31 March 2006

Dibalik Menulis itu Mudah

Pendapat menulis itu perkerjaan sulit, sekarang terbantahkan. Sejumlah penulis mengatakan menulis itu gampang, semudah orang berbicara.

"Saran saya, kalau Anda mau menulis, menulis saja. Menulis itu gampang. Jadi tak perlu dibuat susah," ucap pria di depan kerumunan massa, siang itu. Ucapannya disambut tepuk-meriah para hadirin. Ah, ternyata menulis itu gampang banget. Kenapa dibuat susah!

"Apalagi menulis karya sastra, apapun di sekitar Anda bisa jadi tema. Sandal, sesuatu yang anda pakai di kaki, itu bisa jadi tema. Di tempat saya tinggal, ada orang yang mau berinfaq sandal, " tambah pria yang tengah memberikan resep menulis kepada para hadirin.

Pria yang ada disebelahnya, berpeci putih dengan warna rambut serupa, mengatakan, kalau orang lain bisa, kenapa saya tak bisa. Kalau orang lain bisa buat puisi, kenapa dirinya tidak. Nah, inilah yang menjadi prinsipnya menulis. Saya harus bisa!

Saya menulis sejak masih remaja. Apapun saya tuliskan. Baru ketika ingin menulis sastra, saya baca-baca buku-buku sastra. Saya baca puisi Sutardji, puisi Rendra, dan lain-lain. Lalu saya buat puisi seperti karya-karya mereka. Oh begini toh namanya puisi. Yang begini tuh sudah puisi. Puisi saya yang pertama diterbitkan berjudul kumpulan "Puisi Balsem", yang ia katakan puisi-puisinan.

Pria yang lainnya lagi, yang ada dideretan ujung kiri di meja pembicara yang di hadapannya ratusan massa berjubel, juga menceritakan pengalamannya menulis. Ia menulis tentang negeri orang lain yang pernah disinggahi. Setelah ia selesai menulis, kemudian dia sodorkan ke penulis ternama untuk dimintakan pendapatnya dan kesediannya untuk memberikan kata pengantar.

"Awalnya saya coba-coba, eh malah laris di pasaran, " kata pria yang juga menulis Novel Ayat-ayat Cinta, sebuah novel yang menceritakan tentang kisah seorang santri asal Indonesia yang belajar di Mesir, yang menjadi novel fenomenal, khususnya di kalangan kaum santri, beberapa waktu terakhir sejak kemunculannya tahun lalu.

Ternyata sambutan orang tersebut sangat baik. "Karya ini harus diterbitkan. Segera cari penerbit," kata pria penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang siang itu juga berada di deretan meja para pria yang dikerubungi massa.

Keempat pria itu, yang disampaikan paling awal dalam tulisan ini adalah Prie GS, selanjutnya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Habiburrahman El Shirazy, dan Ahmad Tohari. Rabu (30/3/2006) siang mereka menjadi pembicara di acara "Heboh Sastra Santri" dengan peluncuran antologi cerpen "Nyanyian Cinta" yang digelar oleh IPPNU Jawa Tengah bersama Pesantren Karya Basmala, penerbit buku-buku islami.

Antologi digarap oleh beberapa penulis yang sudah tak asing lagi, diantaranya Gus Mus dengan judul "Muhasabah Sang Primadona", Habiburahman dengan "Nyanyian Cinta"; yang menjadi judul dari antologi; Abidah El Khailaqi dengan Peri Cinta, dan lain sebagianya.

"Dunia sastra itu kan dunia khayal, bagaimana untuk mencari ide dalam menulis, apa perlu bersemedi dulu, untuk sampai pada tingkat la ilaha illalloh seperti Gus Mus," tanya salah seorang hadirin.

"Inilah kesahalan banyak orang, menganggap sastra adalah dunia khayal, sehingga seseorang sampai perlu bersemedi dulu. Sastra itu ada di sekitar kita. Yang dibutuhkan adalah kepekaan, " ucap Ahmad Tohari.

***

Beberapa hari lalu, saya membeli buku Creative Writing yang diterbitkan oleh Media Kita dan Jakarta School. Penulisnya AS Laksana. Amanat yang disampaikan oleh buku ini tidak jauh beda dari yang disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto dalam bukunya "Menulis itu Mudah". AS Laksana dalam resep penulisan yang dipaparkan dalam beberapa bagian itu juga menyampaikan hal yang sama. Menulis tidak sulit. "Menulislah seperti anda bicara. Anda bisa berbicara lancar, maka anda juga menulis seperti itu, " tulis AS Laksana dalam pengantar bukunya.

