31 October 2005

Kebiadaban menjelang Idul Fitri di Poso

baca Editorial Media Indonesia,31 Oktober 2005

Warga Poso dan segenap warga Indonesia harap mewaspadai segala isu yang berkaitan dengan unsur SARA dan motif-motif di belakangnya. Jangan mudah terhasut oleh tindakan yang sebenarnya untuk mengecoh perhatian publik dan mengadu domba.

Ketiga siswi yang dibunuh yang diketahui beragama Kristen memang akan mudah memicu bahwa pelakunya dari golongan lain. Tentu di sana yang dicurigai adalah Islam. Apalagi menjelang lebaran.

Ajaran agama manapun tidak akan membenarkan tindakan keji tersebut. Apalagi Islam, juga Kristen, Hindu, dan agama lainnya. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan. Yang jahat adalah manusianya sndiri, bukan agama.

Jadi itu bukan motif agama, tapi ada motif lainnya. Mengadu domba,politik,kekuasaan,atau ..... Maka dari itu, ingat pesan Bang Napi, waspadalah!

Selengkapnya......

Politisasi Bahasa Indonesia

Menjelang akhir bulan Oktober, tepatnya tanggal 28, kita memperingati hari sumpah pemuda. Ada hal yang dilematis dari pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pertanyaannya, apakah bahasa Indonesia bisa mewakili berbagai bahasa daerah, tidak hanya bahasa Melayu dan Bahasa Jawa oleh karena penggunya lebih banyak, tapi juga bahasa-bahasa daerah lain dengan pengguna yang relatif lebih kecil?

Tujuan M Yamin, sebagai penggagas bahasa persatuan, tentu amat mulia yakni ingin menyatukan segenap komponen bangsa. Bahasa menjadi sarana yang penting. Makanya ia menawarkan konsep bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pertanyaan yang sama sulitnya mungkin juga apa itu budaya nasional? Karena masyarakat Indonesia terdiri atas beragam warna suku, agama, dll.

Sah sah saja membuat konsep budaya nasional, bahasa nasional, asalkan itu tidak menjadi kepentingan politis kelompok tertentu. Lihat saja, ada isu geger dalam kongres kesenian. Beredar isu DKJ ingin memperkuat pengaruh dengan menderikan dewan kesenian Indonesia. Banyak daerah menentang karena itu hanya kepentingan orang dipusat saja, orang di daerah nggak dapat apa-apa. Keduanya mempunyai isu yang sama, penyeragaman. kesenian ingin memiliki organ induk. Tapi ketika itu hanya menjadi kepentingan politis, maka kacaulah semuanya.

Selain itu, yang dikhawatirkan adalah akan adanya dominasi dari yang mayoritas kepada yang minoritas. Akan ada identitas satu kelompok yang terkalahkan. Mereka terdesak karena tidak punya ruang oleh karena untuk persmaan, kesatuan. Bisakah kepentingan penyatuan tersebut memberi ruang pada komponen-komponen yang kecil, yang ada di daerah? Pertanyaan yang sama, bisakah dewan kesenian menjadi aspirasi dewan kesenian yang ada di daerah?

Kita bisa belajar dari masyarakat Amerika yang memiliki sejarah pembentukan warga negara yang unik. Ada istilah Melting Pot dan Salad Bowl. Pertama, kita bersatu tapi tanpa menanggalkan identitas sebelumnya. Misalnya, saya sebagai orang Jawa tidak akan kehilangan rasa kejawaan saya ketika bergabung dengan Indonesia. Ada rasa bahasa Jawa ketika saya bertutur dengan bahasa Indonesia.

Konsep yang pertama ini banyak dikritisi karena akhirnya Amerika selalu mengekor dari warga Eropa. Menurut sejarah Amerika terbentuk dari mayoritas imigran dari eropa. Penduduk asli kecil. Oleh karena itu para imigran kemudian mengimpor setiap temuan yang ada di Eropa ke Amerika. Dengan kata lain, Amerika adalah cerminan Eropa. Apa yang ada di Eropa bisa ditemukan di Amerika.

Kedua, bersatunya masyarakat Amerika yang amat jamak itu mampu menghasilkan citarasa masyarakat yang memiliki identias baru, yang tidak hanya mengekor pada Eropa. Seperti konsep Pizza, yang berasal dari berbagai bahan, namun bisa menciptakan warna baru.

