang dimaksud.
"Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar. Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.
Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat di tanah air hingga ke luar negeri.
"Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.
Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim. Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.
Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur'an berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung argumentasinya.
Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah.
"Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan.
"Tiga juta," jawab salah seorang.
"Tujuh juta," jawab lainnya.
Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu.
"Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan Alloh," tanya Wawan lagi.
"Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.
Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema, nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya Wawan lagi.
Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.
"Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
"Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.
"Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.
Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15 menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.
"Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan diri. Hmm....
"Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.
Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.
Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah kemana.
****
Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?
Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran.
"Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema.
"Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.
Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?
Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air. Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.
"Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.
Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang tertulis di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.
****
Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?
Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar belakang pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan ternyata tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari mereka membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.
Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di Jakarta ( (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".
Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.
Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?
Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos pria.
Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?
Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?
Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!
Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.
Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia cuma sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa baru.
Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.
Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah.
"Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap. Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.
Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya, sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini. Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin saja!
Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di sini. ****
Catatan:
1. tulisan ini diposting oleh salah seorang member di milis sastra undip.
2 Beberapa nama (Ema, Fani, Ratih, Fatima) adalah bukan nama sebenarnya. Penggunaan nama samaran ini sengaja ditulis demi keamanan narasumber yang masih berstatus mahasiswa. Selain juga akan adanya intimidasi dari anggota NKA/NII karena telah membocorkan rahasia.
3 Penulis menggunakan istilah "korban" bagi mereka yang diajak bergabung dengan NKA atau NII atas pertimbangan ajaran yang tidak masuk akal yang diajarkan oleh organisasi itu, yang menurut saya menyesatkan.
4 Gambar ilustrasi pendukung diambil dari http://www.allthingsbeautiful.com/yang diberi caption "Jihad Barbie".
Link-link seputar NII:
- http://nii-alzaytun.blogspot.com
- http://www.webgaul.com/forum/showthread.php?t=51370
- http://niikw9.blogs.friendster.com/
- http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/1970.html?pesantren%20alzaytun
- http://www.fti-uii.org/index.php?option=com_content&task=view&id=191&Itemid=215
- http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/02/brk,20050802-64681,id.html
- http://www.eramuslim.com/ust/dll/44d6f709.htm
- http://bangsari.blogspot.com/2007/02/lagi-lagi-nii.html
- http://dirgaa.com/apps/EmailMengenaiNII.txt
- http://walausetitik.blogspot.com/2006/08/az-zaitun-aliran-sesat.html?pesantren%20alzaytun
- http://kaskus.us/showpost.php?p=13675007&postcount=78
- http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=279363
- http://swaramuslim.net/more.php?id=5498_0_1_0_M
23 December 2006
Penjelasan Aa Gym yang Mblunder
Setelah kabar pernikahan kedua Aa Gym menyebar luas, pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid ini memberikan penjelasan kepada para santrinya. Ada dua poin penting yang disampaikan. Pertama, Aa merasa perbuatan yang dilakukan tidak salah, tidak melanggar hukum agama dan juga negara. Kedua, (sepertinya) ia ingin menghapus stigma burug poligami di masyarakat. Dengan kata lain, tindakannya ini sekaligus sebagai dakwah.
Benar, negara dan agama (agama islam, agama yang dianut oleh Aa) tidak melarang seorang melakukan poligami. Tapi jika karena kekhawatiran akan terjadinya TTM (teman tapi mesum) sebagai analogi mengambil keputusan poligami, ini jelas kurang tepat.
Tidak salah juga jika fenomena TTM sudah merajalela. Tapi tentunya hal semacam itu sudah terjadi sejak dulu. (Tradisi) selingkuh tentu saja tidak berlangsung sejak munculnya hits TTM yang dibawakan Ratu. Bukankah itu sifat naluriah manusia yang dilengkapi dengan hawa nafsu. Persoalannya, bagaimana manusia bisa mengendalikan hawa nafsu.
Saya pribadi menyebutnya konyol. Masak Aa Gym berpoligami karena takut melakukan TTM. Dengan kata lain, dia tak sanggup menahan nafsu. Maka dipilihnya poligami sebagai jalan keluarnya.
Analogi berpikir Aa Gym itu jelas merendahkan martabat manusia, dan tentu saja agama yang dijadikan sebagai sumber hukum. Apa ada jawaban lain, jika melakukan poligami itu karena kekuatiran terjadinya TTM, kalau tidak karena nafsu?
Mungkin Aa Gym akan menggunakan alasan yang kedua. Poligami yang dilakukan sekaligus sebagai dakwah. Ia ingin mengubah stigma buruk poligami di masyarakat. Jadi apa yang dilakukan itu bukan untuk dirinya, tapi ia ingin memberikan contoh bahwa poligami itu tidak (selamanya) buruk.
Mohon maaf, Aa. Menurut Saya penjelasan Aa ini bertele-tele, muter-muter, atau dalam bahasa Jawa mblunder.
