“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.
Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.
Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.
Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.
Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.
Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.
Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?
Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.
Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.
Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.
Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.
Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.
Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.
Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.
Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.
Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.
Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.
Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.
Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.
Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.
Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.
****
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.
Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.
Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. Just take it for granted.
Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.
Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.
Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.
Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.
Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.
Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.
Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.
Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.
Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.
Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?
Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya. No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.
Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.
Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.
Thursday, August 23, 2007
Jalan Gelap Seorang Pencari
Monday, August 20, 2007
Catatan si Jago Makan: Tuntutan Profesi atau Perut?
Hampir tiap hari makan bakso. Ini seperti sudah menjadi ritual wajib. Setelah bakso baru bebek. Meski tak separah bakso, menu yang satu ini cukup membuatnya tak bisa berpaling. Paling tidak seminggu sekali. Lalu Mi Ayam, Soto Madura, Sate Kelapa, Rawon Setan, Pecel, dan mungkin masih banyak yang lain.
Dalam sehari bisa makan sampai 6 kali. “Eh, nggak ding, kadang ampe 7,” ia meralatnya. Belum sempat saya menuntaskan keheranan saya, ia menambahkan “Jangan salah, ada ngemil-nya juga. Bakso, Pangsit, Siomay, Rujak” Ya ampun….bener-bener doyan makan ini orang!!!
Namanya Manda Roosa. Tapi lebih dikenal dengan panggilan “Mendol”. Lengkapnya La Mendol. Sekilas nama ini seperti diambil dari bahasa Italia. Tapi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali.
“Nama Mendol adalah nama pemberian Mbah Kakung saya. Ini nama panggilan di keluarga dan saudara-saudara. Nama Mendol, merujuk pada makanan khas dari olahan
Baiklah, untuk lebih mengakrabkan, saya akan panggil pemilik blog jagomakan.blogspot.com ini dengan nama Mendol. Isi blognya apalagi kalau bukan soal makan, urusan yang tak jauh dari perut. Ada Puding, Nasi Goreng, Donat, Durian, Pecel, Bakso Bakar, Pecel Terong, dan masih banyak menu-menu lainnya.
Sepertinya ibu satu anak ini doyan banyak jenis makanan. Setelah saya desak, ia membeberkan makanan yang menjadi pantangannya.
“Soal yang tidak suka, ini bukan masalah selera. Tapi saya punya alergi sama yang namanya udang dan lobster,” jawabnya memberi alasan.
“Wueh..kalau ada acara food taster, teman wartawan suka ngerjain saya dengan memesan menu ini. Dan mereka tertawa puas, ketika saya cuman bisa ngiler ngeliatin,” tambahnya.
Manda adalah seorang jurnalis, spesialis menulis masalah kuliner. Ia bekerja untuk Majalah East Java Traveler dan Majalah Surabaya City Guide, dua unit usaha dari Mossaik Communications yang berada di bawah manajemen Suara Surabaya Media.
Jelas saja pengalaman dan pengetahuannya soal dunia kuliner ini sudah tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, selain memang sebagai jurnalis kuliner, sudah jauh hari, atau istilah arek
“Blog ini sebenarnya merupakan behind the scene, dari liputan saya. Di sini bisa dilihat perjuangan saya bangun pagi-pagi untuk nongkrongin penjual sate kelapa. Atau cerita,di mana saya terpaksa menelan bulat-bulat makanan yang pedas, sekedar membahagiakan si pemiliknya. Atau sekedar berbagi informasi bagaimana nasib akhir sebuah donat yang sudah tidak laku. Semuanya adalah cerita-cerita yang tidak mungkin saya ungkap di majalah karena lebih ke pengalaman personal,” jelasnya tentang ihwal pembuatan blognya yang rame dikunjungi para blogger itu.
Sejak awal Manda memfokuskan blognya hanya menceritakan masalah kuliner. Dia mengangankan blognya ini kelak bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin sharing atau mencari informasi tentang pusaka kuliner di nusantara dan sekaligus untuk turut melestarikan makanan khas daerah.
