Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

17 July 2007

Jika Menulis adalah Jalan Hidupmu

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

..................................................



Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak "Si Binatang Jalang" itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya.

Hunter Bell, redaktur di The Atlanta Journal, tempat Erskine mulai meniti karir jurnalistik profesionalnya, menasehatinya agar mengurungkan niatnya. Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap Erskine akan berubah pikiran.

Namun Skinny—begitu ia biasa disapa oleh rekan kerjanya-- sudah membulatkan tekad. Keinginnannya untuk melibatkan diri secara total dalam dunia penulisan kreatif tak bisa dicarikan tandingannya. Dan kini hasrat itu harus disalurkan, ia harus segera dituntaskan, entah apapun keadaannya.

Sebenarnya jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel, seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya setelah bekerja selama sepuluh tahun di The Atlanta Journal. Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya Gone With The Wind. Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah aku suatu saat membuat keputusan serupa?

Maka siang itu, setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer The Atlanta Convention and Tourist Bureau, atas liputannya yang memuaskan, dia menegaskan keputusannya untuk menjadi penulis fiksi profesional. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.

****

Akhir pekan ia meninggalkan Atlanta menuju Negara Maine, sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota. Pedesaan dengan perbukitan yang mengombak oleh beragam pepohonan rindang, padang rumput yang lebat memagari sungai-sungai kecil berliku, menjadi hunian barunya. Ia berpikir tempat ini sangat cocok untuk menulis.

Musim panas segera berakhir, ia mulai mengumpulkan kayu untuk perapian di musim dingin. Ia mananam kentang di ladang untuk di makan. Siang hari ia habiskan di ladang dan mengumpulkan kayu, malamnya ia menulis, sisanya untuk istirahat. Secara matematis, 24 jam dalam sehari ia habiskan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk menulis, dan sisanya 8 jam untuk beristirahat.

Belasan, hingga puluhan cerita pendek telah ia tulis dengan mesin ketik butut yang ia beli dari hasil memeras keringatnya menjadi buruh kasar di pabrik minyak biji kapas ketika dirinya masih duduk di bangku setingkat SMU. Ia bekerja di malam hari, berangkat ketika orang di rumah mulai tertidur dan kembali dengan mengendap-endapkan langkah kakinya agar orang di rumah tidak terbangun dan mengira ia tertidur pulas semalaman. Sebentar kemudian dia bergegas berangkat ke sekolah.

Sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai pastor di gereja di dekat tempat tinggalnya sudah mencukupi. Namun karena keinginannya untuk bekerja, membuatnya mau bekerja apa saja. Semasa sekolah ia melakukan pekerjaan apa saja, menjual koran, menjadi juru ketik, menulis berita didaerahnya untuk beberapa surat kabar. Rupanya minat menulisnya tanpa disadari mulai tumbuh. Ketika kuliah di Universitas Virginia dia melanjutkan minat menulisnya dengan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar.

Ia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke beberapa surat kabar. Namun tak satupun dimuat. Ia sudah cukup senang ada satu-dua yang memberikan penjelasan alasan penolakan. Kegiatan ini terus dilakukan, mengirim cerpen, dan mendapati surat penolakan, hingga surat-surat itu menumpuk. Diam-diam memandangi tumpukan surat penolakan dan membacanya menjadi kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.

Seorang redaktur menyarankan agar dia meniru cara menulis para penulis yang sedang populer. Seorang redaktur lain menyarankan agar dia menekuni bidang pekerjaan lain mengingat bisnis surat kabar yang tidak menentu akibat krisis yang sedang melanda Amerika, sehingga peluang untuk menulis cerpen semakin sempit. Komentar-komentar itu dibacanya, diambil seperlunya agar ia tak sakit hati dibuatnya.

Dengan persediaan uangnya yang mulai menipis ia masih butuh membeli perangko untuk mengeposkan surat, membeli beberapa batang rokok, kopi dan gula untuk teman mengetiknya di malam-malam hari. Dia bertekad menjual buku-bukunya yang dikumpulkan dari hasil menjadi pereview buku di The Atlanta Journal. Koleksi bukunya mencapai ratusan, dan kebanyakan adalah novel dan kumpulan cerpen. Ia pergi ke kota, mengunjungi tempat penjualan buku bekas hingga akhirnya bertemu kenalan yang menawarinya untuk menjalankan bisnis buku.

Bersama kawannya ia membuka kios buku. Buku-buku koleksinya dan beberapa buku tambahan dari agen penerbit ditata di rak. Namun bisnis buku ini bukannya menghasilkan tapi malah membuatnya makin terlilit hutang. Ia sudah kehabisan akal bagaimana untuk mendapatkan uang. Yang jelas dia hanya ingin menjadi penulis, bukan berbisnis buku.

Dia berjanji kepada dirinya sendiri, pekerjaan apapun, diluar menulis, dilakukan hanya untuk sementara dan semata-mata untuk tujuan bertahan hidup, memiliki tempat tinggal, dan berpakian layak.

Seorang teman lama mengajaknya ke suatu tempat, yang kemudian dia tahu tempat yang dituju itu adalah bank. Pegawai bank menanyakan jaminan apa yang dapat diberikan Erskine, kapan dia sanggup mengembalikan pinjaman. Erskine tak punya jaminan yang cukup bernilai, kecuali sebuah mobil tua dan mesin ketik usang. Temannya meyakinkan pegawai bank kenalannya itu bahwa Erskine adalah seorang calon penulis. Dia serius ingin menjadi penulis, dan kelak bukunya akan diterbitkan. Pegawai bank yang mengaku sebenarnya juga ingin menjadi penulis itu mengangguk dan segera menyuruh stafnya mencairkan pinjaman sebesar $1000.

****

Erskine pasti sudah memperhitungkan keputusannya meninggalkan pekerjaan demi menjadi penulis fiksi profesional. Godaan akan selalu menghantui bagi siapa saja yang mengambil keputusan seperti dirinya, yang hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup, sementara hasil menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung terpenuhi.

Mental sekuat baja, tak bisa ditawar, harus dipersiapkan agar mampu menjalani masa-masa yang paling sulit, masa di mana tiada jaminan finansial yang memadai. Jika tidak, ia akan tergoda untuk mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan yang bagi kebanyakan orang lebih rasional, pekerjaan yang lebih bisa menghasilkan uang. Dan keinginan menjadi penulis fiksi profesional menjadi angan-angan yang lebih layak untuk ditertawakan.

Memang Erskine pada akhirnya dapat memetik hasil jerih-payahnya. Perlahan-lahan cerpennya mulai dimuat di koran kecil, hingga menembus Scribner’s Magazine, sebuah keinginan yang sudah dinanti-nantinya menaklukan media yang memiliki distribusi luas.

Kumpulan cerpennya yang diberi judul American Earth dibukukan. Tak lama kemudian menyusul novel perdananya Tobaco Road, yang terinspirasi dari sebuah kehidupan di perkampungan miskin di dekat tempat tinggalnya, sebuah jalan yang dibuat dengan menggelindingkan tong yang diisi tembakau yang diawetkan. Untuk pertama kalinya, ia menerima bond royalty dari penerbitan buku.

Hingga novel God’s Littele Acre yang menurutnya paling memuaskan, You Have Seen Their Faces, dan novelnya Tobaco Road yang telah dipentaskan lebih dari tujuh tahun, hasil royalty yang diterimanya tidak bisa dibilang telah cukup membuatnya menjadi seorang yang terbebas dari masalah keuangan. Penghasilan darinya waktu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya, bahkan masih kurang untuk gaya hidupnya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia memang gemar sekali mengunjungi tempat-tempat baru, menjelajahi seluruh kawasan benua Amerika, bahkan dunia. Kondisi finansialnya baru dikatakan lebih membaik setelah dia menjadi penulis skenario untuk film di MGM, yang menggajinya $3000 per minggu, penghasilan tertinggi yang pernah di terima sepanjang hidupnya.