Coba jawablah dengan jujur, apakah Aa menikahi Rini bukan karena tampilan visualnya yang menarik. Apalagi ia juga mantan model. Lagian seperti kata Aa, poligami kan boleh, tapi tidak dianjurkan. Mubah. Apakah sedimikian perlu Aa mendakwahkan sesuatu yang mubah ini?
Kapan niat dakwah itu muncul, apakah niat itu sudah muncul dari awal sejak Aa ingin menikahi Rini sebagai istri kedua. Atau baru muncul setalah berita ini tersebar luas, setelah Aa mendapatkan kritikan dari pengikut Aa. Jika niat itu baru muncul belakangan, apakah ini bukan hanya alasan Aa untuk menjaga nama baik?
Jika benar, Aa sudah merencanakan jauh hari, kenapa Teh Ninih terkejut waktu pertama kali mendengar kabar pernikahan kedua Aa itu. Seperti yang tampak pada layar televisi, istri pertama Aa itu menangis. Ia sepertinya sangat terkejut, perasaanya terpukul. Bukankah Aa adalah suaminya yang telah melahirkan beberapa anak darinya, yang tentu saja sudah teramat dekat dengan istri. Mana mungkin istri tak mengetahui kabar itu, atau kenapa Aa tak mengabari dulu sebelum akhirnya kabar itu tersebar luas. Apakah hubungan Aa dengannya sudah tak harmonis lagi?
Jika benar, Aa benar melakukan poligami untuk dakwah, menghapus stigma buruk poligami di mayarakat, saya harus acungkan jempol karena Aa (terlalu) berani mengambil resiko terburuk, yakni mengorbankan popularitas Aa sebagai tokoh agama.
Berikut ini adalah penjelasan Aa Gym dan istri pertamanya, teh Ninih, tentang pernikahan keduanya itu. Diambil dari http://rinrinjamrianti.multiply.com/reviews/item/47?mark_read=rinrinjamrianti:reviews:47
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, rekan-rekan sekalian. Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh kita semua. Saya akan menyampaikan, sesuatu yang sangat sangat penting, dan...hal yang dianggap akan menjadi hal yang strategis untuk siapapun yang menginginkan perubahan.
Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas santri daarut tauhiid, andaikata keputusan yang aa ambil ini membuat banyak ketidaknyamanan. Pertama, ketidaknyamanan perasaan karena informasi yang kurang jelas. Yang kedua, ketidaknyamanan. ..karena mungkin bertentangan dengan sebagian keyakinan. Yang ketiga, karena akan ada dampak bagi Daarut Tauhiid, MQ maupun Kopontren.
Keputusan berpoligami ini bukan hal yang ringan, saya sadar sepenuhnya akan dampak (baik dan buruknya). 5 tahun dibahas, prolognya sudah sering dibacakan, apa gerangan alasannya, mengapa mengambil resiko yang sangat besar seperti ini?
Pertama, kita lihat bahwa...kata poligami bagi sebagian masyarakat indonesia masih dianggap sesuatu perilaku yang buruk. Tidak heran bila ibu-ibu memberi nasihat..."Jangan berpoligami. ..!"
Apalagi dengan adanya kejadian ini, sms yang... -sebagian sms yang saya lihat-...ibu- ibu yang begitu marahnya, sampai mau meludahi, memukul kalau bertemu AA, buku-buku disobek, potret tidak mau dilihat. Ini adalah bukan hal yang membuat kita emosi, tapi ini peta(?tidak terdengar jelas), betapa belum semua orang bisa siap mendengar kata poligami.
Ini menjadi pikiran...shalat jalan, shaum jalan, haji, umrah...tapi ketika mendengar kata poligami...tersenga t. Menjadi marah, menjadi...ghibah, seakan ada hukum Allah yang salah. Saya mengerti...bahwa wanita begitu berat mendengar kata ini, dan ini manusiawi. Tetapi...manjadi tidak yakin kepada kebenaran, khususnya yang satu ini, menjadi memaki, memusuhi...ini yang harus kita bantu perbaiki.
Kita lihat juga, pada saat yang sama, pergaulan bebas, perzinahan, ttm...menjadi. ..sepertinya bukan sebuah perilaku buruk, masyarakat makin permissive terhadap hal ini. Saya sebetulnya menunggu akan ada tokoh yang berani mengubah paradigma ini, seperti zaman jilbab dulu.
Saudaraku sekalian, sesudah istikharah hampir satu tahun, maka...walaupun mungkin ada banyak kekurangan dan kesalahan di dalam pengambilan keputusan ini, saya memilih untuk melakukannya. Mengapa baru diumumkan sekarang? seperti halnya sepak bola, karena ini membutuhkan tim yang tangguh, saya harus menanti saat tim saya kuat...Teh Ninih, Anak-anak, Orang Tua. Besar harapan, Allah membuka waktunya, dan Alhamdulillah, pertolongan Allah...kemarin diberi kesempatan dibuka waktunya.
