Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

18 February 2015

The Lunchbox: Romansa Virtual di Jeda Makan Siang

Usaha seorang istri untuk mengembalikan keharmonisan rumah tangganya melalui masakan justru mempertemukan dia dengan pria lain.

Hubungan virtual ternyata bisa dilangsungkan melalui media lunchbox. Panci bersusun, berbahan dari alumunium, dilengkapi tangkai sebagai pengait antar panci tempat makanan sekaligus sebagai pegangan—kita menyebutnya rantang. Tak perlu perangkat semacam komputer dan sambungan internet. Jadul sekali. Sekalipun terkesan old school, romansa virtual digambarkan secara komplit dalam film debutant Ritesh Batra ini.

Rantang makan siang itu mempertemukan dua manusia yang sedang mengalami keterasingan. Ila, seorang ibu rumah tangga muda beranak satu, terasing dengan perilaku suaminya yang dingin. Berbagai cara telah dilakukan untuk mencuri perhatian sang suami namun belum juga mendapatkan balasan yang semestinya.

Sementara itu, Saajan adalah seorang akuntan senior yang sedang dilanda kegalauan menjelang masa pensiun. Pekerjaan yang telah ia geluti selama 35 tahun di perusahaan yang sama, sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ia akan tambah kesepian. Ditinggal mati istri dan kini akan meninggalkan rutinitas pekerjaannya.

Di tengah kegelisahan dua tokoh tersebut, tiba-tiba keduanya dipertemukan lewat kotak makan siang. Berawal dari Ila yang sedang frustasi atas sikap suaminya, ingin meluluhkan hati suaminya lewat masakan. Sebuah menu spesial makan siang, yang tentu saja diramu dengan sepenuh cinta, dikirim ke tempat kerja sang suami melalui jasa pengiriman makan siang. Siapa sangka kalau makan siang untuk sang suami itu terkirim ke pria lain. Dari sinilah Ila dan Saajan menjalin hubungan.

Setelah mengetahui rantang makan siang untuk suaminya salah kirim, bukannya segera memberitahu kurir, Ila malah menyelipkan secarik kertas ke dalam rantang yang dikirimkan keesokan harinya untuk menyelidik siapa gerangan penerima makan siang suaminya.

Korespondensi mengalir. Rantang yang dikirim diselipi catatan, kembali dengan catatan. Mirip sepasang kekasih yang sedang berbalas surat cinta. Mulanya ingin menguak siapa penerima makan siang sang suami, Ila beranjak ingin memecahkan misteri di balik sikap suaminya yang dingin. Dari pria asing penerima makan siang suaminya itu, Ila mendapat gambaran tentang kesibukan orang-orang di luar rumah. Ia tak banyak tahu tentang kehidupan di luar rumah. Sehari-hari waktunya dihabiskan di dapur dan urusan domestik lainnya.

Diam-diam Ila merasa nyaman untuk curhat masalah pribadi dengan pria asing penerima rantang makan siang untuk suaminya itu. Lebih-lebih setelah ia mencium aroma perselingkuhan sang suami di luar rumah. Maka ketika pria asing itu mengajaknya untuk mengunjungi ke suatu tempat, Ila tanpa basa-basi menerimanya lebih berani : “tak usah banyak omong, ayo ketemuan!”

Perkembangan emosi keduanya digambarkan secara lamban melalui korespondensi yang diselipkan dalam rantang. Rasa cemas akan apa yang dialaminya sekarang, kerinduan akan masa lalu, hingga tanpa disadari keduanya telah sama-sama menabalkan dirinya sebagai manusia yang kesepian.

Bagi Saajan makan siang menjadi momen yang paling dinanti. Matanya segera tertuju pada rantang setiap kali kurir meletakkannya di atas meja kerjanya. Pikirannya melayang menebak-nebak apa yang akan diceritakan Ila hari ini. Ila juga sama. Ia tak peduli lagi bahwa makanan untuk suaminya dinikmati pria lain. Terus saja ia menunggu kisah demi kisah berikutnya, segera membuka rantang dan meraih kertas, lalu mencari posisi terbaik agar bisa membacanya dengan lebih nyaman.

Saajan di mata Ila menjadi perwujudan dari sosok suami ideal yang diangan-inginkan tapi gagal ia dapatkan dalam realitas kehidupannya. Sebaliknya, Ila berhasil mengisi kerinduan lelaki tua itu akan sosok istrinya yang telah tiada.


Ambiguitas, dan Antitesis Bollywood

Dabawalla dikenal sebagai jasa pengiriman lunchbox yang profesional. Dari hasil penelitian Universitas Harvard, terungkap hanya 1 dari 6 juta kali pengiriman terjadi kesalahan. Maka salah kirim rantang Ila adalah salah satu peritiwa langka. Dan pertemuan Ila dengan Saajan karenanya bukan sebuah kebetulan, melainkan takdir.

Dabawalla diangkat dari kisah nyata. Di Mumbai---dikenal juga dengan nama Bombay salah satu kota paling ramai di India, penduduk setempat menggunakan jasa Dabbawalla untuk mengirimkan paket makan siang. Mereka bekerja dalam tim. Masing-masing kurir menjemput rantang makan siang dari rumah ke rumah yang letaknya tersebar di pinggiran kota. Rantang berbahan logam dibungkus dengan tas diikatkan bergelantungan di belakang sepeda. Rantang diangkut menggunakan sepeda onthel menembus padatnya lalu lintas kota Mumbai, melewati terik matahari juga kadang menerjang derasnya hujan. Untuk sampai di tempat yang dituju, para kurir menyambung dengan transportasi kereta api. Rantang-rantang dilepas dari sepeda onthel, dicampur dengan rantang-rantang dari kurir lain, dinaikkan ke atas kereta sebelum kemudian dioper lagi ke kurir lainnya.

Susah membayangkan bagaimana cara Dabbawalla menandai agar rantang yang telah berpindah tangan dari satu kurir ke kurir lain dapat sampai ke tempat tujuan, makan siang yang diramu dengan penuh rasa cinta oleh para istri di rumah dapat dengan tepat dikirimkan kepada para suami di tempat kerjanya? Salah kirim paket makan bisa berakibat salah kirim paket cinta!

