Edgar Allan Poe lahir dari pasangan David Poe dan Elizabeth Arnold Hopkins. Kedua orang tuanya pemain teater. Edgar menjadi yatim piatu dalam usianya yang relatif masih sangat muda. Dia diangkat dan dirawat oleh keluarga Tuan dan Nyonya Allan Sewaktu berusia dua tahun. Edgar seorang bocah yang memiliki pemikiran yang cerdas. Dia mampu menampung detail-detail, pengalaman serta impresi yang dijumpainya dalam pikirannya, seakan dia tahu kelak akan memerlukannya.
Edgar tumbuh besar bersama ayah angkat yang tidak menyayanginya. Beruntung ibunya tidak demikian. Sayang sekali Tuan Allan tidak melihat sisi kejeniusan Edgar kecil. Kejeniusan Edgar terlihat dari setiap karya puisinya. Nyonya Allan selalu ingin dibacakan puisi Edgar dan yang terbaru tentunya.
Sewaktu kecil dia sangat disenangi teman-temanya. Dia selalu menjadi panutan dan kebanggaan teman-temanya. Dia senang berolahraga.
Kepedihan dan terjalnya kehidupan dia lalui tanpa menyerah. Ayahnya mengirimya ke Universitas Virginia. Tak seperti kawan -kawanya yang diberikan banyak uang orang tuanya tanpa tahu digunakan untuk apa, Edgar hanya diberikan uang tanpa cukup untuk bisa membiayai kuliahnya. Inilah awal dia menyentuh minuman keras dan perjudian. Dia mulai mengikuti temanya berjudi berharap menang, tapi selalu kalah. Sesekali dia juga minum minuman keras. Dia banyak berhutang kepada orang lain. Meskipun ayahnya sudah diberi tahu olehnya kalau dia banyak hutang, ayahnya tetap tidak mau memberinya uang.
Kesengsaraan Edgar diperparah setelah kematian ibundanya, orang yang selalu menyayanginya. Dia terusir dari rumah tanpa mendapatkan apa-apa dari ayahnya. Tapi dia tetap tidak menyerah. Dia ingin menerbitkan kumpulan puisi dan ceritanya dalam bentuk buku. Tetapi selalu ditolak. Meskipun puisinya mendapatkan pujian yang luar biasa dari bnayak orang tapi tetap tidak ada yang mau menerbitkannya.
Karya-karya Edgar menceritakan tentang terror dan kematian. Dia membuat puisi untuk seorang perempuan yang dicintainya yang telah meninggal dunia. Puisi-puisinya mencerminkan indahnya pertemuan dengan sosok perempuan yang “sempurna” yang akhirnya direnggut perpisahan.
Edgar, seorang pecinta sains dan pengamat lapangan yang teliti, yang mampu menuliskan pikiran-pikiranya dengan detail . Karya-karyanya dianggap mampu menerobos waktu. Di saat kondisi fisiknya menurun, kegigihanya untuk mencipta sebuahkarya yang menurutnya “karya tersulit yang pernah dibuatnya”, melahirkan tulisan bertajuk Eureka (1848). Eureka , tulisan controversial, merupakan karya yang berkaitan dengan teori –teori Poe tentang berbagai penemuan sains yang (diimajinasikan) bakal terjadi di masa depan.
Berbagai tragedi kebrangkutan serta kemiskinan menderanya tak henti-henti. Akhirnya 7 Oktober 1949, Edgar terbating tentram dan sentosa seakan dia telah melewati lautan badai. Dia meninggal dunia dengan damai.
Sepenggal kisah itu termuat dalam buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi dan diterbitkan oleh Penerbit Interlude Yogyakarta.
Buku tersebut akan didiskusikan dan dibedah pada Selasa (8/1) pukul 09.00 WIB di Joglo Fakultas Sastra Undip Semarang.
Akan hadir sebagai pembicara, Siswo Harsono dosen Sastra Inggris FS Undip, Aulia Muhammad peminat dan pemerhati sastra yang juga Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News dan Tia Setiadi penerjemah buku.
Siswo Harsono akan mengupas buku dari sudut pandang seorang kritikus sastra. Dosen Sastra Inggris Undip itu akan mengajak audiens untuk membicarakan biografi sebagai sebuah kritik sastra. Aulia Muhamad akan membahas dari sudut peminat karya sastra yang membaca karya Edgar Allan Poe. Tia Setiadi selaku penerjemah buku akan bercerita lebih banyak mengenai proses penyusunan buku dari naskah asalnya.
Kegiatan ini terseselenggara atas kerjasama LPM Hayamwuruk, Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra Undip dengan Penerbit Interlude Yogkarta. [ditulis oleh Eka Harisma]
*Untuk informasi kegiatan hubungi:
Gema Yudha: 081575339498
Zumala Nahari : 08882529244
07 January 2008
Diskusi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya
05 June 2007
Pengorbanan yang Sia-sia
Sebuah pengakuan keluarga korban NII
Tubuh Evi lemas seketika mendengar ucapan Gonggo. Evi tak habis pikir, pengorbanan yang dilakukan selama ini dibalas dengan perlakuan yang tak semestinya dia terima. Perlakuan kasar seorang adik kepada kakak, setelah sang kakak mati-matian mengusahakan uang pinjaman sampai kuliah pun menjadi berantakan.
"Sudah baca SMS-ku," tanya Evi kepada Gonggo yang duduk berhadapan di satu meja di sebuah kantin di salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
Gubraaaaakkk!!!... Tangan Gonggo menggebrak meja. Dia berdiri dari tempat duduknya. Matanya melotot. "Anda salah datang ke Jogja. Kita tertawa pas waktu baca SMS anda," jawabnya lantang dengan mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah muka Evi.
Dari ucapannya itu, menurut Evi sepertinya Gonggo sudah tak menganggap lagi Evi sebagai kakaknya. Dia menyebut "Evi" dengan "Anda". Yang membuat Evi penasaran adalah kata 'Kita',"...Kita Tertawa," kata Gonggo kepada Evi. Siapa Kita itu, dia dan siapa?
"Saat itu, aku hanya diam saja. Mie yang sudah dipesan nggak aku makan. Nggak nafsu lagi," kenang Evi.
****
Drama perseteruan kakak dan adik ini dimulai sejak pertengahan 2006, sekitar satu tahun silam. Suatu hari Gonggo datang ke Semarang untuk menemui Evi. Waktu itu Gonggo masih berstatus sebagai mahasiswa semester III di Fakultas Kehutanan UGM. Gonggo datang dengan muka memelas. Dia mengaku habis menghilangkan kamera milik temannya yang harganya mencapai 5 jutaan. Ia berbicara sambil menitikan air mata. Evi percaya. Dia kasihan melihat adiknya.