Satu...hikmahnya, bagi saya pribadi, ini saat yang paling tepat untuk menguji apakah selama ini saya menikmati pujian, penghargaan, popularitas, penghormatan, atau saya berjuang karena ingin sesuatu yang saya yakini benar. Alhamdulillah, dengan adanya situasi ini, betapa banyak perhatian dalam aneka bentuk, caci maki, kutukan, ancaman...dan saya sependapat seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, kita harus ikhlas menerima caci maki ini, andai kata kita benar-benar mau komit. Alhamdulillah. ..
Hikmah yang kedua, inilah kesempatan bagi masyarakat. Saya ingin tahu, dakwah saya selama ini mengajak orang komit kepada hukum Allah, aturan Allah, atau baru komit kepada suka Abdullah Gymnastiar. Kalau dia komit kepada hukum, berarti tidak ada masalah. Ini hal yang halal, ini hal yang dibolehkan, bukan dianjurkan.. .ini hal yang, juga Rasulullah tidak melarang, sahabat juga melakukan. Ini hal yang, aturan negara juga memberikan peluang. Ini bukan kejahatan, ini bukan zina, ini bukan
selingkuh... INI HALAL!! Sesuatu yang halal, sesuatu yang boleh, tetapi mengapa sebagian orang sampai seperti itu kata-katanya? Berarti...saya dakwah belum berhasil membuat orang lebih yakin kepada kebenaran dari Allah, baru sampai kepada figur AA Gym. Ini baik hadirin, untuk menguji sampai sejauh mana efek dakwah.
Bagi saya pribadi, ini cobaan yang luar biasa mantapnya. Ternyata, poligami tidak semudah diucap. Setiap hari teruji sekali, bagaimana 2 istri ini dari sudut yang berbeda? belum lagi anak-anak, belum lagi masyarakat.. .menguras. ..AA pemula belum pernah berpoligami sebelumnya.
Guru-guru saya juga jarang yang berpoligami terbuka. Adayang nasihat diam-diam, ada yang memberi nasehat bagus...belum juga. Jadi, untuk terbuka secara nasional, belum ada gurunya. Dan ini tidak mudah, hadirin. Kalau ada gurunya mungkin lebih mudah.
Tetapi, saya yakin, saya bukan melakukan kejahatan. Saya tidak melakukan kemaksiatan, ini legal, ini halal...Bismillah. Hikmahnya, jadi lebih sungguh-sungguh bergantung kepada ALlah. Kepada siapa lagi, selain kepada ALLAH? Maha suci ALlah, mudah2an besok lusa akan nampak karunia ALlah lainnya bagaimana kita sudah serius menggantungkan kepada Allah.
Hikmah untuk istri saya. Adayang bertanya..." AA Gym kurang apa teh Ninih? Teh Ninih baik, pandai, sholehah, cantik." Sulit saya mengemukakan. ..ini adalah tanda cinta saya kepada istri saya. Saya tahu istri saya sangat baik, dan saya ingin istri saya menjadi lebih baik. Saya rindu melihat teh Ninih menjadi bidadari di sorga kelak...dan saya tahu...saya adalah salah satu penghalang yang membuat teteh bisa mencintai Allah sepenuh hati. Siapa suami yang tidak rindu istrinya menjadi pecinta Allah?
Saya pasti mati...Apa yang bisa dilakukan oleh seorang suami yang cinta ke istrinya, kecuali ingin menjadi pecinta Allah yang dapat menjamin dirinya. Tapi, saya susah menjelaskan ini kepada umum. Saya tahu istri saya akan sakit. Tetapi seperti yang disuntik vitamin, mungkin sakit sebentar, besok lusa dia akan lebih kuat. Kalau saya nanti mati, mudah2an inilah warisan terbaik sebagai tanda cinta saya kepada istri saya...Saya percaya betul teteh akan kuat. Ayahnya ulama, nenek-kakeknya ulama, adik-kakaknya orang-orang yang terjaga, dia didoakan banyak orang.
Saya tahu bagaimana teteh bangun malam. Saya ingin teteh hanya mencintai Allah daripada mencintai saya (AA Gym berbicara sambil menangis). Ini benar hadirin...(pada bagian ini, terdapat jeda beberapa detik, karena AA Gym dipeluk oleh seorang koleganya, dan terdengar juga suara tangisan AA Gym. Sebetulnya, di bagian ini, jika mendengarkan rekamannya lebih mengharukan daripada sekedar tulisan di sini. Karena emosinya lebih terdengar, dan pada beberapa bagian kalimat, AA Gym berbicara sambil menangis).
Susahsaya mengungkapan dengan bahasa umum...
