30 November 2006

Ketika Faktualitas dalam Cerpen Dipertanyakan

Cerita pendek atau yang biasa disebut "cerpen" sebagai salah satu genre sastra memiliki keunikan tersendiri. Ia bisa menceritakan pengalaman penulis dan bisa juga hanya merupakan imajinasi entah-berantah yang sengaja direka oleh pengarang. Seperti karya sastra pada umumnya, batasan fakta dan fiksi dalam cerpen tidak jelas. Bahkan jika mengacu pada wacana postmodern, seperti kajian teks ala Roland Barthes (Baca: Merayakan Kematian Pengarang, Mission Impossible: Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra) fakta dalam karya sastra, tidaklah penting.

Tapi bagaimana jika cerpen itu menyajikan sesuatu yang faktual. Ia disusun dari fakta, peristiwa yang benar-benar disaksikan ataupun dialami langsung oleh pengarang. Seperti yang dikisahkan oleh Rosidi dalam bedah cerpen "Opera Zaman" di Komunitas Sendang Mulyo Semarang, Rabu (29/11) malam.

Eros, panggilan Rosidi, membeberkan latar belakang penciptaan cerpennya yang berjudul "Ngadikan". Cerita dalam cerpen itu diakuinya benar-benar dialami penulis. Tokoh-tokoh dalam cerpen adalah tokoh yang sebenarnya. Tidak ada yang disamarkan. Dan tokoh saya dalam cerpen itu, juga mengacu pada saya pengarang.

"Saya sangat terkesan oleh Ngadikan yang memiliki semangat hidup yang luar biasa," ucapnya bersemangat. Ngadikan adalah nama teman seprofesi Eros sebagai pembuat bata di tempat tinggalnya, di sebuah desa di Kudus.

Lalu apa perlunya pengarang menceritakan perihal latar belakang penciptaan karyanya, bahkan mengklaim bahwa cerita yang ditulis adalah benar-benar yang dialami?

"Inilah yang menjadi penyakit cerpenis kita. Pengarang kita itu malas. Termasuk si Rosidi ini. Wong pencetak boto ya di ceritak-ceritake," kritik Eko Prasetyo Utomo. Prasetyo adalah cerpenis asal Semarang yang beberapa karyanya telah diterbitkan di beberapa media lokal dan nasional. Beberapa kumpulan cerpennya juga sudah dibukukan.

Menurut Prasetyo apa yang dilakukan oleh Rosidi tidak menarik, karena ia menceritakan sesuatu dengan apa adanya. "Cerpen yang baik itu, ketika membacanya akan membekas. Kita selalu teringat. Sayang di sini cerita disajikan secara linier" ungkap Prasetyo, setengah kecewa.

Selain itu Prasetyo juga menilai judul Opera Zaman yang dipakai dalam kumpulan cerpen (kumcer) itu kurang menarik. Menurutnya lebih menarik jika Opera Wadas dijadikan sebagai judul kumcer. Opera Wadas adalah salah satu judul cerpen dalam kumcer.

Saya yang waktu itu mengikuti diskusi, mengajukan ke salah seorang penulis dalam kumpulan cerpen Opera Zaman yang kebetulan hadir. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Prasetyo bahwa sebagian besar cerpen dalam kumpulan cerpen itu disampaikan secara konvensional. Terlebih mendengar pengakuan dari Eros yang mengatakan bahwa apa yang ditulisnya adalah fakta.

"Jika Roland Barthes mengatakan pengarang telah mati, maka anda di sini telah menghidupkannya. Dengan adanya pengakuan anda itu, telah mereduksi pemaknaan pembaca. Karya sastra yang harusnya memiliki makna yang universal telah terbelenggu oleh ruang dan waktu. Di luar pernyataan anda itu, cerpen anda tidak memiliki makna apa-apa" kritik saya.

