Jika ada yang bertanya, seberapa besar cinta anda pada Indonesia, maka Murni Ramli punya jawabannya. Mantan guru sebuah sekolah swasta di Bogor yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktor di Jepang ini, menganggap bahwa dirinya menjadi warga negara Indonesia karena suatu kebetulan.
Kebetulan yang dimaksud tentu saja karena dirinya terlanjur dilahirkan di Indonesia. Akan lain cerita jika dia dilahirkan di Jepang, atau negara lain. Maka sudah barang tentu ia akan menjadi warga negara tersebut.
Lantas bagaimana jika Murni diminta memilih. Dia lebih memilih menjadi warga Indonesia atau Jepang?
“Ehmm.... pilihannya cuma dua neh. La wong ga isok milih tempat mbrujul yang aman deh…” jawabnya ketika saya wawancarai via google talk.
Suatu kali dalam blognya di http://murniramli.wordpress.com, Murni mengajukan pertanyaan: Apakah Saya Cinta Indonesia? Ia membeberkan pernak-pernik Jepang dari hasil pengamatannya selama dua tahun lebih tinggal di negeri matahari terbit itu. Mulai dari masyarakat Jepang yang dingin ketika di kereta, tidak mudah menyapa seperti orang Indonesia; sarana transportasi yang supercanggih; dan satu lagi yang membuat Murni kagum, sistem pendidikannya.
“Fasilitas seluruh negeri hampir seragam dan sangat elit, sistem belajar di PT ga segila di Indonesia (IPB apalagi), di sini lebih nyantai, dan bisa part time job,” balasnya.
Sistem pembelajaran di Jepang diceritakan lebih santai. Anak-anak sekolah bisa belajar dengan lebih menyenangkan, tanpa harus dibebani pekerjaan rumah yang berjibun, bahkan tidak perlu memakai seragam. Tapi kenapa hasilnya bisa maksimal?
Dalam posting yang diberi judul Mengapa Anak Indonesia Lebih Gampang Beradaptasi di Sekolah Jepang?, Murni memberikan analisanya. Salah satu perbedaan dengan sekolah di Indonesia, yakni ketika siswa hendak masuk sekolah. Di Jepang orang tua siswa tidak ditanyai soal biaya uang gedung, SPP, maupun uang seragam. Pertanyaan yang diajukan lebih difokuskan pada masalah kondisi psikologis sang anak.
Dalam hati kecil, Murni mengakui dalam beberapa hal Jepang lebih baik dari Indonesia. Namun ketika ada seorang temannya di Jepang memberikan penilaian yang kurang baik tentang Indonesia, ia akan bersikeras membelanya.
Seperti ketika manajer dia menanyakan soal hilangnya pesawat Adam Air. Murni malah berkelit dengan mengatakan ”Kami punya perusahaan penerbangan yang memproduksi pesawat ringan untuk menerbangkan orang Indonesia dari pulau ke pulau. Kami juga mengekspornya! Padahal ini benar-benar tidak nyambung dengan pertanyaannya !”
Kenapa ia rela membela Indonesia, seolah-olah tak rela nama negerinya itu dicela oleh warga negera lain. Apakah ini karena kecintaannya pada Indonesia?
“Ini mah respon normal semua orang lagi. Tapi saya kadang mengiyakan pendapat mereka juga, cuman belakangnya pasti saya kasih `tapi...mengkritik itu boleh, cuma harus adil’,” jawab Murni.
Itulah Murni. Seorang blogger Indonesia keturunan bugis tulen yang mempertaruhkan rasa nasionalismenya ketika berada di negera lain yang diam-diam dia kagumi. Lama berpisah dengan keluarganya yang sekarang tinggal di Madiun, Jawa Timur, sering membuatnya kangen. Ia rindu akan kampung halamannya dengan sawah yang hijau, penduduk yang ramah, tanah lapang yang luas, yang baginya tak akan ditemukan di belahan bumi manapun.
Saat ini Murni tengah menempuh studi phd di Nagoya University atas biaya sendiri, tak seperti waktu dia mengikuti Teacher Training yang disponsori oleh Kementrian Pendidikan Jepang. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan, Murni bekerja paroh waktu sambil kuliah.
Di Nagoya University Murni belajar tentang pengelolaan sekolah dan pendidikan (educational management). Berbeda dari yang ampunya sewaktu mengajar ilmu pertanian di Politeknik Darul Fallah dan ngajar Bhs Inggris plus Bahasa Arab di MA Al-Haitsam Bogor. Maklum, ia adalah alumni Institute Pertanian Bogor (IPB).
Murni tinggal di Nagoya, ibukota Aichi prefecture, provinsi terkaya di Jepang karena di wilayah ini ada perusahaan otomotif raksasa Toyota co. Jika tak ada aral melintang, studi doktoralnya di Nagoya University akan selesai pada Maret 2009.
Apa rencana Murni setelah pulang ke Indonesia?
“Tadinya mau balik ke sekolah yangg lama. Tapi kemudian berubah pikiran. Saya suka sekali dengan dunia penelitian sejak saya S1. Waktu itu temanya memang pertanian, sekarang agak bergeser ke pendidikan. Jadi saya berencana melamar di sebuah lembaga penelitian atau jadi dosen supaya bisa terus meneliti,” ungkapnya.
Dari pengakuanya, calon doktor ini ternyata masih single. Kapan ia akan mengakhiri masa lajangnya, apakah dengan orang Jepang atau justru dengan warga senegaranya? Silakan tanyakan langsung kepada bu Murni.****
*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com.
Anda punya blog menarik? Atau bisa juga mengusulkan blog teman anda. Kirim alamat blog, nama pemilik, dan deskripsi singkat blog ke alamat email bloggernarsis@yahoo.com. Anda juga bisa berdiskusi lebih lanjut seputar dunia blog di milis Bloggernarsis@yahoogroups.com. Info selengkapnya di blog.suaramerdeka.com
26 January 2007
Blog Murni Ramli: Apakah Anda Cinta Indonesia?
