Tanggapan untuk Rieke di Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra, Universitas Lampung.
Mohon maaf, saya lupa menyebutkan bahwa sastra yang saya maksudberlaku untuk karya sastra dalam arti sempit (novel, cerpen, puisidll) tidak merambah ke soal jurnalisme. Jurnalisme dan karya fiksijelas beda. Meski jurnalisme ditulis dengan mengadopsi modelpenulisan fiksi, bukan berarti karya jurnalisme sama seperti karyafiksi.Teknik penulisan dengan model Jurnalisme sastra hanya menduplikasiteknik penulisan yang dipakai dalam penulisan karya sastra dalam artisempit itu. Tujuannya agar tulisan lebih enak di baca. Namun teknik-teknik jurnalisme yang benar, dari a-z, harus dipakai.Sehingga meskijurnalisme menggunakan model penulisan fiksi, tidak seharusnya bahasajurnalisme bisa mendayu-dayu seperti dalam sastra. Misalnya, "malammenusuk, siang meleleh, dan seterusnya". Penggunaan kata sifat bahkanharus dihindari oleh penulis. Ini adalah salah satu bentuk kehatia-hatian bahwa jurnalisme sastrawi tidak mengumbar opini, yang bisadikatakan fiksi.Standar kebenaran keduanya juga berbeda (baca: Myth and Fact).Jurnalisme berpegang teguh pada fakta, dan karya fiksi bermain dalamkerangka imajinasi. Dengan kata lain, ketika seorang menulis cerpen,Novel dan karya sastra lainnya, penulis tidak harus menyampaikanfakta yang sebenarnya. Bisa saja dia hanya merekonstruksi darikejadian yang ia lihat atau ia alami (sastra realis) atau dia hanyamerekonstruksi sesuatu yang ada di imajinasinya saja yang fakta dankebenarannya tak harus ada dalam kehidupan sehari-hari(sastra nonrealis)berada dalam ranah fiksi (theory of literature: Rene Wellex&Austin Warren).Perbedaan yang lain, dalam sastra juga muncul dramatisasi oleh sipenulis dalam narasi. Agar tulisan menarik, si penulis memasukkanbumbu-bumbu sastranya (ada alur, konflik, setting, penokohan, pointof view dan language devices) yang kehadirannya untuk mendramatisasiagar narasi yang dibangunnya menarik. Teknik sastra tersebut (alur,konflik dst) juga dipakai dalam teknik penulisan jurnalisme sastrawi,namun kehadiran keduanya berbeda.Proses dramatisasi tidak dibenarkan dalam karya jurnalisme.Dramatisasi dalam artian mendramatisir (melebih-lebihkan)agar sebuahtulisan menarik, jelas telah mengubah fakta yang sebenarnya terjadidi lapangan. Ini tidak boleh terjadi dalam karya jurnalisme, karenakebenaran jurnalisme adalah fakta, bukan fiksi. kecuali bila andaakan membuat konsep sendiri "dramatic journalism", ha ha hui huiJadinya gak jauh beda dengan produk jurnalisme Pos Kota grup Jawapositu(di Jakarta ada Lampu Merah, di Semarang ada Meteor dll).Soal pesan dan kesan. Paham art is for art sebenarnya sudah lamamuncul di sejarah kesusasteraan inggris abad awal. paham ini munculsebagai sebuah penolakan ketika sastra digunakan untuk menyampaikanajaran gereja pada era puritan. Gerakan seni untuk seni ini jugamuncul pada sejarah perkembangan sastra di Indonesia meski telah jauhterpaut setelah perkembangan di Inggris. Modusnya sama, sebagai sikappenolakan atas fungsi ganda sastra.Saya menyebutnya sastra tendens. Sastra yang mempunyai tujuanmenyampaikan suatu paham kepada pembaca. Ini juga terjadi padaperkembangan sastra indonesia modern. Jauh sebelum berdirinya FLP,telah berdiri komunitas Lekra Manikebu. Komunitas sastra inimengusung paham sosialis yang digunakan bersamaan dengan masuknya isukomunisme di Indonesia. Keduanya sama, tetap sastra tendens.Paham art is for art memang