29 September 2006

Obsesi Kreatif Seorang Desainer

Apakah anda pernah mendengar istilah menteri negara urusan desain? Belum lama ini diluncurkan sebuah blog "Menteri Desain Republik Indonesia". Sesuai namanya, blog ini berisi ulasan seputar desain, dari logo pemerintah, parpol hingga produk swasta.

Simak saja ulasan tentang desain logo PT Kereta Api (persero). Menurut pak menteri, logo seperti huruf Z pada logo PT KAI itu kurang berkarakter sebagai logo jasa angkutan masal. Solusinya, ia mengusulkan logo baru yang lebih mencitrakan kereta api Indonesia yang aman dan lancar.

Atau simak ulasan yang lebih filoofis pada desain logo Kementrian Lingkungan Hidup. Belum terselesaikannya masalah lingkungan hidup di Indonesia, salah satunya, akibat tumpang tindih wewenang dalam departemen ini. Oleh karena itu, seperti meniru di Singapura, lingkungan hidup (termasuk kehutanan) dan air (termasuk kelautan) dijadikan satu. Dasar pemikiran itu kemudian dituangkan dalam logo baru yang akan diusulkan kepada Presiden Indonesia.

Selain logo, blog ini jupa mengupas soal film Indonesia. Menurut pak menteri, film Indonesia perlu diperbaiki mutunya. Para pembuat film juga disarankan untuk belajar lagi bagaimana membuat film yang baik. Untuk menyukseskan programnya ini, pak menteri menyelenggarakan Najis Award untuk katagori Best Editing dan Best Sound FX. Siapa saja pemenangnya, simak saja di Najis Award

Benarkah blog yang beralamat http://menteridesainindonesia.blogspot.com itu milik Kementrian Desain Republik Indonesia. Bukankah Indonesia tidak memiliki menteri urusan desain. Lantas siapa pemilik blog ini?

Sesuai penjelasan di halaman profile, pemilik blog bernama Wahyu Aditya. Berikut ini adalah penjelasannya:
Kepada Rakyat Indonesia, Kami Kementerian Desain Republik Indonesia bersumpah untuk melaksanakan tugas menciptakan citra bersih pemerintahan Indonesia melalui solusi - solusi visual yang kreatif. Namun untuk sementara ini departemen desain masih belum diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono...sehingga masih bergerak di jalur underground.. harap maklum. Jakarta, 28 Agustus 2006 - Merdeka!


Setelah ditelusuri lebih jauh, nama Wahyu Aditya adalah seorang pemilik Hello;Motion (www.hellomotion.com), sebuah sekolah desain dan animasi yang berlamat di JL. Tebet Raya 45 C Jakarta 12820. Pria kelahiran Malang, 4 Maret 1980 ini pernah belajar di Advanced diploma of Interactive Multimedia & Animation, KvB Institute of Technology, Sydney, Australia (1998-2000).

Sehari-harinya ia mengelola perusahaannya, Hello;Motion. "Mulai dari mengajar, bikin animasi, jadi kepala sekolah, mengkurasi film , meeting, hingga jadi kurir...” katanya. “Sisanya nonton tv, baca buku, sketsa, ama nonton dvd..." tambahnya.

Adit, sapaan blogger ini, mengatakan bahwa ide membuat blog itu berawal dari keinginannya untuk membuat negara grafis, yakni negara yang peka dengan kebutuhan grafis. Menurutnya, grafis adalah salah satu alat untuk memajukan bangsa karena grafis merupakan bagian dari sihir. Ehm, memangnya mau disihir menjadi apa negara ini? "Menjadi negara maju dong.. targetnya menjadi negara mandiri..." katanya.

Lalu apa kaitanya dengan desain grafis yang ditawarkan?

Pertama, dari citra pemerintah sendiri harus dirubah menjadi citra yang profesional, terbuka, dan rileks (tidak kaku). Ini penting karena pemerintah adalah pelayan rakyat. "Salah satu solusinya paling mudah ya dirubah tampilan desain pemerintah...ya logonya, fashionnya, audio visualnya, print ad nya dll...," jelasnya.

