09 December 2006

Hantu Jeruk Purut: Masa Lalu yang Terusik

Darah segar mengucur dari tubuh Ana. Makhluk aneh baru saja menyerangnya. Dengan jalan tertatih ia meraih gagang telepon dan berbicara dengan seorang perempuan sebelum akhirnya ia terkapar tak berdaya.

Begitu tragis nasib yang menimpa Ana. Belum sempat ia merampungkan kisah misteri “Hantu Berkepala Buntung” yang konon menunggui TPU Jeruk Purut, ia mati dengan cara yang mengenaskan. Sebelumnya Ana mendapatkan teror agar menghentikan penulisan cerita misterinya itu. Tapi entah kenapa, ia masih nekat melanjutkannya.

Teror berkelanjutan juga dialami oleh Airin, kenalan baru Ana, yang diberi wasiat melanjutkan cerita misteri itu sebelum dirinya meninggal. Bahkan teror yang dialami Airin juga menimpa orang-orang terdekatnya. Ibu Airin beberapa kali dikejar-kejar hantu perempuan dan juga hantu tak berkepala di rumahnya.

Seorang teman dekat Airin di sekolah kemudian menasehatinya agar tak melanjutkan cerita misterinya itu. Tapi Airin tetap saja tak memedulikan. Ia merasa harus melaksanakan amanat Ana, penulis kisah-kisah misteri yang menjadi idolanya.

“Aku ingin seperti mbak,” ucap Airin ketika bertemu Ana di sebuah cafe.

Barangkali keinginan itu yang mendorong Airin tetap melanjutkan penulisan ceritanya meski harus mendapatkan teror. Dan teror terakhir hampir saja membununya ketika ia terlibat pertikaian dengan Nadine yang kerasukan hantu Jeruk Purut. Untung saja, Airin selamat. Namun Nadine terbunuh tertusuk oleh pisau setelah gagal membunuh Airin di sebuah rumah sakit tua. Sebelum Nadine, Valen yang juga teman Airin telah mendapatkan teror. Ia mati tersengat listrik tegangan tinggi.

Film garapan Koya Pagoya yang mengusung tagline “Film Horor Terhoror di Indonesia” ini dari awal memang menegangkan. Cerita dibuka dengan terbunuhnya sekelompok pemuda di pemakaman Jeruk Purut. Kejadian ini kemudian tersebar luas di masyarakat. Hantu tak berkepala pun diduga kuat menjadi penunggu makam angker itu.

Film ini dibintangi oleh Angie Virgin(Airin), Sheila Marcia (Nadine) dan Samuel C (Valent). Diantara ketiga tokoh ini terselip kisah cinta segitiga. Valent, kekasih nadine, diam-diam mencintai Airin. Beberapa kali ia menyatakan cintanya, namun tak ditanggapi oleh Airin. Belakangan hal ini diketahui Nadine ketika dirinya menemukan foto Airin di dompet Valen. Keributan kecilpun terjadi.

Namun cinta segitiga itu bukan menjadi konflik utama dalam film yang diluncurkan serentak pada 30 November 2006 di bioskop seluruh Indonesia ini. Konflik utama muncul ketika Airin memaksa melanjutkan tulisan tentang hantu Jeruk Purut itu, sementara teror terus mendatangi dirinya dan juga orang-orang terdekatnya.

Airin memang akhirnya bisa menyelesaikan novelnya, akan tetapi dua orang rekannya telah menjadi korban. Ia berhasil membongkar kisah misteri di balik legenda hantu Jeruk Purut itu. Di ceritakan bahwa hantu kepala buntung itu bernama Pasteur yang dihajar warga gara-gara memerkosa seorang gadis yang akan segera menikah dengan pemuda di kampungnya.

Beberapa bagian dalam film ini sempat membingungkan penonton. Seperti ketika seorang perempuan berlari-lari di medan terbuka, entah apa dan siapa yang tengah mengejarnya. Adegan ini disajikan secara berulang di beberapa bagian sehingga alur seolah berlompatan tidak ada penjelasan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan dalam film ini adalah logika cerita. Mungkinkah para anak muda yang habis dugem di diskotik kemudian memburu hantu di kuburan. Memang mungkin, tapi sangat kecil. Kemudian soal mengelilingi kuburan sebanyak tujuh kali, mitos dan orang yang mengelilingi jumlahnya harus ganjil, ini mitos dari mana? Dan juga rumah sakit yang serba aneh ketika si tokoh utama (Airin) mendapatkan teror dan hampir terbunuh. Setting ini sebuah kebetulan yang terkesan dipaksakan.

Memang apapun dalam dunia film, yang dalam hal ini masuk dalam katagori fiksi, bisa menjadi cerita. Dalam karya sejenis surealis, alur cerita menjadi tidak begitu penting. Alur bisa saja meloncat-loncat. Namun kelogisan tetap diperlukan untuk meyakinkan penonton. Apalagi konon film ini diangkat dari kisah masyarakat di Jakarta tentang makam Jeruk Purut.

Selain itu, beberapa bagian sebenarnya masih bisa dieksplorasi lagi untuk menghadirkan suasana yang lebih mencekam.

Terlepas dari mitos atau bukan, film ini berhasil menghipnotis ketegangan penonton dari awal hingga akhir. Gambar-gambar yang disajikan dan juga latar suara mendukung tema dalam film ini:horor!

Tulisan yang masih berkaitan:



2 comments: