Sebuah pengakuan keluarga korban NII
Tubuh Evi lemas seketika mendengar ucapan Gonggo. Evi tak habis pikir, pengorbanan yang dilakukan selama ini dibalas dengan perlakuan yang tak semestinya dia terima. Perlakuan kasar seorang adik kepada kakak, setelah sang kakak mati-matian mengusahakan uang pinjaman sampai kuliah pun menjadi berantakan.
"Sudah baca SMS-ku," tanya Evi kepada Gonggo yang duduk berhadapan di satu meja di sebuah kantin di salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
Gubraaaaakkk!!!... Tangan Gonggo menggebrak meja. Dia berdiri dari tempat duduknya. Matanya melotot. "Anda salah datang ke Jogja. Kita tertawa pas waktu baca SMS anda," jawabnya lantang dengan mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah muka Evi.
Dari ucapannya itu, menurut Evi sepertinya Gonggo sudah tak menganggap lagi Evi sebagai kakaknya. Dia menyebut "Evi" dengan "Anda". Yang membuat Evi penasaran adalah kata 'Kita',"...Kita Tertawa," kata Gonggo kepada Evi. Siapa Kita itu, dia dan siapa?
"Saat itu, aku hanya diam saja. Mie yang sudah dipesan nggak aku makan. Nggak nafsu lagi," kenang Evi.
****
Drama perseteruan kakak dan adik ini dimulai sejak pertengahan 2006, sekitar satu tahun silam. Suatu hari Gonggo datang ke Semarang untuk menemui Evi. Waktu itu Gonggo masih berstatus sebagai mahasiswa semester III di Fakultas Kehutanan UGM. Gonggo datang dengan muka memelas. Dia mengaku habis menghilangkan kamera milik temannya yang harganya mencapai 5 jutaan. Ia berbicara sambil menitikan air mata. Evi percaya. Dia kasihan melihat adiknya.
Kepada Gonggo Evi bilang akan membantu meminjamkan uang. Jawabannya ini diberikan untuk menyenangkan sang adik. Padahal saat itu Evi tak mempunyai cukup uang sejumlah yang dibutuhkan Gonggo. Evi akan menyanggupinya, entah ke mana dia akan mencari pinjaman, saat itu belum terpikirkan.
Belum lunas Evi membayar cicilan utang, Gonggo datang lagi dengan keinginan yang sama: butuh uang. Kali ini untuk biaya reparasi motor temannya. Ia baru saja kecelakaan dengan mengendarai motor milik teman. Beruntung dia tidak mengalami luka serius. Untuk yang kedua kalinya, Evi tak bisa mengelak. Di matanya Gonggo adalah seorang adik yang baik. Dia juga penurut.
Namun kebiasaan meminjam uang makin kerap dilakukan Gonggo. Dan yang menjadi tumpuan adalah sang Kakak. Barangkali Gonggo sungkan jika harus berurusan dengan bapak-ibunya. Evi mulai menaruh curiga. Ada yang tak beres dengan adiknya. Dia kerap pinjam uang. Dia juga sering bilang sedang ada di Semarang. Untuk apa, bagaimana dengan kuliahnya di Yogya, apa dia nggak kuliah?
Tak selang lama, keluarga Evi di kampungnya di sebuah desa di Kecamatan Juwono, Pati, Jawa Tengah mengeluh karena Gonggo sudah lama tak pulang ke rumah. Padahal saat itu kuliah sedang libur habis ujian semester. Kepada orang tuanya Gonggo mengaku tidak bisa pulang ke rumah karena dia mengikuti semester pendek. Kecemasan orang tua makin menjadi karena belakangan nomor handphone anaknya itu tak bisa dihubungi lagi.
Menurut Evi, adiknya itu sering menggunakan nomor-nomor yang berbeda untuk mengirim SMS kepadanya. Evi juga mulai kesulitan kemana harus menghubungi sang adik.
Dari hasil informasi yang dilacak oleh paman Evi yang berada di Jogja, diketahui Gonggo tidak mengikuti semester pendek. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Gonggo telah absen satu semester. Bagian akademik menerangkan Gonggo mangkir. Mendapati informasi ini, sang paman langsung pulang menemui orang tua Gonggo di kampungnya di Pati. Keluarga sangat terkejut. Evi yang berada di Semarang dikontak. Saat itu juga Evi pulang. Esoknya mereka kemudian ke Jogja.
Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju ke Fakultas Kehutanan di mana Gonggo kuliah. Bersama orang tuanya, Evi menuju ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiwa) di fakultas itu. Mereka ditemui oleh pengurus BEM. Evi menyampaikan maksud kedatangannya. Dari pengurus BEM itu diketahui jika adik Evi ada kemungkinan terlibat gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Menurut pengurus BEM, sudah ada tiga korban di fakultas itu.
Kemudian mereka menemui bagian akademik, memastikan status Gonggo. Ternyata memang benar, Gonggo sudah mangkir satu semester. Pihak orang tua memohon pengertian pihak kampus agar tidak memberikan skorsing kepada Gonggo. Mereka bahkan sampai menemui pihak rektorat. Mereka menyampaikan jika Gonggo ada kemungkinan menjadi korban NII. Mereka mengusulkan untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Namun usul ini ditolak oleh UGM. Rektorat kuatir dengan dilaporkannya ke kepolisian nanti akan diekspos oleh media, dan nama UGM bisa tercemar. Mereka memilih orang tua Gonggo bisa menyelesaikan secara kekeluargaan. Rektorat akan memberikan kesempatan Gonggo untuk kuliah kembali. Status mangkirnya akan dihitung cuti.
Jawaban pihak rektorat UGM yang memberikan kesempatan kepada Gonggo untuk dapat kuliah kembali memang cukup bijak. Namun penolakan usulan pihak orang tua Gonggo yang ingin melaporkan NII ke kepolisian, jelas sangat egois. Bagaimana tidak, yang dipikirkan adalah nama baik, bukan nasib sivitas akademiknya!
Setelah itu, mereka segera mencari Gonggo dan akhirnya bisa bertemu. Mereka bertemu di kantin kampus. Kepada bapak dan ibunya Gonggo membantah dirinya tidak terlibat dengan NII. Padahal sang bapak mengancam akan melaporkannya ke kepolisian. Tapi dijawab dengan enteng oleh Gonggo. "Kalau nggak percaya, ya sudah!"
Evi mencoba berbicara empat-mata dengan adiknya. Tapi ia mendapati jawaban yang sungguh sangat tidak dia perkirakan sebelumnya.
"Aku nggak habis pikir dia tega banget melakukan itu semua. Aku sudah mati-matian cari hutangan, kuliah kutinggal untuk menutup hutang, itu semuanya demi dia, kok dia membalasnya seperti itu. Ternyata selama ini dia bohong..." tutur Evi kepada saya belum lama ini di kompleks PKM Fakultas Sastra Undip.
Evi adalah mahasiswa D III Inggris angkatan 2003. Saat ini berarti dia sudah semester
ke-10. Padahal batas waktu maksimal untuk mahasiswa D III adalah 10 semester. Beruntung dia masih punya sisa satu semester karena sebelumnya dia pernah cuti kuliah.
"Aku sudah capek mengurusi adiku. Saat ini aku harus menyelesaikan kuliah sambil bekerja untuk membayar hutang," ucapnya. Tampak senyum kecut di wajahnya yang dibalut jilbab.
Apakah orang tua Evi mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk sang adik?
"Aku sengaja tak memberitahu orang tua. Nanti mereka bisa syok," jawabnya.
Ya, mereka akan syok bahwa ternyata Gonggo sudah melakukan sejauh itu. Bukan malah membela Evi yang kini kesusahan, mereka malah bisa menyalahkannya karena meminjami uang untuk adiknya. Dan yang parah, si bapak akan kembali mengungkit-ungkit masalah lama. Si bapak ini rupanya punya dendam dengan Islam. Ia ingin sekali anak-anaknya memeluk kepercayaan yang dia anut, kepercayaan "kejawen".
Hari sudah sore. Di ruangan tempat kami ngobrol cukup panas. Sepertinya Evi mulai kelelahan setelah bercerita beberapa jam lamanya. Sesekali ia menyeka butiran-butiran keringat yang bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar lelah, lelah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang menimpa adiknya. Saya meminjami sebuah buku berjudul "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!" karya Muhidin M Dahlan, sebuah novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi korban NII. Saya juga menjanjikan akan memberinya beberapa berita yang saya kliping. Saya kira dia perlu banyak informasi tentang NII. Besok, pada jam yang sama, kami akan bertemu lagi.
