Lengkap sudah kekecewaan Jaya. Sudah banyak berkorban, tapi tim yang didukung dengan segenap pengorbanan tak memberinya kemenangan. Namun demikian ia tetap mengibarkan bendera Merah Putih ukuran kecil sembari menyanyikan lagu sebagai ekspresi kekecewaannya. “Nggak bisa menang. Indonesia mimpi menang. Bangun-bangun kalah.” Ini diulang-ulangnya, dengan terduduk lemas di depan jalan keluar stadion, tangannya terus mengibarkan bendera merah putih. Tak pelak polahnya ini mengundang perhatian sejumlah orang yang melewatinya. Kecintaan Jaya pada timnas merah putih adalah nasionalisme yang dipertaruhkan atas rasa kecewa pada sesuatu yang dicintainya. Sebuah cinta yang dipertemukan atas dasar rasa se -tanah air, sebangsa Indonesia, sebuah komunitas semu (immagined community) yang dibayangkan sekelompok masyarakat, menurut Benedict Anderson. Sebentuk cinta yang tanpa menuntut, cinta dengan alasan yang sulit dijelaskan. Nasionalisme Jaya juga berarti pengorbanan seorang suporter timnas sepakbola Indonesia yang bertahun-tahun menunggu timnya masuk dalam pentas sepakbola dunia berakhir dengan kekecewaan. Jaya barangkali hanya satu dari sekian ribu suporter yang rela berkorban demi rasa kecintaannya pada tim sepakbola tanah air. Kalau pada akhirnya dia kecewa, ini wajar karena dia sudah banyak berkorban. Memang tanggapan atas kekalahan timnas Indonesia cukup beragam. Meski kecewa, ada juga yang tetap merasa bangga karena tim kesayangganya telah mampu menunjukkan permainan terbaik. “Kita kalah dengan terhormat, wajarlah lawannya Korea,” komentar Adhiyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Komentar Adhiyaksa tersebut memang melegakan, tapi di sisi lain mengecilkan timnya sendiri. Seolah menyimpulkan, apa mau dikata, timnas Korea memang lebih baik. Lihat saja ekspresi Nudin Halid, sang Ketua Umum PSSI, yang mukanya merah padam. Namun demikian dia tetap memberikan sanjungan bahwa timnas merah putih telah menunjukka permainan kelas dunia. Sementara itu, Sang pelatih Ivan Kolev mengatakan Indonesia beda kelas dari Korea. Korea adalah tim tangguh yang beberapa kali masuk Piala Dunia memiliki kemampuan di atas timnas Indonesia. Lagi-lagi dia pun bangga dengan anak-anak asuhnya. Baginya ini apa yang diberikan mereka sudah yang terbaik. Apapun hasilnya, toh cinderamatan kaos timnas tetap laris manis. Meski kecewa, mereka tetap bangga membeli atribut timnas itu entah untuk sekedar oleh-oleh keluarganya di kampung halaman, atau sebagai simbol rasa nasionalismenya pada timnas Indonesia. Meski timnya kalah, suporter tetap membeli kaos tim kesayangannya. Ini seperti menyiratkan, meski kalah, timnas Indonesia tetap dicintai, atribut sebagai simbol kebesaran tim tetap disematkan. Blogger Suporter Dari hasil penelusuran, ada beberapa blogger yang secara khusus mengulas seputar dunia bola. Dari sekian itu, ada yang lebih khusus mengulas dunia suporter dengan segala wacana dan pernak-pernik suporter bola dalam negeri. Ada bangunsuporter.blogspot.com yang dikelola oleh Aji Wibowo, Suporter.blogspot.com dikelola oleh Bambang Haryanto, Pemegang Rekor Muri Sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli dan Warga Epistoholik Indonesia, Persebaya.blogspot.com, dikelola oleh bonekmania, suporter Persebaya Surabaya, dan tentu masih ada blog suporter lainnya baik yang dikelola oleh perorangan maupun komunitas. Dari sekian blog yang saya kunjungi, masindra.wordpress.com adalah blogger yang pertama kali mencatatkan komentarnya atas pertandingan Indonesia vs Korea malam itu juga. Bisa jadi ada blogger lain yang luput dari penelusuran saya. Pemilik blog tersebut menggabarkan situasi menjelang pertandingan yang ditangkapnya dari luar stadion. Ada suara letusan, ada suporter membakar salah satu loket penjualan tiket Ada aksi pembubaran massa dengan gas air mata oleh petugas kepolisian. Untuk apa suporter sampai membakar loket, kenapa juga polisi menyemprotkan gas air mata untuk supporter yang ingin mendukung tim setanah-airnya? Apakah itu terjadi karena rasa nasionalisme. Nasionalisme versi suporter yang hendak mengekspresikan rasa kecintaannya kepada tim, dan nasionalisme petugas kemanan yang ingin mengamankan perhelatan akbar simbol keperkasaan merah putih? Lalu kenapa pula kedua kubu tak bisa sejalan, bukankah mereka punya satu kepentingan, membawa satu bendera? Dari awal pemilik blog http://masindra.wordpress.com sudah menduga, pemain Indonesia akan terlihat sedang belajar bermain bola, karena kecepatan yang selama ini diandalkan untuk melawan tim timur tengah tak efektif untuk melawan Korea Selatan. Belum lagi sikap yang terlalu hati-hati sang pelatih Ivan Kolev untuk mengganti pemain dan mengubah strategi permainan. “Melihat permainan tim Indonesia malam itu seperti mengingat masa lalu, pemain panik dan tegang, ketika tertekan banyak membuang bola, sering melakukan kesalahan passing dan salah mengontrol bola. Antiklimaks permainan Indonesia. Dengan permainan seperti itu wajar saja kalah melawan Korea Selatan yang sebetulnya bermain dengan sangat biasa, tidak istimewa,” catatnya. Mencermati catatan blogger itu, tampak sikapnya yang tegar. Sikapnya yang seolah-olah tak hendak membela kekalahan, menutupi kekecewaan. Inilah rasa nasionalisme yang melihat fakta secara obyektif. “Sedih tapi tetap realistis. Belum waktunya kali ya,” tulisnya. Ya, tetap harus diakui bahwa timnas Korea di atas kertas lebih unggul. Namun demikian, permainan