Yang terakhir ini, bila diterapkan di Indonesia maka dari bertemunya orang Jawa, Sunda, Madura, Batak, dll akan menciptakan warna masyarakat baru, seperti masyarakat Amerika beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi berbagai identitas sebelumnya akan lebur. Seperti adonan dalam pizza yang masing-masing bahan melebur menjadi satu rasa, konon katanya orang Amerika. Kalau Pizza di Indonesia mungkin tidak begitu.

Sekarang komposisi warga Amerika lebih plural lagi. Bahkan beberapa orang Indonesia yang sudah menetap di sana sebagai warga negara Amerika. Sekarang Amerika bukan hanya cerminan Eropa tapi cerminan dunia. Semua yang ada di belajan dunia manapun akan bisa ditemukan di sana. Sungguh pesat perkembangan negara yang tersusun atas orang-orang imigran ini.

Nah, kita mau yang mana, yang pertama atau kedua? Setelah itu baru jawab perlu atau tidak Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia tersebut. Jangan cuma alasan politis melulu to?

Baca artikel terkait:
Tiada Bahasa Hilang Bangsa, Humaniora KOMPAS
Engdonesia oleh Ariel Heryanto

Selengkapnya......

Kenapa kader PKS dendam pada media?

Tanggapan posting email Radityo Djasjoeri 'Benarkah Kader PKS Dendam Kesumat pada media?'

Kader PKS tak seharusnya merasa resah kalau aktivitasnya tidak diliput oleh media? Bukankah mereka melakukanya secara ikhlas, karena diniati ibadah?

PKS ingin menjadikan perangkat negara ini lebih islami? Yang gimana sih yang dimaksud islami itu, apakah yang diluar PKS lantas tidak islami? Memangnya mau bikin negara sendiri.

PKS partai kecil yang punya taring. Betul, karena simpatisanya tidak seperti parpol lainnya. PKS punya simpatisan kader yang militan. Nggak apa-apa sih asal nggak anarkis. Jangan sampai nanti membakar kantor media gara-gara memboikot meliput aktivitas mereka.

Meski partai baru, PKS relatif cepat pertumbuhan kadernya. Hal itu karena adanya pembangunan citra yang positif. Siapa yang berpengaruh? Tentu media juga terlibat di dalamnya. Sikap para pengelola partai yang santun, yang alim, yang menerpakan hidup sederhana banyak disoroti.

Tapi, soal isu kenaikan harga BBM, mana suara wakil-wakil PKS? Sama saja kan. Citra PKS lambat laun akan semakin pudar, bila para wakil-wakil dan pengelolanya hanya mengandalkan permainan citra. Seperti juga SBY yang dimenangkan oleh karena pembangunan citra oleh media. PKS juga sama telah dicitrakan sebagai partai bersih.

Sekarang, tentu tidak cukup. Perlu ada bukti. Rakyat saja sekarang mungkin sudah tak lagi simpati pada pemerintahan SBY. Bisa jadi (atau malah pasti) SBY tak akan dipilih lagi dalam kesempatan pemilu mendatang, andai saja dia maju sebagai calon presiden lagi. PKS juga sama, sangat mungkin akan ditinggalkan oleh kader-kadernya, termasuk kader yang militan.

Sudahlah, tidak usah terlalu mempersoalkan mana yang islami dan mana yang tidak. Lagian buktinya mana? Apakah wakil-wakil PKS yang duduk di dewan perwakilan rakyat sana yang katanya lebih islami itu mampu membawa perubahan, mampu menghentikan korupsi yang tambah marak? Jangan cuma diam saja dong. Atau jangan cuma koar-koar saja tapi tak ada tindakan.

Kita perlu lebih arif terhadap golongan yang lain. Menjadi mayoritas bukan berarti bisa sewenang-wenang terhadap yang lebih minoritas. Umat islam di Indonesia harus memberikan contoh yang baik pada umat beragama yang lain, bahwa umat mayoritas mau mengayomi yang minoritas. Kader PKS harusnya bisa memberi contoh, dengan tidak mengobarkan sentimen agama.

*Diskusi selanjtnya di Milis Jurnalisme

Selengkapnya......

I wanna be a baby




Lebaran sebentar lagi tiba,
Makan ketupat, baju baru, celana baru, sendal baru, peci baru,...
apa sih yang nggak baru?

Sekarang, lebaran tinggal tiga hari lagi,
Aku belum juga pulang menjenguk keluarga,
Gimana mau dapat baju baru,celana baru,peci baru?