Kepada Gonggo Evi bilang akan membantu meminjamkan uang. Jawabannya ini diberikan untuk menyenangkan sang adik. Padahal saat itu Evi tak mempunyai cukup uang sejumlah yang dibutuhkan Gonggo. Evi akan menyanggupinya, entah ke mana dia akan mencari pinjaman, saat itu belum terpikirkan.
Belum lunas Evi membayar cicilan utang, Gonggo datang lagi dengan keinginan yang sama: butuh uang. Kali ini untuk biaya reparasi motor temannya. Ia baru saja kecelakaan dengan mengendarai motor milik teman. Beruntung dia tidak mengalami luka serius. Untuk yang kedua kalinya, Evi tak bisa mengelak. Di matanya Gonggo adalah seorang adik yang baik. Dia juga penurut.
Namun kebiasaan meminjam uang makin kerap dilakukan Gonggo. Dan yang menjadi tumpuan adalah sang Kakak. Barangkali Gonggo sungkan jika harus berurusan dengan bapak-ibunya. Evi mulai menaruh curiga. Ada yang tak beres dengan adiknya. Dia kerap pinjam uang. Dia juga sering bilang sedang ada di Semarang. Untuk apa, bagaimana dengan kuliahnya di Yogya, apa dia nggak kuliah?
Tak selang lama, keluarga Evi di kampungnya di sebuah desa di Kecamatan Juwono, Pati, Jawa Tengah mengeluh karena Gonggo sudah lama tak pulang ke rumah. Padahal saat itu kuliah sedang libur habis ujian semester. Kepada orang tuanya Gonggo mengaku tidak bisa pulang ke rumah karena dia mengikuti semester pendek. Kecemasan orang tua makin menjadi karena belakangan nomor handphone anaknya itu tak bisa dihubungi lagi.
Menurut Evi, adiknya itu sering menggunakan nomor-nomor yang berbeda untuk mengirim SMS kepadanya. Evi juga mulai kesulitan kemana harus menghubungi sang adik.
Dari hasil informasi yang dilacak oleh paman Evi yang berada di Jogja, diketahui Gonggo tidak mengikuti semester pendek. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Gonggo telah absen satu semester. Bagian akademik menerangkan Gonggo mangkir. Mendapati informasi ini, sang paman langsung pulang menemui orang tua Gonggo di kampungnya di Pati. Keluarga sangat terkejut. Evi yang berada di Semarang dikontak. Saat itu juga Evi pulang. Esoknya mereka kemudian ke Jogja.
Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju ke Fakultas Kehutanan di mana Gonggo kuliah. Bersama orang tuanya, Evi menuju ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiwa) di fakultas itu. Mereka ditemui oleh pengurus BEM. Evi menyampaikan maksud kedatangannya. Dari pengurus BEM itu diketahui jika adik Evi ada kemungkinan terlibat gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Menurut pengurus BEM, sudah ada tiga korban di fakultas itu.
Kemudian mereka menemui bagian akademik, memastikan status Gonggo. Ternyata memang benar, Gonggo sudah mangkir satu semester. Pihak orang tua memohon pengertian pihak kampus agar tidak memberikan skorsing kepada Gonggo. Mereka bahkan sampai menemui pihak rektorat. Mereka menyampaikan jika Gonggo ada kemungkinan menjadi korban NII. Mereka mengusulkan untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Namun usul ini ditolak oleh UGM. Rektorat kuatir dengan dilaporkannya ke kepolisian nanti akan diekspos oleh media, dan nama UGM bisa tercemar. Mereka memilih orang tua Gonggo bisa menyelesaikan secara kekeluargaan. Rektorat akan memberikan kesempatan Gonggo untuk kuliah kembali. Status mangkirnya akan dihitung cuti.
Jawaban pihak rektorat UGM yang memberikan kesempatan kepada Gonggo untuk dapat kuliah kembali memang cukup bijak. Namun penolakan usulan pihak orang tua Gonggo yang ingin melaporkan NII ke kepolisian, jelas sangat egois. Bagaimana tidak, yang dipikirkan adalah nama baik, bukan nasib sivitas akademiknya!
Setelah itu, mereka segera mencari Gonggo dan akhirnya bisa bertemu. Mereka bertemu di kantin kampus. Kepada bapak dan ibunya Gonggo membantah dirinya tidak terlibat dengan NII. Padahal sang bapak mengancam akan melaporkannya ke kepolisian. Tapi dijawab dengan enteng oleh Gonggo. "Kalau nggak percaya, ya sudah!"
Evi mencoba berbicara empat-mata dengan adiknya. Tapi ia mendapati jawaban yang sungguh sangat tidak dia perkirakan sebelumnya.
"Aku nggak habis pikir dia tega banget melakukan itu semua. Aku sudah mati-matian cari hutangan, kuliah kutinggal untuk menutup hutang, itu semuanya demi dia, kok dia membalasnya seperti itu. Ternyata selama ini dia bohong..." tutur Evi kepada saya belum lama ini di kompleks PKM Fakultas Sastra Undip.
Evi adalah mahasiswa D III Inggris angkatan 2003. Saat ini berarti dia sudah semester
ke-10. Padahal batas waktu maksimal untuk mahasiswa D III adalah 10 semester. Beruntung dia masih punya sisa satu semester karena sebelumnya dia pernah cuti kuliah.
"Aku sudah capek mengurusi adiku. Saat ini aku harus menyelesaikan kuliah sambil bekerja untuk membayar hutang," ucapnya. Tampak senyum kecut di wajahnya yang dibalut jilbab.
Apakah orang tua Evi mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk sang adik?
"Aku sengaja tak memberitahu orang tua. Nanti mereka bisa syok," jawabnya.
Ya, mereka akan syok bahwa ternyata Gonggo sudah melakukan sejauh itu. Bukan malah membela Evi yang kini kesusahan, mereka malah bisa menyalahkannya karena meminjami uang untuk adiknya. Dan yang parah, si bapak akan kembali mengungkit-ungkit masalah lama. Si bapak ini rupanya punya dendam dengan Islam. Ia ingin sekali anak-anaknya memeluk kepercayaan yang dia anut, kepercayaan "kejawen".
Hari sudah sore. Di ruangan tempat kami ngobrol cukup panas. Sepertinya Evi mulai kelelahan setelah bercerita beberapa jam lamanya. Sesekali ia menyeka butiran-butiran keringat yang bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar lelah, lelah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang menimpa adiknya. Saya meminjami sebuah buku berjudul "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!" karya Muhidin M Dahlan, sebuah novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi korban NII. Saya juga menjanjikan akan memberinya beberapa berita yang saya kliping. Saya kira dia perlu banyak informasi tentang NII. Besok, pada jam yang sama, kami akan bertemu lagi.
