15 November 2015

Transmigrasi di Era Jokowi


TRANSMIGRASI bertujuan untuk memeratakan pembangunan. Manfaat bagi daerah sasaran, daerah yang semula terpencil dan sulit diakses secara perlahan akan tersentuh oleh pembangunan. Di sana akan bermunculan kampung, terbentuk desa-desa baru, dan singkatnya akan menjadi ramai.

Sementara itu, pertumbuhan penduduk di kota semakin padat. Mendapatkan pekerjaan semakin susah. Transmigrasi membuka harapan baru. Anda akan mendapatkan tanah minimal 2 ha. Juga subsidi dari pemerintah sebesar Rp 3 juta per bulan.Jika berminat bisa mendaftarkan diri ke Dinas Transmigrasi (Disnakertrans) setempat. Yang masih lajang dibolehkan dan malah disarankan. Demikian kata Pak Menteri Desa.

Di sekitar saya tinggal sekarang di Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah, sepengetahuan saya ada 3 titik daerah yang dihuni oleh para transmigran. Sebagian besar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi ada juga dari Flores dan ada pula orang Bugis.

Diantaranya sudah beranak-pinak dan generasi kedua yang lahir di tempat trans sudah seumuran saya. Mereka bikin forum kumpul-kumpul sebagai wadah silaturahmi. Misalnya Pakuwojo (Paguyuban Kulowargo Wong Jowo) adalah wadah orang Jawa di Kalimantan Tengah, yang anggotanya tidak hanya berasal dari peserta program transmigrasi tapi juga perantau Jawa yang bermukim permanen atau juga temporer.

Secara ekonomi para trans tampak berkecukupan. Di Desa Ngurit tak jauh dari saya tinggal sekarang, para trans Jawa dan Bugis nenanam cokelat. Penghasilannya tentu lebih besar dari tanaman karet, sebagaimana kebiasaan penduduk asli setempat, yang selama setahun terakhir terpuruk dan karenanya sebagian dibiarkan tidak dipanen.

Beberapa orang pribumi yang saya temui kerap memuji keuletan para trans. Mereka yang diberi 2 ha tapi bisa mengolah tanah dengan bermacam tanaman, sementara orang pribumi yang punya berhektar-hektar hidupnya tidak lebih baik dari trans. Karena pengetahuan cocok tanam yang kurang dan malas, aku mereka. Timbul rasa iri tapi tetap dengan fair memuji.

Tentang orang pribumi yang malas, dari beberapa orang yang saya jumpai saya membenarkan. Tapi kalau untuk menggeneralisasi, saya menolak. Sebagaimana sering saya dibikin geram oleh obrolan di warung tentang stigmatisasi dari orang sejumlah pribumi terhadap orang Madura, yang dikatakan curang dan tidak tahu balas budi. Saya punya teman orang Dayak dan dia seorang pekerja keras, dan sebaliknya tidak sedikit saya jumpai orang sesuku saya yang malas. Kualitas seseorang tidak diukur dari apa suku dan apa agamanya, melainkan kepribadian seseorang. Dan mereka yang masih membicarakan orang lain dari jenis suku dan agama itu pengetahuannya masih terkekang.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, para trans ikut memberi warna dalam kehidupan setempat. Mendekati Pilkada Provinsi Kalimantan Tengah, salah satu calon Gubernur Kalteng adalah keturunan Jawa. Desa-desa trans tentu saja dijadikan sebagai basis pendukung. Apalagi sempat muncul penolakan warga non pribumi ikut dalam pencalonan, yang tentu saja wacana tersebut muncul untuk kepentingan politis dan tidak serta merta berangkat dari keinginan dari mayoritas warga pribumi. Wacana itu dimunculkan untuk menjegal calon rival yang kebetulan bukan warga pribumi yang punya kans kuat untuk menang. Dalam politik apa saja bisa dijadikan bahan dagangan; apakah itu agama, suku, bahkan sampai ideologi musik dangdut.

Beberapa waktu lalu saya pernah menemukan berita bahwa mahasiswa di Kalimantan Barat menolak program transmigrasi dan meminta pemerintah untuk menghentikannya. Tentu hal ini perlu dicari tahu apa pangkal persoalannya, apakah lagi-lagi ada muatan politis atau memang ada kerugian yang timbul dan diterima oleh pribumi akibat program transmigrasi yang kini sedang digalakkan kembali oleh pemerintah

Selengkapnya......

20 October 2015

Dayak Lawangan Cultural Festival

Human beliefs are always guided by religious faith and culture. Borneo or Kalimantan island is a big land mass with various cultures and religious faiths.

Today I want to narrate one of cultural belief which I observed personally during staying the village.

It was a cloudy afternoon (18/10/2015) as the sun was under cover and also with smog that has hit some regions of Kalimantan during this period every year, resulting in many diseases, mainly with breathing problems from young to old.

So to perform local Dayak ritual, under the command of chief of adat to get rid of diseases, early monsoon, birth anniversary etc; a buffalo was tied on its neck with about 7 meter rope to pole, fixed at the center of a big community hall. As buffalo was tied so it could only move encircling the pole.

Selengkapnya......

19 October 2015

Perayaan Adat Dayak Lawangan


Perayaan ulang tahun Balai Adat Erai Pakat di Desa Patas, Gunung Bintang Awai, Barito Selatan, Kalimantan Tengah berlangsung meriah. Sebagai puncak perayaannya hari ini digelar ritual pembunuhan kerbau.

Si kerbau dikalungi tali sepanjang 7 meter yang diikatkan pada tiang. Ia lari ke sana kemari mengitari tiang. Para penghulu adat yang masing-masing sudah siap dengan sangkur di tangan menusukkannya ke bagian tubuh kerbau hingga hewan malang itu rubuh dan menyerah. Para warga yang sebelumnya menyaksikan dengan tegang pun bersorak.

Erai Pakat merupakan rumah adat suku Dayak Bawo/Lawangan. Asal-usul moyangnya bermukim di Gunung Bawo, wilayah Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai.


Suku Dayak di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah, banyak macamnya. Dayak Maanyan, Bakumpai, Lawangan mereka tinggal di sekitar aliran Sungai Barito. Dayak Kapuas yang merupakan populasi Dayak terbesar di Kalimantan Tengah bermukim di Kabupaten Kapuas.

Masing-masing punya bahasa dan acara adat sendiri. Dan hampir di setiap acara perayaan adat di situ bisa ditemukan acara judi-dadu yang dilegalkan. Termasuk di acara kematian.

Di acara adat Dayak Lawangan yang perayaanya selama seminggu ini, tiap malam sampai pagi digelar acara. Sementara di dalam balai adat digelar ritual tari-tari pemujaan, di luar balai tampak berjubel laki-perempuan, tua-muda bahkan anak-anak juga ikut duduk di lapak dadu bersama orang tuanya. Beberapa orang yang saya kenal membawa istri dan anaknya pasang dadu. Dari nominal seribu sampai jutaan. Tak ada tabu, tak ada malu. Dan memang tampak guyub, seperti hiburan pasar malam.

Untuk menjaga ketertiban, panitia membuat aturan. Siapapun yang bikin onar akan dikenakan denda. Ada seorang bandar yang harus membayar denda Rp 4juta dan menyiapkan 2 ekor babi serta ugo-rampainya, gara-gara menempeleng orang di arena wara. Kalau sampai melibatkan senjata-tajam, dendanya bisa lebih berat lagi.

Bupati Barito Selatan, HM Farid Yusran, mendapat gelar kehormatan dari Dayak Lawangan. Dalam sambutannya Bupati yang berasal dari Dayak Bakumpai bilang bahwa seharusnya hari ini dia diundang oleh Gubernur untuk rapat koordinasi masalah kebakaran hutan. Tapi si Bupati bilang kepada Gubernur bahwa dia lebih memilih mendatangi acara adat ini. Sontak ditepuki warga dengan gempita. "Halah bupati lebai banget," gumam saya di tengah kerumunan massa yang tersihir Bupati.

Selengkapnya......

18 February 2015

The Lunchbox: Romansa Virtual di Jeda Makan Siang

Usaha seorang istri untuk mengembalikan keharmonisan rumah tangganya melalui masakan justru mempertemukan dia dengan pria lain.

Hubungan virtual ternyata bisa dilangsungkan melalui media lunchbox. Panci bersusun, berbahan dari alumunium, dilengkapi tangkai sebagai pengait antar panci tempat makanan sekaligus sebagai pegangan—kita menyebutnya rantang. Tak perlu perangkat semacam komputer dan sambungan internet. Jadul sekali. Sekalipun terkesan old school, romansa virtual digambarkan secara komplit dalam film debutant Ritesh Batra ini.

Rantang makan siang itu mempertemukan dua manusia yang sedang mengalami keterasingan. Ila, seorang ibu rumah tangga muda beranak satu, terasing dengan perilaku suaminya yang dingin. Berbagai cara telah dilakukan untuk mencuri perhatian sang suami namun belum juga mendapatkan balasan yang semestinya.

Sementara itu, Saajan adalah seorang akuntan senior yang sedang dilanda kegalauan menjelang masa pensiun. Pekerjaan yang telah ia geluti selama 35 tahun di perusahaan yang sama, sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ia akan tambah kesepian. Ditinggal mati istri dan kini akan meninggalkan rutinitas pekerjaannya.

Di tengah kegelisahan dua tokoh tersebut, tiba-tiba keduanya dipertemukan lewat kotak makan siang. Berawal dari Ila yang sedang frustasi atas sikap suaminya, ingin meluluhkan hati suaminya lewat masakan. Sebuah menu spesial makan siang, yang tentu saja diramu dengan sepenuh cinta, dikirim ke tempat kerja sang suami melalui jasa pengiriman makan siang. Siapa sangka kalau makan siang untuk sang suami itu terkirim ke pria lain. Dari sinilah Ila dan Saajan menjalin hubungan.

Setelah mengetahui rantang makan siang untuk suaminya salah kirim, bukannya segera memberitahu kurir, Ila malah menyelipkan secarik kertas ke dalam rantang yang dikirimkan keesokan harinya untuk menyelidik siapa gerangan penerima makan siang suaminya.

Korespondensi mengalir. Rantang yang dikirim diselipi catatan, kembali dengan catatan. Mirip sepasang kekasih yang sedang berbalas surat cinta. Mulanya ingin menguak siapa penerima makan siang sang suami, Ila beranjak ingin memecahkan misteri di balik sikap suaminya yang dingin. Dari pria asing penerima makan siang suaminya itu, Ila mendapat gambaran tentang kesibukan orang-orang di luar rumah. Ia tak banyak tahu tentang kehidupan di luar rumah. Sehari-hari waktunya dihabiskan di dapur dan urusan domestik lainnya.

Diam-diam Ila merasa nyaman untuk curhat masalah pribadi dengan pria asing penerima rantang makan siang untuk suaminya itu. Lebih-lebih setelah ia mencium aroma perselingkuhan sang suami di luar rumah. Maka ketika pria asing itu mengajaknya untuk mengunjungi ke suatu tempat, Ila tanpa basa-basi menerimanya lebih berani : “tak usah banyak omong, ayo ketemuan!”

Perkembangan emosi keduanya digambarkan secara lamban melalui korespondensi yang diselipkan dalam rantang. Rasa cemas akan apa yang dialaminya sekarang, kerinduan akan masa lalu, hingga tanpa disadari keduanya telah sama-sama menabalkan dirinya sebagai manusia yang kesepian.

Bagi Saajan makan siang menjadi momen yang paling dinanti. Matanya segera tertuju pada rantang setiap kali kurir meletakkannya di atas meja kerjanya. Pikirannya melayang menebak-nebak apa yang akan diceritakan Ila hari ini. Ila juga sama. Ia tak peduli lagi bahwa makanan untuk suaminya dinikmati pria lain. Terus saja ia menunggu kisah demi kisah berikutnya, segera membuka rantang dan meraih kertas, lalu mencari posisi terbaik agar bisa membacanya dengan lebih nyaman.

Saajan di mata Ila menjadi perwujudan dari sosok suami ideal yang diangan-inginkan tapi gagal ia dapatkan dalam realitas kehidupannya. Sebaliknya, Ila berhasil mengisi kerinduan lelaki tua itu akan sosok istrinya yang telah tiada.


Ambiguitas, dan Antitesis Bollywood

Dabawalla dikenal sebagai jasa pengiriman lunchbox yang profesional. Dari hasil penelitian Universitas Harvard, terungkap hanya 1 dari 6 juta kali pengiriman terjadi kesalahan. Maka salah kirim rantang Ila adalah salah satu peritiwa langka. Dan pertemuan Ila dengan Saajan karenanya bukan sebuah kebetulan, melainkan takdir.

Dabawalla diangkat dari kisah nyata. Di Mumbai---dikenal juga dengan nama Bombay salah satu kota paling ramai di India, penduduk setempat menggunakan jasa Dabbawalla untuk mengirimkan paket makan siang. Mereka bekerja dalam tim. Masing-masing kurir menjemput rantang makan siang dari rumah ke rumah yang letaknya tersebar di pinggiran kota. Rantang berbahan logam dibungkus dengan tas diikatkan bergelantungan di belakang sepeda. Rantang diangkut menggunakan sepeda onthel menembus padatnya lalu lintas kota Mumbai, melewati terik matahari juga kadang menerjang derasnya hujan. Untuk sampai di tempat yang dituju, para kurir menyambung dengan transportasi kereta api. Rantang-rantang dilepas dari sepeda onthel, dicampur dengan rantang-rantang dari kurir lain, dinaikkan ke atas kereta sebelum kemudian dioper lagi ke kurir lainnya.

Susah membayangkan bagaimana cara Dabbawalla menandai agar rantang yang telah berpindah tangan dari satu kurir ke kurir lain dapat sampai ke tempat tujuan, makan siang yang diramu dengan penuh rasa cinta oleh para istri di rumah dapat dengan tepat dikirimkan kepada para suami di tempat kerjanya? Salah kirim paket makan bisa berakibat salah kirim paket cinta!

Selain media jadul rantang, dalam film ini kita akan menemukan mode-mode jadul lainnya. Di kantor Saajan bekerja, sebuah perusahaan asuransi, masih menggunakan cara-cara hitung manual berupa buku jurnal dan mesin hitung kalkulator. Tidak ada komputer apalagi internet. Lantas film ini dibuat berdasarkan setting tahun berapa?

