Showing posts with label Blog Review. Show all posts
Showing posts with label Blog Review. Show all posts

05 July 2008

Bambang Haryanto: Bali Ndeso Mbangun Blog

Jika Bibit Waluyo "Bali Ndeso Mbangun Deso", maka Bambang Haryanto "Bali Ndeso Mbangun Blog". Dari kota kecil Wonogiri Bambang merekam jejak hidupnya.


Menjelang akhir Desember 2005, Bambang Haryanto (BH) menerima email dari Verdi Amaranto. “Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan blog Anda, 'Buka Buka Beha', dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list wanita-wanita terindah Anda. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.”

BH sangat terpukul menerima kabar itu. Anez—panggilan akrab BH kepada Widhiana Laneza—dan BH pernah menjalin hubungan khusus di masalalu. Selain Anez, ada Riaty (Cresenthya Hartati). Kedua perempuan ini membuat BH begitu terkesan.

Dari pengakuan Anez dan Riaty kepada BH sewaktu masih pacaran, mereka mengidap asma. Ironisnya, baik Anez juga Riaty memelihara anjing di rumahnya. Diperparah lagi, saat itu BH masih menjadi perokok berat. Hingga suatu hari Riaty mengingatkannya: “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat. Juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.

Dalam episode kehidupan selanjutnya, BH terbaring di rumah sakit. Oleh dokter dia disarankan agar berhenti merokok. BH akhirnya benar-benar meninggalkan kebiasaan buruknya, menghisap nikotin yang setiap saat bisa menyerang kesehatan dan juga membahayakan hidupnya.

Untuk mengenang Anez dan juga Riaty, BH meluncurkan sebuah blog yang mengupas seputar topik asma. Blog itu tak membahas kajian asma dari sisi medis, tapi berisi cerita pengalalaman yang dialami pemilik blog dengan sejumlah penderita asma.

Sehari-hari BH sekarang tinggal di kota Wonogiri, sebuah kota kecil terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan dari kota Solo. Sebelumnya mantan mahasiswa Jurusan Arkeologi FSUI, 1982, itu pernah bekerja di ibu kota selama beberapa tahun sebagai konsultan komunikasi.

Sesekali ia menyempatkan berjalan pagi menyusuri sudut-sudut Kota Wonogiri dengan berjalan tanpa alas kaki sambil membawa radio. Cerita hasil jalan-jalan pagi itu dihimpun dalam blog The Morning Walker.

Meski bagi sebagian orang radio sudah ditinggalkan, tapi tidak untuk seorang BH. Baginya radio menjadi “gadget” istimewa karena dari sana ia bisa menikmati siaran BBC yang direlai oleh stasiun radio lokal di sekitar tempat tinggalnya. Ini pula yang membuat saya terkesan, meski ia tinggal di kota kecil, semangatnya untuk tetap mengupdate perkembangan informasi tak padam.

Bahkan internet bukan hal yang asing seperti kebanyakan mereka yang tinggal di daerah. Buktinya ia masih sempat menulis di blog. Beberapa blognya yang masih diupdate antara lain Komedikus Erektus, Esai Epistoholica, Suporter Indonesia dan The Moring Walker. Di luar yang saya sebutkan, masih ada beberapa blog yang dikelola oleh BH. Direktori blog yang ia kelola dihimpun dalam blog “Buka Buka Beha” (http://bukabeha.blogspot.com).

Di dunia offline, BH lebih dikenal sebagai pendiri dan sekaligus promotor komunitas Epistoholik Indonesia, yang maniak mengirim surat pembaca ke berbagai surat kabar hingga akhirnya komunitas ini dicatat oleh Muri.

BH adalah sekian dari sedikit orang yang punya ide besar dan terus memikirkan dunia yang begitu luas ini justru ketika ia pulang ke kampung halamannya, sebuah kota kecil bernama Wonogiri.

Tak banyak orang memilih menempuh jalan hidup seperti itu. Mengutip ucapan Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia: "Anybody can make history. Only a great man can write it" (Semua orang bisa menorehkan sejarah. Hanya orang besar saja yang mampu menuliskannya) maka hanya "orang besar" saja yang mampu melakukannya.

Selengkapnya......

08 January 2008

Ki Harsono Siswocarito: Mendalang Lewat Blog

Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Para dewa turba ke bumi. Mereka hendak mencari jago dewata untuk menumpas Nurkala Kamantra. Satu-satunya yang bisa mengalahkannya tak lain adalah Arjuna.

Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Kalimantra meniada. Kalimasada mengada.

Begitulah akhir cerita Lakonet karangan Ki Harsono Siswocarito yang berjudul "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya". Lakonet kependekan dari Lakon Internet, yakni lakon yang dimainkan lewat media internet atau dunia maya.

Lakonet bisa juga disebut Wayang Maya atau Wayang Citra. Disebut Wayang Citra karena memang adanya di dunia maya dan memanfaatkan gambar, grafis, digital, foto maupun animasi sebagai wayangnya.

Selain "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya", ada lakonet lain yang sudah di hasilkan Ki Harsono. "Balada Utopia Dr Sucitra, "Sang Seta Panglima Amarta" dan yang paling hot adalah "Kembang Kampus Sokalima".

Lakon yang digunakan memang nama-nama lama yang sudah dikenal dalam pewayangan konvensional. Namun setting dan ceritanya lain. Lakonet "Kembang Kampus di Sokalima" mengambil setting di kampus. Srikandi si cewek cantik yang lagi cerdas. Jinak-jinak merpati ia mengagumi Arjuna, mahasiswa ganteng yang kutubuku dan supercuek. Banowati si centil dan mentel yang pede bisa menggaet Arjuna dengan keseksiannya.

Lakonet dan Wayang Mbeling

Jika dicermati, lakonet yang digagas Ki Harsono ini menyerupai jenis Wayang Mbeling yang berisi satire atas fenomena sosial di masyarakat. Bisa mengritik pemerintah atau perilaku masyarakat yang menyimpang.

Menurut Ki Harsono Wayang Mbeling yang sudah ada lebih mirip dengan cerpen. Berbeda dari yang lain, Ki Harsono tetap mempertahankan estetika sastra pedhalangan (seperti: suluk murwo, nyandra janturan dan pocapan, antawacana swara dan omomatopia) yang digubah dalam bentuk baru, yakni menggunakan media internet.

Karena menggunakan media internet, apakah lakonet yang dicetak dalam bentuk print out masih bisa disebut Lakonet?

"Tidak bisa. Gambar-gambar digital itu tak bisa dipandahkan ke dalam kertas. Lakonet hanya ada dalam dunia maya."

Lalu apa istimewanya dari Lakonet ini, bisakah ia menjadi sebuah genre tersendiri dalam dunia perwayangan?

Ide membuat blog Lakonet ini bermula dari kegemasan Ki Harsono atas minimnya literatur pewayangan di internet. Ia berpikir mendalang juga bisa dilakukan dalam dunia maya seperti dengan menulis di blog. Audiennya tak lain adalah pembaca blog itu sendiri.

Memang tak ada suara khas gamelan dan sinden, tak ada wayang yang dimainkan dengan tangan oleh si juru dalang. Tapi itu bisa disiasati. Ki Harsono membuat sendiri gambar dalam bentuk digital seperti Kayon, Gapuran yang dicantumkan dalam ceritanya.

Membaca cerita Lakonet Ki Harsono ini tak ubahnya menonton pertunjukan wayang secara live. Ceritanya hidup. Bahasanya mengalir, banyak menggunakan bahasa slank dan kerap diselipi istilah-istilah kamus dan teoritis.

Siapa sangka jika ki dalang rupanya mengerti konsep postmodernitas Alvin Toffler yang mengatakan modernitas cuma bisa diatasi dengan postmodernitas. Lewat lakon arjuna, ki dalang juga menyanggah konsep seni yang digagas oleh tokoh Formalisme Rusia Viktor Shklovsky, yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk kesenian menampilkan hukum-hukumnya sendiri, bukannya alasan-alasan yang mendorong kita dalam hidup sehari-hari. Baginya, Seni adalah deformasi!

Selain keluwesan bertutur, kita bisa menjumpai sejumlah kata yang menggunakan imbuhan atau pengulangan. Menurut Ki Harsono, model ini menganut pakem dalam bahasa pedalangan yang menggunakan bentuk pengulangan. Dan jika diteliti dengan jeli, penulisan baris per baris, per paragraf, per adegan, ditulis dengan rapi sesuai kaidah penulisan script drama.

Tak cukup itu. Dalang yang satu ini mahir mendalang dalam empat bahasa: Indonesia, Jawa, Sunda dan Inggris. Dalam blog wayangcitra itu disediakan link-link menuju halaman-halaman empat bahasa itu.

Siapakah gerangan Ki Harsono Siswocarito ini?

Belum lama ini saya menyempatkan menemui Ki Harsono Siswocarito di kantor jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Di almamaternya ki dalang dikenal dengan nama Siswo Harsono, dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Undip.

Dosen Sastra Inggris ini memang sudah lama akrab dengan dunia pewayangan. Naskah-naskah wayang mbelingnya pernah diterbitkan di Harian Suara Merdeka dan tabloid Mingguan Cempaka.

Ia ingin menerbitkan naskah-naskah lakonet itu ke dalam sebuah buku. Diakuinya, naskah itu sebenarnya sudah siap diterbitkan langsung dalam empat bahasa. Rencananya ia akan menerbitkan sendiri namun karena ongkos penerbitan di Semarang masih terbilang mahal, ia merencanakan untuk mencari alternatif lain, mencari percetakan dengan biaya yang lebih miring.

Selengkapnya......

20 August 2007

Catatan si Jago Makan: Tuntutan Profesi atau Perut?

Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual wajib. Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini cukup membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi Ayam, Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih banyak yang lain.

Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. “Eh, nggak ding, kadang ampe 7,” ia meralatnya. Belum sempat saya menuntaskan keheranan saya, ia menambahkan “Jangan salah, ada ngemil-nya juga. Bakso, Pangsit, Siomay, Rujak” Ya ampun….bener-bener doyan makan ini orang!!!

Namanya Manda Roosa. Tapi lebih dikenal dengan panggilan “Mendol”. Lengkapnya La Mendol. Sekilas nama ini seperti diambil dari bahasa Italia. Tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Penjelasan lebih detailnya di sini.

“Nama Mendol adalah nama pemberian Mbah Kakung saya. Ini nama panggilan di keluarga dan saudara-saudara. Nama Mendol, merujuk pada makanan khas dari olahan tempe bosok, yang bentuknya padat seperti pembawaan saya,” jelasnya.

Baiklah, untuk lebih mengakrabkan, saya akan panggil pemilik blog jagomakan.blogspot.com ini dengan nama Mendol. Isi blognya apalagi kalau bukan soal makan, urusan yang tak jauh dari perut. Ada Puding, Nasi Goreng, Donat, Durian, Pecel, Bakso Bakar, Pecel Terong, dan masih banyak menu-menu lainnya.

Sepertinya ibu satu anak ini doyan banyak jenis makanan. Setelah saya desak, ia membeberkan makanan yang menjadi pantangannya. Ada dua jenis makanan yang membuatnya bergidik, yaitu jika dia disuguhi Udang dan Lobster. Ada apa gerangan?

“Soal yang tidak suka, ini bukan masalah selera. Tapi saya punya alergi sama yang namanya udang dan lobster,” jawabnya memberi alasan.

“Wueh..kalau ada acara food taster, teman wartawan suka ngerjain saya dengan memesan menu ini. Dan mereka tertawa puas, ketika saya cuman bisa ngiler ngeliatin,” tambahnya.

Manda adalah seorang jurnalis, spesialis menulis masalah kuliner. Ia bekerja untuk Majalah East Java Traveler dan Majalah Surabaya City Guide, dua unit usaha dari Mossaik Communications yang berada di bawah manajemen Suara Surabaya Media.

Jelas saja pengalaman dan pengetahuannya soal dunia kuliner ini sudah tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain memang sebagai jurnalis kuliner, sudah jauh hari, atau istilah arek Surabaya, “sudah dari sono”-nya ia punya kegemaran mencicipi makanan-makanan enak.