Berapapun jumlah penghasilan yang didapatkannya dari menulis fiksi, setidaknya dia sudah mewujudkan keinginannya untuk menerbitkan karyanya di surat kabar, kumpulan cerpen dan novel-novelnya sudah dibukukan. Selama penghasilannya dari menulis fiksi belum bisa untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, maka dengan sadar ia pun akan melakukan pekerjaan lain demi mewujudkan ambisinya. Kini kerjanya sudah membuahkan hasil. Namanya disandingkan dengan John Steinbeck , William Faulkner, dan pengarang terbaik Amerika yang lainnya.

****

Menyimak perjalanan hidup Erskine ini, sama seperti saya, barangkali anda akan mengajukan pertanyaan, kenapa dia bersiteguh ingin menjadi penulis fiksi professional, kenapa tidak menjadi bankir, atau melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah menghasilkan uang.

Dalam buku “Menulis adalah Jalan Hidupku” yang diterbitkan oleh Penerbit Bustan Yogyakarta, diuraikan secara rinci perjalanan menulis Erskine Cadwell. Buku yang ditulis sendiri oleh Erskine ini di dialihbahasakan dari buku Call it Experience, The Years of Learning How to Write.

Diakuinya, keputusan Erskine menjadi penulis fiksi profesional karena dirinya suka menulis, dan tak yakin bisa melakukan pekerjaan lain selain bidang ini. Oleh karena itu, ia ingin menjadikan menulis sebagai penopang hidupnya. Ia menganggap apa yang dikerjakanya sebagai hal yang wajar, karena baginya semua pilihan pekerjaan membutuhkan ketekunan. Begitu juga dengan menulis.

Kalaupun ada seorang yang hendak menjadi penulis, namun ditengah jalan menemukan alasan yang menurutnya lebih logis untuk melakukan pekerjaan lain, berarti memang dia tidak punya modal yang cukup untuk menjadi seorang penulis. Pada akhirnya tingkat intensitas keadaan pikiranlah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam profesi yang diinginkannya.

Menulis fiksi dipilihnya karena cerpen atau novel adalah cermin bagi orang-orang. Ia mendefinisikan cerpen atau novel sebagai cerita imajiner bermakna yang cukup menarik perhatian pembaca dan cukup mendalam untuk meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya.

Ia menampik anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis seorang harus miskin dulu agar cocok dengan dunia kepenulisan. Yang dibutuhkan adalah semangat keuletan yang dapat melecut orang untuk berjuang keras mengatasi setiap penghalang menuju kesuksesan.

Ia pun tak menganjurkan siapa saja yang hendak menjadi penulis untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia mengambil contoh banyak penulis ternama yang bukan penulis profesional. Banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh mereka yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan rumah setiap hari atau menjalankan bisnis dalam lima atau empat hari dalam seminggu. Ketika menulis sudah menjadi hobi, maka siapapun akan menyempatkannya. Dan seperti hobi-hobi yang lain, menulis bisa dikerjakan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Keputusannya meninggalkan karir jurnalistiknya bukan karena keterampilan menulis jurnalistik bertentangan dengan menulis fiksi. Sebaliknya, menulis jurnalistik justru yang mengantarkan minatnya dalam dunia tulis-menulis. Belajar menulis dengan bentuk apapun tak ada yang merugikan. Dari pengalamannya, menulis jurnalistik membantunya untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Menunggu inspirasi adalah pernyataan yang jarang sekali dijumpai di kalangan wartawan yang terlatih.

Anda boleh saja menganggap apa yang dilakukan oleh Erskine itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, sesuatu yang berlebihan yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit oleh dirinya sendiri. Namun bagi anda yang saat ini sudah memutuskan diri menjadi penulis profesional, baik itu fiksi maupun non fiksi, sedikit banyak pasti sudah melewati masa-masa itu. Hanya saja intensitasnya mungkin berbeda. Anda bisa saja lebih beruntung ketimbang Erskine yang menempuh karir menulis profesioanlnya dengan berdarah-darah. Jika anda menyadari ini, maka anda akan bersyukur bahwa ternyata ada yang lebih menderita dari anda.

Pada akhirnya hidup adalah pertaruhan. Maka saya dan juga anda harus berani memilih dan tegas mengambil tindakan. Profesi apakah yang sebenarnya anda inginkan. Apakah anda lebih mencintai menulis dari kesenangan-kesenangan anda yang lain? Jika iya, maka teruslah berjuang. Contohlah semangat menulis kedua "binatang jalang" Chairil dan Erskine. Percayalah, setiap usaha pasti ada hasilnya. Good Luck!

Selengkapnya......

19 May 2007

Penulis, Buku, Pembaca dan Kritikus (Tanggapan Muhidin M Dahlan)

MASALAH:
(1) bagi seorang penulis ataupun seorang pembaca, buku apa sih yang paling baik?
(2) apa pentingnya pengkritik buat penulis?

BAGIAN I
Inilah jawaban saya: buku yang baik adalah buku yang mampu mengungkap, menggelitik alam bawah sadarnya, dan mendorongnya untuk bertindak atau merenungkan hidup.

mungkin bagi sebagian orang, buku itu tampak ecek2, kampungan, katrok, tapi bagaimana kalau buku itu bisa mengubah hidupnya, merevolusi cara pandangnya.

Bagi kalian, buku2 pemenang nobel itu atau pemenang2 hadiah sastra itu luar biasa. kalian memujinya setinggi langit. tapi kalau buku itu tak memberi rasa sentuhan kepada saya, apalah guna semua pujian itu. semua akan lewat tak teringat tak berjejak.

kalau kalian berkata bahwa buku la tahzan itu luar biasa, bagaimana kalau saya lebih tersentuh dan merinding ketika membaca berulang2 buku HAJI ali syari'ati. lalu mana yang lebih baik: buku la tahzen atau buku haji.

maka bagi saya membaca adalah sebuah pengalaman personal.

tak bisa kalian membanding-bandingkan derajat buku jika sebuah buku punya pembacanya masing-masing. apa kalian kira seorang penulis tidak memikirkan buat siapa buku itu. bahkan penulis paling pemula pun di bawah sadarnya dia sudah terpacak bayangan untuk siapa. dan paling minim adalah pribadi-pribadi seperti dirinya.

dan apa sih salahnya buku yang terjual banyak?

saya adalah salah satu pendorong bagi adik2 saya untuk menulis terus, jangan takut nggak dibaca, tapi kalau bisa pikirkan siapa dan seperti apa pembacamu. kalau pembaca yang kamu pikirkan adalah sangat terbatas, ya itulah pencapaian karyamu. lakukan itu, kejar itu. kalau kalian menulis dengan menembus pembaca dengan cara terlebih dahulu menembus benteng selera para juri lomba, tempuhlah jalan itu. ambil hadiahnya, dan semoga dari sana pembaca yang banyak bisa kalian raih.

dengan kejelian membaca pasar buku atau pasar pembaca, tidak lantas bahwa prilaku sang penulis itu semata mencari keuntungan finansial. itu hanya timbal dari kecerdikan menentukan target pembaca dan tentu saja kecerdikan membaca ruang gagasan yang lowong.

kembali ke selera bacaan.

mungkin kalian akan bilang bahwa selera saya katrok, ndeso, dan menjijikkan. dan akan saya bilang, biarin. toh saya membaca buku yang kemudian saya sukai itu karena memiliki implikasi etis dan intelektual dalam diri saya.

karena itu jika kalian bertanya kepada orang, maka kalian akan terkaget2, betapa nyaris semua orang berbeda buku favoritnya.

