30 April 2007

Sang Maestro itu Telah Berpulang

Sekian lama hidup dalam pengucilan, Pramoedya akhirnya meraih kebesarannya.

MINGGU, 30 April 2006. Jakarta diguyur hujan. Sekitar pukul 14.30 WIB sebuah mobil ambulans tiba di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Ratusan orang telah berkerumun di sana. Mereka memanjatkan doa mengiringi penyemayaman jenazah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan cum budayawan besar abad ini.

Pram, panggilan almarhum , wafat diusia 81 tahun (2 Februari 1925 - 30 April 2006), meninggalkan 8 anak, 16 cucu, dan 2 cicit dan sang istri, Ny Maemunah. Kepergiannya tidak hanya menyisakan kepedihan bagi keluarga besarnya, tapi juga para pengagum karyanya yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini hingga ke seantero jagad.

Hadir dalam prosesi pemakaman itu, para sastrawan dan seniman, negarawan, dan tentu para pengagum karya Pram dari dalam negeri hingga luar negeri, sampai rivalnya sewaktu almarhum masih hidup. Diantaranya Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan.

Adalah barisan anak-anak muda yang melantunkan lagu “Internationale” dan “Darah Juang” bersamaan dengan dipanjatkannya doa-doa suci oleh para pelayat ketika jenazah almarhum disemayamkan ke liang lahat. Sebuah perpaduan sosialis-religius yang sangat harmonis. Para pemuda mengepalkan tangan ketika menyanyikan lagu yang sering dibawakan dalam demonstrasi mahasiswa itu. Rupanya mereka mengagumi Pram, karena dari tangannya telah lahir puluhan karya yang mampu membangkitkan heroisme kaum muda.


SAMPAI menjelang tutup usianya, Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sosok penulis yang produktif. Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan internasional. Ia juga sempat dicalonkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra. Yang lebih mengejutkan lagi, pemerintah RI dikabarkan akan memberikan penghargaan kepada sastrawan yang telah mendapatkan puluhan penghargaan dari luar negeri ini. Padahal semasa Pram hidup, pemerintah RI tak pernah memberikan penghargaan kepadanya. Menanggapi hal ini, Goenawan Mohamad berkomentar “Pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya."

Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru Pram menjadi tahanan politik selama 14 tahun tanpa proses pengadilan.
Tak cukup itu, karyanya beberapa kali dibakar oleh Angkatan Darat sewaktu rezim Orde Baru berkuasa. Sebagian besar karyanya baru diterbitkan kembali setelah era reformasi. Dan ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan pecinta buku, khususnya para anak muda pecinta buku sastra.

Represi dari penguasa tak menyurutkan keinginan Pram untuk terus berkarya. Selama belasan tahun di Pulau Buru ia masih menulis. Segala cara ia lakukan agar tetap bisa menuangkan pikirannya. Ia menulis dengan alat seadanya. Bahkan untuk mendapatkan sebuah karbon, ia membelinya ke pelabuhan dengan cara menyelundup. Uangnya dia dapat dari hasil menjual ayam yang diperliharanya di Pulau Buru.

Dari Pulau Buru, justru lahir mahakarya yang melambungkan namanya. Semua pengagum Pram pasti tahu tokoh Minke dalam tetraloginya yang sangat fenomenal itu, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya-karyanya ini berhasil diselundupkan ke luar negeri dan diterbitkan. Dari Buru pula lahir Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang merupakan kumpulan surat Pram untuk anak-anaknya yang ia tulis selama di penjara. Karyanya yang lain, diantaranya Bukan Pasar Malam, Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan Gadis Pantai yang jilid kedua dan ketiganya tidak diterbitkan karena naskahnya dirampas oleh pemerintah Orde Baru.