Menurut Ritesh Batra selaku penulis cerita sekaligus sutradara film, cara kerja manual masih bisa ditemukan di beberapa tempat di India sampai saat ini. Begitu pula Dabbawalla. Semenjak kanak-kanak hingga ia telah kembali lagi ke Mumbai setelah sekian tahun menetap di Amerika, jasa pengiriman lunchbox itu masih tetap bertahan sampai sekarang. Konon telah berlangsung 120 tahun lamanya.

Begitulah India, yang mutakhir dan yang jadul bisa hidup berdampingan. Teknologinya, juga orangnya. Ada kelompok wanita-karir yang berprofesi di luar rumah dan ada pula wanita-ibu rumah tangga yang masih memegang teguh prinsip 3 M (Masak, Macak dan Manak), sebuah prinsip yang diterapkan dalam tradisi masyarakat Jawa kuno.

Ila sebagai representasi kelas menengah konservatif – Hindu, yang dalam film ini sebagai penganut 3 M, dan Saajan dari kalangan Nasrani Ortodox. Dari latar belakang dan karakteristik keduanya, mustahil Ila dan Saajan dapat menjalin hubungan asmara di alam nyata. Namun rantang makan siang itu memungkinkan hubungan keduanya terjalin.

The Lunchbox keluar dari mainstream film Bollywood. Di sini tak ada joget dan kisah bahagia di akhir cerita. Ada saja nyanyian yang didendangkan para Dabawalla sambil bertepuk tangan, tapi itu lebih mirip sebagai yel-yel pengusir lelah. Kesederhanaan setting yang hanya berpusat pada tiga lokasi yakni dapur, perjalanan ke kantor, dan kantor itu sendiri, justru menunjukkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks dari apa yang ditampilkan oleh film-Bollywood-mainstream. Penonton tak sekalipun akan diperlihatkan sosok Auntie, tetangga apartemen Ila yang tinggal di lantai atas, kawan ngerumpi di dapur. Karakter Auntie diperkenalkan hanya lewat suara yang keluar dari balik jendala dapur Ila.

Dialog Saajan yang diperankan oleh Irfaan Khan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris ketimbang Hindi. Sebagaimana diakui sang sutradara, Lunchbox ditujukan untuk penikmat film di seluruh dunia, bukan cuma pecinta Bollywood, di India sendiri khususnya. Apakah ini satu kemajuan atau kemunduran, bergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Bahwa ia ingin berbeda dari yang mainstream, bisa dikatakan film ini berhasil. Tentu saja perlu dicatat, peran Irfaan Khan. Aura keterasingan begitu memukau ia tampilkan lewat sorot mata dan raut mukanya.

Menutup tulisan ini saya kutipkan perkataan Shaikh kepada Saajan suatu kali ketika mereka berada dalam perjalanan di atas kereta api, “Dari kereta yang salah dapat membawa kita menuju ke stasiun yang benar”. Masing-masing tokoh dalam film ini berusaha untuk menemukan kebahagian, meski awalnya, mungkin, menempuh jalan yang keliru. Semoga...

Selengkapnya......

13 July 2013

Sastra dan Filsafat

Nietzsche menyadari kelemahan sebuah sistem untuk menampung gagasan. Untuk menyampaikan pemikiran filosofisnya, dia menggunakan bentuk aforisme. Dengan membaca buku-buku Nietzsche, selain mendapat ajaran filsafat pembaca juga akan memperoleh kenikmatan artistik.

Penuangan gagasan filsafat dalam gaya khas sastrawi juga dilakukan oleh Sartre. Ulasan eksistensialisme, menurut sejumlah pengamat, justru lebih kuat disampaikan Sartre lewat karya sastranya ketimbang dari buku-buku filsafatnya yang ditulis secara sistematis.

Franz Kafka sebagai penulis yang membaca Nietzsche, dalam beberapa karyanya juga mengadopsi gaya aforistik. Karya-karyanya sarat dengan makna filosofis. Menurut hemat saya, The Transformation karya Franz Kafka dapat dianggap sebagai penggambaran terbaik atas pemikiran filsafat Nietzsche, atau malah bisa jadi merupakan kredo filsafat sang pengaranya sendiri.

Karya sastra dan filsafat memiliki hubungan yang timbal balik. Di satu pihak teori filsafat membantu seorang peneliti mengkaji gagasan filosofis dalam teks sastra. Di lain kesempatan, ajaran filsafat justru dihidupkan secara lebih konkret lewat karya sastra. Bisa pula dikatakan: sastra merupakan perkembangan dari filsafat, sementara filsafat sendiri adalah abstraksi dari sastra. Keduanya saling memberi kontribusi, para pengamat sastra kebanyakan juga para filsuf yang bertindak sebagai kritikus sastra.

Maka tidak perlu membicangkan hubungan antara sastra-filsafat, dalam bahasan mana yang lebih "tinggi" seperti dalam diskusi mahasiswa filsafat ini. Pembicaraan seperti ini jelas-jelas melalaikan ajaran Derrida yang mengecam cara pandang kaum strukturalis yang masih terjebak dalam sistem oposisi-biner. Derrida sendiri seorang filsuf, penerus Nietzsche, yang memberi perhatian luas pada kesusasteraan. Sepertinya, bukan cuma mahasiswa sastra yang perlu dibekali filsafat, mahasiswa filsafat juga perlu diberi bekal kesastraan.

Karya sastra sebagai sebuah karya kreatif pada akhirnya tidak memisahkan diri dari kehidupan, dia mengakrabinya dengan cara tertentu yang khas dimiliki oleh pengarangnya.

Semarang, Juni 2010

Selengkapnya......

12 July 2013

Nietzsche, Sartre dan Derrida

"saya tidak pernah mengalami angoisse. itu adalah salah satu kata kunci filsafat tahun 30dan 40-an. istilah itu juga muncul dari heidegger. memang istilah itu selalu dipakai, tapi bagi saya istilah itu tidak berkaitan dengan apa pun. tentu saja saya mengalami kekecewaan, bosan, kemalangan."

pernyataan sartre menjelang mangkatnya itu amat mengiris rasa kemanusian, sekaligus menggelikan. sartre yang semasa hidupnya menyanjung kebebasan, menjelang kematiannya menyadari akan keterbatasannya. manusia yang dikatakannya punya naluri untuk menidak, pada gilirannya pun akan lelah untuk terus-terusan menolak eksistensinya. bebas bertindak tanpa berharap pada apapun cuma omong kosong. pesimisme yang dirasionalisasikan sedimikian rumit itu akhirnya menguap.

sarte adalah potret manusia resah yang mau membabat habis segala bentuk pegangan, tetapi masih belum radikal menemukan solusi lain. dari nietzsche dia cuma mengambil semangat memberontak, atau lebih menggelikan lagi cuma mengaguminya sebagai penyair.

ateisme sartre diinspirasi dari kata-kata dostoevsky: kalau Tuhan tidak ada, apa saja dibolehkan. padahal pada ateisme--sebagai kepercayaan baru: kepercayaan pada ketidakpercayaan-- pun nietzsche ingin melampaui. tuhan nietzsche adalah tuhan tanpa nama, yang mengunjunginya sesuki hati; tuhan dionysos yang mengiya sekaligus menidak, tuhan yang tahu bagaimana menari. macam apakah tuhan nietzsche itu? tuhan nietzsche adalah konsep, prabentuk; bisa jadi kata "tuhan" yang kita pakai selama ini masih jauh dari realitas yang ingin disampaikan nietzsche dalam konsep tuhannya.

sartre belajar dari heidegger, yang masih menganggap nietzsche sebagai metafisikus--padahal membaca nietzsche secara metafisik jelas-jelas akan menyesatkan.

kegagalan berikutnya diikuti oleh foucault yang menyimpulkan dengan matinya tuhan maka manusia juga mati. memang manusia akan mati dengan kematian tuhan, tapi itu manusia yang dekaden, bukan manusia askenden sebagaimana diajarkan nietzsche dalam sosok ubermensch.

jika sartre dan foucault ditempatkan dalam tiga metamorfosa zarathustra, maka si onta diwakili foucault dan si singa diwakili sartre. dua-duanya sama-sama naif, satunya mengiya dengan nada murung dan satunya menidak tidak dengan pemahaman yang mendalam.

penderitaan sebagai mahaguru manusia unggul ditemukan nietzsche dari "kehendak" schopenhauer, lalu ditegaskan dalam pembalikannya atas tragedi yunani ke dalam spirit kor dionysian. schopenhauer betapapun kekanak-kanakannya dalam menerima takdir hidup yang tragis, bagi nietzsche dianggap sebagai guru. dia orang jerman yang baik, tidak seperti hegel yang ketika orang eropa sedang membunuh tuhan malah menghidupkan kembali roh transendental itu.

schopenhauer manusia onta yang dilampaui nietzsche, orang eropa pada zaman nietzsche digambarkan dalam wujud roh singa yang sok kuat dan sok teu, dan bayi sebagai roh bebas tidak diafirmasi oleh sartre dan foucault. alih-alih sartre dan foucault melampaui nietzsche, mereka kembali ke alam purba yang telah dibakar pendahulunya.

nietzsche sangat sinis, sarkastik, juga penuh ironis bahkan terhadap dirinya sendiri sehingga kita akan sangat "berdosa" jika mempelajarinya dengan sangat "serius".

dari sekian pengikut nietzsche yang tidak "serius" itu, menurut saya, heidegger, lalu derrida. ketidakseriusan heidegger yang menempatkan posisi nietzsche sebagai pamungkas metafisika barat, sehingga posisi awal abad berikutnya diletakkan pada dirinya.

sisi kontradiksi nietzsche secara lincah dimainkan derrida dalam filsafat bahasa. permainan itu samar-samar, seolah derrida bermain dengan mainanya sendiri dan tuhan nietzsche telah mati dalam roh bahasanya. tidak, pada derrida roh tuhan yang menari itu justru didatangkan dalam goyang ngebor yang erotis. konsep differance pada derrida bisa dilacak dari sosok "perempuan"--yang terbentuk untuk tidak menunjukkan pantatnya-- zarathustra atau tuhan dionysos-nya nietzsche.

derrida sebagai pengikut nietzsche yang paling tidak "serius" bisa lepas dalam bermain-main dengan serius, seperti bayi zarathustra yang tanpa merasa berdosa berganti mainan satu ke mainan lainnya

Semarang, Mei 2010

Selengkapnya......

05 July 2008

Bambang Haryanto: Bali Ndeso Mbangun Blog

Jika Bibit Waluyo "Bali Ndeso Mbangun Deso", maka Bambang Haryanto "Bali Ndeso Mbangun Blog". Dari kota kecil Wonogiri Bambang merekam jejak hidupnya.


Menjelang akhir Desember 2005, Bambang Haryanto (BH) menerima email dari Verdi Amaranto. “Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan blog Anda, 'Buka Buka Beha', dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list wanita-wanita terindah Anda. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.”

BH sangat terpukul menerima kabar itu. Anez—panggilan akrab BH kepada Widhiana Laneza—dan BH pernah menjalin hubungan khusus di masalalu. Selain Anez, ada Riaty (Cresenthya Hartati). Kedua perempuan ini membuat BH begitu terkesan.

Dari pengakuan Anez dan Riaty kepada BH sewaktu masih pacaran, mereka mengidap asma. Ironisnya, baik Anez juga Riaty memelihara anjing di rumahnya. Diperparah lagi, saat itu BH masih menjadi perokok berat. Hingga suatu hari Riaty mengingatkannya: “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat. Juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.

Dalam episode kehidupan selanjutnya, BH terbaring di rumah sakit. Oleh dokter dia disarankan agar berhenti merokok. BH akhirnya benar-benar meninggalkan kebiasaan buruknya, menghisap nikotin yang setiap saat bisa menyerang kesehatan dan juga membahayakan hidupnya.

Untuk mengenang Anez dan juga Riaty, BH meluncurkan sebuah blog yang mengupas seputar topik asma. Blog itu tak membahas kajian asma dari sisi medis, tapi berisi cerita pengalalaman yang dialami pemilik blog dengan sejumlah penderita asma.

Sehari-hari BH sekarang tinggal di kota Wonogiri, sebuah kota kecil terletak sekitar 35 kilometer ke arah selatan dari kota Solo. Sebelumnya mantan mahasiswa Jurusan Arkeologi FSUI, 1982, itu pernah bekerja di ibu kota selama beberapa tahun sebagai konsultan komunikasi.

Sesekali ia menyempatkan berjalan pagi menyusuri sudut-sudut Kota Wonogiri dengan berjalan tanpa alas kaki sambil membawa radio. Cerita hasil jalan-jalan pagi itu dihimpun dalam blog The Morning Walker.

Meski bagi sebagian orang radio sudah ditinggalkan, tapi tidak untuk seorang BH. Baginya radio menjadi “gadget” istimewa karena dari sana ia bisa menikmati siaran BBC yang direlai oleh stasiun radio lokal di sekitar tempat tinggalnya. Ini pula yang membuat saya terkesan, meski ia tinggal di kota kecil, semangatnya untuk tetap mengupdate perkembangan informasi tak padam.

Bahkan internet bukan hal yang asing seperti kebanyakan mereka yang tinggal di daerah. Buktinya ia masih sempat menulis di blog. Beberapa blognya yang masih diupdate antara lain Komedikus Erektus, Esai Epistoholica, Suporter Indonesia dan The Moring Walker. Di luar yang saya sebutkan, masih ada beberapa blog yang dikelola oleh BH. Direktori blog yang ia kelola dihimpun dalam blog “Buka Buka Beha” (http://bukabeha.blogspot.com).

Di dunia offline, BH lebih dikenal sebagai pendiri dan sekaligus promotor komunitas Epistoholik Indonesia, yang maniak mengirim surat pembaca ke berbagai surat kabar hingga akhirnya komunitas ini dicatat oleh Muri.

BH adalah sekian dari sedikit orang yang punya ide besar dan terus memikirkan dunia yang begitu luas ini justru ketika ia pulang ke kampung halamannya, sebuah kota kecil bernama Wonogiri.