Mudah2an besok lusa, cita-cita saya, teteh selama di bumi ini menjadi ulama wanita, yang benar2 sesuai perkataan dan perbuatannya. Saya lihat umat terlalu banyak berkiblat kepada saya, ini tidak sehat. Jarang ada ulama wanita yang begitu penuh(?). Saya harus menggeser cinta para muslimah, mungkin lebih tepat kepada figur seorang ulama wanita. Saya siap menerima caci maki, saya siap dihina orang, saya siap dijauhi orang...mudah2an Allah menerima ini sebagai tanda cinta saya kepada teh Ninih, cinta saya kepada ummat, untuk mendapat figur yang lebih tepat. Wallahualam, Allah lah yang
Maha Tahu. Hanya waktu yang akan memberikan bukti ini.
Mengapa saya berbuat kejam kepada anak2 saya? Bukan kejam. Siapa yang lebih mencintai anaknya selain orangtuanya sendiri? Apakah cinta dengan dibiarkan dia tidak mengenal kebenaran? Apakah cinta dibiarkan dengan segala sesuatu yang enak? Saya ingin anak saya tidak (pernah/terlalu? ) mengatakan sesuatu yang salah tentang hukum Allah. Dia harus mengatakan bahwa ini adalah hukum Allah. Nggak boleh dicacati hati ini terhadap kebenaran dari Allah. Tidak mungkin Allah membolehkan sesuatu yang akan mencelakakan manusia. Tidak mungkin Allah memberikan aturan yang akan mencelakakan dan membinasakan, Allah yang paling tahu tentang manusia.
Saya tahu luka hati Gaida, Ghazi dan beraat sekali bagi saya. Tapi, saya percaya sepenuhnya saya tidak berbuat jahat. Ini adalah kebenaran yang tidak umum dilakukan. Alhamdulillah. Dan saya ingin anak-anak saya kuat, terlatih menghadapi yang sulit. Selama ini enak, dipuji, dihargai. Mereka akan menghadapi teman-temannya, lingkungannya. Saya ingin mereka kuat menjadi anak-anak yang kuat, dan mereka harus belajar berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Alhamdulillah. Tadi pagi sebelum anak-anak pergi ke sekolah...katakan Anakku untuk bapakmu..."harus kuat pak, harus kuat..". Anak-anak memberikan dukungan luar biasa. Saya dapat sms dari gurunya..."Anak- anak AA kuat dan tegar, di sekolah biasa, walaupun saya tahu biasanya yang lain terpuruk".
Saya percaya pertolongan Allah, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan. Untuk daarut tauhiid, inilah saatnya, saudara lebih banyak bergantung kepada Allah daripada kepada Abdullah Gymnastiar. Mungkin akan ada penurunan jumlah jama'ah yang datang, pelatihan, pembeli...kalau saudara bergantung kepada Abdullah Gymnastiar, inilah saatnya saudara kecewa. Yang membagi rezeki bukanlah saya, Allah yang maha kuasa. Kita sudah sering mengatakan," suatu saat jangan bergantung kepada AA". Inilah saatnya. Yang daftar ke MQ Travel ada yang membatalkan, TIDAK APA-APA, BAGUS!! MEREKA
HARUS LURUS NIATNYA!! Bukan karena AA Gym, HARUS KARENA ALLAH!!. Tamu ada yang membatalkan datang ke sini..ITU BAGUS!! Mereka tidak boleh datang karena manusia, mereka harus datang karena mau mencari ilmu, mencari kebenaran. Saya tidak melihat kerugian dengan berkurangnya orang datang, berkurangnya transaksi jual beli, disanalah keberuntungan dari ALlah, agar kita bener-bener tauhiid nya lurus.
Bagi kaum muslimah, yang takut suaminya menikah lagi, yang tiba-tiba menjadi benci kepada teh Rini... Teh Rini hanyalah seorang makhluk yang ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari terjadinya ketentuan ini. Insya Allah, suatu saat mudah2an teh Ninih bisa menjelaskan apa hikmahnya. Apakah saudara benci kepada sesama wanita sendiri, dengki sehingga seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, berbuat sadis...orang yang berghibah itu orang yang dianggap sadis, karena seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Ini ujian keimanan bagi AKhwat. Bagi lelaki, ikhwan di daarut tauhiid, ini juga ujian keimanan, apakah serta merta ingin melakukan hal yang sama, padahal tidak tahu ilmunya?
Bagi ummat, ini adalah saatnya, mengetes apakah yang dicari selama ini hanya sesuatu yang enak, sesuai dengan seleranya, atau yang dicari yang benar menurut ALlah SWT. Mengapa begitu marah kepada saya? Karena tidak sesuai dengan harapannya. Harusnya, ummat menginginkan saya sesuai dengan harapan Allah, bukan harapannya. Alhamdulillah, akan ada saatnya sebagian orang tidak mau mendengar,menjauh, marah...tetapi saya percaya setiap hati itu adalah dalam genggaman Allah. Saat ini benci, belum tentu besok akan benci. Saat ini mencaci, belum tentu besok akan mencaci. Mengapa? Karena
yang menanamkan cinta bukanlah rekayasa kita, yang menanamkan cinta hanyalah Allah SWT. Insya Allah, bagi saya tidak ada masalah, dihina, dicaci, dikutuk, diancam...ini adalah bagian yang belum pernah saya jalani selama ini.