Penindasan yang dilakukan penguasa Orde Baru kepada Pram tak sebatas pada naskah-naskah yang dia tulis, tapi juga kekerasan fisik. Tanggal 13 Oktober 1965, Pram ditangkap di rumahnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ia disiksa, dipukul dengan popor laras panjang, hingga membuat pendengarannya terganggu. Rumahnya kemudian disita oleh pemerintah Orde Baru. Bahkan sampai akhir hayatnya status kepemilikan rumahnya di Rawamangun itu belum ia dapatkan kembali.

“Saya kehilangan apa saja. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu,” tuturnya dalam wawancara dengan wartawan Majalah Playboy, dalam edisi perdananya yang terbit awal April 2006 lalu.
Perlakuan pemerintahan Orde Baru itu menyisakan kebencian yang mendalam pada diri Pram. Sampai sekarang ia tak percaya lagi pada pemerintahan, kendati orde baru telah lengser. Selepas Soekarno ia tak percaya lagi pada pemerintahan Indonesia. Lantas pemerintahan seperti apa yang bisa membuatnya percaya?

“Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin,” tutur Pram dengan wartawan Playboy, yang merupakan wawancara terakhirnya dengan media.

Tak hanya pemerintah, Pram juga tak percaya dengan orang-orang yang pernah terlibat perseteruan dengannya. Sikapnya ini dikritik oleh Sirikit Syah, Ketua Lembaga Konsumen Media, yang juga banyak menulis fiksi. Pram dinilai hanya mengingat orang-orang yang pernah menyakitinya, tapi ia sendiri tak mau mengingat bahwa dirinya juga pernah melakukan hal serupa. Ia mengecam para seniman dan sastrawan non-Lekra. Terutama mereka yang menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Salah seorang penandatangan Manifes kebudayaan, Goenawan Mohamad dalam pengantar bukunya "Seks, Sastra dan Kita" menyatakan bahwa perlakuan yang diterima oleh Pram semasa pemerintahan Orde Baru belum seberapa jika dibanding perlakuan Pram dan koleganya di Lekra kepada para sastrawan non-Lekra. GM memberikan contoh kecil sikap tidak terpuji yang dilakukan oleh sastrawan Lekra. Mereka menjuluki sastrawan Manifes Kebudayaan dengan "Manikebu". Menurut GM, julukan yang pada mulanya dipopulerkan oleh sastrawan Lekrea itu sebenarnya digunakan untuk mengejek. "Manikebu" berasal dari Mani+Kebu/o.

Bagi penyair Malin Kundang itu, kreativitas Pram adalah kreativitas polemik. Agaknya inilah yang kemudian tidak hanya melambungkan karyanya, tapi juga pribadinya. Pribadi Pram menjadi sorotan media-media internasional.

Budi Darma menyebut Pram sebagai orang yang sangat peka pada realitas sosial dan kemanusiaan. Ini sudah tampak lewat novelnya, Midah si Manis Bergigi Emas, yang terbit pada 1950-an. Begitu juga pada kumpulan cerpen Cerita-Cerita dari Blora yang juga terbit pada kurun itu. "Tetapi, isinya masih cerita kemanusiaan biasa," ujar mantan rektor IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) itu.

Sikap anti penindasan Pram semakin terasa saat dia aktif di Lekra. "Tetapi, waktu itu tulisannya lebih banyak slogan-slogan sehingga kurang mempertimbangkan estetika," ujar Budi Darma.


KARYA PRAM banyak merekam isu sejarah. Buku terakhir yang diterbitkan adalah Jalan Raya Pos, Jalan Deandels (2005), sebuah novel yang bercerita tentang penderitaan rakyat Indonesia semasa penjajahan Belanda. Ribuan orang harus melakukan kerja rodi untuk membuat Jalan Raya Pos dari Anyer menuju Penarukan sepanjang 1000 kilometer.

Tema-tema karya Pram mengingatkan orang pada Max Havelaar-nya Multatuli—satu sastrawan besar yang dikaguminya di samping John Steinbeck. Tema-tema itu dipetik sebagian besar dari dunia sekelilingnya yang nyata, atau dari tokoh-tokoh nyata hasil riset sejarahnya. Misalnya, Tjerita dari Blora, yang berpusar pada masa kecilnya.