timnas Indonesia dalam Piala Asia kali ini sudah menunjukkan peningkatan. Meski tidak lolos ke babak perempat final, apa yang sudah diberikan oleh skuad timnas Indonesia adalah hasil yang sudah patut dibanggakan. Tentu saja membela mental para pemain juga menjadi hal yang penting karena bagaimanapun mereka sudah berusaha maksimal. Dan sebagai pelatih dan para pembina sudah seharusnya memberikan dukungan moral pada anak-anak asuhnya. Tapi sebagai suporter tentu saja tak bisa dituntut untuk bersikap seperti layaknya mereka yang berada di jajaran pembina. Suporter adalah anak, sekelompok rakyat yang dengan sukarela berteriak-teriak memberikan dukungan, begadang menahan kantuk untuk menonton pertandingan, bahkan sampai nekad membolos kerja, seperti yang dilakukan oleh Jaya suporter dari Yogyakarta. Jangan paksa mereka untuk menghibur timnya, biarkan saja mereka menumpahkan segala ekspresinya: kesal, jengkel, dongkol, kecewa. Belajar dari suporter sepakbola Indonesia, baik yang blogger atau bukan, mereka yang berasal dari beragam daerah, yang hampir masing-masing memiliki tim lokal, bersatu-padu meleburkan diri mendukung perjuangan tim nasional Indonesia, entah betapapun akhirnya dikecewakan. Kecewa karena kalah, namun tetap bangga karena timnya telah menunjukkan permainan yang maksimal. Betapa sakit, betapa kecewa, namun tetap bangga. Masing-masing dari mereka punya beragam cara untuk mengeskpresikan kecintaannya pada tim kesayangannya. Apapun yang terjadi, demi nasionalisme, Merah Putih tetap dikibarkan! Mengutip tulisan http://masindra.wordpress.com yang menyatakan "Antiklimaks Permainan Sepakbola Timnas Indonesia", di sisi lain frasa ini sesuai untuk mengungkapkan kekecewaan para suporter atas kekalahan tim nasionalnya. Maka tulisan ini akan diakhiri dengan "Anti klimaks Nasionalisme Suporter Indonesia"
Sepakbola hingga kini masih terbukti ampuh menjadi alat perekat rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Fakta ini bisa ditemukan dalam perhelatan Piala Asia yang berakhir dramatis dengan kekalahan Indonesia dari Korea 1-0. Meski Tim Merah Putih gagal melaju ke babak perempat final, namun sejumlah suporter tetap memberikan sanjungan. Apapun yang terjadi, Merah Putih tetap dikibarkan.
Tengok saja Jaya Prawira yang rela jauh-jauh datang dari Yogyakarta demi menyaksikan secara langsung tim kesayangannya berlaga. Ia mengaku telah memberikan dukungannya langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno sejak laga perdana Tim Merah Putih. Ia pun selalu menyempatkan untuk menonton di kelas VIP. Biasanya ia ke Jakarta dengan pesawat, namun karena kehabisan tiket, hari itu ia berangkat dengan Kereta Api.
“Sudah habis berapa juta saya untuk ini semua,” ujarnya kepada wartawan Detik. Tak cukup itu, Slemania yang mengaku bekerja di Dinas Pendidikan Nasional di daerahnya sampai membolos kerja.
Dimuat di suaramerdeka.com
19 July 2007
Antiklimaks Nasionalisme Suporter Indonesia
30 May 2007
Blogger Berita yang Anonim adalah Banci!
[Catatan: Tulisan di bawah ini adalah tanggapan Jarar Siahaan, pendiri blog berita BatakNews atas blog FPI Online. Selama beberapa kali saya menggapi email Radityo Djajoeri; pemilik blog Mediacare, Indonebia dan FPI Online, saya menembuskan email saya ke bung Jarar. Jarar adalah seorang jurnalis yang idealis, menurut saya. Dia berani mengambil sebuah keputusan "berani", menanggalkan pekerjaan mapan sebagai redaktur di sebuah media terkemuka dan memutuskan menjadi blogger jurnalis BatakNews. Dia menilai pemilik media tak menggaji wartawannya dengan layak namun memberikan aturan wartawan tak boleh menerima amplop. Sementara para bos itu menerima "suap" dari rekanan usaha. Saya pernah menulis review blognya di sini. Berikut ini adalah isi emailnya yang dia kirim kepada saya.]
Aku belum bisa berkomentar spesifik pada kasus blog FPI, karena aku tidak pernah membaca blog itu -- sekali pun tidak pernah, bahkan setelah engkau memberitahukannya padaku lewat tembusan imelmu.
Aku cuma ingin beropini sedikit soal status bloger anonim. Dan sebelumnya aku harus beritahu bahwa aku adalah bloger pemula yang baru mengenal blog sejak 20 maret 2007. Sebelumnya aku betul-betul buta soal blog. Jadi opiniku berikut ini mungkin saja tidak pas seperti yang dipahami bloger senior lainnya. Dengan begitu engkau pun tidak menelan bulat-bulat apa yang kutulis.
Bagiku, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskan blogger memakai identitas asli, tapi "bloger berita" wajib memakai nama asli. Bloger berita kumaksud adalah blog yang menulis peristiwa aktual, opini tentang isu-isu publik seperti agama dll, blog LSM atau ormas, dan termasuk blog yang membahas tentang media.
Mengelola "blog berita" dengan nama samaran bagiku sama saja dengan menyebarkan selebaran gelap atas pesan "sponsor". Apakah selebaran gelap layak dipercaya? kertas begituan akan kubuang ke tempat sampah atau kutitipkan pada istriku untuk dijual bersama bundel koran bekasku kepada pedagang ikan asin langganannya di pasar Balige.
Bloger berita yang anonim [tanpa alasan-alasan kuat] adalah banci. Sama saja halnya dengan pembaca blog dan anggota milis yang beropini dengan nama samaran. Beritahukanlah padaku kalau ada kata yang lebih memalukan dari banci, dan itulah istilah yang tepat bagi mereka.
Beberapa hari lalu ada seorang bernama antok menyinggung kasus ini di blogku, bataknews. di sini kukopikan tulisan antok dan jawabanku padanya.
