Begitu mudah bisa kita jumpai buku-buku terjemahan di rak-rak toko buku dewasa ini. Apalagi untuk karya sastra. Banyak sekali karya penulis dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang paling mendominasi adalah karya dalam bentuk novel, cerpen dan esai. Untuk karya sastra jenis puisi memang masih terbilang langka. Barangkali karena penerjemahan puisi bukan pekerjaan yang mudah.
Meski penerjemahan karya sastra belum bisa dibilang sebagai proyek penerbitan yang menguntungkan, namun banyak penerbit dan penulis yang menggarap lahan ini. Bagi mereka yang menggarap proyek ini, sudah barang tentu 90% bukan karena faktor profit, tapi lebih karena kecintaan terhadap karya sastra.
Bagi penikmat karya sastra barat, buku-buku hasil terjemahan akan sangat membantu mereka untuk bisa membacanya dalam bahasa yang lebih familiar. Namun bagi yang ingin menjadikannya sebagai sumber kritik sastra, tampaknya masih akan menghadapi sejumlah kendala. Idealnya memang akan lebih memuaskan jika menggunakan sumber primer karena akan ada banyak bagaian-bagaian yang tereduksi, yang hilang dalam proses pengalihan bahasa itu.
Lalu, akan diposisikan di mana karya-karya sastra terjemahan itu dalam dunia kritik sastra kita?
Menerjemahkan=mencipta ulang
Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi, perlunya satu kajian khusus terhadap karya sastra terjemahan. Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.
Buku-buku hasil terjemahan tentu saja tidak akan dipakai oleh jurusan Sastra Inggris. Mahasiswa yang ingin menyusun skripsi tidak diperbolehkan menggunakan novel hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia. Bukan cuma karena banyaknya karya terjemahan yang sampah, tapi sebagus-bagusnya karya sastra terjemahan tetap tak sama dari karya dalam bahasa sumbernya.
Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.
Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.
Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia. Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?
Penerjemahan yang masih kaku
Jika kita menyadari bahwa setepat-tepatnya menerjemahkan tidak akan memberikan hasil yang sama persis (dan bahkan sama saja tidak cukup, karena menerjemahkan bukan sekadar memindahkan bahasa dan mencari padanan kata, tapi juga kultur), lalu mengapa para penerjemah tidak berani bermain-main dalam menerjemahkan?
Bermain-main, seperti dikatakan oleh Aulia Muhammad, maksudnya begini. Menerjemahkan sama halnya memberikan tafsir. Karena tafsir, maka satu orang dengan yang lain sangat mungkin tak sama. Apa yang dirasakan satu orang ketika membaca sebuah karya besar kemungkinan tidak akan sama dengan yang dirasakan orang lain.
Nah, harusnya menerjamahkan itu bisa dilakukan dengan lebih bebas dan tidak harus terikat lagi dengan bahasa, tapi bagaimana memindahkan impresi-impresi yang dialami penerjemah saat membaca karya yang akan diterjemahkan tersebut.
Baca liputan kegiatan ini:
- Biografi yang ditulis karena kecintaan
- Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan
09 January 2008
Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita
17 July 2007
Jika Menulis adalah Jalan Hidupmu
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
..................................................
Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak "Si Binatang Jalang" itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya.
Hunter Bell, redaktur di The Atlanta Journal, tempat Erskine mulai meniti karir jurnalistik profesionalnya, menasehatinya agar mengurungkan niatnya. Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap Erskine akan berubah pikiran.
Namun Skinny—begitu ia biasa disapa oleh rekan kerjanya-- sudah membulatkan tekad. Keinginnannya untuk melibatkan diri secara total dalam dunia penulisan kreatif tak bisa dicarikan tandingannya. Dan kini hasrat itu harus disalurkan, ia harus segera dituntaskan, entah apapun keadaannya.
Sebenarnya jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel, seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya setelah bekerja selama sepuluh tahun di The Atlanta Journal. Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya Gone With The Wind. Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah aku suatu saat membuat keputusan serupa?
Maka siang itu, setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer The Atlanta Convention and Tourist Bureau, atas liputannya yang memuaskan, dia menegaskan keputusannya untuk menjadi penulis fiksi profesional. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.
****
Akhir pekan ia meninggalkan
Musim panas segera berakhir, ia mulai mengumpulkan kayu untuk perapian di musim dingin. Ia mananam kentang di ladang untuk di makan. Siang hari ia habiskan di ladang dan mengumpulkan kayu, malamnya ia menulis, sisanya untuk istirahat. Secara matematis, 24 jam dalam sehari ia habiskan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk menulis, dan sisanya 8 jam untuk beristirahat.
Belasan, hingga puluhan cerita pendek telah ia tulis dengan mesin ketik butut yang ia beli dari hasil memeras keringatnya menjadi buruh kasar di pabrik minyak biji kapas ketika dirinya masih duduk di bangku setingkat SMU. Ia bekerja di malam hari, berangkat ketika orang di rumah mulai tertidur dan kembali dengan mengendap-endapkan langkah kakinya agar orang di rumah tidak terbangun dan mengira ia tertidur pulas semalaman. Sebentar kemudian dia bergegas berangkat ke sekolah.
Sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai pastor di gereja di dekat tempat tinggalnya sudah mencukupi. Namun karena keinginannya untuk bekerja, membuatnya mau bekerja apa saja. Semasa sekolah ia melakukan pekerjaan apa saja, menjual koran, menjadi juru ketik, menulis berita didaerahnya untuk beberapa
Ia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke beberapa
Seorang redaktur menyarankan agar dia meniru cara menulis para penulis yang sedang populer. Seorang redaktur lain menyarankan agar dia menekuni bidang pekerjaan lain mengingat bisnis
Dengan persediaan uangnya yang mulai menipis ia masih butuh membeli perangko untuk mengeposkan
Bersama kawannya ia membuka kios buku. Buku-buku koleksinya dan beberapa buku tambahan dari agen penerbit ditata di rak. Namun bisnis buku ini bukannya menghasilkan tapi malah membuatnya makin terlilit hutang. Ia sudah kehabisan akal bagaimana untuk mendapatkan uang. Yang jelas dia hanya ingin menjadi penulis, bukan berbisnis buku.
Dia berjanji kepada dirinya sendiri, pekerjaan apapun, diluar menulis, dilakukan hanya untuk sementara dan semata-mata untuk tujuan bertahan hidup, memiliki tempat tinggal, dan berpakian layak.
Seorang teman lama mengajaknya ke suatu tempat, yang kemudian dia tahu tempat yang dituju itu adalah bank. Pegawai bank menanyakan jaminan apa yang dapat diberikan Erskine, kapan dia sanggup mengembalikan pinjaman. Erskine tak punya jaminan yang cukup bernilai, kecuali sebuah mobil tua dan mesin ketik usang. Temannya meyakinkan pegawai bank kenalannya itu bahwa Erskine adalah seorang calon penulis. Dia serius ingin menjadi penulis, dan kelak bukunya akan diterbitkan. Pegawai bank yang mengaku sebenarnya juga ingin menjadi penulis itu mengangguk dan segera menyuruh stafnya mencairkan pinjaman sebesar $1000.
****
Erskine pasti sudah memperhitungkan keputusannya meninggalkan pekerjaan demi menjadi penulis fiksi profesional. Godaan akan selalu menghantui bagi siapa saja yang mengambil keputusan seperti dirinya, yang hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup, sementara hasil menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung terpenuhi.
Mental sekuat baja, tak bisa ditawar, harus dipersiapkan agar mampu menjalani masa-masa yang paling sulit, masa di mana tiada jaminan finansial yang memadai. Jika tidak, ia akan tergoda untuk mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan yang bagi kebanyakan orang lebih rasional, pekerjaan yang lebih bisa menghasilkan uang. Dan keinginan menjadi penulis fiksi profesional menjadi angan-angan yang lebih layak untuk ditertawakan.
Memang Erskine pada akhirnya dapat memetik hasil jerih-payahnya. Perlahan-lahan cerpennya mulai dimuat di koran kecil, hingga menembus Scribner’s Magazine, sebuah keinginan yang sudah dinanti-nantinya menaklukan media yang memiliki distribusi luas.
Kumpulan cerpennya yang diberi judul American Earth dibukukan. Tak lama kemudian menyusul novel perdananya Tobaco Road, yang terinspirasi dari sebuah kehidupan di perkampungan miskin di dekat tempat tinggalnya, sebuah jalan yang dibuat dengan menggelindingkan tong yang diisi tembakau yang diawetkan. Untuk pertama kalinya, ia menerima bond royalty dari penerbitan buku.
Hingga novel God’s Littele Acre yang menurutnya paling memuaskan, You Have Seen Their Faces, dan novelnya Tobaco Road yang telah dipentaskan lebih dari tujuh tahun, hasil royalty yang diterimanya tidak bisa dibilang telah cukup membuatnya menjadi seorang yang terbebas dari masalah keuangan. Penghasilan darinya waktu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya, bahkan masih kurang untuk
Berapapun jumlah penghasilan yang didapatkannya dari menulis fiksi, setidaknya dia sudah mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karyanya di surat kabar, kumpulan cerpen dan novel-novelnya sudah dibukukan. Selama penghasilannya dari menulis fiksi belum bisa untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, maka dengan sadar ia pun akan melakukan pekerjaan lain demi mewujudkan ambisinya. Kini kerjanya sudah membuahkan hasil. Namanya disandingkan dengan John Steinbeck , William Faulkner, dan pengarang terbaik Amerika yang lainnya.
****
Menyimak perjalanan hidup Erskine ini, sama seperti saya, barangkali anda akan mengajukan pertanyaan, kenapa dia bersiteguh ingin menjadi penulis fiksi professional, kenapa tidak menjadi bankir, atau melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah menghasilkan uang.
Dalam buku “Menulis adalah Jalan Hidupku” yang diterbitkan oleh Penerbit Bustan Yogyakarta, diuraikan secara rinci perjalanan menulis Erskine Cadwell. Buku yang ditulis sendiri oleh Erskine ini di dialihbahasakan dari buku Call it Experience, The Years of Learning How to Write.
Diakuinya, keputusan Erskine menjadi penulis fiksi profesional karena dirinya suka menulis, dan tak yakin bisa melakukan pekerjaan lain selain bidang ini. Oleh karena itu, ia ingin menjadikan menulis sebagai penopang hidupnya. Ia menganggap apa yang dikerjakanya sebagai hal yang wajar, karena baginya semua pilihan pekerjaan membutuhkan ketekunan. Begitu juga dengan menulis.
Kalaupun ada seorang yang hendak menjadi penulis, namun ditengah jalan menemukan alasan yang menurutnya lebih logis untuk melakukan pekerjaan lain, berarti memang dia tidak punya modal yang cukup untuk menjadi seorang penulis. Pada akhirnya tingkat intensitas keadaan pikiranlah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam profesi yang diinginkannya.