Tak banyak orang memilih menempuh jalan hidup seperti itu. Mengutip ucapan Oscar Wilde (1854-1900), dramawan dan penyair Inggris-Irlandia: "Anybody can make history. Only a great man can write it" (Semua orang bisa menorehkan sejarah. Hanya orang besar saja yang mampu menuliskannya) maka hanya "orang besar" saja yang mampu melakukannya.

Selengkapnya......

26 June 2008

Zaskia dan Aib Sinetron Religi

Jilbab warna biru yang membalut paras manis Zaskia Adya Mecca tampak kontras dengan sebatang rokok yang menancap dibibirnya. Ini bukan adegan dalam sinetron, tapi justru dilakukan di sela-sela syuting sinetron Munajat Cinta.


Munajat Cinta adalah salah satu judul sinetron yang dibintangi dara manis mantan pacar Syahrul Gunawan yang kini dikabarkan dekat dengan sutradara muda Hanung Bramantyo itu. Selain Munajat Cinta, masih berderet sinetron dan film layar lebar yang telah melibatkan perannya. Menyebut diantaranya "Kun Fayakun", "Ayat-Ayat Cinta", akan menyusul "Ketika Cinta Bertasbih" dan yang pertama kali melejitkan namanya sinetron "Kiamat Sudah Dekat" arahan sutradara Deddy Mizawar.



Berkat perannya di sejumlah tayangan religius itu, para pemirsa dan pengagum mengenal Zaskia sebagai sosok perempuan salehah. Penilaian itu wajar ketika kita menghubungkan dengan perannya di "Kiamat Sudah Dekat" sebagai "Sarah" yang pandai mengaji. Para fans pun tentunya menduga dan berharap bahwa apa yang diperankan idolanya dalam sinetron sejalan dengan perilaku kesehariannya.

Tapi image Zaskia kemudian justru dibantah sendiri oleh infotaiment yang selama ini telah turut serta membesarkan namanya. Dalam Bibir Plus pagi di SCTV dikabarkan Zaskia tengah pesta rokok di lokasi Syuting ditemani kekasihnya Hanung Bramantyo dan teman syutingnya, Baim Wong. Foto-foto Zaskia yang tengah merokok pun kini telah beredar luas di internet.



Demam Simbol

Kabar miring Zaskia itu akan mengejutkan siapa saja yang selama ini mengenalnya lewat layar kaca. Anda barangkali akan bilang, Zaskia ternyata tak ubahnya sejumlah selebritis lain yang manis di depan kamera tapi perilakunya liar ketika di luar tuntutan perannya.

Lepas dari kesahihan gosip infotainment dan gambar yang beredar di internet, masyarakat tak perlu memberikan reaksi yang berlebihan. Dalam dunia peran, siapapun bisa menjadi apa yang diinginkan oleh sang sutradara. Dan kebetulan saja Zaskia dianggap lebih pas, atau dalam istilah pasar lebih marketable, untuk memerankan sosok muslimah yang salehah. Di luar itu, Zaskia punya otoritas penuh untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Sikap semacam itu penting untuk menghindarkan sentimen kita terhadap simbol agama dan perilaku --kalau merokok bagi perempuan, apalagi dia berjilbab dianggap-- menyimpang sang penyandang atribut. Saya tidak sedang mempermasalahkan Zaskia yang mengenakan jilbab dan oleh karenanya ia tak boleh merokok. Tapi ingin menunjukkan betapa hebatnya media membangun citra seseorang, dalam hal ini Zaskia Adya Mecca.

Jika karena ulah FPI yang mengenakan pakaian jubah putih dan menggunakan nama Islam, namun dalam aksinya kerap melakukan kekerasan, lantas kita mencurigai setiap orang yang kita jumpai berpenampilan layaknya FPI sebagai ancaman. Jika demikian halnya, maka efek dari Zaskia yang kedapatan merokok itu akan menjadikan kita menanam curiga kepada setiap perempuan yang berjilbab dengan anggapan negatif.

Kondisi yang sama, sikap sejumlah negara barat yang demam terhadap islam sebagai akibat gerakan sejumlah kalangan muslim --yang disebut barat- fundamentalis yang dianggap akan mengancam perdamaian dunia. Meski dalam satu pihak kalangan muslim itu menganjurkan kekerasan dalam perjuangannya, namun kekerasan itu sebenarnya juga sebagai reaksi atas sikap barat sendiri yang banyak mencampuri negara lain, termasuk negara muslim.

Sikap kita yang mencurigai setiap orang yang berjubah, dan juga negara barat yang demam terhadap Islam, sebagai akibat cara pandang yang menempatkan simbol dan atribut di atas perilaku orang perorangnya. Yang kita pandang adalah jubahnya, yang membuat demam adalah orang islam yang melakukan kekerasan. Padahal jubah itu putih, islam itu damai.

Efek Pencitraan

Kembali ke Zaskia, pembangunan citra bagi seorang aktris itu penting. Ia menjadi semacam bumbu penglaris untuk menguatkan image yang diperankan. Sebagian masyarakat kita tampaknya tak menyadari hal itu. Mereka berharap banyak bahwa sang idola yang mereka kenal lewat layar kaca demikian adanya dalam dunia keseharian. Ekspektasi para fans terhadap idolanya akhirnya berujung dengan kekecewaan ketika mereka mengetahui jika sang idola cuma tampil manis di layar kaca, tapi tidak demikian halnya dalam dunia nyata.

Zaskia tak salah. Mau merokok atau menjadi pelacur sekalipun itu adalah haknya. Tapi tentu ia akan menyadari bahwa dengan terkuaknya aib itu akan menjadi batu sandungan bagi karirnya. Bisa saja ia akan dengan sekuat tenaga menutupi, mengelak, tapi tampaknya juga akan percuma.

Ibarat barang dangangan, brand bernama Zaskia telah cacat. Kelalailan atau kecolongan dalam menjaga citra produk yang dijualnya sungguh sebuah kesalahan yang fatal, tentu saja jika dilihat dari sisi pemasaran. Segmen pasar yang telah dibidik selama ini telah keruh.

Jika pun fans akhirnya menghujat dan memilih meninggalkan Zaskia, itu bukan salah mereka. Tidak bijak juga kita menyebut mereka sebagai penonton tidak dewasa. Audiens film dan sinetron di negeri ini sebagain besar tampaknya masih melihat figur di belakang aktor, bukan semata karena kecakapannya dalam berakting. Tapi jangan lupa, mereka juga yang telah turut melariskan sinetron dan film bercorak religius yang booming belakangan ini. Meski ada juga yang menikmati akting Zaskia dan aktor lainnya dalam film tanpa peduli kesehariannya.

Zaskia punya pilihan untuk meraih kembali simpati dan kepercayaan dari para fans dengan membuktikan bahwa gambar itu tidak benar adanya, bahwa gambar itu dalam rangka tuntutan peran, atau mengundang pakar spesialis dalam soal ini Roy Suryo untuk bersaksi bahwa gambar itu palsu.

Tapi jika itu benar, dan Zaskia berbohong untuk menutupi kenyataan itu, maka akan percuma saja. Jika kabar miring itu benar, katakan saja apa adanya. Pengakuan Zaskia meski pahit akan membantu publik penikmat sinetron dan film di negeri ini menempatkan posisinya.

Bagi saya pribadi, apapun yang terjadi dengan Zaskia, selama dia bisa menunjukkan aktingnya dengan baik, tidak sekadar bintang karbitan yang dipoles untuk memenuhi keinginan pasar, Zaskia akan tetap anggun dengan jilbabnya.

Selengkapnya......

14 March 2008

Merayakan Kebebasan Warga

Kehadiran internet telah membuka ruang kebebasan bagi siapapun untuk menyampaikan informasi kepada publik. Dari sinilah sesungguhnya jurnalisme warga dimulai.


Suatu hari, dengan berbekal sebuah laptop dan modem, Mark Drudge membeberkan kisah perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan artis Hollywood Monica Lewinsky. Hanya dalam hitungan menit bahkan detik, skandal seks mantan orang nomor satu di Amerika itu menyebar luas ke seluruh penjuru dunia melalui jaringan internet.

Di Indonesia, bukan sekali waktu video mesum anggota dewan beredar di internet. Setelah atau sebelum heboh video YZ dan ME, sudah beberapa kali pejabat publik hingga selebritis yang justru dikenal santun oleh masyarakat dibuat malu karena skandal seks yang dirahasiakannya terkuak.

Diakui atau tidak, internet memberikan ruang kebebesan bagi setiap orang untuk menyampaikan dan mendistribusikan informasi tanpa sensor. Melalui email, forum, media social networking semacam friendster hingga facebook dan weblog, orang bisa memuat informasi apapun, mulai dari masalah personal sampai isu yang menyangkut kepentingan publik.

Sejak itulah, kata Ana Nadya Abror, cikal bakal Jurnalisme Online lahir. Dalam diskusi “Jurnalisme Warga: Ancaman bagi Media Massa?” yang diselenggarakan LPM VISI UNS pada 28 Februari 2008 di kampus UNS Surakarta, dosen Ilmu Komunikasi UGM itu menyebut internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga yang dalam istilah asalnya disebut citizen journalism atau participatory journalism.

Jurnalisme warga adalah bentuk lain dari jurnalisme, di mana setiap orang bisa melaporkan berita seperti yang selama ini dikerjakan oleh wartawan media mainstream.

Dipilihnya internet sebagai media yang ideal bagi penerapan jurnalisme warga, karena internet memungkinkan berita disampaikan oleh siapa saja yang tersambung dengan jaringan internet, dengan cepat dan lebih interaktif.

Berangkat dari kenyataan itu, jurnalisme warga yang diakomodir oleh jurnalisme online seolah-olah bukan sebagai jurnalisme. Muncul pertanyaan, apakah berita yang disampaikan oleh orang yang awam yang tanpa latar belakang jurnalistik itu bisa dicek kebenarannya, apakah benar orang yang bersangkutan tidak sedang menyebarkan fitnah?

Bagi Abror, ketika kita sudah membicarakan jurnalisme warga di mana setiap orang bisa ambil bagian, maka sudah tak perlu lagi mempermasalahkan aspek etika, akurasi seperti yang diterapkan dalam jurnalisme konvensional. Semuanya diserahkan kepada pembaca. Mau percaya atau tidak, terserah pembaca!

Menanggapi pernyataan Abror, Aulia Muhammad Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News yang juga menjadi pembicara dalam diskusi, balik bertanya. Lantas kenapa jika memang tak perlu ada etika, PPWI merasa perlu menerapkan dasasila bagi anggotanya?

PPWI kependekan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia. Seperti yang dijelaskan dalam blognya (http://ppw-indonesia.blogspot.com), organisasi ini menerapkan dasasila yang secara garis besar poin-poinnya mencakup prinsip-prinsip jurnalisme media pada umumnya. Organisasi yang dikelola oleh warga Indonesia ini bermarkas di ibu kota Jakarta dan telah memiliki banyak anggota.

“Pada hakekatnya jurnalisme warga memberikan kebebasan. Ini satu perkara. Persoalan orang mau menanggapinya lain, itu lain perkara. Kebebesan itu bagian tersendiri. Kalau yang bersangkutan menggunakan ruang publik, maka akan ada akuntabilitas publik,” jawab Abror.

Siapa saja pelaku jurnalisme warga?

“Pelaku jurnalisme warga adalah warga. Siapapun boleh ikut,” terang Abror.

Siapa warga itu, menurut Aulia, bukan hanya warga dalam batasan warga dalam sebuah negara. Warga di sini juga mencakup warga dengan kategori profesi dan latar belakang, termasuk jurnalis yang bekerja di media mainstream.

Syaratnya, jika dia seorang wartawan, dalam melaporkan berita itu ia tidak sedang mewakili profesi dan lembaga medianya. Jika ia serorang pejabat publik, entah itu anggota dewan atau bahkan presiden, ia tak sedang mewakili jabatannya. Apa yang disampaikan adalah pandangan pribadinya.

Peran Penulis Surat Pembaca

Mengawali presentasinya, Bambang Haryanto memutar sebuah kaset hasil wawancara sebuah stasiun radio di Solo dengan salah seorang penulis surat pembaca. Narasumber menceritakan kisah awal mulanya ia menulis surat pembaca.

Suatu hari di tahun 1973. Narsumber mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Merdeka. Ia menanyakan pohom palem di Alun-alun Utara Solo yang tidak terurus. Setelah suratnya dimuat, pohon palem itu diperhatikan oleh pemerintah setempat. Kini pohon palem itu tidak jadi mati, ia terus disiram hingga akhirnya tumbuh besar.

Di kemudian hari penulis surat pembaca itu mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia. Sebagai ketuanya adalah si penggagas ide itu sendiri. Dia adalah Bambang Haryanto, penulis surat pembaca yang memasalahkan pohon palem yang tak terurus itu.

Istilah Epistoholik diambil dari Majalah Times. Dipakai untuk menjuluki Anthony Parakal, warga Evershine Nagar, Mumbai, India. Lebih dari 5.000 surat pembaca yang ditulis dalam Bahasa Inggris telah dikirimkannya ke berbagai media internasional. Jumlah yang teramat fantastis, bukan?

Ketika nama Epistoholik itu kali pertama muncul di majalah Times edisi 6 April 1992, Bambang sebenarnya telah lama memulai karirnya menulis surat pembaca. Setelah mengetahui bahwa kegemarannya menulis surat pembaca itu ternyata juga dilakukan oleh orang lain di belahan bumi sana, yang bahkan lebih gila dari yang sudah dikerjakannya, ia merasa perlu mempertegas lagi kegemarannya itu. Sejak itulah ia mulai merintis komunitas Epistoholik Indonesia yang didirikannya sejak tahun 1992.

Meski sudah dirintis sejak kemunculan Epistoholik di majalah Times, namun komunitas pegiat surat pembaca yang digagas Bambang itu baru bisa berjalan secara efektif mulai tahun 2003. Keanggotannya bersifat informal. Mulanya ia menghubungi sejumlah nama yang kerap menulis surat pembaca. Beberapa orang menaruh simpati dan virus menulis surat pembaca di media pun mulai disebarluaskan. Seperti yang kerap anda jumpai, sejumlah penulis surat pembaca mencantumkan embel-embel identitas “Warga Epistoholik Indonesia”.