“Blog ini sebenarnya merupakan behind the scene, dari liputan saya. Di sini bisa dilihat perjuangan saya bangun pagi-pagi untuk nongkrongin penjual sate kelapa. Atau cerita,di mana saya terpaksa menelan bulat-bulat makanan yang pedas, sekedar membahagiakan si pemiliknya. Atau sekedar berbagi informasi bagaimana nasib akhir sebuah donat yang sudah tidak laku. Semuanya adalah cerita-cerita yang tidak mungkin saya ungkap di majalah karena lebih ke pengalaman personal,” jelasnya tentang ihwal pembuatan blognya yang rame dikunjungi para blogger itu.

Sejak awal Manda memfokuskan blognya hanya menceritakan masalah kuliner. Dia mengangankan blognya ini kelak bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin sharing atau mencari informasi tentang pusaka kuliner di nusantara dan sekaligus untuk turut melestarikan makanan khas daerah.

Usahanya mengasuh blog kuliner itu telah membuahkan hasil. Bulan Mei lalu, Manda dinobatkan sebagai maskot Partai Komunitas Bangau Mania, yang simpatisannya direkrut dari kalangan yang doyan jajan. Selamat ya, siapa tahu jika kelak partai ini bisa maju dalam pemilu mendatang, Manda bisa diusulkan menjadi Menteri Urusan Pangan!

Berkah lainnya, Manda pernah diundang oleh salah seorang pemilik resto yang membaca blognya. Ia diundang untuk mencicipi dan makan gratis, sebagai imbalannya, ia punya kewajiban moral untuk menulis laporannya di blog.

“Itulah kenapa saya menulis di profile saya. Kuli tinta yang menemukan surga dunia di dalam pekerjaannya sebagai jurmalis kuliner. Hampir setiap datang liputan, saya selalu disuguhi makanan yang ujung-ujungnya gratis bahkan dibawakan oleh-oleh. Yang exciting, saya pernah makan steak yang harganya setengah juta… Gratisss. Pernah dibungkusin 12 bungkus pecel, karena penjualnya suka sekali diliput. Satu besek besar jenang dodol, bahkan sampai pernah keracunan cokelat gara-gara saya habisin sendiri dua kotak besar cokelat. Tapi nggak bakal kapok kok....hehehe”.

Jika banyak orang yang menjalani profesi karena tuntutan kebutuhan, lain halnya dengan Manda. Ia mendapatkan profesi yang klop dengan hobi. Makanya ia kerap memesan menu tambahan di luar jatahnya sebagai taster. Manda masih berbaik hati, oleh-olehnya hasil perburuannya sebagian ia bagi-bagikan ke rekan-rekan kerjanya di kantor.

Namun karena kegemaran makan bukan hanya berlaku ketika dia menjalankan tugasnya sebagai jurnalis kuliner, tapi juga dalam kehidupannya sehari-hari, diakuinya sebagian gaji habis untuk urusan yang satu ini. Kalau sudah begini, apakah ini layak disebut berkah atau musibah. Entahlah, toh suaminya tak terganggu akan porsi makan istrinya yang berlebih, bahkan sebagian gajinya yang dihabiskannya untuk kesenangannya itu.

Di luar kesibukannya sebagai jurnalis kuliner dan mengurus keluarga, tak disangka ia masih sempat menjadi pengajar di sebuah sekolah modeling. Haaa? Bagaimana ceritanya, apa dia pernah menjadi model?

“Iya, Model Galian Kendor, puass!!!,” jawabnya seperti meniru Tukul yang tengah membalas olok-olok dari audiens. Bukan ia membela, tapi malah mempertegas olokan itu.

“Ngajar dan kuliner memang punya persamaan. Sama-sama urusan perut.,” jawabnya penuh canda.

Ternyata ujung-ujungnya perut juga. Dasar si Jago Makan!

Selengkapnya......

09 August 2007

Sensasi Sang Pakar Telematika

Roy Suryo tampaknya hendak membuat kejutan di bulan Agustus ini menjalang peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-62. Ia mempublikasikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza yang diklaimnya sebagai hasil temuannya bersama Tim Air Putih dari sebuah server di Belanda.

Konferensi Pers pun digelar. Media ramai mengabarkan temuan istimewa ini. Namun selang beberapa hari kemudian temuan itu ternyata dinyatakan basi!

Lagu Indonesia Raya yang diklaim oleh penemunya sebagai temuan baru itu ternyata sudah ada di Youtube sejak Desember 2006 . Reaksi juga datang dari Perum Percetakan Negara RI (PCNRI) Cabang Surakarta yang menyatakan sudah lama memiliki rekaman lagu Indonesia Raya Tiga Stanza seperti yang ditemukan Roy Suryo. Mohammad Ridwan seperti dilansir oleh Detik.com, mengaku pernah menemukan lagu Indonesia baru itu di buku pelajaran SD.

Tak hanya itu, pengurus Air Putih belakangan memberikan klarifikasi atas pernyataan Roy Suryo yang membawa-bawa nama lembaganya. Disebutkan bahwa Air Putih tidak pernah mengadakan penelitian secara khusus tentang arsip sejarah di internet. Dinyatakan pula bahwa Roy Suryo bukan anggota Air Putih, apalagi ketuanya.

Yang amat memalukan barangkali adalah soal pengakuan Roy Suryo yang menemukan lagu Indonesia Raya itu di sebuah server di Belanda. Menurut pengurus Air Putih lagu itu ditemukan dari hardisk di salah satu komputer milik Air Putih yang entah kapan dan didownload oleh siapa. Dan Roy Suryo adalah salah seorang yang pernah mengopi data sejarah dan lagu Indonesia Raya itu.

Roy Suryo, Media dan Blogger

Timbul pertanyaan, mengapa media massa pada mulanya tampak membesar-besarkan isu itu tanpa melakukan kroscek lebih dulu. Apakah memang wartawan pada mulanya memang tidak mengetahui bahwa temuan Roy Suryo itu sudah lama ada, atau memang ada agenda untuk kembali mengangkat isu ini mengingat momentum yang tepat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun RI yang ke-62?

Memang media selanjutnya terus melakukan penelusuran, dan akhirnya membongkar apa yang sebenarnya terjadi. Media bisa membela diri bahwa kebenaran dirangkai dari waktu ke waktu, terus berevolusi, dan pada akhirnya semua informasi yang dirangkum itu saling melengkapi. Namun dari beberapa kali pemberitaan, media kerapkali tampak mengekspose secara berlebihan isu-isu yang dilontarkan oleh sang pakar telematika itu.

Hal inilah yang amat disayangkan oleh para blogger yang banyak mengetahui kapasitas kepakaran Roy Suryo, yang dicitrakan oleh media sebagai pakar telematika. Beberapa komentar sanggahan atas pernyataan-pernyataan Roy Suryo sempat dirangkum dalam situs Roysuryowatch.org, namun situs ini sudah tak dapat diakses lagi.

Ambar Sari Dewi pernah menulis profile Roy Suryo di Majalah Pantau edisi Juli 2001 yang diberi judul “Roy Suryo Sang Jagoan”. Tanpa melebih-lebihkan, agaknya sosok Roy Suryo yang diangkat oleh media dikupas secara berimbang dalam tulisan ini. Ada pernyataan saudara kandung Roy Suryo, Roni Suryo yang mengakui bahwa adiknya ini sebenarnya tak cukup punya kompetensi dalam bidang IT. Roni bahkan mengatakan jika adiknya memang suka mencari popularitas. Tulisan ini bisa dibaca di www.pantau.or.id.

Jika dirunut dari beberapa catatan para blogger, perseteruan Roy Suryo dengan para blogger itu bermula dari komentar Roy Suryo yang menilai bahwa blog dan friendster adalah tren sesaat. Menurutnya, seperti yang dicatat dalam blog priyadi.net, profile friendster 68% adalah palsu. Selain itu blog dan friensdter banyak dipakai oleh pemiliknya untuk melakukan character-assassination. Oleh karena itu, Roy menarik kesimpulan bahwa kebenaran informasi blog tak bisa dipercaya.

Sejumlah blogger pun bertanya-tanya. Apakah sang pakar telematika yang mengkritik blog ini punya blog, dia yang mengkritik friendster ini punya friendster. Ehmm... barangkali karena dia sudah tak percaya dengan segala macam barang gratisan, seperti blog atau email. Bukankah satu-satunya email yang sering dipakai juga numpang domain milik kampus? Ujung-ujungnya gratisan juga, khan?

Undangan yang bernada bersahabat disampaikan oleh Ikhlasul Amal. Amal mengajak Roy Suryo untuk menulis di blog. Saran Amal ini untuk memudahkan Roy melontarkan gagasannya daripada harus mengirimkannya ke milis dan media massa. Kelebihannya dengan blog, Roy bisa berinteraksi dengan para pembaca secara dua arah.

“Kelebihan blog menurut saya adalah kita bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca tanpa melalui pihak ketiga yang kadang tidak cukup mengerti bidangnya. Kalau untuk RS menurut saya bukan itu yang dicari, RS malah butuh pihak ketiga yang punya akses ke masyarakat banyak, dan relatif percaya dengan omongan RS (lepas dari benar atau tidaknya argumentasi RS). Yang menjadi tujuan RS adalah sensasionalism, hal itu menurut saya gak bisa didapatkan dia dari blog. Selain itu media konvensional cenderung satu arah, hal ini cocok dengan personalitas RS yang kurang dapat berdiskusi. Jadi menurut saya, dari perspektif RS, blog tidak cocok untuk dia,” tulis Priyadi mengomentari posting Amal.

Kembali ke hubungan media dan Roy Suryo, siapa sebenarnya yang berkepentingan dalam mengekspos setiap isu sang pakar telematika itu. Media, ataukah Roy Suryo sendiri yang sebenarnya hendak mencari popularitas?

Pada kasus penemuan lagu Indoesia Raya Tiga Stanza ini, jika dirunut dari kronologi bagaimana isu itu dilempar ke publik, tampaklah bahwa Roy Suryo sendirilah yang mulanya mengontak media. Tak hanya itu ia menghubungi beberapa pejabat, ketua MPR sampai wakil presiden. Dan parahnya lagi, beberapa pejabat itu sempat terheran-heran akan penemuan Roy Suryo itu.

Apakah memang isu yang dihembuskan Roy Suryo ini, kalau memang tidak baru, tapi belum banyak diketahui oleh publik. Dan karena alasan itu Roy Suryo merasa perlu menyampaikannya ke media?

Baiklah jika memang demikian kenyataannya di lapangan, media, pejabat berwenang memang tak banyak yang tahu, sehingga kita bisa mengambil sisi positifnya. Persoalan selesai. Kehebohan itu cuma berlangsung beberapa hari saja dan masyarakat akan begitu saja melupakannya.

Tapi peristiwa ini tentu saja tak sebegitu mudahnya dilupakan oleh para blogger, khususnya yang sudah lama terlibat silang pendapat dengan Roy Suryo.

Selain soal kepakaran Roy Suryo dalam hal IT yang diragukan, juga sosok Roy Suryo yang dinilai gemar melakukan sensasi tanpa disertai data dan fakta yang akurat. Beberapa blogger menulis komentarnya terkait soal heboh penemuan “lagu Indonesia Raya Tiga Stanza” oleh sang pakar telematika ini.

Priyadi, misalnya. Dalam blognya priyadi.net, ia menulis “Kiat Sukses Menjadi ‘Penemu’ Versi Asli Lagu ‘Indonesia Raya’. Posting itu ditulis dengan nada satire yang sepertinya hendak menyatakan betapa naifnya seorang Roy Suryo, yang dalam aksinya kali ini lagi-lagi ingin mencari popularitas. Dari penelusuran arsip tulisan dalam blognya, Priyadi rupanya sudah beberapa kali menulis tentang Roy Suryo.

Catatan-catatan lainnya bisa ditemukan di blog Ndoro Kakung, Jay, M Fahmi Aulia, atau prediksi kisah selanjutnya "Habis Indonesia Raya, Beralih ke Telor Columbus".