Menulis fiksi dipilihnya karena cerpen atau novel adalah cermin bagi orang-orang. Ia mendefinisikan cerpen atau novel sebagai cerita imajiner bermakna yang cukup menarik perhatian pembaca dan cukup mendalam untuk meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya.
Ia menampik anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis seorang harus miskin dulu agar cocok dengan dunia kepenulisan. Yang dibutuhkan adalah semangat keuletan yang dapat melecut orang untuk berjuang keras mengatasi setiap penghalang menuju kesuksesan.
Ia pun tak menganjurkan siapa saja yang hendak menjadi penulis untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia mengambil contoh banyak penulis ternama yang bukan penulis profesional. Banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh mereka yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan rumah setiap hari atau menjalankan bisnis dalam
Keputusannya meninggalkan karir jurnalistiknya bukan karena keterampilan menulis jurnalistik bertentangan dengan menulis fiksi. Sebaliknya, menulis jurnalistik justru yang mengantarkan minatnya dalam dunia tulis-menulis. Belajar menulis dengan bentuk apapun tak ada yang merugikan. Dari pengalamannya, menulis jurnalistik membantunya untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Menunggu inspirasi adalah pernyataan yang jarang sekali dijumpai di kalangan wartawan yang terlatih.
Anda boleh saja menganggap apa yang dilakukan oleh Erskine itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, sesuatu yang berlebihan yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit oleh dirinya sendiri. Namun bagi anda yang saat ini sudah memutuskan diri menjadi penulis profesional, baik itu fiksi maupun non fiksi, sedikit banyak pasti sudah melewati masa-masa itu. Hanya saja intensitasnya mungkin berbeda. Anda bisa saja lebih beruntung ketimbang Erskine yang menempuh karir menulis profesioanlnya dengan berdarah-darah
Pada akhirnya hidup adalah pertaruhan. Maka saya dan juga anda harus berani memilih dan tegas mengambil tindakan. Profesi apakah yang sebenarnya anda inginkan. Apakah anda lebih mencintai menulis dari kesenangan-kesenangan anda yang lain? Jika iya, maka teruslah berjuang. Contohlah semangat menulis kedua "binatang jalang" Chairil dan Erskine. Percayalah, setiap usaha pasti ada hasilnya. Good Luck!
19 May 2007
Penulis, Buku, Pembaca dan Kritikus (Tanggapan Muhidin M Dahlan)
MASALAH:
(1) bagi seorang penulis ataupun seorang pembaca, buku apa sih yang paling baik?
(2) apa pentingnya pengkritik buat penulis?
BAGIAN I
Inilah jawaban saya: buku yang baik adalah buku yang mampu mengungkap, menggelitik alam bawah sadarnya, dan mendorongnya untuk bertindak atau merenungkan hidup.
mungkin bagi sebagian orang, buku itu tampak ecek2, kampungan, katrok, tapi bagaimana kalau buku itu bisa mengubah hidupnya, merevolusi cara pandangnya.
Bagi kalian, buku2 pemenang nobel itu atau pemenang2 hadiah sastra itu luar biasa. kalian memujinya setinggi langit. tapi kalau buku itu tak memberi rasa sentuhan kepada saya, apalah guna semua pujian itu. semua akan lewat tak teringat tak berjejak.
kalau kalian berkata bahwa buku la tahzan itu luar biasa, bagaimana kalau saya lebih tersentuh dan merinding ketika membaca berulang2 buku HAJI ali syari'ati. lalu mana yang lebih baik: buku la tahzen atau buku haji.
maka bagi saya membaca adalah sebuah pengalaman personal.
tak bisa kalian membanding-bandingkan derajat buku jika sebuah buku punya pembacanya masing-masing. apa kalian kira seorang penulis tidak memikirkan buat siapa buku itu. bahkan penulis paling pemula pun di bawah sadarnya dia sudah terpacak bayangan untuk siapa. dan paling minim adalah pribadi-pribadi seperti dirinya.
dan apa sih salahnya buku yang terjual banyak?
saya adalah salah satu pendorong bagi adik2 saya untuk menulis terus, jangan takut nggak dibaca, tapi kalau bisa pikirkan siapa dan seperti apa pembacamu. kalau pembaca yang kamu pikirkan adalah sangat terbatas, ya itulah pencapaian karyamu. lakukan itu, kejar itu. kalau kalian menulis dengan menembus pembaca dengan cara terlebih dahulu menembus benteng selera para juri lomba, tempuhlah jalan itu. ambil hadiahnya, dan semoga dari sana pembaca yang banyak bisa kalian raih.
dengan kejelian membaca pasar buku atau pasar pembaca, tidak lantas bahwa prilaku sang penulis itu semata mencari keuntungan finansial. itu hanya timbal dari kecerdikan menentukan target pembaca dan tentu saja kecerdikan membaca ruang gagasan yang lowong.
kembali ke selera bacaan.
mungkin kalian akan bilang bahwa selera saya katrok, ndeso, dan menjijikkan. dan akan saya bilang, biarin. toh saya membaca buku yang kemudian saya sukai itu karena memiliki implikasi etis dan intelektual dalam diri saya.
karena itu jika kalian bertanya kepada orang, maka kalian akan terkaget2, betapa nyaris semua orang berbeda buku favoritnya.
jika kalian bilang: hei gus muh, buku apa yang kausukai sejatinya. maka jawaban saya ada tiga. (1) buku haji yang membuat saya tergetar dan mengarahkan pelan2 pandangan saya bagaimana gerak fisik setiap ibadah adalah langkah2 revolusi. dari buku haji, maka saya tergerak ke kiri, saya terdorong untuk menyelenggarakan pesantren sosialisme religius, dan tak gegabah menghinakan kaum komunis. (2) buku pram yang membuat saya terguncang dan mau mencintai dan sekaligus belajar membuat novel di mana sebelumnya karya sastra adalah buku haram dan tak senonoh untuk dipegang. mungkin kalian mengatakan buku budi dharma itu luar biasa. saya menghargai itu. tapi jangan kalian paksa saya turut mencintainya. sebab sudah dua buku pak budi saya tamatkan, saya tak terlalu banyak mendapatkan greget dan karena itu bisa mengubah jalan hidup saya. (3) buku ayat-ayat setan salman rushdie yang mungkin bagi kalian itu buku tak bagus, jelek di semua lini, tapi saya menyukainya. mungkin kalian bilang buku2 kayak begitu gampang dibuat... mungkin, tapi saya percaya satu hal, buku sesederhana apa pun itu membutuhkan cucuran keringat yang tak sedikit untuk membuatnya, membutuhkan berlapis kesabaran untuk tak tergoda meninggalkan embrio yang sedang tumbuh di kepala, membutuhkan ketegaran untuk bergabung barang sebentar dengan telaga sepi, dan tentu saja butuh disiplin yang mengekang diri untuk menyelesaikannya hingga akhir.
karena itu saya menghargai sepenuh2nya buku, suka atau tidak. saya menyukai penulis (buku atau blog) yang menulis dengan kesabaran yang intens, ketahanan berada di tepi sepi, dan kesungguhan menerapkan disiplin. kalau pun karya yang dihasilkannya bermutu rendah, itu tak jadi soal. kalian boleh mengutuknya, kalian boleh memakinya, kalian boleh mendinakannya, tapi jangan paksa saya melakukan hal serupa.
dan terakhir, sebuah buku akan mencari pembacanya yang sehati lewat prosedur pasar yang berkelok-kelok, penuh intrik, saling merintang dan membalok, tapi bergairah.
BAGIAN II
Saya menghargai kritik. saya sepakat sepenuhnya bahwa dalam masyarakat teks ada selapis orang yang berprofesi pengkritik. dan itu baik buat penulis dan baik pula buat pembaca.
pengkritik apa sih yang berguna bagi penulis. semua berguna, namun yang saya maksudkan adalah tingkat gradasinya.
kalau ada yang hanya mencela dan memaki dan bahkan ia melakukan itu dengan bahkan tak pernah membaca langsung buku itu, sorry, lupakan saja. mereka baru bangun tidur. mereka terlahir bukan sebagai pembaca yang utuh, mereka pembaca setengah. dan orang yang setengah2 ini yang paling menakutkan. dan sekaligus membuat perkara kebingungan dua penjaga gerbang akhirat: neraka dan surga. ini org mau dimasukkan ke mana ya... dia jahat tapi baik juga; dia baik tapi jahat juga...
pembaca yang utuh adalah pembaca yang memang membaca buku sampai selesai...(dan tak merepotkan para malaikat) maksudnya, tentu tak mesti membaca buku itu dari lembar pertama sampai yang terakhir, karena ada orang yang maqom membacanya sudah tinggi... hanya melihat beberapa halaman saja sudah memberikan komentar dan komentar itu tepat, cerdas, dan kritik yang menghunjam tajam.
pengkritik apa yang dibutuhkan penulis? tentu saja kritik yang sungguh2. kritik yang mengelupas setiap kulit makna dalam buku itu. dan saya sangat menghargai kritik yang demikian itu.
lantas bagaimana sikap penulis menanggapi kritik2 itu. tanggapan terbaik adalah kembali ke kamar, atur daftar bab, meriset bahan, dan kembali menulis... terlalu lama ikut serta dalam kerumunan debat, saya khawatir dia akan salin profesi mengerikan: turut menjadi pemaki, tukang sinis, dan lupa mencipta.
jika kalian coba2 mengkasifikasi seorang penulis dengan penulis berselera rendah rendah dan penulis berselera tinggi (karena itu berpengaruh dengan klasifikasi: buku rendah dan buku tinggi), kalian belum keluar dari perdebatan zaman dahulu kala. apakah itu salah? tidak tentu saja, walau belum tentu benar. saya punya klasifikasi sendiri atas jenis pembaca, atas jenis penulis, dan pada akhirnya atas sebuah buku. dan simpulan saya sederhana:
(1) PEMBACA YANG MALAS DAN PEMBACA YANG RAJIN. pembaca yang malas akan menghasilkan dua hal: ekstrim memaki atau royal memuji. pembaca yang rajin tampak akan bijak; bukan karena keengganan atas sosok penulis (karena teman karena senior karena dosen sendiri), tapi karena dia tahu mana bumbu yang kurang pas dan mana bumbu yang lebih serta mana bumbu yang lupa ditaruh.
(2) PENULIS YANG MALAS DAN PENULIS YANG RAJIN. penulis yang malas adalah penulis yang tidak mau meluangkan waktu untuk melakukan riset atas tulisannya dan ketekunan membaca. bahkan karangan paling imajinatif dan surealisme paling liar sekalipun butuh riset. penulis yang rajin adalah penulis yang sebaliknya dari penulis yang malas...
Dan paling pungkas, hanya dua jenis blogger: blogger yang rajin mengupload dan blogger angin-anginan.