Sewaktu masih hidup, rokok merupakan teman karibnya. Ia bisa menghabiskan 32 batang dalam sehari. Maka sebelum ketika sakit pun, ia masih sempat meminta rokok. Satu hal yang unik menjelang kepergiannya ini, Pram gemar membakar sampah. Sampah-sampah di halaman rumahnya di Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur, tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya, sampai sampah di halaman tetangga ia kumpulkan kemudian dibakar. Selain bakar-bakar sampah, Pram juga membakar baju-baju lamanya.

Semalam sebelum meninggal, ia masih bertanya "Apakah masih ada sampah yang belum dibakar?" Pertanyaan ini berkali-kali ia lontarkan ketika dirinya tengah berjuang melawan ganasnya maut. Malam itu beberapa kali ia tak sadarkan diri.

Mengenai hobi bakar-bakar sampah itu ternyata tidak baru belakangan ia lakukan. Sejak masih mendekam di Buru, ia biasa melakukan hal itu. Jika kita membaca Nyanyi Seorang Bisu, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara Pram mengisi waktu. Membakar sampah menjadi cara Pram melawan waktu, sekaligus bentuk resitensinya melawan penindasan rezim Orde Baru.

Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah, tapi juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi, bukan dikubur. Tapi permintaan ini tak dikabulkan oleh keluarganya. “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya,” adalah erangan terakhirnya sebelum dirinya meninggal.

Sungguh kukuh Pram mempertahankan prinsipnya, sampai ingin mati pun, ia ingin mati dengan caranya sendiri. Entah apakah ia akan menolak ketika mengetahui bahwa jenazahnya dimakamamkan secara islami, ditaburi ayat-ayat suci, sesuatu yang tak dipercayainya sewaktu masih hidup. Para pelayat itu mungkin tak tahu pasti apakah Pram muslim atau bukan. Semasa hidup, Pram pernah mengatakan bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. Agama, menurutnya, sering digunakan sebagai alat penindasan.

Sehari sebelum meninggal, Sabtu (29/4), Pram minta pulang ke rumahnya di Utan Kayu ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit St Carolus, Jakarta. Ia masuk UGD RS St Carolus pada 27 April karena kondisi kesehatannya memburuk.

Saat itu telah beredar kabar di beberapa milis, Pram telah meninggal dunia. Ada yang kemudian menyampaikan bela-sungkawanya. Ternyata kabar itu hanya gosip. Saya mengeceknya sendiri menelpon ke kediamannya Pram. Seorang lelaki mengatakan Pram masih hidup. Ia membenarkan bila Pram malam itu telah dibawa pulang ke rumahnya di Utan Kayu.
Paginya, sekitar pukul 09.30, saya mendapat kabar Pram telah tiada. Kali ini bukan gosip lagi. Pram meninggal dunia Minggu (30/4) pukul 09.02 WIB.


MASA LALU Pram yang pernah terlibat di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI, membuat sebagian orang bersikap sinis pada dirinya. Ketika masih di Lekra, Pram terlibat perseteruan dengan sastrawan dan seniman yang tak sepakat dengan pandangan sastra realisme sosialismenya.

Dalam tulisan-tulisannya di rubrik kebudayaan harian PKI Bintang Timur, Pram mengecam keras para sastrawan Manikebu (Manifes Kebudayaan) dan juga tokoh Masyumi seperti Hamka dan tokoh Partai Sosialis Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana.

Pram juga dituduh telah membakar karya-karya para rivalnya itu. Tapi dalam wawancara dengan Tempo (4/5/1999), ia membantahnya “Omong kosong. Kalau saya bakar dokumentasi orang lain, kan gila. Jika saya mau, saya bawa pulang.”

Atas perlakuan Pram cs terhadap sastrawan non-Lekra itu, Mochtar Loebis mengancam akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah ia terima, jika sampai Pram menerima penghargaan serupa.