Perkanalannya dengan blog di tahun 2003, dimanfaatkannya untuk menyebarluaskan gagasannya kepada khalayak yang lebih luas. Ia membuat sebuah blog http://episto.blogspot.com. Blog ini dibuat pada tahun 2003 ketika media ini belum begitu populer di kalangan pengguna internet di negeri ini.

Nama Bambang Haryanto telah dicatat dalam rekor Muri pada 27 Januari 2005 sebagai pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia. Demikian seperti yang tertulis dalam poster berwarna merah yang sengaja dipajang Bambang di samping meja para pembicara. Di sana juga tertulis slogan Epistoholik Indonesia: "Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada".

Keamatiran Justru Kelebihan
Jika wartawan mengerjakan sebuah berita dengan kaidah dan standar kerja jurnalisme, pewarta jurnalisme melaporkan berita dengan pengetahuan dan style mereka yang berangkat dari berbagai latar belakang yang dimilikinya. Maka jangan berharap berita yang ditulis atau dilaporkan oleh “wartawan awam” ini akan memenuhi standar berita jurnalisme seperti yang dilaporkan oleh media mainstream.

Namun demikian, justru keamitran inilah yang menjadikan nilai lebih dari jurnalisme yang dikelola oleh warga. Aulia menyontohkan sebuah rekaman video saat terjadi Tsunami di Aceh beberapa tahun silam yang dibuat oleh Cut Putri.

Pembuat video dikenal sebagai selebritis. Apakah Cut Putri pernah mendapat materi jurnalisme, ini masih perlu ditelusuri, namun yang ingin disampaikan adalah video itu tidak dikejakan dengan metode kerja standar jurnalisme dan tidak sedang dikerjakan dalam rangka untuk dimuat di media.

Video itu dibuat begitu saja, asal-asalan. Sudut pandang gambar yang diambil tidak fokus, di sana-sini gambar goyang-goyang, menampakkan bahwa pengambil gambar memang masih amatir. Pengambil video sepertinya gugup, tak ada persiapan yang cukup dan juga ikut panik, seperti yang dialami orang-orang yang ada di sekelilingnya saat kejeadian.

Dari rekaman Cut Putri itu, terekam bagaimana bumi mendapatkan getaran pertama, wajah yang cemas, orang-orang yang berlarian, gerak air pasang, jeritan doa, tangis, pekikan Allohu Akbar!

“Aneh, ketika sejumlah wartawan memilih untuk menyelematkan diri dan keluarganya sendiri, Cut Tari yang bukan seorang wartawan justru melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh wartawan,” ungkap Aulia dengan tatapan serius ke arah hadirin.

Aulia kemudian menarik beberapa kesimpulan. Dari sudut pandang, jurnalisme warga memiliki watak yang personal. Dalam video Cut Putri, gambar yang diambil murni mewakili sudut pandang si pengambil gambar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh blogger yang menulis dalam diari onlinennya. Seorang blogger akan bercerita dengan sudut pandang saya. Bercerita secara lepas seolah tanpa beban ketika memuji pihak tertentu dan mengejek pihak lainnya, atau bahkan memuji dirinya sendiri.

Sesuatu yang personal ini sebenarnya dibutuhkan oleh pembaca untuk mengetahui situasi secara lebih utuh, secara lebih personal dan jujur. Tapi tampaknya yang seperti ini justru yang tidak terangkut dalam pemberitaan wartawan media mainstream.

Selain watak yang personal, ciri lain dalam jurnalisme warga adalah longgarnya durasi dan diangkatnya aspek lokalitas. Durasi bagi televisi adalah sesuatu yang teramat mahal harganya jika dibanding tarif iklan permenit yang bisa mencampai puluhan hingga ratusan juta. Sementara bagi media cetak, jumlah halaman akan berpengaruh pada harga cetak dan space untuk pengiklan. Dalam jurnalisme warga, semua kepentingan itu gugur. Durasi mendapatkan kelonggaran sepanjang rekaman atau tulisan yang dimaui oleh pewarta jurnalisme warga.

Melengkapi, bukan ancaman

Gegap gempita kemunculan jurnalisme warga di Indonesia tampaknya masih sebatas euforia masyarakat kita yang gemar ikut-ikutan merayakan fenomena global. Selain kurangnya kesadaran masyarakat akan perlunya menyampaikan informasi kepada khalayak, juga masih terbatasnya akses informasi masyarakat terhadap media internet.

“Bayangkan, setiap detik, technorati mencatat blog baru muncul di internet. Setiap menit jumlahnya sudah mencapai angka ratusan. Apakah anda semua sudah menjadi bagian dari masyarakat ini?” tanya Aulia kepada para hadirin.

“Jika tidak, mana mungkin jurnalisme warga akan mengancam media mainstream,” jawab Aulia.

Dari awal, Abror sudah menyatakan bahwa media yang ideal untuk menerapkan jurnalisme warga adalah internet. Jika partisipasi masyarakat dalam mengakses internet saja masih kurang, seperti kata Aulia, jurnalisme warga memang belum akan mengancam eksistensi media mainstream.

Aulia menunjukkan jika kehadiran jurnalisme warga dalam kenyataannya justru ditampung dengan baik oleh media mainstream. Sejumlah media besar di Indonesia kini menyediakan rubrik yang dikhususkan untuk pembacanya. Contohnya Suara Merdeka Cyber News yang sejak awal Februari 2008 membuat rubrik Suara Warga yang memberikan kesempatan kepada pembaca melaporkan beritanya secara lebih leluasa

Bambang sebagai pegiat komunitas Epistoholik Indonesia mengeluhkan kurang seriusnya media cetak dalam mengelola rubrik Surat Pembaca. Ia menyontohkan, sebuah tanggapan surat pembaca atas surat lainnya baru akan dimuat beberapa edisi kemudian. Belum lagi, surat itu kalau dimuat. Dan kalaupun dimuat, beritanya sudah basi. Jika rubrik surat pembaca itu dikelola secara lebih serius, Bambang yakin akan ada hal lebih yang bisa didapatkan dari menulis surat pembaca.

Kelemahan dalam media cetak, sebuah berita tidak mendapatkan timbal balik dari pembaca sehingga bisa terjadi interaksi antara si pembaca, wartawan dan pembaca lainnya. Dalam media internet atau media digital lainnya, sebuah percakapan bisa dengan mudah terjadi. Di internet berita mengalir dengan cepat. Di internet pula, alternatif informasi bisa dengan mudah ditemukan.

Jika masyarakat kita menyadari akan hal ini dan mau mengoptimalkan peran internet dalam membangun jurnalisme yang berbasis warga ini, bukan tidak mungkin peran media mainstream di masa mendatang akan mendapatkan saingan.

Dengan semakin berkembangnya jurnalisme warga, kelak akan semakin banyak orang yang akan berbagi peran dan kuasa dalam pendistribusian informasi kepada publik yang selama ini dimonopoli oleh media mainstream. Meski kehadirannya belum bisa dikatakan mengancam, setidaknya jurnalisme yang dikelola oleh warga ini bisa dijadikan alternatif bagi publik untuk memperoleh informasi.

Pada gilirannya nanti, bukan hanya kebebasan yang akan didapat oleh warga dari penerapan jurnalisme warga ini, tapi juga kemenangan. Ya, kemenangan untuk bisa ikut terlibat dalam menyuarakan suara warga tanpa perantara.

Selengkapnya......

16 February 2008

Cinta yang meminta pemenuhan

Larry (Clive Owen) minta maaf kepada Anna (Julia Roberts) karena telah mengencani seorang PSK selama dirinya berada di New York. Dengan mengakui kesalahannya, Larry berharap Anna akan memaafkannya. Tapi hal yang sama tak dilakukan oleh Larry ketika dirinya mengetahui jika istrinya itu ternyata juga sudah berpaling kepada lelaki lain.

Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat yang sama ia tak menerima ketika pasangannya telah mengkhianatinya.

Sementara itu, Dan (Jude Law), kekasih gelap Anna, akhirnya mengungkapkan isi hatinya kepada Alice (Natalie Portman) bahwa Ia sebenarnya lebih mencintai Anna. Ia bisa mencintai Alice, perempuan yang selama ini dianggapnya sebaga pacar, tapi apa boleh buat hubungan mereka harus berakhir karena Dan lebih mencintai kekasih gelapnya ketimbang perempuan yang sudah menjadi pacarnya sendiri.

Dan berobsesi mewujudkan cintanya kepada Anna, perempuan yang lebih bisa memenuhi hasrat dan selera seksnya. Hal yang sama juga terjadi pada Anna. Meski ia sudah menikah dengan Larry, tapi kenikmatan bercinta ia dapatkan dari Dan.

Memang, sebenarnya Anna lebih dulu mengenal Dan. Ia baru mengenal Larry akibat ulah iseng Dan yang chatting dengan lelaki yang mengaku maniak sek. Dan tak menyadari jika keisengannya ini berakibat fatal. Ia akhirnya kehilangan cinta dari perempuan yang benar-benar dicintainya.

Untuk mewujudkan obsesi cintanya, baik Anna maupun Dan memilih meninggalkan kekasihnya masing-masing. Anna meminta cerai dari Larry. Tapi permintaan cerai tak begitu saja dituruti suaminya. Larry mengajukan syarat. Karena merasa selama ini telah ditipu, ia minta mengulang percintaannya dari awal. Ia ingin memperlakukan Anna seperti PSK yang melayani pelanggannya, dan setelah menikmati tubuh pasangan kencannya, maka Larry akan membayar upah atas servis yang telah diberikan Anna.

Setelah memenuhi persyaratan cerai dari suaminya, Anna kemudian menemui Dan. Alangkah terkejutnya Dan mengetahui jika persyaratan itu adalah dengan ritual penyerahan tubuh. Ia tak bisa menerima kenyataan ketika Anna yang sudah jatuh kepelukanya masih membagi tubuhnya kepada lelaki lain, meski pada saat itu statusnya masih sebagai suami Larry, lelaki yang membayar tubuhnya.

Dan menerima kerugian untuk yang kedua kalinya, karena harus mendapati kenyataan bahwa Alice, sang mantan pacarnya telah dikencani Larry yang sakit hati atas perlakuannya yang telah meniduri istrinya.

Menyadari tak dapat mewujudkan obsesi cintanya kepada seorang perempuan yang sudah bersuami, dan betapa terpukulnya setelah mengetahui jika mantan pacarnya telah dikencani oleh lelaki yang istrinya pernah dikencaninya, Dan akhirnya memutuskan untuk kembali membina hubungan cintanya dengan Anna.

Meski pernah dikecewakan Dan, toh Anna sebenarnya telah berniat akan menerimanya kembali. Dan sebenarnya juga akan memaafkan atas apa yang dilakukan Alice yang telah menyerahkan tubunnya selama beberapa malam kepada Larry.

Tapi pertemuan kedua pasangan yang telah sama-sama melakukan perselingkuhan dan berniat untuk saling memaafkan itu harus berakhir dengan kekecewaan. Dan yang sebenarnya tahu jika Alice telah berkencan dengan Larry, tapi karena ingin mendengar sendiri dari mulut Alice, berpura-pura seolah tidak tahu dan mencoba menanyakan hal itu kepada Alice.

Alice yang pada akhirnya tahu, jika Larry sebenarnya sudah memberikan pengakuan kepada Dan akan affairnya, merasa Dan datang tak dengan niat yang tulus. Dia tak ingin kesetiannya diuji, karena dia pun tak melakukannya kepada Dan. Alice ingin memulai hubungan dengan mengubur dan tidak membuka aib masa lalu, tapi pada akhirnya keduanya tak bisa bersama karena affair seks yang ingin ditutupnya dibongkar oleh pacarnya. Cinta akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan dan otoritas tubuh.

Kalau memang cinta, apa artinya sebuah tubuh yang telah terjamah?

Oh tidak, tubuh tetap saja penting, bahkan lebih penting dari perasaan dan ungkapan cinta itu sendiri.

****

Dari film drama percintaan "Closer" di atas, dapat diperoleh pesan bahwa cinta tak cukup hanya dengan pemenuhan perasaan. Lebih jauh dari itu, cinta ternyata juga obsesi tubuh dan seks seseorang atas pasangannya. Cinta adalah di mana seseorang akan menyerahkan hati dan juga memasrahkan segenap tubuh kepada pasangannya. Tubuh, seks adalah penyerahan akhir dari sebuah cinta.

Faktanya, kebanyakan dari kita masih sulit untuk menerima ketika pasangan kita telah menyerahkan tubuhnya kepada orang lain. Dalam cinta, setiap pasangan menginkan pasangannya tidak membagi tubuhnya kepada orang lain. Setiap pasangan menuntut keutuhan tubuh pasangannya.

Jadi, apa sebenarnya inti makna dari cinta itu? Perasaan, emosi, tubuh atau seks?

Jika memang anda tahu betapa sakitnya dikhianati oleh pasangan, mengapa anda melakukan hal serupa kepada pasangan anda. Anda sakit dan tak bisa membayangkan ketika pasangan anda menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki atau perempuan lain, tapi pada saat yang sama anda bisa membayangkan dan bahkan melakukan hal yang anda harapkan tidak dilakukan oleh pasangan anda.

Tampaklah, dalam cinta, setiap pasangan menuntut lebih dari pasangannya dan di sisi lain tidak memberikan perlakuan yang setimpal. Cinta adalah di mana ada keinginan untuk menguasai. Maka jangan harapkan ada kesetaraan dan keadilan dalam hubungan percintaan. Menuntut lebih kepada pasangan, tapi di belakang mengurangi dengan membagikan sebagaian perasaan dan tubuh kepada pasangan yang lain.

Cinta berangkat dari obsesi untuk memiliki dan berharap selanjutnya bisa menikmatinya. Melewatkan waktu bersama, membagi kesedihan dan juga kesenangan. Cinta adalah memberi dan menerima, membagi dan juga meminta jatah bagiannya.

Dalam cinta, berlaku hukum alam, bahwa setiap yang didapat pada gilirannya bisa saja akan pergi. Ada kesenangan ada kesedihan. Menyadari hal ini, seharusnya setiap pasangan bersiap diri jika suatu saat akan kehilangan suatu yang menjadi obsesi cintanya.