Ia kemudian menekankan pada perlunya seseorang menulis. Menulis adalah proses berpikir, menyampaikan sesuatu yang menjadi kegelisahannya. Dengan menulis maka gagasan kita akan bisa dipahami oleh orang lain. Dengan menulis muncul banyak ilmu pengetahuan. Pokoknya apapun bidang Anda, menulis itu penting. Demikian AS Laksana meyakinkan kepada pembacanya tentang pentingnya menulis.

Pendapat para pembicara dan juga kedua penulis buku dalam yang saya sebut tadi, membuat saya dongkol. Menulis itu mudah, tidak sulit, gampang. Itu kan kalian, karena kalian sudah bisa menulis, karena kalian sudah terlalu kebesaran dengan nama yang sekarang kalian sandang, sekarang berani bilang seperti itu, menulis itu mudah.

Menulislah seperti Anda berbicara. Apalagi yang satu ini. Menggampangkan sekali orang ini. Orang nulis kok kayak bicara, ya beda dong. Tinggal ngomong itu gampang. Anak balita saja bisa. Menulis tidak demikian, tidak selancar, cas-cis-cus, seperti saat kita bicara.

Ehhhm.... kalau hanya menulis saja, asal menulis, kayaknya pendapat orang-orang itu tidak terlalu salah. Ya, seperti yang saya tulis ini. Asal nulis. Tapi kan tidak mudah untuk membuat tulisan yang bisa menjadi karya besar,fenomenal, masterpiece....

Kalau sekedar menulis, setidaknya bagi saya tidak terlalu sulit. Anak-anak SMP-SMU yang masih lo-gue itu sudah bisa menghasilkan novel. Orang novel kayak catatan harian. Asal tidak buta huruf saja bisa menulis.

Tapi kan karya mereka tidak besar?

"Meski karya mereka laris dipasaran, kita lihat saja nanti, apa mereka akan dicatat dalam sejarah sastra Indonesia, " ucap seorang pria seusasi acara launching buku itu.

Beberapa menit yang lalu, ia menjadi moderator. Padahal pria ini sudah bergelar sastrawan, tidak kalah besar dari para pembicara yang telah disebutkan tadi. Ia adalah Triyanto Triwikromo. Ditangannya sebuah buku yang baru saja diluncurkan itu, sudah tercorat-coret. "Ah dakwah banget, " komentar pada salah satu coretan.

Pantas saja saat menjadi moderator, ia sempat mengatakan, semoga saja buku ini lekas habis, dan sebelum kembali diterbitkan perlu diedit lagi, karena masih banyak kesalahan, begitu ucapnya. Ucapannya itu menusuk sekali. Seandainya saya penyunting buku itu, saya akan damprat orang kurang ajar ini. Orang hanya moderator kok mengkritik. Ketidakpuasannya itu kemudian menjadi diskusi kecil setelah acara itu selesai dengan beberapa orang, diantaranya adalah saya.

Malam ini, saya baru saja selesai membaca tiga cerpen. Karya Gusmus, Habiburahman, dan Abidah El Khaelaqi, yang dilanuching siang hari sebelumnya. Komentar saya, terlalu sederhana cerita itu ditulis. Bahasa yang digunakan bahasa keseharian. Tak ada pergulatan bahasa, atau permainan kata yang berkedalaman. Ya, colloquial word lah.

Satu cerpen yang menurut saya temanya cukup bagus, yakni karya Gus Mus. Cerpen itu menceritakan Tokoh perempuan yang berasal dari desa yang menjadi selebritis terkenal kemudian berubah menjadi lebih santun, berjilbab, setelah bertemu dengan laki-laki yang kemudian menjadi suaminya, tapi ketika perempuan selebritis itu semakin mendekatkan diri pada agama, perilaku laki-laki itu malah berubah.

Kondisi ini yang membuat perempuan itu tertekan. Sress berat. Kemudian ia minta saran. Apakah ia harus minta cerai dari suaminya. Tapi bagaimana dengan tanggapan orang, terutama para fansnya yang selama ini telah menganggap hubungan keluarganya harmonis, setidaknya bila dibanding dengan selebritis yang lain, yang akhir-akhir ini sering ditempa isu tentang perceraian.

