17 January 2008

Perseteruan yang Memicu Proses Kreatif

Mulan Kwok kini berganti nama Mulan Jameela. Jamilah dari bahasa Arab yang berarti cantik atau bisa juga seksi. Mulan Jameela=Mulan Seksi. Dalam album barunya yang bertajuk ”Makhluk Tuhan Paling Seksi” janda beranak dua ini memang makin seksi saja.

Saya mengira karir Mulan akan meredup setelah ia keluar dari duo Ratu. Rupanya prediksi saya salah besar. Karir Mulan di dunia musik dan hiburan makin bersinar.

Tapi sebentar dulu. Bukankah di balik nama Mulan Jameela ini ada nama besar sang Dewa? Baiklah. Simak grundelan dan wawancara imajiner dari seorang pengagum perempuan seksi berikut ini:

Mulan, setelah sebelumnya kau jatuh dipelukan Dewi Maia, kini kau terpukau dalam pelukan sang Dewa Dhani. Untuk kedua kalinya, kau dijadikan obyek obral keseksian.

Predikat seksi sepertinya memang menarik sekali. Siapa yang mendengarnya, apalagi dibumbui suaramu yang seksi itu, bikin seisi dada makin berdebar. Mengundang rasa berahi, seperti definisi yang kutemukan dalam kamus KBBI.


Benarkah kau dicipta oleh sang Dewa untuk membangkitkan rasa birahi?


Maaf kalau selera seniku masih rendah sehingga tak bisa menjangkau keindahan spiritual seperti yang diinginkan oleh sang Dewa. Aroma musik timur tengah yang setengah ngerok itu, tak bisa kurasakan seperti yang kutemukan dalam kasidah nasidaria, tapi lebih terasa sebagai musik pengiring penari perut di jazirah padang pasir sana.


Ah sudahlah, Mulan. Kau memang seksi. Lebih seksi dari sang Dewi yang sekarang sepertinya lagi patah hati terus daripada frustasi akhirnya bikin lagu tandingan “Emang Gue Pikiran” yang menyewa vokalis dengan suara yang tak kalah seksi darimu.


Hmm… kok selera sang Dewi serasa dengan selera sang Dewa ya? Keduanya sama-sama menggemari suara-suara seksi. Bedanya, satunya diminta memerankan karakter yang cuek, satunya narsis. Tapi sebenarnya keduanya sama saja: butuh perhatian, satu sama lain sedang mencari perhatian. Mulan dan May Chan jadi senjatanya.


Hush…emang siapa yang sedang mencari perhatian? Jadi bukan mbak Mulan yang seksi itu tho?


Dewi: Ya nggak lah. Mulan, itu kan cuma jadi umpan. Itu akal-akalan Dhani saja untuk mencuri perhatianku. Pujian seksi itu kan dibuat oleh Dhani sendiri yang dibawakan lewat suara seksi Mulan yang sebenarnya ditujukan untuk memuji Dhani yang mengaku bisa membuat perempuan jadi merasa lebih seksi. Kalian pernah dengar kan kalau dia bilang sebenarnya masih sayang sama aku. Bagaimanapun, aku ini di mata dia masih lebih seksi dibanding perempuan mana pun.


Jadi benar apa yang dikatakan mbak Dewi. Gimana tanggapan mas Dewa?


Dewa: Haha… terserah Maia lah mau bilang apa. Emang gua pikirin.
Nah, jadi mana yang benar. Siapa yang lebih seksi, Maia atau Mulan?

cut here----Gerundelan plus wawancara imajiner dipotong sampai di sini----cut here

Bagi sang Dewa, masalah rumah tangganya dengan sang Dewi bisa saja dijalaninya secara ringan-ringan saja seperti tak ada beban. Atau malahan ia justru berusaha menikmatinya karena dari sana masalah justru menjadi berkah untuk melahirkan hits-hits barunya. Ibaratnya begini, ah mumpung lagi ada masalah. Sekalian saja, daripada nunggu datangnya masalah, repot juga kan kalau harus membikin masalah.