jika kalian bilang: hei gus muh, buku apa yang kausukai sejatinya. maka jawaban saya ada tiga. (1) buku haji yang membuat saya tergetar dan mengarahkan pelan2 pandangan saya bagaimana gerak fisik setiap ibadah adalah langkah2 revolusi. dari buku haji, maka saya tergerak ke kiri, saya terdorong untuk menyelenggarakan pesantren sosialisme religius, dan tak gegabah menghinakan kaum komunis. (2) buku pram yang membuat saya terguncang dan mau mencintai dan sekaligus belajar membuat novel di mana sebelumnya karya sastra adalah buku haram dan tak senonoh untuk dipegang. mungkin kalian mengatakan buku budi dharma itu luar biasa. saya menghargai itu. tapi jangan kalian paksa saya turut mencintainya. sebab sudah dua buku pak budi saya tamatkan, saya tak terlalu banyak mendapatkan greget dan karena itu bisa mengubah jalan hidup saya. (3) buku ayat-ayat setan salman rushdie yang mungkin bagi kalian itu buku tak bagus, jelek di semua lini, tapi saya menyukainya. mungkin kalian bilang buku2 kayak begitu gampang dibuat... mungkin, tapi saya percaya satu hal, buku sesederhana apa pun itu membutuhkan cucuran keringat yang tak sedikit untuk membuatnya, membutuhkan berlapis kesabaran untuk tak tergoda meninggalkan embrio yang sedang tumbuh di kepala, membutuhkan ketegaran untuk bergabung barang sebentar dengan telaga sepi, dan tentu saja butuh disiplin yang mengekang diri untuk menyelesaikannya hingga akhir.

karena itu saya menghargai sepenuh2nya buku, suka atau tidak. saya menyukai penulis (buku atau blog) yang menulis dengan kesabaran yang intens, ketahanan berada di tepi sepi, dan kesungguhan menerapkan disiplin. kalau pun karya yang dihasilkannya bermutu rendah, itu tak jadi soal. kalian boleh mengutuknya, kalian boleh memakinya, kalian boleh mendinakannya, tapi jangan paksa saya melakukan hal serupa.

dan terakhir, sebuah buku akan mencari pembacanya yang sehati lewat prosedur pasar yang berkelok-kelok, penuh intrik, saling merintang dan membalok, tapi bergairah.


BAGIAN II
Saya menghargai kritik. saya sepakat sepenuhnya bahwa dalam masyarakat teks ada selapis orang yang berprofesi pengkritik. dan itu baik buat penulis dan baik pula buat pembaca.

pengkritik apa sih yang berguna bagi penulis. semua berguna, namun yang saya maksudkan adalah tingkat gradasinya.

kalau ada yang hanya mencela dan memaki dan bahkan ia melakukan itu dengan bahkan tak pernah membaca langsung buku itu, sorry, lupakan saja. mereka baru bangun tidur. mereka terlahir bukan sebagai pembaca yang utuh, mereka pembaca setengah. dan orang yang setengah2 ini yang paling menakutkan. dan sekaligus membuat perkara kebingungan dua penjaga gerbang akhirat: neraka dan surga. ini org mau dimasukkan ke mana ya... dia jahat tapi baik juga; dia baik tapi jahat juga...

pembaca yang utuh adalah pembaca yang memang membaca buku sampai selesai...(dan tak merepotkan para malaikat) maksudnya, tentu tak mesti membaca buku itu dari lembar pertama sampai yang terakhir, karena ada orang yang maqom membacanya sudah tinggi... hanya melihat beberapa halaman saja sudah memberikan komentar dan komentar itu tepat, cerdas, dan kritik yang menghunjam tajam.

pengkritik apa yang dibutuhkan penulis? tentu saja kritik yang sungguh2. kritik yang mengelupas setiap kulit makna dalam buku itu. dan saya sangat menghargai kritik yang demikian itu.

lantas bagaimana sikap penulis menanggapi kritik2 itu. tanggapan terbaik adalah kembali ke kamar, atur daftar bab, meriset bahan, dan kembali menulis... terlalu lama ikut serta dalam kerumunan debat, saya khawatir dia akan salin profesi mengerikan: turut menjadi pemaki, tukang sinis, dan lupa mencipta.

jika kalian coba2 mengkasifikasi seorang penulis dengan penulis berselera rendah rendah dan penulis berselera tinggi (karena itu berpengaruh dengan klasifikasi: buku rendah dan buku tinggi), kalian belum keluar dari perdebatan zaman dahulu kala. apakah itu salah? tidak tentu saja, walau belum tentu benar. saya punya klasifikasi sendiri atas jenis pembaca, atas jenis penulis, dan pada akhirnya atas sebuah buku. dan simpulan saya sederhana:

(1) PEMBACA YANG MALAS DAN PEMBACA YANG RAJIN. pembaca yang malas akan menghasilkan dua hal: ekstrim memaki atau royal memuji. pembaca yang rajin tampak akan bijak; bukan karena keengganan atas sosok penulis (karena teman karena senior karena dosen sendiri), tapi karena dia tahu mana bumbu yang kurang pas dan mana bumbu yang lebih serta mana bumbu yang lupa ditaruh.

(2) PENULIS YANG MALAS DAN PENULIS YANG RAJIN. penulis yang malas adalah penulis yang tidak mau meluangkan waktu untuk melakukan riset atas tulisannya dan ketekunan membaca. bahkan karangan paling imajinatif dan surealisme paling liar sekalipun butuh riset. penulis yang rajin adalah penulis yang sebaliknya dari penulis yang malas...

Dan paling pungkas, hanya dua jenis blogger: blogger yang rajin mengupload dan blogger angin-anginan.


[tulisan ini adalah tanggapan Muhidin M Dahlan atas komentar saya di blognya pada tulisan yang berjudul "Tugas Penulis adalah Menulis".]

Selengkapnya......

16 May 2007

Penulis, Buku dan Siasat Menjual Karya

Apa kriteria buku yang bagus? Seorang penulis dalam sebuah milis komunitas penulis mengatakan, buku yang bagus adalah buku yang dicetak ulang beberapa kali, buku best seller. Asumsinya, buku yang banyak terjual berarti banyak dibeli. Karena banyak dibeli, ia banyak dibaca. Karena banyak dibaca berarti ia banyak diminati pembaca. Nah, karena banyak dibaca maka sebuah buku layak disebut sebagai buku yang bagus.

Memang asumsi itu ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Begini. Jika kriteria buku yang bagus itu diukur dari seberapa besar pembacanya, seberapa banyak buku itu terjual, apakah lantas buku-buku yang tak banyak terjual, bukan buku best seller itu buruk.

Dalam dunia kesusasteraan Indonesia ada sederet nama-nama hebat penulis yang karyanya diulas di berbagai media, diperbincangkan dalam berbagai forum. Namun buku mereka belum banyak mengalami cetak ulang. Nukila Amal, Linda Christanty, atau yang sudah senior, Budi Dharma, Danarto, Kuntowijoyo, adalah beberapa penulis yang dimata kritikus karyanya bagus, namun bukunya tak mendapat sambutan luas dari pembaca. Dalam beberapa hal penilaian kritikus bisa mempengaruhi pembaca, namun tidak selamanya selera kritikus dan pembaca sejalan.

Berbeda dengan buku fiksi pop teenlit-chicklit macam "Dealova", "Cintapucino" , "Ungu Violet" atau fiksi islami yang sangat fenomenal "Ayat-ayat Cinta" yang kabarnya sudah terjual lebih 300 ribu buku, atau novel sensasional macam "Selingkuh Itu Indah", "Garis Tepi Seorang Lesbian", "Jangan Main-main dengan Kelaminmu", dan tentu saja yang tak bisa diremehkan adalah "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!" karya Muhidin M Dahlan yang pada per maret 2007 sudah naik cetak 12 kali!

Pertanyaannya, apakah karya Nukila Amal, Linda Christanty, Danarto, Budi Dharma, Kuntowijoyo, lebih buruk dari karya mereka yang bukunya sudah mampu menembus angka cetak ulang yang fantastis itu?

