28 January 2006

Satire Sebuah Kerajaan Surga

Judul : Kingdom of Heaven
Sutradara : Ridley Scott
Skenario : William Monahan
Pemain : Orlando Bloom, Eva Green, Jeremy Irons, David Thewlis,
Brendan Gleeson, Marton Csokas, dan Liam Nelson.
Produksi : 20 Century Fox
Durasi : 145 menit
Katagori : Aksi/Petualangan/Drama


Pertikaian berkepanjangan antara umat Kristen dengan Muslim masih terus berlangsung di perbatasan Palestina dan Israel. Keduanya merasa memiliki Yerussalem (Palestina) yang diangap sebagai tanah suci. Bagi kaum muslim, Yerussalem menjadi tempat suci karena di sana terdapat Baitul Maqdis.

Tanah suci akhirnya menjadi penyebab pertikaian, yang telah dimulai sejak beratus-ratus tahun silam, antara umat muslim dan umat nasrani, hingga sekarang.

Kenyataan itu teramat ironis. Tanah suci yang diagungkan oleh kedua belah pihak justru menjadi tempat pertumpahan darah. Menjadi saksi pertikaian antar umat beragama. Benarkah semua itu dilakukan demi membela agama? Ridley Scott, sutradara film Kingdom of Heaven menjawab sebagaian pertanyaan itu lewat karyanya ini.

Film ini mengambil setting tahun 1184, bersamaan dengan berlangsungnya Perang Salib. Balian, yang diperankan oleh Orlando Bloom adalah seorang pandai besi, tinggal di sebuah desa di Perancis. Ia kehilangan kepercayaannya setelah istri dan anaknya meninggal dunia. Ia kemudian dikucilkan oleh masyarakat setempat karena sang istri meninggal bunuh diri.

Datang Godfrey (Liam Nelson), yang mengaku baron dari Ibelin, dan punya 100 tentara perang di Yerussalem. Ia jauh-jauh datang ke desa kecil di Perancis itu untuk menemui anaknya, yang tak lain adalah Belian. Sekaligus juga minta maaf, karena sebenarnya ia tak memerkosa ibunya, seperti yang diketahui Belian, tapi mereka saling mencintai.

Godfrey mengajak Belian ke Yerussalem. Di sana mereka bisa menebus dosa. Dosa Godfrey yang telah menelantarkan anaknya, dan Belian yang harus menebus dosa istrinya karena mati bunuh diri.

Tapi dijalan mereka bertikai dengan pasukan dari Perancis, yang ingin meminta Balian karena telah membunuh uskupnya. Godfrey, mengalami luka serius, akibat tertusuk anak panah. Sesampai di Ibelin, Sang Raja sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.

Sebelum meninggal, Ia berpesan pada anaknya, Ibelin, untuk pergi ke Yerussalem. Katanya, Ia ingin melihat dunia baru, di mana terdapat sebuah kedamaian di tanah suci. Umat nasrani dan muslim bisa hidup berdampingan. Ia menyebutnya “Kindom of Heaven”, sebuah Kerajaan Surga, kerajaan yang dibentuk atas dasar nurani. Dipenuhilah permintaan sang ayahanda, Belian pergi ke Yerussalem.

Dikisahkan sepeninggal raja Baldwin IV, kondisi daerah itu kembali berkecamuk. Pertikaian kembali terjadi antara Yerussalem dengan tentara muslim yang dipimpin oleh Saladin, Raja Sarachen.

Hal itu disebabkan oleh sekelompok bangsawan Yerussalem yang fanatik terhadap agamanya. Kelompok ini berpandangan orang muslim harus diperangi, karena mereka orang kafir. Kelompok ini diwakili oleh Guy de Lusignan, dan Reynald de Catilon, orang tangan kanannya..

Akhirnya Yerussalem diserahkan kepada pihak muslim setelah Putra Godfrey (Balian) tak mampu menahan serangan tentara Saladin. Diceritakan bahwa bahwa pertikaain di Yerussalem masih terus berlangsung antara kaum muslim dan nasrani.

Scott, sang sutradara, memang getol menggarap film-film epik seperti drama historical. Salah satu film besutannya empat tahun lalu, Gladiator, berhasil memperoleh penghargaan Best Picture pada Piala Oscar. Adegan dalam Kingdom of Heaven hampir serupa dengan Gladiator.