Lewat lagu “Munajat Cinta” dan “Kamu adalah surgaku” terasa sekali perasaan Dhani yang lembut, yang perhatian, yang mudah tersentuh, yang semuanya ini jauh dari kesan yang kita peroleh dari pembawaannya dalam sehari-hari di depan publik.

Di sisi lain, sang Dewi, Maia pun tak kalah bersaing. Jatuh untuk kedua kalinya tentu bukan hal yang mudah bagi orang kebanyakan untuk kembali bangkit. Apalagi kini Mulan malah tampak lengket dengan sang Dewa. Tapi Maia mampu menunjukkan kemampuannya sebagai seorang komposer yang sama seperti sang Dewa, mencuri ide dari masalah yang dialaminya lewat hits baru andalannya "Emang Gua Pikiran".

Kita kerap dibuat kalangkabut ketika sedang dirundung masalah. Mestinya, belajar dari kasus Dhani dan Maia, masalah justru bisa melahirkan karya. Karya yang ampuh konon justru lahir dari sebuah kesulitan atau masalah besar yang menimpa penciptanya.

Jika anda penulis, anda punya masalah hingga sampai mau bunuh diri, wah itu investasi yang amat berharga. Masalah anda itu bisa diolah menjadi sebuah cerita yang lebih dahsyat.

Lalu bagaimana jika hidup kita serasa tak ada masalah, everything is okay?

Hah nggak mungkin. Orang hidup itu pasti punya masalah. Kita akan selesai dari masalah hidup kalau nyawa kita dicabut. Sebenarnya bukan mencari-cari masalah itu ada atau tidak, tapi bagaimana kita terbiasa mendekatkan imajinasi dengan bermacam-macam masalah. Jadilah cerita, jadilah karya.

Kembali ke Mulan, Maia dan Dhani. Diluar kesuksesasan Maia dan Dhani, Mulan memang tetap seksi. Tapi entah sampai kapan keseksian itu akan bertahan. Dalam episode selanjutnya kita tak tahu apa yang dimaui sang Dewa dan Dewi.

Selengkapnya......

10 January 2008

Menunggu kebahagian yang datang di akhir cerita

Orang bijak bilang, setiap keberhasilan adalah buah dari kerja keras. Saya kerap berpikir, bagaimana kalau kita sudah bekerja keras, namun pada akhirnya tak bisa memetik buah dari benih yang kita tanam.

Bisa jadi kesuksesan itu tinggal selangkah lagi, tapi kita sudah keburu mati! Mati yang saya maksud bukan melulu berarti di mana saat nyawa meninggalkan raga. Mati yang saya maksud lebih kepada matinya semangat untuk kembali bekerja. Tak ada ide lagi untuk melanjutkan satu bidang pekerjaan yang sebelumnya kita harapkan bisa membawa kita berhasil. Tak ada lagi hasrat, apalagi nafsu. Ibaratnya, meski tangan kita bekerja, tapi hati tak ada dalam pekerjaan yang kita jalani.

Andai hidup ini seperti tokoh dalam film yang sudah diberi tahu oleh sutradara bahwa pada akhir cerita akan mendapatkan kebahagiaan, barangkali akan bisa membuat kita khusuk menjalani setiap cobaan.

Namun aturan main hidup kita ini tampaknya tak bisa seperti dalam alur film. Kita tak tahu pasti apa yang diinginkan oleh sang sutradara (sang khalik). Memang sering kita dengar pepatah orang bijak seperti diatas tadi, bahwa setiap kerja keras akan membuahkan hasil.

Masalahnya, sampai kapan kita harus mempercayainya, sementara kita merasa sudah berbuat yang menurut ukuran kita sudah sampai pada titik puncak, namun keberhasilan belum bisa kita gapai. Haruskah kita terus bertahan dalam ketidakpastian?

Atau barangkali justru penderitaan itu akan menjadi kenikmatan ketika kita tak mengetahui apa yang akan terjadi di alur kehidupan mendatang.

