30 April 2007

Sang Maestro itu Telah Berpulang

Sekian lama hidup dalam pengucilan, Pramoedya akhirnya meraih kebesarannya.

MINGGU, 30 April 2006. Jakarta diguyur hujan. Sekitar pukul 14.30 WIB sebuah mobil ambulans tiba di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Ratusan orang telah berkerumun di sana. Mereka memanjatkan doa mengiringi penyemayaman jenazah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan cum budayawan besar abad ini.

Pram, panggilan almarhum , wafat diusia 81 tahun (2 Februari 1925 - 30 April 2006), meninggalkan 8 anak, 16 cucu, dan 2 cicit dan sang istri, Ny Maemunah. Kepergiannya tidak hanya menyisakan kepedihan bagi keluarga besarnya, tapi juga para pengagum karyanya yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini hingga ke seantero jagad.

Hadir dalam prosesi pemakaman itu, para sastrawan dan seniman, negarawan, dan tentu para pengagum karya Pram dari dalam negeri hingga luar negeri, sampai rivalnya sewaktu almarhum masih hidup. Diantaranya Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan.

Adalah barisan anak-anak muda yang melantunkan lagu “Internationale” dan “Darah Juang” bersamaan dengan dipanjatkannya doa-doa suci oleh para pelayat ketika jenazah almarhum disemayamkan ke liang lahat. Sebuah perpaduan sosialis-religius yang sangat harmonis. Para pemuda mengepalkan tangan ketika menyanyikan lagu yang sering dibawakan dalam demonstrasi mahasiswa itu. Rupanya mereka mengagumi Pram, karena dari tangannya telah lahir puluhan karya yang mampu membangkitkan heroisme kaum muda.


SAMPAI menjelang tutup usianya, Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sosok penulis yang produktif. Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan internasional. Ia juga sempat dicalonkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra. Yang lebih mengejutkan lagi, pemerintah RI dikabarkan akan memberikan penghargaan kepada sastrawan yang telah mendapatkan puluhan penghargaan dari luar negeri ini. Padahal semasa Pram hidup, pemerintah RI tak pernah memberikan penghargaan kepadanya. Menanggapi hal ini, Goenawan Mohamad berkomentar “Pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya."

Pram pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru Pram menjadi tahanan politik selama 14 tahun tanpa proses pengadilan.
Tak cukup itu, karyanya beberapa kali dibakar oleh Angkatan Darat sewaktu rezim Orde Baru berkuasa. Sebagian besar karyanya baru diterbitkan kembali setelah era reformasi. Dan ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan pecinta buku, khususnya para anak muda pecinta buku sastra.

Represi dari penguasa tak menyurutkan keinginan Pram untuk terus berkarya. Selama belasan tahun di Pulau Buru ia masih menulis. Segala cara ia lakukan agar tetap bisa menuangkan pikirannya. Ia menulis dengan alat seadanya. Bahkan untuk mendapatkan sebuah karbon, ia membelinya ke pelabuhan dengan cara menyelundup. Uangnya dia dapat dari hasil menjual ayam yang diperliharanya di Pulau Buru.

Dari Pulau Buru, justru lahir mahakarya yang melambungkan namanya. Semua pengagum Pram pasti tahu tokoh Minke dalam tetraloginya yang sangat fenomenal itu, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Karya-karyanya ini berhasil diselundupkan ke luar negeri dan diterbitkan. Dari Buru pula lahir Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang merupakan kumpulan surat Pram untuk anak-anaknya yang ia tulis selama di penjara. Karyanya yang lain, diantaranya Bukan Pasar Malam, Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan Gadis Pantai yang jilid kedua dan ketiganya tidak diterbitkan karena naskahnya dirampas oleh pemerintah Orde Baru.

Penindasan yang dilakukan penguasa Orde Baru kepada Pram tak sebatas pada naskah-naskah yang dia tulis, tapi juga kekerasan fisik. Tanggal 13 Oktober 1965, Pram ditangkap di rumahnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ia disiksa, dipukul dengan popor laras panjang, hingga membuat pendengarannya terganggu. Rumahnya kemudian disita oleh pemerintah Orde Baru. Bahkan sampai akhir hayatnya status kepemilikan rumahnya di Rawamangun itu belum ia dapatkan kembali.

“Saya kehilangan apa saja. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu,” tuturnya dalam wawancara dengan wartawan Majalah Playboy, dalam edisi perdananya yang terbit awal April 2006 lalu.
Perlakuan pemerintahan Orde Baru itu menyisakan kebencian yang mendalam pada diri Pram. Sampai sekarang ia tak percaya lagi pada pemerintahan, kendati orde baru telah lengser. Selepas Soekarno ia tak percaya lagi pada pemerintahan Indonesia. Lantas pemerintahan seperti apa yang bisa membuatnya percaya?

“Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin,” tutur Pram dengan wartawan Playboy, yang merupakan wawancara terakhirnya dengan media.

Tak hanya pemerintah, Pram juga tak percaya dengan orang-orang yang pernah terlibat perseteruan dengannya. Sikapnya ini dikritik oleh Sirikit Syah, Ketua Lembaga Konsumen Media, yang juga banyak menulis fiksi. Pram dinilai hanya mengingat orang-orang yang pernah menyakitinya, tapi ia sendiri tak mau mengingat bahwa dirinya juga pernah melakukan hal serupa. Ia mengecam para seniman dan sastrawan non-Lekra. Terutama mereka yang menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Salah seorang penandatangan Manifes kebudayaan, Goenawan Mohamad dalam pengantar bukunya "Seks, Sastra dan Kita" menyatakan bahwa perlakuan yang diterima oleh Pram semasa pemerintahan Orde Baru belum seberapa jika dibanding perlakuan Pram dan koleganya di Lekra kepada para sastrawan non-Lekra. GM memberikan contoh kecil sikap tidak terpuji yang dilakukan oleh sastrawan Lekra. Mereka menjuluki sastrawan Manifes Kebudayaan dengan "Manikebu". Menurut GM, julukan yang pada mulanya dipopulerkan oleh sastrawan Lekrea itu sebenarnya digunakan untuk mengejek. "Manikebu" berasal dari Mani+Kebu/o.

Bagi penyair Malin Kundang itu, kreativitas Pram adalah kreativitas polemik. Agaknya inilah yang kemudian tidak hanya melambungkan karyanya, tapi juga pribadinya. Pribadi Pram menjadi sorotan media-media internasional.

Budi Darma menyebut Pram sebagai orang yang sangat peka pada realitas sosial dan kemanusiaan. Ini sudah tampak lewat novelnya, Midah si Manis Bergigi Emas, yang terbit pada 1950-an. Begitu juga pada kumpulan cerpen Cerita-Cerita dari Blora yang juga terbit pada kurun itu. "Tetapi, isinya masih cerita kemanusiaan biasa," ujar mantan rektor IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) itu.

Sikap anti penindasan Pram semakin terasa saat dia aktif di Lekra. "Tetapi, waktu itu tulisannya lebih banyak slogan-slogan sehingga kurang mempertimbangkan estetika," ujar Budi Darma.


KARYA PRAM banyak merekam isu sejarah. Buku terakhir yang diterbitkan adalah Jalan Raya Pos, Jalan Deandels (2005), sebuah novel yang bercerita tentang penderitaan rakyat Indonesia semasa penjajahan Belanda. Ribuan orang harus melakukan kerja rodi untuk membuat Jalan Raya Pos dari Anyer menuju Penarukan sepanjang 1000 kilometer.

Tema-tema karya Pram mengingatkan orang pada Max Havelaar-nya Multatuli—satu sastrawan besar yang dikaguminya di samping John Steinbeck. Tema-tema itu dipetik sebagian besar dari dunia sekelilingnya yang nyata, atau dari tokoh-tokoh nyata hasil riset sejarahnya. Misalnya, Tjerita dari Blora, yang berpusar pada masa kecilnya.

Sewaktu masih hidup, rokok merupakan teman karibnya. Ia bisa menghabiskan 32 batang dalam sehari. Maka sebelum ketika sakit pun, ia masih sempat meminta rokok. Satu hal yang unik menjelang kepergiannya ini, Pram gemar membakar sampah. Sampah-sampah di halaman rumahnya di Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur, tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya, sampai sampah di halaman tetangga ia kumpulkan kemudian dibakar. Selain bakar-bakar sampah, Pram juga membakar baju-baju lamanya.

Semalam sebelum meninggal, ia masih bertanya "Apakah masih ada sampah yang belum dibakar?" Pertanyaan ini berkali-kali ia lontarkan ketika dirinya tengah berjuang melawan ganasnya maut. Malam itu beberapa kali ia tak sadarkan diri.

Mengenai hobi bakar-bakar sampah itu ternyata tidak baru belakangan ia lakukan. Sejak masih mendekam di Buru, ia biasa melakukan hal itu. Jika kita membaca Nyanyi Seorang Bisu, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara Pram mengisi waktu. Membakar sampah menjadi cara Pram melawan waktu, sekaligus bentuk resitensinya melawan penindasan rezim Orde Baru.

Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah, tapi juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi, bukan dikubur. Tapi permintaan ini tak dikabulkan oleh keluarganya. “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya,” adalah erangan terakhirnya sebelum dirinya meninggal.

Sungguh kukuh Pram mempertahankan prinsipnya, sampai ingin mati pun, ia ingin mati dengan caranya sendiri. Entah apakah ia akan menolak ketika mengetahui bahwa jenazahnya dimakamamkan secara islami, ditaburi ayat-ayat suci, sesuatu yang tak dipercayainya sewaktu masih hidup. Para pelayat itu mungkin tak tahu pasti apakah Pram muslim atau bukan. Semasa hidup, Pram pernah mengatakan bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. Agama, menurutnya, sering digunakan sebagai alat penindasan.

Sehari sebelum meninggal, Sabtu (29/4), Pram minta pulang ke rumahnya di Utan Kayu ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit St Carolus, Jakarta. Ia masuk UGD RS St Carolus pada 27 April karena kondisi kesehatannya memburuk.