Menonton Kingdom of Heaven juga mengingatkan kita pada film Troy karya Wolfgang Petersen dan Alexander karya Oliver Stone. Scott dinilai lebih banyak meniru daripada membuat yang benar-benar baru. Namun dalam Kingdom of Heaven, cerita lebih mendalam, dan lebih banyak bercerita tentang motivasi tokohnya ketimbang menyuguhkan aksi seperti dalam Gladiator.

Yang menarik dari film ini adalah dialog antar tokoh yang sangat memukau. Seperti dikatakan oleh Godfrey pada Belian sebelum ia meninggal, “Pada hari kiamat nanti, kamu bukan lagi seperti dirimu saat terlahir, tapi dirimu yang ada yang telah kau buat sekarang ini.

Ucapan Godfrey ini meyakinkan keraguan Belian yang ingin menebus dosa dari masalalunya yang gelap. Selain itu, Godfrey juga banyak mengajarkan pada Belian tentang kearifan seorang ksatria.

Ada perkataan menarik yang keluar dari mulut Belian. Ia mengatakan pada tentara dan rakyat sipilnya bahwa mana yang lebih suci, apakah tanah kelahiran atau tempat ibadah. Siapa yang lebih berhak, apakah orang muslim atau nasrani? Dikatakan semuanya berhak, baik dia dan warganya maupun Saladin. Menurutnya, warga Yersusalem berperang untuk memebela harga dirinya.

Sayang, film ini lebih banyak menyoroti dari sisi kaum nasrani ketimbang kaum muslim. Hanya diceritakan bahwa Saladin, Raja Sarachen, adalah musuh Yerussalem. Sementara kehidupan Saladin dan pasukannya sama sekali tak disinggung.

Penonton barangkali akan kecele karena Scott tidak membahas tentang religiusitas. Bagaimana pendapat orang nasrani tentang Perang Salib, apakah mereka menganggapnya sebagai peperangan kudus untuk mengontrol Yerussalem dari kaum muslim? Tapi sang sutradara lebih banyak menceritakan tentang kekuatan dan kehebatan personal ketimbang membahas isu teologi.

Tapi upaya yang dilakukan sang sutradara film ini layak diapresiasi, karena mampu menyajikan cerita secara proporsional. Meski diceritakan dari sudut pandang orang nasrani, namun tidak lantas kemudian mencela pihak islam. Film ini juga jauh dari kesan sebagai Propaganda Barat, seperti kebanyakn film-film lain yang banyak memojokkan islam.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, film Kingdom of Heaven ini layak ditonton untuk menambah wawasan kita tentang konflik yang terjadi di Timur Tengah dan Barat selama ini. Film ini sekaligus juga menjadi tempat rekreasi, karena tidak melulu berkisah tentang peperangan, tapi juga terselip kisah percintaan antara Belian, yang diperankan oleh Orlando Bloom dan Ratu Sybellia yang diperankan oleh Eva Green.

Versi lain dipublikasikan di Suara Merdeka Cyber News

Selengkapnya......

27 January 2006

Menikmati Sate Khas Semarang

Istilah Sate Khas Semarang masih asing bagi kebanyakan orang. Bahkan bagi masyarakat Semarang sendiri. Tapi Anda tak perlu khawatir, karena Semarang juga punya menu khas yang tak kalah citarasanya dengan sate dari daerah lain.

Foto oleh Agung SB


"Cita rasa kami tidak berkiblat pada yang sudah ada, misalnya, Sate Madura, Sate Ponorogo. Kami ingin menyajikan cita rasa yang tersendiri. Sate khas 'house' dari Semarang, " tutur Chris Kowas, Manager Operasional Sate House "Sriwijaya".

Lokasi Sate House "Sriwijaya" dekat dari jantung kota Semarang, yakni Tugumuda. Beralamat di Jalan Imam Bonjol 184 Semarang. Lokasi ini juga mudah dijangkau dari Stasiun Kereta Api Poncol yang juga terletak di Jalan Imam Bonjol.

Semula Sate House "Sriwijaya" buka di jalan Sriwijaya, yang sekarang dibangun taman wisata Wonderia. Kemudian pindah ke alamat yang baru mulai awal januari 2004.

"Banyak pelanggan yang menanyakan, setelah Sate House Sriwijaya , yang beralamat di jalan Sriwijaya itu tutup. Setelah kami buka kembali, tepatnya awal januari 2004, kami kabari mereka. Kami tetap tidak melupakan pelanggan yang lama, " jelas Chris.