Aku ingin kembali seperti dulu,
tak pernah susah, selalu ceria.

Ingin sekali seperti bayi,
Suci belum ternoda.
Tuhan, bisakah kau kembalikan aku lagi,
sudah terlambatkah?

Aku ingin menjadi bayi
di hari aidil fitri,
boleh ya Tuhan, boleh ya,...
hikhikhik....

Selengkapnya......

25 October 2005

TOPENG

Dibalik orang melakukan ibadah di bulan Ramadhan.

Ilustrasi oleh Toni


SESEORANG memiliki banyak julukan. Ada yang memanggilnya Pak Kyai, ada juga yang menyapanya Pak Haji. Nama yang sebenarnya tidak jelas. Yang diketahui, ia selalu tersenyum tiap kali bertemu orang. Ia banyak bersedekah kepada orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari orang tersebut berubah. Mukanya cemberut bila bertemu orang. Ia juga tak lagi mengisi kotak amal untuk pembangunan masjid. Padahal sebelumnya, ia merupakan penyumbang dana terbesar. Rupanya ia kecewa karena orang-orang tak lagi memanggilnya dengan julukan kesayangannya. Ia merasa dilecehkan. Pengorbanannya selama ini tak dihargai.

"Biar koruptor kayak gini, aku banyak menyumbang pembangunan masjid itu, " ungkapnya, kesal.

****
BULAN Ramadhan tiba. Orang muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Masjid dan surau ramai dikunjungi para jemaah. Mereka menjalankan sholat Tarawih. Pada paroh bulan terakhir, atau tepatnya tujuh hari terakhir, rombongan jemaah bertambah. Masjid ramai sepanjang malam hingga pagi hari. Orang-orang menunaikan Qiyamul Lail (ibadah malam). Ada apa gerangan? Lailatul Qodar konon berada di tujuh hari terakhir itu.

Pada saat yang sama, stasiun televisi tampil 'spesial' dalam bulan puasa ini. Acara kerohanian sekarang ditambah porsinya. Ada talkshow menghadirkan da'i kondang yang lagi beken. Sinetron-sinetron tampil lebih religius. Sampai kuis tebak-tebakkan dengan tema islami juga ikut-ikutan menyemarakkan acara sahur dan menjelang buka puasa. Pokoknya, semua disulap menjadi lebih islami.

Para selebriti yang biasa muncul di layar kaca juga tampil beda. Kali ini penampilannya lebih santun. Tak ketinggalan juga para pejabat, ketika muncul di depan publik, ucapan dan perilakunya terjaga. Bisa jadi untuk sementara waktu mereka juga meninggalkan kebiasaan buruk lainnya.

Ada apa dibalik semua itu? Menghormati bulan puasa, mungkin itu jawaban yang akan diberikan. Orang-orang berubah. Sim-salabim, semua disulap menjadi lebih baik.

****
MANUSIA, seperti nelayan dan petani, menggantungkan hidupnya pada musim. Mereka tak berani melawan musim. Kualat, kata orang Jawa. Masak lagi musim rob tetap melaut. Musim rendengan (penghujan) kok malah menanam palawija. Alamat bakal ciloko!

Beberapa tahun terakhir, para petani di daerah tempat saya tinggal, mengeluh. Musim sekarang ini tak menentu. Musim ketigo (kemarau) malah turun hujan. Pada musim rendengan, hujan jarang turun. Akibatnya, mereka sering gagal panen. Harga tembakau anjlog. Kualitasnya memburuk akibat banyak turun hujan. Padi tak sempat panen karena kurang pengairan. Namun demikian, mereka masih tetap setia pada musim. Musim padi tetap menanam padi, tidak menanam palawija, dan begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi kesetiaan petani pada musim tersebut tidak berlaku pada orang-orang yang pergi ke masjid, para selebriti yang berpakaian santun, para pejabat dan wakil rakyat di gedung DPR yang tidak melakukan korupsi. Mereka hanya melakukannya di bulan puasa. Selepas itu, kembali seperti sediakala.

Apakah puasa, menjalankan ibadah itu juga mengenal musim? Seperti saat bulan puasa kemudian orang ramai-ramai berbuat kebaikan. Karena, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, semua kebaikan akan dilipatgandakan. Mumpung lagi bulan promosi, maka orang pun berbondong-bondong melakukan kebajikan.