Merenggangnya hubungan Pram dengan HB Jassin akibat penandatanganan Jassin pada Manikebu. Selain itu, Jassin menurutnya telah membiarkan atas pembantaian masyarakat Tionghoa dan juga pembantaian jutaan orang yang dituduh PKI. “Jadi bagaimana prinsipnya tentang humanisme?,” tanya Pram. “Karena itu, ketika dia sakit, no. Saya tidak mau tahu,” tambahnya. Sebelum peristiwa itu, Pram menganggap Jassin sebagai gurunya yang telah mengajarkan tentang humanisme universal.

Bagi Pram, pengikut Manikebu adalah penghianat Sukarno. Mereka telah menyerahkan bangsa Indonesia kepada bangsa Barat. Mereka telah berkonspirasi dengan Amerika.

Pram membantah tuduhan bahwa dirinya pengikut PKI. "Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri, tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial," kata Pram sebagaimana dikutip dalam buku "Saya Terbakar Amarah Sendiri" karya Andre Vltchek dan Rossie Indira.

Terbitnya buku Pramoedya Ananta Toer: Realisme Sosial, yang diluncurkan pada 31 Desember 2003 di Universitas Islam Jakarta itu menjawab "Ideologi" Pram yang memihak orang-orang tertindas.

Bagi Pram bersastra tak lepas dari kegiatan politik. Setiap orang berpolitik. Baginya keindahan sastra terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Kegigihannya dalam mempertahankan prinsip ini mengundang simpati dari para kaum muda dan kalangan luas. Pram tiba-tiba saja menjadi “maestro” bagi para generasi muda. Pram menjadi sosok yang dikagumi, sosok idola bagi anak muda.

Terbukti dengan bermunculannya komunitas-komunitas pecinta karya Pram. Sebut saja Institut Pramoedya di Bandung. Para anggotanya adalah mahasiswa sampai remaja SMU-SMP. Dari obrolan di kampus sampai di kafe-kafe “gaul”. Saban Sabtu para anak muda berkumpul di Kafe MInke, di Jalan Dago, Bandung. Mereka tidak berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan musik ataupun kencan, tapi untuk mendiskusikan karya-karya Pram dalam suasana santai sambil minum kopi atau teh.

Benar, Pram telah merebut hati para anak muda, yang jauh berjarak berpuluh-puluh tahun darinya. Orang yang mungkin tak pernah menggugat masa lalunya, seperti yang dilakukan oleh orang semasanya.

Pram ingin anak muda di negeri ini menulis karya-karya yang tidak bicara soal selangkangan atau persoalan remeh-temeh lainnya. Melainkan karya sastra yang bisa membangkitkan nilai-nilai humanisme.

Pram sebenarnya masih ingin hidup setahun lagi. Tapi siapapun tak bisa menolak ketika ajal menjemput. Kini ia terbaring sepi di pemakaman yang sama dengan si Binatang Jalang, Chairil Anwar. Dua insan yang tak mau menyerah kecuali dengan dirinya sendiri.

Satu pekerjaan Pram yang belum terselesaikan adalah rencana menyusun Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia, yang baru tergarap sebagian. Bahan-bahannya telah dikumpulkan, tertumpuk setinggi 3 meter.

Menutup tulisan ini saya kutip puisi Joko Pinurbo yang disampaikan kepada teman-temannya setelah Pram meninggal dunia: selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....****


[catatan: Tulisan ini sebelumnya pernah saya muat di blog ini. Hari ini, 30 April 2007 bertepatan dengan tanggal meninggalnya Pram, 30 April 2006. Tulisan ini saya muat lagi untuk mengenangnya.]

Tulisan yang masih berkaitan:



2 comments:

  1. cah katrok. melu2 wae. ora kreatif. aku posting ulang tulisan pram, kowe yo melu. cover buku sik di pasajang yo melu2. katrooookkk!

    ReplyDelete
  2. rak sah rewel.ga kreatif,gpp.seng penting ora Sarkem....

    ReplyDelete