Selain media jadul rantang, dalam film ini kita akan menemukan mode-mode jadul lainnya. Di kantor Saajan bekerja, sebuah perusahaan asuransi, masih menggunakan cara-cara hitung manual berupa buku jurnal dan mesin hitung kalkulator. Tidak ada komputer apalagi internet. Lantas film ini dibuat berdasarkan setting tahun berapa?

Menurut Ritesh Batra selaku penulis cerita sekaligus sutradara film, cara kerja manual masih bisa ditemukan di beberapa tempat di India sampai saat ini. Begitu pula Dabbawalla. Semenjak kanak-kanak hingga ia telah kembali lagi ke Mumbai setelah sekian tahun menetap di Amerika, jasa pengiriman lunchbox itu masih tetap bertahan sampai sekarang. Konon telah berlangsung 120 tahun lamanya.

Begitulah India, yang mutakhir dan yang jadul bisa hidup berdampingan. Teknologinya, juga orangnya. Ada kelompok wanita-karir yang berprofesi di luar rumah dan ada pula wanita-ibu rumah tangga yang masih memegang teguh prinsip 3 M (Masak, Macak dan Manak), sebuah prinsip yang diterapkan dalam tradisi masyarakat Jawa kuno.

Ila sebagai representasi kelas menengah konservatif – Hindu, yang dalam film ini sebagai penganut 3 M, dan Saajan dari kalangan Nasrani Ortodox. Dari latar belakang dan karakteristik keduanya, mustahil Ila dan Saajan dapat menjalin hubungan asmara di alam nyata. Namun rantang makan siang itu memungkinkan hubungan keduanya terjalin.

The Lunchbox keluar dari mainstream film Bollywood. Di sini tak ada joget dan kisah bahagia di akhir cerita. Ada saja nyanyian yang didendangkan para Dabawalla sambil bertepuk tangan, tapi itu lebih mirip sebagai yel-yel pengusir lelah. Kesederhanaan setting yang hanya berpusat pada tiga lokasi yakni dapur, perjalanan ke kantor, dan kantor itu sendiri, justru menunjukkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks dari apa yang ditampilkan oleh film-Bollywood-mainstream. Penonton tak sekalipun akan diperlihatkan sosok Auntie, tetangga apartemen Ila yang tinggal di lantai atas, kawan ngerumpi di dapur. Karakter Auntie diperkenalkan hanya lewat suara yang keluar dari balik jendala dapur Ila.

Dialog Saajan yang diperankan oleh Irfaan Khan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris ketimbang Hindi. Sebagaimana diakui sang sutradara, Lunchbox ditujukan untuk penikmat film di seluruh dunia, bukan cuma pecinta Bollywood, di India sendiri khususnya. Apakah ini satu kemajuan atau kemunduran, bergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Bahwa ia ingin berbeda dari yang mainstream, bisa dikatakan film ini berhasil. Tentu saja perlu dicatat, peran Irfaan Khan. Aura keterasingan begitu memukau ia tampilkan lewat sorot mata dan raut mukanya.

Menutup tulisan ini saya kutipkan perkataan Shaikh kepada Saajan suatu kali ketika mereka berada dalam perjalanan di atas kereta api, “Dari kereta yang salah dapat membawa kita menuju ke stasiun yang benar”. Masing-masing tokoh dalam film ini berusaha untuk menemukan kebahagian, meski awalnya, mungkin, menempuh jalan yang keliru. Semoga...

Selengkapnya......

16 February 2008

Cinta yang meminta pemenuhan

Larry (Clive Owen) minta maaf kepada Anna (Julia Roberts) karena telah mengencani seorang PSK selama dirinya berada di New York. Dengan mengakui kesalahannya, Larry berharap Anna akan memaafkannya. Tapi hal yang sama tak dilakukan oleh Larry ketika dirinya mengetahui jika istrinya itu ternyata juga sudah berpaling kepada lelaki lain.

Larry bisa melakukan pengkhianatan, tapi pada saat yang sama ia tak menerima ketika pasangannya telah mengkhianatinya.

Sementara itu, Dan (Jude Law), kekasih gelap Anna, akhirnya mengungkapkan isi hatinya kepada Alice (Natalie Portman) bahwa Ia sebenarnya lebih mencintai Anna. Ia bisa mencintai Alice, perempuan yang selama ini dianggapnya sebaga pacar, tapi apa boleh buat hubungan mereka harus berakhir karena Dan lebih mencintai kekasih gelapnya ketimbang perempuan yang sudah menjadi pacarnya sendiri.

Dan berobsesi mewujudkan cintanya kepada Anna, perempuan yang lebih bisa memenuhi hasrat dan selera seksnya. Hal yang sama juga terjadi pada Anna. Meski ia sudah menikah dengan Larry, tapi kenikmatan bercinta ia dapatkan dari Dan.

Memang, sebenarnya Anna lebih dulu mengenal Dan. Ia baru mengenal Larry akibat ulah iseng Dan yang chatting dengan lelaki yang mengaku maniak sek. Dan tak menyadari jika keisengannya ini berakibat fatal. Ia akhirnya kehilangan cinta dari perempuan yang benar-benar dicintainya.

Untuk mewujudkan obsesi cintanya, baik Anna maupun Dan memilih meninggalkan kekasihnya masing-masing. Anna meminta cerai dari Larry. Tapi permintaan cerai tak begitu saja dituruti suaminya. Larry mengajukan syarat. Karena merasa selama ini telah ditipu, ia minta mengulang percintaannya dari awal. Ia ingin memperlakukan Anna seperti PSK yang melayani pelanggannya, dan setelah menikmati tubuh pasangan kencannya, maka Larry akan membayar upah atas servis yang telah diberikan Anna.

