28 March 2007

Andrea Tak Melawan Pasar

Unik, begitulah sosok Andrea Hirata. Penulis novel Laskar Pelangi itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Tapi dia juga meminati bidang keilmuan (science). Belakangan dia menulis novel. Ternyata karyanya laku keras dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra.

Seperti yang diakui Andrea, Laskar Pelangi adalah kisah masa kecilnya. Masa kecil di sebuah desa miskin di Belitong. Laskar Pelangi adalah novel perdananya. Buku kedua, Sang Pemimpi, seperti juga buku perdananya, menjadi best seller.

Tidak seperti halnya para kritikus sastra yang memberikan pujian kepada karya Andrea, Aulia Muhammad pagi itu membeberkan beberapa kekurangan kedua novelnya. Pertama soal melawan pasar. Bagi Aulia karya Andrea tak melawan pasar. Tapi sebaliknya, justru mengikuti pasar.

Karya yang ditawarkan Andrea juga tak baru. Hampir mirip-mirip yang disajikan dalam serial tayangan islami, seperti yang tampak dalam buku kedua Andrea, Sang Pemimpi, yang disebut oleh Aulia sebagai "pertobatan".

Lakunya karya Andrea, ditambahkan Aulia karena menampilkan keharuan. Termasuk juga strategi penerbit yang menampilkan Andrea sebagai awam yang menulis sastra. Orang menjadi ingin tahu. Ini seperti melejitnya nama Feri atau Ikhsan peserta Indonesian Idol, yang menampilkan sosok anak keluarga yang tak mampu. Bahkan untuk pergi menyaksikan aksi panggung anaknya, ayah Ikhsan harus dengan menjual becak.

Kemudian soal endorsement atau catatan oleh para pakar, menurut Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com itu membuktikan betapa tidak percaya dirinya seorang pengarang. Hal lainnya, adalah soal pengkotak-kotakkan sastra menjadi beberapa jenis. Menurut Aulia, tidak perlu membuat kategorisasi sastra, termasuk kategori orang awam menulis sastra. Yang terpenting adalah karya itu bagus, diapresiasi oleh pembaca.

Bagi Aulia strategi apapun halal dilakukan penerbit. Tapi yang jauh penting dilakukan penerbit adalah bagaimana agar buku bisa murah. Yang penting karya itu dibaca."Bagi saya karya itu dibaca saja sudah sangat senang," katanya.

Oleh karena itu, menurut Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com itu tidak perlu mendewa-dewakan karya. Bahwa karya ini bagus, penulisnya hebat. "Pengharapan yang terlalu berlebihan atas suatu karya, seringkali mengecewakan. Makanya biasa saja dalam menanggapi suatu karya. Secara wajar," kritik alumnus Fakultas Sastra Undip itu.

Menanggapi kritik Aulia, Andrea mengatakan bahwa dirinya melihat pasar secara praktis. Soal ketidakpercayaan pengarang, dirinya mengaku mulanya juga tak percaya jika para pakar sastra memberikan pujian atas karyanya.

"Makanya, saya pernah meledek seorang teman dari penerbitan. Saya katakan ada tiga profesi yang tidak bisa dipercaya. Yang ketiga itu adalah penerbit," ujar pengarang kelahiran Belitong, yang kini bekerja di PT Telkom Bandung ini, sambil tersenyum lepas.

Dalam acara "Bincang dan Temu Penulis" yang digelar oleh LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan toko buku Toga Mas di Joglo Fakultas Sastra Undip (27/3) itu, Andrea juga menyampaikan sekilas novel ketigasnya yang berjudul "Edensor". Dalam kesempatan itu Andre membacakan abstraksi atau sinopsis dari vonel ketiganya. Yang unik, kendati
novel ketiganya masih prelaunch, tapi seperti yang tampak di banner yang dipajang oleh panitia, ditampilkan juga sampul buku yang keempat.

"Apa anda bisa menikmati mengarang dalam waktu sesingkat itu, atau sebenarnya anda sudah menyiapkan sejak lama?

Atau jangan-jangan anda memanfaatkan aji mumpung, mumpung lagi laku?" tanya Diantika, mahasiswa Sastra Indonesia Undip.

"Saya sendiri juga tak tahu. Saya begitu cepat menyusun novel-novel itu. Saya tak ada beban. Mungkin karena ini pengalaman saya pribadi," jawab Andrea. [tulisan ini diterbitkan di suaramerdeka.com]

*Liputan lain ditulis di Harian Suara Merdeka (cetak) di rubrik seni. Klik di sini

Selengkapnya......

26 March 2007

Andrea Hirata Akan Beberkan Novel Terbarunya

Sukses dengan dua novelnya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea Hirata akan membagi tips menulisnya di Semarang. Dalam acara yang diselenggarakan di Joglo Fakultas Sastra Undip, Selasa (27/3) itu, juga akan dibeberkan sekilas tentang novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi.