Bagi sejumlah blogger, kasus penemuan lagu “Indonesia Raya Tiga Stanza” ini barangkali akan menambah catatan aib Roy Suryo, sosok yang dijuluki media sebagai pakar telematika. Blogger lain bisa jadi mendukung, masyarakat di luar blogger barangkali juga akan menganggap Roy Suryo sebagai orang yang banyak berjasa. Silakan saja, siapapun boleh menyampaikan pendapatnya. Media juga boleh memberikan julukan apa saja, namun pada akhirnya pembacalah yang akan memberikan penilaian. Apakah berita itu akurat, atau cuma sekadar sensasi!


*Tulisan ini dimuat di rubrik gaya suaramerdeka.com, dan juga versi blognya blog.suaramerdeka.com

Selengkapnya......

19 July 2007

Antiklimaks Nasionalisme Suporter Indonesia

Sepakbola hingga kini masih terbukti ampuh menjadi alat perekat rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Fakta ini bisa ditemukan dalam perhelatan Piala Asia yang berakhir dramatis dengan kekalahan Indonesia dari Korea 1-0. Meski Tim Merah Putih gagal melaju ke babak perempat final, namun sejumlah suporter tetap memberikan sanjungan. Apapun yang terjadi, Merah Putih tetap dikibarkan.

Tengok saja Jaya Prawira yang rela jauh-jauh datang dari Yogyakarta demi menyaksikan secara langsung tim kesayangannya berlaga. Ia mengaku telah memberikan dukungannya langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno sejak laga perdana Tim Merah Putih. Ia pun selalu menyempatkan untuk menonton di kelas VIP. Biasanya ia ke Jakarta dengan pesawat, namun karena kehabisan tiket, hari itu ia berangkat dengan Kereta Api.

“Sudah habis berapa juta saya untuk ini semua,” ujarnya kepada wartawan Detik. Tak cukup itu, Slemania yang mengaku bekerja di Dinas Pendidikan Nasional di daerahnya sampai membolos kerja.

Lengkap sudah kekecewaan Jaya. Sudah banyak berkorban, tapi tim yang didukung dengan segenap pengorbanan tak memberinya kemenangan. Namun demikian ia tetap mengibarkan bendera Merah Putih ukuran kecil sembari menyanyikan lagu sebagai ekspresi kekecewaannya.

Nggak bisa menang. Indonesia mimpi menang. Bangun-bangun kalah.” Ini diulang-ulangnya, dengan terduduk lemas di depan jalan keluar stadion, tangannya terus mengibarkan bendera merah putih. Tak pelak polahnya ini mengundang perhatian sejumlah orang yang melewatinya.

Kecintaan Jaya pada timnas merah putih adalah nasionalisme yang dipertaruhkan atas rasa kecewa pada sesuatu yang dicintainya. Sebuah cinta yang dipertemukan atas dasar rasa se -tanah air, sebangsa Indonesia, sebuah komunitas semu (immagined community) yang dibayangkan sekelompok masyarakat, menurut Benedict Anderson. Sebentuk cinta yang tanpa menuntut, cinta dengan alasan yang sulit dijelaskan.

Nasionalisme Jaya juga berarti pengorbanan seorang suporter timnas sepakbola Indonesia yang bertahun-tahun menunggu timnya masuk dalam pentas sepakbola dunia berakhir dengan kekecewaan. Jaya barangkali hanya satu dari sekian ribu suporter yang rela berkorban demi rasa kecintaannya pada tim sepakbola tanah air. Kalau pada akhirnya dia kecewa, ini wajar karena dia sudah banyak berkorban.

Memang tanggapan atas kekalahan timnas Indonesia cukup beragam. Meski kecewa, ada juga yang tetap merasa bangga karena tim kesayangganya telah mampu menunjukkan permainan terbaik.

“Kita kalah dengan terhormat, wajarlah lawannya Korea,” komentar Adhiyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.

Komentar Adhiyaksa tersebut memang melegakan, tapi di sisi lain mengecilkan timnya sendiri. Seolah menyimpulkan, apa mau dikata, timnas Korea memang lebih baik.

Lihat saja ekspresi Nudin Halid, sang Ketua Umum PSSI, yang mukanya merah padam. Namun demikian dia tetap memberikan sanjungan bahwa timnas merah putih telah menunjukka permainan kelas dunia.

Sementara itu, Sang pelatih Ivan Kolev mengatakan Indonesia beda kelas dari Korea. Korea adalah tim tangguh yang beberapa kali masuk Piala Dunia memiliki kemampuan di atas timnas Indonesia. Lagi-lagi dia pun bangga dengan anak-anak asuhnya. Baginya ini apa yang diberikan mereka sudah yang terbaik.

Apapun hasilnya, toh cinderamatan kaos timnas tetap laris manis. Meski kecewa, mereka tetap bangga membeli atribut timnas itu entah untuk sekedar oleh-oleh keluarganya di kampung halaman, atau sebagai simbol rasa nasionalismenya pada timnas Indonesia. Meski timnya kalah, suporter tetap membeli kaos tim kesayangannya. Ini seperti menyiratkan, meski kalah, timnas Indonesia tetap dicintai, atribut sebagai simbol kebesaran tim tetap disematkan.

Blogger Suporter

Dari hasil penelusuran, ada beberapa blogger yang secara khusus mengulas seputar dunia bola. Dari sekian itu, ada yang lebih khusus mengulas dunia suporter dengan segala wacana dan pernak-pernik suporter bola dalam negeri. Ada bangunsuporter.blogspot.com yang dikelola oleh Aji Wibowo, Suporter.blogspot.com dikelola oleh Bambang Haryanto, Pemegang Rekor Muri Sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli dan Warga Epistoholik Indonesia, Persebaya.blogspot.com, dikelola oleh bonekmania, suporter Persebaya Surabaya, dan tentu masih ada blog suporter lainnya baik yang dikelola oleh perorangan maupun komunitas.

Dari sekian blog yang saya kunjungi, masindra.wordpress.com adalah blogger yang pertama kali mencatatkan komentarnya atas pertandingan Indonesia vs Korea malam itu juga. Bisa jadi ada blogger lain yang luput dari penelusuran saya.

Pemilik blog tersebut menggabarkan situasi menjelang pertandingan yang ditangkapnya dari luar stadion. Ada suara letusan, ada suporter membakar salah satu loket penjualan tiket Ada aksi pembubaran massa dengan gas air mata oleh petugas kepolisian.

Untuk apa suporter sampai membakar loket, kenapa juga polisi menyemprotkan gas air mata untuk supporter yang ingin mendukung tim setanah-airnya?

Apakah itu terjadi karena rasa nasionalisme. Nasionalisme versi suporter yang hendak mengekspresikan rasa kecintaannya kepada tim, dan nasionalisme petugas kemanan yang ingin mengamankan perhelatan akbar simbol keperkasaan merah putih? Lalu kenapa pula kedua kubu tak bisa sejalan, bukankah mereka punya satu kepentingan, membawa satu bendera?

Dari awal pemilik blog http://masindra.wordpress.com sudah menduga, pemain Indonesia akan terlihat sedang belajar bermain bola, karena kecepatan yang selama ini diandalkan untuk melawan tim timur tengah tak efektif untuk melawan Korea Selatan. Belum lagi sikap yang terlalu hati-hati sang pelatih Ivan Kolev untuk mengganti pemain dan mengubah strategi permainan.

“Melihat permainan tim Indonesia malam itu seperti mengingat masa lalu, pemain panik dan tegang, ketika tertekan banyak membuang bola, sering melakukan kesalahan passing dan salah mengontrol bola. Antiklimaks permainan Indonesia. Dengan permainan seperti itu wajar saja kalah melawan Korea Selatan yang sebetulnya bermain dengan sangat biasa, tidak istimewa,” catatnya.

Mencermati catatan blogger itu, tampak sikapnya yang tegar. Sikapnya yang seolah-olah tak hendak membela kekalahan, menutupi kekecewaan. Inilah rasa nasionalisme yang melihat fakta secara obyektif. “Sedih tapi tetap realistis. Belum waktunya kali ya,” tulisnya.

Ya, tetap harus diakui bahwa timnas Korea di atas kertas lebih unggul. Namun demikian, permainan timnas Indonesia dalam Piala Asia kali ini sudah menunjukkan peningkatan. Meski tidak lolos ke babak perempat final, apa yang sudah diberikan oleh skuad timnas Indonesia adalah hasil yang sudah patut dibanggakan.

Tentu saja membela mental para pemain juga menjadi hal yang penting karena bagaimanapun mereka sudah berusaha maksimal. Dan sebagai pelatih dan para pembina sudah seharusnya memberikan dukungan moral pada anak-anak asuhnya.

Tapi sebagai suporter tentu saja tak bisa dituntut untuk bersikap seperti layaknya mereka yang berada di jajaran pembina. Suporter adalah anak, sekelompok rakyat yang dengan sukarela berteriak-teriak memberikan dukungan, begadang menahan kantuk untuk menonton pertandingan, bahkan sampai nekad membolos kerja, seperti yang dilakukan oleh Jaya suporter dari Yogyakarta. Jangan paksa mereka untuk menghibur timnya, biarkan saja mereka menumpahkan segala ekspresinya: kesal, jengkel, dongkol, kecewa.

Belajar dari suporter sepakbola Indonesia, baik yang blogger atau bukan, mereka yang berasal dari beragam daerah, yang hampir masing-masing memiliki tim lokal, bersatu-padu meleburkan diri mendukung perjuangan tim nasional Indonesia, entah betapapun akhirnya dikecewakan. Kecewa karena kalah, namun tetap bangga karena timnya telah menunjukkan permainan yang maksimal. Betapa sakit, betapa kecewa, namun tetap bangga. Masing-masing dari mereka punya beragam cara untuk mengeskpresikan kecintaannya pada tim kesayangannya. Apapun yang terjadi, demi nasionalisme, Merah Putih tetap dikibarkan!

Mengutip tulisan http://masindra.wordpress.com yang menyatakan "Antiklimaks Permainan Sepakbola Timnas Indonesia", di sisi lain frasa ini sesuai untuk mengungkapkan kekecewaan para suporter atas kekalahan tim nasionalnya. Maka tulisan ini akan diakhiri dengan "Anti klimaks Nasionalisme Suporter Indonesia"


Dimuat di suaramerdeka.com

Selengkapnya......

21 May 2007

Blog FPI online: Black Campaign yang Menguntungkan?

Front Pembela Islam (FPI) tampaknya mulai menyadari peran weblog sebagai media yang efektif untuk memuluskan perjuangannya menegakkan syariat Islam di Indonesia. Barangkali, oleh karena itulah mereka membuat blog http://fpi-online.blogspot.com. Blog ini berisi berita seputar kegiatan FPI yang sebelumnya pernah dimuat di media lokal maupun mancanegara.

Tapi sebentar dulu, benarkah blog http://fpi-online.blogspot.com dibuat oleh anggota FPI atau simpatisannya. Bisa jadi malah sebaliknya, blog itu dibuat oleh oknum yang tidak senang terhadap FPI. Siapa tahu blog itu justru diniatkan untuk menyebarkan black campaign, untuk menjatuhkan nama FPI. Who knows?

Untuk mengetahui apakah blog FPI Online dibuat untuk mendukung aktivitas FPI atau malah sebaliknya, dibuat untuk menyebarkan black campaign, misalnya, simak penuturan beberapa sumber berikut ini.

“Saya tidak tahu pasti blog itu benar-benar milik FPI. Kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke sana adalah, blog ini justru dibikin untuk memperolok FPI. Dari kalimat deskripsinya, sidebarnya, foto-fotonya, terlebih lagi footernya (arabia - apa pula itu?!) semuanya terkesan menjelek-jelekkan FPI. Mirip Roy Suryo Watch,” tulis Ikram Putra di milis jurnalisme-sastrawi.

Roy Suryo Watch yang dimaksudkan adalah sebuah situs yang dibuat untuk menyanggah komentar-komentar Roy Suryo, sang pakar telematika, di beberapa media massa.

Situs tersebut saat ini sudah tak bisa diakses lagi. Namun, perjalanan polemik yang berlangsung dua tahun lalu itu bisa disimak diblog Priyadi.