Menu yang ditawarkan macam-macam. Mulai sate ayam, sate udang, sate kambing, sate sapi, sate buntel, sate vegetarian. Yang disebut terakhir ini, terbuat dari proteina nabati yang diolah khusus bertekstur menyerupai daging. Chris mengatakan, diantara sekian menu, yang banyak dipesan pengunjung adalah sate udang.

Yang menjadi khas Sate House Sriwijaya ini melalui pengolahan daging dan higienitasnya. Semua pengolahan menggunakan air mineral. "Satu lagi, nasinya menggunakan beras rojo lele yang grade tertinggi, " tambah Chris.

Tak hanya cita rasa yang diperhatikan, ruangan juga didesain untuk kenyamanan pengunjung. Ketika pengunjung datang, ia akan menjumpai Ruang Mawar. Kursi ditata mengelilingi meja, seperti suasana pesta. "Ruang Mawar, khusus untuk para perokok. Sementara bagi yang tidak merokok bisa memilih Ruang Lavender, yang ada di dalam, " jelas Chris.

Kami ngobrol di Ruang Lavender. Ruangan dilengkapi dengan Air Conditioner. Ukuran ruangan hampir sama dengan Ruang Mawar, sekitar 4x7 meter. Kami ngobrol dari soal sate sampai sepakbola. Belakangan diketahui Chris ternyata penggemar Tim Mahesa Jenar. "Saya menanti berita PSIS, kalau bisa Suara Merdeka menambah lagi berita tentang PSIS, " usulnya.

Tak lama kemudian, dua orang pelayan, laki-laki dan perempuan menghampiri meja kami. "Mari silakan dicicipi dulu, " ucap seorang pelayan perempuan mengagetkan saya yang tengah mengamati foto yang ada di dinding di depan saya. Chris menengok ke samping, ia rupanya menagkap gelagat saya. "Oh, itu Helmi Yahya, beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2004, dia ke sini, " ungkapnya.

Mendengar penjelasan itu, saya agak terkejut. Di sebelah foto Helmy Yahya yang dibingkai apik dengan figura, ada juga foto Koes Ploes Bersaudara. "Pemilik restoran ini adalah pak Nugroho. Itu lho mas produser acara tolong di televisi, " lagi-lagi Chris menangkap keraguan saya, yang mulanya setengah tidak percaya.

"Mau minum apa mas, " sapa perempuan itu. "Jangan kuatir, semua aneka minuman ada di sini. Mulai dari yang sederhana, Es Teh, sampai aneka Es Juice, atau Cocacola, ada di sini. Ada juga minuman kesehatan dari sarang Burung Walet, " Chris menimpalinya.

Hanya dalam hitungan menit, minuman yang kami pesan telah siap. Dikatakan oleh Chris, pelayanan di restoran ini sangat diperhatikan. Saya juga merasakan demikian. Tak tanggung-tanggung, restoran ini memilki 15 karyawan, termasuk kru dapur.

"Ayo langsung kita sikat, " ucap teman yang ada di depan saya. Rupanya dia sudah tak tahan lagi. Kami pun langsung menyantapnya, sembari sesekali melanjutkan obrolan.

"Daginya empuk, kayak nggak ada kulitnya, irisannya besaaar, " sahut teman yang ada di depan saya, yang tengah menikmati sate ayam. Mendengar ucapan itu Chris, tersenyum. "Betul mas, daging yang kita gunakan, kita pilih khusus yang dada," jawabnya.

Sembari makan saya mengamati ruangan sekitar. Di ujung ruangan terdapat panggung yang menghadap meja pengunjung. Panggung itu dilengkapi seperangkat alat musik, seperti organ, gitar listrik, plus sound system. "Itu bisa dipakai secara cuma-cuma, pengungjung bisa memakainya tanpa dipungut biaya tambahan, " jelas Chris.

Di sebelah Ruang Lavender terdapat Ball Room. Ruang ini biasa digunakan untuk acara seminar, launching produk, atau acara lainnya. Ukuran ruangan jauh lebih luas dari Ruang Lavender maupun Ruang Mawar.

Ball Room mampu menampung sampai 200 orang. Sama seperti di Ruang Mawar, di ruang ini juga dilengkapi alat musik. Bahkan jauh lebih lengkap. Ruang ini juga dilengkapi dengan sound proof atau kedap suara. Hanya dengan minimal 50 orang, pengunjung bisa menggunkan Ball Room secara cuma-cuma.