Usahanya mengasuh blog kuliner itu telah membuahkan hasil. Bulan Mei lalu, Manda dinobatkan sebagai maskot Partai Komunitas Bangau Mania, yang simpatisannya direkrut dari kalangan yang doyan jajan. Selamat ya, siapa tahu jika kelak partai ini bisa maju dalam pemilu mendatang, Manda bisa diusulkan menjadi Menteri Urusan Pangan!
Berkah lainnya, Manda pernah diundang oleh salah seorang pemilik resto yang membaca blognya. Ia diundang untuk mencicipi dan makan gratis, sebagai imbalannya, ia punya kewajiban moral untuk menulis laporannya di blog.
“Itulah kenapa saya menulis di profile saya. Kuli tinta yang menemukan surga dunia di dalam pekerjaannya sebagai jurmalis kuliner. Hampir setiap datang liputan, saya selalu disuguhi makanan yang ujung-ujungnya gratis bahkan dibawakan oleh-oleh. Yang exciting, saya pernah makan steak yang harganya setengah juta… Gratisss. Pernah dibungkusin 12 bungkus pecel, karena penjualnya suka sekali diliput. Satu besek besar jenang dodol, bahkan sampai pernah keracunan cokelat gara-gara saya habisin sendiri dua kotak besar cokelat. Tapi nggak bakal kapok kok....hehehe”.
Jika banyak orang yang menjalani profesi karena tuntutan kebutuhan, lain halnya dengan Manda. Ia mendapatkan profesi yang klop dengan hobi. Makanya ia kerap memesan menu tambahan di luar jatahnya sebagai taster. Manda masih berbaik hati, oleh-olehnya hasil perburuannya sebagian ia bagi-bagikan ke rekan-rekan kerjanya di kantor.
Namun karena kegemaran makan bukan hanya berlaku ketika dia menjalankan tugasnya sebagai jurnalis kuliner, tapi juga dalam kehidupannya sehari-hari, diakuinya sebagian gaji habis untuk urusan yang satu ini. Kalau sudah begini, apakah ini layak disebut berkah atau musibah. Entahlah, toh suaminya tak terganggu akan porsi makan istrinya yang berlebih, bahkan sebagian gajinya yang dihabiskannya untuk kesenangannya itu.
Di luar kesibukannya sebagai jurnalis kuliner dan mengurus keluarga, tak disangka ia masih sempat menjadi pengajar di sebuah sekolah modeling. Haaa? Bagaimana ceritanya, apa dia pernah menjadi model?
“Iya, Model Galian Kendor, puass!!!,” jawabnya seperti meniru Tukul yang tengah membalas olok-olok dari audiens. Bukan ia membela, tapi malah mempertegas olokan itu.
“Ngajar dan kuliner memang punya persamaan. Sama-sama urusan perut.,” jawabnya penuh canda.
Ternyata ujung-ujungnya perut juga. Dasar si Jago Makan!
Thursday, August 09, 2007
Sensasi Sang Pakar Telematika
Roy Suryo tampaknya hendak membuat kejutan di bulan Agustus ini menjalang peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-62. Ia mempublikasikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza yang diklaimnya sebagai hasil temuannya bersama Tim Air Putih dari sebuah server di Belanda.
Konferensi Pers pun digelar. Media ramai mengabarkan temuan istimewa ini. Namun selang beberapa hari kemudian temuan itu ternyata dinyatakan basi!
Lagu Indonesia Raya yang diklaim oleh penemunya sebagai temuan baru itu ternyata sudah ada di Youtube sejak Desember 2006 . Reaksi juga datang dari Perum Percetakan Negara RI (PCNRI) Cabang Surakarta yang menyatakan sudah lama memiliki rekaman lagu Indonesia Raya Tiga Stanza seperti yang ditemukan Roy Suryo. Mohammad Ridwan seperti dilansir oleh Detik.com, mengaku pernah menemukan lagu Indonesia baru itu di buku pelajaran SD.
