Showing posts with label Television. Show all posts
Showing posts with label Television. Show all posts

22 January 2007

Ratu Bubar, Infotainment Tanggung Jawab

Besok (Selasa, 23/1/2007), Duo Ratu bubar! Mulan Kwok, salah seorang personel Ratu, sedih. Ia menangis. Dirinya masih mencintai Ratu. Rupanya air susu dibalas dengan air tuba, kata presenter Insert, tayangan informasi selebritis di Trans TV Senin sore.

"Apa yang dilakukan Mulan kini dibalas..." tambah presenter itu.

Tak lama kemudian, Dhani Ahmad muncul dalam rekaman yang dibuat beberapa waktu lalu. Dhani mengatakan, di tahun 2007 Ratu Bubar, atau dia dan Maia yang akan buyar. Pernyataan pentolan kelompok band Dewa ini, menyusul perseteruan dirinya dengan manajemen Ratu yang dituduhnya tak bisa mengatur jadwal personel Ratu.

Maia Ahmad, personal Ratu yang juga istri Dhani mengatakan, salah satu memang harus dikorbankan. Tak jelas apa yang dimaksud. Apakah salah satu itu tertuju kepada ratu? Jika benar, maka dengan begitu Maia memilih mengorbankan Ratu demi keutuhan keluarganya bersama Dhani dan ketiga anaknya.

Dari penayangan Mulan secara berulang-ulang dan juga komentar ibunda Mulan, muncul kesan Mulan lah yang menjadi korban. Kata korban itu lebih serem lagi disebut dengan "tumbal". "Akankah Mulan menjadi tumbal dari perseteruan Maia dengan Dhani?" kata presenter.

Penggunaan bahasa yang vulgar dan dramatis menjadi ciri khas bahasa infotainment. Penggunaan peribahasa "air susu dibalas dengan air tuba" dalam konteks di atas tidak tepat dan terkesan berlebihan. Begitu juga dengan istilah "tumbal", ini juga terlalu kasar.

Penggunaan istilah dan bahasa yang vulgar itu tidak menjadi masalah jika memang mewakili realita di lapangan. Akan tetapi apa yang disajikan oleh infotaiment itu berupa dugaan-dugaan alias fitnah!

Selain penggunaan bahasa yang tidak tepat, dramatisasi infotainment diperkuat dengan
nada bicara presenter yang tinggi, terkesan "garang". Anda tentu tak asing lagi bagaimana presenter itu melafalkan kata-kata berikut ini: Apa lacur, bagaimana tidak, semuanya kini berakhir!

Kembali ke topik bubarnya Ratu, tahukah anda jika komentar yang dikeluarkan Mulan itu dilatarbelakangi oleh komentar Maia yang sebelumnya disampaikan infotainment. Besok Ratu bubar, katanya. "Haa...Ratu bubar...Saya sakit benget, seperti ditikam dari belakang," kata Mulan.

Dari awal disampaikan Mulan mempermasalahkan manajemen Ratu yang tidak terbuka. Ia ingin agar manajemen bisa lebih transparan. Tapi Mulan tidak serta merta menyalahkan manajemen. Ia sendiri mengaku salah kenapa tak pernah menanyakan laporan dari manajemen. Rupanya kritikan itu beberapa hari kemudian dibalas dengan pernyataan pembubaran Ratu oleh Maia.

Kemudian flashback ke pernyataan Dhani beberapa waktu lalu terkait dengan perseteruannya dengan manajemen Ratu. Manajemen tak becus mengatur jadwal. Gara-gara kesibukan Maia di Ratu, anak-anak jadi tak diperhatikan.

Dasar infotaiment, kerjaannya memperkeruh masalah. Berita belum jelas, belum diverivikasi, tapi sudah disampaikan ke pemirsa. Tak cukup, ia juga membubui dengan opini dengan standar peniliannya sendiri.

Infotainment sore tadi ditutup dengan kalimat yang lebih tepat nasehat agar pihak yang bermasalah tidak menyelesaikan masalah dengan emosi. Hah, bijak sekali presenter itu mengatakan kalimat yang sebenarnya tidak perlu. Dalam tayangan tadi sore, tampak infotainment membela Mulan dan menyudutkan Maia dan (terlebih) Dhani.