Kendati masih dilukiskan dengan bahasa yang sederhana, saya menikmati bacaan itu, bahkan hingga selesai. Memang dibagian awal, plot berjalan lambat. Cerita dengan tokoh aku yang bermonolog itu baru menggugah emosi pembaca ketika hampir setengah cerita. Setengah cerita awal, deskripsi yang berkepanjangan.

Yang menjadikan cerpen Gus Mus menarik, cerita diakhiri dengan pertanyaan. "Apa yang harus saya lakukan," ucap tokoh perempuan itu mengakhiri monolognya.

Sementara pada cerpen karya Habiburahman, tak beda dengan Novelnya Ayat-Ayat Cinta, dalam cerpen Nyanyian Cinta ini penulis mengambil setting cerita di Mesir. Tokoh utama diambil tokoh yang sempurna.

Ceritanya begini. Seorang mahasiswa Al Azhar asal Indonesia, yang santun, yang amanah, suatu hari menemukan tas di tempat wudlu di masjid. Diketahui dari pemiliknya tas itu ternyata berisi emas berlian, ratusan ribu dollar uang, dan barang-barang berharga lainnya. Tanpa dibuka lebih dulu, tas diserahkan oleh pemuda itu ke takmir masjid. Ketika si empunya berniat memebrikan imbalan sebagai ucapan terima kasih, pemuda yang menemukan tas itu menolak.

"Tolong jangan paksa saya. Saya melakukan karena melaksanakan amanat Alloh," kata pemuda itu. Berulangkali seorang bapak itu menawarkan imbalan, namun masih tetap ditolak.

Suatu saat pemuda itu dikirim ke suatu desa terpencil untuk berdakwah. Seuasai menyelesaikan tugas dakwahnya, ia dijodohkan oleh sang kepala desa kepada keponakannya, yang tak lain adalah putri sang empu tas yang ditemukan pemuda itu di masjid beberapa tahun yang lalu. Cerita berakhir dengan kebahagian sang tokoh. Akhirnya ia mendapatkan imbalan. Tersirat amanat bahwa Tuhan membalas amal baik yang dilakukan hambaNya.

Rupanya cerpen ini yang dicorat-coret oleh Triyanto Triwikromo. Triyanto merasa gusar karena muatan dakwah terasa sekali dalam cerita. "Ah biar saja, toh namanya juga cerpen santri. Dakwah-dakwah ya tak apalah, " kata saya pada seorang teman yang tengah membicarakan aksi corat-coret dan diskusi kecil seusai diskusi peluncuran buku itu.

***

Menulis itu mudah?

Oke, saya terima pendapat orang-orang yang mengatakan menulis itu mudah. Setidaknya hal ini baik untuk membangkitakan semangat para penulis pemula. Mungkin saja mereka bermaksud menghibur orang-orang seperti saya yang baru saja menulis. Toh kalau sekedar menulis saya juga bisa.

Saya sekarang bisa mengerti apa yang diucapakan oleh para pembiacara di depan para santri itu. Mengenalkan dunia tulis menulis, apalagi menulis sastra, memang perlu cara yang sederhana, yang bisa mudah dipahami oleh orang awam.

Baiklah untuk tahapan ini, saya sudahi dulu, menulis itu mudah. Yang penting tuliskan dulu apa yang ada dipikiran kita. Lalu untuk menghasilkan yang lebih bagus, perhalus lagi draft awal itu. Tulisan yang bagus tak sekali jadi, ia harus ditata ulang, kata-kata yang berserakan itu perlu dirapikan, dirampingkan, disesuikan, ditimbang, dirasakan, dan seterusnya, hingga bisa menghasilkan pilihan bahasa yang tepat, yang memiliki kedalaman makna. Ini barangkali yang belum bisa dilakukan oleh para penulis pemula. Baiklah, yang penting sekarang menulislah!

Selengkapnya......

28 March 2006

Ambisi dan Kecemasan Kaum Tua

Judul : Kicking & Screaming
Pemain : Will Ferrell, Robert Duvall, Kate Walsh, Mike Ditka, Musetta Vander
Sutradara : Jesse Dylan
Durasi : 1.30 menit
Produksi : Universal Picture
Katagori : Komedi

[ Rubrik Film Suara Merdeka CyberNews ]

Keinginan orang tua agar anaknya menjadi seperti yang dikehendakinya belum tentu sejalan dengan kemauan sang anak. Seorang anak yang baik tentu ingin menyenangkan orang tua. Namun bila tak ada kemauan, maka justru akan menjadi beban bagi si anak.