“Dan itu pun tidak perlu diherankan. Tidakkah kita sudah sering dengar black campaign?,” tambah Ikram.

Menurut Ikram, Black campaign adalah kampanye menjelek-jelekkan, memperolok, yang dilakukan orang tanpa identitas jelas. Bisa anonim, atau bisa pula pseudonym. Ia berbeda dengan negative campaign, yakni kegiatan kampanye dengan menunjukkan kekurangan lawan. Dilakukan dengan terbuka atau ada pihak pembuat yang jelas. Dan menurutnya hal ini wajar-wajar saja.

Menurut Ook Nugroho, seperti yang ditulis dalam blognya (http://ruang-samping.blogspot.com), blog FPI online tampaknya sengaja didesain untuk bisa interaktif. Pengelola menyediakan shoutbox yang isinya justru lebih banyak memuat kecaman. Situs itu juga dilengkapi tool sitemeter, terdaftar di technorati, dan juga dilengkapi pernak-pernik yang sekarang sedang popular, yakni mybloglog.

"Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami," tulis Ook di blognya.

Karakteristik blog FPI online yang didesain interaktif, seperti dikemukakan oleh Ook mengundang beberapa pertanyaan. Benarkah jika blog itu dikelola oleh anggota maupun simpatisan FPI, pengelola blog akan membiarkan setiap orang bisa mengirim komentar di setiap tulisan tanpa ada moderasi. Apakah pengelola tidak khawatir akan adanya komentar spam, atau bahkan hujatan dari oknum yang tidak senang terhadap FPI. Apakah benar, jika blog itu dikelola oleh anggota ataupun simpatisan FPI, pengelola blog akan merelakan blognya diisi komentar yang bernada mengejek, bahkan cacian terpampang di kotak pesan dan tidak menghapusnya?

Satu hal lagi yang barangkali sulit untuk dipercaya, di blog FPI ini dipasang Google Adsense, sebuah layanan iklan berbayar yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Bukankah FPI yang dikenal oleh masyarakat luas anti terhadap segala produk yang berbau Barat, produk AS dan sekutunya. Apakah FPI hendak menggunakan dana kompensasi yang didapat dari Google Adsense untuk kegiatan jihad mereka?

Selain yang sudah disampaikan, masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari blog FPI itu. Pada halaman sidebar dicantumkan beberapa link yang “haram” dibuka. Bukankah ini hal yang aneh. Logikanya, jika pengelola blog FPI melarang link itu untuk dibuka, mengapa dicantumkan?

Ada juga himbauan untuk tidak mengisi petisi anti FPI, namun linknya dipasang di sidebar. “Berani mengisi, masuk neraka,” bunyi ancamannya. Kedengarannya, kalimat ini lebih mirip “ejekan” ketimbang “larangan”, bukan?

Untuk melacak status kepemilikan blog FPI itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengelola blog via email yang saya dapatkan dari halaman profil. Mulanya saya mengusulkan untuk mewawancarainya via Yahoo Messenger (YM). Namun pengelola mengaku tidak memiliki YM. “Lewat email saja ya? Ana tidak punya ym..” jawabnya singkat.

“Ana bukan anggota FPI, hanya simpatisan sahaja. Blog ini ana dedikasikan untuk FPI yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia seperti halnya ana dan sohib-sohib ana yang tersebar dimana-mana. Jadi semacam 'un-official weblog' FPI.Ana sendiri dengar selentingan kabar kalau FPI akan membuat situs sendiri, dalam bentuk website,” jawabnya menanggapi pertanyaan yang saya kirim ke emailnya, indonebia@yahoo.com.

Soal dugaan adanya black campaign dari blog FPI itu, pengelola tak menolak, pun tak mengiyakannya. Menurutnya ia sekadar mengumpulkan informasi tentang kegiatan FPI. Tujuannya, agar orang yang ingin mencari info tentang FPI di internet lebih mudah.

“Biarkan siapa sahaja bisa berkomentar, karena media sendiri sering menjelek-jelekkan FPI. Pernak-pernik di weblog kami hanya sekadar penghias belaka, tak kurang tak lebih. Sekali lagi, ini sifatnya temporer sahaja,” jawabnya.

PENGELOLA blog FPI mengaku pemilik blog http://indonebia.blogspot.com. Dari perbincangan di beberapa milis, Indonebia dikenal sebagai seorang tokoh parodi FPI di dunia maya yang malang-melintang di berbagai milis. Penulusuran dilanjutkan dengan melacak beberapa link “terlarang” yang justru dicantumkan diblog. Salah satu link itu adalah http://zamanku.blogspot.com. Namun link-link “haram” itu kini sudah dicopot dari blog oleh pengelola.

Saya membuka fasilitas mybloglog yang ada diblog http://zamanku.blogspot.com (http://www.mybloglog.com/buzz/community/mediacare). Dari sini diketahui bahwa pengelola blog Zamanku juga mengelola blog http://mediacare.blogspot.com dan jaringannya yang jumlahnya mencapai 39 buah blog. Sebuah jumlah yang sangat fantantis. Uniknya di anggota komunitas blog Mediacare yang ada di mybloglog itu dicantumkan dicantumkan blog indonebia dan FPI online. Jadi, sebenarnya mereka musuh atau kawan Mediacare?

Saya mulai curiga, jangan-jangan blog FPI Online, yang mengaku pemilik blog Indonebia itu, juga pengelola blog mediacare?

Untuk membuktikannya, saya menyocokkan identitas (id) Google Adsense blog FPI online, Zamanku, dan Mediacare. Hasilnya tidak jauh meleset dari dugaan. Tiga blog itu ternyata memiliki id adsense yang sama. Id ketiga blog itu adalah "5604202362132912".

Mendapati informasi ini, saya mengonfirmasikannya ke pengelola blog FPI Online. Dalam email saya sampaikan bahwa saya menemukan id yang sama pada blog FPI online dan Zamanku, blog yang dilarang dibuka oleh pengelola FPI. Kepadanya saya juga menyampaikan, dari blog Zamanku diketahui pengelola blog ini juga mengelola blog Mediacare.

Lalu, apa motivasi pengelola, adakah skenario untuk menjatuhkan FPI atau mengadu domba Islam. Jika tidak, apakah yang dilakukannya ini sebenarnya untuk bisnis internet, seperti yang dilakukan oleh para blogger yang copy-paste artikel, membuat blog dalam jumlah yang banyak, untuk menjerat pundi-pundi Google Adsense?

Pada email yang ketiga ini, pengelola Blog FPI kembali menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya sekadar mengumpulkan berita-berita tentang aktivitas FPI agar lebih mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

“Kalo ‘black campaign’ ya tidaklah. Ana kan tidak ngarang-ngarang cerita dengan memutar-balikkan fakta tentang FPI. Ana sekadar mencuplik dari berita-berita di media massa, baik terbitan Indonesia maupun asing. Ana tidak mengurangi juga tidak nambah-nambahi. Mungkin lebih tepat disebut ‘un-official blog’ FPI. Kan di description juga ana cantumkan bahwa ana pendukung tegaknya syariat Islam di Indonesia, tapi ana tidak menyebut sebagai anggota FPI,” jawabnya.

Menurutnya, selama ini belum ada media massa di Indonesia yang berani memberitakan kegiatan FPI secara positif.

“Media bernuansa Islam macam Republika, Hidayatullah, Eramuslim dan lainnya saja jaga jarak kok, malah mereka lebih baik tidak memuatnya. Sedangkan nama FPI kan kebanyakan muncul kalo ada kericuhan dan lain-lainnya,” tambahnya.

Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?

Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black campaign. Apakah diantara anda ada yang punya istilah lebih tepat?

*****

SIAPAKAH sebenarnya pengelola blog FPI online yang memiliki id adsense yang sama dengan blog Zamanku, dan blog-blog jaringan Mediacare itu?

“Soal yang lain-lain, maaf ana tak perlu jawab. Biarkan ana tetap ber-id Indonebia,” jawabnya mengakhiri email yang ketiga kalinya saya kirim itu.

ti sudah disampaikan, Indonebia diduga tokoh parodi FPI yang malangmelintang di berbagai milis. Sekarang, siapa pengelola blog Mediacare?

Dalam posting blog Mediacare berjudul “Duka Cita Chrisye, Badai pasti Berlalu” disampaikan bahwa pengelola atas nama “Radityo Djajoeri” turut berduka cita atas meninggalnya Chrisye. Nama Radityo Djajoeri ini juga masih bisa dilacak di mesin pencari blogger dan technorati dengan tag Mediacare. Saya sudah menanyakan ini dalam email wawancara, benarkah Radityo Djajoeri tokoh Indonebia. Tapi Indonebia tak menjawabnya. Dia minta “biarlah saya ber-id indonebia”.

Dari blog Media-Jakarta (http://media-jakarta.blogspot.com) yang merupakan blog jaringan Mediacare, dicantumkan kontak telpon Radityo Djajoeri: 0817-98022XX atau (021) 790-28XX. Saya menelpon kedua nomor itu. Pertama saya menelpon nomor ponsel, tapi tak ada yang mengangkat. Kemudian saya telpon nomor yang kedua, dijawab oleh suara seorang laki-laki.

Halo, ini mas Radityo?"
“Saya bukan Radityo….”
“Saya dapat nomor ini di blog Media Jakarta, jaringan blog Mediacare. Nomor ini dicantumkan di sana atas nama Radityo Djajoeri. Saya ada perlu sama dia….”
“Wah nggak tahu ya. Tut…tut.……..”

Meski tidak ada pengakuan dari Indonebia bahwa dirinya adalah Radityo Djajoeri, dari hasil penelusuran yang sudah dipaparkan itu, tanpa pengakuan Indonebia pun sebenarnya sudah cukup jelas: Radityo Djajoeri adalah pengelola blog FPI Online yang mengaku Indonebia itu. Jika tidak, kenapa dia tak mengklarifikasi dugaan saya bahwa Indonebia itu adalah Radityo, seperti yang saya kirim dalam wawancara yang ketiga?

****

Dari cerita di beberapa milis, Radityo Djajoeri pernah dikeluarkan dari milis Jurnalisme. Farid Gaban, moderator milis Jurnalisme menyampaikan di milis bahwa Indonebia itu tak lain tokoh yang diperankan oleh Radityo Djajoeri. Selain Indonebia, Radityo juga punya Id lain, yakni Reporter Jalanan (Reja) yang kemudian juga menyusul dikeluarkan di milis yang sama. Siapakah Radityo Djajoeri itu? Adakah nama ini benar adanya, atau ternyata sama saja seperti Indonebia, nama "samaran" petualang dunia maya?

“Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis,” tulis Tomi Satryatomo mengomentari tulisan di multiply saya. Tomi adalah Executive Editor-Current Affairs & Features di ASTRO TV. Sebelumnya dia adalah News Producer di Trans TV.

Dalam posting di blog InsideKompas.blogspot.com, pengelola blog mengaku kedatangan tamu istimewa dan dikagumi. Tamu istimewa itu adalah Radityo Djajoeri, pengelola blog Mediacare, blog yang mengupas isu media dalam dan luar negeri. Ini sebuah gambaran lain akan sosok Radityo Djajoeri alias Indonebia. Di mata pengelola blog “Pecinta Kompas”, Radityo dianggap sebagai tamu terhormat, blogger istimewa, apakah benar demikian, ataukah pengelola blog Inside Kompas itu tidak mengetahui sepak terjangnya di dunia maya?

Belakangan diketahui pengelola blog Inside Kompas itu adalah Pepih Nugraha. Ia bekerja di Harian Kompas sejak 1 Mei 1990. Pepih sekarang menjabat Wakil Kepala Desk Multi Media untuk Kompas Cyber Media (KCM). Dari pengakuannya, blog ini diurusnya sendiri, tak ada orang lain yang membantu.