Setelah memenuhi persyaratan cerai dari suaminya, Anna kemudian menemui Dan. Alangkah terkejutnya Dan mengetahui jika persyaratan itu adalah dengan ritual penyerahan tubuh. Ia tak bisa menerima kenyataan ketika Anna yang sudah jatuh kepelukanya masih membagi tubuhnya kepada lelaki lain, meski pada saat itu statusnya masih sebagai suami Larry, lelaki yang membayar tubuhnya.

Dan menerima kerugian untuk yang kedua kalinya, karena harus mendapati kenyataan bahwa Alice, sang mantan pacarnya telah dikencani Larry yang sakit hati atas perlakuannya yang telah meniduri istrinya.

Menyadari tak dapat mewujudkan obsesi cintanya kepada seorang perempuan yang sudah bersuami, dan betapa terpukulnya setelah mengetahui jika mantan pacarnya telah dikencani oleh lelaki yang istrinya pernah dikencaninya, Dan akhirnya memutuskan untuk kembali membina hubungan cintanya dengan Anna.

Meski pernah dikecewakan Dan, toh Anna sebenarnya telah berniat akan menerimanya kembali. Dan sebenarnya juga akan memaafkan atas apa yang dilakukan Alice yang telah menyerahkan tubunnya selama beberapa malam kepada Larry.

Tapi pertemuan kedua pasangan yang telah sama-sama melakukan perselingkuhan dan berniat untuk saling memaafkan itu harus berakhir dengan kekecewaan. Dan yang sebenarnya tahu jika Alice telah berkencan dengan Larry, tapi karena ingin mendengar sendiri dari mulut Alice, berpura-pura seolah tidak tahu dan mencoba menanyakan hal itu kepada Alice.

Alice yang pada akhirnya tahu, jika Larry sebenarnya sudah memberikan pengakuan kepada Dan akan affairnya, merasa Dan datang tak dengan niat yang tulus. Dia tak ingin kesetiannya diuji, karena dia pun tak melakukannya kepada Dan. Alice ingin memulai hubungan dengan mengubur dan tidak membuka aib masa lalu, tapi pada akhirnya keduanya tak bisa bersama karena affair seks yang ingin ditutupnya dibongkar oleh pacarnya. Cinta akhirnya dikalahkan oleh kekuasaan dan otoritas tubuh.

Kalau memang cinta, apa artinya sebuah tubuh yang telah terjamah?

Oh tidak, tubuh tetap saja penting, bahkan lebih penting dari perasaan dan ungkapan cinta itu sendiri.

****

Dari film drama percintaan "Closer" di atas, dapat diperoleh pesan bahwa cinta tak cukup hanya dengan pemenuhan perasaan. Lebih jauh dari itu, cinta ternyata juga obsesi tubuh dan seks seseorang atas pasangannya. Cinta adalah di mana seseorang akan menyerahkan hati dan juga memasrahkan segenap tubuh kepada pasangannya. Tubuh, seks adalah penyerahan akhir dari sebuah cinta.

Faktanya, kebanyakan dari kita masih sulit untuk menerima ketika pasangan kita telah menyerahkan tubuhnya kepada orang lain. Dalam cinta, setiap pasangan menginkan pasangannya tidak membagi tubuhnya kepada orang lain. Setiap pasangan menuntut keutuhan tubuh pasangannya.

Jadi, apa sebenarnya inti makna dari cinta itu? Perasaan, emosi, tubuh atau seks?

Jika memang anda tahu betapa sakitnya dikhianati oleh pasangan, mengapa anda melakukan hal serupa kepada pasangan anda. Anda sakit dan tak bisa membayangkan ketika pasangan anda menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki atau perempuan lain, tapi pada saat yang sama anda bisa membayangkan dan bahkan melakukan hal yang anda harapkan tidak dilakukan oleh pasangan anda.

Tampaklah, dalam cinta, setiap pasangan menuntut lebih dari pasangannya dan di sisi lain tidak memberikan perlakuan yang setimpal. Cinta adalah di mana ada keinginan untuk menguasai. Maka jangan harapkan ada kesetaraan dan keadilan dalam hubungan percintaan. Menuntut lebih kepada pasangan, tapi di belakang mengurangi dengan membagikan sebagaian perasaan dan tubuh kepada pasangan yang lain.

Cinta berangkat dari obsesi untuk memiliki dan berharap selanjutnya bisa menikmatinya. Melewatkan waktu bersama, membagi kesedihan dan juga kesenangan. Cinta adalah memberi dan menerima, membagi dan juga meminta jatah bagiannya.

Dalam cinta, berlaku hukum alam, bahwa setiap yang didapat pada gilirannya bisa saja akan pergi. Ada kesenangan ada kesedihan. Menyadari hal ini, seharusnya setiap pasangan bersiap diri jika suatu saat akan kehilangan suatu yang menjadi obsesi cintanya.

Jika anda tak siap, maka lebih baik tak usah melibatkan diri dalam hubungan percintaan yang menuntut untuk menguasai semua yang anda miliki. Cukuplah mencari pemenuhan hasrat dan tubuh dari pasangan yang tidak meminta tuntutan lebih dari anda dengan mencari kontrak kencan yang tak ada tanggungan setelah kontrak kencan usai.

****
Closer diangkat dari cerita yang ditulis oleh Patrick Marber. Oleh sang sutradara, Mike Nichols, cerita ini diolah menjadi sebuah tontonan yang berkelas. Plus akting para pemainnya yang cukup matang. Hubungan percintaan di sini sangat kompleks, tak sekadar ditampilkan secara hitam putih. Perselingkuhan tak semata ditempatkan sebagai dorongan seksualitas, tapi juga melibatkan psikologi setiap tokohnya yang akan mengaduk-aduk emosi penonton.

Film ini menjadi nominator Oscar dan pemenang Gloden Globe untuk kategori pemeran pendukung terbaik, yakni Natalie Portman (Alice) dan Clive Owen (Larry).

Akting Portman sebagai Alice, gadis asal Amerika yang menjadi penari striptis di London memang sangat istimewa. Lulusan Univeritas Harvard ini, sebelumnya sempat ragu dirinya akan sanggup memerankan tokoh Alice yang harus setengah bugil di depan Larry (Owen). Tapi ia percaya akan kemampuan Mike sang sutradara yang akan mengarahkannya.

