30 May 2007

Blogger Berita yang Anonim adalah Banci!

[Catatan: Tulisan di bawah ini adalah tanggapan Jarar Siahaan, pendiri blog berita BatakNews atas blog FPI Online. Selama beberapa kali saya menggapi email Radityo Djajoeri; pemilik blog Mediacare, Indonebia dan FPI Online, saya menembuskan email saya ke bung Jarar. Jarar adalah seorang jurnalis yang idealis, menurut saya. Dia berani mengambil sebuah keputusan "berani", menanggalkan pekerjaan mapan sebagai redaktur di sebuah media terkemuka dan memutuskan menjadi blogger jurnalis BatakNews. Dia menilai pemilik media tak menggaji wartawannya dengan layak namun memberikan aturan wartawan tak boleh menerima amplop. Sementara para bos itu menerima "suap" dari rekanan usaha. Saya pernah menulis review blognya di sini. Berikut ini adalah isi emailnya yang dia kirim kepada saya.]

Aku belum bisa berkomentar spesifik pada kasus blog FPI, karena aku tidak pernah membaca blog itu -- sekali pun tidak pernah, bahkan setelah engkau memberitahukannya padaku lewat tembusan imelmu.

Aku cuma ingin beropini sedikit soal status bloger anonim. Dan sebelumnya aku harus beritahu bahwa aku adalah bloger pemula yang baru mengenal blog sejak 20 maret 2007. Sebelumnya aku betul-betul buta soal blog. Jadi opiniku berikut ini mungkin saja tidak pas seperti yang dipahami bloger senior lainnya. Dengan begitu engkau pun tidak menelan bulat-bulat apa yang kutulis.

Bagiku, walaupun tidak ada hukum yang mengharuskan blogger memakai identitas asli, tapi "bloger berita" wajib memakai nama asli. Bloger berita kumaksud adalah blog yang menulis peristiwa aktual, opini tentang isu-isu publik seperti agama dll, blog LSM atau ormas, dan termasuk blog yang membahas tentang media.

Mengelola "blog berita" dengan nama samaran bagiku sama saja dengan menyebarkan selebaran gelap atas pesan "sponsor". Apakah selebaran gelap layak dipercaya? kertas begituan akan kubuang ke tempat sampah atau kutitipkan pada istriku untuk dijual bersama bundel koran bekasku kepada pedagang ikan asin langganannya di pasar Balige.

Bloger berita yang anonim [tanpa alasan-alasan kuat] adalah banci. Sama saja halnya dengan pembaca blog dan anggota milis yang beropini dengan nama samaran. Beritahukanlah padaku kalau ada kata yang lebih memalukan dari banci, dan itulah istilah yang tepat bagi mereka.

Beberapa hari lalu ada seorang bernama antok menyinggung kasus ini di blogku, bataknews. di sini kukopikan tulisan antok dan jawabanku padanya.

Terima kasih kawan, engkau telah berbagi pengalaman denganku.
salam.
-----------------

INI ADALAH TULISAN ANTOK DI BLOGKU:
bung, menurut anda, boleh nggak blogger itu anonim. ada batasannya, kalau misal harus anonim?

ada berita yang lagi hangat, blog FPI ternyata palsu. pembuatnya Indonebia alias Radityo. ah orang ini memang berengsek. harusnya FPI somasi tuh orang, biar kapok. saya memang nggak suka dengan FPI, tapi yang dilakukan oleh Radityo ini mengadu-domba. ini jelas nggak bener. kalau ketemu orangnya, pasti tak tampar tuh mukanya. maaf!

baca beritanya di http://gaya.suaramerdeka.com
------------------
JAWABANKU PADA ANTOK:

bloger anonim bisa saja.

batasannya, kalau menurutku: faktor keamanan. dan "keamanan" ini pun relatif. akan panjang bila kita bahas di sini. sebagai contoh saja: seorang bloger ingin menulis seorang ketua okp yang mabuk lalu memukuli warga, tapi dia sangat takut karena si ketua okp ini terkenal punya pengaruh luas dan "akrab" dengan kapolda. dalam kasus seperti ini sangat bisa diterima bila penulis blog memakai nama palsu.

satu lagi jenis blog yang menurutku bisa memakai nama samaran adalah "blog pribadi". yang kumaksudkan blog pribadi adalah blog yang hanya berisi catatan harian dan tidak menyinggung sama sekali urusan publik. misalnya aku seorang abg yang jatuh cinta pada seorang cewek, tapi aku sangat malu untuk mengungkapkannya; ya sudah, boleh pakai nama samaran.

tapi ketika blog itu membahas isu-isu umum seperti berita aktual, pembahasan soal agama, opini tentang skandal politisi dan kasus korupsi, maka si bloger wajib memakai identitas asli.

sama halnya, bloger yang menulis/mengelola blog resmi tidak boleh anonim atau memakai nama samaran. dia harus memakai nama asli, sebutkan alamat, ceritakan profil singkat, dan pasang foto diri di blognya. contohnya pada kasus blog fpi yang anda sebutkan, menurutku si bloger tidak boleh anonim. sebab kita tahu fpi adalah lembaga resmi. sama saja halnya dengan blog yang dikelola ormas lain, lsm, lembaga adat, atau blog berita seperti bataknews dan blog suara merdeka.

tapi ini hanya etika, dan itu pun setahuku belum secara resmi tertulis di kalangan bloger indonesia. artinya, pada kenyataan, sudah dan masih akan banyak bloger memakai nama alias meskipun blognya mewartakan berita dan artikel opini yang berkaitan dengan isu-isu publik.

jadi kupikir pembacalah yang harus bersikap. bila mereka melihat sebuah blog seperti blog fpi tanpa disertai foto si bloger atau minimal profil yang jelas, maka segeralah curiga bahwa blog itu ditulis oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

aku juga mencurigai sejumlah blog, milis, dan situs web yang memperdebatkan agama dikelola oleh orang-orang dengan identitas palsu. karena kulihat milis dan blog tersebut betul-betul menjadi sarang iblis — di mana setiap pengunjung dibiarkan menulis komentar sekasar apapun tanpa disensor sama sekali. hal ini pernah kutulis dalam artikelku di bataknews, PERSETAN DENGAN LOGIKA AGAMAMU.

dan memang hits blog dan milis itu sangat tinggi. wajar, karena semua orang dibiarkan berkomentar tanpa dimoderasi pemilik blog. mungkin anda pernah membaca blog dan milis kumaksud. di sana pihak nasrani memaki-maki alquran; dan pihak muslim memaki-maki yesus. dan aku tahu apa yang dicari si pengelola blog/milis seperti itu: uang. dengan membiarkan pengunjung berkomentar sebebas-bebasnya dan menulis opini sebohong dan sekasar apapun, maka hits otomatis tinggi, lalu pemasukan dari iklan berupa adsense pun masuk ke kantong para "maniak agama" itu.

bung, bloger seperti itu bagiku adalah iblis; dan orang yang doyan membaca blog begitu adalah calon iblis. aku tidak mau menjadi iblis; karena saat ini saja diriku sudah terlalu berdosa.

salam damai. jarar siahaan di tanah batak.


--
Jarar Siahaan
www.blogberita.com
www.jararsiahaan.com
[blog berita independen BatakNews]

Selengkapnya......

21 May 2007

Blog FPI online: Black Campaign yang Menguntungkan?

Front Pembela Islam (FPI) tampaknya mulai menyadari peran weblog sebagai media yang efektif untuk memuluskan perjuangannya menegakkan syariat Islam di Indonesia. Barangkali, oleh karena itulah mereka membuat blog http://fpi-online.blogspot.com. Blog ini berisi berita seputar kegiatan FPI yang sebelumnya pernah dimuat di media lokal maupun mancanegara.