Terima kasih kawan, engkau telah berbagi pengalaman denganku.
salam.
-----------------
INI ADALAH TULISAN ANTOK DI BLOGKU:
bung, menurut anda, boleh nggak blogger itu anonim. ada batasannya, kalau misal harus anonim?
ada berita yang lagi hangat, blog FPI ternyata palsu. pembuatnya Indonebia alias Radityo. ah orang ini memang berengsek. harusnya FPI somasi tuh orang, biar kapok. saya memang nggak suka dengan FPI, tapi yang dilakukan oleh Radityo ini mengadu-domba. ini jelas nggak bener. kalau ketemu orangnya, pasti tak tampar tuh mukanya. maaf!
baca beritanya di http://gaya.suaramerdeka.com
------------------
JAWABANKU PADA ANTOK:
bloger anonim bisa saja.
batasannya, kalau menurutku: faktor keamanan. dan "keamanan" ini pun relatif. akan panjang bila kita bahas di sini. sebagai contoh saja: seorang bloger ingin menulis seorang ketua okp yang mabuk lalu memukuli warga, tapi dia sangat takut karena si ketua okp ini terkenal punya pengaruh luas dan "akrab" dengan kapolda. dalam kasus seperti ini sangat bisa diterima bila penulis blog memakai nama palsu.
satu lagi jenis blog yang menurutku bisa memakai nama samaran adalah "blog pribadi". yang kumaksudkan blog pribadi adalah blog yang hanya berisi catatan harian dan tidak menyinggung sama sekali urusan publik. misalnya aku seorang abg yang jatuh cinta pada seorang cewek, tapi aku sangat malu untuk mengungkapkannya; ya sudah, boleh pakai nama samaran.
tapi ketika blog itu membahas isu-isu umum seperti berita aktual, pembahasan soal agama, opini tentang skandal politisi dan kasus korupsi, maka si bloger wajib memakai identitas asli.
sama halnya, bloger yang menulis/mengelola blog resmi tidak boleh anonim atau memakai nama samaran. dia harus memakai nama asli, sebutkan alamat, ceritakan profil singkat, dan pasang foto diri di blognya. contohnya pada kasus blog fpi yang anda sebutkan, menurutku si bloger tidak boleh anonim. sebab kita tahu fpi adalah lembaga resmi. sama saja halnya dengan blog yang dikelola ormas lain, lsm, lembaga adat, atau blog berita seperti bataknews dan blog suara merdeka.
tapi ini hanya etika, dan itu pun setahuku belum secara resmi tertulis di kalangan bloger indonesia. artinya, pada kenyataan, sudah dan masih akan banyak bloger memakai nama alias meskipun blognya mewartakan berita dan artikel opini yang berkaitan dengan isu-isu publik.
jadi kupikir pembacalah yang harus bersikap. bila mereka melihat sebuah blog seperti blog fpi tanpa disertai foto si bloger atau minimal profil yang jelas, maka segeralah curiga bahwa blog itu ditulis oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
aku juga mencurigai sejumlah blog, milis, dan situs web yang memperdebatkan agama dikelola oleh orang-orang dengan identitas palsu. karena kulihat milis dan blog tersebut betul-betul menjadi sarang iblis — di mana setiap pengunjung dibiarkan menulis komentar sekasar apapun tanpa disensor sama sekali. hal ini pernah kutulis dalam artikelku di bataknews, PERSETAN DENGAN LOGIKA AGAMAMU.
dan memang hits blog dan milis itu sangat tinggi. wajar, karena semua orang dibiarkan berkomentar tanpa dimoderasi pemilik blog. mungkin anda pernah membaca blog dan milis kumaksud. di sana pihak nasrani memaki-maki alquran; dan pihak muslim memaki-maki yesus. dan aku tahu apa yang dicari si pengelola blog/milis seperti itu: uang. dengan membiarkan pengunjung berkomentar sebebas-bebasnya dan menulis opini sebohong dan sekasar apapun, maka hits otomatis tinggi, lalu pemasukan dari iklan berupa adsense pun masuk ke kantong para "maniak agama" itu.
bung, bloger seperti itu bagiku adalah iblis; dan orang yang doyan membaca blog begitu adalah calon iblis. aku tidak mau menjadi iblis; karena saat ini saja diriku sudah terlalu berdosa.
salam damai. jarar siahaan di tanah batak.
--
Jarar Siahaan
www.blogberita.com
www.jararsiahaan.com
[blog berita independen BatakNews]
21 May 2007
Blog FPI online: Black Campaign yang Menguntungkan?
Front Pembela Islam (FPI) tampaknya mulai menyadari peran weblog sebagai media yang efektif untuk memuluskan perjuangannya menegakkan syariat Islam di Indonesia. Barangkali, oleh karena itulah mereka membuat blog http://fpi-online.blogspot.com. Blog ini berisi berita seputar kegiatan FPI yang sebelumnya pernah dimuat di media lokal maupun mancanegara.
Tapi sebentar dulu, benarkah blog http://fpi-online.blogspot.com dibuat oleh anggota FPI atau simpatisannya. Bisa jadi malah sebaliknya, blog itu dibuat oleh oknum yang tidak senang terhadap FPI. Siapa tahu blog itu justru diniatkan untuk menyebarkan black campaign, untuk menjatuhkan nama FPI. Who knows?
Untuk mengetahui apakah blog FPI Online dibuat untuk mendukung aktivitas FPI atau malah sebaliknya, dibuat untuk menyebarkan black campaign, misalnya, simak penuturan beberapa sumber berikut ini.
“Saya tidak tahu pasti blog itu benar-benar milik FPI. Kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke sana adalah, blog ini justru dibikin untuk memperolok FPI. Dari kalimat deskripsinya, sidebarnya, foto-fotonya, terlebih lagi footernya (arabia - apa pula itu?!) semuanya terkesan menjelek-jelekkan FPI. Mirip Roy Suryo Watch,” tulis Ikram Putra di milis jurnalisme-sastrawi.
Roy Suryo Watch yang dimaksudkan adalah sebuah situs yang dibuat untuk menyanggah komentar-komentar Roy Suryo, sang pakar telematika, di beberapa media massa.