Sementara itu, untuk akting aktris senior Julia Roberts dinilai sejumlah pemerhati kurang maksimal. Namun demikian, akting Julia sebagai perempuan dewasa yang dingin, profesional di bidangnya, bagi saya sudah cukup memukau. Begitu juga Jude Law yang memerankan Dan sebagai seorang penulis spesialis catatan kematian (obituari), lelaki yang bimbang, dan terkadang cengeng.

Yang bisa dikatakan berhasil barangkali Clive yang berperan sebagai seorang dokter yang maniak sek, namun tetap menampakkan kewibawannya di depan perempuan yang dicintainya. Kendatipun sebagai lelaki penjaja seks, dia menunjukkan kekukuhan sikapnya untuk memiliki perempuan yang dicintainya.

Saya sendiri sempat dibuat kesal, karena kenapa justru Larrie yang beruntung mendapatkan Anna, bukan Dan. Tapi di sisi lain, saya merasa iba kepada Alice, gadis muda yang mencintai Dan namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Juga Anna yang pada akhirnya harus mempertahankan keutuhan keluarganya bersama lelaki yang sebenarnya tak begitu dicintainya.

Barangkali begitulah hukum dalam hubungan percintaan bahwa cinta tak harus mendapatkan pemenuhan. Hubungan cinta yang terbentuk pada akhirnya adalah sebuah proses kompromi, yang masing-masing pihak tak bisa menuntut kepuasan dari pasangannya, tak bisa mempertahankan obsesi dan egoisme cintanya. Salah satu, atau keduanya harus ada yang mau mengalah demi mempertahankan keutuhan cinta.

Meski Closer sudah cukup lama dirilis, tapi kekuatan cerita dan kematangan penggarapan film ini layak untuk ditonton kapanpun. Film drama percintaan ini masih merepresentasikan wacana hubungan percintaan dewasa ini.


*terima kasih untuk kawan pejalansesat, yang telah mereferensikan film ini untuk membuka wacana percintaan saya yang masih amat konvesional.

Selengkapnya......

10 January 2008

Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita

Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.

Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.

Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.

Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.

Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?

Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.

Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).

Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).

Ambiguitas Kebahagian

Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.

Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.

Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.

Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.

Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.

Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.

Masalahnya di sini pemaknaan atas "keberhasilan" dan "kebahagian" yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.

Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata "gagal").

Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.

Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha...siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).

Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.

Selengkapnya......

09 December 2006

Hantu Jeruk Purut: Masa Lalu yang Terusik

Darah segar mengucur dari tubuh Ana. Makhluk aneh baru saja menyerangnya. Dengan jalan tertatih ia meraih gagang telepon dan berbicara dengan seorang perempuan sebelum akhirnya ia terkapar tak berdaya.

Begitu tragis nasib yang menimpa Ana. Belum sempat ia merampungkan kisah misteri “Hantu Berkepala Buntung” yang konon menunggui TPU Jeruk Purut, ia mati dengan cara yang mengenaskan. Sebelumnya Ana mendapatkan teror agar menghentikan penulisan cerita misterinya itu. Tapi entah kenapa, ia masih nekat melanjutkannya.

Teror berkelanjutan juga dialami oleh Airin, kenalan baru Ana, yang diberi wasiat melanjutkan cerita misteri itu sebelum dirinya meninggal. Bahkan teror yang dialami Airin juga menimpa orang-orang terdekatnya. Ibu Airin beberapa kali dikejar-kejar hantu perempuan dan juga hantu tak berkepala di rumahnya.

Seorang teman dekat Airin di sekolah kemudian menasehatinya agar tak melanjutkan cerita misterinya itu. Tapi Airin tetap saja tak memedulikan. Ia merasa harus melaksanakan amanat Ana, penulis kisah-kisah misteri yang menjadi idolanya.

“Aku ingin seperti mbak,” ucap Airin ketika bertemu Ana di sebuah cafe.

Barangkali keinginan itu yang mendorong Airin tetap melanjutkan penulisan ceritanya meski harus mendapatkan teror. Dan teror terakhir hampir saja membununya ketika ia terlibat pertikaian dengan Nadine yang kerasukan hantu Jeruk Purut. Untung saja, Airin selamat. Namun Nadine terbunuh tertusuk oleh pisau setelah gagal membunuh Airin di sebuah rumah sakit tua. Sebelum Nadine, Valen yang juga teman Airin telah mendapatkan teror. Ia mati tersengat listrik tegangan tinggi.

Film garapan Koya Pagoya yang mengusung tagline “Film Horor Terhoror di Indonesia” ini dari awal memang menegangkan. Cerita dibuka dengan terbunuhnya sekelompok pemuda di pemakaman Jeruk Purut. Kejadian ini kemudian tersebar luas di masyarakat. Hantu tak berkepala pun diduga kuat menjadi penunggu makam angker itu.

Film ini dibintangi oleh Angie Virgin(Airin), Sheila Marcia (Nadine) dan Samuel C (Valent). Diantara ketiga tokoh ini terselip kisah cinta segitiga. Valent, kekasih nadine, diam-diam mencintai Airin. Beberapa kali ia menyatakan cintanya, namun tak ditanggapi oleh Airin. Belakangan hal ini diketahui Nadine ketika dirinya menemukan foto Airin di dompet Valen. Keributan kecilpun terjadi.

Namun cinta segitiga itu bukan menjadi konflik utama dalam film yang diluncurkan serentak pada 30 November 2006 di bioskop seluruh Indonesia ini. Konflik utama muncul ketika Airin memaksa melanjutkan tulisan tentang hantu Jeruk Purut itu, sementara teror terus mendatangi dirinya dan juga orang-orang terdekatnya.

Airin memang akhirnya bisa menyelesaikan novelnya, akan tetapi dua orang rekannya telah menjadi korban. Ia berhasil membongkar kisah misteri di balik legenda hantu Jeruk Purut itu. Di ceritakan bahwa hantu kepala buntung itu bernama Pasteur yang dihajar warga gara-gara memerkosa seorang gadis yang akan segera menikah dengan pemuda di kampungnya.