kedengarannya sangat abstrak. Namundemikianlah untuk menjelaskan kriteria estetika, terutama pada orangawam. Singkatnya begini. Ketika penulis sudah membekali dirinya bahwamenulis untuk menyampaikan pesan (ideologi), estetika sastra disitudikhawatirkan akan runtuh. Orang akan cenderung menggurui, dan tidakmembebaskan pembaca. penulis seperti katak dalam tempurung, karenakebebasan mereka sudah dibatasi oleh otoritas ideologi di luar sastraitu sendiri.Dalam jurnalisme, untuk hal ini, juga demikian. Ingat kita juga takboleh terlalu banyak menggurui pembaca. Pesan sudah melibatkan frameopini penulis. Jadi pesan yang anda maksud adalah bentuk lain dalamopini, hal ini dikhawatirkan akan menggurui pembaca."saudara-saudara seiman, dan seagama, menurut saya yang baik beginiyang tidak baik begitu...", itu kah pesan yang anda maksud. Teksseperti itu hanya layak dibajakan saat pidato siraman rohani dimasjid, di gereja, atau di tempat-tempat agama lain, yang udahmenggunakan landasan ideologi keagamaan sebagai sebuah kebenaran yangtak boleh didebat.Dan apakah anda menemukan hal-hal semacam itu dalam tulisan HikayatKebo karya Linda Christanty, atau Taufik bin Abdul Halim karya AgusSopian, atau Republik Indonesia Kilometer Nol oleh Andreas Harsosno,atau Hirosima karya John Hersey. Dalam Tulisannya mereka membiarkan pembaca yangmenafsirkan sendiri. Tugas wartawan cukup menyajikan fakta-faktanya sanja. Manayang benar mana yang salah, silahkan pembaca yang memutuskan. Bukankah begitu,poro sedherek poro sedhulur sedhoyo?Saya pernah mendapat penjelasan dari Janet E Steel, sewaktu kursusjurnalisme sastrawi di Yayasan Pantau, bahwa detail dalam tulisanjurnalisme sastrawi adalah detail yang tanpa penjelasan. Penjelasanyang dimaksud adalah sama seperti opini atau pesan yang anda maksuditu. Dan detail juga bukan berarti penulis menyampaikan seluruhdetail berita, bahkan detail-detail yang tidak perlu. MenurutJanet "menulis lambat pada bagian yang penting dan menulis cepat padabagian yang tak penting". Saya sepakat sekali dengan pendapatnya.Kembali ke persoalan karya sastra, bukan jurnalisme, saya tidakmanfikan kehadiran sastra islam dalam perkembangan sastra diIndonesia, namun bukan sastra islami. Anda harus bisa membedakan ini.Sastra islam menyampaikan nilai-nilai islam secara universal, namunsastra islami menyampaikan islam secara formal atau bentuk (istilahlain syariat) tidak dengan simbol-simbol yang bisa diterima olehbanyak orang, bukan hanya komunitas tertentu.Dan saya bersyukur, mereka (komunitas penulis fiksi islami, diantaranya FLP)sudah mencoba untuk mengoreksi kekurangan-kekurangan itu. Dalam diskusi yangsaya ikuti di milis FLP, mereka juga menyadri kekurangan itu. Mereka merasakarya sastranya selam ini hanya dinikamti oleh komunitasnya saja. Apakahperkembangan selanjutnya, akan lebih baik, ataukah ini hanya kejenuhan merekayang hanya berkutat pada persoalan islami itu, perjalanan waktu yang akan bisamenjawab.Bila anda jeli, anda akan merasakan hal yang beda ketika membacatulisan-tulisan Gus Mus, Danarto, Gunawan Muhamad, Abdul Hadi,KuntoWijoyo yang semuanya penulis islam, dengan karya-karya penulis fiksiislami, salah satunya komunitas FLP.Ketka saya membaca karya penulis-penulis islam itu, dan sebenarnyamereka juga tidak mau bila tulisannya disebut tulisan islami, yangkita dapatkan adalah kesan yang kita dapatkan dari karya mereka.Namun dalam kebanyakan karya penulis fiksi islami, kesan itudiciptakan