Jika anda tak siap, maka lebih baik tak usah melibatkan diri dalam hubungan percintaan yang menuntut untuk menguasai semua yang anda miliki. Cukuplah mencari pemenuhan hasrat dan tubuh dari pasangan yang tidak meminta tuntutan lebih dari anda dengan mencari kontrak kencan yang tak ada tanggungan setelah kontrak kencan usai.

****
Closer diangkat dari cerita yang ditulis oleh Patrick Marber. Oleh sang sutradara, Mike Nichols, cerita ini diolah menjadi sebuah tontonan yang berkelas. Plus akting para pemainnya yang cukup matang. Hubungan percintaan di sini sangat kompleks, tak sekadar ditampilkan secara hitam putih. Perselingkuhan tak semata ditempatkan sebagai dorongan seksualitas, tapi juga melibatkan psikologi setiap tokohnya yang akan mengaduk-aduk emosi penonton.

Film ini menjadi nominator Oscar dan pemenang Gloden Globe untuk kategori pemeran pendukung terbaik, yakni Natalie Portman (Alice) dan Clive Owen (Larry).

Akting Portman sebagai Alice, gadis asal Amerika yang menjadi penari striptis di London memang sangat istimewa. Lulusan Univeritas Harvard ini, sebelumnya sempat ragu dirinya akan sanggup memerankan tokoh Alice yang harus setengah bugil di depan Larry (Owen). Tapi ia percaya akan kemampuan Mike sang sutradara yang akan mengarahkannya.

Sementara itu, untuk akting aktris senior Julia Roberts dinilai sejumlah pemerhati kurang maksimal. Namun demikian, akting Julia sebagai perempuan dewasa yang dingin, profesional di bidangnya, bagi saya sudah cukup memukau. Begitu juga Jude Law yang memerankan Dan sebagai seorang penulis spesialis catatan kematian (obituari), lelaki yang bimbang, dan terkadang cengeng.

Yang bisa dikatakan berhasil barangkali Clive yang berperan sebagai seorang dokter yang maniak sek, namun tetap menampakkan kewibawannya di depan perempuan yang dicintainya. Kendatipun sebagai lelaki penjaja seks, dia menunjukkan kekukuhan sikapnya untuk memiliki perempuan yang dicintainya.

Saya sendiri sempat dibuat kesal, karena kenapa justru Larrie yang beruntung mendapatkan Anna, bukan Dan. Tapi di sisi lain, saya merasa iba kepada Alice, gadis muda yang mencintai Dan namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Juga Anna yang pada akhirnya harus mempertahankan keutuhan keluarganya bersama lelaki yang sebenarnya tak begitu dicintainya.

Barangkali begitulah hukum dalam hubungan percintaan bahwa cinta tak harus mendapatkan pemenuhan. Hubungan cinta yang terbentuk pada akhirnya adalah sebuah proses kompromi, yang masing-masing pihak tak bisa menuntut kepuasan dari pasangannya, tak bisa mempertahankan obsesi dan egoisme cintanya. Salah satu, atau keduanya harus ada yang mau mengalah demi mempertahankan keutuhan cinta.

Meski Closer sudah cukup lama dirilis, tapi kekuatan cerita dan kematangan penggarapan film ini layak untuk ditonton kapanpun. Film drama percintaan ini masih merepresentasikan wacana hubungan percintaan dewasa ini.


*terima kasih untuk kawan pejalansesat, yang telah mereferensikan film ini untuk membuka wacana percintaan saya yang masih amat konvesional.

Selengkapnya......

17 January 2008

Perseteruan yang Memicu Proses Kreatif

Mulan Kwok kini berganti nama Mulan Jameela. Jamilah dari bahasa Arab yang berarti cantik atau bisa juga seksi. Mulan Jameela=Mulan Seksi. Dalam album barunya yang bertajuk ”Makhluk Tuhan Paling Seksi” janda beranak dua ini memang makin seksi saja.

Saya mengira karir Mulan akan meredup setelah ia keluar dari duo Ratu. Rupanya prediksi saya salah besar. Karir Mulan di dunia musik dan hiburan makin bersinar.

Tapi sebentar dulu. Bukankah di balik nama Mulan Jameela ini ada nama besar sang Dewa? Baiklah. Simak grundelan dan wawancara imajiner dari seorang pengagum perempuan seksi berikut ini:

Mulan, setelah sebelumnya kau jatuh dipelukan Dewi Maia, kini kau terpukau dalam pelukan sang Dewa Dhani. Untuk kedua kalinya, kau dijadikan obyek obral keseksian.

Predikat seksi sepertinya memang menarik sekali. Siapa yang mendengarnya, apalagi dibumbui suaramu yang seksi itu, bikin seisi dada makin berdebar. Mengundang rasa berahi, seperti definisi yang kutemukan dalam kamus KBBI.


Benarkah kau dicipta oleh sang Dewa untuk membangkitkan rasa birahi?


Maaf kalau selera seniku masih rendah sehingga tak bisa menjangkau keindahan spiritual seperti yang diinginkan oleh sang Dewa. Aroma musik timur tengah yang setengah ngerok itu, tak bisa kurasakan seperti yang kutemukan dalam kasidah nasidaria, tapi lebih terasa sebagai musik pengiring penari perut di jazirah padang pasir sana.


Ah sudahlah, Mulan. Kau memang seksi. Lebih seksi dari sang Dewi yang sekarang sepertinya lagi patah hati terus daripada frustasi akhirnya bikin lagu tandingan “Emang Gue Pikiran” yang menyewa vokalis dengan suara yang tak kalah seksi darimu.


Hmm… kok selera sang Dewi serasa dengan selera sang Dewa ya? Keduanya sama-sama menggemari suara-suara seksi. Bedanya, satunya diminta memerankan karakter yang cuek, satunya narsis. Tapi sebenarnya keduanya sama saja: butuh perhatian, satu sama lain sedang mencari perhatian. Mulan dan May Chan jadi senjatanya.


Hush…emang siapa yang sedang mencari perhatian? Jadi bukan mbak Mulan yang seksi itu tho?


Dewi: Ya nggak lah. Mulan, itu kan cuma jadi umpan. Itu akal-akalan Dhani saja untuk mencuri perhatianku. Pujian seksi itu kan dibuat oleh Dhani sendiri yang dibawakan lewat suara seksi Mulan yang sebenarnya ditujukan untuk memuji Dhani yang mengaku bisa membuat perempuan jadi merasa lebih seksi. Kalian pernah dengar kan kalau dia bilang sebenarnya masih sayang sama aku. Bagaimanapun, aku ini di mata dia masih lebih seksi dibanding perempuan mana pun.


Jadi benar apa yang dikatakan mbak Dewi. Gimana tanggapan mas Dewa?


Dewa: Haha… terserah Maia lah mau bilang apa. Emang gua pikirin.
Nah, jadi mana yang benar. Siapa yang lebih seksi, Maia atau Mulan?

cut here----Gerundelan plus wawancara imajiner dipotong sampai di sini----cut here

Bagi sang Dewa, masalah rumah tangganya dengan sang Dewi bisa saja dijalaninya secara ringan-ringan saja seperti tak ada beban. Atau malahan ia justru berusaha menikmatinya karena dari sana masalah justru menjadi berkah untuk melahirkan hits-hits barunya. Ibaratnya begini, ah mumpung lagi ada masalah. Sekalian saja, daripada nunggu datangnya masalah, repot juga kan kalau harus membikin masalah.

Lewat lagu “Munajat Cinta” dan “Kamu adalah surgaku” terasa sekali perasaan Dhani yang lembut, yang perhatian, yang mudah tersentuh, yang semuanya ini jauh dari kesan yang kita peroleh dari pembawaannya dalam sehari-hari di depan publik.

Di sisi lain, sang Dewi, Maia pun tak kalah bersaing. Jatuh untuk kedua kalinya tentu bukan hal yang mudah bagi orang kebanyakan untuk kembali bangkit. Apalagi kini Mulan malah tampak lengket dengan sang Dewa. Tapi Maia mampu menunjukkan kemampuannya sebagai seorang komposer yang sama seperti sang Dewa, mencuri ide dari masalah yang dialaminya lewat hits baru andalannya "Emang Gua Pikiran".

Kita kerap dibuat kalangkabut ketika sedang dirundung masalah. Mestinya, belajar dari kasus Dhani dan Maia, masalah justru bisa melahirkan karya. Karya yang ampuh konon justru lahir dari sebuah kesulitan atau masalah besar yang menimpa penciptanya.

Jika anda penulis, anda punya masalah hingga sampai mau bunuh diri, wah itu investasi yang amat berharga. Masalah anda itu bisa diolah menjadi sebuah cerita yang lebih dahsyat.

Lalu bagaimana jika hidup kita serasa tak ada masalah, everything is okay?

Hah nggak mungkin. Orang hidup itu pasti punya masalah. Kita akan selesai dari masalah hidup kalau nyawa kita dicabut. Sebenarnya bukan mencari-cari masalah itu ada atau tidak, tapi bagaimana kita terbiasa mendekatkan imajinasi dengan bermacam-macam masalah. Jadilah cerita, jadilah karya.

Kembali ke Mulan, Maia dan Dhani. Diluar kesuksesasan Maia dan Dhani, Mulan memang tetap seksi. Tapi entah sampai kapan keseksian itu akan bertahan. Dalam episode selanjutnya kita tak tahu apa yang dimaui sang Dewa dan Dewi.

Selengkapnya......

10 January 2008

Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita

Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.

Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.

Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.

Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.

Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?

Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.

Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).

Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).

Ambiguitas Kebahagian

Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.

Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.

Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.

Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.

Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.

Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.

Masalahnya di sini pemaknaan atas "keberhasilan" dan "kebahagian" yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.

Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata "gagal").

Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.

Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha...siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).

Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.

Selengkapnya......

09 January 2008

Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita

Begitu mudah bisa kita jumpai buku-buku terjemahan di rak-rak toko buku dewasa ini. Apalagi untuk karya sastra. Banyak sekali karya penulis dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang paling mendominasi adalah karya dalam bentuk novel, cerpen dan esai. Untuk karya sastra jenis puisi memang masih terbilang langka. Barangkali karena penerjemahan puisi bukan pekerjaan yang mudah.

Meski penerjemahan karya sastra belum bisa dibilang sebagai proyek penerbitan yang menguntungkan, namun banyak penerbit dan penulis yang menggarap lahan ini. Bagi mereka yang menggarap proyek ini, sudah barang tentu 90% bukan karena faktor profit, tapi lebih karena kecintaan terhadap karya sastra.

Bagi penikmat karya sastra barat, buku-buku hasil terjemahan akan sangat membantu mereka untuk bisa membacanya dalam bahasa yang lebih familiar. Namun bagi yang ingin menjadikannya sebagai sumber kritik sastra, tampaknya masih akan menghadapi sejumlah kendala. Idealnya memang akan lebih memuaskan jika menggunakan sumber primer karena akan ada banyak bagaian-bagaian yang tereduksi, yang hilang dalam proses pengalihan bahasa itu.

Lalu, akan diposisikan di mana karya-karya sastra terjemahan itu dalam dunia kritik sastra kita?


Menerjemahkan=mencipta ulang

Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi, perlunya satu kajian khusus terhadap karya sastra terjemahan. Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.

Buku-buku hasil terjemahan tentu saja tidak akan dipakai oleh jurusan Sastra Inggris. Mahasiswa yang ingin menyusun skripsi tidak diperbolehkan menggunakan novel hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia. Bukan cuma karena banyaknya karya terjemahan yang sampah, tapi sebagus-bagusnya karya sastra terjemahan tetap tak sama dari karya dalam bahasa sumbernya.

Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.

Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.

Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia. Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?


Penerjemahan yang masih kaku

Jika kita menyadari bahwa setepat-tepatnya menerjemahkan tidak akan memberikan hasil yang sama persis (dan bahkan sama saja tidak cukup, karena menerjemahkan bukan sekadar memindahkan bahasa dan mencari padanan kata, tapi juga kultur), lalu mengapa para penerjemah tidak berani bermain-main dalam menerjemahkan?

Bermain-main, seperti dikatakan oleh Aulia Muhammad, maksudnya begini. Menerjemahkan sama halnya memberikan tafsir. Karena tafsir, maka satu orang dengan yang lain sangat mungkin tak sama. Apa yang dirasakan satu orang ketika membaca sebuah karya besar kemungkinan tidak akan sama dengan yang dirasakan orang lain.

Nah, harusnya menerjamahkan itu bisa dilakukan dengan lebih bebas dan tidak harus terikat lagi dengan bahasa, tapi bagaimana memindahkan impresi-impresi yang dialami penerjemah saat membaca karya yang akan diterjemahkan tersebut.

Baca liputan kegiatan ini:
- Biografi yang ditulis karena kecintaan
- Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan

Selengkapnya......

08 January 2008

Memaafkan Soeharto?

Soeharto dikabarkan sakit parah. Bahkan sudah sempat dibacakan Fatehah. Kini kondisinya berangsur membaik. Sejumlah tokoh partai politik meminta masyarakat memaafkan Soeharto. Bagaimanapun Soeharto telah banyak berjasa dalam membangun negeri ini. Seperti yang disampaikan oleh Partai Golkar yang meminta pemerintah mengesampingkan kasus Soeharto. Biarlah mantan penguasa rezim otoriter Orde Baru itu pulang dengan tenang.

Ada tiga frasa yang yang patut dipertanyakan. "Memaafkan Soeharto", "Jasa Soeharto" dan "Mengenyampingkan kasus Soeharto".

Jika frasa itu dikaitkan satu sama lain, maka pihak yang menginginkan Soeharto dimaafkan, dikenang jasanya dan dikesampingkan kasusnya, sebenarnya mengakui bahwa Soeharto memang bersalah. Jika tidak mengapa minta dikesampingkan. Soal himbauan agar masyarakat mengenang jasanya, ini persoalan lain yang dijadikan pancingan agar masyarakat mau memaafkan.

Indonesia ini negara hukum. Jadi setiap persoalan diselesaikan dengan hukum. Apalagi kasus Soeharto bukan persoalan perorangan, tapi sudah melibatkan orang banyak, lembaga dan negara. Mau minta maaf, nanti dulu. Minta maaf ke siapa, minta maaf untuk apa, nah ini yang harus diusut terlebih dulu.