"Beberapa waktu lalu, pak wali kota juga menggunakan ruang itu untuk acara halal bihalal, " kata Chris.

Berbagai fasilitas ditawarkan di sini. Tak hanya dari citarasa, tapi juga kenyamanan pengunjung. Apakah restoran ini sengaja membidik kalangan tertentu?

Chris buru-buru menolak pandangan itu. Dia mengatakan tidak membidik satu kalangan manapun. "Kalau sudah urusan citarasa, berapapun harganya akan dibayar oleh pelanggan. Kami tetap menjaga citarasa, " tuturnya.

Satu porsi berisi 8 tusuk, kecuali untuk sate udang, yang berisi 9 tusuk. Harganya masing-masing, untuk sate ayam 14 ribu, sate kambing 24 ribu, sate vegetarian 8 ribum, sate udang 26 ribu. "Kalau pengunjung makan sate ayam, nasi, plus minum, ya sekitar 20 Ribu..," tambah Chris, diikuti gelak tawa kami bertiga.

Versi lain dipublikasikan di Suara Merdeka Cyber News
Klik di sini

Selengkapnya......

09 January 2006

Merayakan Kematian Pengarang

Ketika teks terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan teksnya.


Ketika membaca sebuah cerita, novel atau cerpen, muncul pertanyaan siapa sebenarnya yang tengah berbicara? Apakah sang hero, sang tokoh sebagai individual, ataukah sebenarnya suara pengarang sendiri yang disusupkan melalui suara tokoh-tokohnya maupun melalui sang narrator?

Sang tokoh sebagai individu yang tengah memperjuangkan ideologi, misalnya, marxis, atau mungkin sang pengarang yang membela ideologi kaum feminis?

Dikatakan oleh Roland Barthes dalam esainya The Death of The Author bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya dia (pengarang) telah mati. Dia terpisah dari teksnya. Teks tersebut sekarang sudah bukan miliknya lagi.

Pengarang adalah figur modern yang merupakan produk dari masyarakat sejak jaman pertengahan Empirisme Inggris, Rasionalisme Prancis, maupun yang lainnya. Dari sana Sastra kemudian menganut prinsip positivism.

Berdasar prinsip positivsm tersebut, hanya berlaku kebenaran tunggal, seperti yang berlaku pada kebenaran dogmatis agama. Dalam hal ini kebenaran versi pengarang memiliki kedudukan yang setara dengan kebenaran tuhan seperti dalam agama. Pengarang sebagai penyampai pesan tuhan (The massanger from God).

Akibatnya, pengarang mendapat porsi yang berlebihan. Apa yang disampaikannya adalah kebenaran. Kebenaran yang tak dapat dibantah lagi. Pun demikian teks yang dihasilkan, tak dapat dibantah oleh pembaca siapapun.

Secara kebahasaan, pengarang tak lebih hanya sebuah tulisan siap saji (instance writing). Seperti kata “I” tak lebih dari tulisan I, bukan pengarang yang sebenarnya. Bahasa mengetahui subyek bukan orang. Ia kosong, tak berarti apa-apa, di luar ucapan yang ditentukan. Pembacalah yang kemudian akan mengisi kekosongan ini, memaknai I menurut pemahamannya masing-masing, menurut kepentingannya masing-masing pula.

Penghapusan sang pengarang dimaksudkan untuk membebaskan teks dari pengarang. Ada jarak antara pengarang dengan teks. Ketika teks itu terlahir, maka teks tersebut sudah terpisah dari pengarangnya. Ada sifat temporal.

Dalam grafik berikut ini menjelaskan tentang konsep tersebut:



Buku dan pengarang berada dalam garis lurus terbagi antara sebelum (before) dan (sesudah). Pengarang saat ini mungkin akan berbeda dengan pengarang yang dulu, ketika menulis buku. Apa yang diyakininya sekarang bisa jadi tidak sama persis dengan yang dimilikinya dulu, bahkan sudah berubah.

Dari grafik di atas juga bisa dijelaskan bahwa garis yang memisahkan antara before dan after benar-benar memisahkan antara author dan book. Keduanya memiliki dunianya masing-masing. Maka setelah melewati batas itu, book yang dihasilkan oleh sang author sudah menjadi produk lain, yang bukan miliknya lagi.

