Jargon mahasiswa sebagai agent of social change seringkali diidentikkan dengan aksi demonstrasi turun ke jalan. Meski bukan sebagai satu-satunya cara, demonstrasi masih dianggap sebagai representasi simpati mahasiswa kepada masyarakat luas menyikapi kondisi kehidupan sosial dan politik bangsa secara umum.
Namun, di lain pihak mulai tercium sikap apatis terhadap gerakan mahasiswa di masyarakat. Ada pandangan mahasiswa hanya bisa mengkritik tanpa menawarkan solusi yang realistis. Muncul kekecewaan, karena tuntutan mahasiswa tak membuahkan hasil seperti yang yang diharapkan oleh warga. Hal inilah yang membuat simpati warga terhadap gerakan mahasiswa mulai berkurang.
Menyikapi kondisi tersebut, beberapa pertanyaan bisa diajukan. Misalnya, kenapa mahasiswa tidak berhasil menekan pemerintah saat menaikkan harga BBM, padahal seperti dikatakan oleh mereka akan menyengsarakan rakyat? Apakah pemerintah sekarang sudah tidak takut lagi dengan mahasiswa? Ataukah gerakan mahasiswa sekarang tak sesolid gerakan mahasiswa dulu, misalnya angkatan ‘66 atau angkatan ’98 yang mampu menggulingkan rezim otoriter Orde Baru?
Kemungkinan lain, saya menduga sikap apatis warga tersebut sebagai akibat sikap para mantan aktivis mahasiswa yang duduk di lembaga pemerintahan sekarang ini tidak lagi mencerminkan idealismenya seperti saat masih menjadi mahasiswa. Lantas warga beranggapan jangan-jangan mahasiswa yang sekarang berteriak lantang akan sama seperti pendahulunya ketika masuk ke dalam sistem pemerintahan.
Di atas bukan semata-mata kekhawatiran yang berlebihan. Sudah banyak kasus yang bisa kita jadikan pelajaran. Tidak sulit untuk menyebut nama-nama mantan aktivis kebanggaan mahasiswa terlibat dalam kasus KKN. Sederet nama bisa kita ajukan, dari mantan ketua DPR, sampai mantan ketua KPU.
Seringkali saya mengalami gejolak dalam hati ketika mengkritik orang-orang yang duduk di lembaga pemerintahan. Apakah saya bisa bertahan dengan idealisme saya, sebagai mahasiswa seperti sekarang ini, ketika berada dalam sistem pemerintahan tersebut?
Selama ini mahasiswa dan orang jamak diduga terbiasa mengkritik hanya menggunakan sudut pandang sebagai the outsider. Cobalah masuk ke dalam, sebagai the insider, menempatkan sebagai orang yang dikritik, ada apa sebenarnya sampai mereka yang dulunya memiliki segudang idealisme itu sekarang justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan idealismenya?
Ini sekadar refleksi, agar mahasiswa generasi sekarang ini tidak kembali mengulang sejarah gelap para aktivis mahasiswa pendahulunya. Idealisme selangit sewaktu mahasiswa akan tetapi justru menghianatinya ketika masuk dalam sistem. Pada gilirannya nanti, generasi sekarang akan kembali dihujat oleh generasi selanjutnya ketika kembali melakukan ketidakbecusan dalam mengurus pemerintahan.
Membaca Catatan Seorang Demonstran (LP3S:2005, cet.ulang), Shoe Hok Gie pernah kecewa dengan teman mahasiswanya karena setelah mereka menjadi wakil rakyat justru menjadi penjilat. Dia menolak ajakan temannya untuk terlibat dalam pemerintahan. Bahkan dia dengan tegas menghujat tindakan temannya tersebut.

Catatan Seorang Demonstran diangkat ke dalam film Gie oleh Miles Film, dengan sutradara Mira Lesmana. Soe Hok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra.
Orang juga pasti akan bertanya kenapa Gie kembali menentang rezim kekuasaan baru, setelah berhasil menggulangkan rezim Soekarno. Bukankah dia juga orang yang terlibat dalam menaikan Orde Baru, apakah dia belum puas, kenapa dia selalu menjadi orang yang menentang?
Pemikiran Gie menarik untuk dikaji. Dia lebih memilih berada di luar sistem. Kendati dia berhasil menggulingkan rezim Orde Lama, dan ikut terlibat menaikan orde baru, dia masih tetap konsisten dengan idealismenya: mengkritik ketidakadilan. Dari sini tercermin bahwa Gie adalah seorang intelektual yang bebas. Dia tidak mau pemikirannya diintervensi.
Sayang Gie tak berumur lama. Dia meninggalkan bangsa Indonesia saat masih berusia muda. Kawan aktivis mahasiswa seangkatannya, Muhamad Wahib, dengan pemikiran pembaharuannya dalam wacana islam dan kritis terhadap fenomena sosial, juga meninggal dalam usia muda.