Selasa (8/1) malam, Metro TV menghadirkan Adnan Buyung Nasution dan Muladi. Adnan berpendapat bahwa kasus Soeharto harus tetap dilanjutkan. Tuntutan agar kasus Soeharto tidak dilanjutkan atau ditutup sebenarnya untuk kepentingan politik semata. Jika masalah kesehatan yang dikuatirkan, maka persidangan bisa dilakukan dengan tidak menghadirkan terdakwa (pengadilan in absentia). Jika kasus tidak dituntaskan maka akan menjadi preseden buruk bagi masa depan penegakan hukum di negeri ini.

Sementara Muladi tetap mendesak agar kasus Soeharto dideponering yang maksudnya kasus Soeharto tidak dibuka lagi alias ditutup. Alasan yang diberikan klise, kesehatan tidak memungkinkan. Saya melihat muka Muladi tegang. Alasan yang diberikan tampak mengada-ngada. Dia tampak lemah di depan Adnan. Tak mengejutkan jika tokoh Golkar ini akan mengeluarkan statement seperti ini.

Muladi mengatakan bahwa sanksi sosial 10 tahun bagi Soeharto sudah cukup dahsyat. Selama waktu itu Soeharto dan keluarga sudah menerima stigma buruk. Ia juga membandingkan dengan kasus Soekarno, mantan Presiden RI pertama yang meninggal dengan keadaan sengsara. Kala itu pemerintahan Soeharto tak mengadili Soekarno. Lalu mengapa sekarang pemerintah ingin mengadili Soeharto?

Menurut Adnan kasus Soeharto beda dengan Soekarno. Soekarno tahanan politik, Soeharto terlibat dalam kasus korupsi.

Muladi membantah penemuan PBB bahwa Soeharto sebagai pemimpin terkorup di dunia. Itu kan menurut media, katanya. Kita harus menerapkan praduga tak bersalah sebelum diputuskan oleh pengadilan bahwa seseorang itu bersalah. Nah, kok dia tahu bahwa stempel benar atau salah itu dikeluarkan setelah keputusan pengadilan. Lalu kenapa dalam kasus Soeharto ini ia minta kasus Soeharto ditutup?

Saya menangkap Muladi hendak mengatakan, ya mbok Park Harto dimaafkan, orang dia sedang sakit sudah tua lagi. Adnan memberikan tanggapan cerdas. Jika kita memang tak bersalah, lalu kenapa Soeharto takut ke pengadilan? Apakah benar bahwa Pak Harto bisa pergi dengan tenang jika masyarakat memaafkan?

Saya kira urusan akherat serahkan saja pada yang di atas. Tak ada gunanya juga mendesak agar masyarakat mengenang jasa-jasa Soeharto, jika memang yang dirasakan adalah bekas-bekas penderitaan.

Biarlah mereka yang mengenang Soeharto dengan nama besar, karena mereka memang merasakannya. Dan biarlah mereka mengenang Soeharto sebagai pecundang, karena mereka memang merasa dipecundangi. Percayalah, Soeharto akan menjadi besar atau menjadi pecundang dengan sendirinya, oleh apa saja yang sudah diperbuatnya.

Persoalannya sekarang, karena kasus Soeharto melanggar hukum, maka juga harus diselesaikan dengan hukum. Inilah hukum dunia yang konon belum seberapa hukumannya dibanding hukum di akherat.

Jadi, untuk ketenangan Pak Harto juga, sebaiknya kasusnya tetap dilanjutkan ke pengadilan. Jika memang dia terbukti bersalah, maka akan lebih mudah masyarakat untuk memaafkannya (semoga).

Selengkapnya......

Ki Harsono Siswocarito: Mendalang Lewat Blog

Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Para dewa turba ke bumi. Mereka hendak mencari jago dewata untuk menumpas Nurkala Kamantra. Satu-satunya yang bisa mengalahkannya tak lain adalah Arjuna.

Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Kalimantra meniada. Kalimasada mengada.

Begitulah akhir cerita Lakonet karangan Ki Harsono Siswocarito yang berjudul "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya". Lakonet kependekan dari Lakon Internet, yakni lakon yang dimainkan lewat media internet atau dunia maya.

Lakonet bisa juga disebut Wayang Maya atau Wayang Citra. Disebut Wayang Citra karena memang adanya di dunia maya dan memanfaatkan gambar, grafis, digital, foto maupun animasi sebagai wayangnya.

Selain "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya", ada lakonet lain yang sudah di hasilkan Ki Harsono. "Balada Utopia Dr Sucitra, "Sang Seta Panglima Amarta" dan yang paling hot adalah "Kembang Kampus Sokalima".

Lakon yang digunakan memang nama-nama lama yang sudah dikenal dalam pewayangan konvensional. Namun setting dan ceritanya lain. Lakonet "Kembang Kampus di Sokalima" mengambil setting di kampus. Srikandi si cewek cantik yang lagi cerdas. Jinak-jinak merpati ia mengagumi Arjuna, mahasiswa ganteng yang kutubuku dan supercuek. Banowati si centil dan mentel yang pede bisa menggaet Arjuna dengan keseksiannya.

Lakonet dan Wayang Mbeling

Jika dicermati, lakonet yang digagas Ki Harsono ini menyerupai jenis Wayang Mbeling yang berisi satire atas fenomena sosial di masyarakat. Bisa mengritik pemerintah atau perilaku masyarakat yang menyimpang.

Menurut Ki Harsono Wayang Mbeling yang sudah ada lebih mirip dengan cerpen. Berbeda dari yang lain, Ki Harsono tetap mempertahankan estetika sastra pedhalangan (seperti: suluk murwo, nyandra janturan dan pocapan, antawacana swara dan omomatopia) yang digubah dalam bentuk baru, yakni menggunakan media internet.

Karena menggunakan media internet, apakah lakonet yang dicetak dalam bentuk print out masih bisa disebut Lakonet?

"Tidak bisa. Gambar-gambar digital itu tak bisa dipandahkan ke dalam kertas. Lakonet hanya ada dalam dunia maya."

Lalu apa istimewanya dari Lakonet ini, bisakah ia menjadi sebuah genre tersendiri dalam dunia perwayangan?

Ide membuat blog Lakonet ini bermula dari kegemasan Ki Harsono atas minimnya literatur pewayangan di internet. Ia berpikir mendalang juga bisa dilakukan dalam dunia maya seperti dengan menulis di blog. Audiennya tak lain adalah pembaca blog itu sendiri.

Memang tak ada suara khas gamelan dan sinden, tak ada wayang yang dimainkan dengan tangan oleh si juru dalang. Tapi itu bisa disiasati. Ki Harsono membuat sendiri gambar dalam bentuk digital seperti Kayon, Gapuran yang dicantumkan dalam ceritanya.

Membaca cerita Lakonet Ki Harsono ini tak ubahnya menonton pertunjukan wayang secara live. Ceritanya hidup. Bahasanya mengalir, banyak menggunakan bahasa slank dan kerap diselipi istilah-istilah kamus dan teoritis.

Siapa sangka jika ki dalang rupanya mengerti konsep postmodernitas Alvin Toffler yang mengatakan modernitas cuma bisa diatasi dengan postmodernitas. Lewat lakon arjuna, ki dalang juga menyanggah konsep seni yang digagas oleh tokoh Formalisme Rusia Viktor Shklovsky, yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk kesenian menampilkan hukum-hukumnya sendiri, bukannya alasan-alasan yang mendorong kita dalam hidup sehari-hari. Baginya, Seni adalah deformasi!

Selain keluwesan bertutur, kita bisa menjumpai sejumlah kata yang menggunakan imbuhan atau pengulangan. Menurut Ki Harsono, model ini menganut pakem dalam bahasa pedalangan yang menggunakan bentuk pengulangan. Dan jika diteliti dengan jeli, penulisan baris per baris, per paragraf, per adegan, ditulis dengan rapi sesuai kaidah penulisan script drama.

Tak cukup itu. Dalang yang satu ini mahir mendalang dalam empat bahasa: Indonesia, Jawa, Sunda dan Inggris. Dalam blog wayangcitra itu disediakan link-link menuju halaman-halaman empat bahasa itu.

Siapakah gerangan Ki Harsono Siswocarito ini?

Belum lama ini saya menyempatkan menemui Ki Harsono Siswocarito di kantor jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Di almamaternya ki dalang dikenal dengan nama Siswo Harsono, dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Undip.

Dosen Sastra Inggris ini memang sudah lama akrab dengan dunia pewayangan. Naskah-naskah wayang mbelingnya pernah diterbitkan di Harian Suara Merdeka dan tabloid Mingguan Cempaka.

Ia ingin menerbitkan naskah-naskah lakonet itu ke dalam sebuah buku. Diakuinya, naskah itu sebenarnya sudah siap diterbitkan langsung dalam empat bahasa. Rencananya ia akan menerbitkan sendiri namun karena ongkos penerbitan di Semarang masih terbilang mahal, ia merencanakan untuk mencari alternatif lain, mencari percetakan dengan biaya yang lebih miring.

Selengkapnya......

07 January 2008

Diskusi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya

Edgar Allan Poe lahir dari pasangan David Poe dan Elizabeth Arnold Hopkins. Kedua orang tuanya pemain teater. Edgar menjadi yatim piatu dalam usianya yang relatif masih sangat muda. Dia diangkat dan dirawat oleh keluarga Tuan dan Nyonya Allan Sewaktu berusia dua tahun. Edgar seorang bocah yang memiliki pemikiran yang cerdas. Dia mampu menampung detail-detail, pengalaman serta impresi yang dijumpainya dalam pikirannya, seakan dia tahu kelak akan memerlukannya.

Edgar tumbuh besar bersama ayah angkat yang tidak menyayanginya. Beruntung ibunya tidak demikian. Sayang sekali Tuan Allan tidak melihat sisi kejeniusan Edgar kecil. Kejeniusan Edgar terlihat dari setiap karya puisinya. Nyonya Allan selalu ingin dibacakan puisi Edgar dan yang terbaru tentunya.

Sewaktu kecil dia sangat disenangi teman-temanya. Dia selalu menjadi panutan dan kebanggaan teman-temanya. Dia senang berolahraga.

Kepedihan dan terjalnya kehidupan dia lalui tanpa menyerah. Ayahnya mengirimya ke Universitas Virginia. Tak seperti kawan -kawanya yang diberikan banyak uang orang tuanya tanpa tahu digunakan untuk apa, Edgar hanya diberikan uang tanpa cukup untuk bisa membiayai kuliahnya. Inilah awal dia menyentuh minuman keras dan perjudian. Dia mulai mengikuti temanya berjudi berharap menang, tapi selalu kalah. Sesekali dia juga minum minuman keras. Dia banyak berhutang kepada orang lain. Meskipun ayahnya sudah diberi tahu olehnya kalau dia banyak hutang, ayahnya tetap tidak mau memberinya uang.

Kesengsaraan Edgar diperparah setelah kematian ibundanya, orang yang selalu menyayanginya. Dia terusir dari rumah tanpa mendapatkan apa-apa dari ayahnya. Tapi dia tetap tidak menyerah. Dia ingin menerbitkan kumpulan puisi dan ceritanya dalam bentuk buku. Tetapi selalu ditolak. Meskipun puisinya mendapatkan pujian yang luar biasa dari bnayak orang tapi tetap tidak ada yang mau menerbitkannya.

Karya-karya Edgar menceritakan tentang terror dan kematian. Dia membuat puisi untuk seorang perempuan yang dicintainya yang telah meninggal dunia. Puisi-puisinya mencerminkan indahnya pertemuan dengan sosok perempuan yang “sempurna” yang akhirnya direnggut perpisahan.

Edgar, seorang pecinta sains dan pengamat lapangan yang teliti, yang mampu menuliskan pikiran-pikiranya dengan detail . Karya-karyanya dianggap mampu menerobos waktu. Di saat kondisi fisiknya menurun, kegigihanya untuk mencipta sebuahkarya yang menurutnya “karya tersulit yang pernah dibuatnya”, melahirkan tulisan bertajuk Eureka (1848). Eureka , tulisan controversial, merupakan karya yang berkaitan dengan teori –teori Poe tentang berbagai penemuan sains yang (diimajinasikan) bakal terjadi di masa depan.

Berbagai tragedi kebrangkutan serta kemiskinan menderanya tak henti-henti. Akhirnya 7 Oktober 1949, Edgar terbating tentram dan sentosa seakan dia telah melewati lautan badai. Dia meninggal dunia dengan damai.

Sepenggal kisah itu termuat dalam buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi dan diterbitkan oleh Penerbit Interlude Yogyakarta.

Buku tersebut akan didiskusikan dan dibedah pada Selasa (8/1) pukul 09.00 WIB di Joglo Fakultas Sastra Undip Semarang.

Akan hadir sebagai pembicara, Siswo Harsono dosen Sastra Inggris FS Undip, Aulia Muhammad peminat dan pemerhati sastra yang juga Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News dan Tia Setiadi penerjemah buku.

Siswo Harsono akan mengupas buku dari sudut pandang seorang kritikus sastra. Dosen Sastra Inggris Undip itu akan mengajak audiens untuk membicarakan biografi sebagai sebuah kritik sastra. Aulia Muhamad akan membahas dari sudut peminat karya sastra yang membaca karya Edgar Allan Poe. Tia Setiadi selaku penerjemah buku akan bercerita lebih banyak mengenai proses penyusunan buku dari naskah asalnya.

Kegiatan ini terseselenggara atas kerjasama LPM Hayamwuruk, Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra Undip dengan Penerbit Interlude Yogkarta. [ditulis oleh Eka Harisma]

*Untuk informasi kegiatan hubungi:
Gema Yudha: 081575339498
Zumala Nahari :
08882529244

Selengkapnya......

29 December 2007

Perang Sastra Boemipoetra Vs Teater Utan Kayu

Ada info menarik buat anda yang mengikuti perselisihan antara komunitas Ode Kampung vs Utan Kayu. Saut Situmorang sepertinya masih terus melancarkan serangan ke kubu lawan. Nah ini ada Saut yang diwawancarai oleh majalah mahasiswa dari Universitas Indonesia. Tulisan ini saya dapatkan dari milis PPI-India yang diposting sendiri oleh Saut Situmorang.