oleh pesan-pesan yang disampaikan secara vulgar. Caraseperti ini sangat lemah dari kacamata estetika sastra.Saya telah membuktikannya sendiri. Dua minggu yang lalu, saya pernahmewawancarai salah seorang penulis besar FLP, namanya Habiburrahman(sarjana lulusan universitas Kairo, koordinator FLP Mesir). Sayasudah menebak sebelumnya, ketika saya menunjukkan kelemahan estetikasastra tulisan kebanyakan penulis fiksi islami, dia langsungmenyerang balik dengan menunjukkan kelemhan pada karya ayu utami(yang ia sebut sebagai sastra sekuler, yang menurutnya terlalu banyakmengumbar sisi seksualitas).Argumenya tidak kuat. Bahwa cara ayu utami menyampaikan pesan sangatvulgar, dan dikwatirkan akan membahayakan pembaca, dia mencontohkanadegan ranjang dalam beberapa karya ayu utami. Namun ketika sayaminta untuk menunjukkannya, dia malah berkelit. Di sisi lain diamembenarkan cara dia menyampaikan pesan dengan halus walupunmengupas tema-tema seputar remaja.Nah dari sini, dia sudah menghalal-haramkan sastra. Bahwa adeganranjang dalam karya ayu Utami, meski dia tak bisa menunjukkannya,tidak sesuai dengan syariat islam. Memangnya sastra ada menggunakanstandar syariat islam (al qur'an dan Hadits)? Qala bla...bla... thatliterature must be relied on .... I say that actually he cannot proveit, he can only defend and how to make bla..bla...Dari situ, saya melihat mereka hanya menyerang tidak punya landasanargumen yang jelas. Modal awal mereka menulis karena ingin berdakwah,bisa jadi karena saking gemesnya dengan Ayu Utami, dkk itu yangdikhawatirkan akan memberikan pelajaran tidak baik bagi para pembaca.Dengan kata lain, mereka baru bisa membuat tandingan (sastra islamiversus sastra sekuler), karena tidak diberangi dengan pemahamansastra yang memadai perbandinagn itu tampak tak seimbang. Seharusnyamereka menyadari, bahwa ketika dia menggunakan lahan sastra untukmisi dakwah mereka juga harus menggunakan perangkatnya, dalam hal iniestetika.Selain itu, kebanyakan para penulis fiksi islami tidak beranimengangkat tema-tema yang universal. Paling-paling, tentang pacaran(pacaran pun versi islami), tentang keburukan yang akan kalah dengankebaikan, dan kebanyakan berakhir dengan kemenangan sang hero. Konsephappy ending, menurut Aristoteles adalah jenis karya sastra yangrendah. Dan karya sastra seperti ini hanya layak dinikmati olehpembaca yang mempunyai pemahaman sastra yang rendah pula.Ada beberapa ciri lain menurut Aristoteles (kebanyakan aliranpemikiran yang dianut para kaum intelektual saat ini, termasuksastra, menganut pemikirannya), adalah konsep deus et machina, yaitumunculnya kekuatan magis dlam karya sastra, menjelma sepertimalaikat;tuhan dll, yang membangkitkan kesadaran palsu pembaca. Dalamhal ini menggunakan agama sebagai legitimasi atas otoritas tekssastra. Cara ini juga salah satu ciri kelemahan dalam karya sastrabila dilihat dari aspek estetikanya (bukan syariat).Bila Anda masih ingin berdebat lebih lanjut tentang tema ini, sayaakan lebih senang dan senang yang tanpa di dramitisasi. Insa 4JJtulus, ciee. Kebetulan semester ini saya sedang mendapat mata kuliahliterary critism di jurusan Sastra Inggris. Dan saat-saat ini sayajuga sedang tertarik mengikuti perkembangan sastra (karya fiksi,bukan jurnalisme lho), ya baik yang islami maupun yang tidak islami.bagi saya semuanya halalan toyyibaan.Ngomong-ngomong anda perasa juga ya, ha ha ha. (ups astaghfirullah)Sapere Aude, berani berpikir sendiri...yuppps!!!