Saya memang suka beberapa lagu Ratu yang dibawakan oleh Maia dan Mulan Kwok. Tapi saya pribadi tak ada perlu dengan kabar bubarnya si pelantun lagu TTM dan Buaya Darat itu. Lain halnya dengan para pendekar infotainment, baginya gosip Ratu menjadi makanan empuk. Maka, jika benar Ratu jadi bubar, infotainment harus bertanggungjawab.

Selengkapnya......

27 July 2006

Hidup dalam Sinetron

Tayangan sinetron kian menjamur di televisi. Namun cerita yang disajikan belum juga menawarkan sesuatu yang baru. Cinta, drama rumah tangga, dan satu lagi yang kian marak, sinetron dengan tema-tema mistik yang dikemas dalam nuansa islami. Salah satu diantaranya adalah sinetron Hidayah.

Ragam sinetron yang terakhir itu selalu saja menyajikan kisah pertaubatan sang tokoh di akhir cerita. Bila si tokoh tidak juga bertaubat, maka akan mendapatkan azab dari Allah. Azab ini bisa saja datang secara langsung ketika yang bersangkutan masih hidup. Pada salah satu episode, seorang dukun yang mengaku bisa mengendalikan hujan, menangkap petir, dan menunda kematian, yang tengah sesumbar menantang tuhan, saat itu juga langsung disambar petir. Mampus dia!


Tayangan sinetron kian menjamur di televisi. Namun cerita yang disajikan belum juga menawarkan sesuatu yang baru. Cinta, drama rumah tangga, dan satu lagi yang kian marak, sinetron dengan tema-tema mistik yang dikemas dalam nuansa islami. Salah satu diantaranya adalah sinetron Hidayah.

Ini adalah salah satu episode Sinetron Hidayah “Azab Seorang Istri yang Suka Berselingkuh” (sumber: dok. Trans TV )

Ragam sinetron yang terakhir itu selalu saja menyajikan kisah pertaubatan sang tokoh di akhir cerita. Bila si tokoh tidak juga bertaubat, maka akan mendapatkan azab dari Allah. Azab ini bisa saja datang secara langsung ketika yang bersangkutan masih hidup. Pada salah satu episode, seorang dukun yang mengaku bisa mengendalikan hujan, menangkap petir, dan menunda kematian, yang tengah sesumbar menantang tuhan, saat itu juga langsung disambar petir. Mampus dia!

Hampir semua tokoh yang berbuat jahat akan mendapatkan balasan di akhir cerita. Mobilnya menabrak pohon atau terjungkir ke jurang, dientup kalajengking, kesetrum listrik, ataupun hal-hal serba kebetulan lainnya yang mengantarkan kematian si tokoh jahat itu.

Belum cukup, setelah mati, jenazahnya akan mendapat laknat. Ada jenazah yang sewaktu akan dikubur terus mengeluarkan darah, karena yang sewaktu hidup almarhum durhaka pada orang tua. Ada lagi jenazah yang berbau busuk dan di atas pemakamannya muncul kotoran, karena almarhum suka memeras orang lain.

Hal lain yang juga serba kebetulan, adanya ketimpangan kepribadian antar tokoh dalam sebuah rumah tangga. Suami yang saleh beristrikan perempuan yang jauh dari kehidupannya. Cerewet, tidak taat pada suami, suka menghasut, durhaka pada mertua, dan sifat buruk lainnya. Atau Istri yang anggun nan salehah, namun suami tiap hari bermain judi, main perempuan, minum-minuman keras, suka memeras para tetangga. Bila tidak dari pihak orang tua, masalah dimunculkan dari anak yang tidak berbakti kepada orang tua.

Ketika istri berperan sebagai tokoh jahat, maka suami yang akan memerankan sebagai tokoh yang baik. Ia sabar, tidak sakit hati kendati berkali-kali disakiti oleh istrinya. Ia senantiasa mengucap nama besar tuhan dan berharap tuhan memberikan hidayah kepada istrinya. Atau sebaliknya, suami yang jahat, istri yang penyabar, salehah. Bisa juga anak yang durhaka, orang tua yang penyayang, dan tak pernah lelah memanjatkan doa agar anaknya kembali ke jalan yang benar.