Tak hanya itu, pengurus Air Putih belakangan memberikan klarifikasi atas pernyataan Roy Suryo yang membawa-bawa nama lembaganya. Disebutkan bahwa Air Putih tidak pernah mengadakan penelitian secara khusus tentang arsip sejarah di internet. Dinyatakan pula bahwa Roy Suryo bukan anggota Air Putih, apalagi ketuanya.
Yang amat memalukan barangkali adalah soal pengakuan Roy Suryo yang menemukan lagu Indonesia Raya itu di sebuah server di Belanda. Menurut pengurus Air Putih lagu itu ditemukan dari hardisk di salah satu komputer milik Air Putih yang entah kapan dan didownload oleh siapa. Dan Roy Suryo adalah salah seorang yang pernah mengopi data sejarah dan lagu Indonesia Raya itu.
Roy Suryo, Media dan Blogger
Timbul pertanyaan, mengapa media massa pada mulanya tampak membesar-besarkan isu itu tanpa melakukan kroscek lebih dulu. Apakah memang wartawan pada mulanya memang tidak mengetahui bahwa temuan Roy Suryo itu sudah lama ada, atau memang ada agenda untuk kembali mengangkat isu ini mengingat momentum yang tepat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun RI yang ke-62?
Memang media selanjutnya terus melakukan penelusuran, dan akhirnya membongkar apa yang sebenarnya terjadi. Media bisa membela diri bahwa kebenaran dirangkai dari waktu ke waktu, terus berevolusi, dan pada akhirnya semua informasi yang dirangkum itu saling melengkapi. Namun dari beberapa kali pemberitaan, media kerapkali tampak mengekspose secara berlebihan isu-isu yang dilontarkan oleh sang pakar telematika itu.
Hal inilah yang amat disayangkan oleh para blogger yang banyak mengetahui kapasitas kepakaran Roy Suryo, yang dicitrakan oleh media sebagai pakar telematika. Beberapa komentar sanggahan atas pernyataan-pernyataan Roy Suryo sempat dirangkum dalam situs Roysuryowatch.org, namun situs ini sudah tak dapat diakses lagi.
Ambar Sari Dewi pernah menulis profile Roy Suryo di Majalah Pantau edisi Juli 2001 yang diberi judul “Roy Suryo Sang Jagoan”. Tanpa melebih-lebihkan, agaknya sosok Roy Suryo yang diangkat oleh media dikupas secara berimbang dalam tulisan ini. Ada pernyataan saudara kandung Roy Suryo, Roni Suryo yang mengakui bahwa adiknya ini sebenarnya tak cukup punya kompetensi dalam bidang IT. Roni bahkan mengatakan jika adiknya memang suka mencari popularitas. Tulisan ini bisa dibaca di www.pantau.or.id.
Jika dirunut dari beberapa catatan para blogger, perseteruan Roy Suryo dengan para blogger itu bermula dari komentar Roy Suryo yang menilai bahwa blog dan friendster adalah tren sesaat. Menurutnya, seperti yang dicatat dalam blog priyadi.net, profile friendster 68% adalah palsu. Selain itu blog dan friensdter banyak dipakai oleh pemiliknya untuk melakukan character-assassination. Oleh karena itu, Roy menarik kesimpulan bahwa kebenaran informasi blog tak bisa dipercaya.
Sejumlah blogger pun bertanya-tanya. Apakah sang pakar telematika yang mengkritik blog ini punya blog, dia yang mengkritik friendster ini punya friendster. Ehmm... barangkali karena dia sudah tak percaya dengan segala macam barang gratisan, seperti blog atau email. Bukankah satu-satunya email yang sering dipakai juga numpang domain milik kampus? Ujung-ujungnya gratisan juga, khan?
Undangan yang bernada bersahabat disampaikan oleh Ikhlasul Amal. Amal mengajak Roy Suryo untuk menulis di blog. Saran Amal ini untuk memudahkan Roy melontarkan gagasannya daripada harus mengirimkannya ke milis dan media massa. Kelebihannya dengan blog, Roy bisa berinteraksi dengan para pembaca secara dua arah.