Tapi sebentar dulu, benarkah blog http://fpi-online.blogspot.com dibuat oleh anggota FPI atau simpatisannya. Bisa jadi malah sebaliknya, blog itu dibuat oleh oknum yang tidak senang terhadap FPI. Siapa tahu blog itu justru diniatkan untuk menyebarkan black campaign, untuk menjatuhkan nama FPI. Who knows?

Untuk mengetahui apakah blog FPI Online dibuat untuk mendukung aktivitas FPI atau malah sebaliknya, dibuat untuk menyebarkan black campaign, misalnya, simak penuturan beberapa sumber berikut ini.

“Saya tidak tahu pasti blog itu benar-benar milik FPI. Kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke sana adalah, blog ini justru dibikin untuk memperolok FPI. Dari kalimat deskripsinya, sidebarnya, foto-fotonya, terlebih lagi footernya (arabia - apa pula itu?!) semuanya terkesan menjelek-jelekkan FPI. Mirip Roy Suryo Watch,” tulis Ikram Putra di milis jurnalisme-sastrawi.

Roy Suryo Watch yang dimaksudkan adalah sebuah situs yang dibuat untuk menyanggah komentar-komentar Roy Suryo, sang pakar telematika, di beberapa media massa.

Situs tersebut saat ini sudah tak bisa diakses lagi. Namun, perjalanan polemik yang berlangsung dua tahun lalu itu bisa disimak diblog Priyadi.

“Dan itu pun tidak perlu diherankan. Tidakkah kita sudah sering dengar black campaign?,” tambah Ikram.

Menurut Ikram, Black campaign adalah kampanye menjelek-jelekkan, memperolok, yang dilakukan orang tanpa identitas jelas. Bisa anonim, atau bisa pula pseudonym. Ia berbeda dengan negative campaign, yakni kegiatan kampanye dengan menunjukkan kekurangan lawan. Dilakukan dengan terbuka atau ada pihak pembuat yang jelas. Dan menurutnya hal ini wajar-wajar saja.

Menurut Ook Nugroho, seperti yang ditulis dalam blognya (http://ruang-samping.blogspot.com), blog FPI online tampaknya sengaja didesain untuk bisa interaktif. Pengelola menyediakan shoutbox yang isinya justru lebih banyak memuat kecaman. Situs itu juga dilengkapi tool sitemeter, terdaftar di technorati, dan juga dilengkapi pernak-pernik yang sekarang sedang popular, yakni mybloglog.

"Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami," tulis Ook di blognya.

Karakteristik blog FPI online yang didesain interaktif, seperti dikemukakan oleh Ook mengundang beberapa pertanyaan. Benarkah jika blog itu dikelola oleh anggota maupun simpatisan FPI, pengelola blog akan membiarkan setiap orang bisa mengirim komentar di setiap tulisan tanpa ada moderasi. Apakah pengelola tidak khawatir akan adanya komentar spam, atau bahkan hujatan dari oknum yang tidak senang terhadap FPI. Apakah benar, jika blog itu dikelola oleh anggota ataupun simpatisan FPI, pengelola blog akan merelakan blognya diisi komentar yang bernada mengejek, bahkan cacian terpampang di kotak pesan dan tidak menghapusnya?

Satu hal lagi yang barangkali sulit untuk dipercaya, di blog FPI ini dipasang Google Adsense, sebuah layanan iklan berbayar yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Bukankah FPI yang dikenal oleh masyarakat luas anti terhadap segala produk yang berbau Barat, produk AS dan sekutunya. Apakah FPI hendak menggunakan dana kompensasi yang didapat dari Google Adsense untuk kegiatan jihad mereka?

Selain yang sudah disampaikan, masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari blog FPI itu. Pada halaman sidebar dicantumkan beberapa link yang “haram” dibuka. Bukankah ini hal yang aneh. Logikanya, jika pengelola blog FPI melarang link itu untuk dibuka, mengapa dicantumkan?

Ada juga himbauan untuk tidak mengisi petisi anti FPI, namun linknya dipasang di sidebar. “Berani mengisi, masuk neraka,” bunyi ancamannya. Kedengarannya, kalimat ini lebih mirip “ejekan” ketimbang “larangan”, bukan?

Untuk melacak status kepemilikan blog FPI itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengelola blog via email yang saya dapatkan dari halaman profil. Mulanya saya mengusulkan untuk mewawancarainya via Yahoo Messenger (YM). Namun pengelola mengaku tidak memiliki YM. “Lewat email saja ya? Ana tidak punya ym..” jawabnya singkat.

“Ana bukan anggota FPI, hanya simpatisan sahaja. Blog ini ana dedikasikan untuk FPI yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia seperti halnya ana dan sohib-sohib ana yang tersebar dimana-mana. Jadi semacam 'un-official weblog' FPI.Ana sendiri dengar selentingan kabar kalau FPI akan membuat situs sendiri, dalam bentuk website,” jawabnya menanggapi pertanyaan yang saya kirim ke emailnya, indonebia@yahoo.com.

Soal dugaan adanya black campaign dari blog FPI itu, pengelola tak menolak, pun tak mengiyakannya. Menurutnya ia sekadar mengumpulkan informasi tentang kegiatan FPI. Tujuannya, agar orang yang ingin mencari info tentang FPI di internet lebih mudah.

“Biarkan siapa sahaja bisa berkomentar, karena media sendiri sering menjelek-jelekkan FPI. Pernak-pernik di weblog kami hanya sekadar penghias belaka, tak kurang tak lebih. Sekali lagi, ini sifatnya temporer sahaja,” jawabnya.

PENGELOLA blog FPI mengaku pemilik blog http://indonebia.blogspot.com. Dari perbincangan di beberapa milis, Indonebia dikenal sebagai seorang tokoh parodi FPI di dunia maya yang malang-melintang di berbagai milis. Penulusuran dilanjutkan dengan melacak beberapa link “terlarang” yang justru dicantumkan diblog. Salah satu link itu adalah http://zamanku.blogspot.com. Namun link-link “haram” itu kini sudah dicopot dari blog oleh pengelola.

Saya membuka fasilitas mybloglog yang ada diblog http://zamanku.blogspot.com (http://www.mybloglog.com/buzz/community/mediacare). Dari sini diketahui bahwa pengelola blog Zamanku juga mengelola blog http://mediacare.blogspot.com dan jaringannya yang jumlahnya mencapai 39 buah blog. Sebuah jumlah yang sangat fantantis. Uniknya di anggota komunitas blog Mediacare yang ada di mybloglog itu dicantumkan dicantumkan blog indonebia dan FPI online. Jadi, sebenarnya mereka musuh atau kawan Mediacare?

Saya mulai curiga, jangan-jangan blog FPI Online, yang mengaku pemilik blog Indonebia itu, juga pengelola blog mediacare?

Untuk membuktikannya, saya menyocokkan identitas (id) Google Adsense blog FPI online, Zamanku, dan Mediacare. Hasilnya tidak jauh meleset dari dugaan. Tiga blog itu ternyata memiliki id adsense yang sama. Id ketiga blog itu adalah "5604202362132912".

Mendapati informasi ini, saya mengonfirmasikannya ke pengelola blog FPI Online. Dalam email saya sampaikan bahwa saya menemukan id yang sama pada blog FPI online dan Zamanku, blog yang dilarang dibuka oleh pengelola FPI. Kepadanya saya juga menyampaikan, dari blog Zamanku diketahui pengelola blog ini juga mengelola blog Mediacare.

Lalu, apa motivasi pengelola, adakah skenario untuk menjatuhkan FPI atau mengadu domba Islam. Jika tidak, apakah yang dilakukannya ini sebenarnya untuk bisnis internet, seperti yang dilakukan oleh para blogger yang copy-paste artikel, membuat blog dalam jumlah yang banyak, untuk menjerat pundi-pundi Google Adsense?