Kehadiran pengarang asal Belitong itu memang mengejutkan. Betapa tidak, Andrea yang notabene bukan berasal dari kalangan sastra, tapi mampu menulis novel yang keduanya menjadi best seller. Dari informasi penerbit, keduanya kini telah dicetak ulang sebanyak tujuh kali.

Yang menarik lagi, kedua novel itu sama sekali tak sejalan dengan tren pasar. Tapi melalui dua sekuel novelnya itu Andrea Hirata langsung menempatkan dirinya sebagai salah satu penulis muda Indonesia yang amat menjanjikan.

Bagaimana karya-karya Andrea dapat menjadi best seller tanpa harus mengorbankan mutu? Sastrawan Ahmad Tohari mengatakan, "Andrea adalah jaminan bagi sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampian yang cerdas dan menyentuh".

Sementara Prof Sapardi Djoko Damono, guru besar Universitas Indonesia menyebut karya Andrea sebagai metafora yang berani, tak biasa, tak terduga, kadang kala ngawur, namun amat memikat.

Daya tarik yang menonjol dari karya-karya Andrea juga terletak pada kemungkinan yang amat luas dari eksplorasinya terhadap karakter dan peristiwa. Setiap paragraf yang disajikan seakan dapat berkembang menjadi sebuah cerpen, dan setiap bab mengandung letupan intelejensia, kisah, dan romantika untuk untuk dapat tumbuh menjadi buku tersendiri.

Andrea tak pernah kehilangan ide dan cerdik dalam melihat suatu fenomena dari sudut yang tak pernah dilihat oleh orang lain. Setiap kalimatnya potensial. Ironi diolahnya menjadi jenaka, cinta pertama yang absurd menjadi mempesona, tragedi diparodikan, ilmu fisika, kimia, biologi dan astronomi diolah menjadi sastra.

Telah banyak pujian dilontarkan atas kematangan karya maupun teknik menulis alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang belakangan mendapatkan beasiswa studi master of science di Paris de University, Sorbonne, Prancis itu.

Acara yang bertajuk "Temu dan Bincang Penulis bersama Andrea Hirata" itu diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Sastra Undip dengan toko buku Toga Mas dan Renjana Organizer.

Selain Andrea Hirata, akan hadir sebagai pembicara Aulia Muhammad, Pemimpin redaksi suaramerdeka.com, dan Agus M Irkham, pegiat komunitas perbukuan. Diskusi akan dibuka mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.[sumber: suaramerdeka.com]

Selengkapnya......

20 March 2007

Berita Koran Pagi Mengecewakan

Secangkir teh hangat sengaja saya siapkan untuk menemani menyantap koran pagi. Srruppp.... saya buka lipatan koran, "14 Peluru di Tubuh Wakapolwil". Berita terbunuhnya Wakapolwil Jateng, AKBP Drs Lilik Purwanto SH MHum, oleh anggotanya itu rupanya masih menjadi topik utama koran pagi ini. Karena penasaran, saya memilih berita itu sebagai menu pembuka.

Sehari sebelumnya, disampaikan di koran ada 6 peluru yang bersarang ditubuh alm Lilik Purwanto. Bagaimana kini menjadi 14, dua kali lipat lebih dari jumlah yang disampaikan sebelumnya. Dari berita koran pagi itu saya dapatkan informasi, Briptu Hance Christanto, pelaku penembakan memuntahkan sebanyak 40 peluru. Padahal sehari sebelumnya dikabarkan cuma belasan peluru.

Kemarin disampaikan jika Hance ditembak oleh sniper Resmob Polwiltabes di bagian kepala, tapi kini ditembak di bagian dada. Lantas, berita kemarin itu didapat dari siapa. Saksi, atau cuma desas-desus, alias gossip yang tidak jelas dari mana asal muaranya.

Mengikuti berita di koran seringkali membuat saya jengkel. Kecewa karena kesimpulan yang saya dapatkan kemarin ternyata dengan begitu gampangnya dipatahkan sendiri dalam waktu kurang dari 24 jam. Koran telah menipu publik, meski pada akhirnya mereka sendiri telah melakukan revisi. Meski (acapkali) revisi itu berbeda drastis dari yang disampaikan sebelumnya, belasan menjadi 40 puluh, di kepala menjadi di dada. Jangan-jangan besok, Hance sebenarnya tak mati ditembak oleh sniper, tapi mati karena bunuh diri.

Usai membaca koran pagi itu siangnya saya bertemu salah seorang teman yang keluarganya kebetulan bekerja di lingkungan dinas Polwiltabes Semarang. Menurutnya, sebenarnya Hance mati bunuh diri. Dia meminta Aiptu Titik Sumaryati, korban yang dijadikan sandera pelaku, menembak tepat dibagian dadanya. Setelah itu, baru kemudian peluru yang dilepaskan oleh sniper mengenai dada Hance.

"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya," pesan teman saya.

Kabar bunuh diri Hance itu ditulis dalam berita acara yang akan disampaikan ke pihak yang berwenang untuk dijadikan sebagai bahan penyidikan lebih lanjut.