Bagi saya tidak selayaknya penulis merecoki pemaknaan pembaca. Ketika ia selesai menulis, teks itu sudah sepenuhnya menjadi milik pembaca. Biarkan pembaca yang akan memaknai teks itu.

Meski sepakat dengan beberapa pandangan Prasetyo, namun saya menyampaikan bahwa dirinya terkesan memaksakan menilai karya-karya dalam kumpulan cerpen yang terlalu faktual menjadi tidak menarik. "Saya seorang guru, tapi saya tak menceritakan itu dalam cerpen saya" ucapnya.

Saya sepakat jika Prasetyo mengatakan itu untuk mendorong penulis lebih mengeksplorasi idenya tidak sebatas berhenti pada hal-hal yang faktual. Namun jika kemudian memberikan anjuran agar pengarang menulis di luar kesehariannya, ini jelas tidak tepat. Bukankah akan lebih baik jika kita menulis sesuatu yang paling dekat dengan kita, sesuatu yang kita alami. Bagaimana jika kita menulis tentang sesuatu yang kita sendiri tidak mengetahuinya?

Saya curiga Prasetyo menggunakan pendekatan yang berbeda dengan gaya yang dipakai oleh sebagian pengarang dalam kumcer itu yang sebagian besar menggunakan style realis. Sementara-mungkin- Praetyo kurang suka dengan gaya itu -bisa jadi ia menyukai karya surealis.

"Oke kalau anda mengatakan jika cerpen yang faktual itu tidak menarik, mengapa anda menanyakan kebenaran dari fakta yang disampaikan cerpen itu. Terus, kalau kemudian anda mengatakan penulis kurang mengeksplorasi, lantas eksplorasi semacam apa. Jika kemudian eksplorasi yang anda maksud itu kemudian mematikan gaya pengarang, yang realis itu kemudian beralih ke surealis, jelas ini sangat memaksakan"

"Saya tak bermaksud mematikan kreativitas penulis. Justru dengan ejekan ini saya harapkan penulis mau terus berproses," jawab Praestyo.

Eksplorasi yang dimaksudkan oleh Prasetyo adalah perlunya penulis menggali sesuatu yang ingin disampaikan dari sudut pandang yang paling menarik. "Misalnya Eros mengeksplorasi lumpur itu. Ada apa dengan lumpur itu.. Ini bisa dieksplorasi lebih menarik, ketimbang menceritakan kisah tukang bata itu. Pram-Pramoedya Ananta Toer- juga penulis realis. Tapi eksplorasinya menarik," terangnya.

Diskusi bedah buku kumpulan cerpen "Opera Zaman" itu diadakan oleh Komunitas Sendang Mulyo bekerja sama dengan Komunitas Merapi. Sebagai panitia pelaksana LPM Manunggal dan komunitas sastra Histeria. Hadir dalam diskusi itu Rosidi selaku salah seorang penulis, Eko Prasetyo Utomo selaku pembedah, Elissiti dan Gendhot Wukir yang mewakili editorial dan komunitas Merapi selaku penggagas kegiatan ini.

Cerita dalam kumcer Opera Zaman itu merupakan karya para anggota komunitas milis Merapi. Sebelumnya ada sekitar 200-an naskah, kemudian dipilih 10 terbaik. Cerpen ini menyajikan tema tentang petualangan. Buku ini dijual seharga Rp 20.000. Sedianya hasil penjualannya akan disumbangkan untuk pengembangan pendidikan anak.

Baca tulisan terkait:
- Opera Zaman diluncurkan
- Kumcer Baru Edukasi Rasa Lokal
- Opera Zaman, Representasi Cinta Lokalitas
- Resensi Opera Zaman di Malang Post

Selengkapnya......

27 November 2006

Berbagi Kesedihan, Membagi Kebahagiaan

Siapa orang yang pertama anda ingat ketika anda sedang mendapat kebahagiaan? Taruh saja hari ini anda mendapat rezeki kuis 3 miliar, atau undian berhadiah berupa mobil mewah. Siapa orang yang anda traktir, siapa orang yang pertama kali anda ajak serta untuk mencoba mobil baru itu?