Silakan dinikmati buat selingan mengisi kekosongan aktivitas perpostingan di blog ini. Tunggu tahun baru ya, semoga bisa rajin posting tiap hari:)

WAWANCARA DENGAN SAUT SITUMORANG:
PERANG SASTRA boemipoetra vs TEATER UTAN KAYU (TUK)


1.Anda menyebut diri sebagai politisi sastra. Kami baru dengar istilah
itu. Apa tugas sentral profesi tersebut, tentunya dalam eksternal
sastra dan internal sastra?

SS: Hahaha... Istilah sebenarnya adalah "politikus sastra" dan aku
pakai sebagai keterangan-diri di eseiku yang berjudul "Politik
Kanonisasi Sastra" – yang merupakan makalahku untuk Kongres Cerpen
Indonesia V di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26-28 Oktober lalu –
yang kusebar di Internet sebagai salah satu dari rangkaian seranganku
terhadap Teater Utan Kayu (TUK). Istilah itu sebenarnya sebuah istilah
ironis yang tongue-in-cheek, dimaksudkan untuk memberi nuansa kepada
isi eseiku itu. Tapi reaksi pembaca macam-macam. Hudan Hidayat yang
konon seorang novelis itu, misalnya, menyebutku "politisi sastra" di
Internet. Aku lebih suka istilah "politikus sastra". "Politisi" itu
istilah apa?! Apa ada "kritisi" sastra?! Hudan Hidayat memang seorang
penulis bakat alam par excellence! Hahaha...


2.Jurnal Boemipoetra yang terbit beberapa bulan lalu, semacam aksi
propaganda demonstratif sastrawan Ode Kampung terhadap perlawanan
terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK). Namun sebagian masyarakat
menyatakan itu bukan jurnal yang semestinya ilmiah sebab kata-kata
yang "kasar"?

SS: Coba perhatikan, kalimat macam apa yang kau tuliskan ini!
Membingungkan! Hehehe... Jurnal sastra boemipoetra (pake huruf kecil
semua!) adalah jurnal sastra paling keren dan cool sepanjang sejarah
sastra Indonesia karena fungsinya cuma satu: menghancurkan Teater Utan
Kayu (TUK)! Dan sudah terbit (tanpa mengemis dana ke Amerika Serikat
dan sekutu neo-kolonialnya) sampai empat edisi. Hahaha... Satu-satunya
"little magazine" sastra kita yang berani memakai apa yang kau sebut
sebagai "kata-kata yang `kasar'" itu! Mengutip Clark Gable dalam Gone
with the Wind, aku katakan kepada mereka-mereka yang tiba-tiba
(menjadi) moralis linguistik itu padahal konon sudah beyond morality
dalam kasus Sastra Porno Sastrawangi, seperti Manneke Budiman dosen
Universitas Indonesia itu: Frankly, my dear, I don't give a damn!
Hahaha... Benar, jurnal boemipoetra memang bukan jurnal ilmiah kayak
Oxford Literary Review, Critical Inquiry, New German Review, New Left
Review, Social Text, atau Representations dan tidak punya pretensi
untuk menjadi jurnal ilmiah. Tapi apa memang (pernah) ada jurnal
"ilmiah" seperti yang aku sebutkan barusan di Indonesia? Nenek moyang
boemipoetra adalah majalah-majalah kecil yang diterbitkan kaum Dada
dan Surrealis di Eropa di awal abad 20 lalu, yang berisi baik
manifesto-manifesto gerakan-gerakan tersebut maupun serangan-serangan
keras mereka terhadap apa-apa yang pada saat itu mereka anggap
menjajah pemikiran budaya orang-orang Eropa. Dan bahasa yang mereka
gunakan bahkan jauh lebih "vulgar" dibanding "kata-kata kasar"
boemipoetra! Ada catatan penting: boemipoetra bukan sastrawan Ode
Kampung! Ode Kampung itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh
komunitas sastra Rumah Dunia di Serang, Banten. Secara ideologis dan
praktis boemipoetra justru sangat radikal dibanding Rumah Dunia dan
Ode Kampungnya itu. Juga kalau kalian pelajari komposisi redaksi
boemipoetra maka akan terlihat jelas keberagaman ideologi di dalamnya.
Kerancuan informasi ini memang sudah universal di dunia kangouw sastra
Indonesia dan ini cuma menunjukkan betapa parahnya orang kita membaca
persoalan, betapa tidak canggihnya imajinasi orang-orang sastra kita
dalam menafsirkan silsilah sebuah persoalan seperti Perang Sastra
antara boemipoetra vs TUK. Manneke Budiman adalah lagi-lagi contohnya.
Yang harus disadari lagi adalah bahwa Teater Utan Kayu (TUK) yang
dikuasai orang-orang sastra itu yang menjadi fokus dari
serangan-serangan kami, bukan Komunitas Utan Kayu (KUK) secara umum
dan yang macam-macam isinya itu. Makanya perang kami ini adalah Perang
Sastra! Musuh kami adalah Goenawan Mohamad dan segelintir penulis muda
yang berlindung di balik bayangannya yang tua. Segelintir
penulis-sekedar yang merasa sudah mencapai satori atau pencerahan
sastra padahal rata-rata masih medioker kemampuannya, baik kreatif
maupun kritis! Segelintir megalomaniak!

3.Letak keburukan TUK sehingga Anda begitu gencar untuk mengutuk mereka?

SS: Harus diakui bahwa pada awalnya mereka itu oke, kegiatan-kegiatan
yang mereka lakukan termasuk penerbitan majalah ikon mereka itu,
Kalam, merupakan angin segar dalam kondisi jenuh sastra kita yang
diakibatkan hegemoni majalah Horison dan Taman Ismail Marzuki (TIM).
Tapi itu hanya sebentar! Mereka kemudian merasa sudah menjadi
mainstream baru, sang dominan baru dalam sastra kita. Mereka sampai
merasa begini tentu saja tak dapat dilepaskan dari "pesona" yang
memang telah mereka timbulkan dalam kepala para sastrawan kita,
terutama di kota-kota besar kita. Mereka telah menjadi mitos baru yang
menggantikan mitos-mitos lama Horison dan TIM bagi para sastrawan yang
mulai dikenal publik sastra kita di periode 1990an, apa yang saya
sebut sebagai Sastrawan 90an itu, dan yang sedang merajai penerbitan
buku sastra saat ini. Mitos baru tentang TUK ini dimanfaatkan dengan
sangat canggih oleh Goenawan Mohamad dan segelintir penulis-sekedar
yang aku sebutkan di atas. Dominasi-tunggal atas dunia sastra kita
adalah ambisi ekstra-literer mereka. Ini dimulai dengan skandal
menangnya novel jelek berjudul Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian
Jakarta 1998. Memakai istilah salah seorang penulis-sekedar TUK
bernama Eko Endarmoko yang berpretensi keras mencari kelemahan esei
saya "Politik Kanonisasi Sastra" tapi gagal dengan mengenaskan itu
(karena kurang imajinasi tekstual dan miskinnya pengetahuan sejarah
sastra), menurut "kabar angin" naskah Saman itu sebenarnya sudah lewat
deadline pengiriman naskah tapi salah seorang juri menerimanya juga.
"Kabar angin" lain adalah bahwa salah seorang juri Sayembara Roman DKJ
1998 itu menerima naskah Saman dari seorang tukang sapu gedung dimana
para juri sedang memeriksa naskah-naskah yang masuk dan naskah
tersebut didapatkan tukang sapu itu di dalam tong sampah! Siapa saja
tentu saja bebas menafsirkan legenda yang diciptakan seputar Saman ini
sama seperti para penilai Prince Claus Award yang memenangkan Ayu
Utami pada tahun 2000 untuk novel satu-satunya itu dengan alasan bahwa
"karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya"!
Bagaimana para juri Prince Claus Award bisa menilai kedahsyatan novel
tersebut padahal tak satupun terjemahan bahasa asingnya sudah ada pada
waktu itu hanya Goenawan Mohamad yang tahu. Coba baca prosa-pendek Ayu
Utami (yang diklaim sebagai "kolom" itu) di media massa cetak seperti
koran Seputar Indonesia Minggu. Masuk akalkah seseorang yang diklaim
oleh sebuah institusi internasional sejenis Prince Claus Award sebagai
"meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya" cuma mampu
menghasilkan cakar-ayam yang bahkan lebih jelek dari medioker seperti
itu! Aku kasih sebuah "kabar angin" lagi. Kalau Saman itu sebuah
fragmen dari karya panjang (yang sekarang kita tahu adalah Saman dan
Larung) lantas kenapa Saman bisa begitu sensasional legendanya
sementara Larung sunyi senyap?! Karya Pramoedya Ananta Toer yang jauh
lebih panjang aja, yaitu Tetralogi Buru, tidak begitu jauh jarak
"mutu"nya antara satu fragmen dengan fragmen lainnya. Bicara tentang
Pram, bukankah komentar Pram di sampul belakang Saman itu adalah
sebuah manipulasi tekstual paling brengsek dalam sejarah promosi
sebuah karya sastra di negeri ini! Kalau memang benar Saman yang
memenangkan Sayembara Roman DKJ 1998 dan Prince Claus Award 2000 itu
begitu "dahsyat" seperti yang diklaim Sapardi Djoko Damono, Faruk dkk,
untuk apa lagi dia mesti memelintir komentar Pram yang pada dasarnya
menganggap novel itu jelek!

Kejahatan TUK semacam ini, yaitu manipulasi informasi, berkali-kali
mereka lakukan. Yang langsung bersentuhan dengan aku adalah "laporan"
di majalah-berita Tempo yang konon ditulis oleh Ags Dwipayana (aku tak
ingat nama lengkapnya tapi orang ini orang teater, menurut "kabar
angin") tentang Temu Sastra Internasional 2003 yang diselenggarakan
TUK di Solo. "Laporan" yang pada dasarnya mengelu-elukan program
sastra TUK itu dan mengejek aku dan kawan-kawan Solo yang memprotesnya
dengan keras karena tidak melibatkan seorangpun sastrawan Solo kecuali
sebagai pembawa acara, hahaha..., ternyata tidak ditulis berdasarkan
pandangan mata langsung "pelapor"nya! Si penulisnya tidak pernah hadir
di Solo sama sekali selama dua-hari acara TUK itu dan menurut "kabar
angin" semua infonya diberikan oleh Yang Mulia Goenawan Mohamad! Kasus
Solo ini menjadi penting dalam "arkeologi dusta TUK", hahaha..., kalau
kita kaitkan dengan Kasus Chavchay Syaifullah, wartawan budaya Media
Indonesia yang dipecat bosnya sebagai wartawan budaya karena pengaduan
langsung Goenawan Mohamad. Chavchay menulis di korannya tentang acara
Utan Kayu International Literary Biennale yang diadakan di TIM bulan
Agustus lalu dan Goenawan Mohamad tersinggung atas laporan pandangan
mata langsung Chavchay itu. Alasan Goenawan Mohamad, Chavchay dalam
laporannya itu telah melakukan "fitnah" karena tidak menjalankan asas
"cover both sides", yaitu "tak mencoba mendapatkan dan memuat versi
panitia dan TIM" paling tidak tentang diusirnya penyair Geger dari
tempat acara. Padahal Chavchay punya rekaman pernyataan Geger bahwa
dia diusir! Sontoloyo, itulah komentarku! Kekuasaan sipil yang sudah
mulai menjadi diktatorial!

Masih mau lagi? Hahaha... Coba perhatikan jaringan kekuasaan yang
sudah dibentuk TUK saat ini untuk menguasai dunia sastra kita: Hasif
Amini di koran Kompas Minggu, keikutsertaan TUK dalam menyeleksi
sastrawan lokal untuk Ubud Writers and Readers Festival, Ayu Utami di
DKJ, dan "kabar angin" lagi Sitok Srengenge bakal menjadi redaktur
sastra koran Media Indonesia Minggu! Sitok ini juga yang menurut
"kabar angin" lain pernah sesumbar bahwa "Sastrawan Indonesia" itu
adalah cuma mereka yang pernah diundang ikut acara sastra TUK!
Megalomaniak gak, hahaha... Dulu waktu dia dan Medy Loekito dari
komunitas kami Cybersastra ada di Iowa mengikuti program menulisnya,
si penyair rima-dalam ini, hahaha..., pernah berkata bahwa dalam
berbahasa Inggris, dia kalah dengan Medy, tapi dalam menulis puisi,
dia lebih unggul! Uh, hebatnya, hahaha... Kalau dia tak bisa berbahasa
Inggris, kok bisa dia mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa? Saat ini
yang mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa adalah, you guess it!...
monsieur Nirwan Dewanto, hahaha... Sejak kapan redaktur koran ini
jadi sastrawan dan mana karya sastranya? Mestinya kan penyair dan
politikus sastra Saut Situmorang dong yang mewakili TUK, dan sastra
Indonesia, ke Iowa, iya kan, hahaha...

O iya, sebelum aku lupa dan ada juga kaitannya sedikit dengan soal
majalah "ilmiah" yang kita singgung di atas. Pernah baca buku kumpulan
esei Goenawan Mohamad berjudul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (AlvaBet,
2001)? Coba baca kata pengantar buku itu berjudul "Ke-Lain-an Goenawan
Mohamad" yang ditulis oleh Hamid Basyaib! Atau baca ringkasannya di
blurb sampul belakang buku! Dengan tidak ada rasa malu sama sekali dia
mengklaim Goenawan Mohamad sebagai "esais terbaik Indonesia", "orang
Barat yang lahir di Batang" dan dalam kumpulan eseinya itu "ia
membahas Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe [sic], Camus,
Benjamin dan banyak nama penting lain dalam jagat pemikiran Barat
bagai berbincang akrab dengan teman dekat", "semuanya disorotinya
dengan perangkat kritik sastra, yang digunakannya dengan kemahiran tak
tertara"! Nah pertanyaan sederhanaku ini aja: Kalau Goenawan Mohamad
itu memang begitu hebat, kok dia gak nulis di jurnal-jurnal ilmiah
seperti yang kusebutkan di atas tadi aja? Kita kan bisa jadi sangat
bangga kalau ada seorang penulis hebat kita yang tulisan kritiknya
bisa muncul di jurnal ilmiah standar internasional ketimbang sekedar
di media lokal doang! Inilah contoh megalomania narsisistik Teater
Utan Kayu par excellence, hahaha...