"Saya memosisikan diri sebagai karyawan Kompas saja, yang tidak rela lembaga tempat saya dideskreditkan, dihina, didemo, dan bahkan mau diserbu oleh pendemo yang dikompori oleh blok Kompasinside yang dikelola AJI. Saya berupaya independen, ketika manajemen berbuat tidak adil, saya juga akan mengeritik mereka pedas (hanya tersiar di milis karyawan Kompas)," ungkapnya. KompasInsode adalah blog tandingan yang dibuat oleh para wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Jurnalis Independen (AJI). Alamat blognya http://kompasinside.blogspot.com.

"Soal Radityo itu, sungguh saya tidak melihat sosoknya, saya tidak kenal dan saya tidak menilai orang dari sosoknya, apalagi saya belum kenal. Saya hanya membacanya dari Mediacare, blog yang konon dia asuh. Saya banyak menimba ilmu dari situ, setidak-tidaknya gosip pers di dunia maya. Kalau saya katakan dia tamu terhormat, tentu saya tidak akan mencabut penyebutan itu," tambahnya.

Namun, ketika saya bilang hendak menampilkan komentarnya dalam tulisan ini, Pepih menambahkan, “Saya menyatakan sikap sanjungan terhadap Radityo dengan Mediacare-nya itu sebelum Mas membongkar kasus Radityo dengan blog FPI-nya itu. Saya apreciate upaya Anda mencari kebenaran. Bravo!”

Untuk mengetahui bagaimana sikap FPI atas blog FPI online, saya menghubungi kantor pusat FPI seperti yang dicantumkan dalam blog FPI Online tersebut. Ternyata nomor itu benar alamat telepon FPI pusat. Oleh seorang perempuan yang menerima telpon, saya disarankan menghubungi Irwan Arsidi.

“Untuk urusan ini, silakan tanya kepada pak Irwan. Dia sekretarisnya Habieb,” jawabnya. Habieb yang dimaksud adalah Habib Rizieq, Ketua Umum FPI.

Dari percakapan telpon dengan Irwan, tampak kesan dia sosok yang ramah. Malam itu dia bilang sedang menemani putra habib Rizieq jalan-jalan.

“Kita sudah mendengar kabar itu. Namun kita nggak mempermasalahkan. Blog itu malah bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan FPI,” jawabnya.

Tidakkah FPI menganggap blog itu sebagai black campaign?

“Selama ini kita masih melihat sisi positifnya. Kita biarkan saja dulu, baru kalau sudah terlalu memojokkan FPI, kita akan bertindak,” jawab sekretaris Badan Investigasi FPI itu.

Menurutnya, kasus semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Irwan mengaku tidak mengetahui siapa yang membuat blog FPI itu. Ia menduga hal itu dilakukan oleh orang-orang yang simpati terhadap FPI. Sebelumnya FPI pernah memiliki website, namun dirusak oleh hacker.

“Dalam waktu dekat, Insya Alloh bulan depan kita akan punya website. Rencananya akan pakai domain org,” jawabnya.

Apa yang dilakukan oleh sosok anonim bernama "Indonebia", pengelola blog FPI Online, atau sosok yang sama bernama “Radityo Djajoeri” pengelola blog Mediacare, menarik untuk dicermati. Dua nama yang diduga kuat satu oknum yang sama ini malang melintang di berbagai milis dan dia juga memiliki banyak blog. Siapakah dia sebenarnya, untuk apa dan siapa dia melakukan itu semua, tidakkah semua yang dilakukan itu sebuah pekerjaan yang melelahkan, apakah pekerjaan itu dilaksanakan oleh tim?

Namun demikian, jika benar blog itu diniatkan untuk menyebarkan black campaign, toh oleh FPI justru ditanggapi positif. Blog FPI Online ini dikatakan Irwan dapat membantu mempublikasikan kegiatan FPI yang tak banyak diekspose oleh media. Benarkah kehadiran blog FPI Online itu menguntungkan FPI, atau FPI saja yang ceroboh tak mengetahui siapa sebenarnya pengelola blog yang di beberapa forum justru kerap mendeskriditkan FPI dan rekan-rekan seperjuangannya yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia?

Dari blog FPI Online, kita dapat memetik pelajaran berharga bahwa meski internet memberikan siapapun ruang yang luas untuk menyampaikan informasi, namun sebagai penulis, seorang punya tanggungjawab atas informasi yang disampaikannya. Dan sebagai pembaca, sikap kita harusnya melacak setiap informasi yang ada di internet, baik yang disampaikan diblog maupun di situs berbayar, dan tidak serta-merta menelan mentah-mentah apa yang disampaikan di sana. Salah satunya dengan mencari tahu dari mana informasi itu bersumber. Ini penting, karena tidak semua informasi yang di dapat dari internet benar, sebagian adalah sampah!

[tulisan ini dimuat dalam tiga tulisan di http://gaya.suaramerdeka.com atau http://blog.suaramerdeka.com ]

Selengkapnya......

10 April 2007

Muhidin M Dahlan: Pertemuan dengan Tuan Rushdie di (blog) Neraka

Siapa perempuan pertama yang diciptakan tuhan sebagai pasangan Adam? Hawa? Bukan! Maia nama perempuan itu. Ia adalah perempuan pertama sebelum Hawa di Taman Eden. Ia perempuan yang cantik, molek, padat dan menggairahkan. Adam yang kalap termakan birahi akhirnya memerkosa Maia. Maia berontak, ia tak ingin takluk di bawah kekuasaan Adam. Ia ingin gaya bersetubuh perempuan di atas.

Gila, liar, begitulah sosok Muhidin M Dahlan, penulis novel “Adam dan Hawa” (2005). Dalam novel ini penulis mengisahkan awal penciptaan manusia dalam versi lain, yang tak pernah diceritakan di kitab suci manapun. Awal kejadian manusia itu dibangun dengan imajinasi yang nakal, mengusik dan tentu saja akan membuat berang sebagian orang. Bagaimana tidak, masak Adam diciptakan dari ketiak tuhan sebelah kanan!

Benar saja, tak lama setelah novel itu diterbitkan, penulis dihadiahi somasi oleh Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Muhidin dituduh telah meneror tuhan, menghina nabi muhammad, dan oleh karenanya dia harus minta maaf. Segenap sumpah serapah juga telah jauh hari dialamatkan kepadanya, ketika novelnya “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” (TIAMP) diterbitkan pada tahun 2003. Novel ini merupakan seri pertama dari trilogi “Adam dan Hawa” dan “Kabar Buruk dari Langit”.

TIAMP berkisah seorang muslim taat, berjilbab, yang hendak menjadi pelacur oleh karena kekecewaannya kepada tuhan. Terlebih setelah kehormatannya direnggut justru oleh ketua sebuah organisasi islam yang diharapkan akan memberinya pencerahan. Sedang “Kabar Buruk dari Langit” membongkar sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia yang penuh intrik dan melibatkan pertumpahan darah antara golongan pemeluk islam syariat dan hakikat (penganut faham Wahdatul Wujud, manunggaling kawulo gusti).

Dalam sebuah diskusi bedah buku TIAMP di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuduh Muhidin sebagai seorang marxis dengan kebencian kepada tuhan yang luar biasa. Muhidin disebutnya sebagai “Nabi Kegelapan” bahkan disumpahi masuk neraka dan murtad.

Siapakah Muhidin M Dahlan, benarkah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu?

Muhidin adalah seorang pendatang asal Sulawesi yang kini tinggal di kota pelajar Yogyakarta. Ia sempat kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Teknik Pembangunan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun keduanya tak diselesaikan. Ia hanya mencicipi kuliah sampai semester tiga di UIN Sunan Kalijaga. Oleh rekan di kampusnya ia biasa disapa Gus Muh. Alumni Sekolah Teknik Mesin (STM) ini sebelumnya sangat awam dengan dunia sastra. Ia juga seorang muslim taat.

“Saya itu aktivis islam baik-baik. Dulu saya ingin sekali mendirikan negara islam. Tapi terbentur oleh wacana pluralisme Cak Nur dan 'komplotannya'. Jadilah saya urung niat. Saya pernah di PII, PMII, dan HMI MPO. Saya dapatkan di sana adalah perbenturan wacana keislaman yang plural: dari fundamentalisme ke sekularisme religius; dari kanan ke kiri. Dari wacana khilafah sampai sosialisme religius...” akunya.

Indrian Koto, penyair muda yang kini menjadi rekan karib Muhidin, menceritakan ihwal perkenalannya di blog dengan penulis yang memberikan kata pengantar dalam beberapa karya Pramoedya Ananta Toer itu. Waktu itu Koto masih duduk di semester awal di UIN. Sama seperti Muhidin, ia juga seorang pendatang di Jogja. Ia awam dengan kota ini. Kali pertama ia mengenal Muhidin dari sebuah foto close-up hitam-putih yang dipajang mendampingi esainya yang dimuat di sebuah majalah kampus.

“Masa orang kayak begini diributkan? Tampangnya biasa aja tuh,” pikirnya.

Selanjutnya, Koto diperkenalkan sosok Muhidin melalui sebuah cerpen Phutut EA yang salah satu tokohnya diduga Muhidin. Dalam cerpen itu diceritakan Muhidin diminta kawannya untuk meminum bir. Dia meminumnya sambil memejamkan mata. Tak urung, aksinya itu menuai ledekan dari teman-temannya.

“Kau bayangkan, dia terpaksa minum bir. Hanya bir, dan dia harus menelan bagai obat. Ah, bukankah orang ini menulis banyak soal selangkang, kenapa dengan minuman saja takut,” tulis Koto.

Begitulah Muhidin. Sosok yang terkesan liar itu, dalam kesehariannya ternyata tak se-"seram" dan se-"liar" seperti yang ditangkap oleh para pembaca dari beberapa karyanya yang kontroversial itu. Malah penolakan-penolakan atas karyanya di lain pihak justru melambungkan namanya. Novelnya TIAMP, per Maret 2007 telah dicetak ulang hingga 12 kali.

Tapi tak mudah Muhidin mencapai kesuksesannya ini. Ia harus melewati masa-masa sulit ketika novelnya itu menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Ia harus bolak-balik Jogja-Jakarta. Ia menyiapkan tanggapan sejumlah kritik yang menyudutkannya. Bahkan, anda bisa membayangkan, betapa tegang dirinya, ketika dalam forum diskusi sebagian massa emosional, dan berteriak ingin membunuhnya!

“Menceritakan sisi lain dari dunia islam ini kan nggak mesti yang baik-baik saja, mentang-mentang dunia agama. Nah saya membidik dunia itu. Yang ngamuk-ngamuk itu, karena mereka tutup mata bahwa ada sisi lain dari jalan dakwah ini, ada negative film dari dunia yang seolah-olah 100 % suci dan benar ini,” terangnya.

Ide menulis Gus Muh datang dari mana saja. Novelnya TIAMP, seperti yang diakuinya, merupakan kisah nyata. Ini merupakan hasil wawancaranya dengan seorang teman yang aktif di organisasi pergerakan kampus, yang suatu kali ingin menjadi pelacur. Oleh karenanya novel ini dapat dirampungkannya dalam waktu yang relatif singkat. Satu minggu mentranskip hasil wawancara, seminggunya lagi menulis.

“Adam dan Hawa” lain lagi. Dia duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga dia menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, dia melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Yang melelahkan adalah “Kabar Buruk dari Langit”. Penggarapan novel ini memakan waktu yang cukup lama jika dibanding dua novel sebelumnya. Tak hanya itu, ia harus mendaki Merapi. Untuk apa? Menulis!

“Nyaris tiap hari selama 10 bulanan menulis novel gemuk Kabar Buruk dari Langit. Tiap hari naik. Sendirian pakai tenda. Sesekali nginep. Tapi lebih banyak tidaknya. Kalau sudah nyaris tenggelam matari, baru turun. Ini penting karena butuh konsentrasi penuh. Novel ini tentang kesunyian,” kenangnya.