27 April 2005
Antara Jurnalisme dan Sastra
21 April 2005
Fenemena Sastra Islami
Tanggapan untuk Nouval di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Biru Institut Pertanian Bogor (IPB),
Membaca nama Gola Gong, saya teringat komunitas di mana ia bergelut.Bersama para 'mujahid pena' ia turut membesarkan nama Forum LingkarPena (FLP), sebuah organisasi yang berkonsentrasi dengan penulisan fiksi, khususnya fiksi islami.Ada kejengkelan dalam hati saya selama membaca beberapa karya orang-orang FLP itu. Saya merasa sedang didoktrin sebuah paham. Diamenggiring saya untuk mengikuti sebuah ideologi tertentu. Memangtidak semua penulis FLP melakukan hal itu dengan vulgar, sebagianpenulis senior memang telah lihai dalam mengemas tulisan. Namun sayabenci dengan model sok menggurui ini. Entahlah apakah pembaca yanglain juga merasakan hal yang sama.Bagi saya tidak seharusnya satra dijadikan sebagi alat dakwah. Sastraya sastra. Tak ada halal tak ada haram, justru semua halal dalamsastra. Yang penting dalam sastra adalah kesan yang disajikan, bukanpesan yang disampaikan oleh penulis akibatnya pembaca merasa sepertiorang yang sedang dibodohi.Celakanya lagi, rata-rata karya sastra islami itu relatif tidakmemenuhi standar estetika sastra. Kemampuan sastra dan menulis parapenulis masih sangat lemah. Hal ini bisa dimengerti karena kebanyakanmereka menulis bukan untuk ber-sastra namun untuk berdakwah.Dalam pemahaman saya, sastra islam berbeda dengan sastra islami.sastra islam cenderung lebih universal (baca tulisan, GunawanMuhamad, Danarto, Abdul Hadi WM, Gusmus atau mungkin Ayu Utami, ha2).Namun sastra islam masih terpatok dalam bentuk (formal), hampir samaseperti sastra yang masih menganut faham formalisme. Pemahaman islammereka disajikan secara 'mentah-mentah' dalam sebuah penafsiran tekssastra. Untuk karya ini, salah satunya karya-karya penulis FLP.SAAT ini saya sedang inten memperhatikan perkembangan FLP. Dari yangsaya tahu, FLP sekarang sudah ada kepengurusan baru, setelahkepengurusan Helvi Tiana Rosa (HTR), saat ini FLP dikomandani olehKang Irfan Hidayatulloh, Dosen Sastra Indonesia Unpad Bandung. Bahkansaat ini juga ada devisi kritik, di bawah kendali Ekky Malakku,alumni sastra Arab UI.Dengan kemajuan ini saya harapkan akan terjadi perubahan pada karya-karya FLP ke arah yang lebih baik sehingga karya mereka bisa diterimaoleh semua kalangan, tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan sendiri.Ibaratnya seperti orang yang sedang onani (maaf), 'dibuat sendiri dandinikmati sendiri'.Semoga tuhan masih melindungi mereka semua dan saya yang telahmengutuk mereka. Amiin.Pendapat saya ini berangkat dari pemahaman, bahwa islam adalahrahmatan lil alamiin (cie...), sehingga islam itu universal. Islamtak harus disampaikan secara bentuk 'vulgar', nilai-nilai yangterkadung teramat luas untuk kita jangkau. Islam tak harus di masjid,namun boleh saja islam di dugem (maksudnya menyebarkan islam di sanadengan nilai-nilai yang universal juga tentunya, he2).Bila ada yang tersinggung, mohon maaf. Wallahu a'laam bissyowaaab.