Saya tak tahu bagaimana Goenawan Mohammad (GM), yang menurut ukuran saya sekarang sudah berhasil, merayakan kemenangannya ketika mengenang zaman kuliahnya dulu yang hidup menggelandang, tidur di atas meja pingpong di sekolah taman kanak-kanak, dari daerah kecil Batang ke Jakarta bukan benar-benar untuk mendapatkan gelar SI tapi karena ingin menjadi penyair seperti yang ia temukan dalam buku-buku HB Jassin dan kini karir kepenyairannya sudah mendapatkan pengakuan luas? (Wars Within, Janet Steele: 2007).

Dalam dunia kepenulisan, apalagi mereka yang sudah menetapkan jalan hidupnya pada bidang ini, jalan hidup GM belumlah seberapa. Masih banyak penulis atau seniman yang hidupnya lebih dramatis. Benar-benar mengerikan. Sebut saja John Steinbeck, Erskine Cadwell, George Eliot (yang harus menggunakan nama saran laki-laki) atau dalam negeri Pramoedya Ananta Toer. Atau bahkan yang masih muda seperi Muhidin M Dahlan yang terbiasa menahan lapar karena menunggu honor yang tak kunjung datang (seperti yang diceritakan penulis dalam bukunya Jalan Sunyi Seorang Penulis).

Ambiguitas Kebahagian

Dalam film Pursuit of Happyness , Chris Gardner yang diperankan oleh Will Smith yang pada akhirnya menjadi broker saham kaya raya padahal sebelumnya rumah saja tak punya, menggelandang dari satu penginapan ke penginapan lain bahkan akhirnya diusir karena menunggak membayar.

Hal yang paling menyedihkan dan membuat saya paling berkesan bukan ketika dia ditinggal oleh istrinya karena tak tahan tiap kali ditagih oleh pemilik apartemen, tapi ketika dia mendapati barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamar penginapan sementara hari sudah gelap dan anaknya butuh istirahat setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan.

Tak ada pilihan lain, Chris menidurkan anaknya di atas pangkuannya di sebuah kamar kecil setelah ia menakut-nakuti anaknya agar mau tidur. Saat si buah hati sudah tertidur pulas, Chris harus menjulurkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak dibuka oleh seseorang dari luar.

Pesan yang saya tangkap dalam film itu bahwa untuk mendapatkan kebahagian itu perlu dicari. Ia perlu dicari, diburu bahkan dikejar (pursuit). Perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya.

Sayang, kebahagian dalam film itu satu paket dengan keberhasilan. Yang bahagia itu yang berhasil. Dan yang berhasil itu yang bisa mencapai keinginan yang dicita-citakan dari awal. Karena Chris dari awal punya masalah dengan keungan, dan ia disebut berhasil setelah ia terbebas dari masalah keuangan. Celakanya, ukuran yang dipakai materi.

Saya tahu penonton akan senang jika tokoh yang dibelanya pada akhirnya akan dimenangkan. Penonton bisa menggerutu dan melempari layar bioskop andai sampai akhir cerita Chris ternyata masih belum mengubah jalan hidupnya.

Masalahnya di sini pemaknaan atas "keberhasilan" dan "kebahagian" yang menjadi kata kunci dalam film ini masih menggunakan cara pandang kuno, belum mencoba melihat kehidupan secara lebih kompleks. Bagaimana jika ternyata tokoh yang sudah berjuang itu belum mencapai keberhasilan (bagi orang awam, tapi bisa saja bagi si tokoh sudah dianggap berhasil) dan ia bisa merasakan kebahagiaan meskipun dianggap oleh orang lain belum berhasil.

Saya kira siapapun yang menjalani hidup dalam situasi seperti yang dialami Chris Gardner bisa saja akan menempuh jalan pintas, bunuh diri atau merampok bank agar bisa segera membelikan jajan anak dan membayar penginapan. Dan banyak Chris-Chris lain yang pada akhir cerita tak mendapatkan kesuksesan secara materi (meski katanya cerita ini diangkat dari kisah nyata, tapi kan berapa persen cerita ini mewakili mereka yang ternyata "gagal").