Seperti yang dialami oleh Phil Weston, yang menjadi anak kandung dan sekaligus anak asuh dari seorang pelatih sepakbola liga anak-anak ternama dalam film Kicking & Screaming. Obsesi Buck, demikian nama sang ayah, agar anaknya menjadi pemain bola yang handal tak kesampaian. Putra semata wayangnya itu kerap kali mengecewakan.

Phil menjadi pesakitan karena tak bisa mewujudkan keinginan ayahnya. Ia sadar bahwa dirinya memang tak punya bakat dalam olahraga. Kendati ia telah berusaha, hasilnya tetap tak memuaskan.

Ketika Phil mengakhiri masa lajangnya, Ayahnya pun seperti tak mau kalah, ia kembali menikah di usia senjanya. Dibalik itu, tujuan yang sebenarnya, Buck ingin punya keturunan yang bisa mewujudkan obsesinya, yakni bisa menjadi pemain bola yang tangguh bagi tim asuhannya.

Menonton film ini kita akan menyaksikan adegan-adegan yang menggelikan. Bagaimana istri sang ayah dan anak itu melahirkan anak secara bersamaan. Selain itu, ekspresi Phil Weston yang diperankan oleh Will Ferrell, tampil dengan sosok yang polos. Kebegoannya ini sudah menjadi kelucuan tersendiri.

Akhirnya keinginan Buck terwujud. Adik Phil yang juga sekaligus menjadi paman bagi anaknya menjadi ujung tombak bagi tim asuhannya. Sebaliknya, anak Phil, cucu Buck, ditempatkan pada pemain cadangan. Phil tak terima atas kenyataan itu. Ia kemudian bertekad menjadi pelatih bagi tim anaknya untuk mengalahkan tim asuhan ayahnya.

Phil merekrut Mike Ditka, musuh bebuyutan sang ayah, yang juga tetangganya, sebagai asisten pelatih bagi tim baru anaknya. Ia harus berusaha ekstra karena tim yang diasuhnya sekarang berada di urutan bawah dalam klasemen liga sepakbola anak-anak. Dari pergaulan dengan Dikta itu, Phill yang semula tak pernah minum Kopi menjadi kecanduan. Sehari saja ia tak bisa melewatkan untuk tidak minum kopi.

Harapan untuk mengalahkan tim ayahnya semakin menjadi-jadi. Mereka bertaruh, sang ayah akan memberikan bola Pele bersejarahnya jika tim anaknya itu mampu mengalahkan timnya.

Penonton dibawa emosi ketika Phil berlaku aneh. Dengan mengenakan seragam pelatih yang ia jahit sendiri itu, ia menjadi berlaku seperti orang tidak waras. Yang ada dibenaknya, timnya harus mengalahkan tim ayahnya itu. Beruntung dia punya dua pemain Italia, yang dipinjam dari pedagang daging kenalan Dikta. Tapi karena tekanan Phil, anak asuhnya menjadi ketakutan. Mike Dikta, pun tak membantunya lagi setelah keduanya terlibat bentrok.

Ketegangan benar-benar berada dipuncak ketika Phil teriak-teriak di pinggir lapangan, bahkan ia mengintimidasi pemain tim ayahnya sampai kemudian diperingatkan oleh wasit. Ia benar-benar menjadi kegilaan berlari-lari di pinggir lapangan. Ia juga memarahi anak asuhnya. Akibatnya, mereka menjadi ketakutan, dan tak bisa tampil maksimal.

Ditengah jeda permainan, tiba-tiba saja Phil menyadari kesalahannya. Ia menemui anaknya yang selama ini ia tempatkan di bangku pemain cadangan. Ia bisa merasakan betapa sakitnya waktu itu ketika ayahnya juga melakukan hal yang sama.

Kejengkelan penonton seperti terobati ketika Phil kembali sadar. Menjelang babak kedua itu, Phil memberikan pengarahan yang bisa membangkitkan kembali moral para anak asuhnya. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu menekan. Ia minta anak-anak asuhnya itu bermain tanpa beban tak usah dibebani untuk kemenangan. Yang penting kalian main yang baik. Seketika itu juga ia berubah menjadi sosok yang amat bijaksana.