Situs tersebut saat ini sudah tak bisa diakses lagi. Namun, perjalanan polemik yang berlangsung dua tahun lalu itu bisa disimak diblog Priyadi.
“Dan itu pun tidak perlu diherankan. Tidakkah kita sudah sering dengar black campaign?,” tambah Ikram.
Menurut Ikram, Black campaign adalah kampanye menjelek-jelekkan, memperolok, yang dilakukan orang tanpa identitas jelas. Bisa anonim, atau bisa pula pseudonym. Ia berbeda dengan negative campaign, yakni kegiatan kampanye dengan menunjukkan kekurangan lawan. Dilakukan dengan terbuka atau ada pihak pembuat yang jelas. Dan menurutnya hal ini wajar-wajar saja.
Menurut Ook Nugroho, seperti yang ditulis dalam blognya (http://ruang-samping.blogspot.com), blog FPI online tampaknya sengaja didesain untuk bisa interaktif. Pengelola menyediakan shoutbox yang isinya justru lebih banyak memuat kecaman. Situs itu juga dilengkapi tool sitemeter, terdaftar di technorati, dan juga dilengkapi pernak-pernik yang sekarang sedang popular, yakni mybloglog.
"Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami," tulis Ook di blognya.
Karakteristik blog FPI online yang didesain interaktif, seperti dikemukakan oleh Ook mengundang beberapa pertanyaan. Benarkah jika blog itu dikelola oleh anggota maupun simpatisan FPI, pengelola blog akan membiarkan setiap orang bisa mengirim komentar di setiap tulisan tanpa ada moderasi. Apakah pengelola tidak khawatir akan adanya komentar spam, atau bahkan hujatan dari oknum yang tidak senang terhadap FPI. Apakah benar, jika blog itu dikelola oleh anggota ataupun simpatisan FPI, pengelola blog akan merelakan blognya diisi komentar yang bernada mengejek, bahkan cacian terpampang di kotak pesan dan tidak menghapusnya?
Satu hal lagi yang barangkali sulit untuk dipercaya, di blog FPI ini dipasang Google Adsense, sebuah layanan iklan berbayar yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Bukankah FPI yang dikenal oleh masyarakat luas anti terhadap segala produk yang berbau Barat, produk AS dan sekutunya. Apakah FPI hendak menggunakan dana kompensasi yang didapat dari Google Adsense untuk kegiatan jihad mereka?
Selain yang sudah disampaikan, masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari blog FPI itu. Pada halaman sidebar dicantumkan beberapa link yang “haram” dibuka. Bukankah ini hal yang aneh. Logikanya, jika pengelola blog FPI melarang link itu untuk dibuka, mengapa dicantumkan?
Ada juga himbauan untuk tidak mengisi petisi anti FPI, namun linknya dipasang di sidebar. “Berani mengisi, masuk neraka,” bunyi ancamannya. Kedengarannya, kalimat ini lebih mirip “ejekan” ketimbang “larangan”, bukan?
Untuk melacak status kepemilikan blog FPI itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengelola blog via email yang saya dapatkan dari halaman profil. Mulanya saya mengusulkan untuk mewawancarainya via Yahoo Messenger (YM). Namun pengelola mengaku tidak memiliki YM. “Lewat email saja ya? Ana tidak punya ym..” jawabnya singkat.
“Ana bukan anggota FPI, hanya simpatisan sahaja. Blog ini ana dedikasikan untuk FPI yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia seperti halnya ana dan sohib-sohib ana yang tersebar dimana-mana. Jadi semacam 'un-official weblog' FPI.Ana sendiri dengar selentingan kabar kalau FPI akan membuat situs sendiri, dalam bentuk website,” jawabnya menanggapi pertanyaan yang saya kirim ke emailnya, indonebia@yahoo.com.
Soal dugaan adanya black campaign dari blog FPI itu, pengelola tak menolak, pun tak mengiyakannya. Menurutnya ia sekadar mengumpulkan informasi tentang kegiatan FPI. Tujuannya, agar orang yang ingin mencari info tentang FPI di internet lebih mudah.
“Biarkan siapa sahaja bisa berkomentar, karena media sendiri sering menjelek-jelekkan FPI. Pernak-pernik di weblog kami hanya sekadar penghias belaka, tak kurang tak lebih. Sekali lagi, ini sifatnya temporer sahaja,” jawabnya.
PENGELOLA blog FPI mengaku pemilik blog http://indonebia.blogspot.com. Dari perbincangan di beberapa milis, Indonebia dikenal sebagai seorang tokoh parodi FPI di dunia maya yang malang-melintang di berbagai milis. Penulusuran dilanjutkan dengan melacak beberapa link “terlarang” yang justru dicantumkan diblog. Salah satu link itu adalah http://zamanku.blogspot.com. Namun link-link “haram” itu kini sudah dicopot dari blog oleh pengelola.
Saya membuka fasilitas mybloglog yang ada diblog http://zamanku.blogspot.com (http://www.mybloglog.com/buzz/community/mediacare). Dari sini diketahui bahwa pengelola blog Zamanku juga mengelola blog http://mediacare.blogspot.com dan jaringannya yang jumlahnya mencapai 39 buah blog. Sebuah jumlah yang sangat fantantis. Uniknya di anggota komunitas blog Mediacare yang ada di mybloglog itu dicantumkan dicantumkan blog indonebia dan FPI online. Jadi, sebenarnya mereka musuh atau kawan Mediacare?
Saya mulai curiga, jangan-jangan blog FPI Online, yang mengaku pemilik blog Indonebia itu, juga pengelola blog mediacare?
Untuk membuktikannya, saya menyocokkan identitas (id) Google Adsense blog FPI online, Zamanku, dan Mediacare. Hasilnya tidak jauh meleset dari dugaan. Tiga blog itu ternyata memiliki id adsense yang sama. Id ketiga blog itu adalah "5604202362132912".
Mendapati informasi ini, saya mengonfirmasikannya ke pengelola blog FPI Online. Dalam email saya sampaikan bahwa saya menemukan id yang sama pada blog FPI online dan Zamanku, blog yang dilarang dibuka oleh pengelola FPI. Kepadanya saya juga menyampaikan, dari blog Zamanku diketahui pengelola blog ini juga mengelola blog Mediacare.