Ayah, ibu, suami, istri,adik, kakak, atau ada orang lain di keluarga anda, pembantu misalnya? Mungkin pacar, guru SD atau guru TK, atau malah orang yang pernah meminjami anda uang saat jajan di warung karena dompet anda tertinggal?

Siapapun orang yang menjadi pilihan itu, tentu saja dia adalah orang yang paling berkesan dalam hidup anda. Dia adalah orang yang paling istimewa. Maka wajar, ketika anda sedang mendapatkan rejeki berlimpah, sedang mendapatkan kebahagiaan, dia menjadi orang yang pertama kali anda ingat. Dia adalah orang yang anda pilih untuk membagi kebahagiaan.

Yups, andai saja anda diminta membuat skala prioritas daftar orang istimewa, siapa saja orang yang berada diurutan tiga besar? Atas dasar apa anda menetapkan urutan?

Bagaimana jika sekarang ceritanya dibalik. Siapa saja orang yang pertama kali akan anda ingat ketika anda tengah berada dalam kesulitan, ketika anda sedang bersedih, ketika sedang dililit utang?

Apakah ketiga besar orang di atas juga menjadi orang yang pertama kali hubungi untuk dimintai bantuan.

Orang seringkali merengek datang pada kita ketika yang bersangkutan tengah berada dalam kesulitan. Atau sebaliknya, kita akan dengan mudah datang kepada orang yang sebelumnya kita remehkan, dan dengan mudah juga kemudian melupakannya.

Saya atau mungkin anda tak menyangka jika orang yang selama ini kita anggap tak berguna: bodoh, miskin, jelek; ternyata justru hadir memberikan bantuan ketika kita tengah berada dalam kesulitan. Orang yang selama kita anggap sebagai musuh, selalu anda curigai, ternyata datang di saat yang tepat, menyelamatkan nama baik anda di depan teman-teman anda. Bukankah semua itu sangat mungkin terjadi?

Memang sebagai orang yang pernah menolong, kita tidak mengharapkan orang lain akan mengenang jasa-jasa kita. Tapi sudah menjadi "keharusan" kita yang pernah ditolong untuk balas budi dengan membalasnya jika ada kesempatan.

Bukan cuma datang kepada orang yang pernah menolong kita itu ketika kita sedang dilanda musibah, berbaik-baik kepada aorang lain karena ada tujuan dibaliknya, tapi tak ingat ketika sedang mendapatkan kebahagiaan.

Sekarang, siapa orang yang akan anda ingat ketika anda mendapatkan rizki 3 miliar atau undian mobil mewah?

Selengkapnya......

22 November 2006

Penghormatan Terakhir

Rabu (22/11) sekitar pukul 11.30. Iring-iringan mobil memasuki pelataran auditorium Undip Imam Bardjo. Diantaranya adalah mobil pengangkut jenazah Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi, MA Dekan Fakultas Sastra Undip (FS Undip).

Siang itu, ratusan orang telah berkerumun di dalam auditorium untuk melakukan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Mereka adalah para sivitas akademika FS Undip dan beberapa tamu undangan.

Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi, MA meninggal pada hari Selasa sore sekitar pukul 16.00 di Ruang Paviliun Garuda Lt 2 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Dr Kariadi Semarang. Sudah dua minggu alharhumah dirawat di rumah sakit pemerintah itu karena menderita kanker pankreas.

"Sebelum meninggal ibu sempat bilang, saya mau tidur dulu. Rupanya dia pamit tidur untuk selamanya," kata Pak Pit, panggilan FX Pietarsono, suami almarhumah. Malam itu dia menyampatkan ngobrol dengan beberapa tamu yang bertakjiah sampai hampir larut malam.

Pertama kali memberikan sambutan adalah Prof. Soejarwo, guru besar FS Undip, yang membacakan riwayat hidup Bu Yayuk (panggilan akrab almarhumah di kampus) dan prestasinya semasa hidup.