Menurut pengakuan pihak pembuat sinetron, cerita yang disajikan itu diadaptasi dari kisah nyata. Memang sangat mungkin kehidupan yang ada di sinetron itu terjadi dalam dunia nyata. Ada orang yang benar-benar jahat, dan sebaliknya ada orang yang baiknya hampir menyamai nabi. Bila kita percaya, orang yang jahat itu sebenanya belum mendapat hidayahNya.

Di satu sisi, cerita dalam sinetron itu akan mampu memberikan penyadaran (katarsis) bagi para penonton--bila itu memang yang menjadi tujuan. Mungkin saja mereka menjumpai cerita yang hampir sama dalam kehidupannya, sehingga ia menemukan pembenarannya dalam sinetron itu.

Namun di sisi lain, penyadaran model sintron itu memiliki kelemahan bila ditinjau dari sisi edukasi yang disampaikan kepada pemirsa. Apakah benar, bahwa azab dari tuhan itu akan selalu datang seketika itu juga, apakah benar bahwa pertolongan dari tuhan akan turun secara langsung ketika orang berdoa?

Pada saat tertentu situasi seperti itu bisa terjadi, karena toh tuhan juga mahakuasa. Tapi kan tidak selalu. Bila cerita semacam itu yang terus diulang, tentunya penonton juga akan jenuh. Kalau sinetron tak ada yang nonton lagi, yang rugi juga pihak pembuat sinetron kan?

Yang menjadi pertanyaan pokok adalah sisi kedalaman dari cerita itu. Bukankah kehidupan ini sangat kompleks. Seseorang bisa menjadi berubah sikap karena mengalami suatu proses kehidupan ataupun pengalaman batin yang panjang. Jadi semuanya tidak serba kebetulan. Satu sama lain saling berkaitan.

Sebagai sebuah tontonan yang mempunyai misi dakwah, tayangan semacam sinetron hidayah itu bisa saja memberikan penyadaran terhadap para pemirsa. Namun sebagai sebuah tontonan, sebuah seni bercerita, sinetron itu kurang mendapatkan tempatnya sebagai hiburan yang berkualitas.

Sekarang terserah anda, mau pilih yang mana. Bukankah anda selaku pemirsa, sama halnya dengan pembuat sinetron, juga memiliki kepentingan?

Selengkapnya......

10 June 2006

Kesetiaan Orang Tua

"Pli, bapak akan pergi ke Malaysia. Ini buku rekeningnya, hasil penjualan rumah kita. Bapak cuma ngambil sedikit untuk ongkos, sisanya buat kamu," ucap pria itu. Ia masih berdiri di depan anaknya. "Pli, bapak berangkat ya?" ucapnya lagi. "Berangkat aja sana," balas Kipli.

Pria itu tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia sedih, kecewa, mendapati anak sematawayangnya yang malah sama sekali tak menunjukkan kesedihan ketika akan ditinggal sang ayah.

Pak Haji Romli, yang diperankan oleh Deddy Mizwar, sedang menasehati Ayahnya Kipli.


Ketika sang ayah sudah sampai di ujung gang, tiba-tiba saja Kipli berlari menyusulnya. "Bapak....... " teriaknya. Pria itu menoleh, dan langsung memeluk anaknya. "Bapak maafkan Kipli, maafkan Kipli," ucap anak kecil itu yang sebelumnya ketus itu, menyesal.

Cerita di atas adalah salah satu episode sinetron "Kiamat Sudah Dekat", yang ditayangkan pada 9 Juni di SCTV. Ayah Kipli terpaksa menjual rumahnya untuk ongkos ke Malaysia. Ia akan bekerja di sana.

"Bapak terpaksa pergi ke Malaysia, karena di sini tak ada pekerjaan. Salah kakekmu dulu tak menyekolahkan Bapak. Bapak akan cari uang di Malaysia untuk biaya sekolah kamu, nak," ucapnya sebelum perpisahan dengan anaknya itu.