Kisah kontroversial Muhidin rupanya mengikuti jejak pendahulunya, Salman Rushdie. Penulis novel “Satanic Verses” (1988) ini sempat menghebohkan dunia islam. Dikisahkan, Jibril Farishta, salah seorang tokoh dalam novel itu, dalam sebuah mimpinya melihat tiga peristiwa penting berkait dengan Kenabian Muhammad dan Sejarah Arabiah, Keratuan Aisyah, dan Revolusi Khomeini. Dia menemukan malaikat Jibril dan Muhammad bergumul dalam ketelanjangan, berguling-guling di atas pasir putih dengan penuh nafsu. Karena keluguannya, Muhammad tidak tahu bahwa yang barusan bersamanya adalah setan yang menyamar. Dan telah membisikinya wahyu yang kemudian disebut Ayat-ayat Setan. Dan ayat-ayat ini yang didakwahkan Muhammad kepada umatnya.

“Keberanian (dan juga rasa nekad!) saya mengumpul dalam menuliskan sebagian manuskrip Kabar Buruk dari Langit dan Adam Hawa kala itu, tatkala bersamaan dengan usainya saya ‘ngaji’ kitab Tn Rushdie yang konon ‘berbahaya’ itu, The Satanic Verses,” tulisnya dalam blognya, akubuku.blogspot.com.

akubuku.blogspot.com disebutnya sebagai blog neraka. Berisi sehimpun ulasan atau komentar atas apa yang pernah ditulisnya dalam beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini bukan hadir sebagai pembelaan atas karya-karyanya, tapi juga, di lain pihak dimuat ulasan-ulasan yang justru menyudutkannya. Baginya kritik harus dibalas dengan kritik, buku harus dijawab dengan buku. Tidak asal main tuduh apalagi dengan cara kekerasan.

“Ini bukan surga. Di sini, perkelahian selalu berlaku. Maka bertahanlah secara kreatif. Jangan merunduk. Kalaupun merunduk, janganlah terlalu terbenam. Kalaupun terbenam, janganlah terlalu lama...” pesannya kepada pembaca

Selengkapnya......

03 April 2007

Jarar Siahaan: Blog Adalah Tempat di mana Hati Nurani Bisa Merdeka

Jarar Siahaan tak sanggup lagi untuk tidak menerima amplop. Gajinya sebagai wartawan daerah tak cukup untuk menopang kebutuhan anak dan istrinya. Dia tak mau lagi kehilangan anaknya atau mendengar lagi tuntutan cerai dari istrinya gara-gara sibuk dengan idealisme “anti-amplop”-nya.

Sebelumnya, Jarar memang termasuk golongan jurnalis yang mengharamkan amplop. Bersama rekan-rekannya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen), sebuah organisasi jurnalis yang anggotanya tersebar dari kota-kota besar hingga daerah-daerah, dia turut menyerukan agar wartawan menolak segala bentuk "sogokan" yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja jurnalis dalam menjalankan tugasnya.

Namun pada saat yang sama ia menjumpai praktek-praktek kotor yang dilakukan oleh para pemilik media. Ia pun sempat bekerja dari satu media ke media lainnya. Tapi kondisi tak jauh beda. Menurutnya media di tanah air, terutama koran daerah, adalah mesin uang bagi para bunglon, pemeras, politisi, dan pelacur idealisme. Nuraninya memberontak, ia tak bisa bekerja di media seperti itu. Tapi ia juga tak bisa lagi untuk tidak menerima amplop sementara istri dan anaknya memang butuh penghidupan.

Maka ketika pindah ke Palembang dan anak keduanya lahir, tak lama kemudian pria 32 tahun itu pun mengundurkan diri dari AJI, organisasi yang pernah di”imani”nya hingga ia rela menelantarkan anak dan istrinya.

Sejak itulah dirinya membuka diri untuk menerima amplop. Ia tak munafik jika gaji yang diterimanya sebagai wartawan daerah tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun ketika dirinya menjadi redaktur, ia masih harus pinjam sana-sini untuk sekadar membelikan beras istri atau menengok keluarga di kampung halamannya.

"Aku tidak sanggup lagi untuk tidak menerima amplop. Aku tidak sanggup lagi melihat anakku Gibran yang selalu tersenyum lucu meskipun tubuhnya dibalut baju yang sempit," tulis Jarar dalam surat pengunduran diri dari keanggotaan AJI.

Tapi, meski menerima amplop, dirinya menolak jika dikatakan telah melacurkan idealismenya sebagai seorang jurnalis yang memegang teguh kebenaran. Baginya, wartawan boleh menerima amplop selama amplop itu tidak untuk merekayasa berita.

“Bagiku, wartawan idealis bukanlah karena menolak amplop; tapi karena ia menulis sesuai hati nuraninya,” tulisnya dib log BatakNews.com.

BatakNews adalah ruang baru bagi Jajar untuk mencurahkan nurani jurnalisnya. Dia meninggalkan profesinya sebagai jurnalis yang telah ia geluti selama hampir 12 tahun. Ia bahkan menolak ketika ditawari menjadi redaktur di Global, sebuah media lokal yang dianggapnya cerdas dan menyejukkan. Ia lebih memilih menjadi penulis lepas daripada menjadi awak redaksi, sekalipun menjadi redaktur di media itu. Dan sejak itu pula ia memutuskan tidak akan kembali terikat dengan media manapun, selamanya. Dia ingin menjadi jurnalis yang independen, yakni melalui blog.

Jarar kemudian mengirim pernyataan sikapnya itu melalui surat terbuka yang dia kirim ke beberapa media nasional di Jakarta, Dewan Pers, AJI dan lembaga terkait lainnya. Saya sendiri kali pertama membacanya di milis yang diposting oleh Andreas Harsono. Dari surat itu diketahui jika Jarar juga melayangkan surat serupa secara pribadi kepada ketua Yayasan Pantau, yang kini menjadi penulis freelance di sejumlah media internasional itu.

Dalam surat terbukanya Jarar menyampaikan bahwa media tak seharusnya membuat aturan menolak amplop bagi watawannya, sementara media sendiri belum memberikan upah yang layak kepada para pencari berita itu.

“Jangan kalian 'rusak' para jurnalis pemula dengan kampanye tolak-amplop. Yang harus dilakukan AJI adalah mendesak semua media agar menggaji wartawannya dengan layak. AJI harus berani menggalang semua wartawan untuk mogok kerja. Setelah itu terpenuhi, barulah “sikat” wartawan yang menerima amplop. Dan sebelum media memberi gaji layak, hentikan kampanye tolak-amplop. Jangan sampai ada [lagi] wartawan yang lugu mengorbankan anak-istrinya demi paham yang kalian ciptakan,” tulis Jarar dalam surat terbukanya.

Surat terbuka juga dikirim oleh Jarar ke para blogger Indonesia. Disampaikan bahwa blog bukan cuma media tanpa sensor. Tapi blog telah menjadi malaikat penolong dan tempat meneduhkan nurani bagi jurnalis yang masih punya rasa malu.

”Kurindukan suatu hari nanti, koran yang begitu akan mati; sebab mereka sering membunuh kebenaran. Kuimpikan detik ini, setiap warga akan menulis dan mengedit beritanya sendiri. Blog adalah tempat di mana hati nurani bisa Merdeka,” tulisnya.

Sikap Jarar kini telah direspon oleh khalayak luas. Beberapa hari terakhir ia menerima dukungan dari sejumlah wartawan dan blogger yang tersebar di seluruh Indonesia hingga luar negeri. Seperti yang ditampilkan dalam posting diblognya, Budiman S Hartoyo (sering dipanggil BSH) juga turut memberikan komentar.

"Saya setuju dan mendukung gagasan kau: desak para majikan media untuk menggaji wartawan secara layak (tentu wartawan yang bener). Kalau tidak, mogok saja! Setelah itu gencarkan anti amplop," tulis BSH, mantan wartawan senior Tempo dan salah seorang deklarator AJI itu.

Meski banyak pihak mendukung, banyak pula orang yang memberikan tanggapan sinis atas sikap Jarar. Beberapa rekan di daerahnya malah ada yang menganggapnya tak waras alias sinting!

Jarar menampik jika munculnya BatakNews sebagai bentuk kekecewaannya kepada AJI. Blog ini lahir karena dirinya kecewa pada media, koran daerah, yang umumnya tidak independen dan tidak memberi gaji layak.

BatakNews dionlinekan sejak 20 Maret 2007. Jarar adalah pendiri dan sekaligus pengisi beritanya. Ke depan blog ini diniatkan untuk menjadi tempat di mana setiap orang bisa melaporkan berita (citizen journalism). Setiap orang bisa menjadi jurnalis. Tapi tentu saja ada aturannya. Silakan baca di sini.

“Untuk saat ini aku belum punya rencana apa pun soal masa depan BatakNews. Aku takut mencari penyandang dana; karena bisa-bisa dia mengaturku untuk menulis sesuai kepentingannya. Aku juga belum berpikir untuk merekrut wartawan atau redaktur,” jawabnya dalam sebuah email.

Sejak awal Jarar meniatkan blog BatakNews mewartakan isu-isu lokal, terutama yang terjadi di Balige, ibukota Kabupaten Tobasa. Sementara ini, dia mengaku masih bisa meliput sendiri. Sebab Balige hanya kota kecil. Selain berita lokal, ia merencanakan blog itu memuat foto-foto lokal, artikel budaya Batak, opini pembaca (khususnya para perantau Batak yang tinggal di luar Tobasa dan luar negeri), feature dan tulisan tentang jurnalisme.

”Aku tak berharap muluk-muluk. Ibaratnya, BatakNews adalah sebuah koran komunitas beroplah kecil di sebuah kecamatan yang, karena kecanggihan internet, dibaca oleh para perantau di seluruh penjuru dunia,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jarar membuka usaha berjualan oli-campur dan pulsa HP di depan rumahnya yang ia kelola bersama istrinya.

“Alhamdulillah, olinya laku, karena rumah kami persis di samping pom bensin. Sehari rata-rata habis 15 botol, bisa dapat laba Rp 50 ribu. Voucher HP rata-rata 25 voucher per hari, dengan laba berkisar Rp 25 ribu. Jadi dari usaha istriku ini kami sudah bisa menutupi kebutuhan dapur. Untuk kebutuhan lain yang mendesak, sesekali kami minta bantuan dari orangtua,” akunya.

Bagaimana dengan istri, apakah dia tidak mengeluh dengan kondisi anda saat ini?

Dikatakan oleh Jarar, justru istrinya mendorong dirinya keluar dari media cetak dan membuat blog. Kata istrinya, “Daripada kau makan hati terus, lebih baik kau ngeblog asalkan kau bebas menulis mengikuti kata hatimu.’

“Istriku seorang yang sederhana. Ia tidak memakai perhiasan, tidak memakai make-up di wajah, tidak suka shopping baju. Ia seorang wanita desa yang betul-betul sederhana. Aku bersyukur punya istri seperti dia. Dan selama kami berkeluarga tujuh tahun, tidak pernah dia menyuruh aku mencari uang dengan cara yang banyak dilakukan [oknum] wartawan, seperti memeras”.

Selamat bung, akhirnya kau temukan tempat di mana nurani bisa merdeka.

Selengkapnya......

16 March 2007

Blog dr Iwan: Bicara Seks yang Mencerahkan

Jika di Jakarta ada dokter Boyke, maka Semarang punya dokter Iwan Setyawan atau yang lebih dikenal dr Iwan. Keduanya sama, fasih berbicara masalah seks dan reproduksi. Bedanya, dokter yang disebutkan belakangan ini tampak lebih gaul. Gaya bicara dan dandanannya nyentrik. Selain mengudara lewat beberapa stasiun radio, kini dokter gaul ini membuka layanan konsultasi lewat blog. Namanya dr Iwan Bicara Seks.

"Hari ini sudah ada 30 pertanyaan buat saya. Jadi, pertanyaan anda nanti harus mengantri dulu," katanya dalam sebuah diskusi di Fakultas Sastra Undip belum lama ini, yang kemudian diikuti senyum kecut para mahasiswa.

Kesibukan dokter alumni Fakultas Kedokteran Undip ini memang sangat padat. Mulai dari mengisi diskusi dari kampus hingga sekolah-sekolah, konsultasi baik off air maupun on air di beberapa radio, dan dari pengakuannya, dia juga terlibat dalam pembinaan anak jalanan.

"Saya punya membina 5 anak jalanan di Simpang Lima," kata dokter yang aktif di Pilar PKBI Jateng ini.