Silakan baca tulisan terkait:
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/negara-islam-yang-meresahkan.html
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/05/mem-polisi-kan-gerakan-nii-kw9.html
05 June 2007
Pengorbanan yang Sia-sia
08 May 2007
Mem-"polisi"-kan Gerakan NII KW9
Topik berjudul "Negara Islam yang Meresahkan" yang diposting di salah satu milis mahasiswa Sastra Undip belum lama ini mendapat tanggapan dari beberapa anggota. Salah satunya mengusulkan agar gerakan yang menamakan dirinya Negara Karunia Alloh (NKA) itu dilaporkan ke pihak kepolisian.
"Memang maresahkan kedengarannya ! Setelah membaca tulisan tersebut tersirat akan solusi apa yang bisa ditawarkan atas masalah tersebut. Bisa gak masalah tersebut dimintakan pendapat pada tokoh yang mempunyai otoritas untuk menanggapinya ? Tidakan apa yang harus dilakukan, pencegahan atau perlawanan. Bisa gak ditinjau dari segi hukum, apakah bisa dipolisikan gerakan /tindakan seperti itu untuk mencegah jatuhnyanya korban lebih banyak," tulis salah seorang anggota milis.
Penulis yang melontarkan diskusi memberikan jawaban yang cukup panjang. Berikut ini jawabannya atas pertanyaan di atas :
Kalau sepengamatanku, kasus itu sudah cukup kuat untuk di-"polisi"-kan. Tanpa memperdebatkan apa itu nama organisasi dan segala macam ideologinya, apa yang dilakukan oleh pelaku (yang diduga kuat sudah menjadi anggota NKI KW9 alias NII Al Zaytun alias NKA (Negara Karunia Alloh) sudah bisa dikatagorikan sebagai bentuk penipuan.
Aku sudah kepikir untuk membawa kasus ini ke pihak fakultas. Tapi kuurungkan. Pasalnya, si pelaku (ada dua) yang kuduga telah menjadi anggota NII itu adalah orang yang pernah dekat denganku. Salah satunya adalah ******. Belakangan memang sudah tak aktif lagi. Aku juga tahu siapa dia, background dia yang dari Demak, dll. Maka, aku mencoba untuk melakukan pendekatan, mengajaknya ngobrol dulu.
Setelah mengetahui jatuhnya korban, dan yang terakhir kudengar adalah anak ***** 2006, aku mulai ambil tindakan. Aku temui dia. Mengajaknya ngobrol. Sampai ke permasalahan. Tapi dia tak mau mengakui. Dia berkelit. Oke, aku pakai cara lain, sambil mengumpulkan informasi
lagi. Sementara waktu agar tidak jatuh korban, aku minta teman-teman **** menempel-nempel dan membagi-bagikan selebaran tentang info masuknya NII ini.
Aku mendiskusikan masalah itu bersama teman-teman komunitas PKM belakang. Disepakati skenario "mengadili" pelaku. Si pelaku di bawa ke salah satu ruang PKM, di rencanakan di **** yang sepi, di pojok, jadi nggak mengundang perhatian orang di belakang. Tapi rencana ini belum
sempat dilaksanakan, karena salah seorang teman yang merupakan teman pondok si pelaku sewaktu di Jepara punya cara yang waktu kedengarannya cukup masuk akal. Dia mengaku cukup tahu si pelaku. Dia kemudian mengajak si pelaku ke kontrakannya. Tapi tetap saja, si pelaku tak mau mengaku. Malah pura-pura tak tahu.
Jujur, aku sebenarnya sangat kasian pada si pelaku. Maka aku melakukan pendekatan lagi. Aku menemuinya dan mengatakan bahwa kasusnya sudah diketahui fakultas. Memang benar, kasus ini sudah menjadi pembicaraan luas. Aku juga pernah ditanya salah seorang dosen, tapi kubilang masih aman, dan aku juga tak menyebutkan siapa si pelaku itu.
Aku bilang, terserah kau tak mau mengaku. Tapi percuma saja. Fakultas sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan, atau memang fakultas mencari tahu sendiri. Dan aku yakin, kau tak akan bisa berkelit lagi. Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan didatangkan sebagai saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit lagi?
Kalau kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat. Dan kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini, kau sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan bagaimana ketika orang tuamu di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu itu?
Kalau memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan rekruitmen secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang sekarang sudah zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Kemudian soal iuran anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM berkedok agama. Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal sebelumnya kau tak seperti ini.
Kalau kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah ajaran agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini sudah sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari organisasi sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain. Apa yang hendak kau
cari, kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara Islam itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau membaca sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan untukmu.
Berkali-kali kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang mengetahui aktivitas pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap menganggapmu teman, yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti kau salah. Aku cuma benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai dirimu. Kau kini menjadi suka berbohong, tega memeras teman".