KASIH ORANG TUA bak samudra tak berbatas. Begitulah kira-kira pesan yang hendak disampaikan dalam episode sinetron "Kiamat Sudah Dekat" kali ini. Ini bisa dilihat dari kekuatan hati sosok ibu dalam keluarga Saprol dan bu Endang. Bu Endang memberikan dukungan atas cita-cita anaknya yang ingin menjadi rocker.

"Tapi ibu kan pernah bilang, cita-cita Saprol itu bisa diubah. Saya akan nerima Pak Haji menikah dengan ibu agar kita tak perlu pindah rumah. Saprol nggak apa-apa tak jadi Rocker. Saya kasihan pada ibu," ucap Saprol pada ibunya.

"Kamu harus jadi rocker karena itu cita-citamu. Ibu akan cari uang. Insya Alloh akan dipermudah karena kau punya cita-cita," ucapnya.

Kipli tampak gusar dengan gaya khasnya menggaruk-garuk kepala. "Wah, kok jadi membingungkan. Guwe musti kembaliin uang ini ke Pak Haji, karena guwe sudah bilang kalau kau akan meluluskannya," ucap Kipli pada Saprol.

Kipli telah terlanjur bilang kepada Pak Haji Romli bahwa Saprol akan meluluskannya untuk menikahi ibunya. Sebelumnya Pak Haji memang diberi serangkaian persyaratan oleh Saprol. Dia harus bisa nyanyi Rock untuk bisa menikahi ibunya. Beberapa kali tes, Saprol belum juga meluluskan Pak Haji. "Wah lagu apaan itu, itu sih bukan lagu Rock," ucapnya.

Atas: Saprol bercita-cita menjadi rocker.
Bawah: Kipli dengan gaya fungkinya.


KISAH BU ENDANG dan Bapaknya Kipli dipertemukan bagaimana kasih dari sosok orang tua kepada anaknya. Bapak Kipli yang sebelumnya tergila-gila bermain togel, menyadari kesalahannya yang telah menyianyiakan anaknya, Kipli, yang malah diasuh oleh orang lain. Pada akhirnya ia berniat untuk memenuhi tanggungjawabnya sebagai orang tua.

Bu Endang yang semula menyarankan agar anaknya, Saprol, mengurungkan cita-citanya untuk menjadi Rocker, namun pada akhirnya malah mendukungnya ketika sang anak ingin menuruti keinginan ibunya.

Siang itu juga Bu Endang dan Saprol memutuskan pindah rumah. Rumah kontrakannya akan dijual oleh pemiliknya kepada pemborong yang punya proyek di desanya. Dia bersama anaknya, Saprol, dan Kipli menaiki mobil bak terbuka mengakut barang-barangnya. Ketika melintasi depan rumah Pak Haji, mobil pengangkut barang itu berhenti. Bu Endang pamit pada pak Haji.

Sarah menitikkan airmata menjumpai ayahnya yang terperangah melihat kepergian Bu Endang. Tapi Pak Haji Romli justru bilang ""Kalian nanti seperti bu Endang itu kalau sudah punya anak. Orang tua harus menghargai cita-cita anaknya," ucap Pak Haji kepada anak perempuan dan menantunya, Pandi, yang diperankan oleh Vokalis Kelompok Band Stinky.

Yang dominan pada sinetron "Kiamat Sudah Dekat" ini adalah penjungkirbalikan sesuatu yang sudah lazim di masyarakat. Pak Haji yang belajar nyanyi rock gara-gara ingin menikahi janda yang anaknya ingin menjadi rocker. Si Pandi, menantu Pak Haji, anak muda slengeean yang baru belajar tentang agama, tiba-tiba ingin naik haji. Saprol yang tak mau berkompromi dengan cita-citanya. Kipli yang tak mengakui ayahnya yang tak pernah bertanggungjawab menafkahinya. Benar-benar kiamat sudah dekat!

*Baca juga esai tentang sinetron "Kiamat Sudah Dekat" Iman dalam Keluarga Tak Sempurna

Selengkapnya......