****
FENOMENA tersebut adalah realita. Kita, termasuk saya dan mungkin juga anda, malakukan ibadah atau kebaikan karena ingin dipuji oleh orang lain. Maka bila yang diharapkan tak kesampaian, kita akan kecewa. Merasa pengorbanan yang telah dilakukan.sia-sia.

Kita juga masih menjalankan ibadah karena takut bukan karena kesadaran. Ini tentu beda dengan definisi taqwa sebenarnya.Takut di sini karena perasaan cemas, perasaan khawatir akan ancaman-ancaman dari Tuhan. Di sisi lain, kita mudah tergiur oleh iming-iming. Iming-iming pahala dari tuhan.

Ini seperti yang dikutip dari kalimat bijak Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Basrah, Irak:

Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.

ANDAI saja berbuat baik, taqwa kepada Tuhan dilakukan secara tulus dan tak mengenal musim, dunia ini akan lebih tenteram. Manusia akan lebih konsisten dalam melakukan kebaikan walau dalam kondisi apapun.

Orang melakukan kebaikan karena dorongan dari dalam dirinya. Dia tidak lagi berpura bermanis-manis di depan orang lain, pura-pura khusu’ ketika beribadah, sementara rasa itu tak pernah ada dalam hatinya.

Tapi, kehendak tuhan masih menjadi misteri. Tidak bisa ditebak seperti musim akhir-akhir ini. Setan-setan itu juga akan dilepas seusai orang-orang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Manusia akan menanggalkan topengnya dan mengenakan topeng lainnya. Mereka kembali berkawan pada setan. Entahlah, saya juga tak mengerti. Wallohu a'lam bisshowaab…

*dipublikasikan di tablod Hawepos edisi 13/Oktober/2005

Selengkapnya......

23 October 2005

Bias Fanatisme Beragama

Tanggapan atas tulisan "Kyai, Agamawan, atau Negarawan"

Saya kurang senang dengan sekelompok yang melakukan kekerarasn atas
nama untuk menegakkan ajaran agama. Membakar tempat2 maksiat karena
merusak agama, mengobrak-abrik lokalisasi karena meresahkan
masyarakat, dan lagi-lagi merusak agama.

Pertanyaannya, kenapa mereka tidak berpikr kenapa tempat maksiat itu
ada, kenapa pekerja seks itu ada, apa mungkin mereka bisa berdiri
sendiri?

Tempat maksiat ada karena sistem yang belum bener. Polisi masih suka
diberi sogokan. Coba kalau mereka tegas, pasti kan tak ada lagi
tempat maksiat itu. Mereka juga bayar loh untuk perijinannya. Jadi
kalau langsung main serobot, tentu sekelompok yang melakukan
pengrusakan itu, meski atas nama agama apapun, sudah melakukan
kedhaliman. Mereka merampas hak dan kenyamanan orang lain.

Begitu juga para pekerja seks. Mereka ada karena memang ada
pelanggan. Ibarat barang dagangan, ada konsumennya. Mereka ada jua
karena ada yang melidunginya. Ada germo. dibalik germo juga ada oknum
aparat. Lagi-lagi kan karena sistem yang belum benar. Lalu kenapa
yang ditindak hanya yang dilapangan, para perempuan pemuas nafsu itu,
yang sebenarnya 99% untuk keperluan ekonomi, bukan semata-mata untuk
menggoda para pria.

Akhir-akhir ini, televisi kita banyak menyajikan tontonan propaganda,
seperti yang tampak di sinetron2. Walaupun tujuannya baik, tapi media
untuk menyampaikannya kurang tepat. Akhirnya menjadi karya murahan.
Tapi kalau ternyata sinetron-sinetron hantu-hantuan, mistis-mistisan,
itu banyak ditonton orang, memang seperti itulah wajah masyarakat
kita. Kemampuan membacanya masih kurang.

Celakanya orang-orang yang bergerak di media, tidak berusaha untuk
menyajikan tontonan atau bacaan yang bagus, sebagai upaya
pembelajaran masyarakat, tapi justru yang sama sekali tidak mendidik.

Yang terkesan kemudian, persoalan terlihat sangat sederhana. Orang
yang jahat akan dihukum. Perempuan pemuas nafsu itu akan dilempari
batu. bahkan dibakar. Pemerkosa akan mendapat hukuman. Bila polisi
tidak turun tangan, maka setan, kuntil anak itu akan mengejar-ngejar
sebagai karmaynya. Dia hadir seolah-olah sebagai tangan tuhan untuk
melakukan peradilan di dunia. Kok tuhan, kejam sekali ya? Padahal
persoalannya kan tidak sesederhana itu. Jauh lebih kompleks.