[tulisan ini adalah tanggapan Muhidin M Dahlan atas komentar saya di blognya pada tulisan yang berjudul "Tugas Penulis adalah Menulis".]
16 May 2007
Penulis, Buku dan Siasat Menjual Karya
Apa kriteria buku yang bagus? Seorang penulis dalam sebuah milis komunitas penulis mengatakan, buku yang bagus adalah buku yang dicetak ulang beberapa kali, buku best seller. Asumsinya, buku yang banyak terjual berarti banyak dibeli. Karena banyak dibeli, ia banyak dibaca. Karena banyak dibaca berarti ia banyak diminati pembaca. Nah, karena banyak dibaca maka sebuah buku layak disebut sebagai buku yang bagus.
Memang asumsi itu ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.
Begini. Jika kriteria buku yang bagus itu diukur dari seberapa besar pembacanya, seberapa banyak buku itu terjual, apakah lantas buku-buku yang tak banyak terjual, bukan buku best seller itu buruk.
Dalam dunia kesusasteraan Indonesia ada sederet nama-nama hebat penulis yang karyanya diulas di berbagai media, diperbincangkan dalam berbagai forum. Namun buku mereka belum banyak mengalami cetak ulang. Nukila Amal, Linda Christanty, atau yang sudah senior, Budi Dharma, Danarto, Kuntowijoyo, adalah beberapa penulis yang dimata kritikus karyanya bagus, namun bukunya tak mendapat sambutan luas dari pembaca. Dalam beberapa hal penilaian kritikus bisa mempengaruhi pembaca, namun tidak selamanya selera kritikus dan pembaca sejalan.
Berbeda dengan buku fiksi pop teenlit-chicklit macam "Dealova", "Cintapucino" , "Ungu Violet" atau fiksi islami yang sangat fenomenal "Ayat-ayat Cinta" yang kabarnya sudah terjual lebih 300 ribu buku, atau novel sensasional macam "Selingkuh Itu Indah", "Garis Tepi Seorang Lesbian", "Jangan Main-main dengan Kelaminmu", dan tentu saja yang tak bisa diremehkan adalah "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!" karya Muhidin M Dahlan yang pada per maret 2007 sudah naik cetak 12 kali!
Pertanyaannya, apakah karya Nukila Amal, Linda Christanty, Danarto, Budi Dharma, Kuntowijoyo, lebih buruk dari karya mereka yang bukunya sudah mampu menembus angka cetak ulang yang fantastis itu?
Menurut saya, tentu saja tidak! "Cala Ibi" karya Nukila Amal, "Kuda Terbang Mario Pinto" karya Linda Christanty, yang keduanya banyak dipuji oleh kritikus karena keindahan diksinya, atau "Adam Makrifat", "Godlob" karya Danarto, "Mantra Penjinak Ular" karya Kuntowijoyo yang mengusung sastra realisme magis dan sastra profetik, dan penulis-penulis lain yang saya kagumi macam Gus tf Sakai sampai yang lebih senior macam Goenawan Mohammad belum mampu menembus angka cetak ulang yang cuku fantastis, bahkan jika dibanding penulis-penulis teenlit yang masih ABG.
Bagi saya ada beberapa faktor sebuah buku itu bisa laku keras. Untuk sejenis karya teenlit-chicklit, seperti pada karya pop pada umumnya, memang memiliki pembaca yang lebih banyak. Hal ini bisa saja karena tema yang ditawarkan ringan. Dan saya menduga, kebanyakan pembaca sastra di Indonesia adalah mereka yang membaca karya untuk hiburan, bukan untuk mengkaji, mengapresiasi. Kalaupun ada yang mengkaji, prosentasenya jauh lebih kecil jika dibanding mereka yang membaca untuk hiburan, atau yang lebih bijak, untuk mencari pelajaran hidup.
Selain tema populer, yang bisa memicu daya jual buku adalah tema polemik. Karya Djenar Mahesa Ayu "Jangan Main-main dengan kelaminmu", "Garis Tepi seorang Lesbian" karya Herlinatiens dan "Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Palacur" karya Muhidin M Dahlan, contohnya. Dua pengarang yang disebut dibelakang adalah mantan kru LPM Ekspresi, pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tema-tema polemik ini uniknya, makin dia dikecam, makin dia terjual. Dari situ orang menjadi penasaran, akhirnya membeli. Ini seperti yang dialami oleh Gus Muh, yang sempat beberapa kali dalam forum diskusi karyanya dikatakan kafir dan diancam akan dibunuh!
Bagi saya, ukuran sebuah buku yang baik bukan cuma dari paling banyak pembacanya. Ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas, kualitas apresiasi dari pembacanya. Meski karya itu tak seheboh "Jakarta Undercover"- nya Moammar Emka, tapi "Cala Ibi"-nya Nukila Amal akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari pembaca yang masih terbatas.
Barangkali pembaca majalah sastra Horison yang dulu mengkaji tema-tema sastra "adilihung" akan berpindah ke majalah lain setelah majalah itu kini menurunkan standarnya menjadi majalah anak-anak SMU. Saya lebih respek pada jurnal Kalam (tapi terbitnya walah nggak jelas, kayak Hayamwuruk saja, hehe) yang masih bersetia dengan tema-tema serius, meski kini tidak cuma mengusung tema-tema sastra, tapi kebudayaan secara luas. Saya yakin, meski pembaca Kalam tak sebanyak pembaca Horison kini, tapi dari segi kualitas apresiasi pembacanya akan jauh berbeda.
Satu lagi, mayoritas masyarakat pembaca sastra Indonesia dan bidang-bidang disiplin lain memang lebih suka dengan karya-karya yang ringan. Makanya tontonan "Empat Mata" dengan Thukul katrok mendapatkan rating yang tinggi. Padahal Thukul ya nggak se-smart Om Farhan. Dari segi muatan ya, nggak serius. Orang disitu yang menjadi pusat perhatian Thukul. Narasumber belum tuntas menjawab, thukul sudah menyela, seolah-olah dia tak butuh jawaban.
Dalam dunia kesusasteraan, pembaca kita pun tak jauh beda. Mayoritas pembaca kita menyukai hal-hal yang bisa menimbulkan keharuan. "Ayat-ayat Cinta" (AAC) karya Habiburahman, "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, laku keras. Cewek-cewek sangat menggandrungi tokoh Fahri yang santun, alim dalam AAC. Atau cerita-cerita Andrea yang mengisahkan betapa mengharu-birukannya pendidikan di sebuah kampung di tanah Sumatra. Faktor keharuan yang bisa menimbulkan rasa iba ini, juga yang memicu terpilihnya Feri dalam kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Ikhsan dalam Indonesian Idol.
Bagaimana sebuah buku bisa menjadi best seller, diperlukan strategi untuk bisa menembus angka penjualan yang fantastastis. Yakni strategi menjual diri! Kenapa dikatakan menjual diri, ya kita menjual buku-buku yang memang disukai penerbit dan yakin akan banyak dibeli pembaca. Membuat buku best seller tak cuma membutuhkan kelihaian penulis meramu kata, tapi juga butuh strategi. Penulis tak hanya cerdas soal menulis, tapi paham juga soal pasar, marketing. Dan langkah menjual diri ini sebenarnya juga tak sepenuhnya jahat, ketika juga diikuti upaya menciptakan sebuah karya yang bermutu, berbobot, tidak semata-mata untuk mengeruk pendapatan royalti.
Namun, sepertinya selera pembaca akan sebuah karya akan terus berubah. Fiksi islami yang pada periode awal 2000 laris manis, bahkan penerbit rame-rame bikin devisi khusus fiksi islami, semenjak tahun 2005 sepertinya mengalami matisuri. Seperti yang diakui seorang penulis fiksi islami dalam sebuah diskusi di Semarang beberapa hari lalu, karya-karya fiksi islami belakangan justru banyak dikembalikan oleh pihak penerbit. Kondisi ini sangat berkebalikan ketika fiksi islami tengah booming, beberapa penerbit berlomba-lomba menerbitkan fiksi islami, diantaranya bahkan membuat departemen khusus fiksi islami.
Menurunnya selera pembaca juga terjadi pada fiksi yang mengangkat tema seks. Judul macam "Petualangan Celana Dalam" karya Nugroho Suksmanto (pengusaha kontraktor Mega Kuningan yang mendadak menulis karya sastra) sudah tak seheboh ketika awal-awal tema seks sedang ramai.
Pada titik itu akan terbukti, karya-karya siapa yang masih akan terus dibaca, diapresiasi, dibeli meski cuma satu-dua, yakni karya-karya yang memang secara kualitas bagus, bukan tren sesaat.
Lantas, masih relevankah membicarakan sebuah kualitas karya dari kuantitas penjualan buku?
[tulisan ini saya posting untuk bahan diskusi di milis jurnalisme sastrawi , milis jurnalisme, penulisan, media. Yang ingin bergabung dengan milis jurnalisme sastrawi, silakan klik di sini]
15 May 2007
Tema Puisi, Suka-suka dong!
Saya mencoba untuk bisa mengerti kegelisahan bung Tomi yang menemui sejumlah puisi yang masih membicarakan soal kupu-kupu, senja, ranum payudara, de el el. Dan rupanya ini yang memang lagi menggejala. Sama seperti anda bung, saya juga kerapkali kesal dibuatnya.
Saya mencoba menerka-nerka, bagi bung Tomi penyair yang masih mengusung puisi semacam itu tak peka terhadap lingkungan sekitar, naluri kepenyairannya telah diambang matirasa. Mereka membicarakan hal-hal yang kurang penting, sementara ada yang lebih penting, yakni bencana, bencana ya diantaranya korban lumpur Sidoarjo itu.
Dari situ saya menarik kesimpulan, anda hendak mengatakan bahwa puisi-puisi semacam itu tidak mewakili spirit jaman, tidak konstektual, tidak berbicara soal kritik sosial, dan kewajiban-kewajiban mahaagung lainnya. Ah, darinya saya menjadi minder, ternyata betapa berat menjadi seorang penyair! Mbok yang riang-riang saja, ringan-ringan saja. Bagi saya, selaku penikmat puisi, apapun jenis puisi itu ketika dilahirkan dari ketulusan penyair, dia akan bernilai. Soal baik-buruk, estetikanya, bermanfaat-atau-tidak, serahkan saja kepada sidang pembaca.
Saya menangkap kesan bahwa tema-tema yang anda muaki itu seolah tak ada makna, tak penting dalam proses kreatif penciptaan puisi, dan ujung-ujungnya anda hendak menawarkan atau lebih tegasnya mengarahkan bahwa puisi yang bagus adalah yang memuat kritik sosial, menyuarakan jerit hati para korban lumpur Sidoarjo.