Saudaraku sekalian, ini akan berproses beberapa waktu. Kalau saudara mengharapkan pertolongan ALlah dan ikhlas, semuanya menjadi mudah. Kalau saudara mencintai dunia, mencintai pujian, penghargaan, bergantung kepada makhluk...inilah saat yang terberat yang saudara jalani. Barang siapa yang Allah baginya, Hasbiyallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'mal nassir.
Saudaraku sekalian, mudah2an kedepan dengan ijin ALlah akan terbukti, bentuk cinta seorang suami kepada keluarganya, kepada ummatnya, Insya ALlah. Saya harus kuat menjaga keikhlasan ini, saudarapun teruji kesetiaan, cinta kepada AA. Saya tidak berharap agar rekan2 mencintai, membela saya...Jangankan kepada rekan2, kepada teh Ninih saja..."Mamah, AA tidak menuntut mamah melakukan apapun untuk keputusan yang AA ambil ini". Karena tidak bisa diungkapkan sekarang hikmahnya. Mudah2an rekan2 memaklumi, memaafkan, dan siap. Inilah babak baru dalam kehidupan saya, mungkin
satu-dua tahun ini akan latihan mengembangkan kemampuan. Sebagai penggantinya, mudah2an ibu2 akan...tempat saya digunakan oleh teh Ninih. Mudah2an akan ada figur ulama lain yang bisa mengisi kekosongan ini, pada saatnya mudah2an AA Gym yang tampil lebih layak disebut ulama daripada sekarang ini yang hanya baru belajar berdakwah biasa. Saya membutuhkan situasi dimana teruji keikhlasan, teruji kegigihan, konsisten
dalam kebenaran, apakah karena ALlah ataukah karena mencari kedudukan kepada manusia.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
[Teh Ninih sebagai pembicara kedua]
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. ..
Maha suci Allah, yang melembutkan hati-hati kita. Mudah-mudahan dengan
kelembutan hati, Allah menuntun kita agar kita mudah untuk menerima
kebenaran. Terima kasih AA...saya pribadi merasa bersyukur memiliki suami
yang diberikan karunia yang sangat besar, bisa mengenal Allah sejak sebelum
menikah. Dan saya...banyak evaluasi untuk saya sebagai istri, kurang terima
kasih saya kepada suami, sehingga dengan pernikahan 20 tahun, walaupun saya
sebagai istri sudah mulai dikenalkan dengan Allah oleh orang tua, tetapi
untuk langsung bisa mempraktekan, Alhamdulillah, syariatnya lewat AA.
Hakikatnya Allah SWT yang sayang, Allah memilih AA.
Perjalanan 20 tahun menikah penuh dengan liku, kadang sering tidak setuju
dengan apa yang AA lakukan. Berawal dari bagaimana AA selalu melatih istri
untuk tidak cinta dunia. Sempat terpikir, "Kenapa AA seperti ini, kok
nyiksa istri...?". Tetapi, subhanallah, dengan kesabaran AA, sebagai suami
begitu paham perasaan istri. Dan 20 tahun kemudian, inilah saatnya, latihan
demi latihan yang luar biasa ujian besar. Di saat istri sangat cinta kepada
suami, karena suami sedang diuji dengan penghormatan, dan suami juga selalu
memuji istri. Nah, pada saat inilah, subhanallah, Allah mendatangkan
kejadian yang menguji keikhlasan istri. Maka yang pertama kali, hikmah dari
kejadian ini, "Ya Allah, saya sedang diuji dengan kemudahan, dengan
penghormatan" . Dan suami begitu bangga kepada saya, kadang terucap dalam
hati, dalam pikiran..."inilah saya yang paling hebat, yang bisa mengantarkan suami saya menjadi hebat seperti ini"...Allah nggak suka, Allah Maha Cemburu..."Bukan karena engkau...", bukan karena saya sebagai istri, tapi Allah yang menuntun,
Allah yang memberikan kekuatan kepada suami. Maka, Allah mendatangkan
seorang wanita yang AA pilih sebagai istrinya.
Awalnya, hancurlah sudah perasaan diriku...tapi, subhanallah, terus minta
kepada Allah...oh, ternyata nggak ada yang hebat, tidak ada yang hebat,
yang hebat hanya Allah. Itulah ujian keikhlasan, sehingga akhirnya...ketika
tahu bahwa AA sudah menikah, subhanallah, pasti ini ada hikmahnya, pasti
ada hikmahnya. Langsung merujuk apakah ini akan mengikuti nafsu saya takut
kehilangan.. .kehilangan. ..nama istri AA Gym yang hebat, atau merujuk kepada
hukum Allah. Istikharah, sujud, minta tolong, sambil menangis...dan,
subhanallah, ketika hati kita lembut, itu terasa sekali penghambaan kita
kepada Allah, minta yang terbaik...minta yang terbaik. Dan, Allah
membukakan hati bahwa apa yang dilakukan suami saya ini adalah sebuah
kebenaran. Saya harus berjuang untuk memanage nafsu...memanage nafsu.