Diakhir cerita, Tiger, tim asuhannya, mampu menundukkan tim ayahnya. Yang menjadi pencetak gol terakhir, gol penentu menjelang menit-menit terakhir pertandingan itu tak lain adalah anaknya sendiri. Sang kakek kini harus mengakui kehebatan cucunya. Begitu pula Buck pun harus mengakui kehebatan anaknya, yang selama ini selalu dikalahkannya. Namun Phil berubah pikiran, ia menolak menerima bola Pele yang telah dijanjikan sebagai taruhan.

Selengkapnya......

17 March 2006

Insiden Abepura: Bias Ketidakadilan

Insiden berdarah Abepura merupakan titik puncak kemarahan masyarakat Papua atas kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tegas dalam menangani kasus-kasus di bumi Cendrawasih.

Bahkan pemerintah terkesan lemah menghadapi masyarakat luar, khususnya tekanan para investor asing, untuk merealisasikan tuntutan warga setempat menutup PT Freeport Indonesia. Akibatnya, pecahlah tragedi berdarah Abepura, Kamis (14/3), yang menewaskan empat aparat kemanan dan puluhan lainnya luka-luka, baik dari pihak aparat keamanan maupun massa aksi.

Bila sebelumnya, seringkali para demonstran yang mengalami kekerasan dari pihak petugas keamanan, kali ini justru dari pihak petugas keamanan yang menjadi korban kekerasan oknum pengunjukrasa. Aparat yang hanya dilengkapi tameng dan pentungan kewalahan menghadapi amukan massa yang jumlahnya jauh lebih besar.

Sangat disesalkan, diantara para pengunjukrasa itu diterdapat mahasiswa. Namun, adanya keterlibatan mahasiswa dalam insiden berdarah tersebut harus dilihat sebagai oknum, bukan lantas menggeneralisasi bahwa mahasiswa sekarang anarkis dalam melakukan aksi demonstrasi.

Masyarakat diharapkan tidak lantas menjustifikasi bahwa masyarakat Papua brutal. Karena, menyaksikan adegan kekerasan seperti yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi itu sangat mungkin untuk menggiring opini publik pada keputusan mengecam masyarakat Papua. Masyarakat di luar Papua perlu memahami bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Bagaimana kondisi psikologis masyarakat Papua atas kekecewaannya terhadap Freeport dan sikap pemerintah yang lemah.

Tragedi serupa bukan sekali ini saja terjadi di Papua. Sebelumnya insiden Abepura pernah terjadi pada 10 mei 2005. Menurut KP KMP, yang disampaikan dalam siara pers menanggapi insiden Abepura itu, kekerasan yang dialami orang Papua selama ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kekerasan massa lalu, dimana rakyat Papua dipersalahkan dalam setiap tuntutan hak-hak dasar. Kekerasan terus berlanjut di Papua, perjuangan melawan Freeport justru dianggap tak penting bagi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

KP KMP menuduh pihak aparat keamanan yang mulai memicu kekerasan. Insiden Abepura, mencederai 6 penduduk sipil Papua tak berdosa yang dilaukan oleh aparat polisi saat membubarkan secara paksa massa Front PEPERA PB kota Jayapura.

Awalnya tarik menarik antara aparat dan Massa, polisi kemudian bersikeras memaksakan massa untuk membubarkan diri. Namun massa Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat wilayah Kota Jayapura tetap bertahan hingga tuntutan terpenuhi. Aparat kemudian beringas, salah seorang intelejen TNI AU yang sekarang tewas, nampak memulai pelemparan batu kearah massa yang dalam posisi tegang. Massa aksi kemudian mengejar dan mengeroyok hingga tewas.

Selanjutnya terjadi tembakan liar kearah massa oleh aparat yang mencederai 6 orang. Melihat rekannya cedera akibat tembakan, pelemparan batu dari massa aksi tak terhindarkan. Akibatnya 3 aparat Polisi dan 1 orang TNI AU tak bernyawa.

Vulgarisme Media

Ada kecenderungan televisi akhir-akhir ini gemar menayangkan tontonan kekerasan yang dikemas dalam bentuk berita. Sajian acara semacam Buser, Sergap, TKP, dan lain-lainnya menjadi bukti betapa kekerasan disajikan secara blak-bakan (life) di layar kaca.