Untuk mengurai persoalan yang sangat kompleks itu, maka kita perlu
sebuah pandangan yang terbuka (open mind). Harap dipilah-pilah mana
isu-isu yang sebenarnya bermain di lapangan, bukan asal main hakim
sendiri, diantaranya menjadikan agama sebagai dalih pembenaran.

Selengkapnya......

20 October 2005

Kyai, Agamawan, atau Negarawan

Tanggapan atas iklan mendukung kenaikan harga BBM oleh A'a Gym.

Kyai kok mendukung kenaikan BBM, padahal jelas akan menyengsarakan
rakyat kecil? Apa sih sebenarnya motivasi A'a Gym ikut
mengkampenyakan kenaikan BBM itu?

Saya agak telat menyaksikan iklan kenaikan BBM oleh A'a Gym yang
kontroversial itu. Saya memang jarang menonton TV. Saya melongo
menyaksikan Aa' Gym muncul dalam iklan itu. Dia minta agar rakyat
Indonesia bersabar karena negara sedang dalam kesulitan. BBM naik,
semua barang naik, rakyat disuruh bersabar. Yang benar saja.

Saya jadi curiga, jangan-jangan A'a kita ini dibayar oleh pemerintah.
Kalaupun tidak dibayar bisa jadi ada kepentingan lain. Entahlah,
hanya A'a dan Tuhan yang tau. Lihat saja, embel-embel di belakang
iklan itu. Coba bila dia mengkampanyekan menolak kenaikan BBM, pasti
akan berpengaruh besar, setidaknya bisa menekan pemerintah, karena
dia masih dipandang sebagai sosok yang kharismatik. Ah, sekarang
tidak lagi.

Beginilah akibatnya bila kyai merangkap sebagai negarawan. Dia
mendukung kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat itu dengan
dalih agama. Kasus seperti ini tidak hanya sekali terjadi di negara
kita. Isu agama sering dipakai untuk kepentingan politik. Yang paling
tampak saat ada hajatan pemilu. Golkar pada pemilu '99 memakai
semboyan 'fastabiqul hoirot', berlomba-lomba dalam kebajikan. yang
bener tuh fastabiqul ila 'korupsi'. padahal kepentingannya lain.
agama menyangkut hubungan manusia dengan tuhannya, politik untuk
kepentingan manusia semata, sama sekali tak ada kaitannya dengan
tuhan.

Harusnya Aa' juga tau tentang teori zakat, yang bisa
diimplemantasikan dalam teori perpajakan. Itu bagus sekali. Zakat
bertujuan untuk memberikan subsidi silang dari yang mampu kepada yang
kurang/tidak mampu. Ini bisa diterapkan misalnya dengan menaikkan
pajak bagi barang-barang mewah.

Ironis memang, sementara rakyat buat makan saja susah, banyak warga
yang hidup bergelimang harta. Coba tengok berapa tuh mobil atau
kendaraan yang dimiliki oleh para keluarga konglomerat. Masak satu
keluarga yang cuma beranggotakan 4 orang sampai punya mobil puluhan.
Dari mana tuh mereka bensin-nya, emang mereka punya sumur minyak
sendiri?

Makanya, untuk mengantisipasi hal itu, harus diterapkan pajak yang
tinggi atas kepemilikan barang-2 mewah. Dari pajak ini nantinya bisa
digunakan untuk keperluan umat, seperti pembangunan fasilitas umum,
perbaikan jalan raya, pemberian subsidi pendidikan gratis. Masak,
rakyat sudah sengsara, malah ditambah beban lagi. sudah begitu, masih
diminta bersabar.

*Hayamwuruk, 9 Oktober 2005.

Selengkapnya......

17 October 2005

Demonstrasi bukan satu-satunya cara

Tanggapan atas tulisan 'Mahasiswa, Berpikirlah Sebelum Demonstrasi' oleh Oleh: Abdul Gaffur A. Dama


Menarik tersebut. Setidaknya untuk dijadikan sebagai refleksi. Kita memang sering bertindak tanpa berpikir matang lebih dulu. Untuk apa yang kita lakukan ini, apa dampaknya, sudahkah kita melakukan yang terbaik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum sempat terjawab. Tapi aksi sudah marak di jalan-jalan. Akibatnya, apa yang kita lakukan terkesan asal-asalan. Asal teriak, asal tidak sepakat, tanpa tahu solusi apa yang bisa kita tawarkan jika kita mengambil sikap itu.