Saat itu telah beredar kabar di beberapa milis, Pram telah meninggal dunia. Ada yang kemudian menyampaikan bela-sungkawanya. Ternyata kabar itu hanya gosip. Saya mengeceknya sendiri menelpon ke kediamannya Pram. Seorang lelaki mengatakan Pram masih hidup. Ia membenarkan bila Pram malam itu telah dibawa pulang ke rumahnya di Utan Kayu.
Paginya, sekitar pukul 09.30, saya mendapat kabar Pram telah tiada. Kali ini bukan gosip lagi. Pram meninggal dunia Minggu (30/4) pukul 09.02 WIB.


MASA LALU Pram yang pernah terlibat di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI, membuat sebagian orang bersikap sinis pada dirinya. Ketika masih di Lekra, Pram terlibat perseteruan dengan sastrawan dan seniman yang tak sepakat dengan pandangan sastra realisme sosialismenya.

Dalam tulisan-tulisannya di rubrik kebudayaan harian PKI Bintang Timur, Pram mengecam keras para sastrawan Manikebu (Manifes Kebudayaan) dan juga tokoh Masyumi seperti Hamka dan tokoh Partai Sosialis Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana.

Pram juga dituduh telah membakar karya-karya para rivalnya itu. Tapi dalam wawancara dengan Tempo (4/5/1999), ia membantahnya “Omong kosong. Kalau saya bakar dokumentasi orang lain, kan gila. Jika saya mau, saya bawa pulang.”

Atas perlakuan Pram cs terhadap sastrawan non-Lekra itu, Mochtar Loebis mengancam akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah ia terima, jika sampai Pram menerima penghargaan serupa.

Merenggangnya hubungan Pram dengan HB Jassin akibat penandatanganan Jassin pada Manikebu. Selain itu, Jassin menurutnya telah membiarkan atas pembantaian masyarakat Tionghoa dan juga pembantaian jutaan orang yang dituduh PKI. “Jadi bagaimana prinsipnya tentang humanisme?,” tanya Pram. “Karena itu, ketika dia sakit, no. Saya tidak mau tahu,” tambahnya. Sebelum peristiwa itu, Pram menganggap Jassin sebagai gurunya yang telah mengajarkan tentang humanisme universal.

Bagi Pram, pengikut Manikebu adalah penghianat Sukarno. Mereka telah menyerahkan bangsa Indonesia kepada bangsa Barat. Mereka telah berkonspirasi dengan Amerika.

Pram membantah tuduhan bahwa dirinya pengikut PKI. "Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri, tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial," kata Pram sebagaimana dikutip dalam buku "Saya Terbakar Amarah Sendiri" karya Andre Vltchek dan Rossie Indira.

Terbitnya buku Pramoedya Ananta Toer: Realisme Sosial, yang diluncurkan pada 31 Desember 2003 di Universitas Islam Jakarta itu menjawab "Ideologi" Pram yang memihak orang-orang tertindas.

Bagi Pram bersastra tak lepas dari kegiatan politik. Setiap orang berpolitik. Baginya keindahan sastra terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusiaan: pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Kegigihannya dalam mempertahankan prinsip ini mengundang simpati dari para kaum muda dan kalangan luas. Pram tiba-tiba saja menjadi “maestro” bagi para generasi muda. Pram menjadi sosok yang dikagumi, sosok idola bagi anak muda.

Terbukti dengan bermunculannya komunitas-komunitas pecinta karya Pram. Sebut saja Institut Pramoedya di Bandung. Para anggotanya adalah mahasiswa sampai remaja SMU-SMP. Dari obrolan di kampus sampai di kafe-kafe “gaul”. Saban Sabtu para anak muda berkumpul di Kafe MInke, di Jalan Dago, Bandung. Mereka tidak berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan musik ataupun kencan, tapi untuk mendiskusikan karya-karya Pram dalam suasana santai sambil minum kopi atau teh.

Benar, Pram telah merebut hati para anak muda, yang jauh berjarak berpuluh-puluh tahun darinya. Orang yang mungkin tak pernah menggugat masa lalunya, seperti yang dilakukan oleh orang semasanya.

Pram ingin anak muda di negeri ini menulis karya-karya yang tidak bicara soal selangkangan atau persoalan remeh-temeh lainnya. Melainkan karya sastra yang bisa membangkitkan nilai-nilai humanisme.

Pram sebenarnya masih ingin hidup setahun lagi. Tapi siapapun tak bisa menolak ketika ajal menjemput. Kini ia terbaring sepi di pemakaman yang sama dengan si Binatang Jalang, Chairil Anwar. Dua insan yang tak mau menyerah kecuali dengan dirinya sendiri.

Satu pekerjaan Pram yang belum terselesaikan adalah rencana menyusun Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia, yang baru tergarap sebagian. Bahan-bahannya telah dikumpulkan, tertumpuk setinggi 3 meter.

Menutup tulisan ini saya kutip puisi Joko Pinurbo yang disampaikan kepada teman-temannya setelah Pram meninggal dunia: selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....****


[catatan: Tulisan ini sebelumnya pernah saya muat di blog ini. Hari ini, 30 April 2007 bertepatan dengan tanggal meninggalnya Pram, 30 April 2006. Tulisan ini saya muat lagi untuk mengenangnya.]

Selengkapnya......

29 April 2007

Penyair Senantiasa Muda

SUATU ketika Aulia A Muhammad mengirim sepenggal puisi ke blog (situs internet pribadi-Red) seorang penyair lumayan ternama. Kepadanya dia meminta komentar atau penilaian atas puisi itu. Tak seberapa lama, sang penyair pun memberi jawaban. Puisi kiriman Aulia dikritik habis, dikatakan jelek dan belum mencapai kedalaman makna.

Rupa-rupanya, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews itu tengah iseng. Puisi yang dia kirim bukan miliknya melainkan karya Goenawan Muhammad. Setelah hal itu diutarakan, sang penyair kaget bukan kepalang. Dia buru-buru meminta maaf dan berharap proses dialog mereka dilupakan.

Aulia mengisahkan pengalaman tersebut dalam diskusi "Mengukir Dunia dengan Sastra, Membaca Geliat Penyair Muda" di Ruang E 103 Fakultas Sastra Undip, Sabtu (28/4).

Dengan kisah itu, dia hendak mengatakan bahwa tafsir seseorang terhadap puisi amat dipengaruhi oleh praduga. Orang kerap terbayangi oleh merek dan nama.

Nilai puisi seolah linear dengan popularitas penciptanya. Labelisasi penyair semacam itu menyesatkan cara pandang seseorang terhadap puisi. Semestinya, kata dia, puisi harus disikapi dari teks semata.

Dalam diskusi yang dipandu Muhammad Sulhanudin itu, Aulia melakukan uji coba serupa. Dia cantumkan penggalan puisi dari beberapa penyair dan meminta hadirin memberi penilaian.

Seperti Aulia, An Ismanto juga menolak polaritas tua-muda dalam sastra berbasis usia. Parameter tua muda semestinya dilihat dari teks yang dihasilkannya.


Regenerasi

Penyair asal Yogyakarta itu lantas mencontohkan Iman Budi Santosa. Meski usianya tak lagi muda, teks-teks Iman mempunyai semangat dan daya hidup luar biasa.

"Itulah penyair muda sebenar-benarnya. Polemik soal penyair muda dan penyair tua tidak signifikan bagi puisi karena setiap penyair pada hakikatnya senantiasa muda," kata Ismanto.

Diskusi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Undip dalam rangka "Peringatan Chairil Anwar 2007" itu memang menyoal seputar generasi dalam kesusastraan Indonesia. Adin, pegiat Komunitas Sastra Hysteria, memapar contoh kegagalan regenerasi kepenyairan di Semarang. Menurutnya, setelah S Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo, kota ini tak lagi melahirkan penyair baru yang berkualitas setara.

Kondisi itu, kata Adin, terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya matinya tradisi komunitas, ketiadaan pamomong, kemandulan dewan kesenian, dan ketidakberpihakan media massa.

Untuk memunculkan kembali Semarang dalam peta kesusastraan Indonesia, para penyair muda harus berdaya upaya melakukan ikhtiar swadaya.

Sementara Ridho Al Qodri, aktivis Buletin Sastra Pawon Surakarta, membedah kecenderungan puisi penyair muda. Menurutnya, puisi-puisi mereka masih berupa penggambaran subjektivitas individual.


[catatan: tulisan ini adalah liputan hasil diskusi "Membaca Geliat Penyair Muda" yang ditulis oleh Rukardi, wartawan Suara Merdeka. Saya menulis laporan yang lebih detil yang akan dimuat di blog ini, menyusul.....]

Selengkapnya......

21 April 2007

Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota

Dunia kepenyairan di negeri ini tampaknya jauh lebih dinamis bila dibanding dengan perkembangan dalam dunia prosa. Kenyataan ini bisa kita temukan dalam media-media lokal maupun nasional yang memuat puisi dalam edisi . Di sana kita akan menemukan beberapa nama baru, nama-nama yang tidak itu-itu saja. Tak tanggung-tanggung, penyair yang secara usia masih bisa dibilang belia, karyanya bisa nampang di media.

Pemunculan nama-nama penyair baru di media massa tersebut, diantaranya mereka yang masih berusa muda, memang belum seberapa bila dibanding dengan karya yang dimuat dalam media-media buletin atau selebaran yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas pecinta sastra. Media semacam ini sekarang sudah cukup banyak jumlahnya seiring dengan merebaknya komunitas-komunitas pecinta sastra yang digawangi oleh para penyar muda. Bisa diduga, bermunculannya karya para penyair muda itu karena tersedianya ruang yang lebih luas, yang disediakan oleh media komunitas. Fasilitas kemudahan memuatkan karya ini di satu pihak menguntungkan para para penyair muda, karena mereka tak harus bersaing dengan puluhan bahkan ratusan pengirim naskah untuk dapat memuatkan karyanya di media massa.

Dari uraian singkat di atas, secara kuantitas, geliat penyair muda dalam berkarya sudah cukup menggembirakan. Bagaimana dengan kualitas karya mereka, apakah sebanding dengan bermunculannya penyair-penyair baru yang diantaranya diorbitkan lewat media-media komunitas?

Sudah menjadi olok-olok sejak periode sebelumnya jika para penyair muda kerap kali hanya mampu meniru karya-karya para senior mereka. Pemunculan karya mereka belum mampu menciptakan karya dengan bentuk yang baru, tapi baru sebatas tiruan-tiruan secara bahasa, namun ketika karya itu didekati akan menunjukkan kedangkalannya. Sosiawan Leak menyebut karya mereka masih menampakkan kseragaman, alias berkarakter lemah. Bahkan karya-karya mereka masih dihantui sejarah sastra dengan nuansa-nuansa Sapardi Djoko Darmono dan Afrizal Malna. Benarkah demikian?

Jawaban atas segala dugaan-kecurigaan itu akan dikupas dalam diskusi puisi bertajuk “Membaca Geliat Penyair Muda Tiga Kota” yang akan digelar di Fakultas Sastra Undip pada 28 April 2007. Acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) ini dalam rangka memperingati Hari Chairil Anwar yang hingga saat ini masih menjadi simbol bagi kelahiran para penyair muda.

Diskusi akan menghadirkan penyair muda asal Yogyakarta An Ismanto yang akan menyampaikan proses kreatifnya. Dua pembicara lain, Ahmad Ridho dari Kabut Institute Surakarta dan Adin dari Hysteria Semarang akan memaparkan gerakan-gerakan sastra yang digalang oleh para anak muda. Sementara itu, Aulia Muhammad akan mengupas karya-karya para penyair muda itu secara kualitas dari kacamata pemerhati puisi.


Kontak Panitia
Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) UNDIP
PKM Fakultas Sastra Undip
Jalan Hayam Wuruk 4 Semarang
CP: 081675443300 (Habib)

Selengkapnya......

Negara Islam yang Meresahkan

Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester IV di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak seorang temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, salah satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada pameran komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.

Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih yang secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka terlibat perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. Salah satunya adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman Ratih itu kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan seorang teman dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali mengikuti seminar tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah orang yang dimaksud.

"Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol sebentar. Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini dilewatkan," kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.

Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan menyampaikan pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa tempat di tanah air hingga ke luar negeri.

"Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" Wawan membuka diskusi.

Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat muslim. Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai muslim yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya yakni dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan jihad menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.

Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, seperti orang yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al Qur'an berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung argumentasinya.

Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. Berjihad secara total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita cintai untuk berjuang di jalan Allah.

"Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan Alloh," tanya Wawan.

"Tiga juta," jawab salah seorang.
"Tujuh juta," jawab lainnya.

Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar itu.

"Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku sebagai umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di jalan Alloh," tanya Wawan lagi.

"Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah radio," jawab Ema dengan lugu.

Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio bukan barang yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan Ema, nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" tanya Wawan lagi.

Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang paling disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia berat untuk melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.

"Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
"Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia yang membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," jawabnya memberi alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone itu, entah untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.

"Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus segera," jawab Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat disayangi.

Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah seorang mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan digunakan untuk keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang dari 15 menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, sudah beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.

"Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda untuk hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema akan dibersihkan diri. Hmm....

"Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya perlu persiapan," kata Ema.

Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat maka harus dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran hijrah ini katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke Jakarta. Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun kereta api Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka memesan tiket kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang dimaksud sudah habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. Artrinya mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.

Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk menghubungi pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya dengan nada marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak lama kemudian sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema diajaknya pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu kabur entah kemana.

****
Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?

Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran.

"Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema.
"Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.

Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?

Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air. Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.

"Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.

Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.

Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang tertulis di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.

****
Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?

Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar belakang pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan ternyata tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari mereka membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.

Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di Jakarta ( (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".

Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.

Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?

Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos pria.

Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?

Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?

Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!

Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.

Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia cuma sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa baru.

Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.

Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah.

"Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap. Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.

Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya, sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini. Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin saja!

Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di sini. ****


Catatan:
1. tulisan ini diposting oleh salah seorang member di milis sastra undip.
2 Beberapa nama (Ema, Fani, Ratih, Fatima) adalah bukan nama sebenarnya. Penggunaan nama samaran ini sengaja ditulis demi keamanan narasumber yang masih berstatus mahasiswa. Selain juga akan adanya intimidasi dari anggota NKA/NII karena telah membocorkan rahasia.
3 Penulis menggunakan istilah "korban" bagi mereka yang diajak bergabung dengan NKA atau NII atas pertimbangan ajaran yang tidak masuk akal yang diajarkan oleh organisasi itu, yang menurut saya menyesatkan.
4 Gambar ilustrasi pendukung diambil dari http://www.allthingsbeautiful.com/yang diberi caption "Jihad Barbie".

Link-link seputar NII:
- http://nii-alzaytun.blogspot.com
- http://www.webgaul.com/forum/showthread.php?t=51370
- http://niikw9.blogs.friendster.com/
- http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2000/01/1970.html?pesantren%20alzaytun
- http://www.fti-uii.org/index.php?option=com_content&task=view&id=191&Itemid=215
- http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/08/02/brk,20050802-64681,id.html
- http://www.eramuslim.com/ust/dll/44d6f709.htm
- http://bangsari.blogspot.com/2007/02/lagi-lagi-nii.html
- http://dirgaa.com/apps/EmailMengenaiNII.txt
- http://walausetitik.blogspot.com/2006/08/az-zaitun-aliran-sesat.html?pesantren%20alzaytun
-
http://kaskus.us/showpost.php?p=13675007&postcount=78
- http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=279363
- http://swaramuslim.net/more.php?id=5498_0_1_0_M

Selengkapnya......

17 April 2007

Lagi, Soal Reposisi dan Manajemen Pers Mahasiswa

Lima tahun lalu, saya bergabung dengan pers mahasiswa (persma). Dunia baru yang pada mulanya sangat awam dalam kehidupan saya, seorang lulusan sekolah menengah kejuruan yang kemudian memilih studi ilmu kesusasteraan di bangku perkuliahan. Namun dalam masa yang terbilang singkat itu, setidaknya untuk ukuran kematangan sebuah proses seorang yang bergelut dalam dunia pers, saya menemukan kenikmatan. Saya rela mencurahkan waktu yang lebih di komunitas ini disela-sela waktu studi saya di kampus yang singkat.

Lima tahun berproses, saya dihadapkan pada wacana soal reposisi persma: menjadi media komunitas kampus atau –seperti era sebelumnya—menjadi media pengontrol kekuasaan, baik di dalam kampus maupun keluar kampus (media alternatif). Dalam kategori yang pertama, persma cukup menjadi media sambung-rasa antar sivitas akademika, selain juga sebagai tempat mahasiswa belajar dunia tulis-menulis dan pers (laboratorium jurnalistik). Pada kategori kedua, persma dituntut untuk keluar dari komunitas, tak hanya mengcover isu-isu kampus, tapi juga mengamati kehidupan di masyarakat, isu politik yang lagi aktual baik dalam skala nasional maupun global, dan isu-isu lain yang terkait dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat kecil.

Lalu, ke mana persma sekarang harus menempatkan diri?

Dalam acara Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang diadakan di Semarang pada 5-7 April di Kampus I IAIN Walisongo Semarang, dilontarkan beberapa wacana soal reposisi pers mahasiswa. Mohamad Arman, perwakilan persma dari Sulawesi yang juga menjabat sebagai Sekjen PPMI, mengemukakan perlunya payung hukum bagi persma. Menurutnya, UU Pers yang ada di Indonesia saat ini (UU tentang Pers: UU No. 40/1999), tidak secara eksplisit mencantumkan pers mahasiswa sebagai bagian dari lembaga pers di Indonesia. Dari informasi salah seorang teman yang mengikuti kegiatan itu secara keseluruhan, suatu malam dibahas rencana aksi turun kejalan. Aksi ini sebagai tindaklanjut dari rangkaian diskusi dan seminar-seminar yang telah digelar sejak hari pertama. Tapi diskusi yang berlanjut hingga larut pagi itu tidak mencapai titik temu. Selain konsep yang tidak jelas, sebagain perwakilan dari persma mempertanyakan esensi dari aksi turun ke jelan tersebut.

Dari sepenggal cerita di atas, saya melihat beberapa teman yang bergiat di persma ingin diakui eksistensinya. Saya pribadi menganggap "tidak perlu" dengan usulan adanya payung hukum secara khusus yang di dalamnya mencantumkan persma dalam penjabaran UU tentang pers. Terlebih lagi dengan rencana aksi turun ke jalan, jika kedua usulan itu ditujukan untuk mengharapkan pengakuan dari publik terhadap eksistensi persma. Alasannya sederhana, meski secara eksplisit persma tidak disebutkan dalam UU per situ, tapi persma termasuk lembaga pers yang sudah tercakup di dalamnya. Jangankan persma, tulisan diblog yang dikerjakan dengan metode kerja jurnalistik secara benar, sudah memliki kedudukan yang sama dengan pers pada umumnya. Jika tulisan itu dipersoalkan, misalnya oleh oknum atau lembaga yang tidak senang terhadap muatan tulisan, maka di pengadilan penulis atau jurnalis (dan siapapun bisa menjadi jurnalis, tidak harus wartawan yang bekerja untuk media mainstream) bisa memakai payung hukum pers di pengadilan.

Saya punya cerita. Persma yang saya ikuti pernah digugat dalam salah satu edisi yang memuat soal korupsi di koperasi mahasiswa Undip pada tahun 2002. Media kami diancam somasi oleh salah seorang yang namanya tercantum sebagi debitur bermasalah. Setelah somasi itu tidak digubris, yang bersangkutan menuntut kami ke pengadilan. Jujur, waktu itu beberapa awak kru redaksi, para senior saya, sempat tegang. Kami menghubungi beberapa teman persma dan lembaga-lembaga terkait untuk dimintai bantuan, atau sekedar solidaritas. Kabar kami ini akhirnya didengar oleh teman-teman dari Aliansi Jurnalis Independen dan mereka bersedia memberikan advokasi. Berita acara dan persiapan ke pengadilan sudah disiapkan. Ternyata, surat dari pengadilan tak kunjung datang!

Saya tak sepakat karena yang diharapkan oleh teman-teman persma itu adalah bentuk pengakuan. Pentingkah? Bagi saya wacana ini muncul karena ketidakpercayaandiri para pegiat persma yang saya duga masih terbebani oleh segala macam warisan kejayaan para pendahulunya. Apakah persma sekarang harus sama seperti persma di masa Orde Baru, di mana persma menjadi media gerakan bawah tanah melawan rezim pemerintahan, apakah aktivis persma harus bersama-sama berada di tengah massa demonstran di depan gedung dewan?

Hal itu juga menurut hemat saya, kenapa PPMI hingga hari ini belum mendapatkan pengakuan secara luas dari persma di seluruh Indonesia. Secara gergrafis, anggota PPMI kebanyakan berasal dari kampus-kampus yang berada di Indonesia bagian timur. Organisasi induk persma yang resmi ini (setidaknya melihat dari sejarah terbentuknya yang digalang oleh perwakilan aktivis persma di Indonesia yang kemudian ditetapkan dalam sebuah Kongres pertama di Yogyakarta pada September 1993) dalam gerakannya masih ditempatkan sebagai gerakan politik. Saya kira tidak semua pegiat persma sepakat jika organisasinya ditarik dalam arus wacana politik, khususnya wacana politik di luar kampus, sebagai pengawal agenda kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat kecil. Sebagian persma lebih memlih isu-isu lokal yang lebih bersinggungan langsung dengan komunitas pembacanya di lingkungan kampus. Beberapa diantaranya malah lebih menyorot gaya hidup mahasiswa, yang secara ideologi jauh dari wacana politik praktis. Kondisi ini harus dipahami karena iklim kehidupan kampus sekarang sudah tak seperti di era Orde Baru. Saya menyebut gerakan ini sebagai gerakan persma kembali ke kampus. Persma menjadi media komunitas.

Apakah ada yang salah jika persma menjadi media komunitas?

Apapun pilihan persma, apakah ingin menjadi media komunitas yang mewadahi isu seputar kampus, atau tetap menjadi media alternative yang mengcover isu di luar kampus, bagi saya keduanya tak ada masalah. Tinggal siapa sasaran pembaca yang dituju, dan kemudian bagaimana cara mengemasnya. Keduanya tetap akan punya pembaca, baik pembaca di lingkungan kampus, maupun pembaca di luar. Saya sepakat dengan FX Sugiyanto, salah satu pembicara dalam Seminar Peran Media dalam Mengawal Ekonomi Kerakyatan, yang mengusulkan agar persma menyorot isu-isu aktual sesuai disiplin ilmunya masing-masing. Persma yang anggotanya dari fakultas Hukum bisa menyorot masalah kebobrokan hukum dari kacamata akademis, begitu juga yang ada di fakultas Ekonomi, Fisip, Sastra, dan lain-lainnya.

Anggapan bahwa peran persma sekarang tergeser oleh media umum memang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya tepat. Masih banyak isu yang bisa digarap oleh persma mengingat terbatasnya space yang disediakan oleh media umum (saya sebut sebagi media komersil). Ini berbeda dengan persma, yang secara pengelolaannya relatif lebih lentur. Sebagai gambaran, di media persma bebas memuat tulisan apapun dan sepanjang-panjangnya, toh pegiat persma sendiri yang menentukannya. Di sini persma bisa menyajikan informasi secara tuntas, secara kritis dengan angle yang belum tersentuh oleh media komersil.

Persoalannya, jika di media komersil itu kebijakan redaksi juga terikat dengan kebijakan manajemen secara umum, termasuk juga pemegang saham, maka sebagian besar persma pun hampir sama. Mereka berada di bawah manajemen dekanat maupun rektorat, dan tak jarang dalam prakteknya para birokrat kampus itu turut campur tangan dalam menentukan kebijakan redaksi karena mereka merasa telah mengucurkan dana. Kedua, ketika persma tetap ingin menjadi media alternatif, yang secara cakupan lebih luas, apakah secara SDM persma sudah siap. Apakah awak persma sudah dibekali pengetahuan dan kemampuan jurnalistik yang memadai? Dan ternyata, alih-alih persoalan mendalami ilmu jurnalisme, persma saat ini lebih dihadapkan pada masalah kaderisasi.

Jalan keluarnya, pertama, jika persma tetap ingin menjadi media alternatif yang independen, persma harus melepaskan aliran dana dari pihak rektorat ataupun dekanat. Cara ini barangkali bisa mengurangi campur tangan para birokrat kampus. Dengan mencari dana sendiri, maka persma bisa lebih leluasa, meski secara struktural masih berada di bawah lembaga birokrasi kampus. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan menggalan dana penerbitan dari mahasiswa, yangsecara langsung dikelola oleh persma atau lembaga mahasiswa, bukan oleh kampus. Pertanyaanya, siapkah persma?

Kedua, soal SDM persma, yang diduga baik secara kuantitas dan kualitas mengalami penurunan. Kondisi ini akan menghambat kinerja persma, entah ingin menjadi media komunitas maupun media alternatif. Bagaimana tidak, kita belum bicara masalah kualitas, tapi SDM sendiri masih lemah. Barangkali ada satu-dua anggota yang matang, tapi apakah yang bersangkutan akan seterusnya menjadi anggota persma, sementara studi di kampus dibatasi, maksimal 14 semester bagi mahasiswa Strata I. Ini masalah klasik, setidaknya beberapa kurun waktu belakangan ini, kaderisasi adalah persoalan yang melilit kinerja persma. Sebagai jalan keluar, para pegiat persma harus bisa memetakan kebutuhan yang lebih mendesak, tentu saja sesuai kemampuan awak kru yang ada. Setahap demi setahap, dengan pembenahan sistem kaderisasi, mungkin (tidak pasti lo), akan bisa mengurai persoalan teknis ini.

Kembali persoalan reposisi persma, posisi apapun yang diambil oleh media, termasuk persma adalah sah hukumnya. Media apapun, termasuk juga persma, selama dikerjakan dengan metode kerja jurnalistik secara benar, maka hasil karyanya disebut karya jurnalistik. Oleh karenanya, siapapun yang mengerjakannya berhak mendapatkan lindungan dibawah UU Pers. Jadi wartawan mahasiswa, pede aja lagi…


*ingin diskusi seputar jurnalisme, pers mahasiswa dan media secara umum, gabung saja di milis jurnalisme-sastrawi@yahoogroups.com.

Selengkapnya......

12 April 2007

Nafsu Terakhir: Teror Syahwat dan Kearifan Tasawuf Jawa

Judul : Nafsu Terakhir
Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
Cetakan : Kedua, 2007
Tebal : 190 halaman

Ini adalah jilid ke sembilan dari kedua belas jilid Serat Centini yang sangat mashur itu. Hampir seluruh isinya bercerita tentang syahwat. Tapi ia terselamatkan oleh keluhuran tembang yang sarat muatan ajaran tauhid dan tasawuf. Ia mengajarkan nilai-nilai luhur kearifan jawa yang bijaksana. Meski kerap kali tak teralakkan dibawa ke kubangan nafsu syahwati yang liar, mewarnai pengembaraan Amongraga yang suci untuk mencapai kehadiranNya.

Nafsu Terakhir diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Centini disusun atas perintah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat untuk menyusun kembali sebuah cerita kuno dalam bentuk tembang yang menyarikan segala ngelmu Jawa. Tembang ini disusun dalam bahasa Jawa, dengan syair yang luar biasa indah. Syair yang mahadahsyat itu diberinama Suluk Tembangraras, tapi orang lebih mengenalnya dengan nama Serat Centini. Untuk melaksanakan misi ini, diutuslah tiga pujangga keraton: Sastranegara (Yasadipura II atau Ranggawarsita I), Ranggasutrasna dan Sastradipura.

Ranggasutrasna diberi tugas menjelajahi Jawa bagian Timur untuk mengecek keadaan dan menghimpun pengetahuan. Sastradipura mendapat tugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama islam. Sedang Sastranegara mendapat tugas menjelajahi Jawa Barat sekaligus menghimpun pengetahuan lahir bathin.

Ranggasutrasna yang pulang terlebih dulu, segara memulai pekerjaannya. Hasil karyanya menjadi 4 jilid, berisi 321 buah lagu, menceritakan sejarah Giri hingga keruntuhannya dan tiga orang putra Giri dalam satu jilid. Namun karya Ranggasutrasna ini belum memuaskan keinginan Sang Pangeran karena bagian seksualnya masih kurang menonjol. Begitupula setalah kedua rekannya, Sastradipura dan Satranegara merampungkan bagiannya. Sang Pangeran masih belum juga puas. Bagian senggamanya masih kurang greget. Maka dikerjakanlah sendiri oleh Sang Pangeran dari jilid 5-10, kemudian penulisannya diserahkan kepada ketiga pujangga keraton itu (Wayan Susetya, 2007:109-110).

Dalam buku ini dikisahkan Tembangraras meratapi kepergian suaminya, Amongraga. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar. Ia tak mau berkomunikasi dengan siapapun, termasuk abdi setianya, Centini, yang memahami setiap bahasa isyarat Tuan Putrinya. Ayahanda dan ibunda Tembangraras cemas tak karuan. Dibujuklah sang putri agar melupakan kesedihan. Tapi tetap saja tak meruntuhkan nestapanya. Hingga akhirnya ayahanda mengutus adiknya Kalawirya untuk mencari sang menantu. Bersama kedua adik Tembangraras, Jayengwesti dan Jayengraga, Kalawirya dan Nuripin pagi buta berangkat mengembara menyusuri hutan meninggalkan padepokan Wannamarta.

Ditengah pengembaraannya, berulangkali mereka dihadapkan pada godaan-godaan yang menjerumuskan mereka menuntaskan nafsu syahwatnya. Adegan seks dilukiskan begitu vulgar. Mulai pertemuanya dengan seorang janda kaya yang menjamu mereka hingga mabuk kemudian mencicipi satu-persatu zakar Nuripin, Kalawirya, dan kedua keponakannya. Di perjalanan lain kadang mereka menuntaskan syahwatnya dengan memasukkan alat kelaminnya ke dubur teman prianya. Dipersinggahan lain, mereka tiba di kediaman seorang peladang bernama Ki Nurbayin. Katiga putrinya yang buruk rupa diam-diam sudah lama memendam keinginan untuk mencoba zakar seorang pria. Beberapa kali mereka melihat Ayah dan ibu tirinya berhubungan intim dari balik tirai kamarnya. Maka begitu dirumahnya kedatangan tamu para pria, mereka bergerombol mengikuti ke tempat tidur para tamunya.

"Apa menurut kalian Jayengraga mau ditunggangi jika kita dekati," tanya Banem, sisulung kepada kedua adiknya, Banikem dan Baniyah.

Sesuai kesepakatan, sisulung diberi kehormatan mencoba zakar Jayengraga untuk yang pertama. Dalam kegelapan Banem memeluk Jayengraga. Adik Tembangraras itu pura-pura terkejut. Padahal ia sudah mendengar percakapan ketiga bersaudara itu. Dalam hati ia sebenarnya tak ingin menyerahkan alat kelaminnya menjadi percobaan para perempuan buruk rupa itu. Tapi karena tak ingin melukai hatinya, Jayengraga membiarkan saja ketika Banem naik di atas pahanya. Jayengraga dibuat geli karena Banem tak tahu bagaimana memulai permainan. Maka dibimbinglah ia oleh Jayengraga untuk memasukkan zakar yang sudah mulai mengeras itu ke vaginanya yang masih perawan. Usai Banem, Banikem dan Baniyah menggilir Jayengraga bergantian, hingga akhirnya subuh tiba dan Jayengraga segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat subuh.

Adegan seks itu kendati dilukisakan begitu vulgar, tapi juga jenaka. Karya sastra ini memang hendak menampilkan seks secara polos, jujur, sebagai nafsu lahiriah yang lumrah terjadi pada manusia. Para pria itu beberapa kali tak mampu mengelak dari nafsu syahwati, tapi usai itu mereka tetap tak lupa menunaikan kewajiban sholat lima waktunya!

****

"Sayangku, jika kamu berkenan, mari kita kembali ke dunia makhluk dan rajanya," tutur Amongraga kepada Tembangraras, istrinya.

Amongraga baru saja tersadar dari pengembaraannya yang panjang. Dia telah menelantarkan Tembangraras, si cantik jelita putri kiai pesantren Ki Panurta, yang baru dinikahinya. Istri yang baru disetubuhinya setelah melewati empat puluh hari lamanya memberikan wejangan tentang ajaran tasawuf Jawa. Itu pun cuma dua hari. Kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari kedua adik kandungnya. Tapi malah terhanyut dalam kenikmatan pertapaan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Ia lupa ada hal lain yang harus dia kerjakan selain melakukan jihad besar itu.

"Oh pangeran Giri! kamu telah membimbing jihad besarmu sedemikian jauhnya sehingga kamu alpa menjalankan jihad kecilmu," ujar Endrasena, pengembara yang ditemuinya di tengah pengembaraannya.

Syekh Amongraga, sebelumnya bernama Jayengresmi. Ia putra mahkota Sunan Giri. Ia mengembara mencari dua adiknya, Jayengsari dan Rencangkapti. Kerajaan Giri baru saja diserang Sultan Agung, raja tanah Jawa karena penguasa Giri tak mau bersujud kepadanya. Kerajaan Giri hancur dalam kobaran api. Ayahanda, sang Khalifatullah ditangkap dan dibawa ke Mataram sebagai tahanan perang Sultan Agung.

Usai penyerangan itu, Jayengresmi mencari kedua adiknya yang hendak diajaknya lari dari kejaran pasukan Sultan Agung. Tapi ia tak menemukannya. Hatinya hancur. Ia pergi meninggalkan Giri tanpa seorang pun tahu, ia sendiri tak tahu ke mana hendak dituju dalam pengembaraannya. Ia mengikuti petunjuk Allah yang mengarahkannya berkelana masuk Suluk.
Dikisahkan Jayengsari dan Rencangkepti tak terpisah. Mereka juga mencari kakaknya di reruntuhan Giri. Tapi pencarian mereka sia-sia. Merekapun mengembara jauh, menghilang dari kejaran pasukan Mataram di bawah komando Pangeran Pekik.

Dalam pengembaraannya, Jayengresmi sudah berubah nama menjadi Amongraga. Ia tiba di pondok Wanamarta dan di sana ia menikahi Tembangraras, putri Ki Bayi Panurta, Kiai pesantren di sana.

Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubungan badan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawa kepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangan tubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat serta batin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari balik tirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanya bersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangraras untuk mengembara mencari kedua adiknya.

****

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongraga dihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuan pengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itu diduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar ini segara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokan tak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuat Tembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini, Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencari belahan jiwanya.

Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki. Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan mereka menjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia tak habis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santri pengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barang berhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benar terjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untuk mengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagian tubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Dia menyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannya keduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdi setia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah para pria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.

Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang Tuan Putri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudah lemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki selonjor. Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi tak digubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini ke cakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lain adalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka. Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongraga bersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cuma pingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknya yang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang ada dihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangraras memperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.

Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid ke sembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asal Cina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegang menemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.

"Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?"
"San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untuk mendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamu belum bisa lepas dari dirimu sendiri!"

Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yang memenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Di antara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, dia mengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinya terlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.

"Jihad yang mana?" tanya Amongraga.
"Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di enjara Mataram," jawab Endrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benar menghilang dari pandangannya.

Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma, panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencari kedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan oleh raja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasa takut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allah ketimbang melayaninya.

"Badai telah menduduki tahta para raja,
Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua.
Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin."

Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat. Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap dan berbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan Sultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. Ulat yang betina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahi sepupunya.

Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadi raja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnya tak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untuk menjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yang dicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh para pejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.

Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkan serangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukan ajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan di Tegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: "Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”

****

Serat Centini, sama halnya dengan Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan umat muslim di nusantara. Selain dituduh mengumbar seksualitas secara vulgar, mereka juga dituduh menghina ajaran Islam. Pelecehan terhadap ajaran Islam itu dialamatkan terhadap Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco. Kedua karya ini sempat dilarang beredar pada masa pemerintahan Orde Baru. Kedua karya ini melukiskan potret “kaum abangan” yang awam terhadap Islam dan “kaum santri” yang terlalu mendewakan syariat.

Kaum santri, dalam Suluk Gatholoco karya pujangga dan ulama besar jawa Ranggawarsita, digambarkan begitu mudah terpancing emosinya ketika menghadapi orang abangan macam Gatholoco (dalam bahasa jawa artinya asal ngomong, asal njeplak). Ini adalah gambaran kaum santri yang sebenarnya dalam penguasaan ilmu agama masih dangkal, sehingga mereka begitu mudah memberikan cap “kafir” kepada orang lain. Berbeda dengan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam dengan begitu lenturnya, bahkan bisa sambil bercanda, seperti ketika dirinya mengajak Prabu Brawijaya V masuk Islam. Sunan Kalijaga menjelaskan tentang islam, shalat dan makrifat layaknya pasangan yang sedang bersenggama.

Dalam konteks kekinian, karya-karya sastra besar Jawa itu bisa ditengok kembali untuk dijadikan sebagai refleksi perkembangan agama Islam di Indonesia dewasa ini. Bermunculannya gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal, yang menghalalkan segala cara belakangan ini sudah tercerabut dari ajaran-ajaran tasawuf Jawa yang arif dan bijaksana. Islam di Jawa dan nusantara pada umumnya, adalah agama yang secara historis berpijak dari akar budaya lokal yang sarat dengan laku dan budi pekerti luhur.

Mencermati perkembangan dunia kesusasteraan kontemporer di negeri ini, tampaknya mengalami kemunduran yang terlampau jauh. Terutama dalam hal kebebasan berekspresi. Dunia sastra kita sampai dengan hari ini masih sibuk mengkotak-kotakkan diri ke dalam kubu-kubu: sastra seks, sastra islami atau sastra moralis dan amoral. Masyarakat pembaca dan juga sastrawan terjebak dalam penafsiran-penafsiran dangkal atas suatu teks. Mengukur nilai-nilai sebuah karya sastra dengan ukuran moralitas yang semu.

Pertanyaanya, jika memang moral masih mau dijadikan sebagai ukuran baik-buruknya sebuah karya sastra, apakah dengan mengumbar seksualitas maka karya-karya sastra Jawa yang sudah tersohor hingga ke belahan penjuru dunia itu, dapat dikatakan tidak ber"moral"? Tidakkah mereka mengajarkan nilai-nilai budipekerti yang luhur? Wallohu alam bisyhowab….

Selengkapnya......

10 April 2007

Mimi lan Mintuna: Sebuah Harapan Perempuan Kelas Dua

Judul : Mimi Lan Mintuna
Penulis : Remy Sylado
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Maret 2007
Tebal : iv + 292 halaman

“Dasar laki-laki! Mereka menyukai tubuh yang mulus, mengabaikan hati yang tulus. Mereka cuma memandang perempuan dari sudut manfaat, bukan martabat. Mereka, melulu berpikir tentang nikmat wanita, ketimbang hikmat perempuan. Mereka bukan memberdayakan tapi memperdayakan,” gerutu Indayati saat tangan Thanh-Dam dengan tak sabar membuka kancing-kancing blusnya.

Indayati adalah tokoh utama dalam novel “Mimi lan Mintuna” karya Remy Sylado. Novel terbarunya ini terdiri atas 37 sekuen yang disusun secara progresif. Setiap peristiwa dikisahkan secara jalin-menjalin, di mana peristiwa pertama diikuti oleh peristiwa-peristiwa selanjutnya yang saling berkaitan.

Diawali kisah kehidupan keluarga Indayati di Gunungpati, Ungaran. Sang suami, Petrus, tak lagi memiliki pekerjaan. Ia telah di-PHK dari perusahaan milik Korea di sekitar Ungaran. Semenjak itu Petruk—panggilan ejekan kepada Petrus dari tetangganya- mulai suka mabuk-mabukan dan ringan tangan terhadap istrinya. Suatu hari Indayati memutuskan meninggalkan rumah dan suaminya. Dalam kegamangan ia melangkah menggendong anak semata wayangnya tanpa bekal apapun, kecuali baju dan anting yang melekat di telinganya.

Rumah paman, adik dari ibunya, di Karangayu, Semarang dipilihnya sebagi tempat mengadu. Suatu kebetulan keluarga pamannya itu masih berada di Semarang. Sebab hari berikutnya mereka akan pindah ke Manado. Sudah setahun pamannya itu bekerja di perusahaan tambang milik Amerika di Minahasa dan kini datang untuk mengajak istri dan anak tunggalnya tinggal bersama di sana.

Indayati diajak serta ke Manado tinggal bersama keluarga Bambang Sunaryo. Mulanya hidup Indayati berjalan mulus. Sehari-hari ia membantu pekerjaan rumah dan mengantar-jemput anak buleknya dari sekolah. Namun ia mulai jenuh, selain juga tak enak hati jika harus terus-terusan menumpang di rumah paman-bibinya itu tanpa memiliki pekerjaan. Ia teringat, dulu sewaktu masih di Semarang ia sempat menjadi pegawai apotek di perusahaan farmasi sebelum akhirnya dilarang oleh sang suami. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa melamar pekerjaan. Semua surat-surat berharga ia tinggal di rumahnya di Semarang.

Suatu kali ia tergiur oleh iming-iming menjadi artis ibu kota. Tak hanya Indayati, banyak penduduk setempat yang akhirnya termakan tipudaya komplotan mafia “penjual manusia” itu. Indaryati bersama Kalyana, sepupunya dibawa ke Bangkok. Di sana mereka dijadikan budak pelayan nafsu para lelaki hidung belang.

Sampai di sini, tokoh Indayati mengingatkan kita kepada Firdaus, tokoh dalam novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi. Keduanya adalah perempuan lugu yang kemudian menjadi pelacur oleh karena kediktatoran kaum laki-laki dan sistem patriarki yang menomorduakan kaum perempuan. Mungkin kita akan berkata, andai saja Indayati tak mendapat perlakuan kekerasan dari suaminya, andai saja suaminya bisa menghargai hak-haknya, maka Indayati tak akan sampai terjerumus ke lembah dunia pelacuran.

Sementara itu, Petruk semakin terbenam dalam ketidakwarasan setelah ditinggal pergi istri dan anaknya. Tiap hari ia berulah. Ia terus memalak warga setempat, meminta uang secara paksa. Sudah lama warga memendam kebencian kepadanya. Mereka bersepakat untuk menghajarnya. Seorang warga bernama Sutejo bahkan telah menyiapkan pembunuh bayaran. Tiga juta rupiah ongkos untuk menghabisi nyawa si tukang palak itu. Pembunuh bayaran itu berhasil melepaskan peluru kearah dada Petruk. Bersama pembunuh bayaran itu, Tejo membuang jasad Petruk di Kali Babon.

Berakhirkah riwayat Petruk? Tidak. Petruk masih hidup. Ia seperti mendapat mukjizat. Sesadarnya dari koma, dirinya menyadari akan kesalahan-kesalahan yang selama ini diperbuatnya. Ia insyaf dan bertekad untuk menjemput Indayati dan meminta maaf kepada istrinya yang malang itu.

Bulik Ning mengirim surat pembaca ke sebuah media massa nasional yang isinya mencari informasi keberadaan anak dan ponakannya yang telah meninggalkan rumah tanpa kabar berita. Siti Anastasia Melati Sulistyoningrum Suhendro Hendro, seorang polwan yang cantik, cendekia, karateka ban hitam, juara tembak Perbakin dan memiliki kecepatan dalam berpikir, tertarik membaca surat pembaca yang dikirim oleh istri Bambang Sunaryo itu. Iapun mulai melakukan penyelidikan untuk mengungkap tabir kejahatan yang terselubung.

Kejahatan terselubung itu digawangi oleh beberapa orang. Ng Seng Jung, Sean PV, Kiki dan Bunda (seorang wadam). Sean PV adalah aktor antagonis dalam novel ini. Ia memiliki musuh bebuyutan bernama Raj, seorang pesaing dalam kejahatan trafficking. Keduanya saling beradu kekuatan , saling bunuh untuk menunjukkan kekuasaan masing-masing.

Novel yang menggunakan penggambaran tokoh-tokohnya secara analitis dan dramatis ini berakhir melodramatik. Siti Anastasia Melati Sulistyoningrum Suhendro Hendro, tokoh protagonis yang digambarkan seorang wanita hero berhasil mengungkap tabir kejahatan Sean PV dan rekan-rekannya kecuali Raj dengan bantuan pihak kepolisian Bangkok. Lewat tangannyalah Indayati dapat bersama kembali dengan suaminya. Mewujudkan harapan menjadi Mimi lan Mintuna.

Dalam penceritaannya, Remy pandai menggunakan teknik suspense, menahan keterangan-keterangan lain yang sebenarnya ingin segera diketahui oleh pembaca. Rasa penasaran ini akan membimbing pembaca untuk tidak berhenti membaca pada suatu sekuen dalam novel ini. Pembaca akan mengikuti cerita hingga purna.

Seperti biasanya, Remy tetaplah mbeling. Pemlesetan adagium dan pemunculan pemeo akan membuat pembaca tersenyum dan terbahak atau bahkan merenung. Contohnya pemeo berikut ini, “Agaknya menepuk-nepuk bahu dan punggung itu bukan cara sayang bapak kepada anak, tapi kiranya sayang seorang bapak-bapak kepada seseorang yang bisa bikin anak baginya”.

Novel ini memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perkembangan bahasa Indonesia. Ia menawarkan penulisan majemuk dalam bentuk gabung sebagaimana bentuk sebuah kata dan penggunaan kata sandang. Banyak pula disuguhkan kata-kata yang tak lazim digunakan oleh orang kebanyakan namun kata itu ada dalam bahasa Indonesia.

Dalam novel ini, Remy menggunakan point of view orang kedua tetapi terkadang Remy tampak kurang konsekuen. Kemungkinan, kekurangkonsekuenan ini timbul akibat ketidakjelian dalam penggunaan kata “ini” dan “itu”. Hal ini kadang sepele, tapi kehadirannya yang kurang tepat bisa mengganggu pembaca.

Namun terlepas dari sedikit kekurangan itu, tema yang diusung Remy cukup menarik dan relevan dengan kondisi kekinian. Remy mampu mengkolaborasikan tema tradisional dengan isu aktual.

Melalui novel ini, Remy mengkritik keberadaan perempuan dalam masyarakat tradisional yang harus patuh pada aturan suami. Membangun rumah tangga hendaknya dilandasi rasa kasih sayang dan saling menghargai. Suami dan istri dalam rumah tangga memiliki kedudukan yang sama. Tak perempuan kelas dua, tak ada monopoli kekuasaan salah satu pihak. Seperti dalam pepatah Jawa kaya mimi lan mintuno, seperti sepasang ikan mimi dan mintuna, yang artinya selalu rukun dengan landasan kasih sayang.

Selengkapnya......

Muhidin M Dahlan: Pertemuan dengan Tuan Rushdie di (blog) Neraka

Siapa perempuan pertama yang diciptakan tuhan sebagai pasangan Adam? Hawa? Bukan! Maia nama perempuan itu. Ia adalah perempuan pertama sebelum Hawa di Taman Eden. Ia perempuan yang cantik, molek, padat dan menggairahkan. Adam yang kalap termakan birahi akhirnya memerkosa Maia. Maia berontak, ia tak ingin takluk di bawah kekuasaan Adam. Ia ingin gaya bersetubuh perempuan di atas.

Gila, liar, begitulah sosok Muhidin M Dahlan, penulis novel “Adam dan Hawa” (2005). Dalam novel ini penulis mengisahkan awal penciptaan manusia dalam versi lain, yang tak pernah diceritakan di kitab suci manapun. Awal kejadian manusia itu dibangun dengan imajinasi yang nakal, mengusik dan tentu saja akan membuat berang sebagian orang. Bagaimana tidak, masak Adam diciptakan dari ketiak tuhan sebelah kanan!

Benar saja, tak lama setelah novel itu diterbitkan, penulis dihadiahi somasi oleh Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Muhidin dituduh telah meneror tuhan, menghina nabi muhammad, dan oleh karenanya dia harus minta maaf. Segenap sumpah serapah juga telah jauh hari dialamatkan kepadanya, ketika novelnya “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” (TIAMP) diterbitkan pada tahun 2003. Novel ini merupakan seri pertama dari trilogi “Adam dan Hawa” dan “Kabar Buruk dari Langit”.

TIAMP berkisah seorang muslim taat, berjilbab, yang hendak menjadi pelacur oleh karena kekecewaannya kepada tuhan. Terlebih setelah kehormatannya direnggut justru oleh ketua sebuah organisasi islam yang diharapkan akan memberinya pencerahan. Sedang “Kabar Buruk dari Langit” membongkar sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia yang penuh intrik dan melibatkan pertumpahan darah antara golongan pemeluk islam syariat dan hakikat (penganut faham Wahdatul Wujud, manunggaling kawulo gusti).

Dalam sebuah diskusi bedah buku TIAMP di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuduh Muhidin sebagai seorang marxis dengan kebencian kepada tuhan yang luar biasa. Muhidin disebutnya sebagai “Nabi Kegelapan” bahkan disumpahi masuk neraka dan murtad.

Siapakah Muhidin M Dahlan, benarkah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu?

Muhidin adalah seorang pendatang asal Sulawesi yang kini tinggal di kota pelajar Yogyakarta. Ia sempat kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Teknik Pembangunan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun keduanya tak diselesaikan. Ia hanya mencicipi kuliah sampai semester tiga di UIN Sunan Kalijaga. Oleh rekan di kampusnya ia biasa disapa Gus Muh. Alumni Sekolah Teknik Mesin (STM) ini sebelumnya sangat awam dengan dunia sastra. Ia juga seorang muslim taat.

“Saya itu aktivis islam baik-baik. Dulu saya ingin sekali mendirikan negara islam. Tapi terbentur oleh wacana pluralisme Cak Nur dan 'komplotannya'. Jadilah saya urung niat. Saya pernah di PII, PMII, dan HMI MPO. Saya dapatkan di sana adalah perbenturan wacana keislaman yang plural: dari fundamentalisme ke sekularisme religius; dari kanan ke kiri. Dari wacana khilafah sampai sosialisme religius...” akunya.