Dia terdiam cukup lama. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia mengangkat mukanya. "Aku minta waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.
Tiga hari sudah berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi usahaku cukup berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang, mereka sudah menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah memberikan pernyataan keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih
memantaunya dari kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani macam-macam, maka aku akan kontak orang tuamu.
Hmmm...dari cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih ada anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk lebih dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak tercium karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya mencari anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota NII yang dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa informasi yang kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus di Semarang. Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua PTN di Semarang ini, juga sudah menjadi target operasi NII.
Kembali ke usulan untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni dengan mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang teman yang terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah seorang temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak dikembalikan. HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga Rp 500 ribu. Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan mengembalikan kepadanya.
Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal karena pelaku sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung, tetangga rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi. Pelaku mengatakan, jika dia meminta HP itu secara baik-baik dan si pemilik mengikhlaskannya.
"Jadi kalau dia tega melakukan itu, kanapa aku tidak tega melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah benar-benar rusak, dicuci otaknya. Teman sendiri tega ditipunya," tuturnya yang ditirukan oleh salah seorang teman yang bercerita kepada saya.
Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi. Saya tahu dia dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita dari beberapa teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin terjerumus dalam aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang melaporkannya. Mungkin langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan memutus jatuhnya korban baru.
[Catatan: Beberapa bagian saya beri tanda ****. Dalam pesan aslinya di milis ditulis jelas. Pertimbangan saya, karena blog ini diperuntukkan untuk umum, maka hal-hal yang sifatnya privat tidak saya publikasikan. Dan ini sesuai permintaan si penulis ketika saya konfirmasi bahwa pesan yang dipostingnya akan saya muat di blog.]
21 April 2007
Negara Islam yang Meresahkan
Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak seorang temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.
Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah orang yang dimaksud.
"Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar. Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.
Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat di tanah air hingga ke luar negeri.
"Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.
Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim. Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.
Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur'an berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung argumentasinya.
Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah.
"Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan.
"Tiga juta," jawab salah seorang.
"Tujuh juta," jawab lainnya.
Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu.
"Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan Alloh," tanya Wawan lagi.
"Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.
Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema, nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya Wawan lagi.
Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.
"Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
"Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.
"Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.
Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15 menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.
"Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan diri. Hmm....
"Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.
Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.
Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah kemana.
****
Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?
Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran.
"Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema.
"Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.
Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?
Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air. Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.
"Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.
Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang tertulis di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.
****
Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?
Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar belakang pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan ternyata tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari mereka membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.
Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di Jakarta ( (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".
Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.
Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?
Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos pria.
Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?
Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?
Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!
Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.
Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia cuma sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa baru.
Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.
Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah.
"Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap. Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.
Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya, sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini. Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin saja!
Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di sini. ****
Catatan:
1. tulisan ini diposting oleh salah seorang member di milis sastra undip.
2 Beberapa nama (Ema, Fani, Ratih, Fatima) adalah bukan nama sebenarnya. Penggunaan nama samaran ini sengaja ditulis demi keamanan narasumber yang masih berstatus mahasiswa. Selain juga akan adanya intimidasi dari anggota NKA/NII karena telah membocorkan rahasia.
3 Penulis menggunakan istilah "korban" bagi mereka yang diajak bergabung dengan NKA atau NII atas pertimbangan ajaran yang tidak masuk akal yang diajarkan oleh organisasi itu, yang menurut saya menyesatkan.
4 Gambar ilustrasi pendukung diambil dari http://www.allthingsbeautiful.com/yang diberi caption "Jihad Barbie".
Link-link seputar NII:
- http://nii-alzaytun.blogspot.com
- http://www.webgaul.com/forum/showthread.php?t=51370
- http://niikw9.blogs.friendster.com/
- http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/1970.html?pesantren%20alzaytun
- http://www.fti-uii.org/index.php?option=com_content&task=view&id=191&Itemid=215
- http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/02/brk,20050802-64681,id.html
- http://www.eramuslim.com/ust/dll/44d6f709.htm
- http://bangsari.blogspot.com/2007/02/lagi-lagi-nii.html
- http://dirgaa.com/apps/EmailMengenaiNII.txt
- http://walausetitik.blogspot.com/2006/08/az-zaitun-aliran-sesat.html?pesantren%20alzaytun
- http://kaskus.us/showpost.php?p=13675007&postcount=78
- http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=279363
- http://swaramuslim.net/more.php?id=5498_0_1_0_M