Menurut saya, tentu saja tidak! "Cala Ibi" karya Nukila Amal, "Kuda Terbang Mario Pinto" karya Linda Christanty, yang keduanya banyak dipuji oleh kritikus karena keindahan diksinya, atau "Adam Makrifat", "Godlob" karya Danarto, "Mantra Penjinak Ular" karya Kuntowijoyo yang mengusung sastra realisme magis dan sastra profetik, dan penulis-penulis lain yang saya kagumi macam Gus tf Sakai sampai yang lebih senior macam Goenawan Mohammad belum mampu menembus angka cetak ulang yang cuku fantastis, bahkan jika dibanding penulis-penulis teenlit yang masih ABG.

Bagi saya ada beberapa faktor sebuah buku itu bisa laku keras. Untuk sejenis karya teenlit-chicklit, seperti pada karya pop pada umumnya, memang memiliki pembaca yang lebih banyak. Hal ini bisa saja karena tema yang ditawarkan ringan. Dan saya menduga, kebanyakan pembaca sastra di Indonesia adalah mereka yang membaca karya untuk hiburan, bukan untuk mengkaji, mengapresiasi. Kalaupun ada yang mengkaji, prosentasenya jauh lebih kecil jika dibanding mereka yang membaca untuk hiburan, atau yang lebih bijak, untuk mencari pelajaran hidup.

Selain tema populer, yang bisa memicu daya jual buku adalah tema polemik. Karya Djenar Mahesa Ayu "Jangan Main-main dengan kelaminmu", "Garis Tepi seorang Lesbian" karya Herlinatiens dan "Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Palacur" karya Muhidin M Dahlan, contohnya. Dua pengarang yang disebut dibelakang adalah mantan kru LPM Ekspresi, pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tema-tema polemik ini uniknya, makin dia dikecam, makin dia terjual. Dari situ orang menjadi penasaran, akhirnya membeli. Ini seperti yang dialami oleh Gus Muh, yang sempat beberapa kali dalam forum diskusi karyanya dikatakan kafir dan diancam akan dibunuh!

Bagi saya, ukuran sebuah buku yang baik bukan cuma dari paling banyak pembacanya. Ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas, kualitas apresiasi dari pembacanya. Meski karya itu tak seheboh "Jakarta Undercover"- nya Moammar Emka, tapi "Cala Ibi"-nya Nukila Amal akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari pembaca yang masih terbatas.

Barangkali pembaca majalah sastra Horison yang dulu mengkaji tema-tema sastra "adilihung" akan berpindah ke majalah lain setelah majalah itu kini menurunkan standarnya menjadi majalah anak-anak SMU. Saya lebih respek pada jurnal Kalam (tapi terbitnya walah nggak jelas, kayak Hayamwuruk saja, hehe) yang masih bersetia dengan tema-tema serius, meski kini tidak cuma mengusung tema-tema sastra, tapi kebudayaan secara luas. Saya yakin, meski pembaca Kalam tak sebanyak pembaca Horison kini, tapi dari segi kualitas apresiasi pembacanya akan jauh berbeda.

Satu lagi, mayoritas masyarakat pembaca sastra Indonesia dan bidang-bidang disiplin lain memang lebih suka dengan karya-karya yang ringan. Makanya tontonan "Empat Mata" dengan Thukul katrok mendapatkan rating yang tinggi. Padahal Thukul ya nggak se-smart Om Farhan. Dari segi muatan ya, nggak serius. Orang disitu yang menjadi pusat perhatian Thukul. Narasumber belum tuntas menjawab, thukul sudah menyela, seolah-olah dia tak butuh jawaban.

Dalam dunia kesusasteraan, pembaca kita pun tak jauh beda. Mayoritas pembaca kita menyukai hal-hal yang bisa menimbulkan keharuan. "Ayat-ayat Cinta" (AAC) karya Habiburahman, "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, laku keras. Cewek-cewek sangat menggandrungi tokoh Fahri yang santun, alim dalam AAC. Atau cerita-cerita Andrea yang mengisahkan betapa mengharu-birukannya pendidikan di sebuah kampung di tanah Sumatra. Faktor keharuan yang bisa menimbulkan rasa iba ini, juga yang memicu terpilihnya Feri dalam kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Ikhsan dalam Indonesian Idol.

Bagaimana sebuah buku bisa menjadi best seller, diperlukan strategi untuk bisa menembus angka penjualan yang fantastastis. Yakni strategi menjual diri! Kenapa dikatakan menjual diri, ya kita menjual buku-buku yang memang disukai penerbit dan yakin akan banyak dibeli pembaca. Membuat buku best seller tak cuma membutuhkan kelihaian penulis meramu kata, tapi juga butuh strategi. Penulis tak hanya cerdas soal menulis, tapi paham juga soal pasar, marketing. Dan langkah menjual diri ini sebenarnya juga tak sepenuhnya jahat, ketika juga diikuti upaya menciptakan sebuah karya yang bermutu, berbobot, tidak semata-mata untuk mengeruk pendapatan royalti.

Namun, sepertinya selera pembaca akan sebuah karya akan terus berubah. Fiksi islami yang pada periode awal 2000 laris manis, bahkan penerbit rame-rame bikin devisi khusus fiksi islami, semenjak tahun 2005 sepertinya mengalami matisuri. Seperti yang diakui seorang penulis fiksi islami dalam sebuah diskusi di Semarang beberapa hari lalu, karya-karya fiksi islami belakangan justru banyak dikembalikan oleh pihak penerbit. Kondisi ini sangat berkebalikan ketika fiksi islami tengah booming, beberapa penerbit berlomba-lomba menerbitkan fiksi islami, diantaranya bahkan membuat departemen khusus fiksi islami.

Menurunnya selera pembaca juga terjadi pada fiksi yang mengangkat tema seks. Judul macam "Petualangan Celana Dalam" karya Nugroho Suksmanto (pengusaha kontraktor Mega Kuningan yang mendadak menulis karya sastra) sudah tak seheboh ketika awal-awal tema seks sedang ramai.

Pada titik itu akan terbukti, karya-karya siapa yang masih akan terus dibaca, diapresiasi, dibeli meski cuma satu-dua, yakni karya-karya yang memang secara kualitas bagus, bukan tren sesaat.

Lantas, masih relevankah membicarakan sebuah kualitas karya dari kuantitas penjualan buku?


[tulisan ini saya posting untuk bahan diskusi di milis jurnalisme sastrawi , milis jurnalisme, penulisan, media. Yang ingin bergabung dengan milis jurnalisme sastrawi, silakan klik di sini]

Selengkapnya......

12 April 2007

Nafsu Terakhir: Teror Syahwat dan Kearifan Tasawuf Jawa

Judul : Nafsu Terakhir
Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
Cetakan : Kedua, 2007
Tebal : 190 halaman

Ini adalah jilid ke sembilan dari kedua belas jilid Serat Centini yang sangat mashur itu. Hampir seluruh isinya bercerita tentang syahwat. Tapi ia terselamatkan oleh keluhuran tembang yang sarat muatan ajaran tauhid dan tasawuf. Ia mengajarkan nilai-nilai luhur kearifan jawa yang bijaksana. Meski kerap kali tak teralakkan dibawa ke kubangan nafsu syahwati yang liar, mewarnai pengembaraan Amongraga yang suci untuk mencapai kehadiranNya.

Nafsu Terakhir diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Centini disusun atas perintah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat untuk menyusun kembali sebuah cerita kuno dalam bentuk tembang yang menyarikan segala ngelmu Jawa. Tembang ini disusun dalam bahasa Jawa, dengan syair yang luar biasa indah. Syair yang mahadahsyat itu diberinama Suluk Tembangraras, tapi orang lebih mengenalnya dengan nama Serat Centini. Untuk melaksanakan misi ini, diutuslah tiga pujangga keraton: Sastranegara (Yasadipura II atau Ranggawarsita I), Ranggasutrasna dan Sastradipura.