Beberapa bagian dalam film ini sempat membingungkan penonton. Seperti ketika seorang perempuan berlari-lari di medan terbuka, entah apa dan siapa yang tengah mengejarnya. Adegan ini disajikan secara berulang di beberapa bagian sehingga alur seolah berlompatan tidak ada penjelasan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan dalam film ini adalah logika cerita. Mungkinkah para anak muda yang habis dugem di diskotik kemudian memburu hantu di kuburan. Memang mungkin, tapi sangat kecil. Kemudian soal mengelilingi kuburan sebanyak tujuh kali, mitos dan orang yang mengelilingi jumlahnya harus ganjil, ini mitos dari mana? Dan juga rumah sakit yang serba aneh ketika si tokoh utama (Airin) mendapatkan teror dan hampir terbunuh. Setting ini sebuah kebetulan yang terkesan dipaksakan.

Memang apapun dalam dunia film, yang dalam hal ini masuk dalam katagori fiksi, bisa menjadi cerita. Dalam karya sejenis surealis, alur cerita menjadi tidak begitu penting. Alur bisa saja meloncat-loncat. Namun kelogisan tetap diperlukan untuk meyakinkan penonton. Apalagi konon film ini diangkat dari kisah masyarakat di Jakarta tentang makam Jeruk Purut.

Selain itu, beberapa bagian sebenarnya masih bisa dieksplorasi lagi untuk menghadirkan suasana yang lebih mencekam.

Terlepas dari mitos atau bukan, film ini berhasil menghipnotis ketegangan penonton dari awal hingga akhir. Gambar-gambar yang disajikan dan juga latar suara mendukung tema dalam film ini:horor!

Selengkapnya......

03 April 2006

Romantisme Terlarang

Judul : Brokeback Mountain
Sutradara : Ang Lee
Skenario : Annie Proulx, Dian Ossana, Larry McMurty
Pemain : Heath Ledger, Jake Gyllenhaal, Anne Hathaway, Michelle Williams, Randy Quaid
Durasi : 134 menit
Katagori : Drama


[Rubrik Film Suara Merdeka CyberNews]

Pria itu memandangi pakaian yang menggantung di dinding. Sorot matanya beredar ke arah kemeja, jaket, topi, hingga sepatu yang berada di bawah gantungan baju. Benda-benda itu mengingatkannya pada seseorang. Memorinya langsung beralih ke sebuah alam pegunungan. Dua pasang pria tengah berkuda. Di belakangnya ratusan biri-biri mengikutinya. Adegan-adegan berloncatan. Dua orang pria tengah memancing. Hingga sampai pada adegan terakhir sebelum mereka berpisah dan terlibat adu mulut.

Ia masih menatap pakaian yang menggantung di dinding. Mukanya memerah seperti hendak menitikkan air mata. Ia tampak pilu. Pakaian itu dipeluknya dalam-dalam sebelum kemudian ia memutuskan memungutnya. Dia akan membawanya pulang, menyimpan pakaian itu, entah mungkin untuk dijadikan teman tidurnya.

Ennis del Mar, nama pria itu. Ia baru saja ditinggal mati oleh seorang sahabat yang juga kekasihnya. Sebelum perpisahan itu, keduanya memang sempat terlibat adu mulut karena Ennis menolak ajakan Jack Twist untuk hidup bersama di Meksiko.

Di atas adalah potongan adegan penutup dalam film Brokeback Mountain. Film yang digarap oleh Ang Lee, sutradara asal Taiwan ini becerita tentang dua pasang koboi penggembala biri-biri yang kemudian terlibat hubungan asmara. Ennis del Mar diperankan oleh Heath Ledger, sementara Jack Twist oleh Jake Gyllenhaal.

Mereka dipertemukan oleh profesi sebagai penggembala biri-biri di lembah Brokeback Mountain. Waktu itu keduanya belum genap berusia dua puluh tahun. Perasaan cinta dua pasang remaja dilukiskan begitu lirih, tak terucapkan lewat kata.

Percayakah Anda, jika dibalik sosok koboi yang tangguh ternyata seorang gay? Citra koboi sebagai pria macho seolah-olah diruntuhkan karena sang tokoh utama terlibat hubungan asmara sesama jenis. Simaklah kisah berikut ini.

Sejak awal ada yang lain dengan tatapan Jack kepada Ennis. Tatapan yang teduh, laiknya pria yang sedang terpesona oleh kesempurnaan perempuan. Hingga tiba suatu malam, halilintar menyambar, tiupan angin menerpa sebuah tenda perkemahan yang dikelilingi latar pegunungan yang menakjubkan, memecah hasrat birahi dua pasang pria yang tengah terbaring di dalamnya.

Namun setelah itu, keduanya berpisah karena tugas menggembala biri-biri telah usai. Mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing, menjalani kehidupan normal seperti orang kebanyakan. Ennis menikah dengan seorang perempuan dan telah melahirkan anak, begitu pula dengan Jack. Keduanya kini menjadi kepala keluarga bagi istri dan anaknya.

Persoalan tak berhenti sampai di sini. Bara asmara ternyata tak juga padam kendati keduanya telah berkeluarga. Ennis tak kuasa menahan kangen ketika mantan kekasihnya, Jack berkunjung ke rumahnya, setelah empat tahun lamanya mereka berpisah. Pertemuan itu berlangsung amat mesra. Tanpa disadari, Alma, istri Ennis memergoki ketika dirinya tengah berciuman intim dengan teman prianya. Sungguh tak habis pikir, suami yang selama ini telah melahirkan anak darinya ternyata seorang gay!

Berhari-hari Ennis menghabiskan waktu bersama Jack dengan alasan pergi memancing bersama kawan lama. Padahal mereka pergi ke hotel untuk bercinta. Jack seolah-olah menutup mata atas penderitaan sang istri yang memendam kekecewaan mengetahui kenyataan atas rahasia dirinya. Puncaknya terjadi ketika sang istri akhirnya tak tahan lagi dan meminta cerai.