Dan, yang kedua, hikmahnya adalah, setelah meyakini bahwa ini sebuah
kebenaran, disinilah benar, bahwa dengan poligami itu sangat komplit,
bagaimana manajemen qalbu bisa dilatih semuanya. Yang pertama, bagaimana
melatih supaya tidak dengki kepada orang. Di saat ada orangnya, dengki
tidak? padahal hati terusik. Kalau saya dengki, berarti terhalang saya
untuk mendekat kepada Allah. Kemudian yang kedua, evaluasi untuk diri.
Apakah ini, saya termasuk tamak, tidak mau berbagi? Padahal selama ini, di
hadits, di Quran...bahwa kita harus mencintai saudara seiman seperti
mencintai diri sendiri. Saya punya suami yang begitu hebat, sholeh, kaya,
cakep...ini orang yang paling saya cintai, bisa nggak berbagi kepada sesama
muslimah. Ternyata tidak mudah AA...(terdengar audiens dan Teh Ninih
sendiri tersenyum/tertawa ringan)...ngejungke l(terjungkal) juga yah?
Istilahnya.. .AA takut sama yang lain. Tapi, subhanallah, dengan pertolongan
Allah, terus diberikan pemahaman... pemahaman. Berarti
saya nggak boleh mundur, ini kesempatan, harus lulus...harus lulus...harus
bisa.
Itu hikmah yang kedua, dan yang terakhir, barangkali ini satu harapan dari
Teteh sebagai...sebagai orang yang dipilih mendampingi AA dalam berjuang.
Di saat melihat akhwat, perilaku kepada teh Rini khususnya, sangat beragam.
Sampai ada yang ingin menjenggut katanya kalau ketemu, ingin menjambak, ada
yang malah sampai...disihir aja katanya, A, diguna-guna. Wah, udah
macem-macem. Pokoknya, subhanallah, ini sebuah pelajaran untuk saya secara
pribadi...oh, berarti sikap wanita itu sangat beragam, dan saya tidak bisa
menuntut akhwat sama, semua legowo, semua memaafkan... tapi inilah tanggung
jawab seorang pendakwah, seperti apa yang AA tadi sampaikan. Jadi, maaf
sekali...Teteh menghargai sekali yang sayang kepada teteh mungkin sangat
ingin, membalas lah...kalau itu dikatakan ketidaksukaan, bagaimana menjadi
seorang anak atau santrinya membela gurunya, untuk supaya tidak sakit.
Tapi, tolong...berperilak ulah, perilaku yang baik, karena walau
bagaimanapun teteh sekarang mulai
berfikir...saya bersyukur dan berterima kasih kepada teh Rini yang menjadi
jalan saya bisa evaluasi, sejauh mana keseriusan(? ) saya taat kepada suami,
sejauh mana saya berlatih untuk berbagi, berlatih untuk tidak dengki,
berlatih untuk memaafkan orang yang sepertinya menyakiti. Seperti itu A,
terima kasih.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
[Penjelasan Aa Gym]
Mengapa dipilih Alfarini? Seorang yang baru masuk ke sini (DT). Saya lebih
mendasarkan kepada istikharah, satu tahun, kurang lebih. Kalau baik,
mudahkan...kalau tidak baik, jangan pernah terjadi. Saya tidak memilih
karena saya mencintai berlebih. Tidak bisa dipungkiri Alfarini dikaruniai
sesuatu yang menarik perhatian, tetapi .(ada satu kata yang tidak
jelas)...sadar, saya tidak mau hanya karena itu.
Nah, rekan-rekan sekalian. Alfarini usianya hari ini genap 38 tahun.
Alfarini, kakeknya adalah...neneknya adik-kakak dengan orangtuanya pak
Habibie. Jadi, ini lahir di keluarga besar pak Habibie. SD, SMP nya di
Al-Azhar, SMA di Surabaya, kuliah di UNAIR. Yang saya dengar, memiliki
kecerdasan memadai, tanding dengan teh Ninih yang tidak pernah rangking 2,
kecuali rangking 1 terus. IP nya 3,6. Saya pilih, diantara hikmahnya adalah
karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi situasi-situasi yang sangat
berat dalam kehidupannya. Ibunya sudah stroke, ayahnya sudah uzur, pikun.
Dia harus memikul tanggung jawab atas keluarganya seorang diri. Sudah
janda, anaknya 3, usianya selisih setahun dengan istri saya. Dan teruji
dalam situasi yang saaangat berat seperti ini, dimana saya tidak bisa
mendampingi teh Rini dihina, dicaci, dimaki begitu banyak orang, dia harus
menghadapinya seorang diri. Maha Suci Allah, yang membuka sedikit demi
sedikit hikmah.