Pada email yang ketiga ini, pengelola Blog FPI kembali menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya sekadar mengumpulkan berita-berita tentang aktivitas FPI agar lebih mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

“Kalo ‘black campaign’ ya tidaklah. Ana kan tidak ngarang-ngarang cerita dengan memutar-balikkan fakta tentang FPI. Ana sekadar mencuplik dari berita-berita di media massa, baik terbitan Indonesia maupun asing. Ana tidak mengurangi juga tidak nambah-nambahi. Mungkin lebih tepat disebut ‘un-official blog’ FPI. Kan di description juga ana cantumkan bahwa ana pendukung tegaknya syariat Islam di Indonesia, tapi ana tidak menyebut sebagai anggota FPI,” jawabnya.

Menurutnya, selama ini belum ada media massa di Indonesia yang berani memberitakan kegiatan FPI secara positif.

“Media bernuansa Islam macam Republika, Hidayatullah, Eramuslim dan lainnya saja jaga jarak kok, malah mereka lebih baik tidak memuatnya. Sedangkan nama FPI kan kebanyakan muncul kalo ada kericuhan dan lain-lainnya,” tambahnya.

Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?

Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black campaign. Apakah diantara anda ada yang punya istilah lebih tepat?

*****

SIAPAKAH sebenarnya pengelola blog FPI online yang memiliki id adsense yang sama dengan blog Zamanku, dan blog-blog jaringan Mediacare itu?

“Soal yang lain-lain, maaf ana tak perlu jawab. Biarkan ana tetap ber-id Indonebia,” jawabnya mengakhiri email yang ketiga kalinya saya kirim itu.

ti sudah disampaikan, Indonebia diduga tokoh parodi FPI yang malangmelintang di berbagai milis. Sekarang, siapa pengelola blog Mediacare?

Dalam posting blog Mediacare berjudul “Duka Cita Chrisye, Badai pasti Berlalu” disampaikan bahwa pengelola atas nama “Radityo Djajoeri” turut berduka cita atas meninggalnya Chrisye. Nama Radityo Djajoeri ini juga masih bisa dilacak di mesin pencari blogger dan technorati dengan tag Mediacare. Saya sudah menanyakan ini dalam email wawancara, benarkah Radityo Djajoeri tokoh Indonebia. Tapi Indonebia tak menjawabnya. Dia minta “biarlah saya ber-id indonebia”.

Dari blog Media-Jakarta (http://media-jakarta.blogspot.com) yang merupakan blog jaringan Mediacare, dicantumkan kontak telpon Radityo Djajoeri: 0817-98022XX atau (021) 790-28XX. Saya menelpon kedua nomor itu. Pertama saya menelpon nomor ponsel, tapi tak ada yang mengangkat. Kemudian saya telpon nomor yang kedua, dijawab oleh suara seorang laki-laki.

Halo, ini mas Radityo?"
“Saya bukan Radityo….”
“Saya dapat nomor ini di blog Media Jakarta, jaringan blog Mediacare. Nomor ini dicantumkan di sana atas nama Radityo Djajoeri. Saya ada perlu sama dia….”
“Wah nggak tahu ya. Tut…tut.……..”

Meski tidak ada pengakuan dari Indonebia bahwa dirinya adalah Radityo Djajoeri, dari hasil penelusuran yang sudah dipaparkan itu, tanpa pengakuan Indonebia pun sebenarnya sudah cukup jelas: Radityo Djajoeri adalah pengelola blog FPI Online yang mengaku Indonebia itu. Jika tidak, kenapa dia tak mengklarifikasi dugaan saya bahwa Indonebia itu adalah Radityo, seperti yang saya kirim dalam wawancara yang ketiga?

****

Dari cerita di beberapa milis, Radityo Djajoeri pernah dikeluarkan dari milis Jurnalisme. Farid Gaban, moderator milis Jurnalisme menyampaikan di milis bahwa Indonebia itu tak lain tokoh yang diperankan oleh Radityo Djajoeri. Selain Indonebia, Radityo juga punya Id lain, yakni Reporter Jalanan (Reja) yang kemudian juga menyusul dikeluarkan di milis yang sama. Siapakah Radityo Djajoeri itu? Adakah nama ini benar adanya, atau ternyata sama saja seperti Indonebia, nama "samaran" petualang dunia maya?

“Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis,” tulis Tomi Satryatomo mengomentari tulisan di multiply saya. Tomi adalah Executive Editor-Current Affairs & Features di ASTRO TV. Sebelumnya dia adalah News Producer di Trans TV.

Dalam posting di blog InsideKompas.blogspot.com, pengelola blog mengaku kedatangan tamu istimewa dan dikagumi. Tamu istimewa itu adalah Radityo Djajoeri, pengelola blog Mediacare, blog yang mengupas isu media dalam dan luar negeri. Ini sebuah gambaran lain akan sosok Radityo Djajoeri alias Indonebia. Di mata pengelola blog “Pecinta Kompas”, Radityo dianggap sebagai tamu terhormat, blogger istimewa, apakah benar demikian, ataukah pengelola blog Inside Kompas itu tidak mengetahui sepak terjangnya di dunia maya?

Belakangan diketahui pengelola blog Inside Kompas itu adalah Pepih Nugraha. Ia bekerja di Harian Kompas sejak 1 Mei 1990. Pepih sekarang menjabat Wakil Kepala Desk Multi Media untuk Kompas Cyber Media (KCM). Dari pengakuannya, blog ini diurusnya sendiri, tak ada orang lain yang membantu.

"Saya memosisikan diri sebagai karyawan Kompas saja, yang tidak rela lembaga tempat saya dideskreditkan, dihina, didemo, dan bahkan mau diserbu oleh pendemo yang dikompori oleh blok Kompasinside yang dikelola AJI. Saya berupaya independen, ketika manajemen berbuat tidak adil, saya juga akan mengeritik mereka pedas (hanya tersiar di milis karyawan Kompas)," ungkapnya. KompasInsode adalah blog tandingan yang dibuat oleh para wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Jurnalis Independen (AJI). Alamat blognya http://kompasinside.blogspot.com.

"Soal Radityo itu, sungguh saya tidak melihat sosoknya, saya tidak kenal dan saya tidak menilai orang dari sosoknya, apalagi saya belum kenal. Saya hanya membacanya dari Mediacare, blog yang konon dia asuh. Saya banyak menimba ilmu dari situ, setidak-tidaknya gosip pers di dunia maya. Kalau saya katakan dia tamu terhormat, tentu saya tidak akan mencabut penyebutan itu," tambahnya.

Namun, ketika saya bilang hendak menampilkan komentarnya dalam tulisan ini, Pepih menambahkan, “Saya menyatakan sikap sanjungan terhadap Radityo dengan Mediacare-nya itu sebelum Mas membongkar kasus Radityo dengan blog FPI-nya itu. Saya apreciate upaya Anda mencari kebenaran. Bravo!”

Untuk mengetahui bagaimana sikap FPI atas blog FPI online, saya menghubungi kantor pusat FPI seperti yang dicantumkan dalam blog FPI Online tersebut. Ternyata nomor itu benar alamat telepon FPI pusat. Oleh seorang perempuan yang menerima telpon, saya disarankan menghubungi Irwan Arsidi.

“Untuk urusan ini, silakan tanya kepada pak Irwan. Dia sekretarisnya Habieb,” jawabnya. Habieb yang dimaksud adalah Habib Rizieq, Ketua Umum FPI.

Dari percakapan telpon dengan Irwan, tampak kesan dia sosok yang ramah. Malam itu dia bilang sedang menemani putra habib Rizieq jalan-jalan.