Mana yang benar, bisa jadi apa yang disampaikan teman saya itulah yang benar. Tapi berita ini entah kapan akan sampai ke pihak wartawan. Berita ini sepertinya sengaja ditutup rapat, hanya diketahui oleh internal pihak kepolisian. Dan wartawan tampaknya masih menikmati berita desas-desus, belum mampu mengungkap dari sumber primer untuk mendapatkan berita yang sebenarnya.

"Saya harus segera melaporkan. Saya diburu deadline. Saya harus dapat berita.... bagaimana lagi...." dalih yang mungkin akan dilontarkan oleh wartawan media harian.

Besoknya saya memburu lagi koran pagi, berharap akan menemukan kabar itu, atau kabar-kabar yang akan mengejutkan, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, berita itu tidak muncul. Tidak muncul.....Wartawan koran mengecewakan!

Mulai besok, saya akan mempertimbangkan lagi menahan kantuk saya untuk membaca koran pagi, termasuk juga koran sore, karena sama saja, sudah berita kemarin, tapi tidak tuntas.... mending nonton TV, baca berita di internet, atau kalau mau tuntas, biar seminggu sekali, baca majalah.... sambil menyiapkan kopi segalas besar ditemani rokok kesukaan saya.... srupp....


*Ingin diskusi seputar jurnalisme dan media, silakan gabung di milis Jurnalisme Sastrawi

Selengkapnya......

18 March 2007

Gelas Kosong Barthes

KEMATIAN pengarang yang diwacanakan Roland Barthes pada 1967 tak habis-habis diperbincangkan. Selain Michael Foucault, boleh jadi sudah ribuan orang mengkritik atau mengamini tesis filsuf dan kritikus Prancis itu, baik lisan maupun tulisan.

Image: Reading The Death of The Author

Selasa (6/3) malam, ikhwal kematian pengarang itu kembali didiskusikan dalam acara Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di joglo Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayamwuruk 4, Semarang. Belasan peminat sastra menghadiri perhelatan bertajuk "Benarkah Pengarang Sudah Mati?" yang diselenggarakan buletin sastra Hysteria dan Komunitas Sendangmulyo itu.

Dalam "The Death of the Author", Barthes mengemukakan, pengarang seharusnya lesap ke dalam teks untuk kemudian menghilang. Jadi, ketika pembaca datang untuk memaknai teks, ia tak lagi menemukan jejak pengarang. Teks yang lahir menghalangi jarak pandang pembaca ke pengarang.

Pembaca punya kebebasan besar menafsir teks. Mereka berhak memaknai apa pun tanpa harus dibayang-bayangi sosok pengarang. Konsekuensi kematian pengarang adalah kelahiran pembaca.

Barthes, seperti dikutip pembicara Muhamad Sulhanudin, memisahkan teks dan pengarang dengan formula before-after. Pengarang saat ini berbeda dari dia saat menulis pada waktu lampau.

Apa yang diyakininya sekarang boleh jadi tak serupa lagi dengan yang tertuang dalam teks. Garis before dan after jadi batas tegas yang memisahkan teks dan pengarang. Pengarang telah kehilangan otoritas.

Sulhanudin menilai tesis Barthes masih relevan dalam realitas kesusastraan kontemporer sekarang. Pembaca, berbekal pengalaman masing-masing, diam-diam menyusun strategi untuk mencari kebenaran yang diinginkan.

"Lalu, kenapa kita masih sering menafikan kehadiran pembaca? Biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca yang memaknai, memenuhi gelas yang masih kosong itu," kata dia.

Pembaca, ujar Sulhanudin, berhak menafsir teks sastra. Menafsir tak berarti sekadar membaca ulang, tetapi menelusuri makna tersamar di balik teks dan menemukan makna baru.

Beragam

Sementara itu, penulis tak perlu membebani diri dengan keinginan mendedahkan sesuatu ke pembaca. Sebab, salah-salah itu justru jadi bumerang. Pesan tak sampai, pembaca justru bosan.

"Menulis tak perlu dilambari niat membuat karya sastra besar. Ketika karya sudah menyentuh simpul kenikmatan pembaca, kebesaran karya muncul dengan sendirinya," kata mahasiswa Sastra Inggris Undip itu.

Peserta diskusi punya pendapat beragam. Seorang peserta melihat, pembacalah yang dominan memaknai teks. Bukan sebaliknya. Pembacaan intens tak serta-merta menjadikan teks otonom, tetapi berada dalam bayang-bayang pengarang dan pembaca. Pada titik kulminasi, pembaca akan kembali menghidupkan pengarang yang dianggap mati dalam terminologi Barthes.

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cyber News Aulia Asyahiddin menilai kematian pengarang justru berimplikasi pada overintepretasi pembaca. Mereka kerap menafsir realitas dalam teks secara liar.