17 April 2005
Daftar Alamat Situs
Situs Pribadi (Personal Sites)
- Abdul Munir Mulkhan
- Abdurahman Wahid (Gus Dur)
- Abdurrahman Faiz
- Aguk Irawan
- Agung Hadiwijaya
- Agus Sopian
- Ahmad Nurlaily
- Ahmad Tirta Wirawan
- Ali Muakhir (DAR! Mizan)
- Andreas Harsono
- Angelina Sondakh
- A Fatih Syuhud
- April-esa
- Arif Gunawan
- AS Laksana
- Asma Nadia
- Aulia Muhammad
- Basfin Siregar
- Budi Maryono
- Budi Putra
- Budiman S Hartoyo
- Budiman S Hartoyo (Kumpulan Puisi)
- Budiman S Hartoyo (Tentang Jurnalisme)
- Coen Husen P
- Dee FLP
- Deisi Heptarina
- Dianika
- Ekky Imanjaya
- Enda Nasution
- Fahruradzie
- Fannie
- Farid Gaban
- Fathoni Rynaldi
- Gema Yudha
- Gilang D Parahita
- Handoko Saputro
- Hasan Aspahani
- Hasto Suprayogo
- Helvi Tiana Rosa
- Hendro D Laksono
- Ikram Putra
- Irfan Zamzami
- Iwan Qodar H
- Kere Kemplu
- Maya Kartika (SM)
- Mujtaba Hamdi
- Munir
- Mustofa Bisri (Gus Mus)
- Presiden SBY
- Rafikah
- Siti Andriyani
- Tari Apriliya
- Tarlen Handayani
- Ucu Agustin
- Umar Said
- WS Rendra
Indonesian Student Press
- Alumni persma UGM
- Boulevard ITB
- LPM Ekspresi
- LPM Hayamwuruk
- LPM UIN Jakarta
- Persma ITB
- PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia
- Suara USU
- Warta Ubaya
Newspaper/Magazine
- Gatra
- Jawa Pos
- Kompas
- Media Indonesia
- Republika
- Suara Merdeka
- Syir'ah
- Tempo Interaktif
- The Jakarta Post
Media Watch&News Portal
- Acheh-Interaktif
- Aliansi Jurnalis Independen
- Antara
- Detik.Com
- Jurnalisme.wordpress.com
- Media Care
- Pantau
- Pena Indonesia
Creative Writing
Community/Organization
- Elsam
- Kontras
- Indonesian Military Corp(TNI)
- Islam Liberal
- Islam Emansipatoris
- NU-Online
- Utan Kayu
- WALHI
Resource Center
- Al Jazeera
- Center for Public Integrity
- Comittee of Concerned Journalist
- Columbia Journalism Review
- Guardian
- Indonesia Apakabar
- Investigative Reporter&Editor
- Nieman Reports
- Poynter Institute
- Pulitzer Prize
- Radio Netherland
- Reuters
- Salon.Com
- The New Yorker
- The New York Times
Foundation
- Asia Foundation
- Australian Aid
- Ford Foundation
- Friedrich Ebert Stiftung
- LibForAll Foundation
- Tifa Foundation
- Usaid
Literature
- Amazon online Book Store
- American Life
- Aesthetics-online
- Cybersastra
- John Hopkins Unv Press
- Jurnal Kalam
- Kawanku
- Poesie
- Literature Review
- Literary Encyclopedia
- Online-Literature
- Classical Poetry
- Wacana Sastra&Budaya
- Wikipedia
15 April 2005
Menilik Eksistensi dan Profesionalisme Pers Mahasiswa
Gelombang reformasi ’98 membuka gerbang kebebasan media massa di Indonesia. Momen ini ditengarahi telah mengambil alih peran pers mahasiswa (persma) sebagai media alternatif yang kritis seperti pada masa orde baru.
Namun zaman telah berubah. Pasca reformasi ‘98 bergulir, media massa Indonesia telah menemukan kebebasannya, sesuatu yang teramat mahal harganya di era orde baru. Kabar ini tentu menggembirakan untuk perkembangan jurnalisme di Indonesia dalam masa transisi ini.
Melihat perubahan itu, tak salah bila gerakan persma ditarik kembali ke kampus (back to campus). Sikap ini bukan berarti mengkhianati idealisme persma, pun tak berarti bahwa persma telah tutup mulut atas sebuah ketidakbenaran. Kembali ke kampus lebih tepatnya bermaksud agar persma lebih memfokuskan perhatiannya pada persoalan seputar kampus. Oleh karena itu format persma kemudian berubah dari pers alternatif menjadi community paper.