Ranggasutrasna diberi tugas menjelajahi Jawa bagian Timur untuk mengecek keadaan dan menghimpun pengetahuan. Sastradipura mendapat tugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama islam. Sedang Sastranegara mendapat tugas menjelajahi Jawa Barat sekaligus menghimpun pengetahuan lahir bathin.

Ranggasutrasna yang pulang terlebih dulu, segara memulai pekerjaannya. Hasil karyanya menjadi 4 jilid, berisi 321 buah lagu, menceritakan sejarah Giri hingga keruntuhannya dan tiga orang putra Giri dalam satu jilid. Namun karya Ranggasutrasna ini belum memuaskan keinginan Sang Pangeran karena bagian seksualnya masih kurang menonjol. Begitupula setalah kedua rekannya, Sastradipura dan Satranegara merampungkan bagiannya. Sang Pangeran masih belum juga puas. Bagian senggamanya masih kurang greget. Maka dikerjakanlah sendiri oleh Sang Pangeran dari jilid 5-10, kemudian penulisannya diserahkan kepada ketiga pujangga keraton itu (Wayan Susetya, 2007:109-110).

Dalam buku ini dikisahkan Tembangraras meratapi kepergian suaminya, Amongraga. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar. Ia tak mau berkomunikasi dengan siapapun, termasuk abdi setianya, Centini, yang memahami setiap bahasa isyarat Tuan Putrinya. Ayahanda dan ibunda Tembangraras cemas tak karuan. Dibujuklah sang putri agar melupakan kesedihan. Tapi tetap saja tak meruntuhkan nestapanya. Hingga akhirnya ayahanda mengutus adiknya Kalawirya untuk mencari sang menantu. Bersama kedua adik Tembangraras, Jayengwesti dan Jayengraga, Kalawirya dan Nuripin pagi buta berangkat mengembara menyusuri hutan meninggalkan padepokan Wannamarta.

Ditengah pengembaraannya, berulangkali mereka dihadapkan pada godaan-godaan yang menjerumuskan mereka menuntaskan nafsu syahwatnya. Adegan seks dilukiskan begitu vulgar. Mulai pertemuanya dengan seorang janda kaya yang menjamu mereka hingga mabuk kemudian mencicipi satu-persatu zakar Nuripin, Kalawirya, dan kedua keponakannya. Di perjalanan lain kadang mereka menuntaskan syahwatnya dengan memasukkan alat kelaminnya ke dubur teman prianya. Dipersinggahan lain, mereka tiba di kediaman seorang peladang bernama Ki Nurbayin. Katiga putrinya yang buruk rupa diam-diam sudah lama memendam keinginan untuk mencoba zakar seorang pria. Beberapa kali mereka melihat Ayah dan ibu tirinya berhubungan intim dari balik tirai kamarnya. Maka begitu dirumahnya kedatangan tamu para pria, mereka bergerombol mengikuti ke tempat tidur para tamunya.

"Apa menurut kalian Jayengraga mau ditunggangi jika kita dekati," tanya Banem, sisulung kepada kedua adiknya, Banikem dan Baniyah.

Sesuai kesepakatan, sisulung diberi kehormatan mencoba zakar Jayengraga untuk yang pertama. Dalam kegelapan Banem memeluk Jayengraga. Adik Tembangraras itu pura-pura terkejut. Padahal ia sudah mendengar percakapan ketiga bersaudara itu. Dalam hati ia sebenarnya tak ingin menyerahkan alat kelaminnya menjadi percobaan para perempuan buruk rupa itu. Tapi karena tak ingin melukai hatinya, Jayengraga membiarkan saja ketika Banem naik di atas pahanya. Jayengraga dibuat geli karena Banem tak tahu bagaimana memulai permainan. Maka dibimbinglah ia oleh Jayengraga untuk memasukkan zakar yang sudah mulai mengeras itu ke vaginanya yang masih perawan. Usai Banem, Banikem dan Baniyah menggilir Jayengraga bergantian, hingga akhirnya subuh tiba dan Jayengraga segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat subuh.

Adegan seks itu kendati dilukisakan begitu vulgar, tapi juga jenaka. Karya sastra ini memang hendak menampilkan seks secara polos, jujur, sebagai nafsu lahiriah yang lumrah terjadi pada manusia. Para pria itu beberapa kali tak mampu mengelak dari nafsu syahwati, tapi usai itu mereka tetap tak lupa menunaikan kewajiban sholat lima waktunya!

****

"Sayangku, jika kamu berkenan, mari kita kembali ke dunia makhluk dan rajanya," tutur Amongraga kepada Tembangraras, istrinya.

Amongraga baru saja tersadar dari pengembaraannya yang panjang. Dia telah menelantarkan Tembangraras, si cantik jelita putri kiai pesantren Ki Panurta, yang baru dinikahinya. Istri yang baru disetubuhinya setelah melewati empat puluh hari lamanya memberikan wejangan tentang ajaran tasawuf Jawa. Itu pun cuma dua hari. Kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari kedua adik kandungnya. Tapi malah terhanyut dalam kenikmatan pertapaan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Ia lupa ada hal lain yang harus dia kerjakan selain melakukan jihad besar itu.

"Oh pangeran Giri! kamu telah membimbing jihad besarmu sedemikian jauhnya sehingga kamu alpa menjalankan jihad kecilmu," ujar Endrasena, pengembara yang ditemuinya di tengah pengembaraannya.

Syekh Amongraga, sebelumnya bernama Jayengresmi. Ia putra mahkota Sunan Giri. Ia mengembara mencari dua adiknya, Jayengsari dan Rencangkapti. Kerajaan Giri baru saja diserang Sultan Agung, raja tanah Jawa karena penguasa Giri tak mau bersujud kepadanya. Kerajaan Giri hancur dalam kobaran api. Ayahanda, sang Khalifatullah ditangkap dan dibawa ke Mataram sebagai tahanan perang Sultan Agung.

Usai penyerangan itu, Jayengresmi mencari kedua adiknya yang hendak diajaknya lari dari kejaran pasukan Sultan Agung. Tapi ia tak menemukannya. Hatinya hancur. Ia pergi meninggalkan Giri tanpa seorang pun tahu, ia sendiri tak tahu ke mana hendak dituju dalam pengembaraannya. Ia mengikuti petunjuk Allah yang mengarahkannya berkelana masuk Suluk.
Dikisahkan Jayengsari dan Rencangkepti tak terpisah. Mereka juga mencari kakaknya di reruntuhan Giri. Tapi pencarian mereka sia-sia. Merekapun mengembara jauh, menghilang dari kejaran pasukan Mataram di bawah komando Pangeran Pekik.

Dalam pengembaraannya, Jayengresmi sudah berubah nama menjadi Amongraga. Ia tiba di pondok Wanamarta dan di sana ia menikahi Tembangraras, putri Ki Bayi Panurta, Kiai pesantren di sana.

Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubungan badan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawa kepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangan tubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat serta batin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari balik tirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanya bersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangraras untuk mengembara mencari kedua adiknya.

****

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongraga dihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuan pengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itu diduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar ini segara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokan tak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuat Tembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini, Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencari belahan jiwanya.

Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki. Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan mereka menjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia tak habis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santri pengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barang berhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benar terjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untuk mengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagian tubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Dia menyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannya keduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdi setia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah para pria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.

Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang Tuan Putri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudah lemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki selonjor. Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi tak digubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini ke cakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lain adalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka. Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongraga bersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cuma pingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknya yang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang ada dihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangraras memperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.

Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid ke sembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asal Cina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegang menemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.

"Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?"
"San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untuk mendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamu belum bisa lepas dari dirimu sendiri!"

Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yang memenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Di antara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, dia mengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinya terlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.

"Jihad yang mana?" tanya Amongraga.
"Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di enjara Mataram," jawab Endrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benar menghilang dari pandangannya.

Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma, panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencari kedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan oleh raja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasa takut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allah ketimbang melayaninya.