Untuk mengampanyekan slogan pemerintah adalah pelayan rakyat, pak menteri ini membuat sebuah petisi yang berjudul "Tolak Pemerintah Rangkul Pembina". Siapa saja yang sudah mengisi petisi itu, anda bisa membukanya di di sini.

Seberapa penting peran Kementrian Desain Republik Indonesia itu jika direalisasikan. Apakah tidak malah membelenggu kebebasan kreatif para seniman?

"Betul..tapi dunia kreatif juga perlu dilindungi, dibikin pendidikan, standarisasi dunia kreatif, mencetak generasi penerus, bikin database..dll..."

"Nah kementerian urusan desain itu melindungi bentuk kreatif yg tangible (bisa diukur) mulai dari perfilman, animasi, print add, dll.. ," tambahnya.

Bagiamana komentar para blogger tentang blog yang satu ini?

Dalam posting terakhirnya (28/9/2006) berjudul "Es Teler 77", terdapat komentar dari blogger dengan nama “Yudhayana”. Dia mengaku seolah-olah sebagai presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang meminta para blogger lain memaklumi desain menterinya itu. Namun karena komentarnya yang bernada sinis, ia pun dihujat rame-rame oleh blogger lainnya.

Tak ketinggalan, Antyo Rentjoko, atau lebih dikenal Kéré Kêmplu dengan bloggombalnya (www.blogombal.org) mengaku terkesan dengan blog menteri desain ini. Bahkan ia mencantumkannya dalam daftar blog-klipingnya (www.kliping.blogombal.org) dengan judul "Blog Edan Mencengangkan".

Sementara Adit, si empunya blog, malah tertawa ketika ditanya mengenai kesiapannya untuk dicalonkan sebagai Menteri Desain Indonesia. “Ah masih mentri-mentrian kok, hehe,” jawabnya.

Menutup wawancara, pak menteri mohon maaf bila ada tutur kata yang salah. "Mohon maaf bila ngomongnya blepotan. Maklum, menteri merangkap juru bicara," ucapnya.

Tulisan ini dipublikasikan di rubrik Gaya, www.suaramerdeka.com, klik di sini

________________________________________________________

Bloggernarsis@yahoogroups.com adalah forum diskusi blogger Jawa Tengah yang dibentuk oleh tim kreatif suaramerdeka.com. Kami mengundang anda bergabung, berdiskusi seputar blogger di Jawa Tengah secara khusus, dan dunia blog secara umum. Selain itu kami juga melayani untuk pelatihan blog dasar dan lanjut.

Selengkapnya......

27 September 2006

TOPENG

Dibalik orang melakukan ibadah di bulan Ramadhan


Ilustrasi oleh Toni

SESEORANG memiliki banyak julukan. Ada yang memanggilnya Pak Kyai, ada juga yang menyapanya Pak Haji. Nama yang sebenarnya tidak jelas. Yang diketahui, ia selalu tersenyum tiap kali bertemu orang. Ia banyak bersedekah kepada orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari orang tersebut berubah. Mukanya cemberut bila bertemu orang. Ia juga tak lagi mengisi kotak amal untuk pembangunan masjid. Padahal sebelumnya, ia merupakan penyumbang dana terbesar. Rupanya ia kecewa karena orang-orang tak lagi memanggilnya dengan julukan kesayangannya. Ia merasa dilecehkan. Pengorbanannya selama ini tak dihargai.

"Biar koruptor kayak gini, aku banyak menyumbang pembangunan masjid itu, " ungkapnya, kesal.

****

BULAN Ramadhan tiba. Orang muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Masjid dan surau ramai dikunjungi para jemaah. Mereka menjalankan sholat Tarawih. Pada paroh bulan terakhir, atau tepatnya tujuh hari terakhir, rombongan jemaah bertambah. Masjid ramai sepanjang malam hingga pagi hari. Orang-orang menunaikan Qiyamul Lail (ibadah malam). Ada apa gerangan? Lailatul Qodar konon berada di tujuh hari terakhir itu.