Saya tahu, keteguhan Will Smith dalam film itu adalah akting. Ia sudah tahu skenario yang sudah disiapkan oleh sang sutradara. Saya pun tak terkejut jika dia mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya meskipun beberapa kali sempat terkesan oleh aktingnya. Saya kira saya bisa melakukan akting yang jauh lebih dahsyat kalau cuma dalam cerita. Tapi kalau itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, saya tak berani jamin. Bisa jadi saya akan menjadi pecundang yang akan memilih jalan pintas.

Saya jadi berpikir, daripada menunggu kebahagiaan yang hanya akan ada di akhir cerita (toh itu juga belum tentu) mending kita nikmati saja apa yang kita jalani saat ini meskipun berupa penderitaan: kesusahan, hidup melarat, patah hati karena putus cinta (huahuaahaha...siapa ya mending ndengerin lagunya Dhani yang melow-melow ini).

Semuanya dinikamti saja. Jadilah sutradara untuk hidup kita sendiri. Buatlah skenario sendiri, mainkan aktingnya sendiri, dan nikmatilah kebahagiaan sendiri, hiduplah untuk diri kita sendiri (dalam arti tidak meletakkan ukuran-ukuran kehidupan kepada orang lain) akan membuat hidup ini terasa lebih nyaman.

Selengkapnya......

09 January 2008

Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita

Begitu mudah bisa kita jumpai buku-buku terjemahan di rak-rak toko buku dewasa ini. Apalagi untuk karya sastra. Banyak sekali karya penulis dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Yang paling mendominasi adalah karya dalam bentuk novel, cerpen dan esai. Untuk karya sastra jenis puisi memang masih terbilang langka. Barangkali karena penerjemahan puisi bukan pekerjaan yang mudah.

Meski penerjemahan karya sastra belum bisa dibilang sebagai proyek penerbitan yang menguntungkan, namun banyak penerbit dan penulis yang menggarap lahan ini. Bagi mereka yang menggarap proyek ini, sudah barang tentu 90% bukan karena faktor profit, tapi lebih karena kecintaan terhadap karya sastra.

Bagi penikmat karya sastra barat, buku-buku hasil terjemahan akan sangat membantu mereka untuk bisa membacanya dalam bahasa yang lebih familiar. Namun bagi yang ingin menjadikannya sebagai sumber kritik sastra, tampaknya masih akan menghadapi sejumlah kendala. Idealnya memang akan lebih memuaskan jika menggunakan sumber primer karena akan ada banyak bagaian-bagaian yang tereduksi, yang hilang dalam proses pengalihan bahasa itu.

Lalu, akan diposisikan di mana karya-karya sastra terjemahan itu dalam dunia kritik sastra kita?


Menerjemahkan=mencipta ulang

Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi, perlunya satu kajian khusus terhadap karya sastra terjemahan. Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.

Buku-buku hasil terjemahan tentu saja tidak akan dipakai oleh jurusan Sastra Inggris. Mahasiswa yang ingin menyusun skripsi tidak diperbolehkan menggunakan novel hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia. Bukan cuma karena banyaknya karya terjemahan yang sampah, tapi sebagus-bagusnya karya sastra terjemahan tetap tak sama dari karya dalam bahasa sumbernya.

Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.

Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.

Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia. Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?


Penerjemahan yang masih kaku

Jika kita menyadari bahwa setepat-tepatnya menerjemahkan tidak akan memberikan hasil yang sama persis (dan bahkan sama saja tidak cukup, karena menerjemahkan bukan sekadar memindahkan bahasa dan mencari padanan kata, tapi juga kultur), lalu mengapa para penerjemah tidak berani bermain-main dalam menerjemahkan?

Bermain-main, seperti dikatakan oleh Aulia Muhammad, maksudnya begini. Menerjemahkan sama halnya memberikan tafsir. Karena tafsir, maka satu orang dengan yang lain sangat mungkin tak sama. Apa yang dirasakan satu orang ketika membaca sebuah karya besar kemungkinan tidak akan sama dengan yang dirasakan orang lain.