Dia mencontohkan tafsir terhadap adegan sampan yang berlayar di danau sebagai hubungan intim. Dayung dimetaforakan sebagai penis dan air danau sebagai vagina. (Rukardi)


* Tulisan ini dimuat di Harian Suara Merdeka, Kamis 8 Maret 2007. Versi onlinenya bisa diakses di sini
** Baca artikel terkait di blog ini:
- Merayakan Kematian Pengarang
- Mission Impossible, Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra
- Pengantar Singkat Post Strukturalisme

Selengkapnya......

Membuat Label Cloud di Blogger Baru

Salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh blogger yang baru (new blogger, sekarang sudah bukan beta lagi) adalah "label" atau "category", istilah yang sebelumnya dipopulerkan oleh Wordpress. Nah, ada tips untuk mempercantik tampilan label anda. Namanya "label Cloud", seperti yang tampil di sidebar sebelah kiri di blog ini.

Saya baru saja memajangnya, karena tertarik dengan tampilan yang ditawarkan. Memang ini tidak begitu krusial. Tapi untuk menambah daya tarik visualisasi blog, boleh dicoba.

Bagi yang ingin membuat label cloud, bisa mendapatkan kode script lengkap dengan cara menginstallnya di sini. Bagi yang punya problem dengan Bahasa Inggris, maaf saya belum sempat menerjemahkannya, hehe...

Selengkapnya......

Optimasi Judul Blogger di Search Engine

Dari mana pengunjung blog anda datang? Salah satunya, tentu saja dari mesin pencari (search engine). Bila anda belum yakin apakah blog anda telah terindeks di mesin pencari, daftarkan blog anda sekarang di Google, Yahoo, MSN.

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tips untuk memaksimalkan isi blog di mesin pencari dari Ikhwan Sopa, salah seorang blogger yang konsen dengan masalah motivasi dan leaderships. Dengan tips ini isi blog anda akan tampil di mesin pencari secara lebih menarik melalui penampilan judul posting kita di mesin pencari. Saya sudah membuktikannya sendiri. Dan hasilnya memang mengesankan! Menarik bukan?

Sebagai ilustrasi, seorang yang memasukkan kata "mahasiswa" di Google akan ditampilkan beberapa list situs yang mengandung kata kunci tersebut. Pada link mesin pencari yang tertuju ke blog saya akan tampil "Mengenal Wartawan Mahasiswa-Muhamad Sulhanudin", "Menilik Eksistensi Pers Mahasiswa-Muhamad Sulhanudin", "Gerakan Mahasiswa di Simpang jalan-Muhamad Sulhanudin".

Pada list yang ditampilkan google itu ditampilkan posting blog saya yang di dalamnya terdapat kata mahasiswa. Lebih bagus lagi, kalau salah satu judl posting terdapat kata mahasiswa. Kemudian google akan menampilkannya dengan struktur seperti di ilustrasi tersebut: "Judul-Title blog".

Dengan struktur tampilan ini, seorang yang tengah mencari di mesin pencari akan tertarik untuk menuju ke blog kita. Bayangkan, jika dalam satu kata kunci saja google manampilkan 10 halaman situs yang direkomendasikan, dan tiap halaman memuat 10 alamat situs. Belum lagi, tidak semua halaman akan di baca. Bila tahu demikian, ya lumayan tips ini bisa meningkatkan traffic ke blog anda. Apa sih yang lebih berharga dari aktivitas blogging, kecuali jika blog kita dibaca oleh orang lain....

*Tips selengkapnya, di sini


Selengkapnya......

16 March 2007

Blog dr Iwan: Bicara Seks yang Mencerahkan

Jika di Jakarta ada dokter Boyke, maka Semarang punya dokter Iwan Setyawan atau yang lebih dikenal dr Iwan. Keduanya sama, fasih berbicara masalah seks dan reproduksi. Bedanya, dokter yang disebutkan belakangan ini tampak lebih gaul. Gaya bicara dan dandanannya nyentrik. Selain mengudara lewat beberapa stasiun radio, kini dokter gaul ini membuka layanan konsultasi lewat blog. Namanya dr Iwan Bicara Seks.

"Hari ini sudah ada 30 pertanyaan buat saya. Jadi, pertanyaan anda nanti harus mengantri dulu," katanya dalam sebuah diskusi di Fakultas Sastra Undip belum lama ini, yang kemudian diikuti senyum kecut para mahasiswa.

Kesibukan dokter alumni Fakultas Kedokteran Undip ini memang sangat padat. Mulai dari mengisi diskusi dari kampus hingga sekolah-sekolah, konsultasi baik off air maupun on air di beberapa radio, dan dari pengakuannya, dia juga terlibat dalam pembinaan anak jalanan.

"Saya punya membina 5 anak jalanan di Simpang Lima," kata dokter yang aktif di Pilar PKBI Jateng ini.