24 January 2007
Jeng Isti Ashari: Memasang Susuk untuk Membantu Sesama
Namanya Istianah. Perempuan berjilbab itu berasal dari Cepu, sebuah kota kecil di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Ibu empat putri dan istri dari Ashari ini telah menetap di Semarang sejak tahun 2004. Kini namanya sudah dikenal luas. Ratu Susuk Selebriti Dr Hc Jeng Isti Ashari adalah gelar barunya.
Tiap hari ada saja orang yang datang ke rumahnya di Perum Sambungharjo Permai Blok E 8 Jalan Wolter Mongonsidi Bangetayu, Genuk, Semarang. Mereka meminta bantuan Jeng Isti mulai dari urusan karir, jodoh, ruwatan, kenakalan anak, pasangan suami-istri yang bermasalah, hingga atlit yang ingin menambah staminanya.
“Alhamdulilah, dari sekian orang yang datang ke sini hampir semuanya berniat baik. Perbandingannya, kalau ada 100 orang, paling cuma dua orang yang mohon maaf, misalnya PSK,” katanya.
Jeng Isti, biasa ia disebut, sadar jika profesinya sebagai Ratu Susuk akan dipandang negatif oleh masyarakat. Pandangan ini muncul karena adanya kepercayaan bahwa memasang susuk adalah perbuatan syirik yang dilarang agama. Atau anggapan lainnya, misalnya, orang yang memasang susuk akan kesulitan ketika akan mati.
Jeng Isti tak serta merta menampik anggapan yang hingga kini masih tumbuh subur di masyarakat itu. Bahkan ia membenarkannya. Namun tentu saja dengan catatan, ketika cara-cara yang digunakan bukan melalui pendekatan dengan sang pencipta, maka memasang susuk menjadi perbuatan syirik.
“Ilmu yang saya gunakan bersumber dari ilmu putih. Saya nggak pakai jin. Saya murni melalui pendekatan dengan Yang di Atas. Makanya saya berani tampil di media cetak maupun elektronik,” ucapnya yakin.
Memang benar, belakangan ini Jeng Isti tampil di sejumlah stasiun radio di Semarang. Salah satunya di radio Gajahmada FM. Tiap Senin sore pukul 18.00-19.00 WIB ia juga tampil secara live di stasiun televisi lokal Cakra TV. Di sini pemirsa bisa berinteraksi lewat telepon dan bertanya langsung dengan Jeng Isti.
Menurutnya, memasang susuk sebenarnya tak dilarang agama. Dalam Islam dikenal ilmu hikmah atau metafisika ghaib. Ilmu ini digunakan untuk tujuan kebaikan. Ia belajar dari kakak-kakaknya di Cepu. “Kami enam bersaudara suka mempelajari ilmu ini. Kakak-kakak saya di cepu juga buka praktek,” akunya.
Jeng Isti kemudian menjelaskan cara kerjanya. Mula-mula ia menanyakan kepada orang yang bersangkutan akan digunakan untuk apa susuk itu. Selama untuk tujuan kebaikan, ia tidak keberatan. Misalnya, orang yang ingin karirnya sukses, dihormati bawahannya, atau disayangi atasan; untuk mengembalikan pasangan suami istri yang selingkuh; ingin dipermudah segala urusan; ingin dipermudah mendapatkan jodoh; mengatasi kenalan remaja, dan lain-lainnya.
Belum lama ini seorang pengusaha dari Jepara datang kepadanya. Ia meminta Jeng Isti membantu untuk mengurus perijinan usaha. “Saya bisa membantu mempermudah urusannya. Misalnya, agar biaya bisa ditekan seminimal mungkin, tidak dipersulit birokrasi. Dengan susuk ini orang yang semula berniat jahat kepadanya, menjadi diurungkan.”
Sebaliknya, ia tidak segan-segan menolak jika dari awal susuk itu akan digunakan untuk niat yang tidak baik. “Sesuatu yang tidak diperbolehkan olah agama atau yang melanggar norma-norma di masyarakat, saya nggak mau. Misalnya suami yang jelas-jelas telah memiliki istri, tapi dia ingin kawin lagi, saya tidak akan melayani.”
Lalu bagaimana jika ternyata susuk itu tidak digunakan untuk tujuan kebaikan, misalnya untuk niat jahat tertentu?
"Dalam Islam tidak ada dosa turunan. Seorang penjual bebas menjual pisau meski pisau itu di belakang ternyata digunakan untuk membunuh. Saya pun demikian. Saya menawarkan susuk ini untuk kebaikan. Jika kemudian ternyata disalahgunakan, ini bukan keinginan saya,” terang Jeng Isti.
Uniknya lagi, susuk Jeng Isti ini berupa layanan siap pakai. Pasien tak perlu melakukan ritual tertentu, seperti puasa, atau pun ritual lainnya. Ia tinggal membeli maharnya dan terima jadi. Semua ritual dijalankan oleh Jeng Isti. “Insya Alloh saya akan bangun setiap malam memohonkan kepada yang di atas. Semua urusan pasien, saya yang akan menanggung.”
Karena berupa layanan siap pakai, Jeng Isti juga menerima jasa pasang susuk jarak jauh. Pasien tinggal menghubunginya lewat telepon, mahar akan dikirim ke alamat tujuan. Urusan beres!
Jeng Isti memasang susuk di bagian leher ke atas. Khusus untuk atlit yang ingin menambah daya stamina, susuk dipasang di bagian leher ke bawah.
Ada beberapa macam susuk yang ditawarkan oleh Jeng Isti. Media susuk atau mustika yang dia gunakan adalah sumber lilin, emas, intan dan berlian. Dari sekian ini, yang paling ampuh adalah susuk sumber lilin. Media yang satu ini diakuinya mempunyai daya magis yang luar biasa untuk kecantikan atau ketampanan, wibawa, awet muda, pengasihan, rejeki melimpah, sukses karir dan daya tarik yang menakjubkan. Namun demikian, beberapa media yang disebutkan itu memiliki kegunaannya masing-masing.
Tarif mahar untuk tiap jenis susuk beragam. Susuk Srikandi yang berfungsi untuk membangkitkan kecantikan atau ketampanan dan inner beauty serta mempermudah jodoh dihargai Rp 300.000. Susuk Selebriti yang merupakan susuk pengasihan tingkat tinggi dihargai dari Rp 500.000 – Rp 600.000. Susuk Samber Lilin yang disebutkan di atas itu dihargai Rp 2 juta.