Sahabat saya Hari Sudarsono, yang membangun pesantren ini dari awal, baru
saya tahu bahwa itu adalah saudara dekatnya, dan beliaulah, Hari Sudarsono
lah yang menceritakan. Jadi, kalau selama ini ada informasi yang simpang
siur, siapakah wanita ini? Jangan...jangan disisipkan intel dan sebagainya.
Semakin lama, semakin saya kenali, Qiyamul Lailnya, standarnya adalah jam
setengah 2 pagi, jam 2 pagi. Kesabarannya, alhamdulillah, saya syukuri.
Tentu banyak kekurangan-kekurang an sebagai manusia, tetapi sesudah ijab
qabul, saya sebagai suaminya memikul tanggung jawab untuk bisa membuat
istri saya ini menjadi bagian dari dakwah ini. Mudah-mudahan Teteh bisa
menjadi Kakak, berikut gurunya. Saya harap saudara tidak berburuk sangka
kepada istri saya yang kedua ini. Dia adalah bagian dari takdir ini, teteh
akan berubah menjadi lebih baik, insya Allah, syariatnya hadirnya Rini.
Anak-anak saya lebih dekat dengan Allah, syariatnya dengan hadirnya
Alfarini. Saya bisa belajar untuk terus
mengubah diri, syariatnya adalah ditakdirkannya ada wanita bernama
Alfarini.
Kenapa tidak dipilih dari anak Kyai yang sudah jadi? Mungkin takdir ini
membuktikan bahwa menikahi itu harus bertanggung jawab memperbaiki, maaf,
meningkatkan. Teh Ninih orangtuanya ulama, sudah jadi dari awal, saya hanya
tinggal memoles. Alfarini, pengetahuan agamanya tidak sebanyak
saudara-saudara, namun banyak juga pengetahuan dan pengalaman lainnya yang
mungkin saudara belum memiliki. (sampai sini, rekaman terputus...)
13 December 2006
Aa Gym (tak) selalu Jujur
ENTAH rasa semacam apa yang berkecamuk di batin Aa Gym ketika mengetahui media massa mengabarkan dirinya menikah lagi dengan seorang perempuan sementara dirinya tidak ingin berita itu disebarluaskan. Mungkin marah dan kecewa. Ia tak hanya kehilangan kepercayaan, tapi juga mendapatkan umpatan kata-kata kotor dari orang-orang yang mengaguminya selama ini. Reputasinya hancur!
Aa Gym sewajarnya memang layak marah dan kecewa, seperti halnya manusia kebanyakan ketika tengah dilanda kesulitan. Marah, nafsu adalah manusiawi. Tapi sayangnya Aa selama ini telah terlanjur dikenalkan dengan sosok sabar melalui layar televisi kepada para pemirsa. Maka ketika tampil di depan pemirsa sebisa mungkin dia akan menutupi kekurangan agar bisa tampil sempurna.
Inilah masalahnya. Orang selama ini hanya mengenal Aa Gym dari satu sisi, yakni Aa Gym sebagai da'i. Padahal seperti halnya manusia lain, dia juga manusia biasa. Dia suami bagi istrinya, ayah bagi anak-anaknya, kakak dari adik-adiknya, dan lain-lain. Dalam ranah ini Aa Gym tentunya juga melakukan interaksi yang sama dilakukan oleh orang kebanyakan.
Apakah dia suami yang baik, ayah yang sayang kepada anak-anaknya, kesimpulan ini bisa kita dapatkan jika kita melihat interaksi secara langsung bagaimana Aa Gym berlaku dengan orang-orang disekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah orang akan mengenakan topeng tertentu, dan kemudian melepasnya dengan mengganti topeng yang lain sesuai peran yang tengah dia mainkan?
Membicarakan Aa Gym tentu saja tidak sama dengan menyejajarkan kyai di desa yang juga sama-sama menjadi tokoh agama. Aa Gym bukan saja menjadi dai, tapi dia melalui tayangan televisi itu telah direkonstruksi menjadi selebriti. Gosip yang menimpa kehidupan kesehariannya akan menjadi bahan perbincangan hangat dari ibu-ibu arisan sampai pedagang di pasar.
Bahkan poligami yang dilakukan Aa Gym sempat merepotkan pemerintah sehingga merasa perlu menyusun RUU yang mengatur tentang poligami. Poligami tiba-tiba saja menjadi masalah serius!
Namun ketika orang melihat Aa Gym sebagai dai bukan sebagai individu, maka masalah poligami bukan saja menjadi cela bagi pribadi Aa Gym tapi juga menyeret institusi dakwah yang ditungganginya. Lembaga dakwah secara umum juga terkena imbas dari celas akibat poligami yang dilakukan oleh Aa Gym. Kyai yang ada di desa-desa pun terkena getahnya. Masyarakat luas menjadi skeptis kepada para tokoh agama.