Bermula dari sebuah diskusi yang diadakan oleh Internet Club Unisbank (Universitas Stikubank) Semarang, muncul gagasan agar dokter Iwan membuat blog. Dokter Iwan menyambut baik usulan ini. Tapi karena kesibukannya, maka blog dokteriwan.blogspot.com diurus oleh orang lain. Deddy Widiyanto dan Andri adalah dua orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengurus blog dokter Iwan yang diluncurkan sejak April 2006 di sela-sela kesibukan pekerjaanya.

Dari blog ini, seperti disampaikan oleh Deddy, dokter Iwan dikontak oleh salah satu stasiun radio di Surabaya. Ia diundang untuk mengisi acara on air lewat telepon.

Baru-baru ini, seperti yang dituturkan dokter Iwan, dirinya dikontak oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional terkemuka untuk mengisi acara konsultasi masalah seks.

"Dokter Iwan orangnya supel. Baik hati, suka membantu orang lain," ungkap Deddy.

Deddy benar, apa yang dilakukan oleh dokter Iwan dari kegiatan konsultasi ini adalah kegiatan sosial. Untuk konsultasi baik lewat radio maupun via blog, tidak dipungit biaya, alias gratis!

Materi yang disampaikan di blog diantaranya merupakan artikel yang disampaikan oleh dokter Iwan dalam diskusi. Ada juga yang dirangkum dari hasil konsultasi. Simak saja posting yang berjudul "Boleh Gak Sih Remaja Pacaran?". Tulisan ini merupakan hasil diskusi “Problemantika Pergaulan remaja dan Solusinya” yang diselenggarakan oleh Tim I KKN Undip Semarang. Atau yang lebih hot lagi, baca artikel "Payudara Besar vs Payudara Kecil, Pilih Mana?" Di sini dipaparkan jenis-jenis payudara, apa kelebihan dan kekurangannya.

Meski menggunakan desain minimalis, blog dokter Iwan ini terbilang cukup interaktif. Seperti blog pada umumnya, pengunjung bisa meninggalkan komentar di setiap tulisan, maupun meninggalkan pesan singkat di shoutbox yang ada di sidebar.

Menurut Deddy, salah seorang admin blog, dirinya memang belum memikirkan untuk menggarap desain blog yang hingga kini telah dikunjungi sekitar 25 ribu-an pengunjung ini secara lebih serius. Begitu juga soal imbal balik materi yang diterimanya dari hasil mengelola blog ini.

"Secara materi, kami memang tak begitu memikirkan. Kami sudah cukup senang melihat traffic ke blog ini yang dari hari ke hari terus meningkat."

Dasar blogger, ada juga yang memberikan komentar miring atas dirilisnya blog dokter Iwan ini. Seperti komentar Joni yang ditulis di shoutbox ini: "Setelah baca blog ini, malah menggugah saya buat berhubungan seks yang aman. Jadi tahu caranya ngeseks terus, tapi man. Hidup dr Iwan, yang bikin nafsu saya bisa terus tersalurkan..."

Oleh admin ditanggapi: "Blog ini ada untuk memberikan pendidikan yang baik dan benar dalam bidang reproduksi sehat. Segala tips maupun solusi tentang hubungan seks, ditujukan hanya untuk pasangan yang telah menikah (suami istri). Untuk pasangan yang belum menikah/ remaja, kami percaya hanya dengan iman dan taqwa kepada Tuhan YME lah yang akan membuat remaja terhindar dari perilaku seks bebas."

Nah, bagaimana dengan anda? Tapi, alangkah lebih baiknya anda membaca ulang tanggapan admin di atas, atau membaca lagi prolog yang disampaikan oleh dokter Iwan di halaman profil yang ada di sidebar, agar kehadiran blog ini tidak disalahgunakan.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi dengan dokter Iwan dipersilakan menghubunginya via email bicaraseks@gmail.com. Atau bisa juga di forum curhat www.pojokkita.com di rubrik konsultasi seks, yang baru saja dirilis awal tahun 2007 lalu. Anda juga bisa mendengarkan mendengarkan Free MP3 Konsekstasi di http://dokteriwan.multiply.com, maupun membaca artikel-artikel lainnya di http://dokteriwan2.blogspot.com.

Anda yang ingin berkonsultasi langsung atau ingin mengundangnya untuk acara diskusi bisa berkunjung ke klinik dr Iwan di Jalan Tirto Agung Raya no. 56 Tembalang, Semarang. Atau telepon via Hotline Konsultasi 081 228 59951. Pesan dokter Iwan, mohon membuat janji jadwal konsultasi terlebih dahulu sebelum berkunjung ke klinik.


*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com

+++++

Anda punya blog menarik? Atau bisa juga mengusulkan blog teman anda. Kirim alamat blog, nama pemilik, dan deskripsi singkat blog ke alamat email bloggernarsis@yahoo.com. Anda juga bisa berdiskusi lebih lanjut seputar dunia blog di milis Bloggernarsis@yahoogroups.com. Info selengkapnya di blog.suaramerdeka.com

Selengkapnya......