Bagi yang ingin khasiat lebih, Jeng Isti menawarkan kelas VIP. Tentu saja untuk kelas ini tarifnya lebih mahal. Susuk jenis Supersport yang digunakan untuk para atlit sebagai media penambah stamina dan daya tanding yang tak terkalahkan, tarifnya mencapai Rp 7,5 juta. Sementara jenis yang sama untuk mahar tingkat I tarif yang dipatok cuma Rp 500 ribu.
Namun demikian, anda tak perlu khawatir. Jeng Isti melayani semua kalangan, dari kalangan bawah sampai kalangan elit. Dari orang biasa sampai pejabat. Dan tidak terbatas oleh suku ras maupun agama.
“Semua jenis media baik berupa susuk maupun mustika, tergantung pada ahli metafisikanya. Bersumber darimana ilmu itu didapatkan. Keberhasilan ilmu putih banyak ditentukan oleh kedekatan pada Yang di Atas,” jelas Jeng Isti.
Menutup pembicaraan, Jeng Isti berpesan, apapun masalah yang dihadapi oleh manusia kuncinya berusaha dan optimis dan bersyukur atas apapun yang telah diberikan tuhan kepada kita.****
*Tulisan ini dimuat di rubrik alternatif suaramerdeka.com
22 January 2007
Ratu Bubar, Infotainment Tanggung Jawab
Besok (Selasa, 23/1/2007), Duo Ratu bubar! Mulan Kwok, salah seorang personel Ratu, sedih. Ia menangis. Dirinya masih mencintai Ratu. Rupanya air susu dibalas dengan air tuba, kata presenter Insert, tayangan informasi selebritis di Trans TV Senin sore.
"Apa yang dilakukan Mulan kini dibalas..." tambah presenter itu.
Tak lama kemudian, Dhani Ahmad muncul dalam rekaman yang dibuat beberapa waktu lalu. Dhani mengatakan, di tahun 2007 Ratu Bubar, atau dia dan Maia yang akan buyar. Pernyataan pentolan kelompok band Dewa ini, menyusul perseteruan dirinya dengan manajemen Ratu yang dituduhnya tak bisa mengatur jadwal personel Ratu.
Maia Ahmad, personal Ratu yang juga istri Dhani mengatakan, salah satu memang harus dikorbankan. Tak jelas apa yang dimaksud. Apakah salah satu itu tertuju kepada ratu? Jika benar, maka dengan begitu Maia memilih mengorbankan Ratu demi keutuhan keluarganya bersama Dhani dan ketiga anaknya.
Dari penayangan Mulan secara berulang-ulang dan juga komentar ibunda Mulan, muncul kesan Mulan lah yang menjadi korban. Kata korban itu lebih serem lagi disebut dengan "tumbal". "Akankah Mulan menjadi tumbal dari perseteruan Maia dengan Dhani?" kata presenter.
Penggunaan bahasa yang vulgar dan dramatis menjadi ciri khas bahasa infotainment. Penggunaan peribahasa "air susu dibalas dengan air tuba" dalam konteks di atas tidak tepat dan terkesan berlebihan. Begitu juga dengan istilah "tumbal", ini juga terlalu kasar.
Penggunaan istilah dan bahasa yang vulgar itu tidak menjadi masalah jika memang mewakili realita di lapangan. Akan tetapi apa yang disajikan oleh infotaiment itu berupa dugaan-dugaan alias fitnah!
Selain penggunaan bahasa yang tidak tepat, dramatisasi infotainment diperkuat dengan nada bicara presenter yang tinggi, terkesan "garang". Anda tentu tak asing lagi bagaimana presenter itu melafalkan kata-kata berikut ini: Apa lacur, bagaimana tidak, semuanya kini berakhir!
Kembali ke topik bubarnya Ratu, tahukah anda jika komentar yang dikeluarkan Mulan itu dilatarbelakangi oleh komentar Maia yang sebelumnya disampaikan infotainment. Besok Ratu bubar, katanya. "Haa...Ratu bubar...Saya sakit benget, seperti ditikam dari belakang," kata Mulan.
Dari awal disampaikan Mulan mempermasalahkan manajemen Ratu yang tidak terbuka. Ia ingin agar manajemen bisa lebih transparan. Tapi Mulan tidak serta merta menyalahkan manajemen. Ia sendiri mengaku salah kenapa tak pernah menanyakan laporan dari manajemen. Rupanya kritikan itu beberapa hari kemudian dibalas dengan pernyataan pembubaran Ratu oleh Maia.
Kemudian flashback ke pernyataan Dhani beberapa waktu lalu terkait dengan perseteruannya dengan manajemen Ratu. Manajemen tak becus mengatur jadwal. Gara-gara kesibukan Maia di Ratu, anak-anak jadi tak diperhatikan.
Dasar infotaiment, kerjaannya memperkeruh masalah. Berita belum jelas, belum diverivikasi, tapi sudah disampaikan ke pemirsa. Tak cukup, ia juga membubui dengan opini dengan standar peniliannya sendiri.
Infotainment sore tadi ditutup dengan kalimat yang lebih tepat nasehat agar pihak yang bermasalah tidak menyelesaikan masalah dengan emosi. Hah, bijak sekali presenter itu mengatakan kalimat yang sebenarnya tidak perlu. Dalam tayangan tadi sore, tampak infotainment membela Mulan dan menyudutkan Maia dan (terlebih) Dhani.
Saya memang suka beberapa lagu Ratu yang dibawakan oleh Maia dan Mulan Kwok. Tapi saya pribadi tak ada perlu dengan kabar bubarnya si pelantun lagu TTM dan Buaya Darat itu. Lain halnya dengan para pendekar infotainment, baginya gosip Ratu menjadi makanan empuk. Maka, jika benar Ratu jadi bubar, infotainment harus bertanggungjawab.
Sensor Baru untuk Para Blogger
UNTUK menyensor secara ketat dan lebih keras atas bejibunnya informasi melalui internet, pemerintahan garis keras Iran mensyaratkan pendaftaran semua website dan weblog dalam negeri pada 1 Maret. Kontan, hal ini menuai penolakan dari para blogger di Iran yang menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan berpendapat.