Perubahan format persma saat ini tidak mengubah fungsi dan perannya sebagai pers, selama masih berpegang teguh pada aturan main yang benar. Bill Kovach dan Tom Rossentiel dalam bukunya “Elements of Journalism” menyebutkan sembilan elemen dalam jurnalisme. Kovach menempatkan elemen “kebenaran” sebagai elemen pokok dalam jurnalisme.
Berangkat dari pemahaman di atas, tugas pers, tak pandang apakah pers umum atau pers mahasiswa, adalah menyampaikan kebenaran atau fakta kepada warga. Pembaca di sini bisa meliputi masyarakat luas –bukan rakyat dalam arti sempit - atau pun civitas akademika kampus, tergantung pada pangsa pembaca mana yang akan dibidik. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa persma hadir di tengah-tengah lingkungan intelektual, yang selalu mengedepankan cara berpikir ilmiah. Dan tak kalah penting pers harus independen, prinsip cover both side tetap harus dijalankan agar berita yang disampaikan kepada pembaca berimbang.
Tak jarang independensi persma terancam ketika akan mengkritik pihak birokrat kampus, sementara dana penerbitan masih didanai oleh mereka. Untuk menghadapi dilemma ini, persma perlu mencari sumber pendanaan lain. Atau paling tidak mengurangi ketergantungan dengan mencari sumber dana tambahan.
Langkah yang bisa ditempuh adalah dengan menarik iuran dari swadana mahasiswa sebagai ganti biaya cetak atau pun dengan mencari tambahan dana dari pemasang iklan. Langkah ini sudah diterapkan oleh beberapa persma, terutama di tingkat fakultas yang notabene tidak dihegomoni langsung oleh pihak rektorat.
Selain itu, independensi persma juga akan terancam ketika wartawan persma terlibat pada salah satu kubu gerakan ekstra mahasiswa. Idealnya, wartawan persma netral, tidak menempatkan pada salah satu pihak. Untuk itu, dia harus rela menanggalkan semua identitasnya, ketika berprofesi sebagai wartawan kampus. Hal ini penting agar pemberitaan persma tidak menjadi berat sebelah.
Masalah pengambilalihan peran persma oleh pers umum bukan merupakan persoalan utama yang sedang dihadapi persma saat ini. Persma saat ini sedang dililit oleh berbagai persoalan non teknis. Misalnya, kurikulum dan sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang gerak bagi mahasiswa untuk beraktivitas dalam kegiatan kemahasiswaan menjadi penghambat aktivitas para wartawan persma.
Akibatnya, banyak persma mengalami degradasi keanggotaan. Sebenarnya kondisi ini tidak hanya dialami oleh persma, unit-unit kegiatan mahasiswa lain pun kurang lebih merasakan hal serupa. Iklim pendidikan yang diciptakan oleh birokrat kampus telah memasung kebebasan mahasiswa untuk beraktivitas di luar jam kuliahnya. Kondisi ini melahirkan sikap apatisme mahasiswa terhadap berbagai bentuk kegiatan kemahasiswaan.
Kondisi seperti ini tak boleh dibiarkan, bila persma dan organ kemahasiswaan lainnya masih ingin bertahan hidup. Peran persma sebagai media kampus sangat penting untuk mendobrak ‘kemandekan’ sistem ini. Sikap apatisme mahasiswa terhadap kegiatan di kampus harus segera direspon dan dijadikan sebagai bahan koreksi untuk kegiatan bersama.
Mahasiswa yang tidak terlibat harusnya juga menyadari kondisi ini dan tidak lantas seenaknya mencerca kegiatan mahasiswa yang mandul, sementara mereka sendiri tidak mau melibatkan dirinya.
Laboratorium Jurnalistik
Persma tak perlu berkecil hati menghadapi wajah baru pers umum saat ini karena sebenarnya masih ada tempat bagi mahasiswa yang ingin mengasah kemampuannya di bidang jurnalistik.