06 March 2007

Blog Zen Rs: Mengakrabi Kematian

“Pak Kunto, sudahkah anda menulis hari ini?” tanya Zen. Kunto tak memberi jawaban. Mungkinkah dia tuli? Entahlah. Zen sepertinya juga tak peduli, ia melanjutkan pertanyaan, seolah tak memerlukan jawaban dari lawan bicaranya itu.

Zen pasti sadar jika orang yang dialamatkan pertanyaan itu telah mendiang. Kunto yang dimaksud adalah Kuntowijoyo, sejarawan cum sastrawan nasional papan atas. Alharmum yang semasa hidup tercatat sebagai sebagai Dosen Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) meninggal dunia dua tahun silam, tepatnya 22 Februari 2005, karena mengidap penyakit stroke dan gangguan otak. Rupanya penulis dengan sengaja mengirim surat imajiner yang diberinya judul “Surat Buat Pak Kunto di Sorga” itu untuk almarhum di alam sana.

Jika bukan karena kekaguman penulis kepada almarhum, sepertinya tak mungkin hal yang mustahil itu dilakukan. Bercakap dengan orang mati, mengakrabi kematian, ini hal yang tak lazim dilakukan oleh orang yang dilengkapi akal sehat. Pada titik ini, pemilik blog pejalanjauh.blogspot.com itu barangkali memang tak waras.

Kematian tampaknya sudah begitu karib bagi pria yang mempunyai nama lengkap Zen Rahmat Sugito, yang sering ia singkat dengan Zen Rs itu. Kesimpulan ini didapatkan setelah membaca beberapa tulisan yang diposting diblognya. Hampir seluruhnya menceritakan tokoh-tokoh yang sudah tiada.

Yang menarik, penulis menceritakan tokoh-tokohnya secara detail dan teliti. Benar-benar hidup, seperti menyaksikannya secara langsung di layar kaca. Selain itu, ragam bahasa yang dipakai cukup selektif. Pembaca sesekali perlu membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia ketika menemukan kata-kata yang tidak lazim dipakai oleh orang awam. Maklum, pemilik blog yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta itu selain menulis biografi, juga gemar membuat puisi.

Menurut pengakuanya, tulisan-tulisannya diblog itu dirangkum dari hasil kebiasannya mengurung diri, membaca dan membaca buku-buku biografi koleksinya.

“Selama ini aku lebih banyak ngamar, duduk diam di dalam di ruang baca. Menumpuk-numpuk buku.Beberapa diantaranya aku baca. Lama-lama ngerasa kering.Urip kok mung mampir moco buku. Nah, aku mulai sadar kalo aku sangat minim melakukan perjalanan sosial. Lebih banyak melakukan perjalanan imajinal. Aku gerah dengan itu…”

Oleh karena itulah, untuk menebus kekesalannya dia memberi nama blognya dengan pejalanjauh. Alam pikirnya dibiarkan menyusuri kemana saja, menembus batas ruang dan rentang masa. Dari perjalannya ini, ia bertemu dengan tokoh sufi besar Jalaludin Rumi, hingga beberapa tokoh nasional macam Sjahrir, penyair Amir Hamzah, ataupun pengarang Jepang Kawabata. Kemudian ia menulis, menceritakannya seolah-olah sempat bertemu langsung dengan para tokoh-mendiangnya.

Lalu kenapa dia memilih tulisan biografi untuk materi blognya?

Zen memberikan dua alasan. Pertama, dalam setiap perjalanan, dia membayangkan akan menemui banyak orang. Mungkin berguru dengan banyak orang, berguru pada sikap mereka. Dia percaya manusia itu selalu bertarung dengan kenyataan. Katanya, sejarah adalah pertaruangan tak kenal usai antara das sein dan das sollen. Antara apa yang dibayangkan dengan apa yang senyatanya kejadian.

Menurutnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Ada juga orang yang pasrah pada kenyataan. Sebaik-baiknya orang, baginya adalah mereka yang berbuat sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpinyanya. Dan dia akan menjadi lebih baik ketika dalam perjuangan hidupnya itu dia mampu mengatasi ketakutan-kertakutannya.

“Saya sangat suka paragraf penutup pemenang nobel Anak Semua Bangsa (karya Pramoedya Ananta Toer, Red). Nyok, kita kalah nyok, tapi kita suda melawan, sebisanya. Mantap betul!”

Alasan lain, Zen menggemari menulis biografi karena terinspirasi oleh buku John F Kennedy yang berjudul “Profiles in Courages”. Buku ini berisi kumpulan biografi pendek para tokoh Amerika. Kebanyakan tokoh politik. Seperti Franklin, G Washington atau John Adams. Buku itu juga merumuskan dengan baik apa artinya keberanian, apa artinya manusia pemberani.

“Setelah itu karena aku dipengaruhi oleh Pram. Tokoh-tokoh Pram selalu gagal. Tapi gagal setelah sekuat-kuatnya berusaha dan dia sendirian menanggungnya. Aku suka menulis paradoks-paradoks itu semua. Merenungkan bagaimana cita-cita berbentuan dengan hambatan.”