Silakan baca tulisan terkait:
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/negara-islam-yang-meresahkan.html
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/05/mem-polisi-kan-gerakan-nii-kw9.html
08 May 2007
Mem-"polisi"-kan Gerakan NII KW9
Topik berjudul "Negara Islam yang Meresahkan" yang diposting di salah satu milis mahasiswa Sastra Undip belum lama ini mendapat tanggapan dari beberapa anggota. Salah satunya mengusulkan agar gerakan yang menamakan dirinya Negara Karunia Alloh (NKA) itu dilaporkan ke pihak kepolisian.
"Memang maresahkan kedengarannya ! Setelah membaca tulisan tersebut tersirat akan solusi apa yang bisa ditawarkan atas masalah tersebut. Bisa gak masalah tersebut dimintakan pendapat pada tokoh yang mempunyai otoritas untuk menanggapinya ? Tidakan apa yang harus dilakukan, pencegahan atau perlawanan. Bisa gak ditinjau dari segi hukum, apakah bisa dipolisikan gerakan /tindakan seperti itu untuk mencegah jatuhnyanya korban lebih banyak," tulis salah seorang anggota milis.
Penulis yang melontarkan diskusi memberikan jawaban yang cukup panjang. Berikut ini jawabannya atas pertanyaan di atas :
Kalau sepengamatanku, kasus itu sudah cukup kuat untuk di-"polisi"-kan. Tanpa memperdebatkan apa itu nama organisasi dan segala macam ideologinya, apa yang dilakukan oleh pelaku (yang diduga kuat sudah menjadi anggota NKI KW9 alias NII Al Zaytun alias NKA (Negara Karunia Alloh) sudah bisa dikatagorikan sebagai bentuk penipuan.
Aku sudah kepikir untuk membawa kasus ini ke pihak fakultas. Tapi kuurungkan. Pasalnya, si pelaku (ada dua) yang kuduga telah menjadi anggota NII itu adalah orang yang pernah dekat denganku. Salah satunya adalah ******. Belakangan memang sudah tak aktif lagi. Aku juga tahu siapa dia, background dia yang dari Demak, dll. Maka, aku mencoba untuk melakukan pendekatan, mengajaknya ngobrol dulu.
Setelah mengetahui jatuhnya korban, dan yang terakhir kudengar adalah anak ***** 2006, aku mulai ambil tindakan. Aku temui dia. Mengajaknya ngobrol. Sampai ke permasalahan. Tapi dia tak mau mengakui. Dia berkelit. Oke, aku pakai cara lain, sambil mengumpulkan informasi
lagi. Sementara waktu agar tidak jatuh korban, aku minta teman-teman **** menempel-nempel dan membagi-bagikan selebaran tentang info masuknya NII ini.
Aku mendiskusikan masalah itu bersama teman-teman komunitas PKM belakang. Disepakati skenario "mengadili" pelaku. Si pelaku di bawa ke salah satu ruang PKM, di rencanakan di **** yang sepi, di pojok, jadi nggak mengundang perhatian orang di belakang. Tapi rencana ini belum
sempat dilaksanakan, karena salah seorang teman yang merupakan teman pondok si pelaku sewaktu di Jepara punya cara yang waktu kedengarannya cukup masuk akal. Dia mengaku cukup tahu si pelaku. Dia kemudian mengajak si pelaku ke kontrakannya. Tapi tetap saja, si pelaku tak mau mengaku. Malah pura-pura tak tahu.
Jujur, aku sebenarnya sangat kasian pada si pelaku. Maka aku melakukan pendekatan lagi. Aku menemuinya dan mengatakan bahwa kasusnya sudah diketahui fakultas. Memang benar, kasus ini sudah menjadi pembicaraan luas. Aku juga pernah ditanya salah seorang dosen, tapi kubilang masih aman, dan aku juga tak menyebutkan siapa si pelaku itu.
Aku bilang, terserah kau tak mau mengaku. Tapi percuma saja. Fakultas sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan, atau memang fakultas mencari tahu sendiri. Dan aku yakin, kau tak akan bisa berkelit lagi. Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan didatangkan sebagai saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit lagi?
Kalau kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat. Dan kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini, kau sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan bagaimana ketika orang tuamu di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu itu?
Kalau memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan rekruitmen secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang sekarang sudah zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Kemudian soal iuran anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM berkedok agama. Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal sebelumnya kau tak seperti ini.
Kalau kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah ajaran agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini sudah sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari organisasi sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain. Apa yang hendak kau
cari, kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara Islam itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau membaca sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan untukmu.
Berkali-kali kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang mengetahui aktivitas pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap menganggapmu teman, yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti kau salah. Aku cuma benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai dirimu. Kau kini menjadi suka berbohong, tega memeras teman".
Dia terdiam cukup lama. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia mengangkat mukanya. "Aku minta waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.
Tiga hari sudah berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi usahaku cukup berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang, mereka sudah menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah memberikan pernyataan keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih
memantaunya dari kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani macam-macam, maka aku akan kontak orang tuamu.
Hmmm...dari cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih ada anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk lebih dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak tercium karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya mencari anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota NII yang dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa informasi yang kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus di Semarang. Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua PTN di Semarang ini, juga sudah menjadi target operasi NII.
Kembali ke usulan untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni dengan mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang teman yang terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah seorang temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak dikembalikan. HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga Rp 500 ribu. Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan mengembalikan kepadanya.
Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal karena pelaku sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung, tetangga rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi. Pelaku mengatakan, jika dia meminta HP itu secara baik-baik dan si pemilik mengikhlaskannya.
"Jadi kalau dia tega melakukan itu, kanapa aku tidak tega melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah benar-benar rusak, dicuci otaknya. Teman sendiri tega ditipunya," tuturnya yang ditirukan oleh salah seorang teman yang bercerita kepada saya.
Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi. Saya tahu dia dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita dari beberapa teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin terjerumus dalam aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang melaporkannya. Mungkin langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan memutus jatuhnya korban baru.
[Catatan: Beberapa bagian saya beri tanda ****. Dalam pesan aslinya di milis ditulis jelas. Pertimbangan saya, karena blog ini diperuntukkan untuk umum, maka hal-hal yang sifatnya privat tidak saya publikasikan. Dan ini sesuai permintaan si penulis ketika saya konfirmasi bahwa pesan yang dipostingnya akan saya muat di blog.]
29 April 2007
Penyair Senantiasa Muda
SUATU ketika Aulia A Muhammad mengirim sepenggal puisi ke blog (situs internet pribadi-Red) seorang penyair lumayan ternama. Kepadanya dia meminta komentar atau penilaian atas puisi itu. Tak seberapa lama, sang penyair pun memberi jawaban. Puisi kiriman Aulia dikritik habis, dikatakan jelek dan belum mencapai kedalaman makna.