"Badai telah menduduki tahta para raja,
Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua.
Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin."

Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat. Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap dan berbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan Sultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. Ulat yang betina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahi sepupunya.

Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadi raja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnya tak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untuk menjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yang dicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh para pejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.

Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkan serangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukan ajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan di Tegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: "Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”

****

Serat Centini, sama halnya dengan Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan umat muslim di nusantara. Selain dituduh mengumbar seksualitas secara vulgar, mereka juga dituduh menghina ajaran Islam. Pelecehan terhadap ajaran Islam itu dialamatkan terhadap Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco. Kedua karya ini sempat dilarang beredar pada masa pemerintahan Orde Baru. Kedua karya ini melukiskan potret “kaum abangan” yang awam terhadap Islam dan “kaum santri” yang terlalu mendewakan syariat.

Kaum santri, dalam Suluk Gatholoco karya pujangga dan ulama besar jawa Ranggawarsita, digambarkan begitu mudah terpancing emosinya ketika menghadapi orang abangan macam Gatholoco (dalam bahasa jawa artinya asal ngomong, asal njeplak). Ini adalah gambaran kaum santri yang sebenarnya dalam penguasaan ilmu agama masih dangkal, sehingga mereka begitu mudah memberikan cap “kafir” kepada orang lain. Berbeda dengan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam dengan begitu lenturnya, bahkan bisa sambil bercanda, seperti ketika dirinya mengajak Prabu Brawijaya V masuk Islam. Sunan Kalijaga menjelaskan tentang islam, shalat dan makrifat layaknya pasangan yang sedang bersenggama.

Dalam konteks kekinian, karya-karya sastra besar Jawa itu bisa ditengok kembali untuk dijadikan sebagai refleksi perkembangan agama Islam di Indonesia dewasa ini. Bermunculannya gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal, yang menghalalkan segala cara belakangan ini sudah tercerabut dari ajaran-ajaran tasawuf Jawa yang arif dan bijaksana. Islam di Jawa dan nusantara pada umumnya, adalah agama yang secara historis berpijak dari akar budaya lokal yang sarat dengan laku dan budi pekerti luhur.

Mencermati perkembangan dunia kesusasteraan kontemporer di negeri ini, tampaknya mengalami kemunduran yang terlampau jauh. Terutama dalam hal kebebasan berekspresi. Dunia sastra kita sampai dengan hari ini masih sibuk mengkotak-kotakkan diri ke dalam kubu-kubu: sastra seks, sastra islami atau sastra moralis dan amoral. Masyarakat pembaca dan juga sastrawan terjebak dalam penafsiran-penafsiran dangkal atas suatu teks. Mengukur nilai-nilai sebuah karya sastra dengan ukuran moralitas yang semu.

Pertanyaanya, jika memang moral masih mau dijadikan sebagai ukuran baik-buruknya sebuah karya sastra, apakah dengan mengumbar seksualitas maka karya-karya sastra Jawa yang sudah tersohor hingga ke belahan penjuru dunia itu, dapat dikatakan tidak ber"moral"? Tidakkah mereka mengajarkan nilai-nilai budipekerti yang luhur? Wallohu alam bisyhowab….

Selengkapnya......

10 April 2007

Mimi lan Mintuna: Sebuah Harapan Perempuan Kelas Dua

Judul : Mimi Lan Mintuna
Penulis : Remy Sylado
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Maret 2007
Tebal : iv + 292 halaman

“Dasar laki-laki! Mereka menyukai tubuh yang mulus, mengabaikan hati yang tulus. Mereka cuma memandang perempuan dari sudut manfaat, bukan martabat. Mereka, melulu berpikir tentang nikmat wanita, ketimbang hikmat perempuan. Mereka bukan memberdayakan tapi memperdayakan,” gerutu Indayati saat tangan Thanh-Dam dengan tak sabar membuka kancing-kancing blusnya.

Indayati adalah tokoh utama dalam novel “Mimi lan Mintuna” karya Remy Sylado. Novel terbarunya ini terdiri atas 37 sekuen yang disusun secara progresif. Setiap peristiwa dikisahkan secara jalin-menjalin, di mana peristiwa pertama diikuti oleh peristiwa-peristiwa selanjutnya yang saling berkaitan.

Diawali kisah kehidupan keluarga Indayati di Gunungpati, Ungaran. Sang suami, Petrus, tak lagi memiliki pekerjaan. Ia telah di-PHK dari perusahaan milik Korea di sekitar Ungaran. Semenjak itu Petruk—panggilan ejekan kepada Petrus dari tetangganya- mulai suka mabuk-mabukan dan ringan tangan terhadap istrinya. Suatu hari Indayati memutuskan meninggalkan rumah dan suaminya. Dalam kegamangan ia melangkah menggendong anak semata wayangnya tanpa bekal apapun, kecuali baju dan anting yang melekat di telinganya.

Rumah paman, adik dari ibunya, di Karangayu, Semarang dipilihnya sebagi tempat mengadu. Suatu kebetulan keluarga pamannya itu masih berada di Semarang. Sebab hari berikutnya mereka akan pindah ke Manado. Sudah setahun pamannya itu bekerja di perusahaan tambang milik Amerika di Minahasa dan kini datang untuk mengajak istri dan anak tunggalnya tinggal bersama di sana.

Indayati diajak serta ke Manado tinggal bersama keluarga Bambang Sunaryo. Mulanya hidup Indayati berjalan mulus. Sehari-hari ia membantu pekerjaan rumah dan mengantar-jemput anak buleknya dari sekolah. Namun ia mulai jenuh, selain juga tak enak hati jika harus terus-terusan menumpang di rumah paman-bibinya itu tanpa memiliki pekerjaan. Ia teringat, dulu sewaktu masih di Semarang ia sempat menjadi pegawai apotek di perusahaan farmasi sebelum akhirnya dilarang oleh sang suami. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa melamar pekerjaan. Semua surat-surat berharga ia tinggal di rumahnya di Semarang.

Suatu kali ia tergiur oleh iming-iming menjadi artis ibu kota. Tak hanya Indayati, banyak penduduk setempat yang akhirnya termakan tipudaya komplotan mafia “penjual manusia” itu. Indaryati bersama Kalyana, sepupunya dibawa ke Bangkok. Di sana mereka dijadikan budak pelayan nafsu para lelaki hidung belang.

Sampai di sini, tokoh Indayati mengingatkan kita kepada Firdaus, tokoh dalam novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi. Keduanya adalah perempuan lugu yang kemudian menjadi pelacur oleh karena kediktatoran kaum laki-laki dan sistem patriarki yang menomorduakan kaum perempuan. Mungkin kita akan berkata, andai saja Indayati tak mendapat perlakuan kekerasan dari suaminya, andai saja suaminya bisa menghargai hak-haknya, maka Indayati tak akan sampai terjerumus ke lembah dunia pelacuran.

Sementara itu, Petruk semakin terbenam dalam ketidakwarasan setelah ditinggal pergi istri dan anaknya. Tiap hari ia berulah. Ia terus memalak warga setempat, meminta uang secara paksa. Sudah lama warga memendam kebencian kepadanya. Mereka bersepakat untuk menghajarnya. Seorang warga bernama Sutejo bahkan telah menyiapkan pembunuh bayaran. Tiga juta rupiah ongkos untuk menghabisi nyawa si tukang palak itu. Pembunuh bayaran itu berhasil melepaskan peluru kearah dada Petruk. Bersama pembunuh bayaran itu, Tejo membuang jasad Petruk di Kali Babon.

Berakhirkah riwayat Petruk? Tidak. Petruk masih hidup. Ia seperti mendapat mukjizat. Sesadarnya dari koma, dirinya menyadari akan kesalahan-kesalahan yang selama ini diperbuatnya. Ia insyaf dan bertekad untuk menjemput Indayati dan meminta maaf kepada istrinya yang malang itu.