Mengetahui kabar itu, Jack datang menemui Ennis untuk mengucapkan selamat atas perceraiannya. Namun apa yang terjadi, Ennis justru mengusirnya. Jack pun kemudian berlalu membawa-serta kekecewaan. Adegan ini dilukiskan begitu hidup dengan pengarahan ekspresi raut muka Jack yang sangat mendukung. Mukanya memerah. Namun Jack buru-buru mengusap air mata itu sebelum jatuh di pipinya.

Penataan rias dan pengarahan gaya juga diperhatikan ketika dua pasang gay-koboy itu terbangun di pagi hari dengan raut muka yang cerah. Ada ekspresi kepuasan yang ingin ditunjukkan kepada pemirsa setelah semalam pasangan itu tidur bersama.

Sikap Ennis tersebut bisa dipahami, karena saat itu dia tengah kehilangan dunia keluarganya akibat perceraian. Dia menyadari kekeliruan yang telah dilakukan. Beruntung, ia masih punya hak asuh atas anak perempuan semata wayangnya. Setidaknya ini bisa untuk menebus kesalahannya.

Meski demikian, kisah asmaranya dengan Jack terus berlanjut. Mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Ketidaktegasan sikap Ennis ini memicu kejengkelan Jack. Jack marah karena Ennis menolak untuk diajak ke Meksiko, sementara Ennis masih sering minta mereka bertemu. Padahal, andaikata Ennis bersedia, Jack menjamin mereka bisa hidup berdua bebas di sana.

Sejak awal cerita sampai pada bagian ini, kita bisa melihat dominasi peran salah satu pasangan gay-koboy itu. Dalam hal ini, Jack lah yang lebih kukuh menunjukkan kesetiaan. Ia siap hidup bersama Ennis. Sementara Ennis menolak karena masih punya keluarga, yakni anak semata wayangnya.

Selain itu, keberatan Ennis menerima tawaran Jack untuk hidup bersama karena pengalamannya sewaktu kecil yang melihat pasangan gay dibunuh. Ia tak ingin seperti itu. Ennis khawatir akan pandangan negatif dari masyarakat. Tapi di sisi lain, Ennis masih merindukan kehadiran Jack, ia masih ingin bertemu walau cuma sesekali waktu. Ia tak bisa menolak perasaan kangen itu kendati pikiran-sadarnya sebenarnya menolak.

Peran dominan salah satu pasangan gay, yang diwakili oleh Jack, juga tampak saat mereka melakukan hubungan badan. Peran gay-laki dan gay-perempuan tampak di sini. Hubungan sesama gay itu digambarkan secara konvensional. Ennis yang memerankan gay-perempuan bisa dilihat ketika ia menyandarkan wajahnya di dada Jack. Ennis seolah-olah menemukan sosok pelindung pada diri Jack.

Apakah dengan begitu bisa dikatakan bahwa Jack sebenarnya seorang gay tulen? Tapi Jack juga beristri, ia juga telah memiliki anak. Artinya, baik Ennis ataupun Jack sebenarnya memiliki selera biseksual. Keduanya gay yang terkamoflase. Gay yang beridentitas semu, dengan kepribadian ganda.

Bisa jadi hubungan asmara dua koboy-gay itu karena desakan keadaan dan kebutuhan. Keadaan, karena setiap hari mereka bersama dan hanya ada dua orang yang berada di lembah Brokeback Mountain itu ketika keduanya masih menjadi penggembala biri-biri. Tak ada orang lain, apalagi perempuan. Usia mereka yang waktu itu masih remaja, mendorong keingintahuannya akan cinta. Hal inilah yang kemungkinan mendorong mereka menyalurkan hasrat biologis.

Karena kedua pasangan gay itu tak bisa menawarkan resolusi atas penyelesaian masalahnya, cerita itu pun berakhir dengan ending yang menyedihkan. Jack meninggal karena sebuah kecelakaan. Pasangan gay itu tak jadi mewujudkan hidup bersama dalam sebuah keluarga.

Rupanya ada sistem sosial yang melingkupi keputusan akhir itu, bahwa hubungan mereka tak direstui oleh masyarakat. Kekhawatiran Ennis terjadi. Ia teringat pasangan gay yang terbunuh, yang pernah ia lihat sewaktu kecil. Mungkinkah pengarang atau sutradara sengaja membunuhnya, menentukan takdir tokohnya dengan ending yang ia kehendaki? Jack sengaja dibunuh oleh pengarang ataupun sutradara, melalui tangan kanan kawanan penjahat, atau sekelompok masyarakat yang tidak suka? Jika benar demikian, isu gay yang ditawarkan dalam film ini gagal.

Namun demikian, bagaimana sutradara mengemas isu gay ini menjadi lebih hidup, lebih berbicara tentang sisi manusiawinya, film ini berhasil, karena bisa manyajikan isu gay jauh dari kesan kotor dan jorok. Persoalan gay akhirnya bisa ditempatkan sebagai persoalan kemanusiaan universal.

Bahwa ternyata film yang sebelumnya telah memenangkan beberapa penghargaan dan dinominasikan dalam delapan katagori akademi Oscar 2006 ini akhirnya gagal meraih tahta film terbaik, dikalahkan oleh Crash yang mengusung isu rasial, tidak mengurangi kualitas film ini. Setidaknya keluarnya Ang Lee sebagai sutradara terbaik, sudah cukup mengobati kekecewaan para penggemar film ini.****


Selengkapnya......

28 March 2006

Ambisi dan Kecemasan Kaum Tua

Judul : Kicking & Screaming
Pemain : Will Ferrell, Robert Duvall, Kate Walsh, Mike Ditka, Musetta Vander
Sutradara : Jesse Dylan
Durasi : 1.30 menit
Produksi : Universal Picture
Katagori : Komedi

[ Rubrik Film Suara Merdeka CyberNews ]

Keinginan orang tua agar anaknya menjadi seperti yang dikehendakinya belum tentu sejalan dengan kemauan sang anak. Seorang anak yang baik tentu ingin menyenangkan orang tua. Namun bila tak ada kemauan, maka justru akan menjadi beban bagi si anak.