Menjadi permasalahan karena kekerasan itu dikemas dalam bentuk berita, bukan sandiwara. Artinya, kekerasan itu benar-benar terjadi di alam nyata, bukan dalam film atau sinetron. Dan ketika berita itu ditayangkan di televisi, sudah barang tentu akan menjadi konsumsi publik. Apalagi acara semacam itu sekarang tak lagi mengenal waktu. Akibatnya, anak-anak pun menjadi korban tontonan kekerasan.

Patut dipertanyakan aspek edukasi sebuah media menyajikan berita yang menayangkan kekerasan. Alih-alih memberikan pendidikan, acara semacam itu ditengarai menjadi biang keladi perusak masyarakat. Tujuan semula yang diharapkan bisa menghentikan kekerasan di masyarakat, menghadapi dilema karena aksi serupa malah ditiru oleh orang yang menyaksikannya. Kekerasan sudah menjadi tontonan biasa, tak lagi menimbulkan efek kejut dan bukan lagi sesuatu yang mengerikan.

Tak dapat dipungkiri berita semacam itu, baik di televisi maupun di media cetak justru menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Tapi apa hanya berhenti sampai di situ. Bukankah fungsi pers tak hanya untuk menghibur (to entertain) tapi juga untuk mendidik (to educate), dan seterusnya. Nah, apakah kekerasan yang disajikan oleh media itu memenuhi fungsi pers?

Pada penayangan insiden berdarah dalam demosntrasi di Abepura, muncul pertanyaan, apakah redaksi tidak mempertimbangkan kelayakan berita yang akan disampaikan kepada pemirsa? Bagaimana dengan fungsi lembaga sensor, bukankah di Indonesia ada lembaga terkait yang berwenang, semacam KPI?

Rekaman kekerasan itu sempat ditayangkan di beberapa stasiun televisi saat sore dan malam tanpa narasi dan penjeleasan. Setidaknya tercatat Metro TV, ANTV, dan Trans TV yang menayangkan gambar tersebut secara jelas. Bahkan ada yang mengulang sampai tiga kali. Hanya SCTV yang berinisiatif mengaburkan gambar kekerasan itu. Namun dalam kasus lain, SCTV belum sepenuhnya bersih dari penayangan berita kekerasan dengan menayangkan berita kriminal seperti stasiun TV lainnya.

Tidakkah dibayangkan betapa pilunya seandainya istri korban menyaksikan dengan kepala mata sendiri bagaimana sang suami dianiaya oleh orang lain, betapa sulitnya menghibur anak korban yang masih kecil ketika tahu ayahnya mati dengan cara yang tragis itu? Apa dampak yang akan timbul dari penayangan berita kekerasan? Dendam. Ya, dendam dari keluarga, kerabat, teman dekat, dan mungkin juga instansi tempat korban mengabdi, toh bukankah mereka punya bukti jelas siapa-siapa yang melakukan kekerasan itu yang mengakibatkan terbunuhnya korban.

Belajar dari kasus itu, diperlukan kode etik yang mengatur media untuk penerbitan atau penayangan berita yang berkaitan dengan kekerasan, karena aspek mudharat lebih besar dari manfaatnya. Redaksi sudah seharusnya menyediakan ruang diskusi untuk menentukan apakah sebuah berita layak disampaikan ke pemirsa atau pembaca. Tentunya dengan pertimbangan seorang jurnalis, bukan semata mencari sensasi, apalagi untuk menaikan rating media yang bersangkutan. Hal ini jelas telah menggeser orientasi media ke orientasi bisnis.

Akar Ketidakadilan

Sangat ironis bila bumi Papua yang dengan segala kelimpahan sumberdaya alam, masyarakatnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data yang disampaikan oleh media membuka mata betapa ketidakadilan itu sangat menyolok di bumi cendrawasih itu. Bagaimana mungkin pulau yang kaya raya itu masyarakatnya menderita busung lapar?

Hal yang sangat dicemaskan oleh pemerintah untuk menutup Freeport adalah akan munculnya kecaman dari masyarakat internasional. Kesepakatan dengan pihak investor sudah diteken-kontrak. Pemerintahan SBY hanya melanjutkan kontrak yang telah disepakati oleh pemerintah sebelumnya. Dalam posisi ini, Indonesia tidak bisa berbuat banyak, karena menutup Freeport berarti membatalkan sepihak. Akibatnya, Indonesia akan dihukum oleh masyarakat internasional.