Lalu, apa motivasi pengelola, adakah skenario untuk menjatuhkan FPI atau mengadu domba Islam. Jika tidak, apakah yang dilakukannya ini sebenarnya untuk bisnis internet, seperti yang dilakukan oleh para blogger yang copy-paste artikel, membuat blog dalam jumlah yang banyak, untuk menjerat pundi-pundi Google Adsense?
Pada email yang ketiga ini, pengelola Blog FPI kembali menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya sekadar mengumpulkan berita-berita tentang aktivitas FPI agar lebih mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.
“Kalo ‘black campaign’ ya tidaklah. Ana kan tidak ngarang-ngarang cerita dengan memutar-balikkan fakta tentang FPI. Ana sekadar mencuplik dari berita-berita di media massa, baik terbitan Indonesia maupun asing. Ana tidak mengurangi juga tidak nambah-nambahi. Mungkin lebih tepat disebut ‘un-official blog’ FPI. Kan di description juga ana cantumkan bahwa ana pendukung tegaknya syariat Islam di Indonesia, tapi ana tidak menyebut sebagai anggota FPI,” jawabnya.
Menurutnya, selama ini belum ada media massa di Indonesia yang berani memberitakan kegiatan FPI secara positif.
“Media bernuansa Islam macam Republika, Hidayatullah, Eramuslim dan lainnya saja jaga jarak kok, malah mereka lebih baik tidak memuatnya. Sedangkan nama FPI kan kebanyakan muncul kalo ada kericuhan dan lain-lainnya,” tambahnya.
Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?
Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black campaign. Apakah diantara anda ada yang punya istilah lebih tepat?
*****
SIAPAKAH sebenarnya pengelola blog FPI online yang memiliki id adsense yang sama dengan blog Zamanku, dan blog-blog jaringan Mediacare itu?
“Soal yang lain-lain, maaf ana tak perlu jawab. Biarkan ana tetap ber-id Indonebia,” jawabnya mengakhiri email yang ketiga kalinya saya kirim itu.
ti sudah disampaikan, Indonebia diduga tokoh parodi FPI yang malangmelintang di berbagai milis. Sekarang, siapa pengelola blog Mediacare?
Dalam posting blog Mediacare berjudul “Duka Cita Chrisye, Badai pasti Berlalu” disampaikan bahwa pengelola atas nama “Radityo Djajoeri” turut berduka cita atas meninggalnya Chrisye. Nama Radityo Djajoeri ini juga masih bisa dilacak di mesin pencari blogger dan technorati dengan tag Mediacare. Saya sudah menanyakan ini dalam email wawancara, benarkah Radityo Djajoeri tokoh Indonebia. Tapi Indonebia tak menjawabnya. Dia minta “biarlah saya ber-id indonebia”.
Dari blog Media-Jakarta (http://media-jakarta.blogspot.com) yang merupakan blog jaringan Mediacare, dicantumkan kontak telpon Radityo Djajoeri: 0817-98022XX atau (021) 790-28XX. Saya menelpon kedua nomor itu. Pertama saya menelpon nomor ponsel, tapi tak ada yang mengangkat. Kemudian saya telpon nomor yang kedua, dijawab oleh suara seorang laki-laki.
Halo, ini mas Radityo?"
“Saya bukan Radityo….”
“Saya dapat nomor ini di blog Media Jakarta, jaringan blog Mediacare. Nomor ini dicantumkan di sana atas nama Radityo Djajoeri. Saya ada perlu sama dia….”
“Wah nggak tahu ya. Tut…tut.……..”
Meski tidak ada pengakuan dari Indonebia bahwa dirinya adalah Radityo Djajoeri, dari hasil penelusuran yang sudah dipaparkan itu, tanpa pengakuan Indonebia pun sebenarnya sudah cukup jelas: Radityo Djajoeri adalah pengelola blog FPI Online yang mengaku Indonebia itu. Jika tidak, kenapa dia tak mengklarifikasi dugaan saya bahwa Indonebia itu adalah Radityo, seperti yang saya kirim dalam wawancara yang ketiga?
****
Dari cerita di beberapa milis, Radityo Djajoeri pernah dikeluarkan dari milis Jurnalisme. Farid Gaban, moderator milis Jurnalisme menyampaikan di milis bahwa Indonebia itu tak lain tokoh yang diperankan oleh Radityo Djajoeri. Selain Indonebia, Radityo juga punya Id lain, yakni Reporter Jalanan (Reja) yang kemudian juga menyusul dikeluarkan di milis yang sama. Siapakah Radityo Djajoeri itu? Adakah nama ini benar adanya, atau ternyata sama saja seperti Indonebia, nama "samaran" petualang dunia maya?
“Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis,” tulis Tomi Satryatomo mengomentari tulisan di multiply saya. Tomi adalah Executive Editor-Current Affairs & Features di ASTRO TV. Sebelumnya dia adalah News Producer di Trans TV.
Dalam posting di blog InsideKompas.blogspot.com, pengelola blog mengaku kedatangan tamu istimewa dan dikagumi. Tamu istimewa itu adalah Radityo Djajoeri, pengelola blog Mediacare, blog yang mengupas isu media dalam dan luar negeri. Ini sebuah gambaran lain akan sosok Radityo Djajoeri alias Indonebia. Di mata pengelola blog “Pecinta Kompas”, Radityo dianggap sebagai tamu terhormat, blogger istimewa, apakah benar demikian, ataukah pengelola blog Inside Kompas itu tidak mengetahui sepak terjangnya di dunia maya?
Belakangan diketahui pengelola blog Inside Kompas itu adalah Pepih Nugraha. Ia bekerja di Harian Kompas sejak 1 Mei 1990. Pepih sekarang menjabat Wakil Kepala Desk Multi Media untuk Kompas Cyber Media (KCM). Dari pengakuannya, blog ini diurusnya sendiri, tak ada orang lain yang membantu.