Seperti yang dialami oleh Phil Weston, yang menjadi anak kandung dan sekaligus anak asuh dari seorang pelatih sepakbola liga anak-anak ternama dalam film Kicking & Screaming. Obsesi Buck, demikian nama sang ayah, agar anaknya menjadi pemain bola yang handal tak kesampaian. Putra semata wayangnya itu kerap kali mengecewakan.

Phil menjadi pesakitan karena tak bisa mewujudkan keinginan ayahnya. Ia sadar bahwa dirinya memang tak punya bakat dalam olahraga. Kendati ia telah berusaha, hasilnya tetap tak memuaskan.

Ketika Phil mengakhiri masa lajangnya, Ayahnya pun seperti tak mau kalah, ia kembali menikah di usia senjanya. Dibalik itu, tujuan yang sebenarnya, Buck ingin punya keturunan yang bisa mewujudkan obsesinya, yakni bisa menjadi pemain bola yang tangguh bagi tim asuhannya.

Menonton film ini kita akan menyaksikan adegan-adegan yang menggelikan. Bagaimana istri sang ayah dan anak itu melahirkan anak secara bersamaan. Selain itu, ekspresi Phil Weston yang diperankan oleh Will Ferrell, tampil dengan sosok yang polos. Kebegoannya ini sudah menjadi kelucuan tersendiri.

Akhirnya keinginan Buck terwujud. Adik Phil yang juga sekaligus menjadi paman bagi anaknya menjadi ujung tombak bagi tim asuhannya. Sebaliknya, anak Phil, cucu Buck, ditempatkan pada pemain cadangan. Phil tak terima atas kenyataan itu. Ia kemudian bertekad menjadi pelatih bagi tim anaknya untuk mengalahkan tim asuhan ayahnya.

Phil merekrut Mike Ditka, musuh bebuyutan sang ayah, yang juga tetangganya, sebagai asisten pelatih bagi tim baru anaknya. Ia harus berusaha ekstra karena tim yang diasuhnya sekarang berada di urutan bawah dalam klasemen liga sepakbola anak-anak. Dari pergaulan dengan Dikta itu, Phill yang semula tak pernah minum Kopi menjadi kecanduan. Sehari saja ia tak bisa melewatkan untuk tidak minum kopi.

Harapan untuk mengalahkan tim ayahnya semakin menjadi-jadi. Mereka bertaruh, sang ayah akan memberikan bola Pele bersejarahnya jika tim anaknya itu mampu mengalahkan timnya.

Penonton dibawa emosi ketika Phil berlaku aneh. Dengan mengenakan seragam pelatih yang ia jahit sendiri itu, ia menjadi berlaku seperti orang tidak waras. Yang ada dibenaknya, timnya harus mengalahkan tim ayahnya itu. Beruntung dia punya dua pemain Italia, yang dipinjam dari pedagang daging kenalan Dikta. Tapi karena tekanan Phil, anak asuhnya menjadi ketakutan. Mike Dikta, pun tak membantunya lagi setelah keduanya terlibat bentrok.

Ketegangan benar-benar berada dipuncak ketika Phil teriak-teriak di pinggir lapangan, bahkan ia mengintimidasi pemain tim ayahnya sampai kemudian diperingatkan oleh wasit. Ia benar-benar menjadi kegilaan berlari-lari di pinggir lapangan. Ia juga memarahi anak asuhnya. Akibatnya, mereka menjadi ketakutan, dan tak bisa tampil maksimal.

Ditengah jeda permainan, tiba-tiba saja Phil menyadari kesalahannya. Ia menemui anaknya yang selama ini ia tempatkan di bangku pemain cadangan. Ia bisa merasakan betapa sakitnya waktu itu ketika ayahnya juga melakukan hal yang sama.

Kejengkelan penonton seperti terobati ketika Phil kembali sadar. Menjelang babak kedua itu, Phil memberikan pengarahan yang bisa membangkitkan kembali moral para anak asuhnya. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu menekan. Ia minta anak-anak asuhnya itu bermain tanpa beban tak usah dibebani untuk kemenangan. Yang penting kalian main yang baik. Seketika itu juga ia berubah menjadi sosok yang amat bijaksana.

Diakhir cerita, Tiger, tim asuhannya, mampu menundukkan tim ayahnya. Yang menjadi pencetak gol terakhir, gol penentu menjelang menit-menit terakhir pertandingan itu tak lain adalah anaknya sendiri. Sang kakek kini harus mengakui kehebatan cucunya. Begitu pula Buck pun harus mengakui kehebatan anaknya, yang selama ini selalu dikalahkannya. Namun Phil berubah pikiran, ia menolak menerima bola Pele yang telah dijanjikan sebagai taruhan.

Selengkapnya......

28 January 2006

Satire Sebuah Kerajaan Surga

Judul : Kingdom of Heaven
Sutradara : Ridley Scott
Skenario : William Monahan
Pemain : Orlando Bloom, Eva Green, Jeremy Irons, David Thewlis,
Brendan Gleeson, Marton Csokas, dan Liam Nelson.
Produksi : 20 Century Fox
Durasi : 145 menit
Katagori : Aksi/Petualangan/Drama


Pertikaian berkepanjangan antara umat Kristen dengan Muslim masih terus berlangsung di perbatasan Palestina dan Israel. Keduanya merasa memiliki Yerussalem (Palestina) yang diangap sebagai tanah suci. Bagi kaum muslim, Yerussalem menjadi tempat suci karena di sana terdapat Baitul Maqdis.

Tanah suci akhirnya menjadi penyebab pertikaian, yang telah dimulai sejak beratus-ratus tahun silam, antara umat muslim dan umat nasrani, hingga sekarang.

Kenyataan itu teramat ironis. Tanah suci yang diagungkan oleh kedua belah pihak justru menjadi tempat pertumpahan darah. Menjadi saksi pertikaian antar umat beragama. Benarkah semua itu dilakukan demi membela agama? Ridley Scott, sutradara film Kingdom of Heaven menjawab sebagaian pertanyaan itu lewat karyanya ini.