Teks bukan merupakan sederatan kata yang mempunyai arti teologis (pesan pengarang dari tuhan) tapi dilihat secara multidimensional sebagai sebuah variasi bentuk penulisan. Teks tersebut tak pernah asli. Begitu juga teks yang ditulis oleh pengarang. Ia hanya tiruan dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh pengarang. Pengarang hanya menerjemahkan dari apa yang dibacanya, bukan menyalin arti yang sebenarnya.

Dengan kata lain, hidup tak lebih dari meniru buku. Dan buku itu sendiri hanya merupakan sebuah tisu tanda, dan tiruan yang hilang, yang tertangguhkan maknanya.
Pembaca adalah pembaca yang tengah membaca teks secara utuh, tanpa ada yang dihilangkan. Kesatuan teks berada pada keasliannya bukan pada tujuan dibalik teks itu sendiri. Pembaca bukan dirinya yang sebenarnya. Dia adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarannya. Seperti yang dinyatakan dalam kutipan di bawah ini.

"...The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.


Ketika pengarang dihapuskan, teks menjadi bebas. Menyerahkan teks pada pengarang hanya akan membatasi kebebasan teks. Karena teks bersifat tidak terikat. Ia hanya sederetan abjad yang kosong tak berarti apa-apa. Pembacalah yang kelak akan mengisinya, memenuhi gelas yang masih kosong itu, dengan pengalaman dan kepentingannya masing-masing.

Ibarat sebuah buku, buanglah sampulnya. Hapus nama pengarangnya. Cukup ambil isinya, tak usah lagi dipikirkan siapa pengarangnya.

Pandangan ketika author ditemukan maka teks akan berbicara mengahadapi dilema karena author sendiri sebenarnya juga bagian dari masyarakat, dari obyek yang dikritik. Pengarang sendiri tidak bebas nilai. Dia bias. Dia tak pernah bisa obyektif. Lalu bagaimana teksnya akan ditempatkan sebagai sebuah kebenaran tunggal?

Itulah sebabnya mengapa sastra (akan lebih baik bila sekarang menyebutnya tulisan) menolak untuk memberikan rahasia, makna yang diagung-agungkan, membebaskan dari apa yang disebut aktivitas antiteologi, gerakan revolusioner yang menolak kebenaran mutlak, yang pada akhirnya menolak kebenaran Tuhan dan hipotesisnya.

Peristiwa kematian pengarang ini pada sisi lain akan dibarengi dengan kelahiran pembaca. Pembaca adalah orang yang berhak menerjemahkan teks. Teks bersifat tidak terikat. Maka akan sangat mungkin terjadi multitafsir antara satu pembaca dengan pembaca lainnya. Ini tak masalah.

Pembaca dengan segala pengalaman membacanya, sebenarnya diam-diam telah menyususun strategi unuk mencari kebenaran sesuai yang dikehendakinya. Lalu kenapa kita masih sering manafikan kehadiran pembaca itu? Maka biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca sendiri yang memaknainya, memenuhi gelas yang masih kosong itu.

Selengkapnya......

Berkenalan Dengan Post Strukturalisme

Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraan


Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.

Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Selain itu, buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan.

Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking).

Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.

Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’, yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”, merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik sastra, misalnya pada New Criticsm.

Essainya yang berjudul “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences” , pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966, sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.

Essay Roland Barthes, “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968, mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis.

Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an, khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale, atau disebut para dekonstrusionis Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.

De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.

Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.

Catatan:
* Ferdinand de Saussure, 1857-1913, dari sinilah kemudian berkembang "gerakan" strukturalisme Prancis. Sebagaimana filsuf Prancis sezamannya, filsafat Derrida tak lepas dari linguistik, terutama linguistik modern yang diperkenalkan Ferdinand de Saussure.
** Konsep dekonstruksinya (Derrida sendiri menolak merumuskan dekonstruksi sebagai konsep, teori, atau semacamnya) telah mewarnai wacana pemikiran di berbagai bidang, dari sastra hingga tata busana, dari senirupa hingga arsitektur. Dekonstruksi selalu menyertai wacana pemikiran filsafat kontemporer seperti struturalisme, pascastrukturalisme, pasacamodernisme, pascakolonialisme, teori kritis, dan kritik baru (new criticism).

Selengkapnya......

07 January 2006

Kuliah Sambil Kerja, Why Not?

Kuliah sambil kerja bukan hal baru lagi di kalangan mahasiswa. Beragam alasan melatarbelakanginya. Dari yang cuma iseng, sampai karena faktor ekonomi.