"Saya memosisikan diri sebagai karyawan Kompas saja, yang tidak rela lembaga tempat saya dideskreditkan, dihina, didemo, dan bahkan mau diserbu oleh pendemo yang dikompori oleh blok Kompasinside yang dikelola AJI. Saya berupaya independen, ketika manajemen berbuat tidak adil, saya juga akan mengeritik mereka pedas (hanya tersiar di milis karyawan Kompas)," ungkapnya. KompasInsode adalah blog tandingan yang dibuat oleh para wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Jurnalis Independen (AJI). Alamat blognya http://kompasinside.blogspot.com.
"Soal Radityo itu, sungguh saya tidak melihat sosoknya, saya tidak kenal dan saya tidak menilai orang dari sosoknya, apalagi saya belum kenal. Saya hanya membacanya dari Mediacare, blog yang konon dia asuh. Saya banyak menimba ilmu dari situ, setidak-tidaknya gosip pers di dunia maya. Kalau saya katakan dia tamu terhormat, tentu saya tidak akan mencabut penyebutan itu," tambahnya.
Namun, ketika saya bilang hendak menampilkan komentarnya dalam tulisan ini, Pepih menambahkan, “Saya menyatakan sikap sanjungan terhadap Radityo dengan Mediacare-nya itu sebelum Mas membongkar kasus Radityo dengan blog FPI-nya itu. Saya apreciate upaya Anda mencari kebenaran. Bravo!”
Untuk mengetahui bagaimana sikap FPI atas blog FPI online, saya menghubungi kantor pusat FPI seperti yang dicantumkan dalam blog FPI Online tersebut. Ternyata nomor itu benar alamat telepon FPI pusat. Oleh seorang perempuan yang menerima telpon, saya disarankan menghubungi Irwan Arsidi.
“Untuk urusan ini, silakan tanya kepada pak Irwan. Dia sekretarisnya Habieb,” jawabnya. Habieb yang dimaksud adalah Habib Rizieq, Ketua Umum FPI.
Dari percakapan telpon dengan Irwan, tampak kesan dia sosok yang ramah. Malam itu dia bilang sedang menemani putra habib Rizieq jalan-jalan.
“Kita sudah mendengar kabar itu. Namun kita nggak mempermasalahkan. Blog itu malah bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan FPI,” jawabnya.
Tidakkah FPI menganggap blog itu sebagai black campaign?
“Selama ini kita masih melihat sisi positifnya. Kita biarkan saja dulu, baru kalau sudah terlalu memojokkan FPI, kita akan bertindak,” jawab sekretaris Badan Investigasi FPI itu.
Menurutnya, kasus semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Irwan mengaku tidak mengetahui siapa yang membuat blog FPI itu. Ia menduga hal itu dilakukan oleh orang-orang yang simpati terhadap FPI. Sebelumnya FPI pernah memiliki website, namun dirusak oleh hacker.
“Dalam waktu dekat, Insya Alloh bulan depan kita akan punya website. Rencananya akan pakai domain org,” jawabnya.
Apa yang dilakukan oleh sosok anonim bernama "Indonebia", pengelola blog FPI Online, atau sosok yang sama bernama “Radityo Djajoeri” pengelola blog Mediacare, menarik untuk dicermati. Dua nama yang diduga kuat satu oknum yang sama ini malang melintang di berbagai milis dan dia juga memiliki banyak blog. Siapakah dia sebenarnya, untuk apa dan siapa dia melakukan itu semua, tidakkah semua yang dilakukan itu sebuah pekerjaan yang melelahkan, apakah pekerjaan itu dilaksanakan oleh tim?
Namun demikian, jika benar blog itu diniatkan untuk menyebarkan black campaign, toh oleh FPI justru ditanggapi positif. Blog FPI Online ini dikatakan Irwan dapat membantu mempublikasikan kegiatan FPI yang tak banyak diekspose oleh media. Benarkah kehadiran blog FPI Online itu menguntungkan FPI, atau FPI saja yang ceroboh tak mengetahui siapa sebenarnya pengelola blog yang di beberapa forum justru kerap mendeskriditkan FPI dan rekan-rekan seperjuangannya yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia?
Dari blog FPI Online, kita dapat memetik pelajaran berharga bahwa meski internet memberikan siapapun ruang yang luas untuk menyampaikan informasi, namun sebagai penulis, seorang punya tanggungjawab atas informasi yang disampaikannya. Dan sebagai pembaca, sikap kita harusnya melacak setiap informasi yang ada di internet, baik yang disampaikan diblog maupun di situs berbayar, dan tidak serta-merta menelan mentah-mentah apa yang disampaikan di sana. Salah satunya dengan mencari tahu dari mana informasi itu bersumber. Ini penting, karena tidak semua informasi yang di dapat dari internet benar, sebagian adalah sampah!
[tulisan ini dimuat dalam tiga tulisan di http://gaya.suaramerdeka.com atau http://blog.suaramerdeka.com ]
18 March 2007
Membuat Label Cloud di Blogger Baru
Salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh blogger yang baru (new blogger, sekarang sudah bukan beta lagi) adalah "label" atau "category", istilah yang sebelumnya dipopulerkan oleh Wordpress. Nah, ada tips untuk mempercantik tampilan label anda. Namanya "label Cloud", seperti yang tampil di sidebar sebelah kiri di blog ini.
Saya baru saja memajangnya, karena tertarik dengan tampilan yang ditawarkan. Memang ini tidak begitu krusial. Tapi untuk menambah daya tarik visualisasi blog, boleh dicoba.
Bagi yang ingin membuat label cloud, bisa mendapatkan kode script lengkap dengan cara menginstallnya di sini. Bagi yang punya problem dengan Bahasa Inggris, maaf saya belum sempat menerjemahkannya, hehe...
Optimasi Judul Blogger di Search Engine
Dari mana pengunjung blog anda datang? Salah satunya, tentu saja dari mesin pencari (search engine). Bila anda belum yakin apakah blog anda telah terindeks di mesin pencari, daftarkan blog anda sekarang di Google, Yahoo, MSN.
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tips untuk memaksimalkan isi blog di mesin pencari dari Ikhwan Sopa, salah seorang blogger yang konsen dengan masalah motivasi dan leaderships. Dengan tips ini isi blog anda akan tampil di mesin pencari secara lebih menarik melalui penampilan judul posting kita di mesin pencari. Saya sudah membuktikannya sendiri. Dan hasilnya memang mengesankan! Menarik bukan?