Nah, harusnya menerjamahkan itu bisa dilakukan dengan lebih bebas dan tidak harus terikat lagi dengan bahasa, tapi bagaimana memindahkan impresi-impresi yang dialami penerjemah saat membaca karya yang akan diterjemahkan tersebut.

Baca liputan kegiatan ini:
- Biografi yang ditulis karena kecintaan
- Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan

Selengkapnya......

08 January 2008

Memaafkan Soeharto?

Soeharto dikabarkan sakit parah. Bahkan sudah sempat dibacakan Fatehah. Kini kondisinya berangsur membaik. Sejumlah tokoh partai politik meminta masyarakat memaafkan Soeharto. Bagaimanapun Soeharto telah banyak berjasa dalam membangun negeri ini. Seperti yang disampaikan oleh Partai Golkar yang meminta pemerintah mengesampingkan kasus Soeharto. Biarlah mantan penguasa rezim otoriter Orde Baru itu pulang dengan tenang.

Ada tiga frasa yang yang patut dipertanyakan. "Memaafkan Soeharto", "Jasa Soeharto" dan "Mengenyampingkan kasus Soeharto".

Jika frasa itu dikaitkan satu sama lain, maka pihak yang menginginkan Soeharto dimaafkan, dikenang jasanya dan dikesampingkan kasusnya, sebenarnya mengakui bahwa Soeharto memang bersalah. Jika tidak mengapa minta dikesampingkan. Soal himbauan agar masyarakat mengenang jasanya, ini persoalan lain yang dijadikan pancingan agar masyarakat mau memaafkan.

Indonesia ini negara hukum. Jadi setiap persoalan diselesaikan dengan hukum. Apalagi kasus Soeharto bukan persoalan perorangan, tapi sudah melibatkan orang banyak, lembaga dan negara. Mau minta maaf, nanti dulu. Minta maaf ke siapa, minta maaf untuk apa, nah ini yang harus diusut terlebih dulu.

Selasa (8/1) malam, Metro TV menghadirkan Adnan Buyung Nasution dan Muladi. Adnan berpendapat bahwa kasus Soeharto harus tetap dilanjutkan. Tuntutan agar kasus Soeharto tidak dilanjutkan atau ditutup sebenarnya untuk kepentingan politik semata. Jika masalah kesehatan yang dikuatirkan, maka persidangan bisa dilakukan dengan tidak menghadirkan terdakwa (pengadilan in absentia). Jika kasus tidak dituntaskan maka akan menjadi preseden buruk bagi masa depan penegakan hukum di negeri ini.

Sementara Muladi tetap mendesak agar kasus Soeharto dideponering yang maksudnya kasus Soeharto tidak dibuka lagi alias ditutup. Alasan yang diberikan klise, kesehatan tidak memungkinkan. Saya melihat muka Muladi tegang. Alasan yang diberikan tampak mengada-ngada. Dia tampak lemah di depan Adnan. Tak mengejutkan jika tokoh Golkar ini akan mengeluarkan statement seperti ini.

Muladi mengatakan bahwa sanksi sosial 10 tahun bagi Soeharto sudah cukup dahsyat. Selama waktu itu Soeharto dan keluarga sudah menerima stigma buruk. Ia juga membandingkan dengan kasus Soekarno, mantan Presiden RI pertama yang meninggal dengan keadaan sengsara. Kala itu pemerintahan Soeharto tak mengadili Soekarno. Lalu mengapa sekarang pemerintah ingin mengadili Soeharto?

Menurut Adnan kasus Soeharto beda dengan Soekarno. Soekarno tahanan politik, Soeharto terlibat dalam kasus korupsi.

Muladi membantah penemuan PBB bahwa Soeharto sebagai pemimpin terkorup di dunia. Itu kan menurut media, katanya. Kita harus menerapkan praduga tak bersalah sebelum diputuskan oleh pengadilan bahwa seseorang itu bersalah. Nah, kok dia tahu bahwa stempel benar atau salah itu dikeluarkan setelah keputusan pengadilan. Lalu kenapa dalam kasus Soeharto ini ia minta kasus Soeharto ditutup?