Rupa-rupanya, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews itu tengah iseng. Puisi yang dia kirim bukan miliknya melainkan karya Goenawan Muhammad. Setelah hal itu diutarakan, sang penyair kaget bukan kepalang. Dia buru-buru meminta maaf dan berharap proses dialog mereka dilupakan.
Aulia mengisahkan pengalaman tersebut dalam diskusi "Mengukir Dunia dengan Sastra, Membaca Geliat Penyair Muda" di Ruang E 103 Fakultas Sastra Undip, Sabtu (28/4).
Dengan kisah itu, dia hendak mengatakan bahwa tafsir seseorang terhadap puisi amat dipengaruhi oleh praduga. Orang kerap terbayangi oleh merek dan nama.
Nilai puisi seolah linear dengan popularitas penciptanya. Labelisasi penyair semacam itu menyesatkan cara pandang seseorang terhadap puisi. Semestinya, kata dia, puisi harus disikapi dari teks semata.
Dalam diskusi yang dipandu Muhammad Sulhanudin itu, Aulia melakukan uji coba serupa. Dia cantumkan penggalan puisi dari beberapa penyair dan meminta hadirin memberi penilaian.
Seperti Aulia, An Ismanto juga menolak polaritas tua-muda dalam sastra berbasis usia. Parameter tua muda semestinya dilihat dari teks yang dihasilkannya.
Regenerasi
Penyair asal Yogyakarta itu lantas mencontohkan Iman Budi Santosa. Meski usianya tak lagi muda, teks-teks Iman mempunyai semangat dan daya hidup luar biasa.
"Itulah penyair muda sebenar-benarnya. Polemik soal penyair muda dan penyair tua tidak signifikan bagi puisi karena setiap penyair pada hakikatnya senantiasa muda," kata Ismanto.
Diskusi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Undip dalam rangka "Peringatan Chairil Anwar 2007" itu memang menyoal seputar generasi dalam kesusastraan Indonesia. Adin, pegiat Komunitas Sastra Hysteria, memapar contoh kegagalan regenerasi kepenyairan di Semarang. Menurutnya, setelah S Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo, kota ini tak lagi melahirkan penyair baru yang berkualitas setara.
Kondisi itu, kata Adin, terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya matinya tradisi komunitas, ketiadaan pamomong, kemandulan dewan kesenian, dan ketidakberpihakan media massa.
Untuk memunculkan kembali Semarang dalam peta kesusastraan Indonesia, para penyair muda harus berdaya upaya melakukan ikhtiar swadaya.
Sementara Ridho Al Qodri, aktivis Buletin Sastra Pawon Surakarta, membedah kecenderungan puisi penyair muda. Menurutnya, puisi-puisi mereka masih berupa penggambaran subjektivitas individual.
[catatan: tulisan ini adalah liputan hasil diskusi "Membaca Geliat Penyair Muda" yang ditulis oleh Rukardi, wartawan Suara Merdeka. Saya menulis laporan yang lebih detil yang akan dimuat di blog ini, menyusul.....]
07 January 2006
Kuliah Sambil Kerja, Why Not?
Kuliah sambil kerja bukan hal baru lagi di kalangan mahasiswa. Beragam alasan melatarbelakanginya. Dari yang cuma iseng, sampai karena faktor ekonomi.
Saya beruntung kuliah di jurusan Sastra Inggris. Di sela-sela waktu luang, saya dapat bekerja sambilan menerjemahkan tugas teman dari jurusan ataupun fakultas lain. Saya tak sendirian, banyak teman lain yang juga menekuni kerjaan serupa. Ada pula yang mengajar les privat Bahasa Inggris.
Dari pekerjaan sambilan ini, penghasilan yang diperoleh bisa untuk menambah uang jajan. Bahkan, ada yang digunakan untuk membiayai kuliahnya dari pekerjaannya ini.
Ada kebanggaan ketika mahasiswa bisa mencari duit sendiri. Setidaknya bisa mengurangi beban orang tua. Terutama bagi yang punya masalah ekonomi. Pekerjaan apapun tak jadi soal, yang penting halal. Jangan sampai karena kepepet, membuat kita nekat. Seperti yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa yang mencari penghasilan dengan mengedarkan narkoba, atau (maaf) sampai menjual kehormatannya.
Dari sekian kawan yang saya temui, rata-rata bekeja karena dorongan ekonomi. Namun ada yang punya alasan menarik. Kawan yang satu ini rela menanggalkan status keluarganya, yang terbilang berkecukupan, karena keinginannya untuk berlatih mandiri dan mencari pengalaman.
Apapun alasannya, selama pekerjaan itu ditekuni dengan baik, mahasiswa bisa mendapat pelajaran dari pekerjaannya. Kenapa pengalaman seperti ini penting bagi mahasiswa, apakah yang disampaikan dosen di kampus belum cukup? Alasannya sederhana, tidak semua pengetahuan diajarkan di bangku kuliah, sehingga mahasiswa perlu mencarinya sendiri dari dunia luar, diantaranya dengan bekerja.
Lulus cepat bukan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan ketika mahasiswa belum punya cukup kompetensi. Kecuali bila pekerjaan sudah dijamin oleh orang tua. Idealnya, lulus tidak telat pengalaman juga dapat. Oleh karena itu, mumpung masih kuliah, cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Jangan menutup diri dari pergaulan, bangun jaringan dengan teman-teman di kampus. Siapa tahu dari mereka terbuka akses pekerjaan.
Ada banyak lahan untuk menempa diri selain dengan dengan bekerja. Diantaranya dengan melibatkan diri dalam kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa dapat bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus, yang sesuai dengan minat dan keahliannya. Syukur-syukur dari sini bisa menunjang pekerjaannya kelak.
Tapi perlu diwaspadai, pekerjaan bisa membuat mahasiswa lalai akan tugas utamanya, yakni belajar. Karena merasa sudah bisa mencari duit sendiri, kemudian ia menyepelekan kuliah. Kuliah dikerjakan sambil lalu karena dianggap tak terlalu penting. Asal bisa lulus dan dapat ijazah, sudah cukup.
Cara pandang seperti itu sebaiknya harus segera ditinggalkan. Bekerja penting untuk menyambung biaya kuliah bagi yang masih kekurangan. Bekerja juga penting untuk menambah pengalaman dan mematangkan diri sebelum masuk ke persaingan dunia kerja yang sebenarnya. Tapi ingat, kuliah tetap yang utama.
Namanya juga bekerja sambil kuliah. Jangan dibalik menjadi bekerja sambil kuliah karena kuliah akan dijadikan sebagai prioritas kedua setelah bekerja. Di sini mahasiswa harus pintar-pintar bagi waktu agar bisa bekerja tapi tidak mengganggu kuliah.
Agar keduanya bisa berjalan seimbang, perlu disiapkan strategi. Bagi mahasiswa semester awal, sebaiknya jangan mengambil pekerjaan yang menyita banyak waktu. Baiknya memang konsen kuliah saja dulu karena jadwal kuliah masih padat. Kalau kepepet karena butuh dana, cari pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan paroh waktu. Baru setelah jam kuliah mulai luang, silakan kalau mau menekuni kerja, atau lebih serius magang ke instansi atau perusahaan yang tidak jauh dari gambaran profesinya.
Syukur, ketika jam kuliah mulai cukup luang, saya sekarang bisa mencicil magang kerja sambil menyelesaikan studi. Ini juga tak lepas dari aktivitas di organisasi mahasiswa yang saya tekuni selama ini. Keduanya, bekerja dan aktif di kegiatan kemahasiswaan, sangat berguna. Dari sana kita bisa mendapat banyak pelajaran berharga yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan.
08 December 2005
DILEMA SARJANA TANPA SKRIPSI
Oleh Muhamad Sulhanudin*
Pembukaan jalur non-skripsi bagi mahasiswa strata 1 (S1) dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan. Diantaranya akan adanya tumpang-tindih kurikulum antara mahasiswa strata 1 (S1) dan mahasiswa program diploma yang pada akhirnya akan membelokan orientasi pendidikan mahasiswa S1.
Diduga pembukaan jalur non-skripsi tersebut untuk memudahkan kelulusan mahasiswa. Orang jamak tentu sudah mafhum bila skripsi selama ini menjadi momok penghambat kelulusan mahasiswa S1. Dengan dibukanya jalur non skripsi ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan tersebut.
Namun, Agus Subiyanto, ketua jurusan Sastra Inggris Undip, mempunyai pertimbangan lain. Tidak semua lulusan S1 membutuhkan pengalaman penelitian ketika mereka terjun ke dunia kerja. Sebagai pengganti skripsi, mahasiswa dibekali matakuliah penunjang keahlian (soft skill) untuk bersaing dalam dunia kerja.
Jurusan Sastra Inggris Undip memang bukan perintis jalur non-skripsi. Universitas Indonesia (UI) telah lebih dulu membuka jalur ini untuk beberapa jurusan. UI bahkan telah membuka kesempatan bagi lulusan S1 jalur non-skripsi untuk melanjutkan ke jenjang S2. Namun demikian, memang tidak semua perguruan tinggi (PT) menerima lulusan jalur non-skripsi untuk program S2.
Menurut hemat penulis ada dua alasan mengapa mahasiswa S1 perlu menulis skripsi. Pertama, lulusan S1 dipersiapkan untuk menjadi tenaga ahli, sesuai dengan keilmuan yang pernah ditekuni semasa kuliah. Kondisi ini mengharuskan mereka memiliki pengalaman dalam penelitian. Kedua, sejauh ini menulis skripsi masih merupakan sarana efektif bagi mahasiswa untuk mempraktekkan penelitian yang merupakan salah satu poin Tri Dharma perguruan tinggi.
Berbeda dari mahasiswa S1, mahasiswa program diploma dipersiapkan untuk mengisi pos-pos tenaga praktis. Mereka inilah yang nantinya akan mengisi staf-staf ahli di instansi atau perusahaan, misalnya sebagai sekretaris, tenaga administrasi atau PR (Public Relation).
Ditilik dari kurikulum pendidikannya, mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa S1 dan diploma pun berbeda. Di fakultas Sastra Undip, misalnya, perbedaan antara program D III Bahasa Inggris dan S1 Sastra Inggris misalnya terletak pada penggunaan bahasa Inggris. Bagi mahasiswa D III penggunaan bahasa Inggris lebih ditekankan pada kebutuhan praktis sementara bagi mahasiswa S1 sebagai sarana untuk melakukan penelitian.
Pembukaan jalur non-skripsi di jurusan Sastra Inggris Undip tersebut merupakan salah satu imbas dari penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diterapkan pada angkatan 2002. Tujuan utama kurikulum berbasis kompetensi tersebut untuk membantu mahasiswa mendapatkan pekerjaan.
Yang sangat dikhawatirkan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi ini Pembukaan jalur non skripsi ini dimungkinkan akan berpengaruh pada dunia kerja. Pertama, dunia kerja akan lebih memilih lulusan S1 yang memiliki kualifikasi lebih walaupun dengan standar upah yang lebih tinggi. Atau justru sebaliknya, dunia kerja akan lebih memilih lulusan D III ketika ternyata keduanya baik lulusan S1 dan D III tak ada bedanya, dengan begitu mereka bisa lebih menekan pengeluaran untuk membayar upah tenaga kerja.
Dua kemungkinan tersebut sama-sama tidak menguntungkan. Pertama, bila dunia kerja lebih memilih lulusan S1 untuk tenaga praktis, maka akan ada kekurangan tenaga ahli dan akan semakin tersisihnya lulusan D III. Akibatnya banyak lulusan D III menganggur karena lahan pekerjaannya diduduki oleh lulusan S1.
Kedua, dunia kerja lebih memilih lulusan D III untuk menduduki pos-pos tenaga praktis yang memang sudah seharusnya menjadi hak lulusan D III. Akan tetapi perlu diingat, ketika kurikulum berbasis kompetensi diterapkan pada mahasiswa S1, dengan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja bukan keilmuan, tradisi penelitian mahasiswa S1 mulai berkurang. Akhirnya, lulusan S1 seperti ungkapan “hidup segan mati tak mau”. Mereka lemah dalam penelitian, sementara yang mereka dapat tak ada bedanya dengan mahasiswa D III.
Melihat kondisi tersebut perlu ada pembenahan dalam kurikulum berbasis kompetensi ini bila memang masih akan dipertahankan. Adanya tumpang-tindih kurikulum yang berimbas pada orientasi lulusan S1 dan D III, perlu adanya pembatasan yang jelas. Langkah dunia pendidikan merespon perkembangan dunia kerja, seperti yang dilakukan oleh jurusan Sastra Inggris Undip tersebut memang sangat dibutuhkan. Namun jangan kemudian melupakan orientasi dari pendidikan itu sendiri.
*Versi lain diterbitkan oleh Suara Merdeka, Kamis, 8 Desember 2005. Klik di sini
26 November 2005
Demo Mahasiswa di Simpang Jalan
Jargon mahasiswa sebagai agent of social change seringkali diidentikkan dengan aksi demonstrasi turun ke jalan. Meski bukan sebagai satu-satunya cara, demonstrasi masih dianggap sebagai representasi simpati mahasiswa kepada masyarakat luas menyikapi kondisi kehidupan sosial dan politik bangsa secara umum.