“Kita sudah mendengar kabar itu. Namun kita nggak mempermasalahkan. Blog itu malah bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan FPI,” jawabnya.

Tidakkah FPI menganggap blog itu sebagai black campaign?

“Selama ini kita masih melihat sisi positifnya. Kita biarkan saja dulu, baru kalau sudah terlalu memojokkan FPI, kita akan bertindak,” jawab sekretaris Badan Investigasi FPI itu.

Menurutnya, kasus semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Irwan mengaku tidak mengetahui siapa yang membuat blog FPI itu. Ia menduga hal itu dilakukan oleh orang-orang yang simpati terhadap FPI. Sebelumnya FPI pernah memiliki website, namun dirusak oleh hacker.

“Dalam waktu dekat, Insya Alloh bulan depan kita akan punya website. Rencananya akan pakai domain org,” jawabnya.

Apa yang dilakukan oleh sosok anonim bernama "Indonebia", pengelola blog FPI Online, atau sosok yang sama bernama “Radityo Djajoeri” pengelola blog Mediacare, menarik untuk dicermati. Dua nama yang diduga kuat satu oknum yang sama ini malang melintang di berbagai milis dan dia juga memiliki banyak blog. Siapakah dia sebenarnya, untuk apa dan siapa dia melakukan itu semua, tidakkah semua yang dilakukan itu sebuah pekerjaan yang melelahkan, apakah pekerjaan itu dilaksanakan oleh tim?

Namun demikian, jika benar blog itu diniatkan untuk menyebarkan black campaign, toh oleh FPI justru ditanggapi positif. Blog FPI Online ini dikatakan Irwan dapat membantu mempublikasikan kegiatan FPI yang tak banyak diekspose oleh media. Benarkah kehadiran blog FPI Online itu menguntungkan FPI, atau FPI saja yang ceroboh tak mengetahui siapa sebenarnya pengelola blog yang di beberapa forum justru kerap mendeskriditkan FPI dan rekan-rekan seperjuangannya yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia?

Dari blog FPI Online, kita dapat memetik pelajaran berharga bahwa meski internet memberikan siapapun ruang yang luas untuk menyampaikan informasi, namun sebagai penulis, seorang punya tanggungjawab atas informasi yang disampaikannya. Dan sebagai pembaca, sikap kita harusnya melacak setiap informasi yang ada di internet, baik yang disampaikan diblog maupun di situs berbayar, dan tidak serta-merta menelan mentah-mentah apa yang disampaikan di sana. Salah satunya dengan mencari tahu dari mana informasi itu bersumber. Ini penting, karena tidak semua informasi yang di dapat dari internet benar, sebagian adalah sampah!

[tulisan ini dimuat dalam tiga tulisan di http://gaya.suaramerdeka.com atau http://blog.suaramerdeka.com ]

Selengkapnya......

20 May 2007

Kontes Mancing Berhadiah Handphone

Mata pria berkaca mata hitam itu tertuju pada batang korek yang berada di atas tutup botol. Tangannya memegang tangkai pancing yang dililiti benang sepanjang 2 meteran. Diujung benang bukan diikat pancing seperti yang digunakan kebanyakan orang untuk memancing ikan, tapi gelang seukuran jari telunjuk orang dewasa yang dipertemukan dengan ibu jari. Lalu, hendak memancing apakah pria itu dengan gelang?

Pria itu tampak serius, namun tetap tenang. Gelang di ujung benang itu diarahkan ke batang korek yang diletakkan di atas teh botol yang berada di depannya sekira dua langkah orang dewasa. Orang di sekelilingnya mengamati, seperti tengah memerhatikan seorang instruktur yang sedang memberikan contoh kepada peserta kursus. Sedikit lagi gelang itu akan dimasukan pada ujung batang korek. Apakah ia akan berhasil? Yup, gelang itu benar-benar masuk ke batang korek yang diletakkan di atas teh botol Sosro.

Beberapa orang di sekelilingnya tampak mengangguk-anggukkan kepala, tapi ada juga yang malah menggelengkan kepala. Entah apa yang sedang mereka rasakan saat itu, heran atau takjub dengan apa yang baru dilakukan oleh pria berkaca mata hitam itu.

Segera saja para pemancing lainnya mempraktekkan seperti yang dicontohkan oleh instruktur. Ya sedikit, sedikit lagi masuk. Ah, namun gelang itu lebih dulu menyentuh ujung batang korek hingga membuatnya terjatuh.

“Sudah, sudah jatuh. Ibu gagal,” tutur pria berkaca mata hitam di depannya.
“Ya, saya nambah lagi,” jawab seorang perempuan paroh baya yang tangan kananya tampak membopong pot bunga, sambil mengulurkan uang 1000 rupiah.

Untuk kedua kalinya perempuan itu gagal lagi. Ia nyerah. “Wah, ternyata susah. Coba kalau nggak ada koreknya,” tuturnya kemudian berlalu meninggalkan arena pemancingan.

****

Pagi itu, seperti biasanya setiap Minggu pagi Simpang Lima dipadati pengunjung. Ada yang mengerumuni pedagang sepatu, penjual kaos Panser Biru, boneka, majalah bekas, Tempura, penjual jamu, dan yang satu ini, mancing berhadiah handphone. Diantara pusat keramaian di Simpang Lima pagi itu, mancing berhadiah handphone itulah yang dari pagi hingga menjelang keramaian usai paling banyak menyedot perhatian pengunjung.

Setiap pemancing dipungut Rp 1000 untuk sekali memancing. Aturan mainnya, pemancing harus bisa memasukkan gelang yang dililitkan pada benang pancing ke botol yang diatasnya terdapat batang korek yang ditaruh diatas tutup botol. Di sinilah letak kesulitannya, gelang belum sempat masuk tapi lebih dulu menyentuh batang korek. Kalau ini terjadi, maka si pemancing telah gagal. Urung menukarkan uangnya 1000 rupiah dengan handphone berbagai merk yang dijajar di belakang botol.

“Ya, nggak papa. Cuma membayar seribu, kalau untung bisa dapat handphone,” ucap salah seorang pemancing yang sudah beberapa kali mencoba keberuntungan namun masih gagal.

Dan hasilnya, dari pagi sampai siang menjelang keramaian minggu pagi di simpang lima itu usai, belum ada satu pun pemancing yang beruntung mendapat handphone. Saya mencoba-coba menghitung berapa hasil keuntungan yang diperoleh oleh penyelenggara arena pemancingan. Kalau satu orang mencoba keberuntungan sebanyak tiga kali, dan ada seratus pengunjung, maka hasil yang didapat oleh penyelenggara adalah 300 ribu. Jumlah ini bisa lebih, karena satu pemancing sampai ada yang menghabiskan 10.000.

Hmmm, bagaimana jika ada satu orang saja yang berhasil memasukkan gelang ke botol? Misal dia dapat HP Nokia seri 2100 yang harga bekasnya masih berkisar 300 ribuan. Berani betul penyelenggara ini. Ya inilah permaianan hidup, untuk mencari makan memang harus berani bertaruh. Untung atau buntung ada di depan mata!

Selengkapnya......

19 May 2007

Penulis, Buku, Pembaca dan Kritikus (Tanggapan Muhidin M Dahlan)

MASALAH:
(1) bagi seorang penulis ataupun seorang pembaca, buku apa sih yang paling baik?
(2) apa pentingnya pengkritik buat penulis?

BAGIAN I
Inilah jawaban saya: buku yang baik adalah buku yang mampu mengungkap, menggelitik alam bawah sadarnya, dan mendorongnya untuk bertindak atau merenungkan hidup.

mungkin bagi sebagian orang, buku itu tampak ecek2, kampungan, katrok, tapi bagaimana kalau buku itu bisa mengubah hidupnya, merevolusi cara pandangnya.