Indrian Koto, penyair muda yang kini menjadi rekan karib Muhidin, menceritakan ihwal perkenalannya di blog dengan penulis yang memberikan kata pengantar dalam beberapa karya Pramoedya Ananta Toer itu. Waktu itu Koto masih duduk di semester awal di UIN. Sama seperti Muhidin, ia juga seorang pendatang di Jogja. Ia awam dengan kota ini. Kali pertama ia mengenal Muhidin dari sebuah foto close-up hitam-putih yang dipajang mendampingi esainya yang dimuat di sebuah majalah kampus.

“Masa orang kayak begini diributkan? Tampangnya biasa aja tuh,” pikirnya.

Selanjutnya, Koto diperkenalkan sosok Muhidin melalui sebuah cerpen Phutut EA yang salah satu tokohnya diduga Muhidin. Dalam cerpen itu diceritakan Muhidin diminta kawannya untuk meminum bir. Dia meminumnya sambil memejamkan mata. Tak urung, aksinya itu menuai ledekan dari teman-temannya.

“Kau bayangkan, dia terpaksa minum bir. Hanya bir, dan dia harus menelan bagai obat. Ah, bukankah orang ini menulis banyak soal selangkang, kenapa dengan minuman saja takut,” tulis Koto.

Begitulah Muhidin. Sosok yang terkesan liar itu, dalam kesehariannya ternyata tak se-"seram" dan se-"liar" seperti yang ditangkap oleh para pembaca dari beberapa karyanya yang kontroversial itu. Malah penolakan-penolakan atas karyanya di lain pihak justru melambungkan namanya. Novelnya TIAMP, per Maret 2007 telah dicetak ulang hingga 12 kali.

Tapi tak mudah Muhidin mencapai kesuksesannya ini. Ia harus melewati masa-masa sulit ketika novelnya itu menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Ia harus bolak-balik Jogja-Jakarta. Ia menyiapkan tanggapan sejumlah kritik yang menyudutkannya. Bahkan, anda bisa membayangkan, betapa tegang dirinya, ketika dalam forum diskusi sebagian massa emosional, dan berteriak ingin membunuhnya!

“Menceritakan sisi lain dari dunia islam ini kan nggak mesti yang baik-baik saja, mentang-mentang dunia agama. Nah saya membidik dunia itu. Yang ngamuk-ngamuk itu, karena mereka tutup mata bahwa ada sisi lain dari jalan dakwah ini, ada negative film dari dunia yang seolah-olah 100 % suci dan benar ini,” terangnya.

Ide menulis Gus Muh datang dari mana saja. Novelnya TIAMP, seperti yang diakuinya, merupakan kisah nyata. Ini merupakan hasil wawancaranya dengan seorang teman yang aktif di organisasi pergerakan kampus, yang suatu kali ingin menjadi pelacur. Oleh karenanya novel ini dapat dirampungkannya dalam waktu yang relatif singkat. Satu minggu mentranskip hasil wawancara, seminggunya lagi menulis.

“Adam dan Hawa” lain lagi. Dia duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga dia menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, dia melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Yang melelahkan adalah “Kabar Buruk dari Langit”. Penggarapan novel ini memakan waktu yang cukup lama jika dibanding dua novel sebelumnya. Tak hanya itu, ia harus mendaki Merapi. Untuk apa? Menulis!

“Nyaris tiap hari selama 10 bulanan menulis novel gemuk Kabar Buruk dari Langit. Tiap hari naik. Sendirian pakai tenda. Sesekali nginep. Tapi lebih banyak tidaknya. Kalau sudah nyaris tenggelam matari, baru turun. Ini penting karena butuh konsentrasi penuh. Novel ini tentang kesunyian,” kenangnya.

Kisah kontroversial Muhidin rupanya mengikuti jejak pendahulunya, Salman Rushdie. Penulis novel “Satanic Verses” (1988) ini sempat menghebohkan dunia islam. Dikisahkan, Jibril Farishta, salah seorang tokoh dalam novel itu, dalam sebuah mimpinya melihat tiga peristiwa penting berkait dengan Kenabian Muhammad dan Sejarah Arabiah, Keratuan Aisyah, dan Revolusi Khomeini. Dia menemukan malaikat Jibril dan Muhammad bergumul dalam ketelanjangan, berguling-guling di atas pasir putih dengan penuh nafsu. Karena keluguannya, Muhammad tidak tahu bahwa yang barusan bersamanya adalah setan yang menyamar. Dan telah membisikinya wahyu yang kemudian disebut Ayat-ayat Setan. Dan ayat-ayat ini yang didakwahkan Muhammad kepada umatnya.

“Keberanian (dan juga rasa nekad!) saya mengumpul dalam menuliskan sebagian manuskrip Kabar Buruk dari Langit dan Adam Hawa kala itu, tatkala bersamaan dengan usainya saya ‘ngaji’ kitab Tn Rushdie yang konon ‘berbahaya’ itu, The Satanic Verses,” tulisnya dalam blognya, akubuku.blogspot.com.

akubuku.blogspot.com disebutnya sebagai blog neraka. Berisi sehimpun ulasan atau komentar atas apa yang pernah ditulisnya dalam beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini bukan hadir sebagai pembelaan atas karya-karyanya, tapi juga, di lain pihak dimuat ulasan-ulasan yang justru menyudutkannya. Baginya kritik harus dibalas dengan kritik, buku harus dijawab dengan buku. Tidak asal main tuduh apalagi dengan cara kekerasan.

“Ini bukan surga. Di sini, perkelahian selalu berlaku. Maka bertahanlah secara kreatif. Jangan merunduk. Kalaupun merunduk, janganlah terlalu terbenam. Kalaupun terbenam, janganlah terlalu lama...” pesannya kepada pembaca

Selengkapnya......

09 April 2007

Roti Pelangi: Waktunya Bersantai Sejenak

Cheese Chiffon Cake Pelangi. Dibuat dari bahan terpilih, menyajikan roti keju dengan kualitas rasa yang nyaris sempurna. Lembutnya tanpa gumpalan, aromanya khas, dan rasa kejunya…mantap! Tak salah jika roti khas Semarang ini menjadi pilihan waktu bersantai anda.

“Ini roti favorit keluarga saya. Rasanya eunak…” ungkap seorang ibu yang saya jumpai di Toko Roti Pelangi, yang beramalat di Jalan Singosari Raya no 45 Semarang.

Siang itu, sambil menunggu pemilik Café Pelangi, saya disuguhi ice cream rasa Strawberry Exotic oleh pramusaji. Sebagian mereka tampak sibuk melayani pembeli. Ada ibu yang masih mengenakan pakaian dinas, ada juga pasangan muda-mudi dengan pakian santai. Tak lama kemudian mereka keluar membawa plastik berwarna putih bertuliskan Roti Pelangi yang sudah terisi beberapa pak roti.

“Kalau Cheese Chiffon Cake Pelangi memang bisa dipesan kapanpun. Kita ada setiap saat, pengunjung bisa membeli tanpa harus memesan dulu,” ungkap salah seorang pramusaji.

Tak terasa, ice cream di gelas yang semula menyembul dari gelas, di ujungnya menancap buah strawberry segar di atas lapisan keju, kini tinggal sepertiga. Ice cream dengan rasa strawberry asli dan cheese cookies. Tiba-tiba saja saya dikagetkan seorang perempuan yang sudah berdiri di depan saya.

“Mas suka strawberry ya. Sebenarnya kita punya ‘Pelangi Choice’. Ini Ice Cream Vanilla dan coklat yang dilengkapi dengan potongan pisang dan saus coklat. Mau coba lagi…” katanya.

Dia adalah Lani Sulistya, pemilik Toko Roti dan Café Pelangi. Di toko roti ini memang ditata beberapa set meja dan kursi layaknya Café. Bahkan di luar ruangan, pengunjung bisa bersantai ria menikmati aneka sofdrink, ice cream dan snack sambil menikmati pemandangan rerimbunan tanaman hias di alam terbuka.

"Kalau akhir pekan, kita buka Cafe sampai jam 11 malam. Teman-teman dari Undip biasa nongkrong di sini," kata almunus Universitas Diponegoro ini.

Ditambahkan Lani, di Cafe Pelangi ini merupakan Hot Spot area. Pengunjung yang membawa laptop bisa mengakses layanan akses internet gratis.

Berawal dari hobi membuat roti, Lani kini menekuni usaha roti disela-sela mengasuh dua anaknya yang masih berusia 7 dan 1,5 tahun. Mulanya coba-coba, ia membuat roti untuk hidangan hari raya. “Nggak tahunya, ada teman mama saya yang tanya. Roti ini beli di mana, kok rasanya enak…”

Waktu itu, sekitar tahun 1995, Lani masih kuliah. Dari promosi mulut ke mulut, pesanan roti berdatangan. Untuk keperluan pesta ulang tahun sampai hajatan di hotel-hotel.

Untuk investasi membuka usaha roti ini memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lani bahkan harus mengeluarkan beberapa koceknya untuk membeli peralatan yang dibelinya dari Itali.

“Keistimewaan dari roti saya ini adalah bebas pengawet dan selalu baru,” tambahnya.

Lantas kalau tak habis, roti itu dikemanakan?

“Ya saya bagi-bagikan ke tetangga dan karyawan-karyawan saya. Makanya mereka pada awet di sini,” ungkapnya tersenyum.

Dikatakan oleh Lani, roti Pelangi ini bisa bertahan sampai tiga hari. Namun jika dimasukkan ke dalam mesin pendingin bisa bertahan lebih lama sampai seminggu.

Selain Cheese Chiffon Cake Pelangi, Lani juga membuat roti jenis lain, seperti coklat, kismis, almon dan satu lagi, Brownies Panggang. Yang disebut terakhir ini lembut, atasnya kering, dan kata lani, kempripik! Brownies panggang ini selalu ada setiap saat, sementara untuk coklat, kismis dan almon, anda yang hendak membeli harus memesaanya dulu.

Untuk menjaga kualitas rasa, meski dia kini memiliki beberapa karyawan baik yang ada di front office maupun di dapur, Lani turun tangan sendiri membuat resep dan mengawasi kerja karyawannya. “Kethoke nak saya ikut, kok mantep,” katanya.