Sebagai ilustrasi, seorang yang memasukkan kata "mahasiswa" di Google akan ditampilkan beberapa list situs yang mengandung kata kunci tersebut. Pada link mesin pencari yang tertuju ke blog saya akan tampil "Mengenal Wartawan Mahasiswa-Muhamad Sulhanudin", "Menilik Eksistensi Pers Mahasiswa-Muhamad Sulhanudin", "Gerakan Mahasiswa di Simpang jalan-Muhamad Sulhanudin".
Pada list yang ditampilkan google itu ditampilkan posting blog saya yang di dalamnya terdapat kata mahasiswa. Lebih bagus lagi, kalau salah satu judl posting terdapat kata mahasiswa. Kemudian google akan menampilkannya dengan struktur seperti di ilustrasi tersebut: "Judul-Title blog".
Dengan struktur tampilan ini, seorang yang tengah mencari di mesin pencari akan tertarik untuk menuju ke blog kita. Bayangkan, jika dalam satu kata kunci saja google manampilkan 10 halaman situs yang direkomendasikan, dan tiap halaman memuat 10 alamat situs. Belum lagi, tidak semua halaman akan di baca. Bila tahu demikian, ya lumayan tips ini bisa meningkatkan traffic ke blog anda. Apa sih yang lebih berharga dari aktivitas blogging, kecuali jika blog kita dibaca oleh orang lain....
*Tips selengkapnya, di sini
22 January 2007
Sensor Baru untuk Para Blogger
UNTUK menyensor secara ketat dan lebih keras atas bejibunnya informasi melalui internet, pemerintahan garis keras Iran mensyaratkan pendaftaran semua website dan weblog dalam negeri pada 1 Maret. Kontan, hal ini menuai penolakan dari para blogger di Iran yang menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan berpendapat.
Sebuah komisi yang beranggotakan pejabat pemerintah, termasuk anggota intelejen, kehakiman, telekomunikasi, dan kementerian urusan kebudayaan dan Islam, akan menjadi penanggung jawab mengenai persetujuan konten website-website tersebut. Komisi ini bertugas menghalangi atau menyaring berbagai website dan weblog yang dianggap ilegal.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melarang dan menyaring ribuan website dan weblog tanpa penjelasan. Tapi, untuk kali pertama, undang-undang baru ini secara khusus berisi konten macam apa yang tidak diizinkan.
Para pendaftar website dan weblog juga harus menyertakan identitas pribadi mereka. Para pengelola yang mengabaikannya terkena risiko ditutup website dan weblog-nya, dipidana, dan jika kasus ini dibawa ke pengadilan, para terdakwa bisa dipenjara.
Sejumlah aktivis berencana menentang persyaratan-persyaratan baru tersebut. Farnaz Seify, seorang blogger-cum-feminis di Teheran, mengatakan, “Kebijakan baru pemerintah soal pemberlakuan regitrasi ini menunjukkan sikap penguasa yang makin jelas bahwa tidak seorang pun diizinkan mengkritik atau bahkan berdiskusi soal agama, kebijakan pemerintah, revolusi, Ayatollah, dan masalah-masalah sosial."
”Kebebasan berbicara tidak bisa dikekang dan dibatasi –tapi, pemerintah Iran telah merusak hak dasar manusia ini,” katanya. “Dengan undang-undang baru ini, pemerintah menistakan saya sekaligus kecerdasan saya. Saya tak akan mendaftarkan website pribadi saya. Saya tak butuh izin untuk menjalankan kebebasan berekspresi.”
Farnaz, yang blog-nya pernah disaring karena berisi kampanye feminis yang terang-terangan, menambahkan, “Saya tahu mereka akan menyensor saya lagi. Ini memperlihatkan kekuatan mereka namun bukan legitimasi mereka. Saya tidak akan menyetujui hukum yang anti-kemanusiaan ini dengan menaati hukum tersebut maupun menghormatinya.”
Hukum baru ini mewajibkan pendaftar weblog dan website untuk melengkapi nama, alamat, nomor telepon, calon pengunjung, perkiraan jumlah pembaca, dan informasi detil lainnya. Pelarangan yang komprehensif ditujukan pada konten yang berkaitan dengan beragam isu, dari kecaman terhadap tokoh-tokoh agama hingga masalah seks, dan juga konten yang menyerang Ayatollah Khomeini (pendiri Republik Islam), Ayatollah Khamenei (Pemimpin Tertinggi Iran), atau yang dianggap melecehkan hukum-hukum Islam.
Menteri Urusan Kebudayaan dan Islam, yang merancang hukum baru ini, mengatakan bahwa aturan ini dibuat untuk mendukung website-website legal dan menghilangkan yang “ilegal”.
“Hukum ini diharapkan akan membuat atmosfer internet menjadi bersih dan aman,” demikian pengumumannya.
Bagi banyak orang Iran, internet adalah satu-satunya arena publik tempat mereka bisa berbagi dan bertukar pikiran, perhatian, dan emosi tentang masalah seksualitas hingga masalah sosial. Juga berbagai isu yang diperdebatkan seperti hak-hak perempuan serta kecaman terhadap rezim saat ini dan kebijakan-kebijakannya. Setelah intenet menjadi ruang yang relatif aman untuk kebebasan berpendapat, para pengkritik hukum baru tersebut mengatakan bahwa syarat-syarat baru itu akan secara efektif mematikan pertahanan terakhir komunikasi ini.
Sejak 2002, pemerintah telah memberlakukan sistem pembatasan ketat, yang secara efektif melarang berbagai website dan weblog milik orang-orang Iran di dalam negeri. Negara mengontrol seluruh Penyedia Layanan Internet (Internet Service Providers), dan menjadikan Iran sebagai negara yang paling membatasi ruang internet setelah China.
Hukum baru ini tak hanya menjamin pemerintah mengontrol seluruh konten dari semua website yang dirilis di Iran. Kini penguasa juga bisa menyaring ribuan website dan weblog yang ditulis dalam bahasa Farsi di luar Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir –sejak hukum baru— banyak wartawan dan blogger ditangkap dan dipenjarakan. Arash Ashoriania, seorang photo-blogger dan pemenang lomba Reporters Without Borders Best of the Blogs yang diselenggarakan German Broadcaster Deutsche Welle pada 2006, mengatakan bahwa hukum ini mempengaruhi aktivitasnya sejak “blog saya disaring oleh penguasa tanpa alasan yang jelas. Dan saya tak merasa kehilangan dengan menolak mendaftarkan website saya.”