4. Sudah tentu TUK, menganggapnya sebagai angin lalu. Bahkan fitnah?

SS: Jelas dong. Mana ada yang suka kebusukannya diekspos, apalagi
sekelompok megalomaniak.

5.Manifesto Boemipoetra telah kami pelajari. Rasa sosial dan
solidaritas tinggi serta anti-Liberalisme, rupanya tertanam kuat di
diri sastrawan Ode Kampung. Berangkat dari kemanusian, apakah Anda
tidak takut pengecaman Anda dkk. justru menjadi bumerang?

SS: Sekali lagi, jangan samakan boemipoetra dengan Ode Kampung. Tahu
kan apa itu bumerang? Bumerang itu adalah senjata tradisional bangsa
Aborijin Australia yang dipakai dengan melemparkannya ke objek yang
ingin dilumpuhkan. Karena bentuknya melengkung dan cara melemparkannya
khas, bumerang bisa kembali ke pemiliknya kalau tidak mengenai
sasarannya. Kalau seseorang tidak sigap atau pandai menangkap bumerang
yang terbang kembali itu, maka bocorlah kepalanya, hahaha... Maka
ketahuan pula kalau dia bukan pemilik sebenarnya! Nah apa yang terjadi
sekarang adalah bumerang itu tak bisa ditangkap kembali oleh Goenawan
Mohamad dan para penulis-sekedarnya maka bocorlah kepala mereka, hahaha...

6.Menurut Anda mengapa setelah terbitnya Jurnal Boemipoetra, TUK tidak
membalas sama sekali serangan Anda?

SS: Karena mereka itu cuma mitos belaka, tak ada esensinya. Karena isi
boemipoetra tak bisa mereka bantah. Karena mereka takut kalau
merespons maka semua kebusukan mereka akan jadi terbuka. Lebih baik
didiamkan saja kan. Atau seperti "kabar angin" tentang apa yang
dikatakan Goenawan Mohamad: apa Saut itu masih tahan menyerang sampai
enam bulan lagi? Kalau tak salah, aku sudah menyerang TUK sejak tahun
2003 dan sekarang makin asyik aja, hahaha...

7. Seorang millist bernama Radityo yang disinyalir sebagai tangan
kanan TUK, menyerang Anda habis-habisan. Anda bisa jelaskan ini?

SS: Hahaha... Radityo Djadjoeri itu adalah keponakan Goenawan Mohamad.
Dia sendiri yang ngaku begitu di Internet dan aku pun pernah
mempostingkan data yang kudapat di Internet tentang keluarga besar
mereka yang keturunan Arab-Kurdi itu. Radityo yang konon tamatan
FE-UII Jogja ini memang seorang cyberpsikopat! Dulu dia juga pernah
punya problem besar dengan Farid Gaban dari Republika dan melakukan
teknik pencemaran nama yang sama, yaitu dengan menciptakan tokoh-tokoh
cyber fiktif yang menyerang dengan alamat email buatan. Untuk
menghadapi aku yang memang jauh di atas kelas intelektualnya ini,
hahaha..., dia bahkan menciptakan milis-milis baru seperti yang
bernama "sautisme@yahoogroups.com" itu. Tapi manalah pulak awak bisa
dikerjainnya! Buktinya, justru dia sekarang yang dicekal dari begitu
banyak milis Indonesia di Internet, hahaha...

8.TUK diperkirakan sebagai benih-benih sastra imperialis, yang secara
general pernah disembulkan Taufik Ismail. Apakah kelahiran Jurnal
Boemipoetra berangkat dari pernyataan Taufik?

SS: Harus disadari lagi bahwa boemipoetra tak ada hubungan apa-apa
dengan Taufiq Ismail atau jelasnya dengan Kasus Taufiq Ismail vs Hudan
Hidayat. Dan boemipoetra lahir bukan karena Taufiq Ismail ataupun
pernyataan publiknya!!! Kami bertujuan membabat utan kayu, titik. Aku
sendiri secara pribadi bertentangan dengan Taufiq Ismail soal Marxisme
dan Lekra. Aku ini Marxist tapi Marxisme seperti yang diejek-ejek
Taufiq Ismail tak pernah ada dalam Marxisme! Dia tak bisa membedakan
antara politik partai dan sebuah isme pemikiran. Dalam sejarah
peradaban manusia, isme yang paling kritis dan paling membela harkat
orang banyak hanyalah Marxisme! Dan lawan utama Marxisme bukan Agama
Monotheis seperti yang dirancukan Taufiq Ismail dkk, tapi
Liberalisme-Kapitalisme yang justru telah menyebabkan matinya agama
Kristen di Barat dan timbulnya kolonialisme di Asia, Afrika,
Australia, Pasifik dan benua Amerika! Bagi boemipoetra, TUK adalah
agen imperialisme Liberalisme-Kapitalisme terutama Amerika Serikat di
sastra Indonesia, lewat program-program sastranya. Mudahnya akses bagi
orang-orang TUK dan sekutunya ke program-program di Amerika Serikat,
seperti program menulis Iowa itu misalnya, sementara orang-orang yang
non-TUK ditolak visa mereka oleh Kedutaan Amerika Serikat, adalah
bukti nyata.

9.Seks dan agama adalah keberlainan bahkan kebertentangan, Ayu Utami,
yang selanjutnya diikuti Nukila Amal, dan Dewi Lestari sebagaimana
Taufik yang menyatakan mereka bagian dari Fiksi Alat Kelamin (FAK) dan
(GSM). Apakah Anda menyerang lini ini dengan berpusar pada pijak agama?

SS: Gawat! Siapa yang bilang bahwa "seks dan agama" itu bertentangan!
Apa ada "agama" yang melarang seks! Gereja Katolik yang melarang
pastor untuk kawin itu aja tidak melarang seks bagi yang non-pastor!!!
Ketidakhati-hatian orang kita dalam berbahasa memang sudah fenomenal.
boemipoetra tidak anti-seks malah sangat suka seks! Yang dilawan
boemipoetra adalah eksploitasi seks (seksploitasi) sebagai standar
estetika sastra (paling) bermutu, yang mengorbankan estetika sastra
non-seks seperti nilai-nilai Islami pada Forum Lingkar Pena misalnya.
Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu adalah para penulis
perempuan Indonesia yang mengeksploitasi seks dalam tulisan mereka dan
menjadi terkenal karenanya. Menjadi dibaca tulisannya karenanya. Itu
saja alasannya kenapa mereka dibaca. Lucu ya bahwa ketiga perempuan
tukang eksploitasi seks perempuan ini punya nama sama, yaitu "Ayu".
Mungkin nama Sastrawangi musti diganti jadi "Sastrayu", hahaha...

10.Sastra TUK jelas berbeda, mereka mengakomodir tulisan dengan
kualitas tinggi. Bahkan mereka tidak akan menerbitkan karya yang
dianggap "tidak layak" di jurnal Kalam. Berarti Sastra TUK punya pagar
untuk menyempitkan dunianya(red). Eksklusivitas ini rupanya yang tidak
diterima oleh Anda dkk. Mengapa?

SS: Hahaha... Itulah mitos yang berhasil dibangun TUK tentang dirinya
dan dikunyah bulat-bulat oleh banyak sastrawan muda termasuk fakultas
sastra yang seharusnya lebih kritis daripada sastrawan sendiri!

Kalam itu kan cuma majalah budaya umum dan "kekuatan"nya terletak
lebih pada esei-esei budaya yang dimuatnya, bukan pada puisi atau
cerpennya. Kolom puisi Kompas Minggu sewaktu ditangani Sutardji
Calzoum Bachri jauh lebih tinggi reputasinya bagi para penyair
Indonesia ketimbang Kalam. Bukankah cerpen yang dimuat di koran Kompas
yang dianggap cerpen nyastra yang bermutu? Sastra TUK itu apa? Yang
"sastrawan" di TUK itu kan cuma Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge dan
Ayu Utami. Ini kan sastra TUK itu.

Soal "kualitas tinggi" TUK. Apa tinggi kualitasnya puisi Sitok, bahkan
Goenawan Mohamad sekalipun? Apa tinggi kualitasnya esei-esei Nirwan
Dewanto atau Hasif Amini? Terjemahan Hasif atas cerpen-cerpen Jorge
Luis Borges (dari terjemahan bahasa Inggris) aja jelek tapi
dipuji-puji setinggi langit oleh sesama orang TUK! Apa tinggi
kualitasnya program biennale sastra TUK yang mengklaim Avi Basuki dan
Laksmi Pamuntjak sebagai "sastrawan internasional Indonesia" itu? Apa
yang pernah ditulis Laksmi Pamuntjak dalam "sastra Indonesia"? Yang
benar adalah bahwa manipulasi informasi TUK memang berkualitas tinggi,
hahaha...

11.Apa perjuangan Anda dkk. sudah selesai?

SS: Apa TUK sudah hancur? Hahaha...

12.Dengan duduknya Hasif Amini di Kompas dan Nirwan Dewanto di Tempo,
sudah tentu makin melambungkan sastra TUK yang Anda sinyalir sebagai
kelompok yang berambisi menoreh sejarah sastra. Benarkah?

SS: Sudah aku jawab di atas.

13.Mahasiswa, sebagai akademisi sastra yang belum terbaluri pengaruh
ini, sebaiknya ada di posisi mana?

SS: Masak mahasiswa sastra belum terkena pengaruh mitos TUK! Yang
benar aja ah.
Pertanyaan No.10 di atas kan jelas menunjukkan betapa kalian sudah
sangat dalam dipengaruhi oleh "pesona" mitos TUK itu! Sadarlah dan
kembalilah ke jalan yang benar! Hahaha...

14.Anda tidak meluaskan propaganda ke kalangan mahasiswa. Mengapa?

SS: Lha wawancara ini apa namanya kalau bukan propaganda
demitologisasi TUK, hahaha...

15.Kanonisasi Sastra dapatkah Anda jelaskan secara singkat?

SS: Kanon adalah sekelompok karya yang, minimal, selalu ada dalam
kurikulum pengajaran sastra di sekolah dan perguruan tinggi. Sebuah
karya yang bisa masuk jadi anggota kanon sastra tentu saja akan
terangkat reputasi sastranya, dan pengarangnya, dalam hierarki kelas
"kedahsyatan" artistik dalam sejarah sastra. Dan bisa dipastikan akan
terus menerus dicetak-ulang sekaligus dibahas-ulang dalam skripsi,
tesis dan disertasi.

Tentu saja semua pengarang ingin semua karyanya bisa masuk dalam kanon
sastra, paling tidak sebuah bukunya. Tapi kenyataannya cuma segelintir
saja pengarang yang bernasib mujur begini. Ketidakmujuran nasib banyak
pengarang dalam peristiwa kanonisasi sastra inilah yang menimbulkan
pertanyaan: Kok karya S Takdir Alisjahbana bisa masuk kanon sementara
cerita silat Kho Ping Hoo nggak? Kenapa puisi Goenawan Mohamad, bukan
Saut Situmorang? Masak cerpen Seno Gumira Ajidarma masuk tapi cerpen
Hudan Hidayat kagak? Apakah karena cerpen Seno punya "substansi"
sementara cerpen Hudan cuma begitu-begitu aja? Puisi Goenawan Mohamad
"sublim" tapi Saut Situmorang cuma bermain-main dengan
intertekstualitas dan tidak tertarik pada "kedalaman" simbolisme
pasemon puitis? Apa sebenarnya yang menjadi "kriteria" dalam seleksi
kanon (canon formation)? Apakah "substansi" sastra atau "sublimitas"
sastra seperti yang diyakini Hudan Hidayat dan para pengarang bakat
alam lainnya itu? Apakah estetika satu-satunya standar dalam menilai
mutu karya? Kalau benar, lantas apakah "estetika" itu? Adakah karya
sastra yang an sich benar-benar "dahsyat" dan "universal"? Apakah
karya sastra itu memang otonom, bebas nilai, tidak tergantung pada
hal-hal di luar dirinya untuk menentukan baik-buruk mutunya? Atau ada
hal-hal lain di luar teks karya – mulai dari komentar para "pengamat"
sampai ekspose di media massa atas sosok sang pengarang – yang menjadi
faktor dominan dalam terpilih-tidaknya sebuah karya sastra menjadi
anggota kanon sastra?

Sastra kontemporer kita rusak karena dilettante sastra, petualang
sastra seperti TUK, Kompas dan Richard Oh dengan sensasi duit
Katulistiwa Literary Award-nya itu merajalela membuat kanon-kanon
sastra baru tanpa kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan para
sastrawan pada cuek aja. Inilah efek apolitisasi sastra Orde Baru!

16.Bang Saut setiap jawaban Abang akan kami publikasikan. Silahkan
menambahkan sesuatu yang perlu Abang uraikan. Tapi kami tetap
menjaga etika jurnalisme.
Terima kasih banyak.
Salam untuk Wowok dkk.

SS: Terimakasih juga. Wawancara kalian ini adalah wawancara pertama
yang dilakukan dengan boemipoetra untuk mendengarkan perspektif
boemipoetra tentang Perang Sastra boemipoetra vs TUK. Selama ini cuma
Goenawan Mohamad dan anggota TUK lainnya aja yang diberikan kesempatan
bicara secara formal dalam sebuah wawancara. Kalian sudah bertindak
adil! Bravo! Aku juga mengharapkan kalian berani memuat semua yang aku
nyatakan di sini. Berani seperti boemipoetra! Kalau mahasiswa aja
sudah gak berani mengeluarkan pendapatnya dalam media kampusnya
sendiri, apalagi dengan alasan mitos "etika jurnalisme" yang cuma
menguntungkan kekuasaan status quo itu, untuk apa kita punya
universitas di negeri ini! Mitomania harus dilawan oleh semua
mahasiswa yang menganggap dirinya berbudaya dan kritis, terutama oleh
mahasiswa sastra. Ingat apa yang dikatakan George Orwell: During times
of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act!

Selengkapnya......