Bagi kalian, buku2 pemenang nobel itu atau pemenang2 hadiah sastra itu luar biasa. kalian memujinya setinggi langit. tapi kalau buku itu tak memberi rasa sentuhan kepada saya, apalah guna semua pujian itu. semua akan lewat tak teringat tak berjejak.

kalau kalian berkata bahwa buku la tahzan itu luar biasa, bagaimana kalau saya lebih tersentuh dan merinding ketika membaca berulang2 buku HAJI ali syari'ati. lalu mana yang lebih baik: buku la tahzen atau buku haji.

maka bagi saya membaca adalah sebuah pengalaman personal.

tak bisa kalian membanding-bandingkan derajat buku jika sebuah buku punya pembacanya masing-masing. apa kalian kira seorang penulis tidak memikirkan buat siapa buku itu. bahkan penulis paling pemula pun di bawah sadarnya dia sudah terpacak bayangan untuk siapa. dan paling minim adalah pribadi-pribadi seperti dirinya.

dan apa sih salahnya buku yang terjual banyak?

saya adalah salah satu pendorong bagi adik2 saya untuk menulis terus, jangan takut nggak dibaca, tapi kalau bisa pikirkan siapa dan seperti apa pembacamu. kalau pembaca yang kamu pikirkan adalah sangat terbatas, ya itulah pencapaian karyamu. lakukan itu, kejar itu. kalau kalian menulis dengan menembus pembaca dengan cara terlebih dahulu menembus benteng selera para juri lomba, tempuhlah jalan itu. ambil hadiahnya, dan semoga dari sana pembaca yang banyak bisa kalian raih.

dengan kejelian membaca pasar buku atau pasar pembaca, tidak lantas bahwa prilaku sang penulis itu semata mencari keuntungan finansial. itu hanya timbal dari kecerdikan menentukan target pembaca dan tentu saja kecerdikan membaca ruang gagasan yang lowong.

kembali ke selera bacaan.

mungkin kalian akan bilang bahwa selera saya katrok, ndeso, dan menjijikkan. dan akan saya bilang, biarin. toh saya membaca buku yang kemudian saya sukai itu karena memiliki implikasi etis dan intelektual dalam diri saya.

karena itu jika kalian bertanya kepada orang, maka kalian akan terkaget2, betapa nyaris semua orang berbeda buku favoritnya.

jika kalian bilang: hei gus muh, buku apa yang kausukai sejatinya. maka jawaban saya ada tiga. (1) buku haji yang membuat saya tergetar dan mengarahkan pelan2 pandangan saya bagaimana gerak fisik setiap ibadah adalah langkah2 revolusi. dari buku haji, maka saya tergerak ke kiri, saya terdorong untuk menyelenggarakan pesantren sosialisme religius, dan tak gegabah menghinakan kaum komunis. (2) buku pram yang membuat saya terguncang dan mau mencintai dan sekaligus belajar membuat novel di mana sebelumnya karya sastra adalah buku haram dan tak senonoh untuk dipegang. mungkin kalian mengatakan buku budi dharma itu luar biasa. saya menghargai itu. tapi jangan kalian paksa saya turut mencintainya. sebab sudah dua buku pak budi saya tamatkan, saya tak terlalu banyak mendapatkan greget dan karena itu bisa mengubah jalan hidup saya. (3) buku ayat-ayat setan salman rushdie yang mungkin bagi kalian itu buku tak bagus, jelek di semua lini, tapi saya menyukainya. mungkin kalian bilang buku2 kayak begitu gampang dibuat... mungkin, tapi saya percaya satu hal, buku sesederhana apa pun itu membutuhkan cucuran keringat yang tak sedikit untuk membuatnya, membutuhkan berlapis kesabaran untuk tak tergoda meninggalkan embrio yang sedang tumbuh di kepala, membutuhkan ketegaran untuk bergabung barang sebentar dengan telaga sepi, dan tentu saja butuh disiplin yang mengekang diri untuk menyelesaikannya hingga akhir.

karena itu saya menghargai sepenuh2nya buku, suka atau tidak. saya menyukai penulis (buku atau blog) yang menulis dengan kesabaran yang intens, ketahanan berada di tepi sepi, dan kesungguhan menerapkan disiplin. kalau pun karya yang dihasilkannya bermutu rendah, itu tak jadi soal. kalian boleh mengutuknya, kalian boleh memakinya, kalian boleh mendinakannya, tapi jangan paksa saya melakukan hal serupa.

dan terakhir, sebuah buku akan mencari pembacanya yang sehati lewat prosedur pasar yang berkelok-kelok, penuh intrik, saling merintang dan membalok, tapi bergairah.


BAGIAN II
Saya menghargai kritik. saya sepakat sepenuhnya bahwa dalam masyarakat teks ada selapis orang yang berprofesi pengkritik. dan itu baik buat penulis dan baik pula buat pembaca.

pengkritik apa sih yang berguna bagi penulis. semua berguna, namun yang saya maksudkan adalah tingkat gradasinya.

kalau ada yang hanya mencela dan memaki dan bahkan ia melakukan itu dengan bahkan tak pernah membaca langsung buku itu, sorry, lupakan saja. mereka baru bangun tidur. mereka terlahir bukan sebagai pembaca yang utuh, mereka pembaca setengah. dan orang yang setengah2 ini yang paling menakutkan. dan sekaligus membuat perkara kebingungan dua penjaga gerbang akhirat: neraka dan surga. ini org mau dimasukkan ke mana ya... dia jahat tapi baik juga; dia baik tapi jahat juga...

pembaca yang utuh adalah pembaca yang memang membaca buku sampai selesai...(dan tak merepotkan para malaikat) maksudnya, tentu tak mesti membaca buku itu dari lembar pertama sampai yang terakhir, karena ada orang yang maqom membacanya sudah tinggi... hanya melihat beberapa halaman saja sudah memberikan komentar dan komentar itu tepat, cerdas, dan kritik yang menghunjam tajam.

pengkritik apa yang dibutuhkan penulis? tentu saja kritik yang sungguh2. kritik yang mengelupas setiap kulit makna dalam buku itu. dan saya sangat menghargai kritik yang demikian itu.

lantas bagaimana sikap penulis menanggapi kritik2 itu. tanggapan terbaik adalah kembali ke kamar, atur daftar bab, meriset bahan, dan kembali menulis... terlalu lama ikut serta dalam kerumunan debat, saya khawatir dia akan salin profesi mengerikan: turut menjadi pemaki, tukang sinis, dan lupa mencipta.

jika kalian coba2 mengkasifikasi seorang penulis dengan penulis berselera rendah rendah dan penulis berselera tinggi (karena itu berpengaruh dengan klasifikasi: buku rendah dan buku tinggi), kalian belum keluar dari perdebatan zaman dahulu kala. apakah itu salah? tidak tentu saja, walau belum tentu benar. saya punya klasifikasi sendiri atas jenis pembaca, atas jenis penulis, dan pada akhirnya atas sebuah buku. dan simpulan saya sederhana:

(1) PEMBACA YANG MALAS DAN PEMBACA YANG RAJIN. pembaca yang malas akan menghasilkan dua hal: ekstrim memaki atau royal memuji. pembaca yang rajin tampak akan bijak; bukan karena keengganan atas sosok penulis (karena teman karena senior karena dosen sendiri), tapi karena dia tahu mana bumbu yang kurang pas dan mana bumbu yang lebih serta mana bumbu yang lupa ditaruh.

(2) PENULIS YANG MALAS DAN PENULIS YANG RAJIN. penulis yang malas adalah penulis yang tidak mau meluangkan waktu untuk melakukan riset atas tulisannya dan ketekunan membaca. bahkan karangan paling imajinatif dan surealisme paling liar sekalipun butuh riset. penulis yang rajin adalah penulis yang sebaliknya dari penulis yang malas...