Sambutan lain yang tak kalah mengharukan disampaikan oleh Prof Nurdin HK. Di akhir sambutannya penyair yang sebentar lagi akan dilantik menjadi dekan FS Undip ini, membacakan syair untuk almarhumah. Hadirin pun sekejap terkesima oleh gaya pembacaan puisinya yang atraktif.

"Almarhum telah banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan Sastra Indonesia. Jadi kepergiannya tak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga bagi bangsa ini," katanya.

Benar, selain menjadi akademisi di almamaternya, almarhumah telah banyak menghasilkan karya. Beberapa bukunya antara lain "Dari Mochtar Lubis hingga Mangunwijaya", "Nh Dini: Karya dan Dunianya", "Fantasi dalam Kedua Kumpulan Cerpen Danarto: Dialog antara Dunia Nyata dan Tidak Nyata", dan "karya-karya Putu Wijaya: Perjalanan Pencarian Diri itu".

"Belakangan saya sudah tidak aktif menulis. Bila ada waktu luang, saya pasti akan menulis lagi," ucapnya kepada saya beberapa waktu lalu. Waktu itu saya menawarkan sebuah buku baru titipan seorang teman dari Jakarta. Bu Yayuk menjadi target "jualan buku" saya itu. Dan rupanya dia sangat apresiatif sekali.

"Oh ya, saya sudah lama tidak mendapat Kalam, kalau ada yang baru tolong saya dikabari ya," pesannya sebelum saya hendak meninggalkan ruang kerjanya.

Saya pribadi memang tak banyak mengenal almarhumah. Kebetulan saya juga tak pernah mengikuti kuliahnya, karena beliau mengampu Jurusan Sastra Indonesia, sementara saya Jurusan Sastra Inggris.

Perkenalan saya melalui obrolan-obrolan singkat. Terutama ketika organisasi kemahasiswaan yang saya pimpin tengah mengalami masalah. Selama itu, almarhumah adalah sosok sangat kooperatif. Ia sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan.

Persoalan almarhumah bukan seorang manajer yang baik, saya kurang tau pasti. Memang beberapa suara menyatakan bahwa kepemimpinan beliau kurang sukses. Bukan manajer yang bagus. Kurang tegas!

"Bu Yayuk itu akademisi tulen. Dari kecil dibesarkan dalam lingkungan akademik," kata salah seorang dosen kepada saya.

Usai sambutan, segenap sivitas akademika dan tamu undangan yang hadir memberikan ucapan duka kepada keluarga korban. Tampak di barisan depan, suami almarhumah, FX Pietarsono beserta anak dan cucunya menyalami para pelayat.

Setelah upacara, jenazah diberangkatkan ke pemakaman keluarga besar Undip di Tembalang. Upacara pemakaman berlangsung di bawah panas terik matahari. Namun menjelang penyemayaman jenazah, terik itu mulai meredup. Langit seolah-olah tertutup awan.

Prosesi upacara pemakaman berlangsung hikmat. Diantara keluarga korban yang menaburkan bunga ke liang kubur itu adalah seorang anak laki-laki yang tak lain adalah cucu almarhum. Anak itu mukanya memerah dengan air mata masih menetes di pipinya. Dan juga seorang perempuan yang wajahnya hampir sama dengan almarhumah. Dia adalah anak perempuan almarhumah.

Peti jenazah itu pun kini sudah tak terlihat lagi, telah ditutup beberapa kayu dan beberapa papan ucapan yang terbuat dari gabus. Pelan-pelan kayu dan gabus itu pun tertutupi oleh tanah yang dicangkul oleh para penggali kubur itu.

Saya pamit duluan. Langit mulai gelap. Keburu hujan. Lagian juga sudah pukul 14.00. Saya harus masuk kerja. Sepanjang perjalanan pulang, entah saya terbayang terus akan obrolan-obrolan singkat dengan almarhumah. Dan dalam hati berkata "Ah, ternyata dia orang besar". Selamat jalan bu Yayuk, semoga damai di alam sana....