Benar, diantara tokoh-tokoh imajiner yang sudah ditulisnya, Zen kagum kepada pengarang Pramoedya Ananta Toer. Ia menulis satu catatan untuk Pram dalam posting “Saat-saat Terakhir Pramoedya Menjelang Berakhirnya Pasar Malam”.

Berbeda dari tulisan-tulisannya yang lain, apa yang diceritakannya tentang mantan aktivis Lekra itu dari pengamatannya secara langsung. Zen menyempatkan diri mendatangi kediaman almarhum pada malam menjelang wafatnya. Ia menyaksikan langsung saat-saat terakhir, bagaimana Pram akhirnya tak kuasa menantang maut.

“Itu tulisan terbaik yang pernah kubuat. Tidak bukuku, tidak esaiku, tidak juga artikelku,” akunya.

Dan kematian makin akrab, tulis Subagyo Sastro Wardoyo dalam salah satu sajaknya. Apakah Zen sendiri juga pernah mengangankan demikian? Apakah dia akan memilih jalan kematian seperti yang ditempuh dua tokoh yang ditulisnya, mantan petinju nasional Rahman Kili-Kili dan pengarang Jepang Kawabata?

Suatu kali, teman sekamarnya menulis cerpen. Judulnya “Matinya seorang esais muda”. Tokoh utamanya bernama Jen Rahman. Barangkali ini plesetan dari nama Zen Rahmat Sugito.

“Mosok aku dijadikan karakter yang sok mati muda’” gerutunya.

Dalam sadar, Zen tentu saja tak akan mengikuti laku mengakhiri hidup sendiri seperti yang dipilih oleh kedua tokoh dalam ceritanya, atau memilih hidup menderita seperti dalam tokoh karya-karya Pramoedya. Apa yang dilakukannya dengan menulis ulang hikayat para tokoh ini adalah upayanya untuk memulyakan harkat kemanusian, kemudian menyuguhkanya kepada pembaca: sebagai pelajaran hidup yang teramat berharga.


Pada akhirnya, seperti dikatakann Zen, setiap orang punya pahlawannya masing-masing. Dan setiap orang punya kebebasan untuk memilih siapa rujukan hidupnya.

*Tulisan ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com

Selengkapnya......

Resensi Buku: "Dekonstruksi Sastra Pesantren"

Belakangan ini, banyak pemikir Islam dari halaqah (majlis ta’lim) di masyarakat, terutama aktivis kampus dan aktivis pesantren yang menyuarakan gagasan baru dan sistem penafsiran baru terhadap ajaran Islam, khususnya ilmu kalam. Kelompok ini terang-terangan menghantam ajaran teologi Asy’ariyah, ajaran yang banyak dianut warga NU.

Fenomena ini makin menguat dengan munculnya gerakan pembaharuan Islam. Motornya dari kelompok pengajian Paramadina (pimpinan alm Nurcholis Madjid), beberapa cendekiawan Islam UIN Jakarta, dan munculnya LSM Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dipelopori oleh Ulil Abshar Abdalla (Direktur Freedom Institute dari generasi muda NU), juga Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), dan beberapa kelompok liberal lainnya.


Intinya, pandangan mereka terhadap agama, Al-Quran, dan eksistensi Tuhan sangat inklusif dan berpaham liberal. Kelompok “pembaharu” ini menganut teologi Pluralis, sebuah teologi yang didasarkan pada kemajemukan paham sebagai sebuah kebenaran. Mereka menganggap semua agama benar. Dalam masalah ketuhanan, kelompok ini berusaha mereduksi makna eksistensi dan keabsolutan Tuhan. Kelompok inilah yang disebut sebagai Islam Inklusif, atau Islam Rasionalis.

Bukan hanya itu. Pemikir NU sendiri pun menyuarakan kritik terhadap paradigma Asy’ariyyah. Serangan yang cukup gencar dilakukan oleh said Agil Siradj, Masdar Farid Mas’udi, Zuhairi Misrawi dari tokoh kritis NU. Mereka mengkritik keras terhadap warisan doktrinal Ahlussunah Waljama’ah di lingkungan NU yang banyak dipengaruhi doktrin teologi Asy’ariyyah.

Dikatakan bahwa teologi Asy’ariyyah telah lama membawa umat Islam ke dalam kondisi yang statis dan beku dari kemajuan modernitas. Mereka juga mengatakan dampak dari teologi Asy’ariyyah itu membawa kecenderungan umat Islam pada prostatus quo, pro-establisment, dan cenderung menghindari kritik terhadap penguasa.

Muncul dugaan, kritik Agil Siradj banyak diilhami oleh tulisan-tulisan Al-Jabiri, seorang filsuf Mesir kelahiran Maroko yang terkenal dengan “kritik nalar arab”-nya.