Kalau persolannya terletak pada kurang matangnya penggarapan tema-tema barangkali ada benarnya. Tapi kalau tema-tema semacam itu kemudian dianggap remeh temeh, bentar dulu. Saya kira ini sangat bermasalah. Pandangan ini telah menafikan proses kreatif sesama penyair. Saya sepakat dengan Seno Gimira yang mengatakan bahwa semua tema itu pada dasarnya menarik, yang bikin menarik dan tidak menarik adalah penulisnya. Saya kira ini juga berlaku dalam proses kreatif penciptaan puisi. Saya kira puisi bukan hanya terletak di keindahan kata-kata yang romantis, atau kegarangan kata-kata yang kritis, tapi juga kedalaman makna. Keduanya penting. Ini yang membedakan puisi dengan slogan-slogan politik dalam pamflet.
Soal tema lagi, saya selaku penikmat puisi, bisa menikmati puisi jenis apapun, termasuk puisi romantisnya Sapardi Djoko Damono. Bagi saya sajak-sajak SDD tak berhenti bicara soal cinta semata, tapi lebih menukik, soal kehidupan. Sajaknya ringan tapi cerdas, kalau tak salah ini menurut bung HAH dalam sebuah chatting dengan saya beberapa waktu lalu.
Kalau bung Didi bilang, atau lebih tepatnya minta pemakluman bahwa para penyair yang secara usia masih muda (apa hubungannya usia dengan penyair, dengan puisi?) kurang punya perhatian pada masalah kepentingan umat, menurut saya persoalannya bukan di situ, tapi karena proses kreatif masing-masing penyair tak sama. Sehingga ada penyair yang nyangkut di tema kupu-kupu, atau lebih hebat bisa mencapai ke Lumpur Sidoarjo. Bukankah proses kreatif itu sifatnya sangat personal?
tulisan ini saya posting di milis apresiasi sastra menanggapi posting bung Tomy HG di milis apresiasi sastra. Ini posting yang dikirim oleh bung Tomy :
HUEKK!
Muak aku membuka
buku-buku puisi yang penuh keluh kesah soal kupu-kupu,
remang senja, dan ranum payudara perempuan seakan-akan
kata kata bukan senjata yang paling murah tuk rubuhkan
musuh tanpa harus hancurkan rumah, sawah, hingga
jalan.
Muak aku membaca
sajak-sajak cinta yang harum parfum tubuh telanjang di
atas ranjang, sofa, rumput, dimanapun! Seakan-akan
hidup di dunia ini jauh dari semburan lumpur panas
yang tak henti henti meluber di Porong di Sidoarjo
Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang cuma bisa jadi bun(gk)a(m),kehabisan
kata kata di tengah tengah bencana, bencana dan
bencana!
Seakan-akan basa basi bijak lebih berarti dari nasi
basi
yang dimakan korban lumpur Lapindo di tenda
pengungsian
Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang tak bi(a)sa lagi bicara dengan
sederhana
Seakan akan kepak sayap kata-kata bisa terbang jauh
dari
lauk kaleng kadaluarsa yang lagi lagi dimakan korban
lumpur Lapindo di tengah kelaparannya. Yang penyair-
lebih baik tak usah ambil bagian sekalian
Biarlah kata-kata tumpah di aspal jalanan,
poster protes, selebaran, ataupun pamflet
Biarlah penguasa saja yang muak dan muntah
keracunan kata-kata, kata-kata, kata-kata,
dan kata-kata!
-----------------
Tanggal 29 Mei 2007 bertepatan dengan satu tahun bencana semburan lumpur panas Lapindo di Porong. Dan hingga saat ini, semuanya makin parah. Pada tanggal tersebut, direncanakan akan diadakan aksi solidaritas korban lumpur lapindo besar-besaran untuk
menuntut penuntasan penyelamatan nasib warga yang menjadi korban. Bagi teman-teman yang mungkin tidak bisa mengikuti aksi, sangat diharapkan solidaritasnya untuk mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun. Semoga dengan upaya ini semua pihak masih ingat bahwa ada suatu bencana besar yang masih akan terus membesar daya rusaknya di Porong Sidoarjo.
-----------------
-Tomy DG-
Ini tanggapan Hasan Aspahani atas posting yang dikirim Tomy:
Tomy DG yang baik,
Agustus tahun lalu saya menulis sajak "Kisah Kota Lumpur". Ini link ke sajak itu di blog saya http://sejuta-puisi.blogspot.com/2006/08/kisah-kota-lumpur.html
Bulan lalu sajak itu dimuat di Kompas http://kompas.com/kompas-cetak/0704/08/seni/3440307.htm. Saya setuju bahwa semburan lumpur di Sidoarjo adalah bencana besar.
Tapi apa perlu diimbau-imbau penyair untuk menuliskannya? Saya kira penyair yang benar-benar membuka mata hati pasti akan tergerak untuk melihat bencana itu dan menuliskan sajaknya.
Terus apa penyair harus dilarang untuk menuliskan tentang hal-hal lain yang kau bilang kau baca dengan muak itu?
Saya kira gak perlu. Sajak saja pasti tidak akan menyelesaikan masalah, tapi pasti sajak bisa menggerakkan banyak hal untuk menyelesaikan masalah itu.
Sekali lagi saya setuju dengan imbauanmu ini. Saya ikut mengulangnya: Ayo mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun!
Imbauan tambahan dari saya: tetaplah menuliskan sajak-sajak lain dengan tema apa saja!
Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com
30 April 2007
Sang Maestro itu Telah Berpulang
Sekian lama hidup dalam pengucilan, Pramoedya akhirnya meraih kebesarannya.
MINGGU, 30 April 2006. Jakarta diguyur hujan. Sekitar pukul 14.30 WIB sebuah mobil ambulans tiba di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Ratusan orang telah berkerumun di sana. Mereka memanjatkan doa mengiringi penyemayaman jenazah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan cum budayawan besar abad ini.
Pram, panggilan almarhum , wafat diusia 81 tahun (2 Februari 1925 - 30 April 2006), meninggalkan 8 anak, 16 cucu, dan 2 cicit dan sang istri, Ny Maemunah. Kepergiannya tidak hanya menyisakan kepedihan bagi keluarga besarnya, tapi juga para pengagum karyanya yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini hingga ke seantero jagad.
Hadir dalam prosesi pemakaman itu, para sastrawan dan seniman, negarawan, dan tentu para pengagum karya Pram dari dalam negeri hingga luar negeri, sampai rivalnya sewaktu almarhum masih hidup. Diantaranya Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan.
Adalah barisan anak-anak muda yang melantunkan lagu “Internationale” dan “Darah Juang” bersamaan dengan dipanjatkannya doa-doa suci oleh para pelayat ketika jenazah almarhum disemayamkan ke liang lahat. Sebuah perpaduan sosialis-religius yang sangat harmonis. Para pemuda mengepalkan tangan ketika menyanyikan lagu yang sering dibawakan dalam demonstrasi mahasiswa itu. Rupanya mereka mengagumi Pram, karena dari tangannya telah lahir puluhan karya yang mampu membangkitkan heroisme kaum muda.
SAMPAI menjelang tutup usianya, Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sosok penulis yang produktif. Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan internasional. Ia juga sempat dicalonkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra. Yang lebih mengejutkan lagi, pemerintah RI dikabarkan akan memberikan penghargaan kepada sastrawan yang telah mendapatkan puluhan penghargaan dari luar negeri ini. Padahal semasa Pram hidup, pemerintah RI tak pernah memberikan penghargaan kepadanya. Menanggapi hal ini, Goenawan Mohamad berkomentar “Pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya."
Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru Pram menjadi tahanan politik selama 14 tahun tanpa proses pengadilan.
Tak cukup itu, karyanya beberapa kali dibakar oleh Angkatan Darat sewaktu rezim Orde Baru berkuasa. Sebagian besar karyanya baru diterbitkan kembali setelah era reformasi. Dan ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan pecinta buku, khususnya para anak muda pecinta buku sastra.
Represi dari penguasa tak menyurutkan keinginan Pram untuk terus berkarya. Selama belasan tahun di Pulau Buru ia masih menulis. Segala cara ia lakukan agar tetap bisa menuangkan pikirannya. Ia menulis dengan alat seadanya. Bahkan untuk mendapatkan sebuah karbon, ia membelinya ke pelabuhan dengan cara menyelundup. Uangnya dia dapat dari hasil menjual ayam yang diperliharanya di Pulau Buru.
Dari Pulau Buru, justru lahir mahakarya yang melambungkan namanya. Semua pengagum Pram pasti tahu tokoh Minke dalam tetraloginya yang sangat fenomenal itu, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya-karyanya ini berhasil diselundupkan ke luar negeri dan diterbitkan. Dari Buru pula lahir Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang merupakan kumpulan surat Pram untuk anak-anaknya yang ia tulis selama di penjara. Karyanya yang lain, diantaranya Bukan Pasar Malam, Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan Gadis Pantai yang jilid kedua dan ketiganya tidak diterbitkan karena naskahnya dirampas oleh pemerintah Orde Baru.
Penindasan yang dilakukan penguasa Orde Baru kepada Pram tak sebatas pada naskah-naskah yang dia tulis, tapi juga kekerasan fisik. Tanggal 13 Oktober 1965, Pram ditangkap di rumahnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ia disiksa, dipukul dengan popor laras panjang, hingga membuat pendengarannya terganggu. Rumahnya kemudian disita oleh pemerintah Orde Baru. Bahkan sampai akhir hayatnya status kepemilikan rumahnya di Rawamangun itu belum ia dapatkan kembali.
“Saya kehilangan apa saja. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu,” tuturnya dalam wawancara dengan wartawan Majalah Playboy, dalam edisi perdananya yang terbit awal April 2006 lalu.
Perlakuan pemerintahan Orde Baru itu menyisakan kebencian yang mendalam pada diri Pram. Sampai sekarang ia tak percaya lagi pada pemerintahan, kendati orde baru telah lengser. Selepas Soekarno ia tak percaya lagi pada pemerintahan Indonesia. Lantas pemerintahan seperti apa yang bisa membuatnya percaya?
“Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin,” tutur Pram dengan wartawan Playboy, yang merupakan wawancara terakhirnya dengan media.
Tak hanya pemerintah, Pram juga tak percaya dengan orang-orang yang pernah terlibat perseteruan dengannya. Sikapnya ini dikritik oleh Sirikit Syah, Ketua Lembaga Konsumen Media, yang juga banyak menulis fiksi. Pram dinilai hanya mengingat orang-orang yang pernah menyakitinya, tapi ia sendiri tak mau mengingat bahwa dirinya juga pernah melakukan hal serupa. Ia mengecam para seniman dan sastrawan non-Lekra. Terutama mereka yang menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu).