*Ini adalah catatan singkat saya. Rencana ingin dibuat catatan yang lebih panjang.

Selengkapnya......

20 November 2006

Pemenang Lomba Blog 2006

SAAT yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah melalui penjaringan 30 peserta, dewan juri akan memilih tiga peserta terpilih yang terbaik. Pengumuman disampaikan Minggu (18/11) di Le Resto Cafe, Jl Sultan Agung, samping AKPOL Semarang.

Dari kiri: Muhamad Sulhanudin, Sudaryono Ahmad, dan Ahmad Munif. (Foto oleh Loenpia.net)

"Pemilihan tiga pemenang ini melalui proses yang melelahkan. Para dewan juri semalam berkumpul mencari peserta terbaik. Namun sampai tengah malam belum juga ketemu," kata Aulia Muhammad, Pemimpin Redaksi Suaramerdeka.com.

Mendengar penjelasan itu, para peserta tampak bengong. "Terus gimana, berarti nggak ada pemenangnya dong?" ucap salah seorang peserta.

"Karena belum menemukan kesepakatan, akhirnya dewan juri melanjutkan sampai pagi. Akhirnya kami mendapatkan ilham. Kami sepakat memilih tiga peserta terbaik," tambah Aulia.

Pertama dipanggil peserta terbaik ketiga, pemilik blog http://embunkehidupan.blogspot.com. Dia adalah Muhamad Sulhanudin. Pemuda yang mengaku masih kuliah di Jurusan Sastra Inggris Undip ini menceritakan tentang kesedihan di dalam blognya.

"Mas, emangnya sampeyan itu bersedih terus ya. Semua yang diceritakan kok tentang kesedihan?" tanya Ringga sang pemandu acara, yang juga penyiar Trax FM Semarang.

"Nggak juga. Saya cuma ingin berbagi agar orang tak mengalami hal serupa," jawabnya singkat.

Kemudian diurutan kedua ada http://penakayu.blogspot.com. Dia adalah Sudaryono Ahmad, blogger dari Purwokerto, datang dengan mengenakan kemeja panjang, topi pat ala pak Tino Sidin. Cerita terakhir yang dilombakan adalah tentang Sumanto. Sumanto sang kanibal itu akhirnya kini mendadak menjadi selebritis, dia terkenal karena aksi kontroversialnya itu.

Pada posisi puncak, Ahmad Munif, pemilik blog http://munif.wordpress.com terpilih sebagai jawara. Anggota Loenpia.net ini memberi nama blognya dengan Rumah Pastel. Dalam posting terakhir artikel yang dilombakan, ia mempertanyakan "Kenapa Harus ada kata Maaf". Sebelumnya ada juga cerita unik berjudul "Setelah Ketupat Lebaran Berganti Nasi". Dis isni Munif mengkritik kesalehan orang yang hanya dalam bulan Ramadhan. Setelah orang bermaaf-maafan, tawuran pun kembali terjadi.

Sebagai hadiah, pemenang ketidua dan ketiga mendapatkan HP CDMA plus kartu perdana Flexi. Khusus pemenang pertama mendapatkan paket wisata ke Bali. Dengar-dengan Munif sekarang sedang mencari seorang untuk menemaninya ke Bali.

Selain para pemenang, peserta juga mendapatkan doorprize yang dibagikan oleh sang pemandu acara. Diantaranya adalah peserta yang memiliki KTP terjauh, peserta yang memiliki kenalan lebih dari lima orang.

Lomba Blog 2006 ini merupakan hasil kerjasama Telkom Semarang, Suaramerdeka.com, komunitas Loenpia, dan Radio Trax FM. Karena masih dalam suasana lebaran, lomba mengambil tema "Membuka Maaf Melebur Dosa".