Seperti isu kenaikan harga BBM. Beberapa elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa sebagai wujud solidaritas. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM karena akan menyengsarakan rakyat kecil. Bermacam retorika dimuntahkan. Dari isu nasionalisasi aset-aset negara, tangkap koruptor, sampai menuntut pemerintah SBY-JK turun jika tidak memenuhi tuntutannya.

Tuntutan semacam itu sudah terlalu sering disampaikan. Bahkan pemerintah dan wakil-wakil rakyat itu juga mungkin sudah bosan mendengar. Ah sudah biasa. Dasar mahasiswa kurang kerjaan. Urusin saja tuh kuliahmu. Mungkin itu kata-kata yang mereka simpan saat mendengar berbagai tuntutan dari mahasiswa.

Lantas apakah lantas yang mereka lakukan itu sia-sia?

Tentu tidak. Pasti ada gunanya. Salah satunya seperti yang mereka lakukan, unjuk rasa turun ke jalan. Setidaknya bisa mengundang perhatian publik. Dari yang semula belum tahu menjadi tahu. Syukur-syukur bisa menyadarkan. Meski tuntutan itu tidak didengarkan, setidaknya sudah cukup membuat pemerintah dan pihak-pihak yang dikritik itu menjadi waspada. Mereka tidak bisa seenaknya, karena ada orang-orang yang mengontrol mereka.

Sepakat, agar tuntutan itu tidak terkesan asal-asalan, perlu dipersiapkan dengan matang. Sebelum menentukan sikap setuju atau tidak setuju, yang penting adalah membahas persoalan lebih dulu. Wacana lebih penting dari sekedar sepakat atau tidak sepakat. Baru kemudian kalau sudah mengerucut, tentutan sikap. Selanjutnya, bila memang mau turun ke jalan, strategi aksi di lapangan perlu dipikirkan agar bisa berjalan sesuai yang diinginkan dan untuk menghindari hal yang tidak diharapkan.

Jadi, demonstrasi sah-sah saja. Bukankah banyak cara untuk melakukan perjuangan. Anda mahasiswa, Anda bisa menulis, tuangkan gagasan itu dalam tulisan. Bila Anda punya media, publikasikan karya anda itu. Bila anda punya komunitas, diskusikan pemikiran anda itu dengan kawan-kawan. Wacana akan mulai bermain dari ruang lingkup kecil itu. Selanjutnya virus-virus itu akan menyebar. Bila memang tulisan anda bagus, kenapa juga tak dikirimkan ke media massa. Dari situ akan banyak dibaca orang. Opini publik mulai terbentuk dari sini. Anda termasuk terlibat didalamnya. Selain sebagai latihan juga dapat honor. Lumayan bisa untuk nambah uang saku.

Yang penting lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan. Jangan berhenti untuk tidak melakukan sesuatu. Kita, mahasiswa, memang bukan pembuat kebijakan. Apa yang kita lakukan tidak harus berupa solusi. Kata solusi terlalu mudah, biarkan pemerintah yang memikirkan. Bukankah mereka sudah dipilih. Enak saja mereka tinggal minta solusi. Kita bermain di pembentukan wacana. Dari sini akan bisa membentuk kesadaran bersama. Ini jauh lebih penting. Orang akan bertindak kalau ada dorongan dari dalam dirinya. Bila itu tercapai, Insya Allah revolusi akan bisa terwujud. Amin.

Selengkapnya......

15 October 2005

Mahasiswa, Berpikirlah Sebelum Demonstrasi

Oleh: Abdul Gaffur A. Dama*


Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tecinta…


Sengaja saya tuliskan kembali sebuah petikan dari salah satu lagu wajib mahasiswa setiap kali melakukan "tugasnya" sebagai agent of change. Pertanyaan utama bagi kita semua adalah, apakah dalam tugasnya tersebut selalu dilaksanakan dengan cara-cara seperti demonstrasi?

Bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan rekan-rekan yang turun ke jalan, tengah hari bolong, membawa spanduk, teriak-teriak dan lainnya. Bukan juga untuk membuat turun semangat mahasiswa baru yang sedang diupgrade pola berpikirnya dari siswa menjadi mahasiswa. Tetapi sekedar mengingatkan dan meluruskan kembali kedalam koridornya, mengajak mahasiswa melihat dirinya sebagai mahasiswa. Dan mencoba mengubah paradigma kita terhadap istilah agent of change menjadi lebih intelek dan produktif.

Beberapa waktu lalu tepatnya 30 September 2005, aksi penolakan kenaikan BBM dilakukan oleh aliansi BEM dari Jakarta, Bandung, Palembang, Malang dan kota-kota lain. Tak kalah, BEM STAN pun ikut turun dan bergabung bersama rekan-rekan mahasiswa lain. Namun satu hal yang menarik disini adalah tuntutan mereka yang terkesan kopong, dimana mereka hanya menuntut tanpa adanya solusi.

Mengenai kenaikan BBM, tentunya kita Mahasiswa STAN lebih fokus terhadap apa dan mengapa Pemerintah mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM. Seharusnya kita paham mengapa dibuat APBN-P yang kedua ditahun 2005 ini. Sebagai mahasiswa yang mempelajari ilmu keuangan negara seharusnya dapat memberikan suatu sentuhan yang positif terhadap kebijakan Pemerintah. Yang dimaksudkan saya disini adalah seharusnya kita dapat berbuat lebih banyak, lebih produktif, efektif, efisien dari pada sekedar capek-capek aksi tanpa arti. Mungkin akan lebih baik jika mahasiswa untuk "berpikir" dahulu sebelum demonstrasi.

Apakah "berpikir" itu hanya ada waktu kuliah saja? Mengapa kita pandai membuat karya tulis, skripsi, desertasi, tetapi menjadi tidak pandai dalam "memikirkan" sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti? Mengapa rekan-rekan mahasiswa yang seharusnya lebih menguasai ilmu-ilmu tidak memberikan suatu kontribusi berarti terhadap bangsanya? Mengapa akhirnya mahasiswa menjadi pencari kerja bukan pemberi kerja? Berpikirlah dan berpikirlah! Bukankah ada rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang berpikir?

"Berpikir" disini maksudnya adalah kita seharusnya bersama-sama membantu Pemerintah untuk memecahkan masalah bangsa yang rumit. Kita dapat membentuk suatu forum ilmiah bersama antara mahasiswa, dosen, akademisi lain, praktisi dan pihak lain yang bertujuan untuk memecahkan permasalahan bangsa yang kompleks, dan hasil dari forum itu disampaikan dengan baik-baik kepada Pemerintah sebagai rekomendasi.

Tak ada orang yang ingin bangsanya tidak maju, tak ada pula yang tidak ingin bangsanya lepas dari kesulitan ini. Terlebih Pemerintah yang menurut saya berada dalam posisi yang serba sulit. Maju kena, mundur kena.

Dalam hal pemberian kompensasi langsung bagi rakyat miskin, mahasiswa seharusnya turut berperan aktif membantu agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kutipan menarik yang saya dapatkan dari Warta Kampus (edisi ke 6, Oktober 2005) dimana Presiden Mahasiswa ITB mengatakan "Kami bisa memberikan sebuah tim pemantau distribusi kompensasi, akan tetapi kami lihat juga kondisinya. Jadi untuk saat ini kami cukup menekan." Mengapa rekan kita yang satu ini harus melihat kondisi dahulu? Kondisi yang bagaimana? Bukankah di televisi sering diberitakan banyak subsidi yang ternyata salah sasaran? Lalu mengapa untuk saat ini mereka cukup menekan?

Dari sini sebenarnya tampak bahwa mahasiswa ternyata menjadi setengah hati dalam berusaha membantu rakyat. Atas nama rakyat mereka turun ke jalan, tetapi untuk turun ke rakyat mereka masih harus melihat kondisi.

Apakah kita masih terus bersandar sambil menonton negara kita yang semakin tidak jelas arahnya? Apakah kita hanya bisa menjadi komentator Pemerintah, layaknya komentator pertandingan sepak bola yang sebenarnya mereka sendiri jika disuruh turun ke lapangan tidak ada yang mau? Apakah kita sudah layak disebut mahasiswa, yang berpikir?

Buktikan!!


*) Penulis adalah mahasiswa kelas III-D Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
**) Tulisan ini diposting dari milis Perskampus_Tempo@yahoogroups.com

Selengkapnya......