Salah seorang penandatangan Manifes kebudayaan, Goenawan Mohamad dalam pengantar bukunya "Seks, Sastra dan Kita" menyatakan bahwa perlakuan yang diterima oleh Pram semasa pemerintahan Orde Baru belum seberapa jika dibanding perlakuan Pram dan koleganya di Lekra kepada para sastrawan non-Lekra. GM memberikan contoh kecil sikap tidak terpuji yang dilakukan oleh sastrawan Lekra. Mereka menjuluki sastrawan Manifes Kebudayaan dengan "Manikebu". Menurut GM, julukan yang pada mulanya dipopulerkan oleh sastrawan Lekrea itu sebenarnya digunakan untuk mengejek. "Manikebu" berasal dari Mani+Kebu/o.
Bagi penyair Malin Kundang itu, kreativitas Pram adalah kreativitas polemik. Agaknya inilah yang kemudian tidak hanya melambungkan karyanya, tapi juga pribadinya. Pribadi Pram menjadi sorotan media-media internasional.
Budi Darma menyebut Pram sebagai orang yang sangat peka pada realitas sosial dan kemanusiaan. Ini sudah tampak lewat novelnya, Midah si Manis Bergigi Emas, yang terbit pada 1950-an. Begitu juga pada kumpulan cerpen Cerita-Cerita dari Blora yang juga terbit pada kurun itu. "Tetapi, isinya masih cerita kemanusiaan biasa," ujar mantan rektor IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) itu.
Sikap anti penindasan Pram semakin terasa saat dia aktif di Lekra. "Tetapi, waktu itu tulisannya lebih banyak slogan-slogan sehingga kurang mempertimbangkan estetika," ujar Budi Darma.
KARYA PRAM banyak merekam isu sejarah. Buku terakhir yang diterbitkan adalah Jalan Raya Pos, Jalan Deandels (2005), sebuah novel yang bercerita tentang penderitaan rakyat Indonesia semasa penjajahan Belanda. Ribuan orang harus melakukan kerja rodi untuk membuat Jalan Raya Pos dari Anyer menuju Penarukan sepanjang 1000 kilometer.
Tema-tema karya Pram mengingatkan orang pada Max Havelaar-nya Multatuli—satu sastrawan besar yang dikaguminya di samping John Steinbeck. Tema-tema itu dipetik sebagian besar dari dunia sekelilingnya yang nyata, atau dari tokoh-tokoh nyata hasil riset sejarahnya. Misalnya, Tjerita dari Blora, yang berpusar pada masa kecilnya.
Sewaktu masih hidup, rokok merupakan teman karibnya. Ia bisa menghabiskan 32 batang dalam sehari. Maka sebelum ketika sakit pun, ia masih sempat meminta rokok. Satu hal yang unik menjelang kepergiannya ini, Pram gemar membakar sampah. Sampah-sampah di halaman rumahnya di Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur, tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya, sampai sampah di halaman tetangga ia kumpulkan kemudian dibakar. Selain bakar-bakar sampah, Pram juga membakar baju-baju lamanya.
Semalam sebelum meninggal, ia masih bertanya "Apakah masih ada sampah yang belum dibakar?" Pertanyaan ini berkali-kali ia lontarkan ketika dirinya tengah berjuang melawan ganasnya maut. Malam itu beberapa kali ia tak sadarkan diri.
Mengenai hobi bakar-bakar sampah itu ternyata tidak baru belakangan ia lakukan. Sejak masih mendekam di Buru, ia biasa melakukan hal itu. Jika kita membaca Nyanyi Seorang Bisu, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara Pram mengisi waktu. Membakar sampah menjadi cara Pram melawan waktu, sekaligus bentuk resitensinya melawan penindasan rezim Orde Baru.
Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah, tapi juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi, bukan dikubur. Tapi permintaan ini tak dikabulkan oleh keluarganya. “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya,” adalah erangan terakhirnya sebelum dirinya meninggal.
Sungguh kukuh Pram mempertahankan prinsipnya, sampai ingin mati pun, ia ingin mati dengan caranya sendiri. Entah apakah ia akan menolak ketika mengetahui bahwa jenazahnya dimakamamkan secara islami, ditaburi ayat-ayat suci, sesuatu yang tak dipercayainya sewaktu masih hidup. Para pelayat itu mungkin tak tahu pasti apakah Pram muslim atau bukan. Semasa hidup, Pram pernah mengatakan bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. Agama, menurutnya, sering digunakan sebagai alat penindasan.
Sehari sebelum meninggal, Sabtu (29/4), Pram minta pulang ke rumahnya di Utan Kayu ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit St Carolus, Jakarta. Ia masuk UGD RS St Carolus pada 27 April karena kondisi kesehatannya memburuk.
Saat itu telah beredar kabar di beberapa milis, Pram telah meninggal dunia. Ada yang kemudian menyampaikan bela-sungkawanya. Ternyata kabar itu hanya gosip. Saya mengeceknya sendiri menelpon ke kediamannya Pram. Seorang lelaki mengatakan Pram masih hidup. Ia membenarkan bila Pram malam itu telah dibawa pulang ke rumahnya di Utan Kayu.
Paginya, sekitar pukul 09.30, saya mendapat kabar Pram telah tiada. Kali ini bukan gosip lagi. Pram meninggal dunia Minggu (30/4) pukul 09.02 WIB.
MASA LALU Pram yang pernah terlibat di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI, membuat sebagian orang bersikap sinis pada dirinya. Ketika masih di Lekra, Pram terlibat perseteruan dengan sastrawan dan seniman yang tak sepakat dengan pandangan sastra realisme sosialismenya.
Dalam tulisan-tulisannya di rubrik kebudayaan harian PKI Bintang Timur, Pram mengecam keras para sastrawan Manikebu (Manifes Kebudayaan) dan juga tokoh Masyumi seperti Hamka dan tokoh Partai Sosialis Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana.
Pram juga dituduh telah membakar karya-karya para rivalnya itu. Tapi dalam wawancara dengan Tempo (4/5/1999), ia membantahnya “Omong kosong. Kalau saya bakar dokumentasi orang lain, kan gila. Jika saya mau, saya bawa pulang.”
Atas perlakuan Pram cs terhadap sastrawan non-Lekra itu, Mochtar Loebis mengancam akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah ia terima, jika sampai Pram menerima penghargaan serupa.
Merenggangnya hubungan Pram dengan HB Jassin akibat penandatanganan Jassin pada Manikebu. Selain itu, Jassin menurutnya telah membiarkan atas pembantaian masyarakat Tionghoa dan juga pembantaian jutaan orang yang dituduh PKI. “Jadi bagaimana prinsipnya tentang humanisme?,” tanya Pram. “Karena itu, ketika dia sakit, no. Saya tidak mau tahu,” tambahnya. Sebelum peristiwa itu, Pram menganggap Jassin sebagai gurunya yang telah mengajarkan tentang humanisme universal.
Bagi Pram, pengikut Manikebu adalah penghianat Sukarno. Mereka telah menyerahkan bangsa Indonesia kepada bangsa Barat. Mereka telah berkonspirasi dengan Amerika.
Pram membantah tuduhan bahwa dirinya pengikut PKI. "Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri, tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial," kata Pram sebagaimana dikutip dalam buku "Saya Terbakar Amarah Sendiri" karya Andre Vltchek dan Rossie Indira.
Terbitnya buku Pramoedya Ananta Toer: Realisme Sosial, yang diluncurkan pada 31 Desember 2003 di Universitas Islam Jakarta itu menjawab "Ideologi" Pram yang memihak orang-orang tertindas.
Bagi Pram bersastra tak lepas dari kegiatan politik. Setiap orang berpolitik. Baginya keindahan sastra terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.
Kegigihannya dalam mempertahankan prinsip ini mengundang simpati dari para kaum muda dan kalangan luas. Pram tiba-tiba saja menjadi “maestro” bagi para generasi muda. Pram menjadi sosok yang dikagumi, sosok idola bagi anak muda.
Terbukti dengan bermunculannya komunitas-komunitas pecinta karya Pram. Sebut saja Institut Pramoedya di Bandung. Para anggotanya adalah mahasiswa sampai remaja SMU-SMP. Dari obrolan di kampus sampai di kafe-kafe “gaul”. Saban Sabtu para anak muda berkumpul di Kafe MInke, di Jalan Dago, Bandung. Mereka tidak berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan musik ataupun kencan, tapi untuk mendiskusikan karya-karya Pram dalam suasana santai sambil minum kopi atau teh.
Benar, Pram telah merebut hati para anak muda, yang jauh berjarak berpuluh-puluh tahun darinya. Orang yang mungkin tak pernah menggugat masa lalunya, seperti yang dilakukan oleh orang semasanya.
Pram ingin anak muda di negeri ini menulis karya-karya yang tidak bicara soal selangkangan atau persoalan remeh-temeh lainnya. Melainkan karya sastra yang bisa membangkitkan nilai-nilai humanisme.
Pram sebenarnya masih ingin hidup setahun lagi. Tapi siapapun tak bisa menolak ketika ajal menjemput. Kini ia terbaring sepi di pemakaman yang sama dengan si Binatang Jalang, Chairil Anwar. Dua insan yang tak mau menyerah kecuali dengan dirinya sendiri.
Satu pekerjaan Pram yang belum terselesaikan adalah rencana menyusun Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia, yang baru tergarap sebagian. Bahan-bahannya telah dikumpulkan, tertumpuk setinggi 3 meter.
Menutup tulisan ini saya kutip puisi Joko Pinurbo yang disampaikan kepada teman-temannya setelah Pram meninggal dunia: selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....****
[catatan: Tulisan ini sebelumnya pernah saya muat di blog ini. Hari ini, 30 April 2007 bertepatan dengan tanggal meninggalnya Pram, 30 April 2006. Tulisan ini saya muat lagi untuk mengenangnya.]
29 April 2007
Penyair Senantiasa Muda
SUATU ketika Aulia A Muhammad mengirim sepenggal puisi ke blog (situs internet pribadi-Red) seorang penyair lumayan ternama. Kepadanya dia meminta komentar atau penilaian atas puisi itu. Tak seberapa lama, sang penyair pun memberi jawaban. Puisi kiriman Aulia dikritik habis, dikatakan jelek dan belum mencapai kedalaman makna.
Rupa-rupanya, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews itu tengah iseng. Puisi yang dia kirim bukan miliknya melainkan karya Goenawan Muhammad. Setelah hal itu diutarakan, sang penyair kaget bukan kepalang. Dia buru-buru meminta maaf dan berharap proses dialog mereka dilupakan.
Aulia mengisahkan pengalaman tersebut dalam diskusi "Mengukir Dunia dengan Sastra, Membaca Geliat Penyair Muda" di Ruang E 103 Fakultas Sastra Undip, Sabtu (28/4).
Dengan kisah itu, dia hendak mengatakan bahwa tafsir seseorang terhadap puisi amat dipengaruhi oleh praduga. Orang kerap terbayangi oleh merek dan nama.