Saya beruntung kuliah di jurusan Sastra Inggris. Di sela-sela waktu luang, saya dapat bekerja sambilan menerjemahkan tugas teman dari jurusan ataupun fakultas lain. Saya tak sendirian, banyak teman lain yang juga menekuni kerjaan serupa. Ada pula yang mengajar les privat Bahasa Inggris.

Dari pekerjaan sambilan ini, penghasilan yang diperoleh bisa untuk menambah uang jajan. Bahkan, ada yang digunakan untuk membiayai kuliahnya dari pekerjaannya ini.

Ada kebanggaan ketika mahasiswa bisa mencari duit sendiri. Setidaknya bisa mengurangi beban orang tua. Terutama bagi yang punya masalah ekonomi. Pekerjaan apapun tak jadi soal, yang penting halal. Jangan sampai karena kepepet, membuat kita nekat. Seperti yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa yang mencari penghasilan dengan mengedarkan narkoba, atau (maaf) sampai menjual kehormatannya.

Dari sekian kawan yang saya temui, rata-rata bekeja karena dorongan ekonomi. Namun ada yang punya alasan menarik. Kawan yang satu ini rela menanggalkan status keluarganya, yang terbilang berkecukupan, karena keinginannya untuk berlatih mandiri dan mencari pengalaman.

Apapun alasannya, selama pekerjaan itu ditekuni dengan baik, mahasiswa bisa mendapat pelajaran dari pekerjaannya. Kenapa pengalaman seperti ini penting bagi mahasiswa, apakah yang disampaikan dosen di kampus belum cukup? Alasannya sederhana, tidak semua pengetahuan diajarkan di bangku kuliah, sehingga mahasiswa perlu mencarinya sendiri dari dunia luar, diantaranya dengan bekerja.

Lulus cepat bukan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan ketika mahasiswa belum punya cukup kompetensi. Kecuali bila pekerjaan sudah dijamin oleh orang tua. Idealnya, lulus tidak telat pengalaman juga dapat. Oleh karena itu, mumpung masih kuliah, cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Jangan menutup diri dari pergaulan, bangun jaringan dengan teman-teman di kampus. Siapa tahu dari mereka terbuka akses pekerjaan.

Ada banyak lahan untuk menempa diri selain dengan dengan bekerja. Diantaranya dengan melibatkan diri dalam kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa dapat bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus, yang sesuai dengan minat dan keahliannya. Syukur-syukur dari sini bisa menunjang pekerjaannya kelak.

Tapi perlu diwaspadai, pekerjaan bisa membuat mahasiswa lalai akan tugas utamanya, yakni belajar. Karena merasa sudah bisa mencari duit sendiri, kemudian ia menyepelekan kuliah. Kuliah dikerjakan sambil lalu karena dianggap tak terlalu penting. Asal bisa lulus dan dapat ijazah, sudah cukup.

Cara pandang seperti itu sebaiknya harus segera ditinggalkan. Bekerja penting untuk menyambung biaya kuliah bagi yang masih kekurangan. Bekerja juga penting untuk menambah pengalaman dan mematangkan diri sebelum masuk ke persaingan dunia kerja yang sebenarnya. Tapi ingat, kuliah tetap yang utama.

Namanya juga bekerja sambil kuliah. Jangan dibalik menjadi bekerja sambil kuliah karena kuliah akan dijadikan sebagai prioritas kedua setelah bekerja. Di sini mahasiswa harus pintar-pintar bagi waktu agar bisa bekerja tapi tidak mengganggu kuliah.

Agar keduanya bisa berjalan seimbang, perlu disiapkan strategi. Bagi mahasiswa semester awal, sebaiknya jangan mengambil pekerjaan yang menyita banyak waktu. Baiknya memang konsen kuliah saja dulu karena jadwal kuliah masih padat. Kalau kepepet karena butuh dana, cari pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan paroh waktu. Baru setelah jam kuliah mulai luang, silakan kalau mau menekuni kerja, atau lebih serius magang ke instansi atau perusahaan yang tidak jauh dari gambaran profesinya.

Syukur, ketika jam kuliah mulai cukup luang, saya sekarang bisa mencicil magang kerja sambil menyelesaikan studi. Ini juga tak lepas dari aktivitas di organisasi mahasiswa yang saya tekuni selama ini. Keduanya, bekerja dan aktif di kegiatan kemahasiswaan, sangat berguna. Dari sana kita bisa mendapat banyak pelajaran berharga yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan.

Selengkapnya......