Bermula dari sebuah diskusi yang diadakan oleh Internet Club Unisbank (Universitas Stikubank) Semarang, muncul gagasan agar dokter Iwan membuat blog. Dokter Iwan menyambut baik usulan ini. Tapi karena kesibukannya, maka blog dokteriwan.blogspot.com diurus oleh orang lain. Deddy Widiyanto dan Andri adalah dua orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengurus blog dokter Iwan yang diluncurkan sejak April 2006 di sela-sela kesibukan pekerjaanya.

Dari blog ini, seperti disampaikan oleh Deddy, dokter Iwan dikontak oleh salah satu stasiun radio di Surabaya. Ia diundang untuk mengisi acara on air lewat telepon.

Baru-baru ini, seperti yang dituturkan dokter Iwan, dirinya dikontak oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional terkemuka untuk mengisi acara konsultasi masalah seks.

"Dokter Iwan orangnya supel. Baik hati, suka membantu orang lain," ungkap Deddy.

Deddy benar, apa yang dilakukan oleh dokter Iwan dari kegiatan konsultasi ini adalah kegiatan sosial. Untuk konsultasi baik lewat radio maupun via blog, tidak dipungit biaya, alias gratis!

Materi yang disampaikan di blog diantaranya merupakan artikel yang disampaikan oleh dokter Iwan dalam diskusi. Ada juga yang dirangkum dari hasil konsultasi. Simak saja posting yang berjudul "Boleh Gak Sih Remaja Pacaran?". Tulisan ini merupakan hasil diskusi “Problemantika Pergaulan remaja dan Solusinya” yang diselenggarakan oleh Tim I KKN Undip Semarang. Atau yang lebih hot lagi, baca artikel "Payudara Besar vs Payudara Kecil, Pilih Mana?" Di sini dipaparkan jenis-jenis payudara, apa kelebihan dan kekurangannya.

Meski menggunakan desain minimalis, blog dokter Iwan ini terbilang cukup interaktif. Seperti blog pada umumnya, pengunjung bisa meninggalkan komentar di setiap tulisan, maupun meninggalkan pesan singkat di shoutbox yang ada di sidebar.

Menurut Deddy, salah seorang admin blog, dirinya memang belum memikirkan untuk menggarap desain blog yang hingga kini telah dikunjungi sekitar 25 ribu-an pengunjung ini secara lebih serius. Begitu juga soal imbal balik materi yang diterimanya dari hasil mengelola blog ini.

"Secara materi, kami memang tak begitu memikirkan. Kami sudah cukup senang melihat traffic ke blog ini yang dari hari ke hari terus meningkat."

Dasar blogger, ada juga yang memberikan komentar miring atas dirilisnya blog dokter Iwan ini. Seperti komentar Joni yang ditulis di shoutbox ini: "Setelah baca blog ini, malah menggugah saya buat berhubungan seks yang aman. Jadi tahu caranya ngeseks terus, tapi man. Hidup dr Iwan, yang bikin nafsu saya bisa terus tersalurkan..."

Oleh admin ditanggapi: "Blog ini ada untuk memberikan pendidikan yang baik dan benar dalam bidang reproduksi sehat. Segala tips maupun solusi tentang hubungan seks, ditujukan hanya untuk pasangan yang telah menikah (suami istri). Untuk pasangan yang belum menikah/ remaja, kami percaya hanya dengan iman dan taqwa kepada Tuhan YME lah yang akan membuat remaja terhindar dari perilaku seks bebas."

Nah, bagaimana dengan anda? Tapi, alangkah lebih baiknya anda membaca ulang tanggapan admin di atas, atau membaca lagi prolog yang disampaikan oleh dokter Iwan di halaman profil yang ada di sidebar, agar kehadiran blog ini tidak disalahgunakan.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi dengan dokter Iwan dipersilakan menghubunginya via email bicaraseks@gmail.com. Atau bisa juga di forum curhat www.pojokkita.com di rubrik konsultasi seks, yang baru saja dirilis awal tahun 2007 lalu. Anda juga bisa mendengarkan mendengarkan Free MP3 Konsekstasi di http://dokteriwan.multiply.com, maupun membaca artikel-artikel lainnya di http://dokteriwan2.blogspot.com.

Anda yang ingin berkonsultasi langsung atau ingin mengundangnya untuk acara diskusi bisa berkunjung ke klinik dr Iwan di Jalan Tirto Agung Raya no. 56 Tembalang, Semarang. Atau telepon via Hotline Konsultasi 081 228 59951. Pesan dokter Iwan, mohon membuat janji jadwal konsultasi terlebih dahulu sebelum berkunjung ke klinik.


*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com

+++++

Anda punya blog menarik? Atau bisa juga mengusulkan blog teman anda. Kirim alamat blog, nama pemilik, dan deskripsi singkat blog ke alamat email bloggernarsis@yahoo.com. Anda juga bisa berdiskusi lebih lanjut seputar dunia blog di milis Bloggernarsis@yahoogroups.com. Info selengkapnya di blog.suaramerdeka.com

Selengkapnya......

06 March 2007

Blog Zen Rs: Mengakrabi Kematian

“Pak Kunto, sudahkah anda menulis hari ini?” tanya Zen. Kunto tak memberi jawaban. Mungkinkah dia tuli? Entahlah. Zen sepertinya juga tak peduli, ia melanjutkan pertanyaan, seolah tak memerlukan jawaban dari lawan bicaranya itu.

Zen pasti sadar jika orang yang dialamatkan pertanyaan itu telah mendiang. Kunto yang dimaksud adalah Kuntowijoyo, sejarawan cum sastrawan nasional papan atas. Alharmum yang semasa hidup tercatat sebagai sebagai Dosen Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) meninggal dunia dua tahun silam, tepatnya 22 Februari 2005, karena mengidap penyakit stroke dan gangguan otak. Rupanya penulis dengan sengaja mengirim surat imajiner yang diberinya judul “Surat Buat Pak Kunto di Sorga” itu untuk almarhum di alam sana.

Jika bukan karena kekaguman penulis kepada almarhum, sepertinya tak mungkin hal yang mustahil itu dilakukan. Bercakap dengan orang mati, mengakrabi kematian, ini hal yang tak lazim dilakukan oleh orang yang dilengkapi akal sehat. Pada titik ini, pemilik blog pejalanjauh.blogspot.com itu barangkali memang tak waras.

Kematian tampaknya sudah begitu karib bagi pria yang mempunyai nama lengkap Zen Rahmat Sugito, yang sering ia singkat dengan Zen Rs itu. Kesimpulan ini didapatkan setelah membaca beberapa tulisan yang diposting diblognya. Hampir seluruhnya menceritakan tokoh-tokoh yang sudah tiada.

Yang menarik, penulis menceritakan tokoh-tokohnya secara detail dan teliti. Benar-benar hidup, seperti menyaksikannya secara langsung di layar kaca. Selain itu, ragam bahasa yang dipakai cukup selektif. Pembaca sesekali perlu membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia ketika menemukan kata-kata yang tidak lazim dipakai oleh orang awam. Maklum, pemilik blog yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta itu selain menulis biografi, juga gemar membuat puisi.

Menurut pengakuanya, tulisan-tulisannya diblog itu dirangkum dari hasil kebiasannya mengurung diri, membaca dan membaca buku-buku biografi koleksinya.

“Selama ini aku lebih banyak ngamar, duduk diam di dalam di ruang baca. Menumpuk-numpuk buku.Beberapa diantaranya aku baca. Lama-lama ngerasa kering.Urip kok mung mampir moco buku. Nah, aku mulai sadar kalo aku sangat minim melakukan perjalanan sosial. Lebih banyak melakukan perjalanan imajinal. Aku gerah dengan itu…”

Oleh karena itulah, untuk menebus kekesalannya dia memberi nama blognya dengan pejalanjauh. Alam pikirnya dibiarkan menyusuri kemana saja, menembus batas ruang dan rentang masa. Dari perjalannya ini, ia bertemu dengan tokoh sufi besar Jalaludin Rumi, hingga beberapa tokoh nasional macam Sjahrir, penyair Amir Hamzah, ataupun pengarang Jepang Kawabata. Kemudian ia menulis, menceritakannya seolah-olah sempat bertemu langsung dengan para tokoh-mendiangnya.

Lalu kenapa dia memilih tulisan biografi untuk materi blognya?

Zen memberikan dua alasan. Pertama, dalam setiap perjalanan, dia membayangkan akan menemui banyak orang. Mungkin berguru dengan banyak orang, berguru pada sikap mereka. Dia percaya manusia itu selalu bertarung dengan kenyataan. Katanya, sejarah adalah pertaruangan tak kenal usai antara das sein dan das sollen. Antara apa yang dibayangkan dengan apa yang senyatanya kejadian.

Menurutnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Ada juga orang yang pasrah pada kenyataan. Sebaik-baiknya orang, baginya adalah mereka yang berbuat sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpinyanya. Dan dia akan menjadi lebih baik ketika dalam perjuangan hidupnya itu dia mampu mengatasi ketakutan-kertakutannya.

“Saya sangat suka paragraf penutup pemenang nobel Anak Semua Bangsa (karya Pramoedya Ananta Toer, Red). Nyok, kita kalah nyok, tapi kita suda melawan, sebisanya. Mantap betul!”

Alasan lain, Zen menggemari menulis biografi karena terinspirasi oleh buku John F Kennedy yang berjudul “Profiles in Courages”. Buku ini berisi kumpulan biografi pendek para tokoh Amerika. Kebanyakan tokoh politik. Seperti Franklin, G Washington atau John Adams. Buku itu juga merumuskan dengan baik apa artinya keberanian, apa artinya manusia pemberani.

“Setelah itu karena aku dipengaruhi oleh Pram. Tokoh-tokoh Pram selalu gagal. Tapi gagal setelah sekuat-kuatnya berusaha dan dia sendirian menanggungnya. Aku suka menulis paradoks-paradoks itu semua. Merenungkan bagaimana cita-cita berbentuan dengan hambatan.”

Benar, diantara tokoh-tokoh imajiner yang sudah ditulisnya, Zen kagum kepada pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ia menulis satu catatan untuk Pram dalam posting “Saat-saat Terakhir Pramoedya Menjelang Berakhirnya Pasar Malam”.

Berbeda dari tulisan-tulisannya yang lain, apa yang diceritakannya tentang mantan aktivis Lekra itu dari pengamatannya secara langsung. Zen menyempatkan diri mendatangi kediaman almarhum pada malam menjelang wafatnya. Ia menyaksikan langsung saat-saat terakhir, bagaimana Pram akhirnya tak kuasa menantang maut.

“Itu tulisan terbaik yang pernah kubuat. Tidak bukuku, tidak esaiku, tidak juga artikelku,” akunya.

Dan kematian makin akrab, tulis Subagyo Sastro Wardoyo dalam salah satu sajaknya. Apakah Zen sendiri juga pernah mengangankan demikian? Apakah dia akan memilih jalan kematian seperti yang ditempuh dua tokoh yang ditulisnya, mantan petinju nasional Rahman Kili-Kili dan pengarang Jepang Kawabata?

Suatu kali, teman sekamarnya menulis cerpen. Judulnya “Matinya seorang esais muda”. Tokoh utamanya bernama Jen Rahman. Barangkali ini plesetan dari nama Zen Rahmat Sugito.

“Mosok aku dijadikan karakter yang sok mati muda’” gerutunya.

Dalam sadar, Zen tentu saja tak akan mengikuti laku mengakhiri hidup sendiri seperti yang dipilih oleh kedua tokoh dalam ceritanya, atau memilih hidup menderita seperti dalam tokoh karya-karya Pramoedya. Apa yang dilakukannya dengan menulis ulang hikayat para tokoh ini adalah upayanya untuk memulyakan harkat kemanusian, kemudian menyuguhkanya kepada pembaca: sebagai pelajaran hidup yang teramat berharga.


Pada akhirnya, seperti dikatakann Zen, setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan setiap orang punya kebebasan untuk memilih siapa rujukan hidupnya.

*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com

Selengkapnya......