Bulik Ning mengirim surat pembaca ke sebuah media massa nasional yang isinya mencari informasi keberadaan anak dan ponakannya yang telah meninggalkan rumah tanpa kabar berita. Siti Anastasia Melati Sulistyoningrum Suhendro Hendro, seorang polwan yang cantik, cendekia, karateka ban hitam, juara tembak Perbakin dan memiliki kecepatan dalam berpikir, tertarik membaca surat pembaca yang dikirim oleh istri Bambang Sunaryo itu. Iapun mulai melakukan penyelidikan untuk mengungkap tabir kejahatan yang terselubung.

Kejahatan terselubung itu digawangi oleh beberapa orang. Ng Seng Jung, Sean PV, Kiki dan Bunda (seorang wadam). Sean PV adalah aktor antagonis dalam novel ini. Ia memiliki musuh bebuyutan bernama Raj, seorang pesaing dalam kejahatan trafficking. Keduanya saling beradu kekuatan , saling bunuh untuk menunjukkan kekuasaan masing-masing.

Novel yang menggunakan penggambaran tokoh-tokohnya secara analitis dan dramatis ini berakhir melodramatik. Siti Anastasia Melati Sulistyoningrum Suhendro Hendro, tokoh protagonis yang digambarkan seorang wanita hero berhasil mengungkap tabir kejahatan Sean PV dan rekan-rekannya kecuali Raj dengan bantuan pihak kepolisian Bangkok. Lewat tangannyalah Indayati dapat bersama kembali dengan suaminya. Mewujudkan harapan menjadi Mimi lan Mintuna.

Dalam penceritaannya, Remy pandai menggunakan teknik suspense, menahan keterangan-keterangan lain yang sebenarnya ingin segera diketahui oleh pembaca. Rasa penasaran ini akan membimbing pembaca untuk tidak berhenti membaca pada suatu sekuen dalam novel ini. Pembaca akan mengikuti cerita hingga purna.

Seperti biasanya, Remy tetaplah mbeling. Pemlesetan adagium dan pemunculan pemeo akan membuat pembaca tersenyum dan terbahak atau bahkan merenung. Contohnya pemeo berikut ini, “Agaknya menepuk-nepuk bahu dan punggung itu bukan cara sayang bapak kepada anak, tapi kiranya sayang seorang bapak-bapak kepada seseorang yang bisa bikin anak baginya”.

Novel ini memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perkembangan bahasa Indonesia. Ia menawarkan penulisan majemuk dalam bentuk gabung sebagaimana bentuk sebuah kata dan penggunaan kata sandang. Banyak pula disuguhkan kata-kata yang tak lazim digunakan oleh orang kebanyakan namun kata itu ada dalam bahasa Indonesia.

Dalam novel ini, Remy menggunakan point of view orang kedua tetapi terkadang Remy tampak kurang konsekuen. Kemungkinan, kekurangkonsekuenan ini timbul akibat ketidakjelian dalam penggunaan kata “ini” dan “itu”. Hal ini kadang sepele, tapi kehadirannya yang kurang tepat bisa mengganggu pembaca.

Namun terlepas dari sedikit kekurangan itu, tema yang diusung Remy cukup menarik dan relevan dengan kondisi kekinian. Remy mampu mengkolaborasikan tema tradisional dengan isu aktual.

Melalui novel ini, Remy mengkritik keberadaan perempuan dalam masyarakat tradisional yang harus patuh pada aturan suami. Membangun rumah tangga hendaknya dilandasi rasa kasih sayang dan saling menghargai. Suami dan istri dalam rumah tangga memiliki kedudukan yang sama. Tak perempuan kelas dua, tak ada monopoli kekuasaan salah satu pihak. Seperti dalam pepatah Jawa kaya mimi lan mintuno, seperti sepasang ikan mimi dan mintuna, yang artinya selalu rukun dengan landasan kasih sayang.

Selengkapnya......

28 March 2007

Andrea Tak Melawan Pasar

Unik, begitulah sosok Andrea Hirata. Penulis novel Laskar Pelangi itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Tapi dia juga meminati bidang keilmuan (science). Belakangan dia menulis novel. Ternyata karyanya laku keras dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra.

Seperti yang diakui Andrea, Laskar Pelangi adalah kisah masa kecilnya. Masa kecil di sebuah desa miskin di Belitong. Laskar Pelangi adalah novel perdananya. Buku kedua, Sang Pemimpi, seperti juga buku perdananya, menjadi best seller.

Tidak seperti halnya para kritikus sastra yang memberikan pujian kepada karya Andrea, Aulia Muhammad pagi itu membeberkan beberapa kekurangan kedua novelnya. Pertama soal melawan pasar. Bagi Aulia karya Andrea tak melawan pasar. Tapi sebaliknya, justru mengikuti pasar.

Karya yang ditawarkan Andrea juga tak baru. Hampir mirip-mirip yang disajikan dalam serial tayangan islami, seperti yang tampak dalam buku kedua Andrea, Sang Pemimpi, yang disebut oleh Aulia sebagai "pertobatan".

Lakunya karya Andrea, ditambahkan Aulia karena menampilkan keharuan. Termasuk juga strategi penerbit yang menampilkan Andrea sebagai awam yang menulis sastra. Orang menjadi ingin tahu. Ini seperti melejitnya nama Feri atau Ikhsan peserta Indonesian Idol, yang menampilkan sosok anak keluarga yang tak mampu. Bahkan untuk pergi menyaksikan aksi panggung anaknya, ayah Ikhsan harus dengan menjual becak.

Kemudian soal endorsement atau catatan oleh para pakar, menurut Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com itu membuktikan betapa tidak percaya dirinya seorang pengarang. Hal lainnya, adalah soal pengkotak-kotakkan sastra menjadi beberapa jenis. Menurut Aulia, tidak perlu membuat kategorisasi sastra, termasuk kategori orang awam menulis sastra. Yang terpenting adalah karya itu bagus, diapresiasi oleh pembaca.

Bagi Aulia strategi apapun halal dilakukan penerbit. Tapi yang jauh penting dilakukan penerbit adalah bagaimana agar buku bisa murah. Yang penting karya itu dibaca."Bagi saya karya itu dibaca saja sudah sangat senang," katanya.

Oleh karena itu, menurut Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com itu tidak perlu mendewa-dewakan karya. Bahwa karya ini bagus, penulisnya hebat. "Pengharapan yang terlalu berlebihan atas suatu karya, seringkali mengecewakan. Makanya biasa saja dalam menanggapi suatu karya. Secara wajar," kritik alumnus Fakultas Sastra Undip itu.

Menanggapi kritik Aulia, Andrea mengatakan bahwa dirinya melihat pasar secara praktis. Soal ketidakpercayaan pengarang, dirinya mengaku mulanya juga tak percaya jika para pakar sastra memberikan pujian atas karyanya.

"Makanya, saya pernah meledek seorang teman dari penerbitan. Saya katakan ada tiga profesi yang tidak bisa dipercaya. Yang ketiga itu adalah penerbit," ujar pengarang kelahiran Belitong, yang kini bekerja di PT Telkom Bandung ini, sambil tersenyum lepas.

Dalam acara "Bincang dan Temu Penulis" yang digelar oleh LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan toko buku Toga Mas di Joglo Fakultas Sastra Undip (27/3) itu, Andrea juga menyampaikan sekilas novel ketigasnya yang berjudul "Edensor". Dalam kesempatan itu Andre membacakan abstraksi atau sinopsis dari vonel ketiganya. Yang unik, kendati
novel ketiganya masih prelaunch, tapi seperti yang tampak di banner yang dipajang oleh panitia, ditampilkan juga sampul buku yang keempat.

"Apa anda bisa menikmati mengarang dalam waktu sesingkat itu, atau sebenarnya anda sudah menyiapkan sejak lama?

Atau jangan-jangan anda memanfaatkan aji mumpung, mumpung lagi laku?" tanya Diantika, mahasiswa Sastra Indonesia Undip.