Pada saat yang sama, stasiun televisi tampil 'spesial' dalam bulan puasa ini. Acara kerohanian sekarang ditambah porsinya. Ada talkshow menghadirkan da'i kondang yang lagi beken. Sinetron-sinetron tampil lebih religius. Sampai kuis tebak-tebakkan dengan tema islami juga ikut-ikutan menyemarakkan acara sahur dan menjelang buka puasa. Pokoknya, semua disulap menjadi lebih islami.

Para selebriti yang biasa muncul di layar kaca juga tampil beda. Kali ini penampilannya lebih santun. Tak ketinggalan juga para pejabat, ketika muncul di depan publik, ucapan dan perilakunya terjaga. Bisa jadi untuk sementara waktu mereka juga meninggalkan kebiasaan buruk lainnya.

Ada apa dibalik semua itu? Menghormati bulan puasa, mungkin itu jawaban yang akan diberikan. Orang-orang berubah. Sim-salabim, semua disulap menjadi lebih baik.

****
MANUSIA, seperti nelayan dan petani, menggantungkan hidupnya pada musim. Mereka tak berani melawan musim. Kualat, kata orang Jawa. Masak lagi musim rob tetap melaut. Musim rendengan (penghujan) kok malah menanam palawija. Alamat bakal ciloko!

Beberapa tahun terakhir, para petani di daerah tempat saya tinggal, mengeluh. Musim sekarang ini tak menentu. Musim ketigo (kemarau) malah turun hujan. Pada musim rendengan, hujan jarang turun. Akibatnya, mereka sering gagal panen. Harga tembakau anjlog. Kualitasnya memburuk akibat banyak turun hujan. Padi tak sempat panen karena kurang pengairan. Namun demikian, mereka masih tetap setia pada musim. Musim padi tetap menanam padi, tidak menanam palawija, dan begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi kesetiaan petani pada musim tersebut tidak berlaku pada orang-orang yang pergi ke masjid, para selebriti yang berpakaian santun, para pejabat dan wakil rakyat di gedung DPR yang tidak melakukan korupsi. Mereka hanya melakukannya di bulan puasa. Selepas itu, kembali seperti sediakala.

Apakah puasa, menjalankan ibadah itu juga mengenal musim? Seperti saat bulan puasa kemudian orang ramai-ramai berbuat kebaikan. Karena, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, semua kebaikan akan dilipatgandakan. Mumpung lagi bulan promosi, maka orang pun berbondong-bondong melakukan kebajikan.

****
FENOMENA tersebut adalah realita. Kita, termasuk saya dan mungkin juga anda, malakukan ibadah atau kebaikan karena ingin dipuji oleh orang lain. Maka bila yang diharapkan tak kesampaian, kita akan kecewa. Merasa pengorbanan yang telah dilakukan.sia-sia.

Kita juga masih menjalankan ibadah karena takut bukan karena kesadaran. Ini tentu beda dengan definisi taqwa sebenarnya.Takut di sini karena perasaan cemas, perasaan khawatir akan ancaman-ancaman dari Tuhan. Di sisi lain, kita mudah tergiur oleh iming-iming. Iming-iming pahala dari tuhan.

Ini seperti yang dikutip dari kalimat bijak Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Basrah, Irak:

Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.

ANDAI saja berbuat baik, taqwa kepada Tuhan dilakukan secara tulus dan tak mengenal musim, dunia ini akan lebih tenteram. Manusia akan lebih konsisten dalam melakukan kebaikan walau dalam kondisi apapun.

Orang melakukan kebaikan karena dorongan dari dalam dirinya. Dia tidak lagi berpura bermanis-manis di depan orang lain, pura-pura khusu' ketika beribadah, sementara rasa itu tak pernah ada dalam hatinya.

Tapi, kehendak tuhan masih menjadi misteri. Tidak bisa ditebak seperti musim akhir-akhir ini. Setan-setan itu juga akan dilepas seusai orang-orang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Manusia akan menanggalkan topengnya dan mengenakan topeng lainnya. Mereka kembali berkawan pada setan. Entahlah, saya juga tak mengerti. Wallohu a'lam bisshowaab.


*dipublikasikan di tablod Hawepos edisi 13/Oktober/2005

** tulisan ini sebelumnya pernah dimuat diblog ini pada 25 October 2005

Selengkapnya......