Sebuah komisi yang beranggotakan pejabat pemerintah, termasuk anggota intelejen, kehakiman, telekomunikasi, dan kementerian urusan kebudayaan dan Islam, akan menjadi penanggung jawab mengenai persetujuan konten website-website tersebut. Komisi ini bertugas menghalangi atau menyaring berbagai website dan weblog yang dianggap ilegal.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melarang dan menyaring ribuan website dan weblog tanpa penjelasan. Tapi, untuk kali pertama, undang-undang baru ini secara khusus berisi konten macam apa yang tidak diizinkan.
Para pendaftar website dan weblog juga harus menyertakan identitas pribadi mereka. Para pengelola yang mengabaikannya terkena risiko ditutup website dan weblog-nya, dipidana, dan jika kasus ini dibawa ke pengadilan, para terdakwa bisa dipenjara.
Sejumlah aktivis berencana menentang persyaratan-persyaratan baru tersebut. Farnaz Seify, seorang blogger-cum-feminis di Teheran, mengatakan, “Kebijakan baru pemerintah soal pemberlakuan regitrasi ini menunjukkan sikap penguasa yang makin jelas bahwa tidak seorang pun diizinkan mengkritik atau bahkan berdiskusi soal agama, kebijakan pemerintah, revolusi, Ayatollah, dan masalah-masalah sosial."
”Kebebasan berbicara tidak bisa dikekang dan dibatasi –tapi, pemerintah Iran telah merusak hak dasar manusia ini,” katanya. “Dengan undang-undang baru ini, pemerintah menistakan saya sekaligus kecerdasan saya. Saya tak akan mendaftarkan website pribadi saya. Saya tak butuh izin untuk menjalankan kebebasan berekspresi.”
Farnaz, yang blog-nya pernah disaring karena berisi kampanye feminis yang terang-terangan, menambahkan, “Saya tahu mereka akan menyensor saya lagi. Ini memperlihatkan kekuatan mereka namun bukan legitimasi mereka. Saya tidak akan menyetujui hukum yang anti-kemanusiaan ini dengan menaati hukum tersebut maupun menghormatinya.”
Hukum baru ini mewajibkan pendaftar weblog dan website untuk melengkapi nama, alamat, nomor telepon, calon pengunjung, perkiraan jumlah pembaca, dan informasi detil lainnya. Pelarangan yang komprehensif ditujukan pada konten yang berkaitan dengan beragam isu, dari kecaman terhadap tokoh-tokoh agama hingga masalah seks, dan juga konten yang menyerang Ayatollah Khomeini (pendiri Republik Islam), Ayatollah Khamenei (Pemimpin Tertinggi Iran), atau yang dianggap melecehkan hukum-hukum Islam.
Menteri Urusan Kebudayaan dan Islam, yang merancang hukum baru ini, mengatakan bahwa aturan ini dibuat untuk mendukung website-website legal dan menghilangkan yang “ilegal”.
“Hukum ini diharapkan akan membuat atmosfer internet menjadi bersih dan aman,” demikian pengumumannya.
Bagi banyak orang Iran, internet adalah satu-satunya arena publik tempat mereka bisa berbagi dan bertukar pikiran, perhatian, dan emosi tentang masalah seksualitas hingga masalah sosial. Juga berbagai isu yang diperdebatkan seperti hak-hak perempuan serta kecaman terhadap rezim saat ini dan kebijakan-kebijakannya. Setelah intenet menjadi ruang yang relatif aman untuk kebebasan berpendapat, para pengkritik hukum baru tersebut mengatakan bahwa syarat-syarat baru itu akan secara efektif mematikan pertahanan terakhir komunikasi ini.
Sejak 2002, pemerintah telah memberlakukan sistem pembatasan ketat, yang secara efektif melarang berbagai website dan weblog milik orang-orang Iran di dalam negeri. Negara mengontrol seluruh Penyedia Layanan Internet (Internet Service Providers), dan menjadikan Iran sebagai negara yang paling membatasi ruang internet setelah China.
Hukum baru ini tak hanya menjamin pemerintah mengontrol seluruh konten dari semua website yang dirilis di Iran. Kini penguasa juga bisa menyaring ribuan website dan weblog yang ditulis dalam bahasa Farsi di luar Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir –sejak hukum baru— banyak wartawan dan blogger ditangkap dan dipenjarakan. Arash Ashoriania, seorang photo-blogger dan pemenang lomba Reporters Without Borders Best of the Blogs yang diselenggarakan German Broadcaster Deutsche Welle pada 2006, mengatakan bahwa hukum ini mempengaruhi aktivitasnya sejak “blog saya disaring oleh penguasa tanpa alasan yang jelas. Dan saya tak merasa kehilangan dengan menolak mendaftarkan website saya.”
Blogger dan wartawan Iran terkenal lainnya, Hanif Mazruie, yang pernah ditahan dan dimasukkan di penjara yang terpencil selama lebih dari 90 hari pada 2004, meyakini peraturan baru ini hanya akan mempunyai efek jangka pendek.
”Orang-orang Iran secara terus-menerus bekerja dengan cara baru untuk melewati penyaringan tersebut. Kebijakan ini hanya akan membuat mereka makin getol dalam mengabaikan kewajiban dan mendapatkan informasi yang mereka inginkan,” kata Mazruie.
Kebanyakan website dan weblog politik yang mengkritik pemerintah telah diblokir. Dengan pemantauan yang meningkat, hal ini menyiapkan jalan bagi penindasan dan kontrol resmi terhadap internet.
”Blog-blog dan website-website politik adalah kelompok yang menjadi terget,” kata Mazruie. “Juga NGO dan organisasi hak asasi manusia, yang menggunakan internet sebagai sarana utama komunikasi, adalah kelompok utama yang akan dibatasi. Pemerintah ingin melarang, menghentikan, dan memperingatkan orang yang menulis tanpa nama (anonim).”
"Para pejabat intelejen yang menjadi kekuatan penyeimbang selama masa jabatan Presiden Khatami (1997-2005) sekarang menjadi bagian pemerintahan ini dan mereka bernafsu untuk melanjutkan tindakan tegas terhadap aktivis pengguna internet sejak Ahmadinejad berkuasa,” ujarnya. “Meski demikian, mereka tak berhasil.”