Kritik Al-Jabiri terhadap teologi klasik seperti madzhab Asy’ariyyah sangat tampak pada komentarnya bahwa teologi yang dianggap paling fundamental dalam tradisi Islam ini harus dibangun kembali sesuai dengan perspektif dan standar modernitas. Untuk itu, ia mengajukan neo-kalam (ilmu kalam baru).

Ilmu kalam baru itu tak hanya mengajarkan doktrinal sebagaimana yang pernah dipahami Al-Asy’ari, Baqillani dan Al-Ghazali. Ilmu itu lebih merupakan revolusi ideologis untuk melawan kebekuan pemikiran Islam klasik.

Dari sini, dapat dipahami mengapa Nuruddin Ar-Raniri terusik untuk menerjemahkan kitab dari bahasa Arab ke dalam bahasa melayu. Terjemahan ini dimaksudkan untuk memberikan jawaban kepada umat Islam tentang pemikiran ilmu kalamnya Abu Hasan Al-Asy’ari.

Ar-Raniri, ulama Aceh, menganggap betapa pentingnya kitab semacam itu menjadi bacaan umat Islam. Sehingga ia merasa perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu. Terjemahannya kemudian diberi judul Durrat Al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id.

Kajian kitab tersebut bertumpu pada diskusi panjang antara Asy’ariyyah (ortodoks) dan Mu’tazilah (kaum rasionalis) tentang pokok-pokok ushuluddin. Diantaranya ada lima pokok bahasan, yaitu hubungan akal dan wahyu, kehendak bebas perbuatan manusia (free will), antara kekuasaan Allah (taqdir) dan usaha perbuatan manusia, sifat-sifat Tuhan Allah, dan keadilan Tuhan Allah.

Karena itulah kitab Durrat Al-Fara’id bi Syarh al-Aqa’id dirasa penting diteliti karena bagian dari sastra Pesantren yang sangat berpengaruh pada masa depan Islam.

Dalam buku Dekonstruksi Sastra Pesantren, Muhammad Abdullah tak hanya menulis tentang kajian kritisnya terhadap karya Ar-Raniri. Ia juga mencoba meneliti ulang kitab Sifa’Al-Qulub yang pernah diteliti oleh C.A.O. Van Nieuwenhuijze. Dan ia menemukan beberapa kesalahan fatal dari penelitian Nieuwenhuijze.

Selain itu, ada juga penelitian tentang Wirid, Hizib, dan Wifiq yang menjadi bagian penting dalam sastra pesantren. Dan juga ada kajian tentang sastra Lisan pesantren di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

Dalam sejarah intelektual Indonesia, pesantren merupakan basis pengajaran Islam tradisional yang berakar dari kitab-kitab Islam klasik. Dari pesantren itulah dapat diketahui sistem pengajaran yang didasarkan pada sumber-sumber tertulis berupa naskah-naskah klasik maupun kitab klasik terbitan Timur Tengah yang merupakan karya ulama salaf. Kitab-kitab jenis inilah yang dalam sastra Melayu dan tradisi pesantren dikenal sebagai sastra kitab, atau secara khas disebut kitab kuning.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah definisi sastra pesantren hanya terbatas kepada karya-karya yang bersumber pada kitab, yang notabene berbahasa arab. Bagaimana dengan karya-karya yang dihasilkan oleh santri lokal, yang tidak menggunakan bahasa Arab. Apakah ini juga bisa dikatagorikan sebagai sastra pesantren. Dan termasuk juga, munculnya karya sastra pesantren belakangan ini, yang banyak ditulis oleh santri muda, yang masuk dalam arus sastra Populer, seperti yang dimotori oleh Komunitas Matapena, asuhan LKiS Yogyakarta?

Selain itu juga, dari sisi pengarang, apakah sastra pesantren harus dilahirkan oleh santri. Dan apakah yang disebut sastra pesantren adalah karya sastra yang bercerita tentang tema pesantren, yang menggunakan latar pesantren?

Beragam pertanyaan di atas tidak terjawab dalam buku yang merupakan hasil disertasi program doktor dosen Jurusan Sastra Indoensia Undip itu.

Namun demikian, meski tidak menjawab permasalahan sastra pesantren secara faktual, buku ini dengan baik mampu mengurai akar kemunculan sastra pesantren di Indonesia. Setidaknya ini bisa menjadi pijakan awal bagi mereka yang hendak memahami sastra pesantren secara mendalam.

Membaca buku ini, kita akan dibukakan kepada kearifan para pemikir islam yang tumbuh di kalangan pesantren. Bukan seperti citra yang muncul belakangan, pesantren sebagai basis gerakan islam fundamental yang sarat dengan terorisme. Dan akhirnya, kontribusi para pemikir pesantren dalam perkembangan sastra dan khasanah pemikiran intelektual Indonesia tak bisa dinafikan lagi.

*Resensi ditulis oleh Wiwik Hidayati, mahasiswa Sastra Indonesia Undip,pegiat LPM Hayamwuruk.

Selengkapnya......