Blogger dan wartawan Iran terkenal lainnya, Hanif Mazruie, yang pernah ditahan dan dimasukkan di penjara yang terpencil selama lebih dari 90 hari pada 2004, meyakini peraturan baru ini hanya akan mempunyai efek jangka pendek.
”Orang-orang Iran secara terus-menerus bekerja dengan cara baru untuk melewati penyaringan tersebut. Kebijakan ini hanya akan membuat mereka makin getol dalam mengabaikan kewajiban dan mendapatkan informasi yang mereka inginkan,” kata Mazruie.
Kebanyakan website dan weblog politik yang mengkritik pemerintah telah diblokir. Dengan pemantauan yang meningkat, hal ini menyiapkan jalan bagi penindasan dan kontrol resmi terhadap internet.
”Blog-blog dan website-website politik adalah kelompok yang menjadi terget,” kata Mazruie. “Juga NGO dan organisasi hak asasi manusia, yang menggunakan internet sebagai sarana utama komunikasi, adalah kelompok utama yang akan dibatasi. Pemerintah ingin melarang, menghentikan, dan memperingatkan orang yang menulis tanpa nama (anonim).”
"Para pejabat intelejen yang menjadi kekuatan penyeimbang selama masa jabatan Presiden Khatami (1997-2005) sekarang menjadi bagian pemerintahan ini dan mereka bernafsu untuk melanjutkan tindakan tegas terhadap aktivis pengguna internet sejak Ahmadinejad berkuasa,” ujarnya. “Meski demikian, mereka tak berhasil.”
Wartawan sekaligus blogger Roozbeh Mirebrahimi mengatakan bahwa kebijakan registrasi juga menciderai konstitusi Iran. “Persetujuan dari kabinet tidak berarti keputusan pemerintah sah. Mereka harus melewati parlemen. Meski demikian, ini menunjukkan suasana konservatif di Iran yang dengan mudah menutup mata terhadap kebebasan berpendapat,” katanya.
“Semua pengalaman yang mereka punya termasuk mengancam, menangkap, dan mengintimidasi para aktivis pengguna internet dan wartawan,” tandas Mirebrahimi, yang pernah dipenjara karena tulisannya di internet pada 2004 dan telah dibebaskan dengan jaminan.
”Pemerintah hendak mengontrol wilayah maya dengan berbagai cara. Walaupun, tak mungkin untuk mengontrol internet untuk waktu lama. Teknologi dan orang yang bernafsu untuk mengembangkan pengetahuan akan menemukan satu cara untuk bergerak maju dan pemerintah hanya menghamburkan waktu dan biaya,” katanya.*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
02 November 2006
Beda Blogger dengan Jurnalis
Apakah Anda sempat bertanya, untuk apa para blogger rajin menulis (memposting) di blognya. Dari artikel yang bersifat pemikiran, penemuan-penemuan baru, sampai yang cuma sekadar catatan keseharian yang lebih tepat disebut curhat (curahan hati). Apapun jenis blog tersebut, pembaca bisa banyak mendapat banyak informasi dari sana.
Bukankah para blogger itu menulis tidak dibayar. Meski ada program Google Adsense , yang akan membayar blogger, namun kebanyakan blogger masih menulis secara sukarela. Mereka juga menulis bukan untuk institusi atau lembaga seperti media?
Dari sana muncul dugaan bahwa para blogger melakukan aktivitas ngeblog (blogging) nya karena kecintaan pada menulis. Mereka rela memposting tiap hari ke blognya tanpa dibayar, tanpa namanya muncul di media.
Lalu apa wartawan yang menulis tiap hari di media tempat bekerjanya bisa disebut sebagai blogger?
Kalau ditinjau dari jenis aktivitasnya, baik blogger maupun wartawan, keduanya sama-sama menulis. Tapi jika dicermati dari motivasi dan untuk apa dan siapa mereka menulis, tentu saja berbeda. Wartawan menulis untuk media, sementara blogger menulis untuk dirinya sendiri. Blog menjadi tempat blogger menuangkan pendapatnya. Sementara media belum tentu mewakili opini pribadi wartawan, tetapi mewakili publik atau bahkan pemilik media.
Dari sana, kita menemukan spirit yang luar biasa dari para blogger. Mereka menulis karena kecintaan. Mereka menulis karena perlu untuk disampaikan. Dibilang narsis, ya emang blogger harus narsis. Justru ini yang perlu dicontoh.
Tapi, mengapa sedikit wartawan yang memiliki blog. Menyedihkan lagi, sebagian diantaranya anonim. Ia seolah tak pede dengan statusnya sebagai wartawan. Dia cerita ngalor ngidul tentang persoalan di luar profesinya. Justru blogger, yang tidak memiliki latar belakang jurnalis, malah yang pertama kali mengabarkan tentang sesuatu kejadian di blognya. Jadilah wartawan yang bukan blogger, dan blogger yang bermental wartawan.
Memang nggak ada yang melarang. Tapi, alangkah lebih baik, jika blog bisa menjembatani wartawan dengan pembaca. Alangkah lebih baik jika kita menulis tentang sesuatu yang paling dekat dengan kita, yang paling kita mengerti.
Adakalanya ketika menulis di media, wartawan tidak bebas. Ada sesuatu yang tak boleh disampaikan oleh pimpinan. Ada alasan tertentu kenapa mengambil sudut pandang tertentu. Ini salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh seorang wartawan yang juga blogger.
Sekadar contoh, seperti yang dilakukan oleh desainer tempo yang menjelaskan tentang alasan pemilihan desain di http://tukangkoran.blogspot.com/ atau Andreas Harsono yang banyak mengupas soal catatan jurnalismenya di http://andreasharsono.blogspot.com. Selain dua blog itu, tentu masih ada blog menarik lainnya.
*disarikan dari workshop blog untuk wartawan di Semarang pada pertengahan September 2006.