17 October 2005

Demonstrasi bukan satu-satunya cara

Tanggapan atas tulisan 'Mahasiswa, Berpikirlah Sebelum Demonstrasi' oleh Oleh: Abdul Gaffur A. Dama


Menarik tersebut. Setidaknya untuk dijadikan sebagai refleksi. Kita memang sering bertindak tanpa berpikir matang lebih dulu. Untuk apa yang kita lakukan ini, apa dampaknya, sudahkah kita melakukan yang terbaik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum sempat terjawab. Tapi aksi sudah marak di jalan-jalan. Akibatnya, apa yang kita lakukan terkesan asal-asalan. Asal teriak, asal tidak sepakat, tanpa tahu solusi apa yang bisa kita tawarkan jika kita mengambil sikap itu.

Seperti isu kenaikan harga BBM. Beberapa elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa sebagai wujud solidaritas. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM karena akan menyengsarakan rakyat kecil. Bermacam retorika dimuntahkan. Dari isu nasionalisasi aset-aset negara, tangkap koruptor, sampai menuntut pemerintah SBY-JK turun jika tidak memenuhi tuntutannya.

Tuntutan semacam itu sudah terlalu sering disampaikan. Bahkan pemerintah dan wakil-wakil rakyat itu juga mungkin sudah bosan mendengar. Ah sudah biasa. Dasar mahasiswa kurang kerjaan. Urusin saja tuh kuliahmu. Mungkin itu kata-kata yang mereka simpan saat mendengar berbagai tuntutan dari mahasiswa.

Lantas apakah lantas yang mereka lakukan itu sia-sia?

Tentu tidak. Pasti ada gunanya. Salah satunya seperti yang mereka lakukan, unjuk rasa turun ke jalan. Setidaknya bisa mengundang perhatian publik. Dari yang semula belum tahu menjadi tahu. Syukur-syukur bisa menyadarkan. Meski tuntutan itu tidak didengarkan, setidaknya sudah cukup membuat pemerintah dan pihak-pihak yang dikritik itu menjadi waspada. Mereka tidak bisa seenaknya, karena ada orang-orang yang mengontrol mereka.

Sepakat, agar tuntutan itu tidak terkesan asal-asalan, perlu dipersiapkan dengan matang. Sebelum menentukan sikap setuju atau tidak setuju, yang penting adalah membahas persoalan lebih dulu. Wacana lebih penting dari sekedar sepakat atau tidak sepakat. Baru kemudian kalau sudah mengerucut, tentutan sikap. Selanjutnya, bila memang mau turun ke jalan, strategi aksi di lapangan perlu dipikirkan agar bisa berjalan sesuai yang diinginkan dan untuk menghindari hal yang tidak diharapkan.

Jadi, demonstrasi sah-sah saja. Bukankah banyak cara untuk melakukan perjuangan. Anda mahasiswa, Anda bisa menulis, tuangkan gagasan itu dalam tulisan. Bila Anda punya media, publikasikan karya anda itu. Bila anda punya komunitas, diskusikan pemikiran anda itu dengan kawan-kawan. Wacana akan mulai bermain dari ruang lingkup kecil itu. Selanjutnya virus-virus itu akan menyebar. Bila memang tulisan anda bagus, kenapa juga tak dikirimkan ke media massa. Dari situ akan banyak dibaca orang. Opini publik mulai terbentuk dari sini. Anda termasuk terlibat didalamnya. Selain sebagai latihan juga dapat honor. Lumayan bisa untuk nambah uang saku.

Yang penting lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan. Jangan berhenti untuk tidak melakukan sesuatu. Kita, mahasiswa, memang bukan pembuat kebijakan. Apa yang kita lakukan tidak harus berupa solusi. Kata solusi terlalu mudah, biarkan pemerintah yang memikirkan. Bukankah mereka sudah dipilih. Enak saja mereka tinggal minta solusi. Kita bermain di pembentukan wacana. Dari sini akan bisa membentuk kesadaran bersama. Ini jauh lebih penting. Orang akan bertindak kalau ada dorongan dari dalam dirinya. Bila itu tercapai, Insya Allah revolusi akan bisa terwujud. Amin.

Tulisan yang masih berkaitan:



No comments:

Post a Comment