Nilai puisi seolah linear dengan popularitas penciptanya. Labelisasi penyair semacam itu menyesatkan cara pandang seseorang terhadap puisi. Semestinya, kata dia, puisi harus disikapi dari teks semata.
Dalam diskusi yang dipandu Muhammad Sulhanudin itu, Aulia melakukan uji coba serupa. Dia cantumkan penggalan puisi dari beberapa penyair dan meminta hadirin memberi penilaian.
Seperti Aulia, An Ismanto juga menolak polaritas tua-muda dalam sastra berbasis usia. Parameter tua muda semestinya dilihat dari teks yang dihasilkannya.
Regenerasi
Penyair asal Yogyakarta itu lantas mencontohkan Iman Budi Santosa. Meski usianya tak lagi muda, teks-teks Iman mempunyai semangat dan daya hidup luar biasa.
"Itulah penyair muda sebenar-benarnya. Polemik soal penyair muda dan penyair tua tidak signifikan bagi puisi karena setiap penyair pada hakikatnya senantiasa muda," kata Ismanto.
Diskusi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Undip dalam rangka "Peringatan Chairil Anwar 2007" itu memang menyoal seputar generasi dalam kesusastraan Indonesia. Adin, pegiat Komunitas Sastra Hysteria, memapar contoh kegagalan regenerasi kepenyairan di Semarang. Menurutnya, setelah S Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo, kota ini tak lagi melahirkan penyair baru yang berkualitas setara.
Kondisi itu, kata Adin, terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya matinya tradisi komunitas, ketiadaan pamomong, kemandulan dewan kesenian, dan ketidakberpihakan media massa.
Untuk memunculkan kembali Semarang dalam peta kesusastraan Indonesia, para penyair muda harus berdaya upaya melakukan ikhtiar swadaya.
Sementara Ridho Al Qodri, aktivis Buletin Sastra Pawon Surakarta, membedah kecenderungan puisi penyair muda. Menurutnya, puisi-puisi mereka masih berupa penggambaran subjektivitas individual.
[catatan: tulisan ini adalah liputan hasil diskusi "Membaca Geliat Penyair Muda" yang ditulis oleh Rukardi, wartawan Suara Merdeka. Saya menulis laporan yang lebih detil yang akan dimuat di blog ini, menyusul.....]
21 April 2007
Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota
Dunia kepenyairan di negeri ini tampaknya jauh lebih dinamis bila dibanding dengan perkembangan dalam dunia prosa. Kenyataan ini bisa kita temukan dalam media-media lokal maupun nasional yang memuat puisi dalam edisi . Di sana kita akan menemukan beberapa nama baru, nama-nama yang tidak itu-itu saja. Tak tanggung-tanggung, penyair yang secara usia masih bisa dibilang belia, karyanya bisa nampang di media.
Pemunculan nama-nama penyair baru di media massa tersebut, diantaranya mereka yang masih berusa muda, memang belum seberapa bila dibanding dengan karya yang dimuat dalam media-media buletin atau selebaran yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas pecinta sastra. Media semacam ini sekarang sudah cukup banyak jumlahnya seiring dengan merebaknya komunitas-komunitas pecinta sastra yang digawangi oleh para penyar muda. Bisa diduga, bermunculannya karya para penyair muda itu karena tersedianya ruang yang lebih luas, yang disediakan oleh media komunitas. Fasilitas kemudahan memuatkan karya ini di satu pihak menguntungkan para para penyair muda, karena mereka tak harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan pengirim naskah untuk dapat memuatkan karyanya di media massa.
Dari uraian singkat di atas, secara kuantitas, geliat penyair muda dalam berkarya sudah cukup menggembirakan. Bagaimana dengan kualitas karya mereka, apakah sebanding dengan bermunculannya penyair-penyair baru yang diantaranya diorbitkan lewat media-media komunitas?
Sudah menjadi olok-olok sejak periode sebelumnya jika para penyair muda kerap kali hanya mampu meniru karya-karya para senior mereka. Pemunculan karya mereka belum mampu menciptakan karya dengan bentuk yang baru, tapi baru sebatas tiruan-tiruan secara bahasa, namun ketika karya itu didekati akan menunjukkan kedangkalannya. Sosiawan Leak menyebut karya mereka masih menampakkan kseragaman, alias berkarakter lemah. Bahkan karya-karya mereka masih dihantui sejarah sastra dengan nuansa-nuansa Sapardi Djoko Darmono dan Afrizal Malna. Benarkah demikian?
Jawaban atas segala dugaan-kecurigaan itu akan dikupas dalam diskusi puisi bertajuk “Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota” yang akan digelar di Fakultas Sastra Undip pada 28 April 2007. Acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) ini dalam rangka memperingati Hari Chairil Anwar yang hingga saat ini masih menjadi simbol bagi kelahiran para penyair muda.
Diskusi akan menghadirkan penyair muda asal Yogyakarta An Ismanto yang akan menyampaikan proses kreatifnya. Dua pembicara lain, Ahmad Ridho dari Kabut Institute Surakarta dan Adin dari Hysteria Semarang akan memaparkan gerakan-gerakan sastra yang digalang oleh para anak muda. Sementara itu, Aulia Muhammad akan mengupas karya-karya para penyair muda itu secara kualitas dari kacamata pemerhati puisi.
Kontak Panitia
Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) UNDIP
PKM Fakultas Sastra Undip
Jalan Hayam Wuruk 4 Semarang
CP: 081675443300 (Habib)
12 April 2007
Nafsu Terakhir: Teror Syahwat dan Kearifan Tasawuf Jawa
Judul : Nafsu Terakhir
Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
Cetakan : Kedua, 2007
Tebal : 190 halaman
Ini adalah jilid ke sembilan dari kedua belas jilid Serat Centini yang sangat mashur itu. Hampir seluruh isinya bercerita tentang syahwat. Tapi ia terselamatkan oleh keluhuran tembang yang sarat muatan ajaran tauhid dan tasawuf. Ia mengajarkan nilai-nilai luhur kearifan jawa yang bijaksana. Meski kerap kali tak teralakkan dibawa ke kubangan nafsu syahwati yang liar, mewarnai pengembaraan Amongraga yang suci untuk mencapai kehadiranNya.
Nafsu Terakhir diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Centini disusun atas perintah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat untuk menyusun kembali sebuah cerita kuno dalam bentuk tembang yang menyarikan segala ngelmu Jawa. Tembang ini disusun dalam bahasa Jawa, dengan syair yang luar biasa indah. Syair yang mahadahsyat itu diberinama Suluk Tembangraras, tapi orang lebih mengenalnya dengan nama Serat Centini. Untuk melaksanakan misi ini, diutuslah tiga pujangga keraton: Sastranegara (Yasadipura II atau Ranggawarsita I), Ranggasutrasna dan Sastradipura.
Ranggasutrasna diberi tugas menjelajahi Jawa bagian Timur untuk mengecek keadaan dan menghimpun pengetahuan. Sastradipura mendapat tugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama islam. Sedang Sastranegara mendapat tugas menjelajahi Jawa Barat sekaligus menghimpun pengetahuan lahir bathin.
Ranggasutrasna yang pulang terlebih dulu, segara memulai pekerjaannya. Hasil karyanya menjadi 4 jilid, berisi 321 buah lagu, menceritakan sejarah Giri hingga keruntuhannya dan tiga orang putra Giri dalam satu jilid. Namun karya Ranggasutrasna ini belum memuaskan keinginan Sang Pangeran karena bagian seksualnya masih kurang menonjol. Begitupula setalah kedua rekannya, Sastradipura dan Satranegara merampungkan bagiannya. Sang Pangeran masih belum juga puas. Bagian senggamanya masih kurang greget. Maka dikerjakanlah sendiri oleh Sang Pangeran dari jilid 5-10, kemudian penulisannya diserahkan kepada ketiga pujangga keraton itu (Wayan Susetya, 2007:109-110).
Dalam buku ini dikisahkan Tembangraras meratapi kepergian suaminya, Amongraga. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar. Ia tak mau berkomunikasi dengan siapapun, termasuk abdi setianya, Centini, yang memahami setiap bahasa isyarat Tuan Putrinya. Ayahanda dan ibunda Tembangraras cemas tak karuan. Dibujuklah sang putri agar melupakan kesedihan. Tapi tetap saja tak meruntuhkan nestapanya. Hingga akhirnya ayahanda mengutus adiknya Kalawirya untuk mencari sang menantu. Bersama kedua adik Tembangraras, Jayengwesti dan Jayengraga, Kalawirya dan Nuripin pagi buta berangkat mengembara menyusuri hutan meninggalkan padepokan Wannamarta.
Ditengah pengembaraannya, berulangkali mereka dihadapkan pada godaan-godaan yang menjerumuskan mereka menuntaskan nafsu syahwatnya. Adegan seks dilukiskan begitu vulgar. Mulai pertemuanya dengan seorang janda kaya yang menjamu mereka hingga mabuk kemudian mencicipi satu-persatu zakar Nuripin, Kalawirya, dan kedua keponakannya. Di perjalanan lain kadang mereka menuntaskan syahwatnya dengan memasukkan alat kelaminnya ke dubur teman prianya. Dipersinggahan lain, mereka tiba di kediaman seorang peladang bernama Ki Nurbayin. Katiga putrinya yang buruk rupa diam-diam sudah lama memendam keinginan untuk mencoba zakar seorang pria. Beberapa kali mereka melihat Ayah dan ibu tirinya berhubungan intim dari balik tirai kamarnya. Maka begitu dirumahnya kedatangan tamu para pria, mereka bergerombol mengikuti ke tempat tidur para tamunya.
"Apa menurut kalian Jayengraga mau ditunggangi jika kita dekati," tanya Banem, sisulung kepada kedua adiknya, Banikem dan Baniyah.
Sesuai kesepakatan, sisulung diberi kehormatan mencoba zakar Jayengraga untuk yang pertama. Dalam kegelapan Banem memeluk Jayengraga. Adik Tembangraras itu pura-pura terkejut. Padahal ia sudah mendengar percakapan ketiga bersaudara itu. Dalam hati ia sebenarnya tak ingin menyerahkan alat kelaminnya menjadi percobaan para perempuan buruk rupa itu. Tapi karena tak ingin melukai hatinya, Jayengraga membiarkan saja ketika Banem naik di atas pahanya. Jayengraga dibuat geli karena Banem tak tahu bagaimana memulai permainan. Maka dibimbinglah ia oleh Jayengraga untuk memasukkan zakar yang sudah mulai mengeras itu ke vaginanya yang masih perawan. Usai Banem, Banikem dan Baniyah menggilir Jayengraga bergantian, hingga akhirnya subuh tiba dan Jayengraga segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat subuh.