Saya menangkap Muladi hendak mengatakan, ya mbok Park Harto dimaafkan, orang dia sedang sakit sudah tua lagi. Adnan memberikan tanggapan cerdas. Jika kita memang tak bersalah, lalu kenapa Soeharto takut ke pengadilan? Apakah benar bahwa Pak Harto bisa pergi dengan tenang jika masyarakat memaafkan?

Saya kira urusan akherat serahkan saja pada yang di atas. Tak ada gunanya juga mendesak agar masyarakat mengenang jasa-jasa Soeharto, jika memang yang dirasakan adalah bekas-bekas penderitaan.

Biarlah mereka yang mengenang Soeharto dengan nama besar, karena mereka memang merasakannya. Dan biarlah mereka mengenang Soeharto sebagai pecundang, karena mereka memang merasa dipecundangi. Percayalah, Soeharto akan menjadi besar atau menjadi pecundang dengan sendirinya, oleh apa saja yang sudah diperbuatnya.

Persoalannya sekarang, karena kasus Soeharto melanggar hukum, maka juga harus diselesaikan dengan hukum. Inilah hukum dunia yang konon belum seberapa hukumannya dibanding hukum di akherat.

Jadi, untuk ketenangan Pak Harto juga, sebaiknya kasusnya tetap dilanjutkan ke pengadilan. Jika memang dia terbukti bersalah, maka akan lebih mudah masyarakat untuk memaafkannya (semoga).

Selengkapnya......

Ki Harsono Siswocarito: Mendalang Lewat Blog

Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Para dewa turba ke bumi. Mereka hendak mencari jago dewata untuk menumpas Nurkala Kamantra. Satu-satunya yang bisa mengalahkannya tak lain adalah Arjuna.

Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Kalimantra meniada. Kalimasada mengada.

Begitulah akhir cerita Lakonet karangan Ki Harsono Siswocarito yang berjudul "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya". Lakonet kependekan dari Lakon Internet, yakni lakon yang dimainkan lewat media internet atau dunia maya.

Lakonet bisa juga disebut Wayang Maya atau Wayang Citra. Disebut Wayang Citra karena memang adanya di dunia maya dan memanfaatkan gambar, grafis, digital, foto maupun animasi sebagai wayangnya.

Selain "Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya", ada lakonet lain yang sudah di hasilkan Ki Harsono. "Balada Utopia Dr Sucitra, "Sang Seta Panglima Amarta" dan yang paling hot adalah "Kembang Kampus Sokalima".

Lakon yang digunakan memang nama-nama lama yang sudah dikenal dalam pewayangan konvensional. Namun setting dan ceritanya lain. Lakonet "Kembang Kampus di Sokalima" mengambil setting di kampus. Srikandi si cewek cantik yang lagi cerdas. Jinak-jinak merpati ia mengagumi Arjuna, mahasiswa ganteng yang kutubuku dan supercuek. Banowati si centil dan mentel yang pede bisa menggaet Arjuna dengan keseksiannya.

Lakonet dan Wayang Mbeling

Jika dicermati, lakonet yang digagas Ki Harsono ini menyerupai jenis Wayang Mbeling yang berisi satire atas fenomena sosial di masyarakat. Bisa mengritik pemerintah atau perilaku masyarakat yang menyimpang.

Menurut Ki Harsono Wayang Mbeling yang sudah ada lebih mirip dengan cerpen. Berbeda dari yang lain, Ki Harsono tetap mempertahankan estetika sastra pedhalangan (seperti: suluk murwo, nyandra janturan dan pocapan, antawacana swara dan omomatopia) yang digubah dalam bentuk baru, yakni menggunakan media internet.

Karena menggunakan media internet, apakah lakonet yang dicetak dalam bentuk print out masih bisa disebut Lakonet?

"Tidak bisa. Gambar-gambar digital itu tak bisa dipandahkan ke dalam kertas. Lakonet hanya ada dalam dunia maya."