Akankah mahasiswa sekarang bisa konsisten dengan idealismenya, kendati ia tak lagi menjadi mahasiswa, pun ketika ia berada dalam sistem yang dulu pernah ia kritisi?
Seringkali saya mengalami gejolak dalam hati ketika mengkritik orang lain. Termasuk juga ketika mengkritik orang-orang yang duduk di lembaga pemerintahan. Apakah saya bisa bertahan dengan idealisme saya saat ini ketika berada dalam sistem itu?
26 November 2005
Demo Mahasiswa di Simpang Jalan
25 November 2005
Rindu Kawan....
Saya tiba-tiba merasa kangen dengan para instruktur dan teman-teman alumni Workhop Nasional Jurnalisme Sastrawi Pers Mahasiswa yang dilaksanakan oleh LPM Hayamwuruk beberapa bulan lalu di Semarang. Mungkin telah banyak peristiwa terjadi setelah lama kita tak bersua. Kabarnya ada yang sudah menerbitkan buku, menerbitkan novel, ada yang sudah lulus, jadi wartawan, yang dulu berambut gondrong sekarang sudah dipotong, dan lain-lainnya.
Kangen.... kapan lagi kita bisa berjumpa? Ramaikan lagi yuk milis jurnalisme-sastrawi
HOTEL DIBYA PURI-Workshop Nasional Jurnalisme Sastrawi Pers Mahasiswa dilaksanakan
di Hotel Dibya Puri (Semarang), 7-12 Februari 2005.
INSTRUKTUR- Dari kiri, Linda Christanty (Cerpenis cum Wartawan,Jakarta), Juwendra Ardiansah(Bengkel Jurnalisme, Lampung), Agus Sopian(Pantau, Jakarta)



ALUMNI WORKHOP- Para alumni peserta workshop jurnalisme sastrawi
12 November 2005
PNS Tidak Produktif
Meski telah ada libur lebaran, masih ada saja PNS absen saat kerja mulai aktif kembali. Buruknya sistem kerja yang diterapkan selama ini diduga membuat iklim kerja di lingkungan pegawai pemerintahan ini tidak produktif.
Oleh: Muhamad Sulhanudin*
Pada hari biasa, hanya beberapa gelintir pegawai yang datang tepat waktu. Saat jam kerja, tak jarang pegawai tidak ditemukan di tempat. Anehnya lagi, setelah warga memperoleh pelayanan, masih ditarik pungutan. Meski sifatnya sumbangan, hal ini perlu ditanyakan. Kemana sumbangan itu, bukankah PNS sudah digaji oleh pemerintah?
Citra PNS sebagai pelayan publik sering berkebalikan kondisinya di lapangan. Masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan sebagai kompensasi telah menyetor pajak pada pemerintah, seringkali dibuat repot dengan memperoleh pelayanan yang kurang menyenangkan.
Kondisi di atas sangat memprihatinkan. Tampak jelas sekali kinerja PNS tidak produktif. Oleh karena itu perlu adanya pembenahan sistem kerja di lingkungan pegawai pemerintahan.
Pertama, tak adanya pengawasan yang ketat terhadap kinerja PNS di lapangan menjadi penyebab maraknya penyelewengan. Contohnya, terlambat datang ke kantor tapi pulang lebih awal, membolos pada waktu jam kerja, seperti banyak ditemukan kasus PNS tertangkap basah sedang keluyuran saat jam kerja ketika diadakan operasi penertiban oleh satpol pamong praja.
Langkah antisipatif dengan menggelar operasi dadakan seperti disebut di atas perlu digiatkan lagi. Selain itu, pengawasan dari atasan di masing-masing instansi perlu lebih ditekankan. Tindak tegas setiap pegawai yang melanggar agar kasus serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.
Kedua, perlu diterapkan sistem kerja seperti di instansi swasta, yakni dalam hal pemberian reward kepada pegawai dengan kompetisi yang ketat. Di swasta, pegawai atau karyawan dibayar karena mereka bekerja. Apabila tidak masuk kerja maka akan dikenakan pemotongan gaji. Tapi selama ini, baik masuk atau tidak, gaji bulanan PNS tetap. Ini tentu tidak fair, saat mereka tidak bekerja namun masih memperoleh bayaran.
Rendahnya tingkat kesejahteraan yang menjadi biang keladi buruknya kinerja PNS tak dapat dijadikan alasan lagi. Baru-baru ini pemerintah telah menyesuaikan gaji PNS sehubungan dengan kenaikan harga BBM. PNS harus berkaca pada rakyat kecil, yang tidak mendapatkan penghasilan dan subsidi yang cukup dari pemerintah agar tidak terus-terusan merasa kurang.