01 September 2006

Mission Impossible

Menggugat misi pengarang dalam karya sastra

Seorang penulis ingin membuat sebuah karya besar, karya yang dapat memberikan pencerahan kepada seluruh umat manusia. Sebuah tugas mahaberat, tapi ia yakin akan mampu menjalankan misinya.

Orang seringkali memulai suatu pekerjaan dengan sebuah niat besar. Begitu juga dengan aktivitas menulis, termasuk menulis karya sastra, penulis seringkali menyertainya dengan embel-embel niat tertentu.

Memang tak ada yang salah dengan niat dalam menulis. Setiap penulis tentu saja memiliki tujuan tertentu ketika ia menyampaikan ide lewat tulisan. Akan tetapi menjadi masalah ketika niat itu mengontrol keseluruhan materi cerita. Akibat semangat penulis untuk menyampaikan pesannya berlebihan, karya yang dihasilkan akhirnya menjadi didaktis.

Apakah penulis yakin bahwa tulisannya akan mencerahkan. Dengan cara apa penulis akan menyadarkan pembaca. Apakah akan disampaikan seperti orang yang tengah berceramah di forum-forum keagamaan itu?

Bila anda sepakat, dunia sastra tidak sama dengan dunia dalam kehidupan sehari-hari. Memang cerita dalam karya sastra boleh diambil dari cerita keseharian. Namun ketika masuk dalam medium sastra, cerita itu sudah memiliki tempatnya sendiri.

Karya sastra berbeda dari karya sejarah, maupun disiplin ilmu lainnya. Kebenaran dalam sastra tidak sama dengan kebenaran versi sejarah. Kebenaran sejarah tersusun atas data-data faktual, yang bisa dibuktikan secara materi, namun kebenaran dalam sastra adalah nilai-nilai yang bersifat abstrak. Pesan yang diserap oleh masyarakat adalah nilai-nilai dari karya sastra, bukan kebenaran cerita secara utuh.

Shakespere tak harus membuktikan bahwa tokoh Romeo dan Juliet itu benar-benar ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Tak penting pula Ayu Utami membeberkan data-data yang digunakan dalam ceritanya Saman maupun Larung. Nilai-nilai yang disampaikan dalam cerita Romeo and Juliet maupun cerita dalam novel Ayu Utami itu yang jauh lebih penting bagi pembaca daripada kebenaran dibalik cerita yang ditulis oleh pengarang.

*****
Pada artikel sebelumnya saya telah menyampaikan tentang peristiwa kematian pengarang dan perlunya peran pembaca dalam menafsirkan sebuah teks yang diangkat dari esai Roland Barthes “The Dearh of The Author”. Masih tentang pemikiran Bathes, kali ini saya mengutip esainya “from Wrting Degree Zero”.

From Wrting Degree Zero adalah buku pertama Barthes yang memuat perselisihannya dengan Sarte --meskipun nama Sarte tak disebutkan secara langsung— tentang pandangannya terhadap karya sastra, selain juga perselisihan dengan Sarte tentang imajinasi dalam buku terakhirnya Camera Lucida.

Meskipun sepakat dengan Sartre bahwa tugas penulis adalah menyeru pembaca kepada kebaikan (etis), Barthes tidak menekankan moralitas sebagai tujuan akhir sebuah cerita. Ia menjadikan moralitas sebagai permasalahan ketimbang solusi yang membentuk sebuah karya sastra.

Barthes membedakan teks menjadi dua, teks yang berpusat pada penulis dan teks yang berpusat pada pembaca. Teks yang berpusat pada penulis bertujuan agar pembaca tak sebatas menjadi konsumen, tapi juga menjadi produsen teks. Pembaca mempunyai kesejajaran dengan bentuk penafsiran yang menegasakan ‘permainan bebas’ (freeplay) dan di luar jangkauan batas kemanusiaan. Sedang teks yang fokus pada pembaca atau teks klasik, mempunyai pluralitas yang terbatas dan oleh sebab itu tidak berada di luar jangkauan penafsiran.