"Saya sendiri juga tak tahu. Saya begitu cepat menyusun novel-novel itu. Saya tak ada beban. Mungkin karena ini pengalaman saya pribadi," jawab Andrea. [tulisan ini diterbitkan di suaramerdeka.com]

*Liputan lain ditulis di Harian Suara Merdeka (cetak) di rubrik seni. Klik di sini

Selengkapnya......

06 March 2007

Resensi Buku: "Dekonstruksi Sastra Pesantren"

Belakangan ini, banyak pemikir Islam dari halaqah (majlis ta’lim) di masyarakat, terutama aktivis kampus dan aktivis pesantren yang menyuarakan gagasan baru dan sistem penafsiran baru terhadap ajaran Islam, khususnya ilmu kalam. Kelompok ini terang-terangan menghantam ajaran teologi Asy’ariyah, ajaran yang banyak dianut warga NU.

Fenomena ini makin menguat dengan munculnya gerakan pembaharuan Islam. Motornya dari kelompok pengajian Paramadina (pimpinan alm Nurcholis Madjid), beberapa cendekiawan Islam UIN Jakarta, dan munculnya LSM Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dipelopori oleh Ulil Abshar Abdalla (Direktur Freedom Institute dari generasi muda NU), juga Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), dan beberapa kelompok liberal lainnya.


Intinya, pandangan mereka terhadap agama, Al-Quran, dan eksistensi Tuhan sangat inklusif dan berpaham liberal. Kelompok “pembaharu” ini menganut teologi Pluralis, sebuah teologi yang didasarkan pada kemajemukan paham sebagai sebuah kebenaran. Mereka menganggap semua agama benar. Dalam masalah ketuhanan, kelompok ini berusaha mereduksi makna eksistensi dan keabsolutan Tuhan. Kelompok inilah yang disebut sebagai Islam Inklusif, atau Islam Rasionalis.

Bukan hanya itu. Pemikir NU sendiri pun menyuarakan kritik terhadap paradigma Asy’ariyyah. Serangan yang cukup gencar dilakukan oleh said Agil Siradj, Masdar Farid Mas’udi, Zuhairi Misrawi dari tokoh kritis NU. Mereka mengkritik keras terhadap warisan doktrinal Ahlussunah Waljama’ah di lingkungan NU yang banyak dipengaruhi doktrin teologi Asy’ariyyah.

Dikatakan bahwa teologi Asy’ariyyah telah lama membawa umat Islam ke dalam kondisi yang statis dan beku dari kemajuan modernitas. Mereka juga mengatakan dampak dari teologi Asy’ariyyah itu membawa kecenderungan umat Islam pada prostatus quo, pro-establisment, dan cenderung menghindari kritik terhadap penguasa.

Muncul dugaan, kritik Agil Siradj banyak diilhami oleh tulisan-tulisan Al-Jabiri, seorang filsuf Mesir kelahiran Maroko yang terkenal dengan “kritik nalar arab”-nya.

Kritik Al-Jabiri terhadap teologi klasik seperti madzhab Asy’ariyyah sangat tampak pada komentarnya bahwa teologi yang dianggap paling fundamental dalam tradisi Islam ini harus dibangun kembali sesuai dengan perspektif dan standar modernitas. Untuk itu, ia mengajukan neo-kalam (ilmu kalam baru).

Ilmu kalam baru itu tak hanya mengajarkan doktrinal sebagaimana yang pernah dipahami Al-Asy’ari, Baqillani dan Al-Ghazali. Ilmu itu lebih merupakan revolusi ideologis untuk melawan kebekuan pemikiran Islam klasik.

Dari sini, dapat dipahami mengapa Nuruddin Ar-Raniri terusik untuk menerjemahkan kitab dari bahasa Arab ke dalam bahasa melayu. Terjemahan ini dimaksudkan untuk memberikan jawaban kepada umat Islam tentang pemikiran ilmu kalamnya Abu Hasan Al-Asy’ari.

Ar-Raniri, ulama Aceh, menganggap betapa pentingnya kitab semacam itu menjadi bacaan umat Islam. Sehingga ia merasa perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu. Terjemahannya kemudian diberi judul Durrat Al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id.

Kajian kitab tersebut bertumpu pada diskusi panjang antara Asy’ariyyah (ortodoks) dan Mu’tazilah (kaum rasionalis) tentang pokok-pokok ushuluddin. Diantaranya ada lima pokok bahasan, yaitu hubungan akal dan wahyu, kehendak bebas perbuatan manusia (free will), antara kekuasaan Allah (taqdir) dan usaha perbuatan manusia, sifat-sifat Tuhan Allah, dan keadilan Tuhan Allah.

Karena itulah kitab Durrat Al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id dirasa penting diteliti karena bagian dari sastra Pesantren yang sangat berpengaruh pada masa depan Islam.

Dalam buku Dekonstruksi Sastra Pesantren, Muhammad Abdullah tak hanya menulis tentang kajian kritisnya terhadap karya Ar-Raniri. Ia juga mencoba meneliti ulang kitab Sifa’Al-Qulub yang pernah diteliti oleh C.A.O. Van Nieuwenhuijze. Dan ia menemukan beberapa kesalahan fatal dari penelitian Nieuwenhuijze.

Selain itu, ada juga penelitian tentang Wirid, Hizib, dan Wifiq yang menjadi bagian penting dalam sastra pesantren. Dan juga ada kajian tentang sastra Lisan pesantren di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

Dalam sejarah intelektual Indonesia, pesantren merupakan basis pengajaran Islam tradisional yang berakar dari kitab-kitab Islam klasik. Dari pesantren itulah dapat diketahui sistem pengajaran yang didasarkan pada sumber-sumber tertulis berupa naskah-naskah klasik maupun kitab klasik terbitan Timur Tengah yang merupakan karya ulama salaf. Kitab-kitab jenis inilah yang dalam sastra Melayu dan tradisi pesantren dikenal sebagai sastra kitab, atau secara khas disebut kitab kuning.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah definisi sastra pesantren hanya terbatas kepada karya-karya yang bersumber pada kitab, yang notabene berbahasa arab. Bagaimana dengan karya-karya yang dihasilkan oleh santri lokal, yang tidak menggunakan bahasa Arab. Apakah ini juga bisa dikatagorikan sebagai sastra pesantren. Dan termasuk juga, munculnya karya sastra pesantren belakangan ini, yang banyak ditulis oleh santri muda, yang masuk dalam arus sastra Populer, seperti yang dimotori oleh Komunitas Matapena, asuhan LKiS Yogyakarta?

Selain itu juga, dari sisi pengarang, apakah sastra pesantren harus dilahirkan oleh santri. Dan apakah yang disebut sastra pesantren adalah karya sastra yang bercerita tentang tema pesantren, yang menggunakan latar pesantren?

Beragam pertanyaan di atas tidak terjawab dalam buku yang merupakan hasil disertasi program doktor dosen Jurusan Sastra Indoensia Undip itu.

Namun demikian, meski tidak menjawab permasalahan sastra pesantren secara faktual, buku ini dengan baik mampu mengurai akar kemunculan sastra pesantren di Indonesia. Setidaknya ini bisa menjadi pijakan awal bagi mereka yang hendak memahami sastra pesantren secara mendalam.

Membaca buku ini, kita akan dibukakan kepada kearifan para pemikir islam yang tumbuh di kalangan pesantren. Bukan seperti citra yang muncul belakangan, pesantren sebagai basis gerakan islam fundamental yang sarat dengan terorisme. Dan akhirnya, kontribusi para pemikir pesantren dalam perkembangan sastra dan khasanah pemikiran intelektual Indonesia tak bisa dinafikan lagi.

*Resensi ditulis oleh Wiwik Hidayati, mahasiswa Sastra Indonesia Undip,pegiat LPM Hayamwuruk.

Selengkapnya......