Hadir ditengah peserta Djoko Soeseno, yang memberikan sambutan mewakili Telkom Semarang, mengaku terkejut jika peserta lomba mencapai 200 peserta lebih.

"Pemakai internet di Indonesia masih terbilang rendah. Padahal dari internet kita bisa menemukan tentang apa saja. Para blogger di sini tentu saja merupakan pemakai internet setia. Oleh karena itu, diharapkan anda sekalian bisa menularkan minat pada internet kepada masyarakat luas," ucapnya.

"Saya juga baru tahu, ternyata minat kaum hawa terhadap blog cukup besar. Mungkin karena di blog orang bisa ngomong apa saja. Bisa ngerasani orang dan lain-lainnya," tambahnya.

Malam pengumuman pemenang itu pun usai sekitar pukul 21.00 WIB. Tak lupa sebelum membubarkan diri, para peserta berfoto-foto ria. Saking semangatnya, mereka lupa kalau ketiga pemenang terhalang dibelakang kerumunan peserta.

Tulisan ini dimuat di Suaramerdeka.com

Selengkapnya......

14 November 2006

Renungan Penggombal

Orang boleh tak percaya dengan bualan. Tapi akan berpikir dua kali ketika membaca blogombal. Ditangan Paman Tyo, gombalan alias bualan dikelola menjadi catatan yang patut menjadi renungan.

Baca pesan singkat ini : "Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan".

Di atas adalah slogan blogombal. Benar, pemilik blogombal ini terbilang rajin memposting. Sehari saja tak berkunjung, pembaca akan ketinggalan gombalan yang lagi hangat. Apa pemilik blog tidak kehabisan ide?

"Nggak. Yang jadi masalah tuh waktu. Kadang nggak ngeblog karena males, bukan karena kehabisan ide. Kalo diturutui sehari bisa lebih dari empat posting".

Ada saja ide yang muncul. Minggu lalu, bertepatan dengan hari Pahlawan, terdapat posting berjudul "Pahalawan" di blogombal. Diceritakan tentang seseorang yang bernama Slamet. Dia punya kebiasaan mengadakan kejuaraan bola voly setiap kali pulang kampung. Tak tanggung-tanggung, hadianya kambing!

Dari cerita itu pemilik ingin mengatakan bahwa Slamet adalah simbol kegigihan dan kemujuran. "Anak yang belum sekolah ngira presidennya bernama Slamet," tulisnya.

Jika menurut sebagian besar orang awam pahlawan adalah orang yang ikut memperjuangkan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan, apakah orang seperti Pak Slamet itu tidak layak disebut sebagai pahlawan. Dari guyonan blogombal itu kemudian bisa menjadi bahan renungan.

Tulisan tentang Pak Slamet itu pun lantas rame-rame dikomentari oleh para blogger lain. Ketika tulisan ini dibuat, setidaknya sudah ada 32 komentar. Angka sebesar ini tentu tak mudah dicapai oleh blogger lain. Maka, bila dalam dunia sinetron kita mengenal selebritis, dalam dunia blog, pemilik blogombal layak mendapat julukan "selebritis blog". Pembaca blog ini bukan hanya pembaca kebetulan, tapi sebagian besar adalah pelanggan alias pembaca setia.

Selain cerita tentang Pak Slamet, masih ada cerita lain yang dikemas dengan gaya khas blogombal, yakni gaya yang jenaka, kocak namun mengena. Apa saja yang ditemukan dalam keseharian bisa menjadi cerita. Dari jalan-jalan ke pasar sampai aktivitas nongkrong di kamar kecil.

Yang disebut terakhir, Paman Tyo alias si Kere Kemplu punya cerita unik. Dalam posting yang berjudul "Apa yang Anda Lakukan di Toilet?", diceritakan apa saja kebiasaan orang di kamar kecil. Anda tentu tak menduga jika dari aktivitas semacam ini, orang bisa menghasilkan karya seni.