Aa Gym memang punya alasan kenapa melakukan poligami. Kita (orang awam) yang menonton televisi tak akan pernah tau apa motivasi Aa Gym yang sebenarnya. Di televisi Aa Gym bisa berkata poligami yang dilakukannya atas dasar untuk menolong dengan dalil agama sebagai dalih pembenaran. Ya, Aa Gym telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sesuai peran yang ia mainkan yakni sebagai tokoh yang baik, sabar, dan senantiasa mengajarkan kebaikan.
Persoalan jujur atau tidak, hanya Aa Gym dan tuhan yang tahu niat apa yang mendorongnya melakukan poligami. Hati tak pernah bohong, tidak seperti mulut maupun wajah yang bisa saja dibuat-buat.
25 October 2006
Yang Luput di Hari Lebaran
Berkirim SMS di hari Lebaran merupakan media yang paling banyak dipilih orang. Ini memang bukan berdasarkan survei, tapi saya sendiri adalah salah satu korbannya. Selain mengirim SMS lebaran ke beberapa teman, saya juga menerima puluhan SMS lebaran yang jumlahnya sampai tak tertampung di kotak pesan yang disediakan ponsel saya.
Bunyinya macam-macam. Dari SMS lucu, sampai yang berisi kata-kata puitis. Iseng-iseng saya membaca-baca ulang SMS-SMS itu, eh ternyata ada beberapa yang mirip. Saya tak tahu pasti, dari mana mereka mendapatkan inspirasi SMS-SMS itu. Mungkin saja mereka memanfaatkan layanan content SMS.
Saya berpikir, ternyata kebanyakan orang punya bakat menciptakan kata-kata puitis, yang kadang narsis juga. Tapi nggak ada yang salah juga dengan narsis, karena dari situ seseorang jadi bisa berefleksi.
Kalau saya pribadi memilih SMS sebagai media untuk mengucapkan lebaran karena beberapa alasan. Pertama, jelas saja hemat biaya, jika dibanding dengan biaya untuk menelpon apalagi berkunjung ke tempat yang bersangkutan, atau mengirim kartu ucapan Lebaran. Tapi repot juga, operator yang saya pakai bermasalah beberapa pekan ini. Memang tarif yang dipasang lumayan murah, tapi banyak pesan yang tidak sampai ke tujuan.
Kedua, dengan SMS kita bisa menyampaikan pesan secara lebih bebas dan privat. Bebas maksudnya, jika mungkin saja anda tak bisa mengungkapkannya dengan berbicara langsung maupun lewat telepon, maka dengan SMS anda tak perlu malu. Biarlah kata-kata yang berbicara. Eits, tapi menjadi tidak bebas, karena fasilitas SMS untuk beberapa ponsel dibatasi jumlah maksimal karakternya.
Privat, dengan SMS anda bisa menyampaikan langsung ke orang yang dituju. Kecuali kalau anda salah menirim. Coba kalau anda menitipkannya ke orang lain, ada kemungkinan pesan anda akan dibaca dulu, he2. Jadi nggak aman kan.
Nah, bagaimana jika dari sekian SMS yang anda kirim ke teman-teman anda itu, ternyata ada yang kelupaan. Dan ternyata yang tidak dikirimi ini justru seseorang yang spesial buat anda: mantan pacar, teman sebangku waktu sekolah, guru favorit, gebetan atau target baru.....
Kejadian seperti ini seharusnya jangan sampai terulang, karena ini bisa mengurangi rasa respek seseorang itu kepada kita. Ya, kalaupun itu terjadi, namanya juga manusia, apalagi alatnya juga buatan manusia pula, ya berilah alasan yang agak masuk akal.
Anda bisa mengatakan, "I am so sorry, Jaringan lagi error", "HP kemaren lagi rusak, lowbat" atau alasan yang agak masuk akal lainnya. Tapi, jangan bilang "eh sori, aku lupa nomor kamu", atau "maaf, kemarin lagi nggak punya pulsa".
Bagaimana jika alasan yang masuk akal itu tidak sesuai realita. Sekarang pilih mana, anda dianggap nggak masuk akal, atau dicap pelit berkirim SMS?
Saya punya pengalaman menarik dari sekian SMS Lebaran yang saya terima. Salah satu SMS itu ternyata dikirim oleh seseorang yang selama ini sering saya cueki. Dari sini, saya jadi bisa belajar betapa pentingnya arti maaf-memaafkan di hari Lebaran, yang meski cuma dirayakan lewat tradisi berkirim SMS.
Barangkali ada teman yang belum saya sapa, buat siapa saja yang mengenal saya, untuk orang yang tengah membaca tulisan ini, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1427 H bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan bathin, mohon dimaafkan segala kesalahan saya.
*Versi lain bisa disimak di http://embunkehidupan.blogspot.com