Namun, di lain pihak mulai tercium sikap apatis terhadap gerakan mahasiswa di masyarakat. Ada pandangan mahasiswa hanya bisa mengkritik tanpa menawarkan solusi yang realistis. Muncul kekecewaan, karena tuntutan mahasiswa tak membuahkan hasil seperti yang yang diharapkan oleh warga. Hal inilah yang membuat simpati warga terhadap gerakan mahasiswa mulai berkurang.
Menyikapi kondisi tersebut, beberapa pertanyaan bisa diajukan. Misalnya, kenapa mahasiswa tidak berhasil menekan pemerintah saat menaikkan harga BBM, padahal seperti dikatakan oleh mereka akan menyengsarakan rakyat? Apakah pemerintah sekarang sudah tidak takut lagi dengan mahasiswa? Ataukah gerakan mahasiswa sekarang tak sesolid gerakan mahasiswa dulu, misalnya angkatan ‘66 atau angkatan ’98 yang mampu menggulingkan rezim otoriter Orde Baru?
Kemungkinan lain, saya menduga sikap apatis warga tersebut sebagai akibat sikap para mantan aktivis mahasiswa yang duduk di lembaga pemerintahan sekarang ini tidak lagi mencerminkan idealismenya seperti saat masih menjadi mahasiswa. Lantas warga beranggapan jangan-jangan mahasiswa yang sekarang berteriak lantang akan sama seperti pendahulunya ketika masuk ke dalam sistem pemerintahan.
Di atas bukan semata-mata kekhawatiran yang berlebihan. Sudah banyak kasus yang bisa kita jadikan pelajaran. Tidak sulit untuk menyebut nama-nama mantan aktivis kebanggaan mahasiswa terlibat dalam kasus KKN. Sederet nama bisa kita ajukan, dari mantan ketua DPR, sampai mantan ketua KPU.
Seringkali saya mengalami gejolak dalam hati ketika mengkritik orang-orang yang duduk di lembaga pemerintahan. Apakah saya bisa bertahan dengan idealisme saya, sebagai mahasiswa seperti sekarang ini, ketika berada dalam sistem pemerintahan tersebut?
Selama ini mahasiswa dan orang jamak diduga terbiasa mengkritik hanya menggunakan sudut pandang sebagai the outsider. Cobalah masuk ke dalam, sebagai the insider, menempatkan sebagai orang yang dikritik, ada apa sebenarnya sampai mereka yang dulunya memiliki segudang idealisme itu sekarang justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan idealismenya?
Ini sekadar refleksi, agar mahasiswa generasi sekarang ini tidak kembali mengulang sejarah gelap para aktivis mahasiswa pendahulunya. Idealisme selangit sewaktu mahasiswa akan tetapi justru menghianatinya ketika masuk dalam sistem. Pada gilirannya nanti, generasi sekarang akan kembali dihujat oleh generasi selanjutnya ketika kembali melakukan ketidakbecusan dalam mengurus pemerintahan.
Membaca Catatan Seorang Demonstran (LP3S:2005, cet.ulang), Shoe Hok Gie pernah kecewa dengan teman mahasiswanya karena setelah mereka menjadi wakil rakyat justru menjadi penjilat. Dia menolak ajakan temannya untuk terlibat dalam pemerintahan. Bahkan dia dengan tegas menghujat tindakan temannya tersebut.
Catatan Seorang Demonstran diangkat ke dalam film Gie oleh Miles Film, dengan sutradara Mira Lesmana. Soe Hok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra.
Orang juga pasti akan bertanya kenapa Gie kembali menentang rezim kekuasaan baru, setelah berhasil menggulangkan rezim Soekarno. Bukankah dia juga orang yang terlibat dalam menaikan Orde Baru, apakah dia belum puas, kenapa dia selalu menjadi orang yang menentang?
Pemikiran Gie menarik untuk dikaji. Dia lebih memilih berada di luar sistem. Kendati dia berhasil menggulingkan rezim Orde Lama, dan ikut terlibat menaikan orde baru, dia masih tetap konsisten dengan idealismenya: mengkritik ketidakadilan. Dari sini tercermin bahwa Gie adalah seorang intelektual yang bebas. Dia tidak mau pemikirannya diintervensi.
Sayang Gie tak berumur lama. Dia meninggalkan bangsa Indonesia saat masih berusia muda. Kawan aktivis mahasiswa seangkatannya, Muhamad Wahib, dengan pemikiran pembaharuannya dalam wacana islam dan kritis terhadap fenomena sosial, juga meninggal dalam usia muda.
Akankah mahasiswa sekarang bisa konsisten dengan idealismenya, kendati ia tak lagi menjadi mahasiswa, pun ketika ia berada dalam sistem yang dulu pernah ia kritisi?
Seringkali saya mengalami gejolak dalam hati ketika mengkritik orang lain. Termasuk juga ketika mengkritik orang-orang yang duduk di lembaga pemerintahan. Apakah saya bisa bertahan dengan idealisme saya saat ini ketika berada dalam sistem itu?
17 October 2005
Demonstrasi bukan satu-satunya cara
Tanggapan atas tulisan 'Mahasiswa, Berpikirlah Sebelum Demonstrasi' oleh Oleh: Abdul Gaffur A. Dama
Menarik tersebut. Setidaknya untuk dijadikan sebagai refleksi. Kita memang sering bertindak tanpa berpikir matang lebih dulu. Untuk apa yang kita lakukan ini, apa dampaknya, sudahkah kita melakukan yang terbaik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum sempat terjawab. Tapi aksi sudah marak di jalan-jalan. Akibatnya, apa yang kita lakukan terkesan asal-asalan. Asal teriak, asal tidak sepakat, tanpa tahu solusi apa yang bisa kita tawarkan jika kita mengambil sikap itu.
Seperti isu kenaikan harga BBM. Beberapa elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa sebagai wujud solidaritas. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM karena akan menyengsarakan rakyat kecil. Bermacam retorika dimuntahkan. Dari isu nasionalisasi aset-aset negara, tangkap koruptor, sampai menuntut pemerintah SBY-JK turun jika tidak memenuhi tuntutannya.
Tuntutan semacam itu sudah terlalu sering disampaikan. Bahkan pemerintah dan wakil-wakil rakyat itu juga mungkin sudah bosan mendengar. Ah sudah biasa. Dasar mahasiswa kurang kerjaan. Urusin saja tuh kuliahmu. Mungkin itu kata-kata yang mereka simpan saat mendengar berbagai tuntutan dari mahasiswa.