Pasca lengsernya rezim orde baru hingga sekarang ini, pemerintah Indonesia belum sepenuhnya bisa lepas dari pengaruh kekuasan asing. Ini terbukti dari kebijakan pemerintahan SBY dalam menangani persoalan Freeport. Ketidakberanian pemerintah menutup Freeport diduga karena investor, masyarakat internasional sebenarnya gertakan belaka. Sungguh logika yang terbalik, karena demi investor pemerintah rela menyerahkan Freeport, bukan demi rakyat pemerintah berani meninggalkan investor dan menutup Freeport.

Celakanya, para investor itu tak hanya meminjamkan uang, tapi juga ikut campur tangan dalam kebijakan pemerintah. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena nasib negeri ini ditentukan oleh bangsa lain. Warga Indonesia ibarat menjadi buruh di negerinya sendiri yang kaya raya ini di bawah kendali para majikan investor asing itu.

Masyarakat Papua rupanya tak hanya menyaksikan kekayaan alamnya dikeruk oleh para investor asing, tapi juga sebagian besar dinikmati oleh Jakarta. Otonomi daerah yang diharapkan bisa menjadi solusi dari polemik yang muncul di daerah-daerah karena ketidakadilan pemerintah pusat (Jakarta), belum juga ditaati pemerintah dalam kasus Freeport ini.

Baru-baru ini, bupati setempat menuntut keadilan kepada pemerintah yang mendapat 2 triliun dari hasil pajak Freeport karena sebagian besar kantor Freeport dipusatkan di Jakarta. Padahal andaisaja kantor-kantor itu dibangun di Papua, maka akan sangat mungkin bisa membantu mengatasi persaoalan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain itu, ada dugaan kuat Freepot hanya dinikmati oleh para elit lokal.

Ketimpangan pembagian kekayaan Freeport itu sangat kontras terjadi di bumi Papua sendiri. Para elit lokal itu, seperti dilaporkan media, bisa menghabiskan uang 12 juta dalam waktu sehari hanya untuk “mabuk-mabukan”. Kenyataan ini sudah bukan menjadi rahasia lagi, khususnya bagi para wartawan yang pernah berkunjung ke Papua. Oleh karena itu, musuh yang harus dihadapi oleh masyarakat Papua, tak hanya investor asing dan Jakarta, tapi juga rekan Papua sendiri.

Perlu diingat bahwa persoalan pokok adalah antara masyarakat Papua dengan Freeport dan pemerintah, bukan masyarakat Papua dengan Polisi atau TNI. Maka jangan sampai kasus Abepura kemudian mengalihkan permasalahan yang sebenarnya. Jangan sampai pula masyarakat Papua dihukum oleh kesinisan masyarakat luas setelah menyaksikan adegan sepotong tentang kekejaman yang ditayangkan oleh televisi, kesalahan yang sebenarnya tak dikehendaki.

Kepada para korban, penulis sampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Baik aparat keamanan maupun warga sipil, mereka sebenarnya menjadi korban dari ketidaktegasan kebijakan pemerintah baru dalam menyelesaikan masalah Freeport yang dirasakan tidak adil oleh masyarakat Papua selama ini.

Pemerintah sebaiknya segera menggelar dialog dengan masyarakat setempat. Libatkan tokoh-tokoh yang bisa mewakili aspirasi masyarakat Papua, bukan elit lokal yang hanya mencari kepentingan pribadi. Selanjutnya, usut kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini, termasuk insiden berdarah Abepura dan kejahatan HAM lainnya selama sengketa masyarakat dengan perusahaan penambang emas itu. ****

*Tulisan versi lain diterbitkan oleh Koran Sore Wawasan, Senin, 27 Maret 2006.

Selengkapnya......

06 March 2006

Kesempurnaan yang Naif

Seorang perempuan tengah mempertontonkan kulitnya yang mulus dan kuning langsat. Sebelumnya, mungkin kulitnya tak sehalus itu, tak sekuning seperti sekarang. Perempuan itu tersenyum puas. Sekarang, Ia merasa makin cantik.

Kulit kuning langsat, hidung mancung, postur tubuh tinggi semampai (bodi aduhai), baru sempurna. Orang akan bilang, perempuan itu cantik. Sementara seorang perempuan ketika melihat laki-laki berbadan kekar, dada bidang ditumbuhi bulu, hidung mancung, akan bilang laki-laki itu macho.