Dan paling pungkas, hanya dua jenis blogger: blogger yang rajin mengupload dan blogger angin-anginan.


[tulisan ini adalah tanggapan Muhidin M Dahlan atas komentar saya di blognya pada tulisan yang berjudul "Tugas Penulis adalah Menulis".]

Selengkapnya......

16 May 2007

Penulis, Buku dan Siasat Menjual Karya

Apa kriteria buku yang bagus? Seorang penulis dalam sebuah milis komunitas penulis mengatakan, buku yang bagus adalah buku yang dicetak ulang beberapa kali, buku best seller. Asumsinya, buku yang banyak terjual berarti banyak dibeli. Karena banyak dibeli, ia banyak dibaca. Karena banyak dibaca berarti ia banyak diminati pembaca. Nah, karena banyak dibaca maka sebuah buku layak disebut sebagai buku yang bagus.

Memang asumsi itu ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Begini. Jika kriteria buku yang bagus itu diukur dari seberapa besar pembacanya, seberapa banyak buku itu terjual, apakah lantas buku-buku yang tak banyak terjual, bukan buku best seller itu buruk.

Dalam dunia kesusasteraan Indonesia ada sederet nama-nama hebat penulis yang karyanya diulas di berbagai media, diperbincangkan dalam berbagai forum. Namun buku mereka belum banyak mengalami cetak ulang. Nukila Amal, Linda Christanty, atau yang sudah senior, Budi Dharma, Danarto, Kuntowijoyo, adalah beberapa penulis yang dimata kritikus karyanya bagus, namun bukunya tak mendapat sambutan luas dari pembaca. Dalam beberapa hal penilaian kritikus bisa mempengaruhi pembaca, namun tidak selamanya selera kritikus dan pembaca sejalan.

Berbeda dengan buku fiksi pop teenlit-chicklit macam "Dealova", "Cintapucino" , "Ungu Violet" atau fiksi islami yang sangat fenomenal "Ayat-ayat Cinta" yang kabarnya sudah terjual lebih 300 ribu buku, atau novel sensasional macam "Selingkuh Itu Indah", "Garis Tepi Seorang Lesbian", "Jangan Main-main dengan Kelaminmu", dan tentu saja yang tak bisa diremehkan adalah "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!" karya Muhidin M Dahlan yang pada per maret 2007 sudah naik cetak 12 kali!

Pertanyaannya, apakah karya Nukila Amal, Linda Christanty, Danarto, Budi Dharma, Kuntowijoyo, lebih buruk dari karya mereka yang bukunya sudah mampu menembus angka cetak ulang yang fantastis itu?

Menurut saya, tentu saja tidak! "Cala Ibi" karya Nukila Amal, "Kuda Terbang Mario Pinto" karya Linda Christanty, yang keduanya banyak dipuji oleh kritikus karena keindahan diksinya, atau "Adam Makrifat", "Godlob" karya Danarto, "Mantra Penjinak Ular" karya Kuntowijoyo yang mengusung sastra realisme magis dan sastra profetik, dan penulis-penulis lain yang saya kagumi macam Gus tf Sakai sampai yang lebih senior macam Goenawan Mohammad belum mampu menembus angka cetak ulang yang cuku fantastis, bahkan jika dibanding penulis-penulis teenlit yang masih ABG.

Bagi saya ada beberapa faktor sebuah buku itu bisa laku keras. Untuk sejenis karya teenlit-chicklit, seperti pada karya pop pada umumnya, memang memiliki pembaca yang lebih banyak. Hal ini bisa saja karena tema yang ditawarkan ringan. Dan saya menduga, kebanyakan pembaca sastra di Indonesia adalah mereka yang membaca karya untuk hiburan, bukan untuk mengkaji, mengapresiasi. Kalaupun ada yang mengkaji, prosentasenya jauh lebih kecil jika dibanding mereka yang membaca untuk hiburan, atau yang lebih bijak, untuk mencari pelajaran hidup.

Selain tema populer, yang bisa memicu daya jual buku adalah tema polemik. Karya Djenar Mahesa Ayu "Jangan Main-main dengan kelaminmu", "Garis Tepi seorang Lesbian" karya Herlinatiens dan "Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Palacur" karya Muhidin M Dahlan, contohnya. Dua pengarang yang disebut dibelakang adalah mantan kru LPM Ekspresi, pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tema-tema polemik ini uniknya, makin dia dikecam, makin dia terjual. Dari situ orang menjadi penasaran, akhirnya membeli. Ini seperti yang dialami oleh Gus Muh, yang sempat beberapa kali dalam forum diskusi karyanya dikatakan kafir dan diancam akan dibunuh!

Bagi saya, ukuran sebuah buku yang baik bukan cuma dari paling banyak pembacanya. Ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas, kualitas apresiasi dari pembacanya. Meski karya itu tak seheboh "Jakarta Undercover"- nya Moammar Emka, tapi "Cala Ibi"-nya Nukila Amal akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari pembaca yang masih terbatas.

Barangkali pembaca majalah sastra Horison yang dulu mengkaji tema-tema sastra "adilihung" akan berpindah ke majalah lain setelah majalah itu kini menurunkan standarnya menjadi majalah anak-anak SMU. Saya lebih respek pada jurnal Kalam (tapi terbitnya walah nggak jelas, kayak Hayamwuruk saja, hehe) yang masih bersetia dengan tema-tema serius, meski kini tidak cuma mengusung tema-tema sastra, tapi kebudayaan secara luas. Saya yakin, meski pembaca Kalam tak sebanyak pembaca Horison kini, tapi dari segi kualitas apresiasi pembacanya akan jauh berbeda.

Satu lagi, mayoritas masyarakat pembaca sastra Indonesia dan bidang-bidang disiplin lain memang lebih suka dengan karya-karya yang ringan. Makanya tontonan "Empat Mata" dengan Thukul katrok mendapatkan rating yang tinggi. Padahal Thukul ya nggak se-smart Om Farhan. Dari segi muatan ya, nggak serius. Orang disitu yang menjadi pusat perhatian Thukul. Narasumber belum tuntas menjawab, thukul sudah menyela, seolah-olah dia tak butuh jawaban.

Dalam dunia kesusasteraan, pembaca kita pun tak jauh beda. Mayoritas pembaca kita menyukai hal-hal yang bisa menimbulkan keharuan. "Ayat-ayat Cinta" (AAC) karya Habiburahman, "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, laku keras. Cewek-cewek sangat menggandrungi tokoh Fahri yang santun, alim dalam AAC. Atau cerita-cerita Andrea yang mengisahkan betapa mengharu-birukannya pendidikan di sebuah kampung di tanah Sumatra. Faktor keharuan yang bisa menimbulkan rasa iba ini, juga yang memicu terpilihnya Feri dalam kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Ikhsan dalam Indonesian Idol.

Bagaimana sebuah buku bisa menjadi best seller, diperlukan strategi untuk bisa menembus angka penjualan yang fantastastis. Yakni strategi menjual diri! Kenapa dikatakan menjual diri, ya kita menjual buku-buku yang memang disukai penerbit dan yakin akan banyak dibeli pembaca. Membuat buku best seller tak cuma membutuhkan kelihaian penulis meramu kata, tapi juga butuh strategi. Penulis tak hanya cerdas soal menulis, tapi paham juga soal pasar, marketing. Dan langkah menjual diri ini sebenarnya juga tak sepenuhnya jahat, ketika juga diikuti upaya menciptakan sebuah karya yang bermutu, berbobot, tidak semata-mata untuk mengeruk pendapatan royalti.