Lantas apakah lantas yang mereka lakukan itu sia-sia?
Tentu tidak. Pasti ada gunanya. Salah satunya seperti yang mereka lakukan, unjuk rasa turun ke jalan. Setidaknya bisa mengundang perhatian publik. Dari yang semula belum tahu menjadi tahu. Syukur-syukur bisa menyadarkan. Meski tuntutan itu tidak didengarkan, setidaknya sudah cukup membuat pemerintah dan pihak-pihak yang dikritik itu menjadi waspada. Mereka tidak bisa seenaknya, karena ada orang-orang yang mengontrol mereka.
Sepakat, agar tuntutan itu tidak terkesan asal-asalan, perlu dipersiapkan dengan matang. Sebelum menentukan sikap setuju atau tidak setuju, yang penting adalah membahas persoalan lebih dulu. Wacana lebih penting dari sekedar sepakat atau tidak sepakat. Baru kemudian kalau sudah mengerucut, tentutan sikap. Selanjutnya, bila memang mau turun ke jalan, strategi aksi di lapangan perlu dipikirkan agar bisa berjalan sesuai yang diinginkan dan untuk menghindari hal yang tidak diharapkan.
Jadi, demonstrasi sah-sah saja. Bukankah banyak cara untuk melakukan perjuangan. Anda mahasiswa, Anda bisa menulis, tuangkan gagasan itu dalam tulisan. Bila Anda punya media, publikasikan karya anda itu. Bila anda punya komunitas, diskusikan pemikiran anda itu dengan kawan-kawan. Wacana akan mulai bermain dari ruang lingkup kecil itu. Selanjutnya virus-virus itu akan menyebar. Bila memang tulisan anda bagus, kenapa juga tak dikirimkan ke media massa. Dari situ akan banyak dibaca orang. Opini publik mulai terbentuk dari sini. Anda termasuk terlibat didalamnya. Selain sebagai latihan juga dapat honor. Lumayan bisa untuk nambah uang saku.
Yang penting lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan. Jangan berhenti untuk tidak melakukan sesuatu. Kita, mahasiswa, memang bukan pembuat kebijakan. Apa yang kita lakukan tidak harus berupa solusi. Kata solusi terlalu mudah, biarkan pemerintah yang memikirkan. Bukankah mereka sudah dipilih. Enak saja mereka tinggal minta solusi. Kita bermain di pembentukan wacana. Dari sini akan bisa membentuk kesadaran bersama. Ini jauh lebih penting. Orang akan bertindak kalau ada dorongan dari dalam dirinya. Bila itu tercapai, Insya Allah revolusi akan bisa terwujud. Amin.
15 October 2005
Mahasiswa, Berpikirlah Sebelum Demonstrasi
Oleh: Abdul Gaffur A. Dama*
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tecinta…
Sengaja saya tuliskan kembali sebuah petikan dari salah satu lagu wajib mahasiswa setiap kali melakukan "tugasnya" sebagai agent of change. Pertanyaan utama bagi kita semua adalah, apakah dalam tugasnya tersebut selalu dilaksanakan dengan cara-cara seperti demonstrasi?
Bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan rekan-rekan yang turun ke jalan, tengah hari bolong, membawa spanduk, teriak-teriak dan lainnya. Bukan juga untuk membuat turun semangat mahasiswa baru yang sedang diupgrade pola berpikirnya dari siswa menjadi mahasiswa. Tetapi sekedar mengingatkan dan meluruskan kembali kedalam koridornya, mengajak mahasiswa melihat dirinya sebagai mahasiswa. Dan mencoba mengubah paradigma kita terhadap istilah agent of change menjadi lebih intelek dan produktif.
Beberapa waktu lalu tepatnya 30 September 2005, aksi penolakan kenaikan BBM dilakukan oleh aliansi BEM dari Jakarta, Bandung, Palembang, Malang dan kota-kota lain. Tak kalah, BEM STAN pun ikut turun dan bergabung bersama rekan-rekan mahasiswa lain. Namun satu hal yang menarik disini adalah tuntutan mereka yang terkesan kopong, dimana mereka hanya menuntut tanpa adanya solusi.
Mengenai kenaikan BBM, tentunya kita Mahasiswa STAN lebih fokus terhadap apa dan mengapa Pemerintah mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM. Seharusnya kita paham mengapa dibuat APBN-P yang kedua ditahun 2005 ini. Sebagai mahasiswa yang mempelajari ilmu keuangan negara seharusnya dapat memberikan suatu sentuhan yang positif terhadap kebijakan Pemerintah. Yang dimaksudkan saya disini adalah seharusnya kita dapat berbuat lebih banyak, lebih produktif, efektif, efisien dari pada sekedar capek-capek aksi tanpa arti. Mungkin akan lebih baik jika mahasiswa untuk "berpikir" dahulu sebelum demonstrasi.
Apakah "berpikir" itu hanya ada waktu kuliah saja? Mengapa kita pandai membuat karya tulis, skripsi, desertasi, tetapi menjadi tidak pandai dalam "memikirkan" sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti? Mengapa rekan-rekan mahasiswa yang seharusnya lebih menguasai ilmu-ilmu tidak memberikan suatu kontribusi berarti terhadap bangsanya? Mengapa akhirnya mahasiswa menjadi pencari kerja bukan pemberi kerja? Berpikirlah dan berpikirlah! Bukankah ada rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang berpikir?
"Berpikir" disini maksudnya adalah kita seharusnya bersama-sama membantu Pemerintah untuk memecahkan masalah bangsa yang rumit. Kita dapat membentuk suatu forum ilmiah bersama antara mahasiswa, dosen, akademisi lain, praktisi dan pihak lain yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan bangsa yang kompleks, dan hasil dari forum itu disampaikan dengan baik-baik kepada Pemerintah sebagai rekomendasi.
Tak ada orang yang ingin bangsanya tidak maju, tak ada pula yang tidak ingin bangsanya lepas dari kesulitan ini. Terlebih Pemerintah yang menurut saya berada dalam posisi yang serba sulit. Maju kena, mundur kena.
Dalam hal pemberian kompensasi langsung bagi rakyat miskin, mahasiswa seharusnya turut berperan aktif membantu agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kutipan menarik yang saya dapatkan dari Warta Kampus (edisi ke 6, Oktober 2005) dimana Presiden Mahasiswa ITB mengatakan "Kami bisa memberikan sebuah tim pemantau distribusi kompensasi, akan tetapi kami lihat juga kondisinya. Jadi untuk saat ini kami cukup menekan." Mengapa rekan kita yang satu ini harus melihat kondisi dahulu? Kondisi yang bagaimana? Bukankah di televisi sering diberitakan banyak subsidi yang ternyata salah sasaran? Lalu mengapa untuk saat ini mereka cukup menekan?