Dari sekian banyak postingan itu, Paman Tyo punya pengalaman khusus, yakni pada posting yang berjudul "Selamat Ulang Tahun, Sayang". Ini merupakan kali pertama Paman Tyo mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya di depan publik, termasuk diblog. Sebelumnya ia tak pernah membicarakan urusan pribadi di blognya. Untuk apa dia rela melakukan itu?

"Karena saya sayang sama istri," jawabnya.

"Wah ternyata bisa romantis juga ya," komentar salah seorang blogger. Tak hanya itu, ada blogger yang mengaku meneteskan air mata saat membaca tulisan itu karena saking terharunya.

Selain blogombal, Paman Tyo juga mengelola tiga blog "anakan" lain, yakni Gombalbarang, Gombalkartu, Gombalabel.

Sepintas apa yang dilakukan oleh pemilik blogombal ini adalah keisengan orang yang kurang kerjaan. Semua yang ia jumpai diceritakan. Bahkan tak hanya itu, ia juga menyempatkan membuat ilustrasi pendukung di setiap posting.

Perihal itu, ia menjawab "Tertarik saja. Sama seperti kita melihat stiker pada angkot, gambar pada bak truk, papan nama toko... kadang unik," terangnya singkat.

Pemilik blogombal ini terbilang blogger senior. Ia sudah mulai ngeblog sejak tahun 2001. "Dulu aku ngeblog bareng beberapa teman, namanya catatan gombal. Karena mereka males akhirnya aku terusin sendiri, pindah-pindah alamat, dan akhirnya jadilah blogombal di gombal.blogdrive.com," terangnya.

Tapi Gombal.blogdrive.com sekarang sudah tidak diupdate lagi. Dalam postingan terakhir, terdapat pengumuman jika pemilik blog sudah pindah kontrakan. Ya, kontrakan baru Paman Tyo sekarang di blogombal.org

Desain baru ini merupakan hasil kerja kolaborasinya dengan Didats Triadi. Berbeda dengan blog sebelumnya di gombal.blogdrive.com, di blog baru ini tampak kering. Hampir tak ada gambar ditemukan. Hanya teks yang memenuhi isi halaman depan blog ini. Namun demikian, pemilik blog merasa puas dengan desain blog baru ini. Apa pasal?

"Aku ngerancang visualnya, dengan konsep sebuah halaman web yang simpel, hanya berisi teks, bahkan logonya pun teks, cuma satu jenis font. Lebih mengutamakan isi karena sudah punya pembaca tetap".

Untuk konsep blog barunya ini, paman tyo sudah sempat membuat beberapa desain: Koran Berita Gombal, Gombal Leisure, Freshegar , Blog Info Gombal.

Itu semua merupakan desain Paman Tyo. Lantas siapa Paman Tyo alias Kéré Kêmplu, si pemilik blog ini. Di blog yang baru di blogombal.org, penjelasan tentang profil sudah cukup detail. Nama pemilik blog sudah disebutkan yakni "Antyo Rentjoko". Hanya saja di media mana dia bekerja, tidak dijelaskan secara jelas. Ini sudah lumayan, jika dibanding penjelasan di blog sebelumnya, yang cuma menjelaskan "Kere Kemplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta."

Jika dicermati, pemilik blog ini adalah orang yang melek teknologi, ia juga punya kemampuan desain. Dari gaya penulisan, boleh dikatakan punya kemampuan yang lebih. Lantas siapakah gerangan Antyo Rentjoko yang belum lama ini pendapatnya dikutip dalam harian Kompas edisi Minggu tentang liputan air di Salatiga?

Rupanya pemilik blogombal itu adalah pemimpin redaksi majalah Komputer Aktif, yang masih merupakan grup Gramedia. Semasa kecil pernah tinggal di Salatiga, salah satu kota kecil yang ramai, di Jawa Tengah. Pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Jakarta-Jakarta selama 8 tahun sebelum akhirnya tutup. Pernah kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM namun belum sempat menyelesaikan studinya.