Namun, sepertinya selera pembaca akan sebuah karya akan terus berubah. Fiksi islami yang pada periode awal 2000 laris manis, bahkan penerbit rame-rame bikin devisi khusus fiksi islami, semenjak tahun 2005 sepertinya mengalami matisuri. Seperti yang diakui seorang penulis fiksi islami dalam sebuah diskusi di Semarang beberapa hari lalu, karya-karya fiksi islami belakangan justru banyak dikembalikan oleh pihak penerbit. Kondisi ini sangat berkebalikan ketika fiksi islami tengah booming, beberapa penerbit berlomba-lomba menerbitkan fiksi islami, diantaranya bahkan membuat departemen khusus fiksi islami.

Menurunnya selera pembaca juga terjadi pada fiksi yang mengangkat tema seks. Judul macam "Petualangan Celana Dalam" karya Nugroho Suksmanto (pengusaha kontraktor Mega Kuningan yang mendadak menulis karya sastra) sudah tak seheboh ketika awal-awal tema seks sedang ramai.

Pada titik itu akan terbukti, karya-karya siapa yang masih akan terus dibaca, diapresiasi, dibeli meski cuma satu-dua, yakni karya-karya yang memang secara kualitas bagus, bukan tren sesaat.

Lantas, masih relevankah membicarakan sebuah kualitas karya dari kuantitas penjualan buku?


[tulisan ini saya posting untuk bahan diskusi di milis jurnalisme sastrawi , milis jurnalisme, penulisan, media. Yang ingin bergabung dengan milis jurnalisme sastrawi, silakan klik di sini]

Selengkapnya......

15 May 2007

Tema Puisi, Suka-suka dong!

Saya mencoba untuk bisa mengerti kegelisahan bung Tomi yang menemui sejumlah puisi yang masih membicarakan soal kupu-kupu, senja, ranum payudara, de el el. Dan rupanya ini yang memang lagi menggejala. Sama seperti anda bung, saya juga kerapkali kesal dibuatnya.

Saya mencoba menerka-nerka, bagi bung Tomi penyair yang masih mengusung puisi semacam itu tak peka terhadap lingkungan sekitar, naluri kepenyairannya telah diambang matirasa. Mereka membicarakan hal-hal yang kurang penting, sementara ada yang lebih penting, yakni bencana, bencana ya diantaranya korban lumpur Sidoarjo itu.

Dari situ saya menarik kesimpulan, anda hendak mengatakan bahwa puisi-puisi semacam itu tidak mewakili spirit jaman, tidak konstektual, tidak berbicara soal kritik sosial, dan kewajiban-kewajiban mahaagung lainnya. Ah, darinya saya menjadi minder, ternyata betapa berat menjadi seorang penyair! Mbok yang riang-riang saja, ringan-ringan saja. Bagi saya, selaku penikmat puisi, apapun jenis puisi itu ketika dilahirkan dari ketulusan penyair, dia akan bernilai. Soal baik-buruk, estetikanya, bermanfaat-atau-tidak, serahkan saja kepada sidang pembaca.

Saya menangkap kesan bahwa tema-tema yang anda muaki itu seolah tak ada makna, tak penting dalam proses kreatif penciptaan puisi, dan ujung-ujungnya anda hendak menawarkan atau lebih tegasnya mengarahkan bahwa puisi yang bagus adalah yang memuat kritik sosial, menyuarakan jerit hati para korban lumpur Sidoarjo.

Kalau persolannya terletak pada kurang matangnya penggarapan tema-tema barangkali ada benarnya. Tapi kalau tema-tema semacam itu kemudian dianggap remeh temeh, bentar dulu. Saya kira ini sangat bermasalah. Pandangan ini telah menafikan proses kreatif sesama penyair. Saya sepakat dengan Seno Gimira yang mengatakan bahwa semua tema itu pada dasarnya menarik, yang bikin menarik dan tidak menarik adalah penulisnya. Saya kira ini juga berlaku dalam proses kreatif penciptaan puisi. Saya kira puisi bukan hanya terletak di keindahan kata-kata yang romantis, atau kegarangan kata-kata yang kritis, tapi juga kedalaman makna. Keduanya penting. Ini yang membedakan puisi dengan slogan-slogan politik dalam pamflet.

Soal tema lagi, saya selaku penikmat puisi, bisa menikmati puisi jenis apapun, termasuk puisi romantisnya Sapardi Djoko Damono. Bagi saya sajak-sajak SDD tak berhenti bicara soal cinta semata, tapi lebih menukik, soal kehidupan. Sajaknya ringan tapi cerdas, kalau tak salah ini menurut bung HAH dalam sebuah chatting dengan saya beberapa waktu lalu.

Kalau bung Didi bilang, atau lebih tepatnya minta pemakluman bahwa para penyair yang secara usia masih muda (apa hubungannya usia dengan penyair, dengan puisi?) kurang punya perhatian pada masalah kepentingan umat, menurut saya persoalannya bukan di situ, tapi karena proses kreatif masing-masing penyair tak sama. Sehingga ada penyair yang nyangkut di tema kupu-kupu, atau lebih hebat bisa mencapai ke Lumpur Sidoarjo. Bukankah proses kreatif itu sifatnya sangat personal?


tulisan ini saya posting di milis apresiasi sastra menanggapi posting bung Tomy HG di milis apresiasi sastra. Ini posting yang dikirim oleh bung Tomy :

HUEKK!

Muak aku membuka
buku-buku puisi yang penuh keluh kesah soal kupu-kupu,
remang senja, dan ranum payudara perempuan seakan-akan
kata kata bukan senjata yang paling murah tuk rubuhkan
musuh tanpa harus hancurkan rumah, sawah, hingga
jalan.

Muak aku membaca
sajak-sajak cinta yang harum parfum tubuh telanjang di
atas ranjang, sofa, rumput, dimanapun! Seakan-akan
hidup di dunia ini jauh dari semburan lumpur panas
yang tak henti henti meluber di Porong di Sidoarjo

Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang cuma bisa jadi bun(gk)a(m),kehabisan
kata kata di tengah tengah bencana, bencana dan
bencana!
Seakan-akan basa basi bijak lebih berarti dari nasi
basi
yang dimakan korban lumpur Lapindo di tenda
pengungsian

Muak aku pada
pen(y)a(ir) yang tak bi(a)sa lagi bicara dengan
sederhana
Seakan akan kepak sayap kata-kata bisa terbang jauh
dari
lauk kaleng kadaluarsa yang lagi lagi dimakan korban
lumpur Lapindo di tengah kelaparannya. Yang penyair-

lebih baik tak usah ambil bagian sekalian
Biarlah kata-kata tumpah di aspal jalanan,
poster protes, selebaran, ataupun pamflet

Biarlah penguasa saja yang muak dan muntah
keracunan kata-kata, kata-kata, kata-kata,
dan kata-kata!

-----------------
Tanggal 29 Mei 2007 bertepatan dengan satu tahun bencana semburan lumpur panas Lapindo di Porong. Dan hingga saat ini, semuanya makin parah. Pada tanggal tersebut, direncanakan akan diadakan aksi solidaritas korban lumpur lapindo besar-besaran untuk
menuntut penuntasan penyelamatan nasib warga yang menjadi korban. Bagi teman-teman yang mungkin tidak bisa mengikuti aksi, sangat diharapkan solidaritasnya untuk mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun. Semoga dengan upaya ini semua pihak masih ingat bahwa ada suatu bencana besar yang masih akan terus membesar daya rusaknya di Porong Sidoarjo.