Wartawan sekaligus blogger Roozbeh Mirebrahimi mengatakan bahwa kebijakan registrasi juga menciderai konstitusi Iran. “Persetujuan dari kabinet tidak berarti keputusan pemerintah sah. Mereka harus melewati parlemen. Meski demikian, ini menunjukkan suasana konservatif di Iran yang dengan mudah menutup mata terhadap kebebasan berpendapat,” katanya.
“Semua pengalaman yang mereka punya termasuk mengancam, menangkap, dan mengintimidasi para aktivis pengguna internet dan wartawan,” tandas Mirebrahimi, yang pernah dipenjara karena tulisannya di internet pada 2004 dan telah dibebaskan dengan jaminan.
”Pemerintah hendak mengontrol wilayah maya dengan berbagai cara. Walaupun, tak mungkin untuk mengontrol internet untuk waktu lama. Teknologi dan orang yang bernafsu untuk mengembangkan pengetahuan akan menemukan satu cara untuk bergerak maju dan pemerintah hanya menghamburkan waktu dan biaya,” katanya.*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
10 January 2007
Resensi Blog Andreas Harsono: Nikah a la Indopahit
Ada yang unik di pernikahan Andreas Harsono di awal tahun 2007 ini. Blogger cum jurnalis senior yang pernah menerima beasiswa dari Universitas Harvard ini, merayakan pernikahannya dengan menerbitkan majalah Indopahit edisi pernikahan. "Indopahit" merupakan plesetan dari "Indonesia yang Pahit" atau "Indonesia Keturunan Majapahit".
Majalah berukuran 14.5 x 21 cm ini dikerjakan oleh beberapa rekan Andreas. Mulai dari naskah sampai desain. Mereka adalah para kolega di Pantau dan beberapa rekan dekat Andreas. Antara lain Linda Christanty, Indarwati Aminuddin, Esti Wahyuni, Coen Husain Pontoh. Mereka menulis tentang hubungan Andreas dan Sapariah, mempelai perempuan; dan juga masing-masing keluarga. Selain itu ada juga esai foto yang dikerjakan oleh Mohamad Iqbal dan puisi-puisi oleh Hasan Aspahani.
Indopahit dicetak 500 eksemplar, dibagikan kepada segenap undangan di Pontianak maupun Jakarta. Desainnya dikerjakan oleh Vera Rosana dari rumah desain H2O, sedang foto dikerjakan oleh Mohamad Iqbal.
Tomy Satriyatomo adalah salah satu yang menerima undangan ke pernikahan Andreas-Sapariah. Dalam blognya ia menulis, undangan itu unik dan tak ada duanya. Berbentuk buku tebal, berisi artikel-artikel yang dikerjakan secara serius. Gaya penulisannya mengingatkannya pada majalah Pantau yang khas dengan Jurnalisme Sastrawi. Perfect!, kata Tomy.
Buku yang diterima Tomy itu merupakan undangan ke resepsi pernikahan Andreas-Sapariah tanggal 21 Januari mendatang. Pesta pernikahan sebelumnya telah lebih dulu digelar di kediaman keluarga Sapariah di Pontianak pada Sabtu, 6 Januari 2006.
Dalam artikel berjudul "Mengapa Kami Menikah" yang ditulis oleh Andreas dan Sapariah, diceritakan dari awal mula kedua mempelai bertemu sampai dengan ketertarikan masing-masing. Singkat kata, keduanya merasa cocok.
"Cerita cinta yang sangat mengharukan. Ucapan selamat kepada Sapariah dan Andreas dari Sock Foon dan saya -- secara virtual," komentar John Macdougall dalam artikel itu.
Sementara dalam artikel lain berjudul "Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan" yang ditulis oleh Linda Christanty, dikisahkan hubungan Andreas dengan anaknya yang bernama Norman. Norman adalah anak Andreas dari hasil pernikahanya yang pertama. Dari cerita Linda, diketahui betapa Andreas sosok ayah yang begitu menyayangi anak. Sampai suatu kali ia cemas ketika Norman mulai berbohong.
Saya pribadi mengenal Andreas dan Norman. Dari beberapa kali pertemuan singkat dengan keduanya, Andreas memang sosok ayah yang penyayang, sementara Norman yang biasa menggunakan bahasa Inggris itu, anak yang cerdas. Andreas bilang, pola pikir Norman seperti anak Amerika. Suatu malam dalam SMS yang saya terima, Andreas mengatakan dirinya tengah cemas karena Norman sakit flu berat.
Begitu sayangnya kepada anak, pernikahan keduanya dengan gadis keturunan Madura itu atas pertimbangan anak semata wayangnya. "Saya melibatkan Norman dalam proses pengambilan keputusan memilih Sapariah, walau saya yang memutuskannya. Norman menganggap Sapariah temannya. Kalau kebetulan Sapariah lama tak muncul, dia tanya kenapa Sapariah tak datang?," tulisnya dalam artikel "Kenapa Kami Menikah".
Selain dua cerita di atas, masih ada "Cerita Mak Isah" oleh Muhlis Suhaeri, "Hoakiao dari Jember" oleh Andreas Harsono, "Keriangan, Keragaman" oleh Coen Husain Pontoh, "Jomblo, Jomblo, Bahagia" oleh Aseanty Widaningsih Pahlevi, "Surat dari Ende" oleh Esti Wahyuni, "Pernikahan" oleh Indarwati Aminuddin.
Dalam "Hokaio dari Jember" diceritakan secara detail sosok kecil bernama Ong Tjie Liang tinggal di Jember. Kelak, nama Liang oleh sengkek (ayah) diganti dengan nama Jawa. Andreas Harsono, inilah nama baru Liang. Keputusan ini diambil akibat pemerintah Orde Baru yang diskriminatif terhadap warga keturunan.
Yang menarik, dalam tulisan itu Andreas menceritakan dirinya sendiri dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Andreas seperti tengah menceritakan sosok lain. Pembaca juga baru diberitahu jika "Ong Tjie Liang" tokoh yang diceritakan dari awal itu tak lain adalah Andreas, si penulis sendiri.