Teramat penting, PNS adalah pelayan publik bukan sebaliknya. PNS digaji dari setoran pajak rakyat. Maka sudah seharusnya mereka menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat dan tidak bisa bekerja sesuka hati. Oleh karena itu, spirit mengabdi kepada kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan perlu ditanamkan sejak dini.
10 November 2005
Jalan terjal menuju kemenangan
Alunan suara takbir menggema di masjid, surau, rumah, hingga di jalanan. Suara letusan petasan beberapa kali terdengar dari sudut-sudut perkampungan. Hari itu para warga tengah merayakan idul fitri, hari kemenangan, setelah satu bulan berjuang mengendalikan hawa nafsu dengan menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Perjuangan (jihad) melawan hawa nafsu memang tidak ringan. Amat menguras segenap energi akal dan pikiran. Maka rosululloh pun berkata pada sahabat bahwa akan ada jihad yang lebih berat setelah berperang melawan musuh di medan laga, yakni jihad melawan hawa nafsu (jihad li nafs). Ketika berjihad di medan perang musuh yang dihadapi sudah jelas, tapi jihad melawan hawa nafsu musuh yang akan dihadapi tidak lain adalah diri kita sendiri.
Lalu siapa musuh yang menyelinap dalam diri kita itu?
Setiap perbuatan jelek, yang tidak manusiawi, sering disebut sebagai perbuatan setan. Maka bila ada manusia yang berbuat jelek sebenarnya dia telah termakan bujukan setan, bukan kehendak dirinya. Hal ini karena manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan suci (fitri), layaknya bayi yang baru dilahirkan. Sedang fitrah (kodrat) manusia diciptakan oleh Tuhan tiada lain untuk mengabdi kepadaNya.
Manusia diciptakan dari tanah. Sedang setan diciptakan dari api. Yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, dia diciptakan dilengkapi dengan akal pikiran dan perasaan. Malaikat saja tidak demikian. Malaikat diciptakan dari cahaya (nur) dan didaulat untuk selalu patuh pada perintah tuhan.
Setan merasa lebih mulia dari manusia yang hanya diciptakan dari sejengkal tanah, berbeda dengan dirinya yang diciptakan dari api. Maka ketika tuhan menurunkan Adam dan Hawa ke syurga, setan dengan keras menentang. Setan kemudian menggoda Hawa untuk memakan buah kholdu yang menjadi simbol larangan dari Tuhan. Karena terbujuk oleh ajakan setan, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Setan berikrar di depan tuhan untuk menggoda umat manusia hingga kiamat. Sebagai imbalannya, setan akan menjadi penghuni abadi di neraka kelak.
Selain itu, setiap perbuatan yang jelek juga sering disebut perbuatan hewan. Sama saja, tidak manusiawi. Maka ketika manusia melakukan tindakan seperti hewan sebenarnya ia telah menanggalkan perangkat kemanusiaannya. Akal, pikiran, dan perasaannya sudah tidak digunakan lagi. Dia akan menjadi liar seperti binatang yang tidak punya norma dan aturan seperti manusia.
Kembali pada pertanyaan di atas, manusia harus mengenali dirinya sendiri untuk mengetahui potensi kekuatan musuh yang ada dalam dirinya. Manusia tidak ada bedanya dengan setan ketika dia selalu menuruti hawa nafsu yang dibisikkan oleh setan yang menyelinap dalam dirinya.
Manusia juga bisa menjadi setan ketika dia menyebarkan kemungkaran pada manusia yang lainnya. Maka sebenarnya dia sendiri adalah setan, bukan hanya setan bagi dirinya sendiri tapi juga setan bagi manusia lainnya.
Manusia, makhluk yang paling sempurna (ahsanul khuluq) diciptakan oleh tuhan, sebaiknya tidak perlu memaki-maki binatang ketika mengumpat manusia lainnya. Anjing, babi, dan kawan-kawannya itu tak bersalah. Sudah menjadi kehendak tuhan menciptakan anjing dan babi sebagai hewan yang haram untuk dimakan daginya. Perilaku anjing menjadi tamsil bagi manusia ketika dia tidak menggunakan kodrat manusianya, bukan sebagai makhluk cemoohan.
Semoga kemenangan yang kita rayakan di hari Idul Fitri kali ini bukan hanya kemenangan semu. Bukan sekadar menjadi tradisi perayaan dengan segala ritualnya. Bukan hanya basa-basi seperti kado ucapan selamat ketika lebaran. Tapi kemenangan abadi yang dapat kita petik hasilnya kelak di hari pembalasan.
Memang tak ada salahnya merayakan atas keberhasilan yang telah kita capai. Tapi, apakah kita sudah benar-benar mampu mengalahkan hawa nafsu yang ada pada diri kita sendiri?
Perjuangan belum selesai, masih akan ada perjalanan panjang setelah perayaan hari kemenangan kali ini.