Kini Roti Pelangi buatan Lani menjadi hidangan acara-acara ulang tahun hingga seremonial instansi-instasi pemerintah dan perusahaan di Semarang.

“Belum lama ini teman saya dari Jakarta pesan beberapa pak,” katanya.

Lani manambahkan, anda yang berada di luar kota juga bisa memesan. Tentu saja dengan ditambah biaya pengiriman. Khusus untuk pembeli di wilayah Semarang, gratis layanan antar untuk pembelian di atas 100 ribu. Silakan hubungi nomor telepon (024) 8314772 atau 70109225.

Berapa harganya? Cheese Chiffon Cake Pelangi dengan ukuran besar Rp 45.000, sedang Rp 35.000, kecil Rp 25.000. Sebagai gambaran, roti ukuran besar dengan diameter 25 cm jika bisa disajikan menjadi 20 potong. Sedang untuk brownis panggang dengan ukuran 25x10cm dapat dibeli dengan harga Rp 25.000.

Selengkapnya......

03 April 2007

Jarar Siahaan: Blog Adalah Tempat di mana Hati Nurani Bisa Merdeka

Jarar Siahaan tak sanggup lagi untuk tidak menerima amplop. Gajinya sebagai wartawan daerah tak cukup untuk menopang kebutuhan anak dan istrinya. Dia tak mau lagi kehilangan anaknya atau mendengar lagi tuntutan cerai dari istrinya gara-gara sibuk dengan idealisme “anti-amplop”-nya.

Sebelumnya, Jarar memang termasuk golongan jurnalis yang mengharamkan amplop. Bersama rekan-rekannya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen), sebuah organisasi jurnalis yang anggotanya tersebar dari kota-kota besar hingga daerah-daerah, dia turut menyerukan agar wartawan menolak segala bentuk "sogokan" yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja jurnalis dalam menjalankan tugasnya.

Namun pada saat yang sama ia menjumpai praktek-praktek kotor yang dilakukan oleh para pemilik media. Ia pun sempat bekerja dari satu media ke media lainnya. Tapi kondisi tak jauh beda. Menurutnya media di tanah air, terutama koran daerah, adalah mesin uang bagi para bunglon, pemeras, politisi, dan pelacur idealisme. Nuraninya memberontak, ia tak bisa bekerja di media seperti itu. Tapi ia juga tak bisa lagi untuk tidak menerima amplop sementara istri dan anaknya memang butuh penghidupan.

Maka ketika pindah ke Palembang dan anak keduanya lahir, tak lama kemudian pria 32 tahun itu pun mengundurkan diri dari AJI, organisasi yang pernah di”imani”nya hingga ia rela menelantarkan anak dan istrinya.

Sejak itulah dirinya membuka diri untuk menerima amplop. Ia tak munafik jika gaji yang diterimanya sebagai wartawan daerah tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun ketika dirinya menjadi redaktur, ia masih harus pinjam sana-sini untuk sekadar membelikan beras istri atau menengok keluarga di kampung halamannya.

"Aku tidak sanggup lagi untuk tidak menerima amplop. Aku tidak sanggup lagi melihat anakku Gibran yang selalu tersenyum lucu meskipun tubuhnya dibalut baju yang sempit," tulis Jarar dalam surat pengunduran diri dari keanggotaan AJI.

Tapi, meski menerima amplop, dirinya menolak jika dikatakan telah melacurkan idealismenya sebagai seorang jurnalis yang memegang teguh kebenaran. Baginya, wartawan boleh menerima amplop selama amplop itu tidak untuk merekayasa berita.

“Bagiku, wartawan idealis bukanlah karena menolak amplop; tapi karena ia menulis sesuai hati nuraninya,” tulisnya dib log BatakNews.com.

BatakNews adalah ruang baru bagi Jajar untuk mencurahkan nurani jurnalisnya. Dia meninggalkan profesinya sebagai jurnalis yang telah ia geluti selama hampir 12 tahun. Ia bahkan menolak ketika ditawari menjadi redaktur di Global, sebuah media lokal yang dianggapnya cerdas dan menyejukkan. Ia lebih memilih menjadi penulis lepas daripada menjadi awak redaksi, sekalipun menjadi redaktur di media itu. Dan sejak itu pula ia memutuskan tidak akan kembali terikat dengan media manapun, selamanya. Dia ingin menjadi jurnalis yang independen, yakni melalui blog.

Jarar kemudian mengirim pernyataan sikapnya itu melalui surat terbuka yang dia kirim ke beberapa media nasional di Jakarta, Dewan Pers, AJI dan lembaga terkait lainnya. Saya sendiri kali pertama membacanya di milis yang diposting oleh Andreas Harsono. Dari surat itu diketahui jika Jarar juga melayangkan surat serupa secara pribadi kepada ketua Yayasan Pantau, yang kini menjadi penulis freelance di sejumlah media internasional itu.

Dalam surat terbukanya Jarar menyampaikan bahwa media tak seharusnya membuat aturan menolak amplop bagi watawannya, sementara media sendiri belum memberikan upah yang layak kepada para pencari berita itu.

“Jangan kalian 'rusak' para jurnalis pemula dengan kampanye tolak-amplop. Yang harus dilakukan AJI adalah mendesak semua media agar menggaji wartawannya dengan layak. AJI harus berani menggalang semua wartawan untuk mogok kerja. Setelah itu terpenuhi, barulah “sikat” wartawan yang menerima amplop. Dan sebelum media memberi gaji layak, hentikan kampanye tolak-amplop. Jangan sampai ada [lagi] wartawan yang lugu mengorbankan anak-istrinya demi paham yang kalian ciptakan,” tulis Jarar dalam surat terbukanya.

Surat terbuka juga dikirim oleh Jarar ke para blogger Indonesia. Disampaikan bahwa blog bukan cuma media tanpa sensor. Tapi blog telah menjadi malaikat penolong dan tempat meneduhkan nurani bagi jurnalis yang masih punya rasa malu.

”Kurindukan suatu hari nanti, koran yang begitu akan mati; sebab mereka sering membunuh kebenaran. Kuimpikan detik ini, setiap warga akan menulis dan mengedit beritanya sendiri. Blog adalah tempat di mana hati nurani bisa Merdeka,” tulisnya.

Sikap Jarar kini telah direspon oleh khalayak luas. Beberapa hari terakhir ia menerima dukungan dari sejumlah wartawan dan blogger yang tersebar di seluruh Indonesia hingga luar negeri. Seperti yang ditampilkan dalam posting diblognya, Budiman S Hartoyo (sering dipanggil BSH) juga turut memberikan komentar.

"Saya setuju dan mendukung gagasan kau: desak para majikan media untuk menggaji wartawan secara layak (tentu wartawan yang bener). Kalau tidak, mogok saja! Setelah itu gencarkan anti amplop," tulis BSH, mantan wartawan senior Tempo dan salah seorang deklarator AJI itu.

Meski banyak pihak mendukung, banyak pula orang yang memberikan tanggapan sinis atas sikap Jarar. Beberapa rekan di daerahnya malah ada yang menganggapnya tak waras alias sinting!

Jarar menampik jika munculnya BatakNews sebagai bentuk kekecewaannya kepada AJI. Blog ini lahir karena dirinya kecewa pada media, koran daerah, yang umumnya tidak independen dan tidak memberi gaji layak.

BatakNews dionlinekan sejak 20 Maret 2007. Jarar adalah pendiri dan sekaligus pengisi beritanya. Ke depan blog ini diniatkan untuk menjadi tempat di mana setiap orang bisa melaporkan berita (citizen journalism). Setiap orang bisa menjadi jurnalis. Tapi tentu saja ada aturannya. Silakan baca di sini.

“Untuk saat ini aku belum punya rencana apa pun soal masa depan BatakNews. Aku takut mencari penyandang dana; karena bisa-bisa dia mengaturku untuk menulis sesuai kepentingannya. Aku juga belum berpikir untuk merekrut wartawan atau redaktur,” jawabnya dalam sebuah email.

Sejak awal Jarar meniatkan blog BatakNews mewartakan isu-isu lokal, terutama yang terjadi di Balige, ibukota Kabupaten Tobasa. Sementara ini, dia mengaku masih bisa meliput sendiri. Sebab Balige hanya kota kecil. Selain berita lokal, ia merencanakan blog itu memuat foto-foto lokal, artikel budaya Batak, opini pembaca (khususnya para perantau Batak yang tinggal di luar Tobasa dan luar negeri), feature dan tulisan tentang jurnalisme.

”Aku tak berharap muluk-muluk. Ibaratnya, BatakNews adalah sebuah koran komunitas beroplah kecil di sebuah kecamatan yang, karena kecanggihan internet, dibaca oleh para perantau di seluruh penjuru dunia,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jarar membuka usaha berjualan oli-campur dan pulsa HP di depan rumahnya yang ia kelola bersama istrinya.

“Alhamdulillah, olinya laku, karena rumah kami persis di samping pom bensin. Sehari rata-rata habis 15 botol, bisa dapat laba Rp 50 ribu. Voucher HP rata-rata 25 voucher per hari, dengan laba berkisar Rp 25 ribu. Jadi dari usaha istriku ini kami sudah bisa menutupi kebutuhan dapur. Untuk kebutuhan lain yang mendesak, sesekali kami minta bantuan dari orangtua,” akunya.

Bagaimana dengan istri, apakah dia tidak mengeluh dengan kondisi anda saat ini?

Dikatakan oleh Jarar, justru istrinya mendorong dirinya keluar dari media cetak dan membuat blog. Kata istrinya, “Daripada kau makan hati terus, lebih baik kau ngeblog asalkan kau bebas menulis mengikuti kata hatimu.’

“Istriku seorang yang sederhana. Ia tidak memakai perhiasan, tidak memakai make-up di wajah, tidak suka shopping baju. Ia seorang wanita desa yang betul-betul sederhana. Aku bersyukur punya istri seperti dia. Dan selama kami berkeluarga tujuh tahun, tidak pernah dia menyuruh aku mencari uang dengan cara yang banyak dilakukan [oknum] wartawan, seperti memeras”.

Selamat bung, akhirnya kau temukan tempat di mana nurani bisa merdeka.

Selengkapnya......