Lalu apa istimewanya dari Lakonet ini, bisakah ia menjadi sebuah genre tersendiri dalam dunia perwayangan?

Ide membuat blog Lakonet ini bermula dari kegemasan Ki Harsono atas minimnya literatur pewayangan di internet. Ia berpikir mendalang juga bisa dilakukan dalam dunia maya seperti dengan menulis di blog. Audiennya tak lain adalah pembaca blog itu sendiri.

Memang tak ada suara khas gamelan dan sinden, tak ada wayang yang dimainkan dengan tangan oleh si juru dalang. Tapi itu bisa disiasati. Ki Harsono membuat sendiri gambar dalam bentuk digital seperti Kayon, Gapuran yang dicantumkan dalam ceritanya.

Membaca cerita Lakonet Ki Harsono ini tak ubahnya menonton pertunjukan wayang secara live. Ceritanya hidup. Bahasanya mengalir, banyak menggunakan bahasa slank dan kerap diselipi istilah-istilah kamus dan teoritis.

Siapa sangka jika ki dalang rupanya mengerti konsep postmodernitas Alvin Toffler yang mengatakan modernitas cuma bisa diatasi dengan postmodernitas. Lewat lakon arjuna, ki dalang juga menyanggah konsep seni yang digagas oleh tokoh Formalisme Rusia Viktor Shklovsky, yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk kesenian menampilkan hukum-hukumnya sendiri, bukannya alasan-alasan yang mendorong kita dalam hidup sehari-hari. Baginya, Seni adalah deformasi!

Selain keluwesan bertutur, kita bisa menjumpai sejumlah kata yang menggunakan imbuhan atau pengulangan. Menurut Ki Harsono, model ini menganut pakem dalam bahasa pedalangan yang menggunakan bentuk pengulangan. Dan jika diteliti dengan jeli, penulisan baris per baris, per paragraf, per adegan, ditulis dengan rapi sesuai kaidah penulisan script drama.

Tak cukup itu. Dalang yang satu ini mahir mendalang dalam empat bahasa: Indonesia, Jawa, Sunda dan Inggris. Dalam blog wayangcitra itu disediakan link-link menuju halaman-halaman empat bahasa itu.

Siapakah gerangan Ki Harsono Siswocarito ini?

Belum lama ini saya menyempatkan menemui Ki Harsono Siswocarito di kantor jurusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Di almamaternya ki dalang dikenal dengan nama Siswo Harsono, dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Undip.

Dosen Sastra Inggris ini memang sudah lama akrab dengan dunia pewayangan. Naskah-naskah wayang mbelingnya pernah diterbitkan di Harian Suara Merdeka dan tabloid Mingguan Cempaka.

Ia ingin menerbitkan naskah-naskah lakonet itu ke dalam sebuah buku. Diakuinya, naskah itu sebenarnya sudah siap diterbitkan langsung dalam empat bahasa. Rencananya ia akan menerbitkan sendiri namun karena ongkos penerbitan di Semarang masih terbilang mahal, ia merencanakan untuk mencari alternatif lain, mencari percetakan dengan biaya yang lebih miring.

Selengkapnya......

07 January 2008

Diskusi Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya

Edgar Allan Poe lahir dari pasangan David Poe dan Elizabeth Arnold Hopkins. Kedua orang tuanya pemain teater. Edgar menjadi yatim piatu dalam usianya yang relatif masih sangat muda. Dia diangkat dan dirawat oleh keluarga Tuan dan Nyonya Allan Sewaktu berusia dua tahun. Edgar seorang bocah yang memiliki pemikiran yang cerdas. Dia mampu menampung detail-detail, pengalaman serta impresi yang dijumpainya dalam pikirannya, seakan dia tahu kelak akan memerlukannya.

Edgar tumbuh besar bersama ayah angkat yang tidak menyayanginya. Beruntung ibunya tidak demikian. Sayang sekali Tuan Allan tidak melihat sisi kejeniusan Edgar kecil. Kejeniusan Edgar terlihat dari setiap karya puisinya. Nyonya Allan selalu ingin dibacakan puisi Edgar dan yang terbaru tentunya.