Dari sini sebenarnya tampak bahwa mahasiswa ternyata menjadi setengah hati dalam berusaha membantu rakyat. Atas nama rakyat mereka turun ke jalan, tetapi untuk turun ke rakyat mereka masih harus melihat kondisi.
Apakah kita masih terus bersandar sambil menonton negara kita yang semakin tidak jelas arahnya? Apakah kita hanya bisa menjadi komentator Pemerintah, layaknya komentator pertandingan sepak bola yang sebenarnya mereka sendiri jika disuruh turun ke lapangan tidak ada yang mau? Apakah kita sudah layak disebut mahasiswa, yang berpikir?
Buktikan!!
*) Penulis adalah mahasiswa kelas III-D Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
**) Tulisan ini diposting dari milis Perskampus_Tempo@yahoogroups.com
27 August 2005
Melawan Tanpa Kekerasan
Judul di atas mengingatkan saya pada OSPEK yang diselenggarakan di fakultas kami beberapa tahun lalu. Kegiatan dikemas dengan diskusi dan permainan. Acara berjalan lancar, tak ada korban. Setiap peserta terlihat riang.
Seluruh mahasiswa baru mengenakan pakaian serba putih. Seperti tampak pada topi dari besek yang dililiti rafia berwarna putih, sampai kaos kaki dan sepatu yang juga berwarna serupa. Mereka tampak ceria menirukan yel-yel dari para seniornya di sela-sela permainan. "Melawan tanpa kekerasan!". "yes…yess…!" sahut para mahasiswa baru dengan kompak dan girang.
Rindu rasanya mengingat masa-masa seperti itu. Kedatangan mahasiswa baru disambut dengan meriah. Mereka dikenalkan dengan lingkungan baru yang akan digelutinya selama kuliah. Ini penting, karena menjadi mahasiswa berbeda dengan anak sekolahan. Mahasiswa memiliki tanggungjawab lebih karena mereka harus mampu menjadi agen perubah sosial (agent of social change). Oleh karenanya, mental dan intelektual harus dipersiapkan sejak dini, salah satunya dari kegiatan seperti Ospek.
Namun, pemandangan seperti itu rupanya tak akan bisa dijumpai lagi. Pasalnya, hampir seluruh perguruan tinggi telah melarangnya. Ospek dituding sebagai ajang kekerasan dari mahasiswa senior kepada mahasiswa baru. Sebagian pihak menilai kegiatan itu lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya. Maka tak aneh bila Undip, mulai tahuan ajaran 2003/2004 menghapus Ospek dan menggantinya dengan Pekik (Pengenalan Kehidupan Ilmiah Kampus).
Sikap Undip tersebut bisa dimengerti. Tragedi meninggalnya Cecilia Puji Rahayu, mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 2002, telah membuktikan gagalnya pelaksanaan ospek. Semua pihak menjadi trauma akan terulangnya kembali peristiwa tragis itu.
Namun, apakah dengan perubahan Ospek menjadi Pekik akan membawa dampak yang signifikan bahwa kekerasan tak akan terulang lagi dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Dan yang tak kalah penting, apakah dengan konsep Pekik ini akan lebih efektif untuk mengenalkan mahasiswa baru pada kehidupan kampus? Pertanyaan ini yang seharusnya menjadi pertimbangan perguruan tinggi menghapus Ospek, bukan hanya phobia yang menganggap Ospek identik dengan kekerasan.
Semua tentu mafhum bila Ospek sejatinya memiliki tujuan yang mulia yakni mengenalkan mahasiswa baru dengan dunia kampus. Hanya saja, memang tak dapat dipungkiri, sering terjadi penyelewengan dalam prakteknya. Tapi, apakah lantas Ospek harus dihilangkan?
Suatu tindakan yang bertujuan baik bukan berarti tidak rawan penyimpangan. Sama halnya dengan Ospek. Ibarat pepatah, buanglah isi tanpa harus membuang wadahnya. Penyelewengan Ospek harus disikapi dengan sanksi yang tegas, tanpa harus membunuh niat baik ospek itu sendiri.
Apa yang terjadi setelah Ospek dihilangkan? Banyak aktivis kampus memprihatinkan kondisi mahasiswa akhir-akhir ini. Mahasiswa sekarang cenderung apatis terhadap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Dunia kampus tak ubahnya dunia anak sekolahan: kuliah, langsung pulang. Akibatnya, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan di kampus terlihat sepi.
Padahal, kegiatan itulah yang menjadi denyut nadi kehidupan kampus. Iklim seperti itu yang menjadi ciri dan tradisi kehidupan intelektual kampus yang kritis. Alasan yang sangat mendasar, karena mahasiswa tak cukup hanya kuliah. Banyak ilmu yang masih bisa digali dari luar ruang kuliah. Salah satunya adalah dengan melibatkan diri dalam kegiatan kemahasiswaan.
Para aktivis kampus menduga penyebabnya karena tak adanya lagi Ospek. Pekik, yang merupakan wajah baru Ospek, tak banyak memberikan kontribusi untuk mengenalkan mahasiswa baru pada dunia kampus. Sebaliknya, Pekik malah membuat mahasiswa jauh dari kegiatan intelektual di kampus.
Kelemahan dari sistem baru tersebut adalah minimnya mahasiswa lama dilibatkan dalam pelaksanaan pengenalan kehidupan kampus. Kegiatan diisi dengan materi ceramah dari dosen. Dari pagi hingga sore, mahasiswa baru hanya duduk dan mendengarkan ceramah yang melulu disampaikan di dalam ruangan. Akibatnya, kegiatan pengenalan kampus menjadi membosankan. Lantas, apa yang didapat oleh mahasiswa baru dari kegiatan yang mereka ikuti karena terpaksa?
Barangkali keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh para orang tua, para birokrat kampus, agar mahasiswa mereka menjadi anak manis, yang rajin kuliah dan patuh pada dosen. Dengan begitu mereka tak akan lagi menentang ketika biaya pendidikan dinaikkan, dosen-dosen mengajar seenaknya, kurikulum pengajaran tak jelas arahnya, sampai-sampai tak sadar bila mereka sedang dijadikan mesin penghasil uang.
Benar kata Soe Hok Gie, hanya ada dua pilihan menjadi mahasiswa: apatis atau idealis. Rupanya mahasiswa sekarang lebih memilih yang pertama. Ini tentu kabar yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu, kita harus melawan sistem yang merugikan ini. Menghapus kekerasan tak harus dengan kekerasan. Apalagi harus mengubur tujuan yang sebenarnya mulia. Orang tua tidak selalu benar. Mari melawan tanpa kekerasan!
*Dipublikasikan di Suara Merdeka, 25 Agustus 2005.