Para perempuan pun kemudian rajin memakai whitening lotion untuk memutihkan kulitnya, seperti yang ditampilkan dalam iklan di layar kaca itu. Tak jarang pula mengoperasi hidungnya biar tambah mancung atau payudaranya biar tambah besar, rajin mengkonsumsi obat antikolesterol untuk melangsingkan tubuhnya. Karena keputihan, kemulusan, kemolekan tubuh adalah ukuran kesempurnaan bagi perempuan untuk disebut cantik, seksi.

Cantik adalah perempuan yang berkulit kuning langsat, berhidung mancung. Seksi adalah perempuan yang berbibir tipis, langsing, berbodi serba proporsional. Sebaliknya, bila tidak memenuhi kriteria tersebut maka seorang perempuan tidak layak menyandang predikat cantik.

Para laki-laki juga sama. Mereka berobat untuk menumbuhkan bulu didadanya. Atau rajin fitnes untuk memiliki bentuk tubuh seperti yang diidamkan oleh para perempuan.

Dari mana sebenarnya definisi cantik, ganteng, gagah, seksi itu?

Sadar atau tidak, definisi itu terbentuk oleh lingkungan sekitar. Penilaian itu direkonstruksi oleh orang-orang disekitar kita. Di mana kita berada, di mana kita tinggal, dengan siapa kita bergaul, semuanya akan mempengaruhi pada penilaian kita. Dengan kata lain, penilaian itu tergantung pada komunitas yang memaknainya.

Pada jaman serba-teknologi ini, media memegang peranan yang amat penting. Tayangan sinetron di televisi yang banyak digandrungi oleh kaum tua-muda, laki-perempuan, ternyata banyak menyuguhkan definisi kesempurnaan kalangan tertentu. Bintang film, bintang sinetron dipilih perempuan yang berkulit putih, berpostur tubuh proporsional, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi penontonya bahwa kesempurnaan, kecantikan itu seperti yang ada di layar kaca.

Sungguh naif, orang-orang kampung yang menonton sinetron itu sekaligus juga mengkonsumsi gaya hidup (life-style) para selebritis. Mereka berdandan, bersolek, ala selebritis. Sementara apa yang dipertontonkan di layar kaca itu tak sepenuhnya sesuai dengan relita di sekitar kehidupan mereka.

Kebanyakan sinetron menampilkan kehidupan secara hitam-putih. Keluarga kaya yang saleh dan rajin beramal, si miskin yang berandalan, atau sebaliknya, keluarga kaya yang tak pernah hidup harmonis. Semuanya digambarkan serba trivial.

Kembali kepada definisi kecantikan, kegantengan, keseksian seperti yang digambarkan oleh sinetron, bagaimana dengan penduduk Papua, yang notabene berkulit gelap, berambut keriting, berbibir lebih tebal, sama sekali beda dengan definisi kecantikan yang dipertontonkan oleh layar kaca. Apakah mereka harus memakai whitening agar kulitnya berubah menjadi putih, agar mereka bisa disebut cantik, atau operasi bibir agar mereka bisa disebut seksi?

Dalam kondisi masyarakat yang majemuk ini definisi cantik di Indonesia perlu diubah. Bahwa cantik tak harus berkulit putih seperti bule, karena orang Indonesia rata-rata berkulit sawo matang, bahwa cantik tak harus berhidung mancung, bahwa seksi tak harus berpayudara besar, dll.

Maka ketika akan mengadakan Miss Indonesia, kriteria fisik yang dipatok tak perlu diterapkan standar Miss Universe, tapi dengan standar orang Indonesia. Dan tentunya dengan 'rasa' orang Indonesia pula, yang terdiri dari beragam suku, dengan beragam warna kulit, dan selera.

Bisakah kita memahami, bahwa dibalik kelegaman kulit orang Papua itu tersimpan kecantikan, dibalik ketebalan bibir itu menyimpan kesensualan dengan ukuran sendiri.

Bagaimana keuniversalan kecantikan, kegantengan, keseksian seorang? Untuk memahami perbedaan, pertanyaan ini tak perlu diperdebatkan, karena tiap orang punya ketertarikan masing-masing, tiap orang memiliki daya pikatnya sendiri, dan semua tak bisa dipakai ukuran yang umum.

Beranikah Anda memaknai sebuah kecantikan secara lain dari versi orang kebanyakan, memaknai cantik yang tak harus sama dengan komunitas Anda, atau mengatakan cantik yang berbeda dari kecantikan yang diajarkan oleh sinetron?

Selengkapnya......