Sewaktu kecil dia sangat disenangi teman-temanya. Dia selalu menjadi panutan dan kebanggaan teman-temanya. Dia senang berolahraga.

Kepedihan dan terjalnya kehidupan dia lalui tanpa menyerah. Ayahnya mengirimya ke Universitas Virginia. Tak seperti kawan -kawanya yang diberikan banyak uang orang tuanya tanpa tahu digunakan untuk apa, Edgar hanya diberikan uang tanpa cukup untuk bisa membiayai kuliahnya. Inilah awal dia menyentuh minuman keras dan perjudian. Dia mulai mengikuti temanya berjudi berharap menang, tapi selalu kalah. Sesekali dia juga minum minuman keras. Dia banyak berhutang kepada orang lain. Meskipun ayahnya sudah diberi tahu olehnya kalau dia banyak hutang, ayahnya tetap tidak mau memberinya uang.

Kesengsaraan Edgar diperparah setelah kematian ibundanya, orang yang selalu menyayanginya. Dia terusir dari rumah tanpa mendapatkan apa-apa dari ayahnya. Tapi dia tetap tidak menyerah. Dia ingin menerbitkan kumpulan puisi dan ceritanya dalam bentuk buku. Tetapi selalu ditolak. Meskipun puisinya mendapatkan pujian yang luar biasa dari bnayak orang tapi tetap tidak ada yang mau menerbitkannya.

Karya-karya Edgar menceritakan tentang terror dan kematian. Dia membuat puisi untuk seorang perempuan yang dicintainya yang telah meninggal dunia. Puisi-puisinya mencerminkan indahnya pertemuan dengan sosok perempuan yang “sempurna” yang akhirnya direnggut perpisahan.

Edgar, seorang pecinta sains dan pengamat lapangan yang teliti, yang mampu menuliskan pikiran-pikiranya dengan detail . Karya-karyanya dianggap mampu menerobos waktu. Di saat kondisi fisiknya menurun, kegigihanya untuk mencipta sebuahkarya yang menurutnya “karya tersulit yang pernah dibuatnya”, melahirkan tulisan bertajuk Eureka (1848). Eureka , tulisan controversial, merupakan karya yang berkaitan dengan teori –teori Poe tentang berbagai penemuan sains yang (diimajinasikan) bakal terjadi di masa depan.

Berbagai tragedi kebrangkutan serta kemiskinan menderanya tak henti-henti. Akhirnya 7 Oktober 1949, Edgar terbating tentram dan sentosa seakan dia telah melewati lautan badai. Dia meninggal dunia dengan damai.

Sepenggal kisah itu termuat dalam buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang merupakan karya terjemahan oleh Tia Setiadi dan diterbitkan oleh Penerbit Interlude Yogyakarta.

Buku tersebut akan didiskusikan dan dibedah pada Selasa (8/1) pukul 09.00 WIB di Joglo Fakultas Sastra Undip Semarang.

Akan hadir sebagai pembicara, Siswo Harsono dosen Sastra Inggris FS Undip, Aulia Muhammad peminat dan pemerhati sastra yang juga Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News dan Tia Setiadi penerjemah buku.

Siswo Harsono akan mengupas buku dari sudut pandang seorang kritikus sastra. Dosen Sastra Inggris Undip itu akan mengajak audiens untuk membicarakan biografi sebagai sebuah kritik sastra. Aulia Muhamad akan membahas dari sudut peminat karya sastra yang membaca karya Edgar Allan Poe. Tia Setiadi selaku penerjemah buku akan bercerita lebih banyak mengenai proses penyusunan buku dari naskah asalnya.

Kegiatan ini terseselenggara atas kerjasama LPM Hayamwuruk, Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Sastra Undip dengan Penerbit Interlude Yogkarta. [ditulis oleh Eka Harisma]

*Untuk informasi kegiatan hubungi:
Gema Yudha: 081575339498
Zumala Nahari :
08882529244

Selengkapnya......