Dalam beberapa kali kesempatan, Andreas mengkritik konsep nasionalisme yang ditanamkan oleh para pendahulu bangsa Indonesia. Akibat kesalahpahaman nasionalisme ini, "pembersihan etnis" (ethnic cleansing) terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan, tindakan itu dilakukan oleh pemerintah yang seharusnya mengayomi warganya.
Beberapa tahun belakangan ini Andreas melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia. Ia melakukan riset untuk bukunya tentang nasionalisme. Tahun 2007 ini Andreas berharap bukunya yang akan diberi judul "From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism" bisa diterbitkan.
"Sapariah dan saya mohon doa restu dari Anda semua. Kami sadar bahwa mengarungi laut kehidupan dalam satu bahtera rumah tangga bukan sesuatu yang mudah. Ia bukan saja menuntut kesetiaan, pekerjaan mencintai namun juga banyak hal lain, dari masalah prinsip hingga remeh temeh. Kami ingin pernikahan ini langgeng hingga maut memisahkan kami," tulis Andreas.
Selamat menempuh hidup baru. Semoga apa yang diinginkan mempelai berdua terkabul. Amien.
*Tulisan ini dipublikasikan di rubrik blog suaramerdeka.com
++++
Bloggernarsis@yahoogroups.com adalah forum diskusi blogger Jawa Tengah yang dibentuk oleh tim kreatif suaramerdeka.com. Kami mengundang anda bergabung, berdiskusi seputar blogger di Jawa Tengah secara khusus, dan dunia blog secara umum. Selain itu kami juga melayani untuk pelatihan blog dasar dan lanjut. Kunjungi blog.suaramerdeka.com
05 January 2007
Kesalihan Moral yang Terbelenggu
Belum lama ini sepasang siswa-siswi sebuah SMU ternama di Kendal, Jawa Tengah, membuat rekaman video mesum. Siapapun orangnya akan terkejut setelah mengetahui bahwa salah satu pelakunya adalah anak seorang guru.
Sebelumnya, seorang siswi sebuah SMU swasta di kota yang sama, meninggal dunia karena mengalami pendarahan setelah melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang tak lain teman satu sekolahnya. Kabar terbaru di awal tahun 2007 ini, seorang siswi SMU diperkosa oleh lima orang siswa rekannya di sebuah rumah kosong. Belakangan diketahui, salah satu pelakunya adalah pacar korban.
Kabar anak sekolah membuat video porno memang bukan hal baru. Bahkan, soal perkosa-memerkosa sudah mulai dilakukan oleh murid SD kelas V di Sidoarjo, Jawa Timur.
Tapi dari kejadian di Kendal itu, orang jadi berpikir: kalau di kota kecil semacam Kendal saja, yang orang mengenalnya sebagai daerah yang banyak memiliki pesantren, hal itu bisa terjadi, bagaimana dengan kota-kota besar lainnya. Kalau anak guru saja bisa berbuat seperti itu, bagaimana dengan anak-anak lainnya?
Ketika pulang ke kampung halaman saya di Kendal menjelang lebaran lalu, saya sempat mendengar cerita jika orang tua dari siswa yang pacarnya meninggal itu, shock berat. Ia tak percaya jika anak laki-lakinya yang dirumah rajin beribadah itu berani melakukan hubungan yang begitu jauh dengan pacarnya. Orang-orang di kampungnya pun demikian.
Dari cerita di atas kita bisa melihat betapa tidak berlakunya lagi kontrol sosial dan keluarga terhadap perilaku moral seorang anak. Lingkungan pesantren yang notabene dikenal ketat, ternyata tak mampu mengontrol perilaku anak ketika berada di komunitas lain. Pun keluarga yang dikenal religius, ternyata tak mencerminkan perilaku anak di luar rumah.
Dari cerita itu pula, kita akan menarik kesimpulan jika kesalehan atau kepatuhan moral seseorang berlaku pada ruang dan waktu tertentu. Situasi dan kondisilah yang menentukan perilaku kita. Karena sudah dikondisikan oleh orang tua, maka sang anak mau tak mau harus berperilaku sedemikian rupa ketika berada di rumah. Prinsipnya asal bapak senang!
Selain tak berfungsinya lagi kontrol sosial dan keluarga terhadap moral seorang anak, disadari atau tidak, setiap orang memerankan wajah ganda. Anda mungkin tak menyadari jika di depan muka anda yang tak tampak oleh cermin itu terlapisi oleh bermacam-macam topeng yang setiap helainya memerankan satu tokoh kehidupan. Hari ini menjadi tokoh baik, besok menjadi tokoh yang superjahat. Di sini anda menjadi pembaca yang baik, di lain tempat anda bisa saja menjadi pembrontak.
Wajah seorang anak yang manis ketika berada di rumah dan wajah bajingan ketika sedang berada di luar rumah. Wajah suami yang baik di depan istri dan wajah hidung belang ketika berada di jalan. Wajah seorang kyai ketika berada di depan jamaahnya dan wajah-wajah lainnya ketika tak lagi berada di mimbar-mimbar dakwah. Dalam hal ini manusia seperti bunglon yang setiap saat bisa berubah warna kulitnya menyesuaikan benda yang diinjaknya.
Kenapa satu orang bisa memerankan beberapa tokoh, ini diduga karena tuntutan. Bukan hanya tuntutan dari dirinya, tapi juga tuntutan dari lingkungan dan desakan sistem yang melingkupi kesehariannya. Si A di rumah dikenal keluarganya sebagai anak yang saleh, karena di rumah orang tua sudah mengkondisikannya sejak kecil. Di luar rumah, bebas saja dia tak lagi menjalankan ibadah, toh orang tua juga tak mengetahuinya.
Dalam dunia internet yang setiap orang bisa melakukan apa saja, termasuk "meledek" presiden seperti yang dilakukan oleh seorang blogger asal Yogyakarta pertengahan tahun 2006 lalu, tampak betapa naifnya manusia ketika diberi kesempatan menunjukkan wajah aslinya. Para penghujat, hacker, spammer maupun penyebar virus itu bukan sedang menjadi orang lain. Justru pada saat itulah mereka semua sedang menunjukkan jatidirinya.