08 February 2007

Blog Isnaini: Modal Nekat, Berbuah Dollar

Lulus kuliah, cari kerja ternyata susah. Isnaini banting setir. Ia mulai merambah ke bidang lain. Desain grafis, website, dipelajarinya. Modalnya nekat. Bagaimana tidak, ia benar-benar belajar sendiri dari nol! Tapi jangan salah, bulan Januari 2007 ini saja, ia dapat penghasilan $600. Ini belum termasuk penghasilan lainnya, dari mengajar sana-sini.

"Dulu ngambil jurusan Public Relation, kalo gak salah dulu pernah dapat desain grafis, itu aja gak sampe bisa. Kalo belajar web, otodidak semua, belajar sendiri. Malah dari dulu mpe sekarang gak punya komputer . Semuanya minjem . Belajar web malah setelah selese kuliah, coba-coba ngelamar kerja pake ijazah kuliah susah, makanya nekat belajar yang lain biar bisa nyari kerja," aku Isnaini ketika saya wawancarai lewat yahoo massanger Rabu (7/2) malam.

Itulah sekelumit cerita Isnaini, blogger asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini telah tinggal di Yogyakarta semenjak awal kuliah pada tahun 1996. Nama lengkapnya Ahmad Isnaini. Sehari-hari mengajar dan malamnya ngeblog. Ia mengajar program-program komputer desain dan animasi di Yogya Executive School “YES”, Smile Group Jogja.

Bagi para blogger maniak, nama Isnaini tentu saja tak asing lagi. Ia termasuk desainer grafis dan web yang tak pelit. Bahkan ia membagi-bagikan template blog karyanya secara gratis. Templatenya ini sudah banyak dipakai oleh blogger lokal sampai mancanegara. Anda bisa melihat-lihat koleksi desain blog atau mendownloadnya di freetemplates.blogspot.com.

Mulanya karena hobi desain web. Blogger lajang yang sudah mulai ngeblog sejak tahun 2002 ini, kemudian bisa membuat template blog sendiri. Dari sana, teman-teman dekatnya minta dibuatkan template. Akhirnya muncul ide untuk membuat template dalam jumlah banyak agar bisa di download oleh siapa saja secara gratis.

Anda barangkali akan bertanya, apa untungnya Isnaini membagi-bagikan templatenya, tanpa dibayar pula?

"Namanya juga hoby, kalo dibilang rugi ya iya juga, misalnya karena banyaknya pengunjung yang datang untuk donwlod template ke blogku, akhirnya lebih banyak biaya yang aku keluarkan untuk hosting, terutama bandwith yg terpakai," akunya.

Soal penghasilannya $600 itu, tepatnya $602,86, didapatkannya dari google adsense. Dalam hal ini Google membayar pemilik website atau blog yang memasang iklan google di web atau blognya. Mereka kemudian disebut publisher. Besar kecilnya $yang didapatkan oleh publisher dari google beragam, tergantung pada beberapa faktor, diantaranya jumlah pengunjung, per-click, dan lainnya.

Isnaini sendiri mendapatkan dollar dari google setiap bulan, terhitung sejak Desember 2005. Tapi jangan bayangkan dollar itu mengalir begitu saja. Isnaini mendapatkannya dengan usaha keras. Mulanya ia sempat membuat 30 blog sekaligus dalam satu akun adsensennya. Jumlah yang fantantis, bukan? Tapi lama-lama ia kerepotan sendiri. Akhirnya kini ia memutuskan untuk mengelola 15 blog. Sisanya ia berikan kepada temannya yang gabung di program iklan berbayar dari google itu.

Ke-15 blog itu antara lain jogjaponsel.com, isnaini.info, dan masih banyak lainnya. Selengkapnya dicantumkan di sidebar blog isanini.com. Hampir semuanya menggunakan wordpress. Alasannya fasilitasnya lebih lengkap dan gratis. Tapi ada juga yang di blogger: isnaini.blogspot.com, freetemplates.blogspot.com, sexywomanlingerie.blogspot.com, machinerytool.blogspot.com, petsupplystore.blogspot.com.

"Sebenarnya untuk bisa menghasilkan duit dari adsense gak harus pake domain atau hosting sendiri, pake blogspot juga bisa," tulis Isnaini.

Dari 15 blog itu, yang paling banyak mendatangkan dollar adalah dari isnani.com. Perbulan bisa sampai $100 lebih. Tapi bila dicermati dari konten isnaini.com, hampir semuanya menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana bisa menghasilkan adsense sampai $100 lebih?

"Bisa dapat segitu untuk isnaini.com sebenarnya karena memang pengunjungnya banyak. Dari sitemeter yang saya pasang, jumlah visit perhari lebih dari 1000, page impresion nya sendiri sampe 8000 perhari," jawab Isnaini.

Seperti diakui oleh Isnaini, jumlah $600 memang bukan nilai yang terlalu fantastis di kalangan adsense publisher yang sudah sukses. Di Indonesia, beberapa blogger sudah mendapatkan ribuan dollar dari google adsense dalam sebulan. Namun bagi orang awam, jumlah itu cukup bisa membuat terheran-heran. Dan Isnaini yang mulanya awam dengan urusan pernak-pernik website ini, telah membuktikan.

Siapa adsense publisher atau blogger yang mendapatkan dollar tertinggi dari google adsense?

"Dulu waktu aku masih aktif di adsense-id.com, katanya sih si Cosa. Nggak tau sekarang, aku gak pernah kesitu lagi," jawab Isnaini. Cosa yang dimaksud memiliki blog di http://www.cosaaranda.com.

Isnaini sekarang punya usaha baru. Ia membuka warung makan bareng temannya di dekat kosnya di Jl. Pramuka KG II/1095 Tegal Gendu - Kotagede. Anda yang sedang berkunjung ke Yogya bisa mampir, siapa tahu dapat gratisan.(Muhamad Sulhanudin)

+++++

Anda punya blog menarik? Atau bisa juga mengusulkan blog teman anda. Kirim alamat blog, nama pemilik, dan deskripsi singkat blog ke alamat email bloggernarsis@yahoo.com. Anda juga bisa berdiskusi lebih lanjut seputar dunia blog di milis Bloggernarsis@yahoogroups.com. Info selengkapnya di blog.suaramerdeka.com

Selengkapnya......

26 January 2007

Blog Murni Ramli: Apakah Anda Cinta Indonesia?

Jika ada yang bertanya, seberapa besar cinta anda pada Indonesia, maka Murni Ramli punya jawabannya. Mantan guru sebuah sekolah swasta di Bogor yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktor di Jepang ini, menganggap bahwa dirinya menjadi warga negara Indonesia karena suatu kebetulan.

Kebetulan yang dimaksud tentu saja karena dirinya terlanjur dilahirkan di Indonesia. Akan lain cerita jika dia dilahirkan di Jepang, atau negara lain. Maka sudah barang tentu ia akan menjadi warga negara tersebut.

Lantas bagaimana jika Murni diminta memilih. Dia lebih memilih menjadi warga Indonesia atau Jepang?

“Ehmm.... pilihannya cuma dua neh. La wong ga isok milih tempat mbrujul yang aman deh…” jawabnya ketika saya wawancarai via google talk.

Suatu kali dalam blognya di http://murniramli.wordpress.com, Murni mengajukan pertanyaan: Apakah Saya Cinta Indonesia? Ia membeberkan pernak-pernik Jepang dari hasil pengamatannya selama dua tahun lebih tinggal di negeri matahari terbit itu. Mulai dari masyarakat Jepang yang dingin ketika di kereta, tidak mudah menyapa seperti orang Indonesia; sarana transportasi yang supercanggih; dan satu lagi yang membuat Murni kagum, sistem pendidikannya.

“Fasilitas seluruh negeri hampir seragam dan sangat elit, sistem belajar di PT ga segila di Indonesia (IPB apalagi), di sini lebih nyantai, dan bisa part time job,” balasnya.

Sistem pembelajaran di Jepang diceritakan lebih santai. Anak-anak sekolah bisa belajar dengan lebih menyenangkan, tanpa harus dibebani pekerjaan rumah yang berjibun, bahkan tidak perlu memakai seragam. Tapi kenapa hasilnya bisa maksimal?

Dalam posting yang diberi judul Mengapa Anak Indonesia Lebih Gampang Beradaptasi di Sekolah Jepang?, Murni memberikan analisanya. Salah satu perbedaan dengan sekolah di Indonesia, yakni ketika siswa hendak masuk sekolah. Di Jepang orang tua siswa tidak ditanyai soal biaya uang gedung, SPP, maupun uang seragam. Pertanyaan yang diajukan lebih difokuskan pada masalah kondisi psikologis sang anak.

Dalam hati kecil, Murni mengakui dalam beberapa hal Jepang lebih baik dari Indonesia. Namun ketika ada seorang temannya di Jepang memberikan penilaian yang kurang baik tentang Indonesia, ia akan bersikeras membelanya.

Seperti ketika manajer dia menanyakan soal hilangnya pesawat Adam Air. Murni malah berkelit dengan mengatakan ”Kami punya perusahaan penerbangan yang memproduksi pesawat ringan untuk menerbangkan orang Indonesia dari pulau ke pulau. Kami juga mengekspornya! Padahal ini benar-benar tidak nyambung dengan pertanyaannya !”

Kenapa ia rela membela Indonesia, seolah-olah tak rela nama negerinya itu dicela oleh warga negera lain. Apakah ini karena kecintaannya pada Indonesia?

“Ini mah respon normal semua orang lagi. Tapi saya kadang mengiyakan pendapat mereka juga, cuman belakangnya pasti saya kasih `tapi...mengkritik itu boleh, cuma harus adil’,” jawab Murni.

Itulah Murni. Seorang blogger Indonesia keturunan bugis tulen yang mempertaruhkan rasa nasionalismenya ketika berada di negera lain yang diam-diam dia kagumi. Lama berpisah dengan keluarganya yang sekarang tinggal di Madiun, Jawa Timur, sering membuatnya kangen. Ia rindu akan kampung halamannya dengan sawah yang hijau, penduduk yang ramah, tanah lapang yang luas, yang baginya tak akan ditemukan di belahan bumi manapun.

Saat ini Murni tengah menempuh studi phd di Nagoya University atas biaya sendiri, tak seperti waktu dia mengikuti Teacher Training yang disponsori oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan, Murni bekerja paroh waktu sambil kuliah.

Di Nagoya University Murni belajar tentang pengelolaan sekolah dan pendidikan (educational management). Berbeda dari yang ampunya sewaktu mengajar ilmu pertanian di Politeknik Darul Fallah dan ngajar Bhs Inggris plus Bahasa Arab di MA Al-Haitsam Bogor. Maklum, ia adalah alumni Institute Pertanian Bogor (IPB).

Murni tinggal di Nagoya, ibukota Aichi prefecture, provinsi terkaya di Jepang karena di wilayah ini ada perusahaan otomotif raksasa Toyota co. Jika tak ada aral melintang, studi doktoralnya di Nagoya University akan selesai pada Maret 2009.

Apa rencana Murni setelah pulang ke Indonesia?

“Tadinya mau balik ke sekolah yangg lama. Tapi kemudian berubah pikiran. Saya suka sekali dengan dunia penelitian sejak saya S1. Waktu itu temanya memang pertanian, sekarang agak bergeser ke pendidikan. Jadi saya berencana melamar di sebuah lembaga penelitian atau jadi dosen supaya bisa terus meneliti,” ungkapnya.

Dari pengakuanya, calon doktor ini ternyata masih single. Kapan ia akan mengakhiri masa lajangnya, apakah dengan orang Jepang atau justru dengan warga senegaranya? Silakan tanyakan langsung kepada bu Murni.****

*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com.

Anda punya blog menarik? Atau bisa juga mengusulkan blog teman anda. Kirim alamat blog, nama pemilik, dan deskripsi singkat blog ke alamat email bloggernarsis@yahoo.com. Anda juga bisa berdiskusi lebih lanjut seputar dunia blog di milis Bloggernarsis@yahoogroups.com. Info selengkapnya di blog.suaramerdeka.com

Selengkapnya......