Film ini mengambil setting tahun 1184, bersamaan dengan berlangsungnya Perang Salib. Balian, yang diperankan oleh Orlando Bloom adalah seorang pandai besi, tinggal di sebuah desa di Perancis. Ia kehilangan kepercayaannya setelah istri dan anaknya meninggal dunia. Ia kemudian dikucilkan oleh masyarakat setempat karena sang istri meninggal bunuh diri.

Datang Godfrey (Liam Nelson), yang mengaku baron dari Ibelin, dan punya 100 tentara perang di Yerussalem. Ia jauh-jauh datang ke desa kecil di Perancis itu untuk menemui anaknya, yang tak lain adalah Belian. Sekaligus juga minta maaf, karena sebenarnya ia tak memerkosa ibunya, seperti yang diketahui Belian, tapi mereka saling mencintai.

Godfrey mengajak Belian ke Yerussalem. Di sana mereka bisa menebus dosa. Dosa Godfrey yang telah menelantarkan anaknya, dan Belian yang harus menebus dosa istrinya karena mati bunuh diri.

Tapi dijalan mereka bertikai dengan pasukan dari Perancis, yang ingin meminta Balian karena telah membunuh uskupnya. Godfrey, mengalami luka serius, akibat tertusuk anak panah. Sesampai di Ibelin, Sang Raja sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.

Sebelum meninggal, Ia berpesan pada anaknya, Ibelin, untuk pergi ke Yerussalem. Katanya, Ia ingin melihat dunia baru, di mana terdapat sebuah kedamaian di tanah suci. Umat nasrani dan muslim bisa hidup berdampingan. Ia menyebutnya “Kindom of Heaven”, sebuah Kerajaan Surga, kerajaan yang dibentuk atas dasar nurani. Dipenuhilah permintaan sang ayahanda, Belian pergi ke Yerussalem.

Dikisahkan sepeninggal raja Baldwin IV, kondisi daerah itu kembali berkecamuk. Pertikaian kembali terjadi antara Yerussalem dengan tentara muslim yang dipimpin oleh Saladin, Raja Sarachen.

Hal itu disebabkan oleh sekelompok bangsawan Yerussalem yang fanatik terhadap agamanya. Kelompok ini berpandangan orang muslim harus diperangi, karena mereka orang kafir. Kelompok ini diwakili oleh Guy de Lusignan, dan Reynald de Catilon, orang tangan kanannya..

Akhirnya Yerussalem diserahkan kepada pihak muslim setelah Putra Godfrey (Balian) tak mampu menahan serangan tentara Saladin. Diceritakan bahwa bahwa pertikaain di Yerussalem masih terus berlangsung antara kaum muslim dan nasrani.

Scott, sang sutradara, memang getol menggarap film-film epik seperti drama historical. Salah satu film besutannya empat tahun lalu, Gladiator, berhasil memperoleh penghargaan Best Picture pada Piala Oscar. Adegan dalam Kingdom of Heaven hampir serupa dengan Gladiator.

Menonton Kingdom of Heaven juga mengingatkan kita pada film Troy karya Wolfgang Petersen dan Alexander karya Oliver Stone. Scott dinilai lebih banyak meniru daripada membuat yang benar-benar baru. Namun dalam Kingdom of Heaven, cerita lebih mendalam, dan lebih banyak bercerita tentang motivasi tokohnya ketimbang menyuguhkan aksi seperti dalam Gladiator.

Yang menarik dari film ini adalah dialog antar tokoh yang sangat memukau. Seperti dikatakan oleh Godfrey pada Belian sebelum ia meninggal, “Pada hari kiamat nanti, kamu bukan lagi seperti dirimu saat terlahir, tapi dirimu yang ada yang telah kau buat sekarang ini.

Ucapan Godfrey ini meyakinkan keraguan Belian yang ingin menebus dosa dari masalalunya yang gelap. Selain itu, Godfrey juga banyak mengajarkan pada Belian tentang kearifan seorang ksatria.

Ada perkataan menarik yang keluar dari mulut Belian. Ia mengatakan pada tentara dan rakyat sipilnya bahwa mana yang lebih suci, apakah tanah kelahiran atau tempat ibadah. Siapa yang lebih berhak, apakah orang muslim atau nasrani? Dikatakan semuanya berhak, baik dia dan warganya maupun Saladin. Menurutnya, warga Yersusalem berperang untuk memebela harga dirinya.

Sayang, film ini lebih banyak menyoroti dari sisi kaum nasrani ketimbang kaum muslim. Hanya diceritakan bahwa Saladin, Raja Sarachen, adalah musuh Yerussalem. Sementara kehidupan Saladin dan pasukannya sama sekali tak disinggung.

Penonton barangkali akan kecele karena Scott tidak membahas tentang religiusitas. Bagaimana pendapat orang nasrani tentang Perang Salib, apakah mereka menganggapnya sebagai peperangan kudus untuk mengontrol Yerussalem dari kaum muslim? Tapi sang sutradara lebih banyak menceritakan tentang kekuatan dan kehebatan personal ketimbang membahas isu teologi.

Tapi upaya yang dilakukan sang sutradara film ini layak diapresiasi, karena mampu menyajikan cerita secara proporsional. Meski diceritakan dari sudut pandang orang nasrani, namun tidak lantas kemudian mencela pihak islam. Film ini juga jauh dari kesan sebagai Propaganda Barat, seperti kebanyakn film-film lain yang banyak memojokkan islam.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, film Kingdom of Heaven ini layak ditonton untuk menambah wawasan kita tentang konflik yang terjadi di Timur Tengah dan Barat selama ini. Film ini sekaligus juga menjadi tempat rekreasi, karena tidak melulu berkisah tentang peperangan, tapi juga terselip kisah percintaan antara Belian, yang diperankan oleh Orlando Bloom dan Ratu Sybellia yang diperankan oleh Eva Green.

Versi lain dipublikasikan di Suara Merdeka Cyber News

Selengkapnya......