Jika di dunia nyata ia tak bisa menjahili orang lain, di dunia maya itulah ia bisa melakukan apa saja yang ia suka, toh hukum yang mengatur cybercrime di Indonesia masih sangat lemah. Di dunia maya itu pula (maaf) orang bisa menyalurkan hasrat birahinya dengan menonton video porno dengan beragam variasi. Pada titik inilah sebenarnya dunia maya menemukan momentumnya menjelma menjadi dunia yang amat nyata, bukan dunia sehari-hari yang penuh kebohongan.
Pernahkah anda mengangankan menjadi orang lain di luar diri anda saat ini, tapi serba tak enak karena keadaan tak mengijinkan anda melakukannya. Andai saja untuk sejenak anda dibebaskan melakukan dan menjadi apa saja tanpa ada larangan peraturan, pranata sosial, agama, orang tua, guru, dosen, pacar, suami, anak, dan tetek bengek lainnya; apa yang anda inginkan, apakah anda ingin selingkuh, korupsi, merampok atau….?
Pengkhianatan moral oleh siswa sekolah(an) itu belakangan disponsori oleh generasi-generasi yang lebih tua. Sudah puluhan kasus pembuatan VCD porno oleh oknum mahasiswa dan belakangan yang lagi marak, dilakukan oleh oknum PNS dan anggota dewan. Orang tua dan anak ternyata sama saja. Like father, like son.
Dari sekian topeng yang melekat di wajah kita ini, kita sendirilah yang tahu seperti apa wajah kita yang sebenarnya. Apakah kita sudah menjadi diri kita sendiri, atau tengah berpura-pura. Muka bisa dipoles agar tampak manis, mulut bisa berkata tidak di muka pengadilan. Tapi hati, di mana kita menyimpan wajah yang asli, tak bisa berbohong.****
02 January 2007
Bang Ali: Menyembuhkan Penyakit dengan Setrika
Seminggu yang lalu Juminem (52) tak bisa berjalan. Kedua kakinya membesar, tak bisa dijejakkan ke tanah. Di bagian bawah kandung kemihnya terdapat benjolan yang cukup besar. Tapi kini ia sudah bisa berjalan sendiri. Benjolan diperutnya dirasakan mulai mengecil. Kedua kakinya kini juga sudah tampak normal.
Kegembiraan pun terpancar dari Tumini. Putri sulung Juminem itu bersyukur mendapati perubahan pada perut dan kaki ibunya yang sudah mengecil.
"Sebelumnya kedua kaki ibu ini besar. Oleh dokter disarankan ibu dioperasi. Tapi ketika kami bawa ke Semarang, pihak rumah sakit tak memberikan jaminan," ucapnya dalam bahasa Jawa, sambil mengusapi kaki ibunya dengan air.
Keluarga Juminem hampir saja putus asa sebelum akhirnya seorang saudara yang tinggal di Batang mengabarkan bahwa ada tabib di Ungaran yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Di bawalah Juminem dari tempat tinggalnya di Desa Susukan, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Boyolali ke kediaman Moh Ali Zabidi di Jalan Ki Sarino Mangunsarkoro, Cemungsari, Ungaran, Jawa Tengah.
Anda pasti terkejut setelah tahu Bang Ali, panggilan akrab tabib asal Tahunan, Jepara itu; menggunakan setrika listrik untuk terapi penyembuhan pasien. Dibalut dengan kain sejenis handuk yang tak begitu tebal, setrika yang mengeluarkan panas itu digosok-gosokkan ke tubuh pasien. Seperti yang tampak pada Jumat (29/12/2006) siang itu, ketika bang Ali sedang memberikan terapi kepada Juminem.
“Kesannya angker. Satrika kok dipakai untuk mengobati orang sakit. Tapi anda bisa tanyakan sendiri apa yang dirasakan,” ucap Bang Ali sambil melirik ke arah Juminem.
Juminem hanya tersenyum. “Apa ibu tidak kepanasan?,” tanya saya.
Ia menggelengkan kepala. “Tidak, mas,” jawabnya.
Digunakannya setrika sebagai medium terapi penyembuhan Bang Ali itu ternyata memiliki kisah unik. Sekitar tahun 1994 istri Bang Ali divonis menderita jantung. Di payudaranya terdapat benjolan. Oleh dokter disarankan agar Ny Ali segera dioperasi. Biaya yang dibutuhkan sekitar 17 juta. Ini jumlah yang cukup besar untuk ukuran masa itu ketika rupiah masih stabil belum terpukul oleh krisis moneter sekitar tahun 1997.
“Sepulang kerja, anak-anak menangis. Ibu mau dioperasi. Waktu itu istri sudah sekarat di kamar anak,” kenangnya.
Ia lalu keluar rumah. Dari balik kaca depan rumah itu ia melihat istrinya. “Dokter kurang ajar, kayak gitu aja nggak bisa,” bisiknya.
Tiba-tiba saja ia seperti mendapat bisikan. “Pakailah setrika itu”. Ia pun bergegas mengambil setrika yang biasa digunakan untuk menyetrika pakian itu untuk mengobati istrinya. “Saya tempelkan setrika dengan alam pikiran. Setelah istri sadar, saya yang jatuh kehabisan tenaga,” terangnya.
Kondisi kesehatan sang istri dirasakan berangsur membaik. Ia pun tak jadi dioperasi. Sejak itu Bang ali menggunakan setrika untuk mengobati penyakit. Tapi baru melayani keluarga dan saudara dekat.
Untuk mendalami ilmu pengobatan, Bang Ali belajar tenaga prana kepada seorang tabib asal China di daerah Tanah Mas, Semarang Utara. Setelah mendapatkan ilmu tambahan, kini bang Ali menggunakan empat sumber kehidupan sebagai terapi penyembuhan penyakit, yakni api (energi strika), air (Tirto Waluyo), angin (prana), dan tanah (rempah-rempah).
Air Tirto Waluyo yang diguanakan oleh Bang Ali bukan sembarang air. Air ini khusus diambil dari puncak Gunung Ratawu yang terletak di atas puncak Muria, Kudus, Jawa Tengah. Untuk rempah-rempah bahannya dibeli dari luar kota seperti Surakarta dan Yogyakarta. Bahan itu kemudian diramu sendiri oleh bang Ali.