Ketika ditanya, adakah yang lebih serius dibalik catatan gombalnya ini, ia menjawab "Namanya juga blogombal, yang ada ya cuma gombalan..."

Apakah pemilik blog yakin pembaca akan percaya dengan gombalannya? "Mereka datang dan datang lagi, artinya percaya ada kegombalan," tukasnya. Bagaimana dengan anda?

*Tulisan ini dipublikasikan di www.suaramerdeka.com.. Ikuti milis Bloggernarsis@yahoogroups.com, forum diskusi blogger Jawa Tengah dan sekitarnya.

Selengkapnya......

02 November 2006

Beda Blogger dengan Jurnalis

Apakah Anda sempat bertanya, untuk apa para blogger rajin menulis (memposting) di blognya. Dari artikel yang bersifat pemikiran, penemuan-penemuan baru, sampai yang cuma sekadar catatan keseharian yang lebih tepat disebut curhat (curahan hati). Apapun jenis blog tersebut, pembaca bisa banyak mendapat banyak informasi dari sana.

Bukankah para blogger itu menulis tidak dibayar. Meski ada program Google Adsense , yang akan membayar blogger, namun kebanyakan blogger masih menulis secara sukarela. Mereka juga menulis bukan untuk institusi atau lembaga seperti media?

Dari sana muncul dugaan bahwa para blogger melakukan aktivitas ngeblog (blogging) nya karena kecintaan pada menulis. Mereka rela memposting tiap hari ke blognya tanpa dibayar, tanpa namanya muncul di media.

Lalu apa wartawan yang menulis tiap hari di media tempat bekerjanya bisa disebut sebagai blogger?

Kalau ditinjau dari jenis aktivitasnya, baik blogger maupun wartawan, keduanya sama-sama menulis. Tapi jika dicermati dari motivasi dan untuk apa dan siapa mereka menulis, tentu saja berbeda. Wartawan menulis untuk media, sementara blogger menulis untuk dirinya sendiri. Blog menjadi tempat blogger menuangkan pendapatnya. Sementara media belum tentu mewakili opini pribadi wartawan, tetapi mewakili publik atau bahkan pemilik media.

Dari sana, kita menemukan spirit yang luar biasa dari para blogger. Mereka menulis karena kecintaan. Mereka menulis karena perlu untuk disampaikan. Dibilang narsis, ya emang blogger harus narsis. Justru ini yang perlu dicontoh.

Tapi, mengapa sedikit wartawan yang memiliki blog. Menyedihkan lagi, sebagian diantaranya anonim. Ia seolah tak pede dengan statusnya sebagai wartawan. Dia cerita ngalor ngidul tentang persoalan di luar profesinya. Justru blogger, yang tidak memiliki latar belakang jurnalis, malah yang pertama kali mengabarkan tentang sesuatu kejadian di blognya. Jadilah wartawan yang bukan blogger, dan blogger yang bermental wartawan.

Memang nggak ada yang melarang. Tapi, alangkah lebih baik, jika blog bisa menjembatani wartawan dengan pembaca. Alangkah lebih baik jika kita menulis tentang sesuatu yang paling dekat dengan kita, yang paling kita mengerti.

Adakalanya ketika menulis di media, wartawan tidak bebas. Ada sesuatu yang tak boleh disampaikan oleh pimpinan. Ada alasan tertentu kenapa mengambil sudut pandang tertentu. Ini salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh seorang wartawan yang juga blogger.

Sekadar contoh, seperti yang dilakukan oleh desainer tempo yang menjelaskan tentang alasan pemilihan desain di http://tukangkoran.blogspot.com/ atau Andreas Harsono yang banyak mengupas soal catatan jurnalismenya di http://andreasharsono.blogspot.com. Selain dua blog itu, tentu masih ada blog menarik lainnya.

*disarikan dari workshop blog untuk wartawan di Semarang pada pertengahan September 2006.

Selengkapnya......