-----------------
-Tomy DG-

Ini tanggapan Hasan Aspahani atas posting yang dikirim Tomy:

Tomy DG yang baik,

Agustus tahun lalu saya menulis sajak "Kisah Kota Lumpur". Ini link ke sajak itu di blog saya http://sejuta-puisi.blogspot.com/2006/08/kisah-kota-lumpur.html


Bulan lalu sajak itu dimuat di Kompas http://kompas.com/kompas-cetak/0704/08/seni/3440307.htm. Saya setuju bahwa semburan lumpur di Sidoarjo adalah bencana besar.

Tapi apa perlu diimbau-imbau penyair untuk menuliskannya? Saya kira penyair yang benar-benar membuka mata hati pasti akan tergerak untuk melihat bencana itu dan menuliskan sajaknya.

Terus apa penyair harus dilarang untuk menuliskan tentang hal-hal lain yang kau bilang kau baca dengan muak itu?

Saya kira gak perlu. Sajak saja pasti tidak akan menyelesaikan masalah, tapi pasti sajak bisa menggerakkan banyak hal untuk menyelesaikan masalah itu.

Sekali lagi saya setuju dengan imbauanmu ini. Saya ikut mengulangnya: Ayo mengirimkan puisi solidaritas korban lumpur Lapindo ke berbagai media cetak, mailing list atau menempelkannya di tembok-tembok kampus, sekolah, mal, jembatan, halte, di manapun!

Imbauan tambahan dari saya: tetaplah menuliskan sajak-sajak lain dengan tema apa saja!


Hasan Aspahani
www.sejuta-puisi.blogspot.com

Selengkapnya......

08 May 2007

Mem-"polisi"-kan Gerakan NII KW9

Topik berjudul "Negara Islam yang Meresahkan" yang diposting di salah satu milis mahasiswa Sastra Undip belum lama ini mendapat tanggapan dari beberapa anggota. Salah satunya mengusulkan agar gerakan yang menamakan dirinya Negara Karunia Alloh (NKA) itu dilaporkan ke pihak kepolisian.

"Memang maresahkan kedengarannya ! Setelah membaca tulisan tersebut tersirat akan solusi apa yang bisa ditawarkan atas masalah tersebut. Bisa gak masalah tersebut dimintakan pendapat pada tokoh yang mempunyai otoritas untuk menanggapinya ? Tidakan apa yang harus dilakukan, pencegahan atau perlawanan. Bisa gak ditinjau dari segi hukum, apakah bisa dipolisikan gerakan /tindakan seperti itu untuk mencegah jatuhnyanya korban lebih banyak," tulis salah seorang anggota milis.

Penulis yang melontarkan diskusi memberikan jawaban yang cukup panjang. Berikut ini jawabannya atas pertanyaan di atas :

Kalau sepengamatanku, kasus itu sudah cukup kuat untuk di-"polisi"-kan. Tanpa memperdebatkan apa itu nama organisasi dan segala macam ideologinya, apa yang dilakukan oleh pelaku (yang diduga kuat sudah menjadi anggota NKI KW9 alias NII Al Zaytun alias NKA (Negara Karunia Alloh) sudah bisa dikatagorikan sebagai bentuk penipuan.

Aku sudah kepikir untuk membawa kasus ini ke pihak fakultas. Tapi kuurungkan. Pasalnya, si pelaku (ada dua) yang kuduga telah menjadi anggota NII itu adalah orang yang pernah dekat denganku. Salah satunya adalah ******. Belakangan memang sudah tak aktif lagi. Aku juga tahu siapa dia, background dia yang dari Demak, dll. Maka, aku mencoba untuk melakukan pendekatan, mengajaknya ngobrol dulu.

Setelah mengetahui jatuhnya korban, dan yang terakhir kudengar adalah anak ***** 2006, aku mulai ambil tindakan. Aku temui dia. Mengajaknya ngobrol. Sampai ke permasalahan. Tapi dia tak mau mengakui. Dia berkelit. Oke, aku pakai cara lain, sambil mengumpulkan informasi
lagi. Sementara waktu agar tidak jatuh korban, aku minta teman-teman **** menempel-nempel dan membagi-bagikan selebaran tentang info masuknya NII ini.

Aku mendiskusikan masalah itu bersama teman-teman komunitas PKM belakang. Disepakati skenario "mengadili" pelaku. Si pelaku di bawa ke salah satu ruang PKM, di rencanakan di **** yang sepi, di pojok, jadi nggak mengundang perhatian orang di belakang. Tapi rencana ini belum
sempat dilaksanakan, karena salah seorang teman yang merupakan teman pondok si pelaku sewaktu di Jepara punya cara yang waktu kedengarannya cukup masuk akal. Dia mengaku cukup tahu si pelaku. Dia kemudian mengajak si pelaku ke kontrakannya. Tapi tetap saja, si pelaku tak mau mengaku. Malah pura-pura tak tahu.

Jujur, aku sebenarnya sangat kasian pada si pelaku. Maka aku melakukan pendekatan lagi. Aku menemuinya dan mengatakan bahwa kasusnya sudah diketahui fakultas. Memang benar, kasus ini sudah menjadi pembicaraan luas. Aku juga pernah ditanya salah seorang dosen, tapi kubilang masih aman, dan aku juga tak menyebutkan siapa si pelaku itu.

Aku bilang, terserah kau tak mau mengaku. Tapi percuma saja. Fakultas sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan, atau memang fakultas mencari tahu sendiri. Dan aku yakin, kau tak akan bisa berkelit lagi. Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan didatangkan sebagai saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit lagi?

Kalau kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat. Dan kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini, kau sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan bagaimana ketika orang tuamu di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu itu?

Kalau memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan rekruitmen secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang sekarang sudah zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Kemudian soal iuran anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM berkedok agama. Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal sebelumnya kau tak seperti ini.

Kalau kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah ajaran agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini sudah sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari organisasi sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang menghancurkan dirimu sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain. Apa yang hendak kau
cari, kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara Islam itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau membaca sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan untukmu.

Berkali-kali kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang mengetahui aktivitas pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap menganggapmu teman, yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti kau salah. Aku cuma benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai dirimu. Kau kini menjadi suka berbohong, tega memeras teman".

Dia terdiam cukup lama. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia mengangkat mukanya. "Aku minta waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.

Tiga hari sudah berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi usahaku cukup berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang, mereka sudah menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah memberikan pernyataan keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih
memantaunya dari kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani macam-macam, maka aku akan kontak orang tuamu.

Hmmm...dari cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih ada anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk lebih dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak tercium karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya mencari anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota NII yang dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa informasi yang kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus di Semarang. Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua PTN di Semarang ini, juga sudah menjadi target operasi NII.

Kembali ke usulan untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni dengan mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang teman yang terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah seorang temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak dikembalikan. HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga Rp 500 ribu. Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan mengembalikan kepadanya.

Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal karena pelaku sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung, tetangga rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi. Pelaku mengatakan, jika dia meminta HP itu secara baik-baik dan si pemilik mengikhlaskannya.

"Jadi kalau dia tega melakukan itu, kanapa aku tidak tega melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah benar-benar rusak, dicuci otaknya. Teman sendiri tega ditipunya," tuturnya yang ditirukan oleh salah seorang teman yang bercerita kepada saya.

Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi. Saya tahu dia dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita dari beberapa teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin terjerumus dalam aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang melaporkannya. Mungkin langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan memutus jatuhnya korban baru.


[Catatan: Beberapa bagian saya beri tanda ****. Dalam pesan aslinya di milis ditulis jelas. Pertimbangan saya, karena blog ini diperuntukkan untuk umum, maka hal-hal yang sifatnya privat tidak saya publikasikan. Dan ini sesuai permintaan si penulis ketika saya konfirmasi bahwa pesan yang dipostingnya akan saya muat di blog.]

Selengkapnya......