Orang boleh skeptis dengan pengobatan alternatif. Tapi pasien yang datang ke Bang Ali ternyata juga berasal dari kalangan medis. “Nggak masuk akal gimana coba. Orang medis saja juga datang ke sini," katanya. Salah satu diantaranya adalah Kepala Bidan Jawa Tengah.
Yang unik, Bang Ali bisa membuat sketsa layaknya foto rongten kendati baru mendengar keluhan pasien dan sama sekali belum bertemu dengan pasein tersebut. Seperti yang yang ia tunjukkan kepada saya sketsa penyakit yang diderita oleh Juminem.
“Hasilnya sama seperti hasil rongten dari rumah sakit. Padahal saya juga belum pernah lihat hasil rongtennya,” ucapnya.
Nama Bang Ali kini sudah dikenal luas, apalagi setelah aktivitasnya diliput oleh beberapa stasiun televisi. Tiap hari orang berdatangan ke rumahnya untuk minta kesembuhan. Mulai dari penyakit kronis yang tak bisa disembuhkan oleh medis sampai pasien yang ingin menurunkan kolesterol agar bisa tampil lebih menarik.
“Seperti Nyonya Ali ini. Coba anda lihat foto itu. Dulu dia seperti itu, sekarang anda bisa lihat sendiri,” ucap Bang Ali sambil menunjuk foto di dinding di ruang tamu dan lalu melirik ke arah istrinya.
Benar memang, seperti yang saya lihat siang itu, Nyonya Ali tampil langsing seperti perempuan muda kendati usianya kini sudah pantas dipanggil nenek.
Orang pasti tak mengira jika tabib ini dulunya adalah seorang preman di Barutikung, sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kawasan preman di Semarang. Ia juga pernah menghuni sel Nusakambangan. Tapi kini ia telah beralih profesi, meninggalkan dunia hitamnya itu dengan sebuah tindakan yang mulia menjadi seorang tabib.
Kendati namanya sudah dikenal luas, Bang Ali tak memasang biaya yang melambung tinggi. Untuk sekali datang, pasien cukup merogoh kocek Rp 75 ribu. Jumlah sebesar itu memang belum termasuk ramu-ramuan. Tapi melihat kasiat pengobatan ini, harga itu tentunya tidaklah mahal. Bisa dipastikan lebih rendah dari biaya yang dibutuhkan jika pasien di bawa ke dokter ataupun dibawa ke rumah sakit. Bahkan untuk pasien yang benar-benar tak mampu, Bang Ali membebaskan biaya pengobatan.
Seperti Juminem, sudah dua kali ini ia belum membayar biaya terapi dan juga ramu-ramuan dari Bang Ali. Bang Ali pun tak minta, tapi dari kesadaran pasien sendiri.
“Urusan biaya, saya tak mau ikut campur. Nyonya Ali yang mengurusinya. Untuk memecahkan apa penyakit pasien itu saja saya perlu konsentrasi yang melelahkan,” katanya.
Untuk penyakit Juminem, Bang Ali mematok waktu satu bulan untuk terapi penyembuhan. "Satu bulan itu paling lama. Anda bisa melihat sendiri bagaimana perkembangan bu Juminem dalam seminggu ini. Saya katakan kepada keluarganya kurang dari satu bulan, penyakit bu Juminem akan sembuh. Kalau tidak, berarti obat saya nggak manjur," tegasnya.
Kendati telah banyak pasien yang berhasil sembuh, namun Bang Ali tidak sesumbar. Ia mengatakan, urusan nyawa dan umur yang menentukan adalah yang Maha Kuasa. Tapi selama masih diberikan kesempatan manusia bisa berusaha.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa obat yang paling mujarab sejatinya bukan darinya, melainkan dari pasien sendiri. Jadi kuncinya, ada keinginan yang kuat pada pasien untuk sembuh. Oleh karena itu, ketika pasein datang kepadanya, Bang Ali minta kepercayaan sepenuhnya dari pasien dan keluarganya agar bisa berkonsentrasi penuh.
*Tulisan ini dimuat di rubrik alternatif suaramerdeka.com.
01 January 2007
Saya, Hardy dan Tahun Baru 2007
Tahun Baru 2007! Entahlah, saya pribadi tak bersemangat menyambut tahun baru kali ini. Seakan tak rela meninggalkan tahun 2006. Bukan karena tahun ini banyak meninggalkan kesan, misalnya karena prestasi membanggakan yang telah saya dapatkan. Tapi karena masih banyaknya pekerjaan yang hingga akhir tahun ini belum terselesaikan.
Memasuki tahun baru 2007 ini, saya teringat puisi berjudul "The Darkling Thrush"yang ditulis oleh Thomas Hardy. Puisi yang ditulis oleh Hardy pada 31 Desember 1900 ini melukiskan kebimbangan dirinya dalam menyambut tahun baru. Dia membuka puisi itu dengan kalimat yang sangat menarik.
I leant upon a coppice gate: Saya bersandar diantara pintu. Kaki satu di luar dan kaki yang satunya di dalam. Pintu di sini diibaratkan sebagai gerbang menuju tahun baru. Bukannya melewati pintu itu dengan langkah semangat, tapi Hardy terkesan ogah-ogahan. Apakah ia harus memasuki tahun baru, sementara perasaannya masih berada di tahun lalu?
The Darkling Thrush
I leant upon a coppice gate
When Frost was spectre-grey,
And Winter's dregs made desolate
The weakening eye of day.
The tangled bine-stems scored the sky
Like strings of broken lyres,
And all mankind that haunted nigh
Had sought their household fires.
The land's sharp features seemed to be
The Century's corpse outleant,
His crypt the cloudy canopy,
The wind his death-lament.
The ancient pulse of germ and birth
Was shrunken hard and dry,
And every spirit upon earth
Seemed fervourless as I.
At once a voice arose among
The bleak twigs overhead
In a full-hearted evensong
Of joy illimited;
An agèd thrush, frail, gaunt, and small,
In blast-beruffled plume,
Had chosen thus to fling his soul
Upon the growing gloom.
So little cause for carolings
Of such ecstatic sound
Was written on terrestrial things
Afar or nigh around,
That I could think there trembled through
His happy good-night air
Some blessèd Hope, whereof he knew
And I was unaware.