“Kelebihan blog menurut saya adalah kita bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca tanpa melalui pihak ketiga yang kadang tidak cukup mengerti bidangnya. Kalau untuk RS menurut saya bukan itu yang dicari, RS malah butuh pihak ketiga yang punya akses ke masyarakat banyak, dan relatif percaya dengan omongan RS (lepas dari benar atau tidaknya argumentasi RS). Yang menjadi tujuan RS adalah sensasionalism, hal itu menurut saya gak bisa didapatkan dia dari blog. Selain itu media konvensional cenderung satu arah, hal ini cocok dengan personalitas RS yang kurang dapat berdiskusi. Jadi menurut saya, dari perspektif RS, blog tidak cocok untuk dia,” tulis Priyadi mengomentari posting Amal.
Kembali ke hubungan media dan Roy Suryo, siapa sebenarnya yang berkepentingan dalam mengekspos setiap isu sang pakar telematika itu. Media, ataukah Roy Suryo sendiri yang sebenarnya hendak mencari popularitas?
Pada kasus penemuan lagu Indoesia Raya Tiga Stanza ini, jika dirunut dari kronologi bagaimana isu itu dilempar ke publik, tampaklah bahwa Roy Suryo sendirilah yang mulanya mengontak media. Tak hanya itu ia menghubungi beberapa pejabat, ketua MPR sampai wakil presiden. Dan parahnya lagi, beberapa pejabat itu sempat terheran-heran akan penemuan Roy Suryo itu.
Apakah memang isu yang dihembuskan Roy Suryo ini, kalau memang tidak baru, tapi belum banyak diketahui oleh publik. Dan karena alasan itu Roy Suryo merasa perlu menyampaikannya ke media?
Baiklah jika memang demikian kenyataannya di lapangan, media, pejabat berwenang memang tak banyak yang tahu, sehingga kita bisa mengambil sisi positifnya. Persoalan selesai. Kehebohan itu cuma berlangsung beberapa hari saja dan masyarakat akan begitu saja melupakannya.
Tapi peristiwa ini tentu saja tak sebegitu mudahnya dilupakan oleh para blogger, khususnya yang sudah lama terlibat silang pendapat dengan Roy Suryo.
Selain soal kepakaran Roy Suryo dalam hal IT yang diragukan, juga sosok Roy Suryo yang dinilai gemar melakukan sensasi tanpa disertai data dan fakta yang akurat. Beberapa blogger menulis komentarnya terkait soal heboh penemuan “lagu Indonesia Raya Tiga Stanza” oleh sang pakar telematika ini.
Priyadi, misalnya. Dalam blognya priyadi.net, ia menulis “Kiat Sukses Menjadi ‘Penemu’ Versi Asli Lagu ‘Indonesia Raya’. Posting itu ditulis dengan nada satire yang sepertinya hendak menyatakan betapa naifnya seorang Roy Suryo, yang dalam aksinya kali ini lagi-lagi ingin mencari popularitas. Dari penelusuran arsip tulisan dalam blognya, Priyadi rupanya sudah beberapa kali menulis tentang Roy Suryo.
Catatan-catatan lainnya bisa ditemukan di blog Ndoro Kakung, Jay, M Fahmi Aulia, atau prediksi kisah selanjutnya "Habis Indonesia Raya, Beralih ke Telor Columbus".
Bagi sejumlah blogger, kasus penemuan lagu “Indonesia Raya Tiga Stanza” ini barangkali akan menambah catatan aib Roy Suryo, sosok yang dijuluki media sebagai pakar telematika. Blogger lain bisa jadi mendukung, masyarakat di luar blogger barangkali juga akan menganggap Roy Suryo sebagai orang yang banyak berjasa. Silakan saja, siapapun boleh menyampaikan pendapatnya. Media juga boleh memberikan julukan apa saja, namun pada akhirnya pembacalah yang akan memberikan penilaian. Apakah berita itu akurat, atau cuma sekadar sensasi!
*Tulisan ini dimuat di rubrik gaya suaramerdeka.com, dan juga versi blognya blog.suaramerdeka.com