Sama halnya dengan Derrida, pioner gerakan post strukturalisme, Barthes memusatkan perhatiannya pada teks yang fokus pada pembaca dengan tujuan agar mampu menunjukkan “perbedaan” yang ada dalam teks.

Bagi Barthes bahasa adalah tujuan awal dan akhir dari sastra. Bahasa adalah segalanya. Dengan kata lain, semua realitas telah diwakili melalui bahasa—termasuk kebijkasanaan pengarang dan struktur karyanya. Sikap Barthes ini sekaligus merupakan penolakannya terhadap pandangan Sartre, ketika sastra dibawa untuk kepentingan tertentu, termasuk kepentingan politik dan agama.

Barthes menganggap tidak ada kewajiban sebuah tulisan menghasilkan sesuatu diluar tulisan itu sendiri –baik untuk tujuan sosial maupun moral— yang menjadikan sastra sebagai instrumen perlawanan dan subversi, tapi sebagai bentuk praktek penulisan itu sendiri. Baginya bahasa tidak pernah menjadi kekuatan.

Selain yang disebutkan di atas, Barthes menganggap menulis sebagai aktivitas bebas, termasuk menyampaikan pandangan politik. Dia memahami sastra sebagai sebuah usaha pembaharuan dari tuntutan hak individu secara terus-menerus, dan semua hak itu pada akhirnya adalah hak politik. Dan Barthes sendiri termasuk orang yang menolak sastra dikaitkan dengan politik.

Kebebasan penulis digambarkan seperti sebuah penerbangan. Penulis adalah utusan dari egonya sendiri –sebagai pribadi dalam penerbangan terus menerus sebelum akhirnya ditentukan dengan tulisan, begitu juga pikiran, ia berada dalam penerbangan abadi dari doktrin. “Who Speaks is not who writes, and who writes is not who is.” Pada akhirnya yang ingin dituju oleh Barthes adalah pencapaian akan keindahan.

*****
Meski bersifat abstrak, kebenaran dalam karya sastra memiliki kedudukan yang tinggi, lebih tingga dari ilmu pengetahuan lainnya bahkan agama. Matthew Arnold dalam esai “studi puisi”-nya menegaskan : “Agama kita telah mewujudkan dirinya dalam kenyataan, kenyataan yang diduga; ia telah melekatkan emosi pada kenyataan, dan sekarang kenyataan itu mengecewakan.” Sebaliknya, “Puisi telah melekatkan emosi pada ide; ide itu adalah kenyataan. .... Tanpa puisi, sains kita akan terasa tidak lengkap; dan kebanyakan yang sekarang kita lewatkan dengan agama dan filafat akan diganti dengan puisi.”

Sebagai pembaca, setiap orang berhak melakukan penafsiran terhadap teks sastra. Menafsir berarti tidak hanya melakukan pembacaan ulang, tetapi juga menelusuri makna dibalik teks untuk menemukan makna-makna baru. Jangan takut untuk membaca, bahkan dari kesalahan membaca itu bisa saja muncul sebuah kritik yang estetik.

Jika anda sebagai penulis, sebaiknya anda tak usah membebani diri dengan keinginan untuk menyampaikan suatu ajaran kepada pembaca. Alih-alih pesan anda akan sampai, pembaca sudah buru-buru menutup tulisan anda karena tidak menikmatinya. Oleh karena itu, biarkan pembaca sendiri yang menemukan pesan dari teks yang anda tulis.

Ketika anda menulis, tak perlu juga diniati untuk membuat sebuah karya sastra yang besar (masterpice). Ketika karya anda sudah menyentuh kenikmatan pembaca, dengan sendirinya kebesaran karya anda telah mendapatkan pengakuan. Niat maupun keinginan yang berlebihan hanya akan membebani penulis dalam menghasilkan karya. Menulis menjadi terhambat. Bagaimana tidak, menulis belum dimulai, tapi sudah memasang target.

Sekarang, menulis, menulis sajalah. Membaca dan membaca. Tentu dengan terus belajar untuk menjadi penulis dan pembaca yang baik.

*Tulisan ini dipublikasikan di Buletin Sastra Hysteria, Edisi September 2006

Selengkapnya......