Kita sering beranggapan bahwa tenggang waktu penerbitan yang relatif longgar menjadi kelemahan persma. Justru itu dijadikan asset, untuk membuat tulisan yang lebih baik dengan menyajikan informasi yang lebih mendalam (indepth reporting).
Agar materi berita yang disajikan oleh persma tidak cepat basi, tema yang diangkat sebaiknya tidak terpatok pada persoalan yang aktual karena tema-tema seperti ini telah banyak digarap oleh pers umum. Tema akan lebih menarik bila bisa menyentuh aspek human interest.
Selain itu, cara menulis agar menarik untuk dibaca, juga perlu dipelajari. Sebagai orang yang baru belajar di persma, saya beruntung sekali mendapat kesempatan mengikuti kursus jurnalisme sastrawi (literary journalism) di Yayasan Pantau Jakarta. Kursus ini diikuti oleh para wartawan media mainstream lokal maupun nasional.
Kursus yang dipandu oleh Janet E Steel, professor dari Harvard University ini mempelajari tentang teknik menulis dengan model bertutur (narrative journalism). Dengan teknik ini, tulisan menjadi menarik. Membaca berita terasa seperti membaca sebuah cerpen. Tidak berat dan akan terasa mengalir. Pembaca juga akan mendapatkan gambaran yang jelas karena informasi yang disajikan amat lengkap, lebih detail dari feature, model yang telah biasa dipakai. Lebih dari itu, tulisan tidak terkesan menggurui, karena penulis di sini tidak banyak beropini.
Model penulisan dengan gaya sastra ini kali pertama diperkenalkan oleh Tom Wolfe pada tahun 1973 (baca: New Journalism). Sayang, model yang telah lama populer di Amerika ini belum banyak diterapkan oleh media Indonesia kendati sebenarnya mereka menyadari akan pentingnya model penulisan seperti ini. Dari perdebatan yang saya dapatkan selama kursus, tulisan seperti ini relatif memakan waktu yang lebih lama karena butuh waktu untuk melakukan riset dan reportase yang mendalam.
Alasannya, deadline di media umum mengikat, terutama media harian yang menuntut wartawan menyampaikan informasi lebih cepat. Namun karena ada fasilitas kelonggaran deadline itu, persma bisa mencoba model ini, sekaligus belajar untuk membuat tulisan yang lebih baik. Dengan demikian pilihan beraktivitas di persma menjadi sangat berarti untuk mengasah kemampuan jurnalistik para anggotanya (laboratorium jurnalistik).
Lalu, manakah yang lebih penting, terbit tepat waktu ataukah terbit dengan tetap menjaga mutu? Idealnya, keduanya bisa dilakukan oleh persma. Namun dalam realitanya persma masih banyak menghadapi keterbatasan. Karena sedang belajar, lebih baik sedikit melanggar deadline namun tetap mempertahankan standar mutu liputan, daripada sekedar terbit dengan menurunkan informasi yang kering. Keduanya bisa dicapai secara bertahap.
Di sisi lain, saya juga tidak menampik pentingnya organisasi untuk menfasilitasi komunikasi antar persma. Namun dari organisasi yang ada, baik itu tingkat daerah atau tingkat nasional seperti PPMI, belum berperan maksimal. Gerakannya timbul-tenggelam. Bahkan karena tidak banyak dimanfaatkan oleh anggotanya, organ itu hanya jadi tempat kumpul-kumpul yang tidak jelas agendanya.
Yang Aneh, gerakan PPMI akhir-akhir ini banyak dipertanyakan oleh anggotanya karena pengurus dinilai hanya bisa buat kegiatan dan proyek bagi mereka sendiri. Kritikan ini menjadi PR bagi pengurus kali ini dan juga para anggotanya untuk merumuskan arah gerakan organisasi ini ke depan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semua anggota.
Agenda selanjutnya, persma harus mulai dari saat ini untuk membangun pers masa depan yang independen dan sadar prosedur, agar bisa memberikan informasi yang tidak menyesatkan masyarakat.****
Diskusi tentang pers mahasiswa lebih lanjut klik di sini