Adegan seks itu kendati dilukisakan begitu vulgar, tapi juga jenaka. Karya sastra ini memang hendak menampilkan seks secara polos, jujur, sebagai nafsu lahiriah yang lumrah terjadi pada manusia. Para pria itu beberapa kali tak mampu mengelak dari nafsu syahwati, tapi usai itu mereka tetap tak lupa menunaikan kewajiban sholat
****
"Sayangku, jika kamu berkenan, mari kita kembali ke dunia makhluk dan rajanya," tutur Amongraga kepada Tembangraras, istrinya.
Amongraga baru saja tersadar dari pengembaraannya yang panjang. Dia telah menelantarkan Tembangraras, si cantik jelita putri kiai pesantren Ki Panurta, yang baru dinikahinya. Istri yang baru disetubuhinya setelah melewati empat puluh hari lamanya memberikan wejangan tentang ajaran tasawuf Jawa. Itu pun cuma dua hari. Kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari kedua adik kandungnya. Tapi malah terhanyut dalam kenikmatan pertapaan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Ia lupa ada hal lain yang harus dia kerjakan selain melakukan jihad besar itu.
"Oh pangeran Giri! kamu telah membimbing jihad besarmu sedemikian jauhnya sehingga kamu alpa menjalankan jihad kecilmu," ujar Endrasena, pengembara yang ditemuinya di tengah pengembaraannya.
Syekh Amongraga, sebelumnya bernama Jayengresmi. Ia putra mahkota Sunan Giri. Ia mengembara mencari dua adiknya, Jayengsari dan Rencangkapti. Kerajaan Giri baru saja diserang Sultan Agung, raja tanah Jawa karena penguasa Giri tak mau bersujud kepadanya. Kerajaan Giri hancur dalam kobaran api. Ayahanda, sang Khalifatullah ditangkap dan dibawa ke Mataram sebagai tahanan perang Sultan Agung.
Usai penyerangan itu, Jayengresmi mencari kedua adiknya yang hendak diajaknya lari dari kejaran pasukan Sultan Agung. Tapi ia tak menemukannya. Hatinya hancur. Ia pergi meninggalkan Giri tanpa seorang pun tahu, ia sendiri tak tahu ke mana hendak dituju dalam pengembaraannya. Ia mengikuti petunjuk Allah yang mengarahkannya berkelana masuk Suluk.
Dikisahkan Jayengsari dan Rencangkepti tak terpisah. Mereka juga mencari kakaknya di reruntuhan Giri. Tapi pencarian mereka sia-sia. Merekapun mengembara jauh, menghilang dari kejaran pasukan Mataram di bawah komando Pangeran Pekik.
Dalam pengembaraannya, Jayengresmi sudah berubah nama menjadi Amongraga. Ia tiba di pondok Wanamarta dan di
Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubungan badan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawa kepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangan tubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat serta batin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari balik tirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanya bersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangraras untuk mengembara mencari kedua adiknya.
****
Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongraga dihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuan pengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata.
Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki. Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan mereka menjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia tak habis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santri pengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barang berhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benar terjadi.
Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang Tuan Putri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudah lemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki selonjor. Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi tak digubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini ke cakrawala. Di
Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka. Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongraga bersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cuma pingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknya yang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang ada dihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangraras memperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.
Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid ke sembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asal Cina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegang menemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.
"Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?"
"San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untuk mendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamu belum bisa lepas dari dirimu sendiri!"
Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yang memenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Di antara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, dia mengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinya terlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.
"Jihad yang mana?" tanya Amongraga.
"Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di enjara Mataram," jawab Endrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benar menghilang dari pandangannya.
Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma, panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencari kedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan oleh raja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasa takut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allah ketimbang melayaninya.
"Badai telah menduduki tahta para raja,
Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua.
Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin."
Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat. Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap dan berbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan Sultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. Ulat yang betina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahi sepupunya.
Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadi raja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnya tak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untuk menjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yang dicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh para pejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.
Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkan serangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukan ajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan di Tegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: "Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”
****
Serat Centini, sama halnya dengan Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan umat muslim di nusantara. Selain dituduh mengumbar seksualitas secara vulgar, mereka juga dituduh menghina ajaran Islam. Pelecehan terhadap ajaran Islam itu dialamatkan terhadap Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco. Kedua karya ini sempat dilarang beredar pada masa pemerintahan Orde Baru. Kedua karya ini melukiskan potret “kaum abangan” yang awam terhadap Islam dan “kaum santri” yang terlalu mendewakan syariat.
Kaum santri, dalam Suluk Gatholoco karya pujangga dan ulama besar jawa Ranggawarsita, digambarkan begitu mudah terpancing emosinya ketika menghadapi orang abangan macam Gatholoco (dalam bahasa jawa artinya asal ngomong, asal njeplak). Ini adalah gambaran kaum santri yang sebenarnya dalam penguasaan ilmu agama masih dangkal, sehingga mereka begitu mudah memberikan cap “kafir” kepada orang lain. Berbeda dengan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam dengan begitu lenturnya, bahkan bisa sambil bercanda, seperti ketika dirinya mengajak Prabu Brawijaya V masuk Islam. Sunan Kalijaga menjelaskan tentang islam, shalat dan makrifat layaknya pasangan yang sedang bersenggama.
Dalam konteks kekinian, karya-karya sastra besar Jawa itu bisa ditengok kembali untuk dijadikan sebagai refleksi perkembangan agama Islam di Indonesia dewasa ini. Bermunculannya gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal, yang menghalalkan segala cara belakangan ini sudah tercerabut dari ajaran-ajaran tasawuf Jawa yang arif dan bijaksana. Islam di Jawa dan nusantara pada umumnya, adalah agama yang secara historis berpijak dari akar budaya lokal yang sarat dengan laku dan budi pekerti luhur.
Mencermati perkembangan dunia kesusasteraan kontemporer di negeri ini, tampaknya mengalami kemunduran yang terlampau jauh. Terutama dalam hal kebebasan berekspresi. Dunia sastra kita sampai dengan hari ini masih sibuk mengkotak-kotakkan diri ke dalam kubu-kubu: sastra seks, sastra islami atau sastra moralis dan amoral. Masyarakat pembaca dan juga sastrawan terjebak dalam penafsiran-penafsiran dangkal atas suatu teks. Mengukur nilai-nilai sebuah karya sastra dengan ukuran moralitas yang semu.
Pertanyaanya, jika memang moral masih mau dijadikan sebagai ukuran baik-buruknya sebuah karya sastra, apakah dengan mengumbar seksualitas maka karya-karya sastra Jawa yang sudah tersohor hingga ke belahan penjuru dunia itu, dapat dikatakan tidak ber"moral"? Tidakkah mereka mengajarkan nilai-nilai budipekerti yang luhur? Wallohu alam bisyhowab….
Selengkapnya......28 March 2007
Andrea Tak Melawan Pasar
Unik, begitulah sosok Andrea Hirata. Penulis novel Laskar Pelangi itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Tapi dia juga meminati bidang keilmuan (science). Belakangan dia menulis novel. Ternyata karyanya laku keras dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra.
Seperti yang diakui Andrea, Laskar Pelangi adalah kisah masa kecilnya. Masa kecil di sebuah desa miskin di Belitong. Laskar Pelangi adalah novel perdananya. Buku kedua, Sang Pemimpi, seperti juga buku perdananya, menjadi best seller.
Tidak seperti halnya para kritikus sastra yang memberikan pujian kepada karya Andrea, Aulia Muhammad pagi itu membeberkan beberapa kekurangan kedua novelnya. Pertama soal melawan pasar. Bagi Aulia karya Andrea tak melawan pasar. Tapi sebaliknya, justru mengikuti pasar.
Karya yang ditawarkan Andrea juga tak baru. Hampir mirip-mirip yang disajikan dalam serial tayangan islami, seperti yang tampak dalam buku kedua Andrea, Sang Pemimpi, yang disebut oleh Aulia sebagai "pertobatan".
Lakunya karya Andrea, ditambahkan Aulia karena menampilkan keharuan. Termasuk juga strategi penerbit yang menampilkan Andrea sebagai awam yang menulis sastra. Orang menjadi ingin tahu. Ini seperti melejitnya nama Feri atau Ikhsan peserta Indonesian Idol, yang menampilkan sosok anak keluarga yang tak mampu. Bahkan untuk pergi menyaksikan aksi panggung anaknya, ayah Ikhsan harus dengan menjual becak.
Kemudian soal endorsement atau catatan oleh para pakar, menurut Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com itu membuktikan betapa tidak percaya dirinya seorang pengarang. Hal lainnya, adalah soal pengkotak-kotakkan sastra menjadi beberapa jenis. Menurut Aulia, tidak perlu membuat kategorisasi sastra, termasuk kategori orang awam menulis sastra. Yang terpenting adalah karya itu bagus, diapresiasi oleh pembaca.
Bagi Aulia strategi apapun halal dilakukan penerbit. Tapi yang jauh penting dilakukan penerbit adalah bagaimana agar buku bisa murah. Yang penting karya itu dibaca."Bagi saya karya itu dibaca saja sudah sangat senang," katanya.
Oleh karena itu, menurut Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com itu tidak perlu mendewa-dewakan karya. Bahwa karya ini bagus, penulisnya hebat. "Pengharapan yang terlalu berlebihan atas suatu karya, seringkali mengecewakan. Makanya biasa saja dalam menanggapi suatu karya. Secara wajar," kritik alumnus Fakultas Sastra Undip itu.
Menanggapi kritik Aulia, Andrea mengatakan bahwa dirinya melihat pasar secara praktis. Soal ketidakpercayaan pengarang, dirinya mengaku mulanya juga tak percaya jika para pakar sastra memberikan pujian atas karyanya.
"Makanya, saya pernah meledek seorang teman dari penerbitan. Saya katakan ada tiga profesi yang tidak bisa dipercaya. Yang ketiga itu adalah penerbit," ujar pengarang kelahiran Belitong, yang kini bekerja di PT Telkom Bandung ini, sambil tersenyum lepas.
Dalam acara "Bincang dan Temu Penulis" yang digelar oleh LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan toko buku Toga Mas di Joglo Fakultas Sastra Undip (27/3) itu, Andrea juga menyampaikan sekilas novel ketigasnya yang berjudul "Edensor". Dalam kesempatan itu Andre membacakan abstraksi atau sinopsis dari vonel ketiganya. Yang unik, kendati
novel ketiganya masih prelaunch, tapi seperti yang tampak di banner yang dipajang oleh panitia, ditampilkan juga sampul buku yang keempat.
"Apa anda bisa menikmati mengarang dalam waktu sesingkat itu, atau sebenarnya anda sudah menyiapkan sejak lama?
Atau jangan-jangan anda memanfaatkan aji mumpung, mumpung lagi laku?" tanya Diantika, mahasiswa Sastra Indonesia Undip.
"Saya sendiri juga tak tahu. Saya begitu cepat menyusun novel-novel itu. Saya tak ada beban. Mungkin karena ini pengalaman saya pribadi," jawab Andrea. [tulisan ini diterbitkan di suaramerdeka.com]
*Liputan lain ditulis di Harian Suara Merdeka (cetak) di rubrik seni. Klik di sini
18 March 2007
Gelas Kosong Barthes
KEMATIAN pengarang yang diwacanakan Roland Barthes pada 1967 tak habis-habis diperbincangkan. Selain Michael Foucault, boleh jadi sudah ribuan orang mengkritik atau mengamini tesis filsuf dan kritikus Prancis itu, baik lisan maupun tulisan.
Image: Reading The Death of The Author
Selasa (6/3) malam, ikhwal kematian pengarang itu kembali didiskusikan dalam acara Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di joglo Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayamwuruk 4, Semarang. Belasan peminat sastra menghadiri perhelatan bertajuk "Benarkah Pengarang Sudah Mati?" yang diselenggarakan buletin sastra Hysteria dan Komunitas Sendangmulyo itu.
Dalam "The Death of the Author", Barthes mengemukakan, pengarang seharusnya lesap ke dalam teks untuk kemudian menghilang. Jadi, ketika pembaca datang untuk memaknai teks, ia tak lagi menemukan jejak pengarang. Teks yang lahir menghalangi jarak pandang pembaca ke pengarang.
Pembaca punya kebebasan besar menafsir teks. Mereka berhak memaknai apa pun tanpa harus dibayang-bayangi sosok pengarang. Konsekuensi kematian pengarang adalah kelahiran pembaca.
Barthes, seperti dikutip pembicara Muhamad Sulhanudin, memisahkan teks dan pengarang dengan formula before-after. Pengarang saat ini berbeda dari dia saat menulis pada waktu lampau.
Apa yang diyakininya sekarang boleh jadi tak serupa lagi dengan yang tertuang dalam teks. Garis before dan after jadi batas tegas yang memisahkan teks dan pengarang. Pengarang telah kehilangan otoritas.
Sulhanudin menilai tesis Barthes masih relevan dalam realitas kesusastraan kontemporer sekarang. Pembaca, berbekal pengalaman masing-masing, diam-diam menyusun strategi untuk mencari kebenaran yang diinginkan.
"Lalu, kenapa kita masih sering menafikan kehadiran pembaca? Biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca yang memaknai, memenuhi gelas yang masih kosong itu," kata dia.
Pembaca, ujar Sulhanudin, berhak menafsir teks sastra. Menafsir tak berarti sekadar membaca ulang, tetapi menelusuri makna tersamar di balik teks dan menemukan makna baru.
Beragam
Sementara itu, penulis tak perlu membebani diri dengan keinginan mendedahkan sesuatu ke pembaca. Sebab, salah-salah itu justru jadi bumerang. Pesan tak sampai, pembaca justru bosan.
"Menulis tak perlu dilambari niat membuat karya sastra besar. Ketika karya sudah menyentuh simpul kenikmatan pembaca, kebesaran karya muncul dengan sendirinya," kata mahasiswa Sastra Inggris Undip itu.
Peserta diskusi punya pendapat beragam. Seorang peserta melihat, pembacalah yang dominan memaknai teks. Bukan sebaliknya. Pembacaan intens tak serta-merta menjadikan teks otonom, tetapi berada dalam bayang-bayang pengarang dan pembaca. Pada titik kulminasi, pembaca akan kembali menghidupkan pengarang yang dianggap mati dalam terminologi Barthes.
Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News Aulia Asyahiddin menilai kematian pengarang justru berimplikasi pada overintepretasi pembaca. Mereka kerap menafsir realitas dalam teks secara liar.
Dia mencontohkan tafsir terhadap adegan sampan yang berlayar di danau sebagai hubungan intim. Dayung dimetaforakan sebagai penis dan air danau sebagai vagina. (Rukardi)
* Tulisan ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Kamis 8 Maret 2007. Versi onlinenya bisa diakses di sini
** Baca artikel terkait di blog ini:
- Merayakan Kematian Pengarang
- Mission Impossible, Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra
- Pengantar Singkat Post Strukturalisme
12 December 2006
Tren Awam Menulis Sastra
Nugroho Suksmanto, siapa sih pemilik nama ini. Sepertinya masih asing dalam dunia penulisan, khususnya karya Sastra. Tapi bukunya "Petualangan Celana Dalam" diterbitkan Gramedia, penerbit yang memiliki nama besar di Indonesia. Jangan-jangan?
Pertanyaan dan (kemudian) kecurigaan itulah yang barangkali muncul dalam benak orang ketika pertama kali mendengar nama penulis buku kumpulan cerpen (kumcer) "Petualangan Celana Dalam" yang baru-baru ini diluncurkan di Semarang.
Seperti yang juga dirasakan oleh Darmanto Jatman dan Triyono Lukmantoro yang menjadi pembedah dalam diskusi peluncuran buku "Petualangan Celana Dalam" itu di Fakultas Sastra Undip pada Senin (12/12) malam. Keduanya mengaku kurang memiliki informasi yang cukup tentang penulis.
Benar, Nugroho memang bukan penulis terkenal, yang telah melahirkan banyak karya. Ini kali pertama buku kumpulan cerpenya diterbitkan. Selama ini ia menekuni dunia usaha, di bidang properti di kawasan Kuningan, Jakarta. Namun sebelumnya, dari pengakuannya diketahui ia sudah beberapa kali menulis puisi. Memang tidak diterbitkan dalam bentuk buku, tapi puisinya ini telah dibuat sketsa oleh para pelukis piawai.
Dari pengakuanya pula, dia rupanya punya masa lalu di Semarang. Semasa kecil tinggal di desa Magersari yang berbatasan dengan kampung Pendrikan, setting yang juga terdapat dalam cerpennya. Pernah studi di University of Shoutern California, kuliah di ITB. Almamater yang disebutkan terakhir menjadi cerita dalam salah satu cerpennya (Tidak untuk Bermain Catur?).
Triyanto Triwikromo melihat kehadiran Nugroho dalam ranah Sastra sebagai tren baru yang ia sebut sebagai "Awam Menulis". Bisa jadi ini yang membuat buku penulis yang tidak terkenal ini bisa diterbitkan oleh Gramedia, karena melihat ada pasar baru. Tren "Awam Menulis" ini adalah seri dari tren-tren sebelumnya, diantaranya "Selebriti Menulis" seperti yang dilakukan oleh beberapa artis yang menulis cerpen ataupun novel. Namanya juga tren, tentunya terkait dengan pasar, dan akan meledak lalu meredup tak lama kemudian.
Atau jangan-jangan karena penulis yang punya latar belakang pengusaha, jadi bisa saja ia meminta Gramedia menerbitkan bukunya. Bukankah di zaman sekarang ini uang berkuasa?
Dugaan di atas bisa saja benar, tapi dari pengakuan penulis tidaklah demikian. Menurutnya, Gramedia tetap memberlakukan seleksi naskah yang akan diterbitkan secara ketat. Analoginya, jika karyanya bisa diterbitkan, berarti secara kualitas memang dianggap layak oleh penerbit. Cuma, variabel apa yang dipakai untuk mengukur kelayakan itu. Bisa jadi seperti dugaan Triyanto itu, karena Gramedia sedang menciptakan tren "Awam Menulis" dan tentu saja motifnya adalah pasar!
Darmanto melihat banyak celah yang sebenarnya bisa dieksplorasi dari beberapa karya Nugroho itu. Ia mengatakan, ketika membaca judul sebuah cerpen, ia kemudian membayangkan cerita itu menurut versinya.
"Saya mengira petualangan celana dalam itu pengalaman celana dalam yang dipakai oleh beberapa orang. Di pakai presiden misalnya, terus dipakai siapa lagi. Eh, ternyata kok tidak seperti yang saya bayangkan," katanya.
Baginya, apa yang dilakukan oleh Nugroho adalah hal baru. Bisa semacam dekonstruksi. Tapi bisa saja ngawur. "Orang ketika saya tanya apakah dia sudah membaca buku ini, ternyata belum," ucapnya, setengah mengejek.
Sementara Triyono berangkat dari pertanyaan tentang siapa penulis itu, kemudian melihat dari dua cara pandang Barthes dan Faucoult. Bagi Barthes (Baca: Kematian Pengarang), teks suatu karya sastra tidak perlu dikaitkan dengan penulis. Namun sebaliknya, bagi Foucoult sebuah karya tidak bisa lepas dari penciptanya. Oleh karenanya Foucoult juga mendekati karya dari biografi pengarang.
Pertanyaan kemudian, apakah yang diceritakan oleh Nugroho itu adalah pengalaman pribadinya? Dari sana kemudian Triyono menyimpulkan bahwa menulis cerpen adalah sebagai bentuk aktualisasi diri Nugroho.
Terkait judul cerpen berjudul "Petualangan Celana Dalam", Nugroho mengatakan cerita itu dari pengalaman pribadinya. Suatu kali dia mendapati pembantunya yang sedang mengepel lantai dalam posisi setengah membungkuk tampak tak memakai celana dalam.
"Katanya ia gatal-gatal kalau memakai celana dalam," akunya.
"Ya, dicuci yang bersih dong biar nggak gatal kalau dipakai," timpalnya kepada si pembantu.
Kemudian ia minta si pembatunya itu untuk memakai celana dalam. "Eh, nggak taunya ia pakai celana dalam saya," kata Nugroho. Peristiwa itulah yang kemudian mengilhami cerita "Petualangan Celana Dalam" yang sebenarnya ia bukan judul yang ia berikan.
"Waktu itu saya mengajukan beberapa judul (semuanya tak dipakai). Tapi penerbit menyarankan memakai yang ini. Mungkin ada pertimbangan lain," terangnya.
Paparan beberapa pembicara itu pun mendapat tanggapan dari beberapa peserta diskusi. Ada yang bertanya tentang standar estetika dalam karya sastra, ada pula yang menanyakan tentang sisi filosofis celena dalam. Adapula yang cuma sekadar berkomentar tapi sekaligus menyanggah apa yang disampaikan oleh pembicara.
Jika Triyanto mengatakan kemunculan Nugroho sebagai tren Awam Menulis, Aulia malah menganggap para pembicara itu yang awam yang tak mengerti persoalan sebenarnya. Menurutnya karya sastra dalam era postmodern ini tidak lagi menjadi produk individu, tapi hasil kerja kolektif. Dalam posisi ini, karya sastra ditentukan oleh beberapa faktor. Tidak hanya proses kreatif dan penciptaan, tapi sisi produksi dan juga distribusi.
Begitu juga dengan penilaian Triyono bahwa teks Nugroho yang valusentris. Menurut Aulia penilaian itu adalah hasil pembacaan Triyono, bukan yang diinginkan oleh pengarang dalam hal ini Nugroho. Di sinilah teks berbicara.
Bagaimana dengan anda, apakah anda sepakat dengan pandangan beberapa kritikus itu, atau punya cara pandang yang berbeda?